Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Energi merupakan salah satu faktor penting dalam operasional sebuah industri,
perusahaan, maupun instansi lain, karena memiliki tingkat ketergantungan tinggi
terhadap kebutuhan energi untuk operasional usahanya. Energi juga mempunyai
peranan yang sangat penting dalam perekonomian, baik sebagai bahan bakar,bahan
baku, maupun sebagai komoditas ekspor. Konsumsi energi terus meningkat sejalan
dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Untuk memenuhi
permintaan energi tersebut perlu dikembangan sumber daya energi, baik energi fosil
maupun energi terbarukan. Mengingat sumber daya energi fosil khususnya minyak
bumi jumlahnya terbatas maka perlu dioptimalkan penggunaannya. Di samping itu
pemberlakuan kebijakan subsidi harga energi yang berkepanjangan menyebabkan
pemakaian energi di semua sektor tidak efisien. Hal ini terlihat dari intensitas energi
yang masih tinggi. Pada tahun 1998 intensitas energi Indonesia mencapai 392 TOE/juta
US$, sedangkan rata-rata ASEAN adalah 364 TOE/juta US$, dan negara maju 202
TOE/juta US$ (DESDM 2003). Belum dimanfaatkannya berbagai teknologi yang
efisien pada saat ini menyebabkan penggunaan energi belum produktif.
Pemerintah dalam rangka optimalisasi penggunaan energi telah mengeluarkan
kebijakan umum bidang energi yang meliputi kebijakan diversifikasi, intensifikasi,
konservasi, harga energi, dan lingkungan (BAKOREN 1998). Kebijakan ini merupakan
perbaikan dari kebijakan-kebijakan energi yang sudah ada sebelumnya dan akan terus
diperbarui sesuai dengan kondisi di masa mendatang. Pada tahun 2004 pemerintah
dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengeluarkan
Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang merupakan pembaruan dari KUBE tahun 1998
yang penyusunannya dilakukan bersama-sama dengan stakeholders di bidang energi.
Kebijakan yang ditempuh masih serupa dengan KUBE sebelumnya yaitu intensifikasi,
diversifikasi, dan konservasi dengan menambah instrumen legislasi dan kelembagaan.
Pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden No.10/2005 tentang
penghematan energi menyusul terjadinya krisis pengadaan BBM pada tahun 2005. Pada
tahun 2006 pemerintah melalui Peraturan Presiden No.5/2006 mengeluarkan KEN yang
merupakan revisi dari KEN tahun 2004. KEN bertujuan untuk mengarahkan upaya-
upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri, mengoptimalkan
produksi energi, dan melakukan konservasi energi. Dari sisi pemanfaatannya perlu
diusahakan penggunaan energi yang efisiensi dan melakukan diversifikasi.
Kebijakan konservasi energi dimaksudkan untuk meningkatkan penggunaan
energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi kuantitas energi yang memang
benar-benar diperlukan. Upaya konservasi energi dapat diterapkan pada seluruh tahap
pemanfaatan, mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan
akhir, dengan menggunakan teknologi yang efisien dan membudayakan pola hidup
hemat energi. DESDM (2003) mengidentifikasi bahwa potensi konservasi energi di
semua sektor mempunyai peluang yang sangat besar yaitu antara 10% - 30%.
Penghematan ini dapat direalisasikan dengan cara yang mudah dengan sedikit atau
tanpa biaya. Dengan cara itu penghematan yang dapat dicapai sekitar 10 - 15%, apabila
menggunakan investasi, penghematan dapat mencapai 30%.
Selain itu terdapat pula kebijakan akuntansi terkait energy, yaitu dari PSAK No.
29 Tentang Akuntansi Minyak Dan Gas dimana PSAK No. 29 ini mengatur tentang
berbagai kegiatan mengenai kegiatan eksplorasi dari industry minyak dan juga gas
bumi. Ada ED PSAK No. 33 revisi tahun 2011 tentang Akuntansi Pertambangan
Umum, dimana ED PSAK No.33 ini mengatur perlakuan akuntansi atas berbagai
aktivitas pengupasan lapisan tanah dan juga aktivitas pengelolaan lingkungan hidup.
Lalu ada PSAK No. 64 tentang Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber
Daya Mineral, PSAK No. 64 ini adalah PSAK pengganti dari PSAK No 29 dan ED
PSAK No. 33. Psak No. 64 initerkait dalam menetapkan pelaporan keuangan atas
eksplorasi dan evaluasi pada pertambangan sumber daya mineral.
Sektor industri yang di samping menggunakan energi listrik juga menggunakan
energi uap untuk proses produksi merupakan sektor yang sudah banyak melakukan
upaya konservasi. Kelompok industri tersebut di antaranya: industri pulp dan kertas,
kilang minyak, tekstil, gula, pupuk, dan semen (Pape 1999; Sasongko dan Santoso
1999). Konservasi energi dapat dicapai melalui penggunaan teknologi hemat energi
dalam penyediaan, baik dari sumber terbarukan maupun sumber tak terbarukan dan
menerapkan budaya hemat energi dalam pemanfaatan energi. Penerapan konservasi
energi meliputi perencanaan, pengoperasian, dan pengawasan dalam pemanfaatan
energi. Hambatan yang dihadapi dalam konservasi energi antara lain: biaya investasi
tinggi, budaya hemat energi masih sulit diterapkan, kemampuan sumber daya manusia
masih rendah sehingga pengetahuan terhadap teknologi yang efisien masih sangat

2
kurang, dan dukungan dari pemerintah dalam bentuk insentif untuk melakukan upaya
konservasi masih kurang.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :
1. Apa pengertian dari energy?
2. Apa saja dampak penggunaan dari energy disebuah industry?
3. Apa pengertian akuntansi energy?
4. Bagaimana akuntansi dalam unit energy?
5. Apa saja isu-isu terkait energy yang lebih luas?
6. Apa saja masalah bisnis terkait energy?
7. Bagaimana mengendalikan energy?
8. Apa yang dimaksud dengan konservasi energy?
9. Apa saja metode dari konservasi energy?
10. Apa saja metode dari analisis ekonomi?
11. Apa saja contoh penerapan dan penghematan energy dalam industry?
1.3 Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi dari energy.
2. Untuk mengetahui dampak dari penggunaan energy disebuah industry.
3. Untuk mengetahui akuntansi energy.
4. Untuk mengetahui akuntansi dalam unit energy.
5. Untuk mengetahui isu-isu terkait energy.
6. Untuk mengetahui masalah bisnis terkait energy.
7. Untuk mengetahui cara untuk mengendalikan energy.
8. Untuk mengetahui konservasi energy.
9. Untuk mengetahui metode dari konservasi energy.
10. Untuk mengetahui metode analisis ekonomi.
11. Untuk mengetahui contoh penerapan dan penghematan energy dalam industry.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Energi
Energi merupakan sumber daya yang digunakan oleh manusia untuk melakukan
suatu kegiatan dengan tujuan tertentu. Dengan adanya energi yang terdapat di bumi
ini manusia dapat mengolah dan memanfaatkanya untuk proses kehidupan. Energi
yang paling utama disebut energi primer yaitu energi yang masih berupa sumber daya
alam yang masish asli. Kemudian manusia dituntut untuk bisa mengolah energi
primer tersebut dengan tekn ologi yang ada sehingga energi tersebut dapat digunakan.
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia membutuhkan energi. Energi
disebut juga sebagai tenaga. Definisi energi adalah kemampuan untuk melakukan
usaha. Secara umum energi digunakan untuk :
 Transportasi
 Rumah tangga (Listrik)
 Industri (Sumber listrik dan Proses)
Pada sektor industri energi digunakan untuk energi listrik dan menggunakan
energi uap untuk proses produksi. Industri yang menggunakan uap untuk proses di
antaranya adalah industri pulp and paper, kilang minyak, tekstil, gula, pupuk, dan
semen. Secara global penggunaan energi di Industri terdiri atas :
 Penggunaan listrik (40%)
 Penggunaan batubara (77%)
 Penggunaan gas alam (37%)
Energi Listrik memilki kontribusi cukup besar terhadap biaya operasional yang
harus dikeluarkan. Peranan listrik ini menjadi semakin penting mengingat adanya
kenaikan tarif dasar listrik yang mau tak mau memaksa berbagai pihak berlomba-
lomba untuk melakukan penghematan. Kenaikan harga listrik dunia rata-rata 7%
setahun, sedangkan Indonesia sudah dicanangkan akan ada kenaikan 6% tiap 4 bulan.
Salah satu alasan kenaikan harga ini adalah untuk membangun pembangkit baru guna
mencukupi kebutuhan kenaikan konsumsi listrik. Jika setiap konsumen bisa
menghemat antara 5 – 10% saja, maka ada kemungkinan pada tahun ini tidak
diperlukan pembangkit baru.

