Anda di halaman 1dari 8

Gardu Induk 150 kV

Merupakan sub sistem dari sistem penyaluran (transmisi) tenaga listrik, merupakan
satu kesatuan dari sistem penyaluran, dan merupakan sub-sub sistem dari sistem tenaga
listrik, sebagai sub sistem dari sistem penyulang (transmisi) gardu induk mempunyai peran
penting dalam pengoprasiannya, tidak dapat dipisahkan dari sistem penyaluran (transmisi)
secara keseluruhan. Gardu induk dibagi berdasarkan isolasi yang digunakan :

Air Insulated Switchyard / Substaion (AIS) Gas Insulated Switchgear / Substaion (GIS)

1. Air Insulated Switchyard / Substaion (AIS)


Merupakan gardu induk yang menggunakan isolasi udara antara bagian yang bertegangan
yang satu dengan bagian yang bertegangan lainnya. Gardu induk ini berupa gardu induk
konvensional, dan gardu induk ini memerlukan tempat terbuka yang cukup luas. Gardu induk
memiliki kendali dan instrumentasi seperti berikut:
a. Lighting Arrester (LA)

Berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik pada instalasi dari gangunan tegangan
lebih yang di akibatkan oleh sambaran petir maupun oleh surya petir.

b. Disconecting Switch (DS)


Berfungsi untuk mengamankan peralatan dari sisa tegangan yang timbul sesudah SUTT
di putuskan, induksi tegangan dari penghantar untuk keamanan dari orang yang bekerja pada
instalasi, dan mengisolasi peralatan listrik dari peralatan bertegangan. Pemisah di operasikan
tanpa beban.

c. Cicuit Breaker (CB)

Berfungsi untuk memutuskan hubungan tenaga listrik dalam keadaan gangguan maupun
dalam keadaan berbeban. CB dalam keadaan gangguan akan menimbulkan arus yang relatif
besar, pada saat tersebut CB bekerja sangat berat. Kondisi peralatan CB menurun karena
kurangnya pemeliharaan dan tidak sesuai dengan kemampuan daya yang di putuskannya,
maka CB tersebut akan dapat rusak (meledak).

d. Voltage Transformer (VT)

Berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi menjadi tegangan rendah, yang di perlukan
untuk alat-alat ukur (pengukuran) dan alat pengaman (proteksi).
e. Current Transfomer (CT)

Berfungsi untuk menurunkan arus besar pada tegangan tinggi menjadi arus kecil pada
tegangan rendah untuk keperluan pengukuran dan pengaman (proteksi).
f. Rail (busbar)

Berfungsi sebagai titik pertemuan/hubungan trafo-trafo tenaga, SUTT dan peraltan listrik
lainnya untuk menerima dan menyalurkan tenaga/daya listrik. Bahan dari rail umumnya
terbuat dari bahan tembaga (bar copper, atau hollow konduktor), ACSR : almalec atau
alumunim (busbar alumunium atau hollow conductor).

g. Trafo tenaga

Trafo tenaga berfungsi menyalurkan tenaga/daya dari tegangan tinggi atau sebaliknya
(mentransformasikan tegangan).

h. Baterai
Sumber tenaga untuk sistem kontrol dan proteksi selalu harus mempunyai keandalan dan
stabilitas yang tinggi, maka batere dipakai sebagai sumber tenaga kontrol dan proteksi di
dalam Gardu Induk. Peranan dari batere adalah sangat penting karena justru pada saat
gangguan terjadi, batere inilah yang merupakan sumber tenaga untuk menggerakan alat-alat
kontrol dan proteksi.
Ada dua jenis batere yang dikenal antara lain :
 Baterai timah hitam (lead acid storage battery)

 Baterai alkali (alkaline storage battery)


i. Neutral Grounding Resistor (NGR)

Komponen yang dipasang antara titik neutral trafo dengan pentanahan. Berfungsi untuk
menyalurkan arus ganguan phasa ke bumi pada sistem. Arus yang melalui pembumian
merupakan besaran ukur untuk alat proteksi. Pada trafo yang sisi primernya dibumikan dan
sisi sekundernya juga dibumikan, maka gangguan phasa kebumi disisi primer selalu
dirasakan pada sisi sekunder dan sebaliknya.

