Anda di halaman 1dari 73

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya Buku Panduan
Praktikum Analisa Tekanan ini sesuai dengan rencana.
Buku ini dimaksudkan untuk memenuhi sarana bagi terselenggaranya Praktikum Analisa
Tekanan untuk mahasiswa Jurusan Teknik Perminyakan, UPN “Veteran” Yogyakarta. Sasaran
akhir dari praktikum ini adalah diharapkan mahasiswa dapat memahami, mengerti dan dapat
mengevaluasi parameter-parameter reservoir dari hasil Analisa uji sumur serta dapat
mengaplikasikannya.
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu
tersusunnya buku petunjuk praktikum ini. Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak. Semoga!!!

Kepala Laboratorium Analisa Tekanan

Ir. Bambang Bintarto, MT


NIP. 19610121 199403 1 001

2
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................... 1


KATA PENGANTAR ................................................................................................................ 2
DAFTAR ISI.................................................................................................... ........................... 3
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 4
BAB II PERSIAPAN DATA .................................................................................................. 8
2.1. Tujuan ....................................................................................................................... 8
2.2. Persiapan Data dalam Analisa Well test suatu Sumur Minyak & Gas 8
BAB III ANALISA PRESSURE DRAW DOWN TESTING ............................................... 20
3.1. Tujuan Analisa ....................................................................................................... 20
3.2. Konsep Dasar.......................................................................................................... 20
3.3. Prosedur Analisa ................................................................................................... 24
BAB IV ANALISA PRESSURE BUILD UP TESTING ........................................................ 28
4.1. Tujuan Analisa ....................................................................................................... 28
4.2. Konsep Dasar PBU ................................................................................................ 28
4.3. Prosedur Analisa ................................................................................................... 39
BAB V ANALISA TEKANAN SUMUR GAS ...................................................................... 41
5.1. Tujuan Analisa ....................................................................................................... 41
5.2. Konsep Dasar.......................................................................................................... 41
5.3. Prosedur Analisa ................................................................................................... 52
LAMPIRAN .............................................................................................................................. 54

3
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Well Testing


Well test merupakan hal penting untuk menentukan karakterisasi dan kemampuan
produksi reservoir dan sumur migas; yang merupakan faktor penentu bagi produktivitas sumur,
kerusakan (damage), bidang kedap aliran atau patahan, fractured conductivity, interflow porosity
parameter pada naturally fracture reservoir (Production Well Test and Pressure Analysis. Doddy
Abdasah. 2009). Dengan kata lain, well testing adalah salah satu sarana untuk karakterisasi
reservoir.
Pada dasarnya prinsip dari pengujian sumur ini yaitu:
• Memberikan suatu gangguan kesetimbangan tekanan terhadap sumur yang diuji.
Apabila yang pengukuran tekanan dalam sumur dilakukan selama periode
penutupan sumur maka disebut Pressure Build-Up test. Apabila pengukuran
tekanan dilakukan dengan penutupan sumur selama periode tertentu kemudian
sumur dibuka dan perubahan tekanan dicatat selama periode pengaliran dengan
rate konstan maka test yang dilakukan disebut pressure drawdown test. Apabila
pengukuran tekanan dilakukan selama periode produksi maka tes yang dilakukan
disebut rate test.
• Dengan adanya gangguan tekanan ini, maka impuls perubahan tekanan (impuls
pressure transient; perubahan tekanan terhadap waktu yang ekuivalen terhadap
jarak) akan disebarkan ke seluruh reservoir.
• Kemudian perubahan tekanan ini diamati setiap saat dengan mencatat tekanan
lubang sumur selama pengujian berlangsung.

4
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 1.1.
Ilustrasi Impuls Transient
(Laboratorium Analisa Tekanan 2018)

1.1.1. Drill Stem Test


DST mula-mula diperkenalkan pada tahun 1926 oleh Halliburton untuk memastikan
apakah suatu formasi produktif atau tidak. DST dapat dilakukan pada sumur-sumur yang sedang
dibor maupun pada sumur pengembangan.
Umumnya prosedur DST meliputi suatu periode aliran mula-mula yang pendek (the initial
flow period), suatu periode penutupan yang pendek (the initial build up), suatu periode aliran
kedua yang panjang (the final build up). Jika test DST ini hanya dilakukan satu periode pengaliran
dan satu periode penutupan, cara ini disebut sebagai “satu cycle” dan apabila tes ini meliputi dua
periode pengaliran dan penutupan, cara ini disebut sebagai “dua cycle”.