4
Pemerintah bisa ikut berperan untuk mendukung program penghematan energi
ini dengan memberikan insentif pada pelaksanaannya. Sesungguhnya program hemat
energi ini memberikan keuntungan pada semua pihak, konsumen bisa mengurangi
pembayaran rekening, perusahaan listrik tidak dikejar-kejar membuat pembangkit
baru, pemerintah bisa mengurangi jumlah rencana hutang. Program penghematan
listrik adalah bukan sekedar masalah teknis semata, melainkan merupakan
pertimbangan dan keputusan manajemen, terutama ditinjau dari segi keuangan.
2.2 Dampak Penggunaan Energi di Industri
Penggunaan energi pada industri memiliki dampak terhadap lingkungan yaitu
sumber utama pemanasan global yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.
Macam-macam polutan yang berasal dari pembakaran bahan bakar :
1. Emisi CO2 (Karbon Dioksida)
Emisi karbon dioksida adalah pencemaran atau pelepasan gas karbon dioksida ke
udara. Emisi karbon dioksida tersebut menyebabkan kadar gas rumah kaca di
atmosfer meningkat, sehingga terjadi peningkatan efek rumah kaca dan
pemanasan global.Langkah-langkah pengurangan emisi karbon dioksida tersebut
antara lain dengan : Efisiensi penggunaan energi di berbagai sektor, misalnya
sektor industri, transportasi, dan rumah tangga.
2. Emisi NOx (Nitrogen Oksida)
Emisi NOx adalah pelepasan gas nitrogen oksida ke udara. Di udara, setengah dari
konsentrasi nitrogen oksida berasal dari kegiatan manusia (misalnya pembakaran
bahan baar foil untuk pembangkit listrik dan transportasi), dan sisanya berasal
dari proses alami (misalnya kegiatan mikroorganisme yang mengurai zat
organic). Di udara, sebagian nitrogen oksida tersebut berubah menjadi asam nitrat
(HNO3) yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam.
3. Emisi SO2 (Sulfur Dioksida)
Emisi sulfur dioksida adalah pelepasan gas sulfur dioksida ke udara yang berasal
dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam. Seperti kadar NOx di
udara, setengah dari konsentrasi sulfur dioksida juga berasal dari kegiatan
manusia. Gas sulfur dioksida yang teremisi ke udara dapat membentuk asam
sulfat (H2SO4) yang menyebabkan terjadinya hujan asam.

5
2.3 Akuntansi Energi
Salah satu cara yang paling mudah di mana akuntan dapat berkontribusi pada
pengembangan kepekaan lingkungan organisasi adalah akuntansi untuk energi.
Prasyarat untuk mengontrolnya adalah mengetahui tentang hal yang harus dikontrol.
Langkah pertama adalah memisahkan biaya energi dalam sistem akuntansi dan
penetapan biaya dasar. Hal ini tampak jelas tetapi satu survei menyatakan bahwa
kurang dari 50 persen perusahaan besar memiliki sistem untuk memperhitungkan
energi secara terpisah dan lebih sedikit lagi yang sebenarnya mengisi ulang biaya ke
pusat kegiatan, lebih memilih, karena alasan kesederhanaan, untuk memperlakukan
mereka sebagai bagian dari overhead umum.
Mengingat sistem akuntansi yang sangat luas yang digunakan dalam praktik,
tidak ada aturan keras dan cepat untuk menghitung energi, tetapi sistem apa pun harus
memiliki proporsi substansial. Unsur-unsur ini tidak hanya memulai proses
pengumpulan data di mana kontrol biaya energi dapat didasarkan tetapi juga
meningkatkan profil biaya energi (pada, misalnya, situs, produk atau tingkat divisi) di
benak karyawan dan manajemen; dan mencoba untuk mengatribusikan biaya kepada
mereka yang mendatangkannya.
Bagaimanapun, menyebabkan pengurangan penggunaan energi tidak hanya
harus ada mekanisme untuk memastikan bahwa energi secara aktif dikendalikan -
melalui investasi yang berhubungan dengan energi, dengan memastikan bahwa biaya
energi merupakan bagian dari penilaian kinerja dll. Tetapi harus ada akuntansi
terpisah untuk unit energi dibandingkan dengan hanya biaya. Misalnya, penurunan
biaya energi dapat muncul melalui perubahan sifat bisnis, melalui perubahan dalam
proses dan, yang paling penting, baik melalui beralih antara bahan bakar atau
pengurangan dalam biaya per unit energi. Ini bisa dengan mudah menyamarkan
kegagalan untuk meningkatkan efisiensi energi yang sebenarnya. Seperti halnya
sistem biaya yang berguna, unit juga harus direkam sehingga target energi dan variasi
volume, misalnya, dapat dinilai. Ini adalah kombinasi identifikasi bahan bakar yang
terpisah baik oleh biaya dan unit yang telah menyebabkan pengendalian energi yang
sukses oleh IBM, ICI, Carron Phoenix, Marks & Spencer, Tesco, Sainsbury, dll.
Perusahaan lain telah memilih untuk mengendalikan hanya untuk keuangan. atau
pengukuran unit Ini berpotensi berbahaya. Akuntansi hanya untuk implikasi keuangan
tidak menempatkan organisasi dalam posisi untuk meramalkan perubahan, dalam
biaya bahan bakar dan menilai dampaknya. Sebagian besar organisasi yang

6
tercerahkan menyadari bahwa biaya energi akan naik secara substansial, dan sekarang
adalah waktu untuk mengurangi paparan dengan mengurangi penggunaan. Inilah yang
akan, dalam jangka panjang, mengurangi biaya secara konsisten. Akuntansi hanya
dalam unit, sementara mungkin lebih baik secara lingkungan, jarang menghasilkan
motivator uang tunai untuk kontrol dan tidak selalu mengarah pada meminimalkan
biaya energi.
2.4 Akuntansi Di Unit Energi
Salah satu gagasan yang lebih tercerahkan (atau gila) yang muncul selama krisis
energi tahun 1970-an adalah usulan untuk menggunakan unit energi sebagai
mekanisme dasar pembukuan. Meskipun ide itu menderita sejumlah kelemahan, itu
juga memiliki kelebihannya. Kelemahan berasal dari kurangnya hubungan dengan
uang tunai di dunia di mana kontrol keuangan masih mendominasi, dan fokus hanya
pada satu elemen interaksi lingkungan organisasi. Manfaat dari ide itu terutama
berasal dari identifikasi bentuk-bentuk lain dari 'pendapatan', 'biaya' dan 'laba', yang
mana setiap organisasi yang serius ingin mengejar kesinambungan akan mengenali
Inti dari negara adalah bahwa semua entri pembukuan saat ini dilambangkan dalam ₤
atau $ atau apa pun yang dapat didesain ulang dalam hal unit energi yang terkandung
dalam produksi mereka.
Akuntansi lengkap berdasarkan ide tidak pernah dikembangkan dan beberapa
masalah praktis tentu jauh dari sederhana. Tetapi gagasan menelusuri masukan energi
untuk berbagai opsi jauh sistem akuntansi berdasarkan pada therms, BTU, ton setara
batubara atau apa pun yang bisa mulai menginformasikan pembuatan kebijakan. Bank
(1977) memberikan beberapa contoh: pada tahun 1970 mobil menyumbang 21 persen
dari total konsumsi energi ASA; dan rumah kerangka kayu mengandung kurang dari
sepertiga dari input energi yang diperlukan untuk menghasilkan rumah bata dengan
dimensi dan efisiensi energi yang sama. Sementara pasar dan logika keuangan telah
menerima situasi ini, sebuah akun energi dari keduanya memaparkan hasil yang aneh
dari asumsi-asumsi yang kita terima-untuk-diberikan. Restrukturisasi harga energi
yang serius, ketika (atau jika) datang, harus memiliki efek mengurangi kesenjangan
dan mendorong tantangan akuntansi energi untuk diambil sekali lagi.
Selain manfaat potensial dalam hal efisiensi dan kemampuan meramalkan yang
dapat timbul dari upaya untuk memperhitungkan di unit energi, kemungkinan nyata
dan pragmatis lainnya ada. Sebagai contoh, penghitungan energi dapat menjadi
mekanisme di mana energi limbah mungkin berhasil dilacak. Satu perusahaan kimia

