Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

A. DEFINISI
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya
padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2010).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera
(Isaacs, 2010).
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik.
Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima
rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata lain klien
berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh
klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2011).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami
suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu
(Maramis, 2012).
Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien
merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun
tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin,
2012).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart,
2014).
Kesimpulannya bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca
indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang nyata.

B. PENYEBAB
Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik,
sterss berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial menarik diri
(Townsend, M.C, 2008). Menurut Carpetino, L.J (2008) isolasi sosial
merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau
merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan menurut
Rawlins, R.P dan Heacock, P.E (2009), isolasi sosial menarik diri merupakan
usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu
merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam
berpikir, berperasaan. Berprestasi, atau selalu dalam kegagalan.

Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukkan adanya perilaku


(Carpentino, L.J 2010) :

Data subjektif :

a. Mengungkapkan perasaan kesepian atau penolakan


b. Melaporkan dengan ketidaknyamanan konyak dengan situasi sosial
c. Mengungkapkan perasaan tak berguna
Data objektif :

a. Tidak tahan terhadap kontak yang lama


b. Tidak komunikatif
c. Kontak mata buruk
d. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri
e. Kurang aktivitas
f. Wajah tampak murung dan sedih
g. Kegagalan berinteraksi dengan orang lain

C. MANIFESTASI KLINIK
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang
menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini
menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan
mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan bibir tanpa bersuara, pergerakan mata cepat, respon verbal
yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal
dan eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi. Pemikiran
internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat
berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan
klien merasa tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya
dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari
orang lain.

Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti


peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan dengan realitas.
3. Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan
psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol,
menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya
terhadap halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian
hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat,
tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan
orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia
yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses
ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.
Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku
kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon
terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau
berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang oranglain, gelisah,
melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari
klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya ( apa yangdilihat, didengar
atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi:
1. Tahap I : halusinasi bersifat menyenangkan
Gejala klinis :
a. Menyeringai/ tertawa tidak sesuai
b. Menggerakkan bibir tanpa bicara
c. Gerakan mata cepat
d. Bicara lambat
e. Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
2. Tahap 2 : halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
a. Cemas
b. Konsentrasi menurun
c. Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
3. Tahap 3 : halusinasi yang bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
a. Cenderung mengikuti halusinasi
b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
c. Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
d. Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu
mengikuti petunjuk)
4. Tahap 4 : halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
a. Pasien mengikuti halusinasi
b. Tidak mampu mengendalikan diri
c. Tidak mampu mengikuti perintah nyata
d. Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

D. AKIBAT YANG DITIMBULKAN


Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori: halusinasi dapat
beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Resiko
mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1. Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati orang lain dengan ancaman
3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5. Mempunyai rencana untuk melukai

Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya


sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak
lingkungan (resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan). Hal ini
terjadi jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, dimana klien mengalami panic
dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar
kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi
ini klien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak
lingkungan. Tanda dan gejalanya adalah muka merah, pandangan tajam, otot
tegang, nada suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan
kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang

E. MACAM-MACAM HALUSINASI
1. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara
tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang
mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar
perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat
membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias
menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses
umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering
akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
4. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri,
pencernaan makan atau pembentukan urine
7. Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

F. FAKTOR PREDIPOSISI
1. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan
oleh penelitian-penelitian yang berikut:
a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang
lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal,
temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang
berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak
klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel,
atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan
kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang
dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau
tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
3. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

G. FAKTOR PRESIPITASI
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan
setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan
masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan
Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
1. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang
mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu
masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara
selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk
diinterpretasikan.
2. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap
stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menanggapi stressor.