1.1.2. Pressure Test


Prinsipnya adalah mengukur perubahan tekanan terhadap waktu selama periode
penutupan atau pada periode pengaliran. Penutupan sumur dimaksudkan untuk mendapatkan
keseimbangan tekanan di seluruh reservoir, periode pengaliran dilakukan sebelum atau sesudah
periode penutupan dengan laju konstan.
Parameter yang diukur adalah tekanan statik (Pws), tekanan aliran dasar sumur (pwf),
tekanan awal reservoir (Pi), skin factor (S), permeabilitas rata-rata (k), volume pengurasan (Vd)
dan radius pengurasan (re). Sedangkan metoda pressure test yang umum ada dua macam, yaitu:
Pressure Build-Up dan Pressure Draw Down.

5
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 1.2.
Contoh Tipikal Kurva Drill Stem Test
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

1.2. Tujuan dan Fungsi Well Testing


Tujuan utama dari suatu pengujian sumur minyak dan gas adalah untuk menentukan
kemampuan suatu formasi untuk berproduksi. Tekanan merupakan data yang sangat bermanfaat
dan berharga di dalam reservoir engineering. Secara langsung atau tidak langsung, tekanan masuk
ke semua tahap perhitungan reservoir engineering. Oleh karena itu, penentuan yang akurat
terhadap parameter-parameter reservoir adalah hal sangat penting.
Apabila pengujian sumur direncanakan secara baik dan kemudian hasilnya dianalisa
secara baik pula maka banyak sekali informasi yang sangat berharga dapat diperoleh, seperti:
- Permeabilitas efektif
- Kerusakan atau perbaikan formasi disekitar lubang sumur (skin)
- Tekanan reservoir
- Batas suatu reservoir
- Bentuk radius pengurasan
- Heterogenitas Reservoir

Gambar 1.3.
Periodisasi Aliran
(IHS Well Test, 2015)

6
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Tabel 1.1
Flow Regime Categories
(IHS Well Test, 2015)

7
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
BAB II
PERSIAPAN DATA

Pencatatan data pengujian sumur dimulai saat alat pencatat tekanan dimasukkan
kedalam sumur selama alat tersebut di setting pada kedalaman tertentu sampai alat tersebut
ditarik keatas dan pengujian selesai.
Dengan demikian tidak semua data tekanan tersebut akan dianalisa, sehingga diperlukan
pemahaman segmen data yang akan dianalisa. Data yang dibutuhkan antara lain data teknik
(kedalaman sumur, ukuran casing, ukuran tubing, interval perforasi, status sumur, trajectory
sumur), data reservoir (tebal lapisan, porositas, viskositas dan factor volume formasi) dan data
test (test tekanan dan test laju alir).

2.1. Tujuan
a. Memahami dan mengerti data apa saja yang diperlukan untuk mendukung dalam
melakukan analysis data uji tekanan serta bagaimana mendapatkan data tersebut.
b. Mampu menentukan segmen data yang akan dianalysis untuk mengetahui fenomena
direservoir.

2.2. Persiapan Data dalam Analisa Well Test Suatu Sumur Minyak & Gas
2.2.1. Data Teknik
Data teknik merupakan data-data yang meliputi atau berkaitan dengan kondisi sumur.
Data teknik sumur, seperti:
• Kedalaman sumur
Kedalaman sumur (Depth) digunakan untuk perhitungan gradient tekanan, tekanan
hidrostatis guna mengkonversi tekanan hasil pengukuran ke kedalaman datum.
Kedalaman datum merupakan suatu kedalaman yang menjadi acuan atau kedalaman
refernsi yang mewakili sebuah reservoir.
• Ukuran Casing (ID, OD)
Ukuran casing digunakan untuk mengetahui rancangan / desain dari sumur yang akan
digunakan.
• Ukuran Tubing (ID, OD)
Ukuran tubing digunakan untuk perencanaan kegiatan produksi serta penentuan laju
alir dari grafik IPR.