7
internasional telah bereksperimen dengan ini sebagai bagian dari alokasi biaya energi
untuk kegiatan. Identifikasi limbah panas dari bangunan, melalui tumpukan asap,
dalam aliran air limbah telah membantu manajemen lini mengidentifikasi di mana
'mereka' biaya energi akan dan, mengingat tingkat akuntabilitas yang tinggi,
mendorong mereka untuk memikirkan cara meminimalkan kerugian. Kemungkinan
lain untuk akuntansi dalam satuan energi muncul dalam perusahaan produk ekstraktif
dan bangunan menengah. Diskusi tentang keinginan mengukur peningkatan
lingkungan yang timbul dari desain dan perubahan proses mengarah pada penggunaan
inovatif.
Unit „energi‟ per meter kubik bangunan yang dibangun 'sebagai ukuran kinerja
eksperimental. Karena energi sangat erat kaitannya dengan sebagian besar dampak
lingkungan perusahaan, ini terbukti menjadi ukuran yang sangat membantu yang
diperlukan akuntansi terpisah. Seperti halnya eksperimen tahun 1970-an, dapat secara
realistis mengharapkan perkembangan yang lebih imajinatif dalam penghitungan
energi untuk muncul ketika krisis lingkungan semakin mendalam.
2.5 Energi – Beberapa Isu yang Lebih Luas
Isu lingkungan yang terkait dengan energi bersifat kompleks dan kritis. Energi
dapat berasal dari sumber energi non-terbarukan (batubara, minyak, gas, nuklir, panas
bumi) atau terbarukan (kayu, angin, laut, surya, air). Bahan bakar Barat berasal
terutama dari sumber yang tidak terbarukan. Ekstraksi tidak hanya menghabiskan
sumber daya yang langka (yang mungkin memiliki alternatif, penggunaan yang lebih
berkelanjutan) dan mengganggu ekosistem, tetapi itu sendiri menggunakan energi
dalam prosesnya. Bahan mentah yang diekstraksi diangkut dan diproses,
menggunakan energi lebih lanjut, sebelum mencapai pengguna akhir - atau tiba di
pembangkit listrik di mana ia diproses lebih lanjut sebelum mencapai konsumen
dalam bentuk listrik. Penciptaan energi itu sendiri sangat boros energi dan oleh karena
itu tidak hemat energi. Penggunaan dan pengolahannya menghasilkan panas buangan,
oleh produk dan emisi gas dan dengan demikian secara langsung terkait dengan
terciptanya hujan asam, pemanasan global, polusi udara dan segudang intrusi lain ke
dalam biosfer. Implikasi dari intrusi ini masih sangat masalah untuk diperdebatkan
tetapi skenario kasus terburuk menunjukkan kehancuran negara-negara yang
dikembangkan oleh manusia dan negara-negara yang kurang berkembang sama-sama
belum lagi berdampak pada spesies lain dan planet secara keseluruhan. Implikasi dari
tenaga nuklir juga jauh dari skema langsung dan panas bumi dan hidro meningkatkan

8
masalah lingkungan yang sulit bagi diri mereka sendiri. Tampaknya tidak ada
penggunaan energi konvensional di Barat sepenuhnya tanpa masalah-masalahnya.
Energi juga merupakan faktor utama dalam perdebatan G7 / G 77. Pertama-
tama, konsumsi energi per kapita di negara-negara maju kira-kira tujuh kali lebih
tinggi di negara-negara yang kurang berkembang, dan ketika busur yang paling boros
(AS, Kanada dan Australia) dibandingkan dengan yang termiskin, jumlahnya banyak
kali lebih tinggi. Jelaslah bahwa Barat memiliki kapasitas yang jauh lebih besar untuk
tabungan daripada dunia berkembang. Untuk sebagian besar populasi dunia
berkembang, penggunaan energi secara langsung diarahkan ke dasar (sering, kurang
dari dasar) rezeki - kehangatan dan memasak. Kegiatan ini mewakili sebagian kecil
penggunaan Barat. Meningkatnya tekanan pada energi untuk negara berkembang akan
terus meningkat dengan dorongan industrialisasi sementara permintaan kayu yang
meningkat untuk bahan bakar menambahkan jerami terakhir ke lahan kayu yang
hancur - dengan penghancuran habitat, penggurunan, banjir, dan sebagainya.
Jelas, semua sektor populasi terlibat dalam proses ini dan upaya pemerintah,
individu, rumah tangga dan bisnis akan diperlukan untuk mengurangi \ dampak
terburuk sebelum kehancuran mulai memiliki lebih dari dampak marjinal pada
kehidupan. Ini akan melibatkan perubahan besar dalam bisnis. Sebagai contoh, C02
adalah gas rumah kaca utama yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Di U K
sekitar 70 persen dari seluruh C02 dikontribusikan oleh bisnis dan transportasi.
Kontributor utama untuk hujan asam SO, dan NO. Bagian terbesar dari ini berasal
dari pembangkit listrik, manufaktur dan proses pemanasan dan transportasi jalan.
Ironi sesungguhnya adalah bahwa sebagian besar energi yang digunakan di
negara maju terbuang sia-sia. Teman di bumi memperkirakan bahwa Inggris dapat,
menggunakan tingkat teknologi saat ini, mengurangi konsumsi listriknya sebesar 70
persen. Angka-angka seperti ini, sementara tidak membuat kemajuan yang sangat
lambat pada pembangkit energi yang tidak terbarukan tidak relevan, lakukanlah ke
dalam perspektif. Selain itu, banyak negara maju terlepas dari ketakutan selama 'krisis
energi' tahun 1970 telah menunjukkan sedikit komitmen nyata untuk efisiensi energi
besar. Dengan subsidi pemerintah yang efektif untuk transportasi jalan pribadi dan
ketidaksetaraan yang sangat besar antara inisiatif penelitian energi yang berbeda,
misalnya, perubahan drastis dalam penekanan yang diperlukan dalam penggunaan
energi masih menjadi sesuatu masa depan.