j. Rectifier

Alat listrik yang berfungsi untuk merubah arus bolak-bolik menjadi arus searah, sesuai
dengan kapasitas yang diperlukan (kapasitas battery). Rectifier harus selalu terhubung dengan
battery dan harus diperiksa kondisi batterynya secara periodik dan rutin.
k. Panel Kendali (Control Panel)

Berfungsi untuk mengetahui (mengontrol) kondisi gardu induk dan merupakan pusat
pengendali lokal gardu induk. Panel ini berisi sakelar, indikator-indikator, meter-meter,
tombol-tombol komando operasional PMT, PMS dan alat ukur besaran listrik, serta
announciator. Berada satu ruangan dengan tempat operator bekerja.
Terdiri dari :
1. Transmission line control panel (TL control panel)
2. Transformator control panel (TR control panel)
3. Fault recorder control panel
4. KWh meter dan fault recorder panel
5. Bus couple control panel
6. AC/DC control panel
7. Syncronizing control panel
8. Automatic FD switching panel
l. Panel Proteksi (Protection / Relay Panel)

Berfungsi untuk memproteksi (melindungi sistem jaringan gardu induk) pada saat terjadi
gangguan maupun karena kesalahan operasi. Setiap relay yang terpasang dan panel proteksi,
diberi nama relay sesuai fungsinya. Relay panel tediri dari :
1. Transmission line relay panel (relay panel TL)
2. Transformator relay panel (relay panel TR)
3. Busbar protection relay panel

m. Panel AC/DC

Alat listrik yang berupa lemari pembagi dan pengaman dari instalasi terpasang di gardu
induk. Panel ini terpasang mini circuit breaker dan fuse.

n. Cubicle 20kV (HV Cell 20kV)

Merupakan sistem switchgear untuk tegangan menengah (20KV) yang berasal dari output
trafo daya, yang selanjutnya diteruskan ke konsumen melalui penyulang (feeder) yang
tersambung (terhubung) dengan cubicle tersebut. Dari penyulang (feeder) inilah listrik
disalurkan (didistribusikan) ke pusat beban. Komponen dan rangkaian cubicle, antara lain :
1. Panel penghubung (couple)
2. Incoming cubicle
3. Circuit breaker (CB) dan Current Transformer (CT)
4. Komponen Proteksi dan pengukuran
5. Bus sections
6. Feeder atau penyulang
2. Gas Insulated Switchgear / Substasion (GIS)

Gardu induk yang menggunakan gas SF6 (Sulfur Heksaflourida) sebagai isolasi antara
bagian yang bertegangan yang satu dengan bagian lain yang bertegangan, maupun antara
bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan. Gardu induk ini tidak
memerlukan tempat yang luas.
Perbedaannya adalah :
1. Pada GIS peralatan-peralatan utamanya berada dalam suatu selubung logam tertutup
rapat, yang di dalamnya berisi gas bertekanan, yaitu gas SF 6.
2. Gas SF 6 berfungsi sebagai isolasi switchgear dan sebagai pemadam busur api pada
operasi Circuit Breaker (CB).
3. Dengan demikian cara pemasangan GIS berbeda dengan GI Konvensional.

3. Aturan keamanan bekerja di Gas Isolated Switchgear


Aturan ini dibentuk untuk mengintruksikan staff operasional dalam potensi bahaya di area
GIS. Bahaya terjadi dikarenakan kurangnya informasi, peralatan yang tidak sesuai, dan
bekerja dibawah kondisi tertentu.