8
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
• Interval Perforasi
Interval perforasi ditentukan untuk mencegah terjadinya coning dengan cara
memperforasi di bawah GOC dan diatas WOC.
• Status Sumur
Status sumur menunjukkan keadaan sumur dalam kondisi flowing atau tidak (no-flow).
Welltest juga dapat dilakukan pada sumur yang masih natural flow maupun yang sudah
diganti menjadi artificial lift.
• Trajectory Sumur
Trajectory sumur merupakan arah atau panduan kegiatan selama pemboran
berlangsung yang meliputi sumur tersebut.
Tabel 2.1
Contoh Data Status Sumur
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

2.2.2. Data Reservoir


2.2.2.1. Data Rock Properties
• Ketebalan lapisan (Net Oil Pay)
Ketebalan lapisan yang dipergunakan untuk melakukan analisa Uji sumur adalah
ketebalan pasir yang berisi minyak (Net oil pay).
• Porositas
Porositas ditentukan dengan data log pada interval yang dilakukan test (porositas
rata-rata).
• Kompresibilitas
Kompresibiltas total fluida dan formasi sebagai salah satu variable perhitungan.

9
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 2.1.
Contoh Gambar Desain Sumur
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

10
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Well Trajectory Report
Parit Minyak # 01 Survey 02 Survey Report
Report Date: July 11, 2006 Survey / DLS Computation Method: Minimum Curvature / Lubinski
Client: PT. Chevron Pacific Indonesia Vertical Section Azimuth: 257.090°
Field: EXPLORATION Vertical Section Origin: N 0.000 ft, E 0.000 ft
Structure / Slot: Century # 14 (Parit Minyak # 01) / Well 01 TVD Reference Datum: Rotary Table
Well: Parit Minyak #01 TVD Reference Elevation: 68.0 ft relative to MSL
Borehole: Original Sea Bed / Ground Level Elevation: 42.000 ft relative to MSL
UWI/API#: Magnetic Declination: 3.846°
Survey Name / Date: Parit Minyak # 01 Survey 02 / June 8, 2006 Total Field Strength: 38011.512 nT
Tort / AHD / DDI / ERD ratio: 33.145° / 497.20 ft / 4.218 / 0.047 Magnetic Dip: -12.567°
Grid Coordinate System: UTM Zone 47 - WGS84, Meters Declination Date: June 19, 2006
Location Lat/Long: N 1 37 45.892, E 143 26 14.755 Magnetic Declination Model: BGGM 2005
Location Grid N/E Y/X: N 255039.140 m, E 6000905.340 m North Reference: Grid North
Grid Convergence Angle: +1.58267186° Total Corr Mag North -> Grid North: +2.263°
Grid Scale Factor: 1.39697868 Local Coordinates Referenced To: Well Head

Measured Vertical
Comments Inclination Azimuth TVD NS EW DLS Northing Easting Latitude Longitude
Depth Section
( ft ) ( deg ) ( deg ) ( ft ) ( ft ) ( ft ) ( ft ) ( deg/100 ft ) (m) (m)
`` 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 255039.14 6000905.34 N 1 37 45.892 E 143 26 14.755
1991.79 0.35 116.33 1991.78 -4.71 -2.70 5.45 0.02 255037.99 6000907.66 N 1 37 45.864 E 143 26 14.810
2085.02 0.36 113.27 2085.01 -5.17 -2.94 5.98 0.02 255037.89 6000907.88 N 1 37 45.862 E 143 26 14.815
2177.45 0.15 195.87 2177.44 -5.34 -3.17 6.21 0.40 255037.79 6000907.98 N 1 37 45.859 E 143 26 14.818
2270.60 0.34 189.58 2270.58 -5.18 -3.56 6.13 0.21 255037.62 6000907.95 N 1 37 45.855 E 143 26 14.817