9
2.6 Energi: Beberapa Masalah Bisnis
Kekhawatiran yang terus berkembang atas energi, penggunaannya dan emisi
konsekuen menciptakan lingkungan yang berubah tetapi relatif tak terduga untuk
sumber tekanan bisnis yang paling jelas pada bisnis untuk mengubah pendekatan
mereka terhadap penggunaan energi akan melalui kenaikan harga energi tetapi secara
keseluruhan ini belum terjadi pada tingkat apa pun. Namun demikian, banyak bisnis
yang berpandangan jauh untuk alasan yang beragam seperti penghematan biaya,
kewarganegaraan yang baik atau posisi strategis telah mengadopsi rencana
manajemen energi dan atau mencari opsi energi dan efisiensi energi alternatif. Salah
satu manifestasi yang lebih jelas dari kegiatan ini adalah peningkatan penggunaan
tenaga angin dan eksplorasi eksplorasi tenaga surya.
Satu pengembangan yang akan membuat perbedaan penting adalah jika biaya
energi dinaikkan terhadap tren penurunan umum. Selain sistem perpajakan energi,
telah ada perdebatan panjang apakah energi saat ini mewakili biaya 'nyata' atau tidak.
Hukum nasional atau internasional yang mensyaratkan, misalnya, standar yang lebih
tinggi dari emisi pembangkitan listrik atau efisiensi energi yang lebih ketat pada
penilaian dampak lingkungan yang membutuhkan gerakan bebas kecelakaan dan /
atau penghentian tanker-minyak yang disiram ke laut yang memerlukan standar
remediasi yang lebih ketat dan seterusnya, semua akan mencerminkan biaya
lingkungan dan menambah biaya keuangan energi.
Pengaruh masa depan (dan yang lebih signifikan) pada bisnis untuk mengubah
penggunaan energi dan efisiensi tampaknya akan datang dari arah utama: perhatian
global terhadap efisiensi energi dan meningkatkan ansiate tentang emmisions, polusi
dan perubahan iklim. Artinya, sementara efisiensi energi dan pengendalian emmisions
di negara-negara G7 telah meningkat dengan mantap, peningkatannya tidak cukup
untuk membalikkan perubahan iklim, apalagi untuk mengimbangi peningkatan
penggunaan energi dan emisi ketika negara-negara G77 meningkatkan industrialisasi
mereka.
Karena jelas bahwa inisiatif sukarela dalam bisnis - meskipun signifikan - tidak
cukup untuk menghentikan pengurangan sumber daya energi, peningkatan hujan
asam, meningkatnya ancaman perubahan iklim dan seterusnya, rezim pengaturan di
mana bisnis beroperasi dimulai. Untuk mengganti. Perubahan ini mengambil sejumlah
bentuk, yang paling jelas adalah „perintah dan pengaturan kontrol; perubahan dalam
sistem perpajakan; perubahan insentif dan hibah dan / atau kombinasi dari rejim

10
pengaturan dengan instrumen pasar. Sebagian besar negara OECD memiliki dan
meningkatkan pengalaman dengan salah satu dari ini dan pengalaman itu tampaknya
akan terus berlanjut. Secara khusus, ada dua area yang diberi perhatian yang
meningkat sehubungan dengan pengendalian penggunaan energi dan emisi pajak
karbon (yang disebut) dan mekanisme emisi pasar baru: perdagangan atau perizinan
polusi yang dapat diperdagangkan.
Pajak energi dan pajak karbon (yang menargetkan kandungan karbon bahan
bakar) secara khusus merupakan bagian dari jaring yang lebih luas dari insentif dan
denda lingkungan fiskal untuk menyelaraskan bisnis yang baik dan praktik yang peka
terhadap lingkungan. Namun, masalah yang terlibat sangat kompleks. Komunitas
bisnis pada umumnya tidak mendukung proposal (seperti yang dibuat di Eropa) untuk
pajak energi. Ketakutan akan kerugian bisnis - meskipun mungkin terlalu berlebihan -
masih cukup nyata. Negara-negara, juga, telinga yang 'menjadi yang pertama' dengan
pajak energi dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang parah. Bahkan lebih
signifikan (seperti yang dipelajari oleh UK untuk biayanya), setiap proposal harus
dibingkai dengan cara yang tidak menghukum yang miskin dan kurang beruntung
dalam masyarakat secara tidak adil. Artinya, karena orang miskin dan kurang mampu
membelanjakan persentase yang jauh lebih besar dari pendapatan bersih mereka untuk
bahan bakar (untuk kehangatan, memasak, fasilitas dasar dan perjalanan), pajak
energi akan memiliki dampak yang lebih tinggi secara tidak proporsional terhadap
kelompok itu. Dengan demikian, pajak energi dapat menjadi prakarsa perpajakan
yang berpotensi regresif. Ini bukan ide sama sekali. Meskipun masalah ini, sesuatu
yang perlu dilakukan untuk membawa mekanisme harga menjadi bermain untuk
mendorong - memang kekuatan - efisiensi energi yang lebih besar.
Pendekatan alternatif adalah menargetkan, bukan input bahan bakar, tetapi
output dari emisi yang timbul dari penggunaan bahan bakar tersebut (dan bahan
lainnya). Pendekatan ini berkaitan dengan perdagangan emisi dan dapat digunakan
untuk menargetkan emisi spesifik (misalnya C02 atau SO,) atau sekeranjang emisi
dari polusi manufaktur atau kegiatan lainnya. Idenya adalah bahwa gelembung
imajiner diletakkan di atas perusahaan dan itu dikeluarkan dengan perm itu untuk
mengisi gelembung itu dengan hingga x jumlah polutan tertentu. Perusahaan 'bersih'
tidak akan menggunakan semua lisensinya dan dapat menukarkannya ke perusahaan
'kotor' - mengirimkan uang dari 'buruk' ke 'baik'. Didiskusikan secara luas dalam
literatur ekonomi lingkungan dan faktor yang semakin penting dalam agenda di,

11
misalnya, Uni Eropa dan Inggris serta di Selandia Baru, 17 lisensi polusi yang dapat
diperdagangkan muncul pertama di Amerika Serikat. Skema USA dalam dua tahap,
yang dimaksudkan pertama untuk membawa perusahaan-perusahaan kotor ke dalam
sejalan dengan persyaratan dasar dan kemudian terus untuk mengurangi baseline -
dengan demikian, ia berpendapat, mengurangi polusi keseluruhan dengan cara yang
stabil dan mudah dikelola. Kontrak dalam izin tersebut telah diperdagangkan di AS
sejak 1992.
Industri sendiri jauh dari homogen dalam responnya dengan pola yang sekarang
dikenal, dari beberapa perusahaan yang berusaha menentang inisiatif apa pun, banyak
yang mengabaikan masalah itu secara keseluruhan dan mengesankan. minoritas yang
mencari inisiatif dan mengatur langkah perubahan di lapangan. Industri dalam inisiatif
termasuk hal-hal seperti GEM inisiatif British Gas (Manajemen Energi Gas). Selain
itu, Asosiasi Industri Kimia dan Bisnis-dalam-Lingkungan-misalnya, telah
mendorong eksperimen dengan dan pengembangan dan penggunaan indikator kinerja.
Inisiatif ini biasanya termasuk indikator kinerja energi dari jenis 'penggunaan energi
per ton-dari-pengeluaran'. Seperti yang akan kita lihat di bawah, pendekatan semacam
ini terbukti sangat berhasil di banyak perusahaan, dengan penghematan keuangan
besar dilaporkan oleh perusahaan yang mengadopsi metode ini dan lainnya.
Di level perusahaan banyak yang terjadi. Sebagian besar, perusahaan yang
belajar dari krisis energi tahun 1970-an terus memasang, mengembangkan dan
memperbaiki proyek-proyek efisiensi energi mereka. Untuk perusahaan-perusahaan
ini, penghematan energi telah menjadi bagian dari cara hidup normal. Sebagai contoh,
sebuah perusahaan manufaktur berukuran menengah meramalkan bahwa waktu
pengembalian modal untuk investasi hemat energi akan berkurang dalam waktu dekat
dengan meningkatnya biaya energi. Ini telah mendorong pemikiran ulang secara
lengkap tentang penggunaan energi dan strategi investasinya (lihat juga Bab 8). IBM
telah lama menyadari pentingnya energi dan, sebagai bagian dari "mengambil
pandangan yang lebih panjang", telah mengadopsi investasi yang lebih hemat energi.
Sainsbury telah banyak dilaporkan telah mengadopsi manajemen canggih biaya energi
di seluruh operasinya. Selanjutnya, terutama untuk perusahaan manufaktur, setiap
penghematan energi dapat mengarah pada penghematan lebih lanjut di tempat lain
melalui, misalnya, pengurangan dalam kesehatan dan keselamatan dan pembuangan
limbah beracun dan kekhawatiran pengendalian, pengurangan limbah dan air limbah,
pengurangan emisi ke udara dan air. dan pengurangan petugas dalam perawatan lebih