H. PENATALAKSANAAN
1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dna ketakutan klien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan dilakukan secara
individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien disentuh
atau dipegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap
perawat masuk ke kamar atau mendekati klien, bicaralah dengan klien. Begitu
juga bila akan meninggalkannya hendaknya klien diberitahu. Klien diberitahu
tindakan yang akan dilakukan. Di ruangan itu hendaknya disediakan sarana
yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan
dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah
dan permainan.
2. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali klien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang diterimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang diberikan
betul ditelannya, serta reaksi obat yang diberikan.
3. Menggali permasalahan klien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah klien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta
membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat
melalui keterangan keluarga klien atau orang lain yang dekat dengan klien.
4. Memberi aktivitas pada klien
Klien diajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan klien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan
dengan orang lain. Klien diajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih
kegiatan yang sesuai.
5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga klien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
klien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalnya dari percakapan dengan klien diketahui bila sedang
sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang
lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan
agar klien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau
aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya diberitahukan pada keluarga
klien dan petugas lain agar tidak membiarkan klien sendirian dan saran yang
diberikan tidak bertentangan.
Farmakologi:
1. Anti psikotik:
a. Chlorpromazine (Promactile, Largactile)
b. Haloperidol (Haldol, Serenace, Lodomer)
c. Stelazine
d. Clozapine (Clozaril)
e. Risperidone (Risperdal)
2. Anti parkinson:
a. Trihexyphenidile
b. Arthan

I. POHON MASALAH

Pathway Halusinasi

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Data yang Perlu Dikaji
a. Alasan masuk RS
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga
merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain,
gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit
untuk mendapatkan perawatan.
b. Faktor prediposisi
1) Faktor perkembangan terlambat
 Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa
aman.
 Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
 Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
 Komunikasi peran ganda
 Tidak ada komunikasi
 Tidak ada kehangatan
 Komunikasi dengan emosi berlebihan
 Komunikasi tertutup
 Orangtu yang membandingkan anak-anaknya, orangtua yang otoritas
dan konflik dalam keluarga
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri,
ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran,
gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran
vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui
kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang
menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap
penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam,
dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar
identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika
salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya
sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami
skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua
orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
c. Faktor presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1) Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
penerimaan abnormal).
3) Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan
tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya.

Pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif adalah kesehatan,


lingkungan dan perilaku.
1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama
sikardian, kelelahan dan infeksi, obat-obatan sistem syaraf
pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam
rumah tangga, kehilangan kebebasab hidup dalam
melaksanakan pola aktivitas sehari-hari, sukar dala,
berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya
dukungan sosialm tekanan kerja, dan ketidakmampuan
mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa
punya kekuatan berlebihan, merasa malang, rendahnya
kemampuan sosialisasi, ketidakadekuatan pengobatan dan
penanganan gejala.
4) Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa
curiga, ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku
merusak, kurang perhatian, tidak mampu mengambil
keputusan, bicara sendiri. Perilaku klien yang mengalami
halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila
perawat mengidentifikasi adannya tanda-tanda dan perilaku
halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak
hanya sekedar mengetahui jenis halusinasinya saja. Validasi
informasi tentang halusinasi yang iperlukan meliputi :
 Isi halusinasi
Tanyakan suara siapa yang didengar, apa yang
dikatakan.
 Waktu dan frekuensi
Kapan pengalaman halusianasi munculm berapa kali
sehari.
 Situasi pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami
sebelum halusinasi muncul. Perawat bisa
mengobservasi apa yang dialami klien menjelang
munculnya halusinasi untuk memvalidasi pertanyaan
klien.
 Respon klien
Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien.
Bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat
mengalami pengalamana halusinasi. Apakah klien bisa
mengontrol stimulus halusinasinya atau sebaliknya.
d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan
tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan
klien.
1) Status mental
 Penampilan : tidak rapi, tidak serasi
 Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
 Aktivitas motorik : meningkat/menurun
 Afek : sesuai/maladaprif
 Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang
ada sesuai dengan nformasi
 Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi
dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir
 Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis
 Tingkat kesadaran
 Kemampuan konsentrasi dan berhitung
2) Mekanisme koping
 Regresi : malas beraktifitas sehari-hari
 Proyeksi : perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggungjawab kepada oranglain.
 Menarik diri : mempeecayai oranglain dan asyik dengan
stimulus internal
3) Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan ekonomi,
pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman.

2. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


a. Resiko Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
b. Gangguan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan isolasi sosial.

RENCANA TINDAKAN

DIAGNOSA
KEPERAW TUJUAN INTERVENSI
ATAN
Resiko TUM: Selama Tindakan Psikoterapi
perilaku perawatan diruangan, a. Pasien
kekerasan pasien tidak  BHSP
memperlihatkan  Ajarakan SP I:

perilaku kekerasan, o Diskusikan penyebab, tanda dan gejala, bentuk

dengan criteria dan akibat PK yang dilakukan pasien serta akibat

hasil (TUK): PK

 Dapat membina o Latih pasien mencegah PK dengan cara: fisik

hubungan saling (tarik nafas dalam & memeukul bantal)

percaya o Masukkan dalam jadwal harian

 Dapat  Ajarkan SP II:

mengidentifikasi o Diskusikan jadwal harian

penyebab, tanda dan o Latih pasien mengntrol PK dengan cara sosial

gejala, bentuk dan o Latih pasien cara menolak dan meminta yang

akibat PK yang asertif

sering dilakukan o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian

 Dapat  Ajarkan SP III:


mendemonstrasikan o Diskusikan jadwal harian
cara mengontrol PK o Latih cara spiritual untuk mencegah PK
dengan cara : o Masukkan dalam jadawal kegiatan harian
o Fisik  Ajarkan SP IV
o Social dan verbal o Diskusikan jadwal harian
o Spiritual o Diskusikan tentang manfaat obat dan kerugian
o Minum obat teratur jika tidak minum obat secara teratur
 Dapat o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian
menyebutkan dan  Bantu pasien mempraktekan cara yang telah
mendemonstrasikan diajarkan
cara mencegah PK  Anjurkan pasien untuk memilih cara mengontrol PK

yang sesuai yang sesuai


 Masukkan cara mengontrol PK yang telah dipilih
 Dapat memelih
dalam kegiatan harian
cara mengontrol PK  Validasi pelaksanaan jadwal kegiatan pasien dirumah
yang efektif dan sakit
sesuai b. Keluarga
 Dapat melakukan  Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
cara yang sudah merawat pasien PK
dipilih untuk  Jelaskan pengertian tanda dan gejala PK yang
mengontrl PK dialami pasien serta proses terjadinya
 Jelaskan dan latih cara-cara merawat pasien PK
 Memasukan cara
 Latih keluarga melakukan cara merawat pasien PK
yang sudah dipilih
secara langsung
dalam kegitan harian  Discharge planning : jadwal aktivitas dan minum
 Mendapat obat
dukungan dariTindakan psikofarmakologi
keluarga untuk  Berikan obat-obatan sesuai program pasien
mengontrol PK  Memantau kefektifan dan efek samping obat yang
 Dapat terlibat diminum
 Mengukur vital sign secara periodic
dalam kegiatan
Tindakan manipulasi lingkungan
diruangan
 Singkirkan semua benda yang berbahaya dari pasien
 Temani pasien selama dalam kondisi kegelisahan
dan ketegangan mulai meningkat
 Lakaukan pemebtasan mekanik/fisik dengan
melakukan pengikatan/restrain atau masukkan ruang
isolasi bila perlu
 Libatkan pasien dalam TAK konservasi energi,
stimulasi persepsi dan realita

Gangguan Setelah dilakukanTINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK


persepsi tindakan keperawatanKlien
sensori: selama 3 x 24 jamo Bina hubungan saling percaya
halusinasi klien mampuo Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
mengontrol o Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya
halusinasi dengano Tanyakan keluhan yang dirasakan klien
kriteria hasil: o Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang
 Klien dapatadanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien
membina hubungantentang halusinasinya meliputi :
saling percaya SP I
 Klien dapat  Identifikasi jenis halusinasi Klien
mengenal  Identifikasi isi halusinasi Klien
 Identifikasi waktu halusinasi Klien
halusinasinya; jenis,  Identifikasi frekuensi halusinasi Klien
isi, waktu, dan  Identifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
 Identifikasi respons Klien terhadap halusinasi
frekuensi halusinasi,
 Ajarkan Klien menghardik halusinasi
respon terhadap  Anjurkan Klien memasukkan cara menghardik
halusinasi, dan halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
tindakan yg sudahSP II
dilakukan  Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
 Klien  Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan cara