2362.43 0.67 225.51 2362.41 -4.62 -4.21 5.70 0.48 255037.35 6000907.77 N 1 37 45.849 E 143 26 14.812
2456.05 0.75 222.52 2456.02 -3.65 -5.04 4.90 0.09 255036.99 6000907.43 N 1 37 45.841 E 143 26 14.804
2550.28 0.81 215.88 2550.24 -2.64 -6.04 4.09 0.12 255036.57 6000907.08 N 1 37 45.832 E 143 26 14.795
2643.43 0.81 219.93 2643.39 -1.62 -7.07 3.28 0.06 255036.13 6000906.74 N 1 37 45.822 E 143 26 14.786
2737.27 0.98 215.76 2737.21 -0.49 -8.23 2.39 0.19 255035.63 6000906.36 N 1 37 45.811 E 143 26 14.777

2829.33 0.55 215.42 2829.27 0.43 -9.23 1.67 0.47 255035.21 6000906.05 N 1 37 45.801 E 143 26 14.769
2922.82 0.58 214.93 2922.75 1.12 -9.99 1.14 0.03 255034.89 6000905.83 N 1 37 45.794 E 143 26 14.764
3016.49 0.54 220.43 3016.42 1.82 -10.71 0.58 0.07 255034.58 6000905.59 N 1 37 45.787 E 143 26 14.758
3109.83 0.65 232.70 3109.75 2.66 -11.37 -0.12 0.18 255034.30 6000905.29 N 1 37 45.781 E 143 26 14.750
3203.42 0.66 239.40 3203.34 3.66 -11.96 -1.01 0.08 255034.05 6000904.91 N 1 37 45.775 E 143 26 14.741

3294.78 0.70 235.75 3294.69 4.68 -12.54 -1.92 0.06 255033.80 6000904.52 N 1 37 45.770 E 143 26 14.731
3386.68 0.63 238.22 3386.58 5.68 -13.13 -2.82 0.08 255033.55 6000904.14 N 1 37 45.765 E 143 26 14.722
3482.83 0.61 228.06 3482.73 6.63 -13.75 -3.65 0.12 255033.29 6000903.79 N 1 37 45.759 E 143 26 14.713
3579.00 0.56 222.17 3578.89 7.46 -14.44 -4.34 0.08 255032.99 6000903.49 N 1 37 45.752 E 143 26 14.706
3675.11 0.67 239.28 3675.00 8.38 -15.07 -5.14 0.22 255032.72 6000903.15 N 1 37 45.746 E 143 26 14.698

Gambar 2.2.
Contoh Trajectory Sumur
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

11
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 2.3.
Contoh Ketebalan Lapisan
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

Gambar 2.4.
Contoh Log untuk Penentuan Porositas
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

12
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
2.2.2.2. Data PVT
1. Data Komposisi Fluida
Tabel 2.2
Contoh Data Komposisi Minyak
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

Tabel 2.3
Contoh Data Komposisi Gas
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

13
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
2. Korelasi dalam Menentukan Sifat Fisik Fluida
• Faktor Deviasi Gas (z)
Salah satu korelasi yang digunakan dalam perhitungan faktor deviasi gas (Z), yaitu korelasi
Standing dan Katz.
z = A+ (1-A) EXP (-B) + (C×Ppr)D ....................................................................................................... (2-1)
Keterangan: Tpc = 170.491 + (307.344 γg) dan Tpr = (T/Tpc)
Ppc = 709.604 – (58.718 γg) dan Ppr = (P/Ppc)
γg = Specific Gravity gas
A = 1.39 (Tpr – 0.92)0.5 – 0.36 Tpr – 0.101
0.066 0.32
B = (0.62–0.23Tpr)Ppr+( − 0.037) 𝑃𝑝𝑟 2 + ( ) 𝑃𝑝𝑟 6
𝑇𝑝𝑟−0.86 109(𝑇𝑝𝑟−1)

C = 0.132 – 0.32 Log(Tpr)


D = 10F
F = 0,3106 - (0,49×Tpr) + (0,1824×Tpr2)

• Kompresibilitas Gas (Cg)


𝟏 𝟏 𝐝𝐳
𝑪𝒈 = − − ........................................................................................................................................... (2-2)
𝒑 𝒛 𝒅𝒑