12
lanjut dan biaya persetujuan. Energi juga merupakan masalah besar dalam daur ulang
dan penilaian siklus hidup, di mana Norsk Hydro misalnya, melaporkan 'keuntungan
energi kecil' dalam daur ulang aluminium. Untuk perusahaan lain, masalah energi
yang meningkat memberikan peluang untuk teknologi dan produk mereka - apakah
teknologi kontrol atau peningkatan permintaan untuk insulasi atau glazur ganda. Kami
melihat bagaimana hal-hal ini akan dibahas di bagian selanjutnya.
Dari catatan khusus adalah prakarsa yang mulai dipertimbangkan oleh
perusahaan mengingat keprihatinan atas Pertanian global. Keprihatinan ini diberikan
dorongan utama oleh konferensi Kyoto tentang perubahan iklim dan telah
menyebabkan sejumlah tanggapan. banyak perusahaan yang kini menetapkan - dan
bahkan melaporkan target yang ditetapkan sendiri untuk pengurangan emisi gas
rumah kaca. Perusahaan lain - British Petroleum adalah contoh yang patut dicatat -
tidak hanya telah menetapkan sendiri target tentang penggunaan dan eksploitasi
sumber energi terbarukan tetapi juga telah mulai menggunakan emisi yang dapat
diperdagangkan secara internal sebagai sarana untuk mengendalikan penggunaan
energi. Pendekatan luas ketiga yang muncul pada saat penulisan adalah upaya oleh
perusahaan untuk mengukur dan melaporkan kontribusi individu mereka terhadap
perubahan iklim global. Inisiatif yang ambisius, tetapi tercerahkan ini penting untuk
pengidentifikasiannya akan hubungan langsung (jika rumit) antara kegiatan
perusahaan besar dan keadaan ekologi global. Ini, memang, mulai terlihat seperti
langkah-langkah goyah pertama menuju pengakuan sejati akan urgensi keberlanjutan.
2.7 Mengendalikan Energi
Seperti yang telah kita lihat, survei praktik bisnis dan niat dengan rasa hormat
terhadap lingkungan telah menghasilkan hasil yang sangat berbeda. Secara
keseluruhan, nampaknya sebagian besar organisasi mencoba untuk mengabaikan
masalah, tidak ada perusahaan yang dikelola dengan baik yang mampu menghindari
setidaknya beberapa bentuk kebijakan konservasi energi. Dan, karena begitu banyak
hal yang berkaitan dengan masalah lingkungan, dorongan untuk perubahan
tampaknya akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Gambar 6.1 mengilustrasikan beberapa langkah dasar awal yang dapat diambil
oleh organisasi untuk mulai menghemat energi. Burkitt (1990) berpendapat bahwa
biaya pencahayaan terhitung antara 25 hingga 50 persen dari tagihan listrik kantor
rata-rata dan penerangan hemat energi dapat menghemat bisnis Inggris hingga £ 240
juta ($ 384 juta) per tahun. Ini bukan jumlah yang sepele. Namun, ada batas seberapa

13
jauh inisiatif sedikit demi sedikit dapat mengambil penghematan energi organisasi.
Pendekatan yang lebih sistematis menjadi perlu. Jika organisasi memiliki bakat di
rumah, mungkin dapat melakukan penilaian sistematis penggunaan energinya tanpa
bantuan dari luar. Banyak panduan untuk membantu pendekatan ini ada. Dua - dari
CEBIS dan Kantor Efisiensi Energi Inggris - disediakan dalam Lampiran 6 dan yang
lainnya dapat ditemukan di, misalnya, publikasi CBI dan panduan Bisnis-dalam-
Lingkungan-yang baik.22 Alternatif lain, saran ahli - baik di spesialis audit energi
atau sebagai bagian dari audit lingkungan yang lebih lengkap - mungkin diperlukan.
(Lihat Bab 5 untuk informasi tentang audit lingkungan.

Tabel 6.1
langkah hemat energi awal (sederhana dan murah)
• Isolasi dinding dan atap
• Pertimbangkan glazur ganda
• Isolasi boiler dan habiskan pipa air panas
• Periksa suhu air panas dan kurangi jika memungkinkan
• Isolasikan sistem pemanas dan beri kontrol lokal
• Matikan lampu dan panaskan saat tidak digunakan
• Gunakan pencahayaan hemat energi
• Periksa kebocoran n pemanas dan pipa air
• Draft proofing
• Fit termostat dan kontrol waktu
• Tingkatkan pemeliharaan semua peralatan yang berhubungan dengan energi
• Mempertahankan, meng-upgrade, menginstal heats recovery dan peralatan penukar panas
• Menunjuk orang yang bertanggung jawab untuk penghematan energi di berbagai bidang
organisasi
• Mintalah saran dari semua staf tetapi spesialis (mis. Insinyur pemanas)
Dan mulai memonitor penggunaannya

Langkah pertama menuju pendekatan sistematis terhadap efisiensi energi adalah


penilaian penuh tentang energi apa yang digunakan, di mana dan bagaimana
penggunaannya, dan kebocoran apa yang terjadi. Apakah ini berubah seiring waktu?
Ini akan memusatkan perhatian pada area di mana penghematan maksimum dapat
dilakukan. (Salah satu aspek ini - akuntansi keuangan dan non-keuangan untuk energi
- dibahas di bawah ini.) Seperti dicatat ICI, 'Kami telah memantau selama beberapa
waktu. sekarang saatnya untuk mulai membersihkan barang-barang lama dari tahun
1970-an dan mulai memperkenalkan beberapa hal ini. 'Tidak perlu menemukan
kembali roda. Keahlian yang cukup banyak dikumpulkan selama krisis energi tahun

14
1970-an dan organisasi-organisasi harus memanfaatkan itu sedapat mungkin.
misalnya, pada tahun 1982 CIMA (Chartered Institute of Management Accountants)
menerbitkan tiga makalah yang mewakili keadaan seni dalam penghematan energi dan
akuntansi dengan ilustrasi rinci dari Courtaulds dan Pilkington. Meskipun bukan
dokumen yang paling sederhana, mereka mengandung tambang pengalaman dan ide
untuk semua organisasi.
Untungnya, banyak perusahaan senang berbagi pengalaman mereka. 'Sebagai
contoh, Bisnis dalam Lingkungan, bekerja sama dengan KPMG, telah mendorong
serangkaian proyek indikator kinerja. Studi kasus yang dihasilkan akan dipublikasikan
dan termasuk contoh perusahaan yang bereksperimen dan berhasil dengan
penghematan energi. Gas Inggris dan Sainsbury telah secara khusus membuka
pengalaman mereka.
Contoh Sainsbury telah berjalan sejak 1974 dan mengklaim menyimpan 'lebih
dari 7 juta per tahun. Sistem komputer memantau penggunaan energi ll dan biaya
terkait dengan cukup rinci. Ini kemudian dibandingkan dengan data penggunaan per
kapita dan area. Dari sini, kontrol atas panas dan cahaya dapat dibentuk. Semua
manajer diperlihatkan biaya penggunaan bulanan terhadap target dan bertanggung
jawab atas perbedaannya. Manfaat dari pengalaman yang panjang di lapangan
mencerminkan keterlibatan perusahaan dengan desain bangunan, yang memungkinkan
efisiensi untuk dibangun sehingga, misalnya, panas didaur ulang dan sistem
terintegrasi menggunakan panas yang dihasilkan oleh lemari es. Sainsbury mengklaim
bahwa tokonya sekarang hanya menggunakan 60 persen energi yang akan dibutuhkan
sepuluh tahun lalu. Ruang kantor juga telah dipertimbangkan. Mot pencahayaan yang
sensitif terhadap ion dan pemanas yang dikontrol secara termostatik dan AC
semuanya menghasilkan penghematan.
Ada sedikit bukti tentang jenis kontrol yang telah berhasil diterapkan di bidang
transportasi. Tidak dapat dihindari, perbedaan harga pada bensin dan solar tanpa
timbal akan memiliki efek pada keputusan pembelian oleh perusahaan dengan cara
yang seharusnya mengurangi jangka panjang pengeluaran. Selain itu, pemantauan
konstan biaya transportasi termasuk energi - akan menjadi bagian normal dari
manajemen yang baik.