Aturan kerja dan keamanan


1. Pakaian keamanan yang sesuai (Body harness, sarung tangan, spatu safety, masker,
kacamata, rompi, tali, dll tergantung kondisi area kerja).
2. Zona kerja diberi batas, tanda, bebas hambatan dan bebas obyek bahaya (paku,
tumpahan oli, dll).
3. Menyediakan rute aman dan lorong bebas hambatan.
4. Peralatan yang dipasang harus dilaporkan, telah diberi ijin kerja, dan aman dari
gerakan tidak disengaja / tergelincir.
5. Dilarang bersentuhan langsung dengan kulit dan mata
6. Dilarang merokok diarea pengerjaan
7. Area kerja harus ada ventilasi
8. Produk kimia dan kemasan itu dibuang sesuai aturan lingkungan dan sesuai instruksi
9. Jika melakukan perkerjaan pada peralatan menggunakan kapasistor, pastikan sudah
tidak bermuatan saat dibongkar.
10. koneksi dan bushing transformer harus dibumikan samapai pengerjaan selesai
11. Jika CT tersangkut, jangan menggunakannya pada open sirkuit.
Penanganan bahaya
1. Penanganan operasional harus dilakukan oleh orang yang paham aturan keamanan
dan penanganannya.
2. Pengangkatan / pemindahan peralatan harus menggunakan operasional staff resmi.
3. Pengguna harus memastikan peralatan yang diangkat / dipindah telah dilakukan
inspeksi berkala, bersertifikasi, dan dalam kondisi aman.
12. Kapasitas dari peralatan yang diangkat harus sesuai dengan bebannya ( menggunakan
metode sling yang tepat dan instruksi sesuai aturan AREVA).
13. Pakaian dan alat pengaman harus digunakan sebelum pengerjaan.
14. Dilarang melakukan penanganan langsung diatas pekerja.
15. Staff harus memenuhi aturan keamanan di peralatan switchgear yang berenergi.
16. Tekanan maksimum gas isolasi 0,5 bar sesudah penanganan.
17. Selalu membukan cover dari atas dan hati hati.
18. Melepaskan motor sebelum mengerjakan mekanisme operasi CB.
19. Menghubungi organisasi servis AREVA jika kesalahan tidak dapat diatasi staff.

Komponenen bertekanan gas SF6


1. Staff operasional harus sesuai dengan aturan penyimpanan, transportasi, dan indikasi
manual dalam peralatan dan silinder gas.
2. Staff operasional harus memenuhi intruksi manual perusahaan (manual supplier).
3. Sesudah melepas gas SF6 ke level rendah, tekanan peralatan harus disamakan dengan
tekanan atmosfer dan dicek dengan alat ukur tekanan sebelum baut dan part lain yang
terhubung dibongkar.
4. Sebelum gas SF6 diisi pertama, cek keseluruhan kondisi peralatan (tidak cacat, bercak
pada isolator, dll.
5. Tidak ada kerusakan part pada lampiran
6. Sesudah mengisi gas SF6, cek perakitan penghubung dan seal agar tidak terjadi
kebocoran.
7. Jangan menghilankan baut dan penghubung dalam kondisi tekanan waktu tertentu.
8. Menentukan ukuran, kualitas, dan nomer baut yang digunakan pada penghubung
tekanan. baut harus dikencangkan dengan torsi yang sesuai.
9. Jika bekerja di potensi bahaya bertekanan dan terbuat dari material yang rapuh
(porcelain) yang dapat menimbulkan ledakan. Insiden tersebut tidak dapat dicegah,
orang-orang tidak boleh berada disekitar area dan harus menggunakan proteksi yang
sesuai.
10. Dilarang memindahkan dan mengangkat perlatan bertekanan lebih dari 0,5 bar.
11. Pada bagian servis, bekerja didepan pembuangan dari deflector yang bertekanan harus
dihindari ketika memungkinkan.
12. Pelindung cover yang membatasi pembuangan hanya diijinkan jika tidak berenergi.
13. Jangan pernah memberikan tekanan diatas tekanan yang disarankan pada instruksi
pengoperasian ulang ruang gas.

Penyebab bahaya pada area operasional gas SF6


1. Adanya kebocoran gas SF6 dalam ruang tanpa ventilasi.
2. Pemeliharaan yang membutuhkan pembukaan peralatan yang mengandung gas SF6.
3. Kondisi yang tidak normal (lekukan internal) yang menyebabkan kerusakan pada alat
bantu tekanan.
4. Pengecekan dan penggantian peralatan yang sudah tua.
5. Kegagalan perintah operasional
6. Kegagalan shortcircuit
7. Kehilangan daya
8. Operasional dari perlatan keamanan
9. Gangguan tidak normal
10. Tidak ada pengisian gas sesudah alarm tekanan (alarm pertama)
11. Kebocoran minimum fungsional tekanan (alarm kedua)