• Viskositas Gas (µg)


Untuk natural gas, secara umum menggunakan korelasi Carr, Kobayasi dan Burrows yaitu:
µ = 𝒇(𝑴, 𝑻) .................................................................................................................................................. (2-3)
µ
= 𝒇 (𝒑𝒓𝒔 𝑻𝒓 ) ............................................................................................................................................ (2-4)
µ𝟏

Keterangan: µ1 = Low pressure or dilute-gas viscosity


µ = Gas viscosity at high pressure

Sebuah analisa natural gas dipresentasikan oleh Lee, Gonzales dan Eakin. Metode mereka
tidak menyertakan korelasi untuk impuritis dan nilai yang diperoleh akan benar untuk gas
murni. Persamaan empiris mereka untuk viskositas adalah:
µ𝐠 = 𝑲 × 𝟏𝟎−𝟒 𝐞𝐱𝐩(𝑿𝝆𝒈 𝒚 ) ................................................................................................................ (2-5)
(𝟗.𝟒+𝟎.𝟎𝟐𝐌)𝑻𝟏.𝟓
Keterangan: 𝑲 =
𝟐𝟎𝟗+𝟏𝟗𝐌+𝐓
𝟗𝟖𝟔
𝑿 = 𝟑. 𝟓 + + 𝟎. 𝟎𝟏𝑴
𝑻

𝒚 = 𝟐. 𝟒 − 𝟎. 𝟐𝑿
• Faktor Volume Formasi Gas (Bg)
Bg biasanya dinyatakan dalam satuan reservoir cubic feet per standart cubic foot. Maka
digunakan persamaan berikut
0.0283 z T
Bg = (Cuft/SCF) ...................................................................................................................... (2-6)
P
0.00504 z T
Bg = (rb/SCF) ........................................................................................................................ (2-7)
P

14
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
• Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rs)
Salah satu korelasi yang ada ada korelasi Standing, persamaannya adalah sebagai berikut:
𝒑 𝟏.𝟐𝟎𝟒𝟖
𝑹𝒔 = 𝜸𝒈 [( + 𝟏. 𝟒)𝟏𝟎𝒙 ] ................................................................................................... (2-8)
𝟏𝟖.𝟐

𝒙 = 𝟎. 𝟎𝟏𝟐𝟓 𝑨𝑷𝑰 − 𝟎. 𝟎𝟎𝟎𝟗𝟏 (𝑻 − 𝟒𝟔𝟎) .................................................................................. (2-9)


Keterangan: T = suhu, °R
P = tekanan, psia
𝛾𝑔 = spesifik gravity gas yang terlarut
Sedangkan Korelasi Vasquez-Beggs digunakan untuk menentukan Kelarutan Gas Dalam
Minyak (Rs) pada (P < Pb)

.................................................................................................... (2-10)
Harga Koefisien ditentukan dengan:

..................................................... (2-11)
Keterangan: 𝛾𝑔s = graviti gas pada referensitekanan separator
𝛾𝑔 = graviti gas pada kondisi Psep dan Tsep
Psep = tekanan separator, psia
Tsep = suhu separator, °R
• Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)
Korelasi Standing digunakan untuk menentukan Faktor Volume Formasi pada P>Pb
𝒀𝒈 𝟏.𝟐
𝑩𝒐 = 𝟎. 𝟗𝟕𝟓𝟗 + 𝟎. 𝟎𝟎𝟎𝟏𝟐𝟎 [𝑹𝒔 ( )𝟎.𝟓 + 𝟏. 𝟐𝟓 ( 𝑻 − 𝟒𝟔𝟎 )] ....................................... (2-12)
𝒀𝒐

Keterangan: 𝑇 = suhu, °R
𝛾𝑜 = spesifik graviti minyak pada kondisi stock-tank
𝛾𝑔 = spesifik graviti gas yang terlaut
Korelasi Vasquez-Beggs untuk menentukan Faktor Volume Formasi Minyak (Bo) pada (P
< Pb)

................................................................. (2-13)
Keterangan: 𝑅𝑠 = kelarutan gas, scf/STB
𝑇 = suhu, °R
𝛾𝑔s = spesifik graviti gas