15
2.8 Konservasi Energi
Konservasi Energi diartikan sebagai upaya sistematis, terencana, dan terpadu
guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi
pemanfaatannya, menurut Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009. Sedangkan
menurut sumber lain konservasi (penghematan) energi adalah tindakan mengurangi
jumlah penggunaan energi atau penggunaan energi yang optimal sesuai dengan
kebutuhan sehingga akan menurunkan biaya energi yang dikeluarkan (hemat energi
hemat biaya).
Tujuan konservasi energi adalah untuk memelihara kelestarian sumber daya
alam yang berupa sumber energi melalui kebijakan pemilihan teknologi dan
pemanfaatan energi secara efisien, rasional, untuk mewujudkan kemampuan
penyediaan energi. Industri memiliki potensi untuk mengurangi intensitas energy dan
emisinya sebesar 26 -32%, yang berarti mengurangi 8 – 12% penggunaan energi total
dan emisi CO2.
2.8.1 Kebijakan Konservasi Energi
Kebijakan konservasi energi terdapat dalam Undang-Undang No 30 Tentang
Energi Pasal 25 yang berisi :
- Konservasi energi nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Pengusaha dan Masyarakat
- Konservasi energi nasional mencakupi seluruh tahap pengelolaan energy
- Pengguna energi dan produsen peralatan hemat energy yang melaksanakan
konservasi energi diberi kemudahan dan/atau insentif Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah
- Pengguna sumber energi dan pengguna energi yang tidak melaksanakan
konservasi energi diberi disinsentif oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah
Daerah
2.8.2 Manfaat Konservasi Energi
- Menurunkan biaya energi
- Menurunkan biaya produksi
- Menurunkan konsumsi energi
- Menurunkan emisi gas rumah kaca (COx)
- Menurunkan emisi gas lain (SOx , NOx)

16
2.8.3 Hal-Hal yang Dapat dilakukan untuk Konservasi Energi
1. Peningkatan kualitas daya listrik
2. Penggunaan peralatan hemat energi
3. Manajemen energi
4. Penerapan teknologi kogenerasi
2.9 Metode Konservasi Energi
Metode konservasi energi dalam setiap bidang, antara lain :
1. Industri dengan cara manajemen energi, audit energi dan perhitungan life-cycle-
costing Analysis (LCCA)
a. Manajemen energy
Manajemen energy adalah kegiatan untuk mengelola penggunaan energi
secara efisien, efektif dan rasional tanpa mengurangi kenyamanan kerja,
estetika, keselamatan pengguna serta produktivitas dan dilakukan secara
sistematis, terpadu dan kontinyu.
Manajemen energi dalam suatu industri sangat diperlukan sebagai upaya
untuk meningkatkan daya saing industri tersebut. Selain itu dengan adanya
manajemen energi di industri dapat meningkatkan keuntungan baik dari sektor
financial maupun sektor lingkungan. Dari sektor financial dengan penerapan
ilmu manajemen energi maka dengan menggunakan energi seminimal mungkin
untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Dari sektor lingkungan
dengan penerapan manajemen energi dapat membantu memerangi global
warming. Dengan sedikit mengkonsumsi energi berarti mengurangi polusi
termal dan penggunaan air pendingin, yang intinya dapat meninngkatkan
kualitas lingkungan. Sebagaimana yang kita tahu bahwa, sumber utama
pembakaran bahan bakar fosil atau kegiatan manusia yang berkaitan dengan
penggunaan energy dapat menimbulkan pemanasan global yang
mengkhawatirkan masyrakat yang ada di bumi saat ini. Tanpa adanya
manajemen energi dalam suatu perusahaan industri tidak dapat beroperasi
dengan baik, cenderung merugi dan dapat merusak lingkungan sekitar.
Dalam sistem Manajemen energi dimulai dari sistem pengolahan energi
hingga pemakaian energi tersebut. Dalam sistem pengolahan energi manusia
harus bisa mengolah suatu energi primer menjadi bentuk energi lain tanpa harus
mengorbankan energi lain, sehingga dari pengolahan tersebut dapat dihasilkan
beberapa macam bentuk energi yang berdaya guna untuk manusia maupun

17
untuk kepentingan industri. Dalam sistem pendistribusian energi juga harus
dituntuk dengan manajemen energi, sehingga biaya yang diperlukan sedikit/
hemat dan energi yang didistribusikan utuh sampai ditempat tujuan. Dalam
pemanfaatan/ penggunaan energi ilmu manajemen energi dapat diterapakan
supaya dalam penggunaan energi tidaka bnerlebihan dan dapat sminimal
mungkin, sehingga diperoleh keuntungan yang besar. Selain itu upaya
pengelolaan energi tersebut agar tidak mencemari/ merusak lingkungan sekitar.
b. Audit energi
Audit energy adalah melakukan pencatatan data pemakaian energi baik
sebelum maupun sesudah dilakukan konservasi energi untuk membandingkan
efektifitasnya. Audit energi listrik di industri adalah suatu metode untuk
mengetahui dan mengevaluasi efektivitas dan efisiensi pemakaian energi listrik
di suatu tempat.
Audit energi dilakukan untuk mencapai hal sebagai berikut:
 Untuk mengetahui nilai Intensitas Konsumsi Energi dan profil pemakaian
energi eksisting operasional fasilitas suatu industri pada periode tertentu.
 Untuk mengidentifikasi jenis alternatif konservasi energi, maupun
penghematan energi sebagai bagian dari manajemen energi sebuah industri.
 Memilih suatu keputusan alternatif jenis konservasi energi yang terbaik
sebagai rekomendasi perencanaan manajemen energi industri.
Pelaksanaan audit energy pada dasarnya akan menguntungkan pihak itu sendiri.
Karena ada Aspek Pencapaian yang diharapkan dari proses Audit Energi, yaitu
 Saving in money : adanya manajemen energi, dapat mengurangi biaya
operasional. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh perusahaan akan
meningkat.
 Environmental protection : adanya penggunaan energi yang efisien maka
akan memberikan kontribusi bagi dunia dalam hal membantu pelestarian
alam dengan menjaga dan mempertahankan cadangan minyak bumi dunia
agar tidak segera habis.
 Sustainable development : adanya penggunaan energi yang efisien maka akan
memberikan kontribusi bagi perusahaan di bidang pertumbuhan yang
berkelanjutan baik di sisi finansial maupun penggunaan peralatan industri
yang memiliki lifetime maksimum/optimum.

18
Pelaksanaan audit energi harus dilaksanakan secara teliti dan menyeluruh
mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan konsumsi energi.