dapat menyebutkan bercakap-cakap dengan orang lain


 Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan
dan mempraktekan
harian
cara mengntrol
SP III
halusinasi yaitu
 Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
dengan menghardik,  Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan
bercakap-cakap melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan
dengan orang lain, Klien di rumah)
terlibat/ melakukan  Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan
kegiatan, dan minum harian
obat SP IV
 Klien dapat  Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
dukungan keluarga  Berikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan
dalam mengontrol obat secara teratur
halusinasinya  Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan

 Klien harian
 Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan
dapat minum obat
benar.
dengan bantuan
o Menganjurkan Klien mendemonstrasikan cara
minimal
control yang sudah diajarkan
 Mengungkapkan
o Menganjurkan Klien memilih salah satu cara
halusinasi sudah
control halusinasi yang sesuai
hilang atau terkontrol
Keluarga
o Diskusikan masalah yang dirasakn keluarga dalam
merawat Klien
o Jelaskan pengertian tanda dan gejala, dan jenis halusinasi
yang dialami Klien serta proses terjadinya
o Jelaskan dan latih cara-cara merawat Klien halusinasi
o Latih keluarga melakukan cara merawat Klien halusinasi
secara langsung
o Discharge planning : jadwal aktivitas dan minum obat

TINDAKAN PSIKOFARMAKO
 Berikan obat-obatan sesuai program Klien
 Memantau kefektifan dan efek samping obat yang
diminum
 Mengukur vital sign secara periodic

TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN


 Libatkan Klien dalam kegiatan di ruangan
 Libatkan Klien dalam TAK halusinasi

Isolasi Sosial Setelah dilakukanTINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK


tindakan keperawatanKlien
selama 3 x 24 SP 1
jam Klien dapato Bina hubungan saling percaya
berinteraksi dengano Identifikasi penyebab isolasi sosial
orang lain baik secaraSP 2
individu maupuno Diskusikan bersama Klien keuntungan berinteraksi
secara berkelompok dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan
dengan kriteria hasil : orang lain
 Klien dapato Ajarkan kepada Klien cara berkenalan dengan satu orang
membina hubungano Anjurkan kepada Klien untuk memasukan kegiatan
saling percaya. berkenalan dengan orang lain dalam jadwal kegiatan
 Dapat harian dirumah
menyebutkan SP 3
penyebab isolasi o Evaluasi pelaksanaan dari jadwal kegiatan harian Klien
sosial. o Beri kesempatan pada Klien mempraktekan cara
 Dapat berkenalan dengan dua orang
menyebutkan o Ajarkan Klien berbincang-bincang dengan dua orang
keuntungan tetang topik tertentu
berhubungan dengan o Anjurkan kepada Klien untuk memasukan kegiatan
orang lain. berbincang-bincang dengan orang lain
 Dapat dalam jadwal kegiatan harian dirumah
menyebutkan
kerugian tidakSP 4
berhubungan dengano Evaluasi pelaksanaan dari jadwal kegiatan harian Klien
orang lain. o Jelaskan tentang obat yang diberikan (Jenis, dosis, waktu,
 Dapat berkenalan manfaat dan efek samping obat)
dan bercakap-cakapo Anjurkan Klien memasukan kegiatan
dengan orang lain bersosialisasi dalam jadwal kegiatan harian dirumah
secara bertahap. o Anjurkan Klien untuk bersosialisasi dengan orang lain
 Terlibat dalam
aktivitas sehari-hari Keluraga
o Diskusikan masalah yang dirasakan kelura dalam
merawat Klien
o Jelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang
dialami Klien dan proses terjadinya
o Jelaskan dan latih keluarga cara-cara merawat Klien
TINDAKAN PSIKOFARMAKA
 Beri obat-obatan sesuai program
 Pantau keefektifan dan efek sampig obat yang
diminum
 Ukur vital sign secara periodik

TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN


 Libatkan dalam makan bersama
 Perlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan
kontak singkat tapi sering
 Berikan reinforcement positif setiap Klien berhasil
melakukan suatu tindakan
 Orientasikan Klien pada waktu, tempat, dan orang
sesuai kebutuhannya

Defisit Setelah dilakukanTINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK


perawatan tindakan keperawatanPasien
diri selama 3 x hari, klieno Menjelaskan pentingnya kebersihan dan kerapian diri
dapat mandirio Mendiskusikan ciri-ciri badan bersih dan rapi
melakukan perawatano Menjelaskan manfaat bsdsn bersih dan rapi dan kerugian
diri dengan kriteria: jika jika badan tidak bersih dan tidak rapi
 Dapat menjelaskano Mengajarkan cara menjaga kebersihan dan kerapian diri
pentingnya o Memberikan kesempatan pada pasien untuk
kebersihan danmendemonstrasikan cara menjaga kebersihan dan kerapian
kerapian diri
 Menyebutkan ciri-o Menganjurkan pasien memasukan cara menjaga
ciri badan yang bersihkebersihan dan kerapian kedalam jadwal kegiatan harian
dan rapi
 Dapat Keluarga
menyebutkan manfaato Mendiskusikan kesulitan yang dirasakan keluarga dalam
badan bersih dan rapi merawat pasien dengan masalah deficit perawatan diri
 Dapat o Menjelaskan ciri-ciri pasien yang mengalami masalah
menyebutkan deficit perawatan diri dan jenis deficit perawatan diri yang
kerugian badan badansering dialami oleh pasien dan proses terjadinya
yang tidak bersih dano Menjelaskan cara –cara merawat pasien deficit perawatan
tidak rapi diri
 Dapat o Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien
mempraktikan caradengan deficit perawatan diri
melakukan carao Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas perawatan
perawatan diridiri bagi pasien dirumah termasuk minum obat (discharge
dengan benar planning)
 Badan bersih dan
rapi TINDAKAN PSIKOFARMAKO
 Badan tidak bau  Memberikan obat-obatan sesuai program pengobatan
 Dapat melakukan pasien
aktifitas perawatan  Memantau keefektifan dan efeksamping obat yang

diri secara mandiri diminum


 Mengukur vital sign secara periodic (tekanan darah,
nadi dan pernafasan)

TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN


 Mendukung pasien untuk melakukan perawatan diri
sesuai kemampuan dengan menyediakan alat-alat
untuk perawatan diri
 Memberikan pengakuan atau penghargaan yang
positif untuk kemampuannya melakukan perawatan
diri
 Jadwalkan pasien melakukan defekasi dan berkemih,
jika pasien mengotori dirinya
DAFTAR PUSTAKA

Boyd, M.A & Nihart, M.A, 2008. Psychiatric Nuersing cotemporary Practice, Edisi 9th.
Philadelphis: Lippincott Raven Publisrs,.

Carpenito, L.J, 2009. Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan). Edisi 8, Jakarta:
EGC.

Keliat, B.A. 2009. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Kusuma, W.2010. Dari A sampai Z Kedaruratan Psiciatric dalam Praktek, Edisi I.


Jakarta: Profesional Books.

Maramis, W.f. 2012. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. 9 Surabaya: Airlangga
University Press.

Rasmun. 2011. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatrik Terintegrasi Dengan Keluarga,


Edisi I. Jakarta: CV. Sagung Seto.

Rawlins, R.P & Heacock, PE. 2008. Clinical Manual of Pdyshiatruc Nursing, Edisi 1.
Toronto: the C.V Mosby Company.

Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2011. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan). Edisi 3,
EGC, Jakarta.

Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan). Jakarta:
EGC.

Townsend, M.C.2010. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri


(terjemahan), Edisi 3. Jakarta: EGC.