15
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Harga koefisien ditentukan dengan:

• Kompresibilitas Minyak (Co)


Salah satau persamaan yang dapat digunakan adalah persamaan Vasquez-Beggs:
−𝟏𝟒𝟑𝟑+𝟓𝑹𝒔𝒃 +𝟏𝟕.𝟐(𝑻−𝟒𝟔𝟎)−𝟏𝟏𝟖𝟎𝜸𝒈𝒔 +𝟏𝟐.𝟔𝟏𝑨𝑷𝑰
𝑪𝒐 = ..................................................................... (2-14)
𝟏𝟎𝟓 𝒑

Keterangan: T = temperature, ◦R
P = tekanan di atas 𝑝𝑏, psia
Rsb = kelarutan gas pada 𝑝𝑏, scf/STB
𝛾𝑔 = gas gravity terkoreksi
• Viskositas Minyak (μo)
Penentuan harga viskositas minyak dibedakan atas kondisi diatas tekanan saturasi (Pb)
dan tekanan dibawah saturasi.
Untuk P ≤ Pb, digunakan korelasi Beggs & Robinson:
μob = A (μod)B ............................................................................................................................................... (2-15)
Untuk P > Pb, digunakan persamaan yang dikembangkan oleh Vasquez & Beggs:
μo = μob(P/Pb)m ......................................................................................................................................... (2-16)
Keterangan: A = 10.715 (Rs + 100)-0.515
B = 5.44 (Rs + 150)-0.338
μod = 10x – 1
X = Y T-1.163
Y = 10Z
Z = 3.0324 – 0.02023 (°API)
T = Temperatur, °F
M = 2.6 P1.187 x 10(-0.000039 P – 5.0)

16
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
3. Grafik PVT

Gambar 2.5.
Contoh Grafik PVT Minyak
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

Gambar 2.6.
Contoh Grafik Bg, Z, vs P Gas
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

17
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
2.2.3. Data Pelaksanaan test
a. Tes Tekanan dan Rate test
Data Pelaksanaan tes tekanan dan tes laju alir meliputi PBU dan PDD

Gambar 2.7.
Contoh Data Tekanan
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

Gambar 2.8.
Contoh Data Rate
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

Gambar 2.9.

18
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Contoh Data Pressure dan Rate
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)
b. Program pelaksanaan pengukuran
Meliputi tentang jadwal, sejarah serta penjelasan mengenai kegiatan pengujian sumur

Gambar 2.10.
Contoh Data Sejarah Pengujian
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2011)

19
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
BAB III
ANALISA PRESSURE DRAWDOWN TESTING

Pressure Drawdown Test merupakan salah satu tes sumur yang bertujuan untuk
menentukan sifat fisik reservoir maupun tekanan reservoir. Pada prinsipnya, data tekanan yang
dicatat dalam fungsi waktu dari hasil pressure drawdown test ini sangat penting digunakan dalam
menentukan sifat reservoir yang meliputi permeabilitas formasi (k) dan faktor skin (S) yang
menunjukkan tingkat kerusakan formasi. Pada pressure drawdown test laju aliran dianggap tetap
dan penurunan tekanan dasar sumur dimonitor secara kontinyu. Terdapat keuntungan secara
ekonomis dari melakukan pengujian ini, yaitu masih diperolehnya produksi minyak selama
pengujian (tidak seperti pada pressure build up test), sedangkan keuntungan teknis, yaitu dapat
memperkirakan volume pori-pori yang berisi fluida yang dapat dikuras. Tetapi, juga terdapat
kelemahan dari pengujian ini, yaitu sulit sekali dalam mempertahankan laju aliran tetap selama
pengujian berlangsung.