Audit awal dan audit rinci untuk mengetahui dimana


penggunaan energi terbesar

Mengukur energy terbuang

Menganalisis data

Menetapkan strategi untuk memperoleh peluang hemat


energi

Mengnalisis peluang hemat energi

Rekomendasi untuk menerapkan strategi dari hasil audit

c. Perhitungan life-cycle-costing Analysis (LCCA)


life-cycle-costing Analysis adalah suatu metode ekonomi untuk
mengevaluasi suatu proyek atau usaha yang mana semua biaya dalam
kepemilikkan (owning), pengoperasian (operating), pemeliharaan (maintaining)
dan pada akhirnya penjualan (disposing) dari proyek tersebut dipertimbangkan
untuk kepentingan pada keputusan mengenai proyek tersebut. Analisis Life Cost
memungkinkan biaya pembuatan, operasi, dan penghapusan dari alternatif yang
dipilih untuk diamati sepanjang umur aktualnya untuk memudahkan pembuatan
keputusan yang akurat dan tepat waktu sehingga biaya-biaya tersebut dapat
diminimalkan. Analisis Life Cost digunakan sebagai dasar untuk mengamati dan
mengatur biaya-biaya yang melebihi umur aktual dari aset tersebut.
Proses LCC ini terdiri dari 6 tahap, yaitu:
 Tahap 1 : perencanaan analisis LCC
 Tahap 2 : memilih/membuat model LCC
 Tahap 3 : mengaplikasikan model LCC
 Tahap 4 : mencatat dan meninjau hasil LCC
 Tahap 5 : persiapan analisis Life Cost

19
 Tahap 6 : implementasi dan pengawasan analisis Life Cost
Tahap 1: Perencanaan Analisis LCC
Perencanaan tersebut harus:
 Menjabarkan tujuan analisis
 Mendeskripsikan cakupan analisis
 Mengidentifikasi kondisi-kondisi, asumsi, batasan, dan kendala-kendala
lainnya
 Mengidentifikasi metode alternatif yang perlu dievaluasi
 Menyediakan estimasi sumber daya yang diperlukan dan jadwal pelaporan
analisis untuk memastikan hasil LCC dapat membantu proses pembuatan
keputusan yang dibutuhkan
Perencanaan tersebut harus dicatat pada awal proses Life Cycle Costing agar
pekerjaan selanjutnya menjadi lebih terpusat.
Tahap 2: Memilih/Membuat Model LCC
Model LCC harus:
 Membuat atau mengadopsi Struktur Rincian Biaya (CBS) yang
mengidentifikasi seluruh biaya terkait selama fase Life Cycle
 Mengidentifikasi elemen biaya yang tidak memiliki dampak yang signifikan
terhadap LCC secara keseluruhan
 Memilih satu atau beberapa metode
 Menentukan data yang diperlukan untuk membuat estimasi tersebut, dan
mengidentifikasi sumber data tersebut
 Mengidentifikasi ketidakpastian lainnya yang berkaitan dengan estimasi
masing-masing elemen biaya
 Mengintegrasikan elemen biaya individu ke dalam Model LCC
 Meninjau kembali Model LCC untuk memastikan kelayakannya terhadap
tujuan analisis
 Model LCC meliputi seluruh asumsi yang harus dicatat untuk membantu fase
berikutnya dari proses analisis
Tahap 3: Mengaplikasikan Model LCC
Langkah-langkah pengaplikasian Model LCC:
 Mengumpulkan data membuat estimasi biaya
 Mengesahkan Model LCC

20
 Mendapatkan hasil Model LCC
 Mengidentifikasi sumber-sumber biaya
 Mengukur selisih-selisih lainnya
 Menggolongkan dan menyimpulkan hasil Model LCC
 Melakukan analisis sensitivitas untuk memeriksa pengaruh dari variasi
asumsi dan ketidakpastian elemen biaya pada hasil Model LCC
 Meninjau kembali hasil keluaran LCC terhadap tujuan analisis
 Analisis LCC harus dicatat untuk memastikan bahwa hasilnya dapat
diverifikasi dan siap diduplikasi oleh analis lain yang memerlukan
Tahap 4: Mencatat dan Meninjau Hasil LCC
Hasil dari analisis LCC harus didokumentasikan agar dapat dipahami dengan
mudah oleh penggunanya. Laporan tersebut harus mangandung:
 Ringkasan Pelaksanaan: laporan singkat tentang tujuan, hasil, kesimpulan,
dan rekomendasi dari analisis
 Maksud dan Ruang Lingkup
 Deskripsi Model LCC: ringkasan tentang Model LCC
 Pengaplikasian Model LCC
 Pembahasan
 Kesimpulan dan Rekomendasi
Tahap 5: Persiapan Analisis Life Cost
Persiapan analisis Life Cost melibatkan peninjauan dan pengembangan Model
LCC sebagai mekanisme control biaya yang “sesungguhnya”. Hal ini
memerlukan perubahan basis pembiayaan dari diskonto menjadi nominal.
Estimasi biaya modal akan diganti dengan nilai yang sebenarnya. Perubahan
tersebut memerlukan struktur rincian biaya dan elemen biaya yang
mencerminkan komponen aset yang diamati dan tingkat ketelitian yang
dibutuhkan.
Tahap 6: Implementasi dan Pengawasan Analisis Life Cost
Implementasi dari analisis Life Cost melibatkan pengawasan yang
berkesinambungan terhadap performa aktual dari aset selama pengoperasian
dan pemeliharaannya untuk mengidentifikasi area yang dapat dimungkinkan
untuk melakukan penghematan biaya dan memberikan pengaruh timbal balik
untuk kegiatan perencanaan Life Cost di masa yang akan datang.

21
2. Rumah Tangga dengan cara penggunaan lampu penerang hemat energi dan tahan
lama (LED), menanam tanaman berguna seperti toga, cabe, binahong, bumbu
dapur, dll)
3. Masyarakat dengan cara menggunakan transportasi ramah lingkungan (sepeda,
becak atau jalan kaki), 3R (Reuse, Recycle, Reduce), peduli akan kelestarian alam.
2.10 Analisis Ekonomi
Selain menggunakan metode konservasi energy, untuk projek-projek keenergian
terdapat beberapa metode analisis ekonomi dapat digunakan, yaitu :
1 Simple Payback (SPB).
Metode ini merupakan metode paling sederhana. SPB mengukur berapa lama
waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi awal dalam ukuran
penghematan biaya. Misalnya, investasi $1,000 yang mampu menghemat $200 per
tahun. SPB dapat dihitung dengan cara $1,000/($200/tahun) = 5 tahun. Walaupun
banyak digunakan untuk mendukung keputusan, SPB tidak mampu
mempertimbangkan nilai waktu dari uang dan tidak mampu mempertimbangkan
dengan tepat dampak pada laju kas (cash flows).
2 Discounted Payback (DPB).
Masalah nilai waktu dari uang dapat diatasi dengan cara discounting laju kas masa
depan terhadap nilai saat ini (present value) dengan mempertimbangkan periode
DPB, atau panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk cumulative present value dari
penghematan untuk membayar biaya investasi.
3 Return on Investment (ROI).
Terkadang dinamakan simple rate of return atau investor‟s rate of return. ROI
merupakan is the resiprok dari SPB yang dinyatakan dalam bentuk persentase. ROI
menyatakan persentase biaya investasi yang akan dikembalikan setiap tahun
dengan penghematan. Sehingga, mengacu pada contoh sebelumnya, ROI =
$200/$1,000 = 0.2 = 20%.
4 Internal Rate of Return (IRR).
Metode ini menghitung discount rate yang membuat present value dari biaya sama
dengan present value dari pendapatan (atau tabungan). Sebuah projek bernilai
berdasarkan pengukuran ini jika IRR lebih besar disbanding laju bunga bila uang
dipinjam untuk mendanai projek, atau lebih besar dari laju bunga yang dapat
diperoleh dari peluang investasi alternatif, dimana kedua laju lebih besar.

22
5 Net Present Value (NPV).
Metode ini juga menggunakan discounting. NPV diperoleh dengan discounting
biaya dan pendapatan (atau tabungan) pada laju bunga tertentu, lalu dikurangi
dengan present value dari aliran biaya dari present value aliran pendapatan (atau
tabungan). Sebuah projek bernilai berdasarkan perhitungan ini jika NPV positif.
6 Savings-to-Investment Ratio (SIR).
Metode ini menghitung keuntungan terhadap rasio biaya present value tabungan
selama periode studi (mengacu pada umur projek) terhadap present value biaya
terkait investasi. SIR sangat berguna dan merupakan cara yang handal untuk
menentukan peringkat projek independen untuk tujuan pengalokasian modal
investasi yang terbatas. Ketika dihadapkan dengan banyak projek penghematan
biaya/energi, dipilih yang mana yang paling costeffective. Tapi bila memiliki dana
terbatas, penentuan peringkat dengan SIR tertinggi hingga terendah akan
memastikan pengembalian modal investasi terbaik.
2.11 Contoh Penerapan dan Penghematan Energi Dalam Industri
1. Peninjauan ulang sistem teknis dan perbaikan arsitektur bangunan.
Kebanyakan gedung-gedung besar menggunakan alat pendingin (AC) yang
merupakan beban listrik paling besar. Salah satu beban pendinginan yang besar
adalah sinar matahari yang langsung masuk ke dalam ruang, terutama antara jam
10 pagi sampai jam 15. Dengan memasang penghalang sinar matahari pada sisi
timur dan barat di luar gedung pada sudut jam 10 dan jam 14, akan bisa sangat
mengurangi secara drastis beban pendinginan. Dengan mengurangi alat pendingin
maka beban listrik yang dikonsumsi akan berkurang. Selain itu Perambatan panas
matahari melalui dinding dapat dikurangi dengan menambah isolator panas.
Isolator panas yang cukup baik adalah udara. Udara dingin yang keluar atau udara
panas yang masuk sama-sama memboroskan energi. Dengan melakukan
peninjauan ke lapangan, ke setiap ruang, selalu akan dapat diperoleh beberapa
lubang kebocoran udara dingin dengan udara panas yang harus segera ditutup.
2. Perbaikan prosedur operasionil secara manual.
Beberapa prosedur operasional yang dapat dengan mudah dilaksanakan antara lain:
mewajibkan kepada para pemakai gedung untuk selalu mematikan lampu atau AC
jika sedang tidak ada orang, mematikan lampu yang dekat jendela kaca pada siang
hari, tidak menyalakan pompa pada jam 18-23 karena harga listrik lebih mahal,
selalu menutup pintu dan jendela yang memisahkan ruang berAC dengan yang

23
tidak, selalu memeriksa lampu jalan dan lampu taman yang sering lupa untuk
dimatikan pada siang hari. Prosedur operasional yang tampaknya sederhana ini
ternyata dalam pelaksanaannya tidaklah semudah seperti yang dikatakan.
Diperlukan petunjuk, teguran, pengawasan yang terus menerus dan melibatkan
banyak orang, sampai menjadi suatu kebiasaan atau budaya hemat listrik.
3. Perbaikan prosedur operasionil secara otomatis.
Cara seperti no 2 di atas masih mudah dan bisa dilaksanakan untuk gedung pendek
atau pabrik kecil, dan akan menjadi sulit dilaksanakan untuk gedung 25 lantai atau
pabrik lebih besar dari 5000m2. Untuk mengatasi kesulitan ini, telah tersedia
banyak jenis sensor dan actuator untuk berbagai keperluan. Sensor level cahaya,
sensor pintu sedang terbuka/tertutup, sensor keberadaan seseorang di dalam
ruangan, pengatur waktu otomatis, dan lain sebagainya bisa dirangkai dan
dikombinasikan untuk mencapai tujuan penghematan listrik. Konfigrasi jaringan
sensor juga bisa direncanakan dengan seksama. Bahkan sekarang juga telah
tersedia teknologi addressable sensor, actuator dan monitor. Setiap unit bisa diberi
address, dan hubungan antar unit cukup dilihat sebagai antar address. Selama
addressnya sama, dimanapun berada, selalu bisa saling berhubungan. Semua
koneksi komunikasi dilakukan secara paralel dengan cukup menggunakan 2 kabel
telepon biasa. Jika Ruang Rapat tersebut kosong dalam waktu 10 menit, maka
semua yang berhubungan dengan address yang sama akan mati semua. Petugas
jaga di ruang monitor mempunyai kuasa untuk mematikan semua yang
berhubungan dengan adress tersebut. Semua dilakukan dengan cara yang sangat
sederhana. Salah satu kelemahan sistem otomatisasi terletak pada SDM yang sering
gaptek (gagap teknologi) program komputer, baik pada sisi operator maupun
manajemen.
4. Pemasangan alat penghemat listrik di seluruh instalasi.
Pada prinsipnya kebanyakan beban (peralatan yang memakai listrik), selalu bisa
dihemat listriknya walau sedikit. Di sini diperlukan kejelian dan keahlian untuk
menentukan memilih jenis beban dan alat yang sesuai untuk penghematan. Beban
lampu pijar, lampu neon, pemanas, unit AC, motor, dan lain-lain, semuanya
mempunyai alat penghemat yang spesifik/unik berdasarkan kinerja beban, schedul
pemakaian beban. Dalam persoalan ini, yang lebih penting adalah multiplier effect
dari penghematan yang kecil-kecil ini, yang sudah terbiasa dengan penghematan
secara parsial. Berapa tingkat penghematan total yang bisa diperoleh untuk suatu

24
instalasi, hanya bisa diestimasi berdasarkan statistik dari banyak program/ proyek
yang pernah dilakukan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang penghematan
energi listrik mempunyai rahasia angka yang tidak bisa dibuka terhadap clientnya.
Perusahaan Kontraktor Penghemat Biaya Listrik melakukan audit energi yang
biasa dipakai, mencari peluang kemungkinan di mana saja bisa dilakukan
penghematan, menghitung/estimasi besar penghematan, menjamin besar
penghematan dalam persen, menghitung waktu pengembalian modal (payback
period). Dengan cara ini, tingkat penghematan yang bisa dicapai antara 5-20%.
5. Perbaikan kwalitas daya listrik.
Untuk mengoptimalkan energi listrik diantaranya dengan meningkatkan faktor
daya atau disebut perbaikan faktor daya. Faktor daya yang buruk mengakibatkan
konsumsi daya reaktif yang sangat besar. Pada industri, penggunaan daya reaktif
ini akan dikenakan biaya jika faktor dayanya dibawah 0,85 sesuai standar yang
telah ditetapkan PT. PLN (persero). Penggunaan beban-beban reaktif dalam suatu
sistem tenaga listrik akan mengakibatkan menurunnya faktor daya (cos Untuk
mengurangi bahkan menghilangkan biaya pemakaian kVAR tersebut dapat
dilakukan melalui perbaikan faktor daya dengan pemasangan kapasitor dengan
mengkompensasi beban-beban induktif. Kapasitor ini akan berfungsi sebagai
sumber daya reaktif sehingga beban tidak lagi menyerap daya reaktif dari PLN.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Energi merupakan salah satu faktor penting dalam operasional sebuah industri,
perusahaan, maupun instansi lain, karena memiliki tingkat ketergantungan tinggi
terhadap kebutuhan energi untuk operasional usahanya. Energi juga mempunyai
peranan yang sangat penting dalam perekonomian, baik sebagai bahan bakar,bahan
baku, maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan adanya energi yang terdapat di bumi
ini manusia dapat mengolah dan memanfaatkanya untuk proses kehidupan seperti alat
transportasi, untuk rumah tangga maupun untuk sebuah industri. guna melestarikan
sumber daya energi serta untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatannya maka harus
ada konservasi energi, Tujuan konservasi energi sendiri ialah untuk memelihara
kelestarian sumber daya alam yang berupa sumber energi melalui kebijakan pemilihan
teknologi dan pemanfaatan energi secara efisien, rasional, untuk mewujudkan
kemampuan penyediaan energi. Berbagai metode yang terdapat dalam konservasi
energy ini yaitu dengan cara manajemen energi, audit energi dan perhitungan life-cycle-
costing Analysis (LCCA), selain itu terdapat pula metode dari analisis ekonomi untuk
proyek penghematan energy yaitu: Discounted Payback (DPB). Simple Payback
(SPB),Return on Investment (ROI), Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value
(NPV),Savings-to-Investment Ratio (SIR).

26