3.1. Tujuan Analisa


Informasi-informasi yang didapat dari hasil analisa Pressure Drawdown Test diantaranya
untuk menentukan:
• Permeabilitas formasi (k)
• Faktor skin (S)
• Volume pori-pori yang berisi fluida (Vp)

3.2. Konsep Dasar


Pressure Drawdown Test adalah suatu pengujian yang dilaksanakan dengan jalan
membuka sumur dan mempertahankan laju produksi tetap selama pengujian berlangsung.
Sebagai syarat awal, sebelum pembukaan sumur tersebut tekanan hendaknya seragam diseluruh
reservoir yaitu dengan menutup sumur sementara waktu agar dicapai keseragaman tekanan
reservoir-nya. Pada dasarnya pengujian ini dapat dilakukan pada:
• Sumur baru,
• Sumur-sumur tua yang telah ditutup sekian lama hingga dicapai keseragaman
tekanan reservoir,
• Sumur-sumur produktif yang apabila dilakukan Pressure Buildup Test, maka pemilik
sumur akan sangat merugi.

20
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Berdasarkan pada rejim aliran yang terjadi, maka metoda analisa Pressure Drawdown Test
dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu :
• Pada saat Periode Transien,
• Periode Transien Lanjut,
• Periode Semi Mantap (Pseudo Steady-State atau Semi Steady-State).

3.2.1. Analisa Pressure Drawdown Pada Periode Transien (Infinite Acting)


Apabila suatu sumur diproduksi dengan laju aliran tetap dan tekanan awal reservoir-nya
= Pi , maka persamaan tekanan pada lubang bor (r D = 1) yang dinyatakan dalam variabel tidak

berdimensi, adalah:

PD  1 ln t D   0.80907 ................................................................................................................... (3-1)


2
Setelah tD/rD2 > 100 dan setelah efek Wellbore Storage menghilang, maka akhirnya akan
didapat:

162.6 qB   k  
P wf  Pi  log t  log   3.2275  0.86859S  ............................. (3-2)
2 
kh   Ctrw  
Dari persamaan (3-2) terlihat bahwa plot antara PWF versus log (t) merupakan garis lurus

dengan kemiringan (slope = m):


162.6 qB
m ..................................................................................................................................... (3-3)
kh
Dalam dunia teknik perminyakan, biasanya dipilih waktu t = 1 jam dan mencatat PWF

pada saat itu sebagai P1hr. Dengan menggunakan konsep ini dapat ditentukan faktor skin ‘S’
dengan menggunakan persamaan:

 Pi  P1 hr  k  
S  1.151  log 
2 
 3.2275 ........................................................................ (3-4)
 m  Ctrw  
Ada dua grafik yang selalu harus digunakan dalam menganalisa Pressure Drawdown pada
periode Infinite Acting, yaitu log-log plot untuk menentukan Wellbore Storage dan semilog plot
untuk menentukan karakteristik formasi.

3.2.1.1.Log-log Plot Untuk Menentukan Wellbore Storage


Grafik log ( Pi - PWF ) vs log (t) digunakan untuk menentukan kapan saat berakhirnya efek

dari wellbore storage. Saat mencapai garis lurus semilog dapat diperkirakan dengan:

t
200000  12000  S  Cs
......................................................................................................... (3-5)
k  h 

21
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Perkiraan besarnya Cs (bbl/psi), adalah:

 q  Bo  t 
Cs     .............................................................................................................................. (3-6)
 24  P 
dimana Δt dan ΔP adalah harga yang dibaca dari suatu titik pada garis lurus ‘unit slope’
tersebut.

3.2.1.2.Semilog Plot Untuk Menentukan Karakteristik Formasi


Grafik ini adalah semilog plot antara PWF vs log (t). Dengan membaca kemiringannya (m),

maka permeabilitas formasi dapat ditentukan, yaitu:


162.6  q    B
k .......................................................................................................................... (3-7)
mh
(Catatan: ‘m’ akan berharga negatif sehingga menghasilkan permeabilitas yang positif)
Satu hal yang harus dicatat bahwa :
P1hr harus dibaca pada garis lurus semilognya. Jika data tersebut tidak terletak pada garis
lurus, maka harus dilakukan ekstrapolasi dan harga itulah yang digunakan untuk menghitung
faktor skin (S) menggunakan persamaan (3-4)

3.2.2. Analisa Pressure Drawdown Pada Periode Transien Lanjut


Pengembangan teori analisa tekanan pada periode transien lanjut didasarkan pada
persamaan untuk reservoir silindris yang terbatas dengan melibatkan tambahan penurunan
tekanan akibat adanya factor skin, yaitu :

q  2kt  re  3 
 

Pi  Pwf    ln 
 
   S  2  Bn  n , reD Exp   n2 , t DW  ............... (3-8)
2kh Ctrw 2
 rw  4 n 1 
Apabila laju aliran tetap, maka tekanan rata-rata pada reservoir adalah:
qt
P  Pi ......................................................................................................................................... (3-9)
Cthre 2
Jadi persamaan umum dapat dituliskan sebagai berikut:

qB   14.68919kt 
Pwf  P  0.84 Exp  ................................................................................... (3-10)
2kh  Ctre
2

atau persamaan (3-10) tersebut dapat dituliskan sebagai:

  qB  0.00168kt
logPwf  P   log118.6   ....................................................................... (3-11)
  2kh  Ctre 2

22
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Dari persamaan (3-11) grafik log ( Pwf - P) vst harus merupakan garis lurus dengan
kemiringan:
kt
  0.00168 ............................................................................................................................. (3-12)
Ctre 3
dan titik potong terhadap sumbu tegak (b), adalah:
qB
b  118.6 .......................................................................................................................................... (3-13)
kh
Plot antara log ( Pwf - P) vs t akan linier asalkan P ditetahui besarnya. Tetapi sayangnya

tidak, sehingga pada metoda ini harus dilakukan coba-coba menggunakan suatu harga P. Apabila
harga P tadi cocok dengan kondisi yang ada, maka akan didapatkan garis lurus dan apabila garis
lurus telah didapatkan, maka permeabilitas dihitung dengan:
qB
k  118.6 ......................................................................................................................................... (3-14)
bh
Volume pori-pori sejauh daerah pengurasan ‘Drainage Volume’ sumur yang diuji dapat
diperkirakan (bbl), yaitu:
qB
Vp  0.1115 .................................................................................................................................... (3-15)
bC
Faktor skin juga dapat ditentukan, yaitu:

 Pave  P  r 
S  0.84   ln  e   0.75 ............................................................................................ (3-16)
 b   rw 

bS
P( skin)  ......................................................................................................................................... (3-17)
0.84

3.2.3. Analisa Pressure Drawdown Pada Periode Semi Steady State


Pengujian ini terutama untuk menentukan volume reservoir yang berhubungan dengan
sumur yang diuji, oleh sebab itu disebut ‘Reservoir Limit Testing’. Persamaan dasar yang
digunakan adalah:

qB  0.000527kt 3
Pwf  Pi  141.2   ln reD   ...................................................................... (3-18)
kh  Ctre 2
4

Dari persamaan (3-18), plot antara Pwf vs t merupakan suatu garis lurus dengan

kemiringan:
q
L  ............................................................................................................................................. (3-19)
Ctre 2

23
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Kemudian dengan mengetahui kemiringan ini, maka drainage volume (bbl) dapat
ditentukan, yaitu:
qB
Vp  0.0418 .................................................................................................................................... (3-20)
 LC
Catatan:
Vp yang didapatkan dengan menganalisa periode transien lanjut dan periode semi steady-
state biasanya akan memberikan harga yang relatif sama. Apabila tidak sama, maka Vp
yang didapatkan dari periode semi steadystate lebih representatif.

3.2.4. Penentuan Bentuk Reservoir (Reservoir Shape)


1. Plot antara Pwf vs t, kemudian lakukan ekstrapolasi sampai pada t=0, kemudian tentukan
titik potongnya (Pint)
2. Menentukan kemiringan periode semi steady state pada grafik tersebut (slope m*)
3. Plot antara Pwf VS t pada kertas semilog, kemudian tentukan kemiringan periode transien
pada grafik tersebut (slope m)
4. Menentukan P1jam pada grafik langkah ke-3
5. Menentukan besarnya shape faktor (CA) dengan persamaan:

m  P  Pint 
C A  5.456 Exp2.303 1hr ........................................................................................ (3-21)
m*  m 
6. Gunakam tabel Dietz (tabel II-1) untuk mendapatkan bentuk reservoir yang mendekati
harga shape faktor (CA) hasil perhitungan langkah ke-5
7. Menentukan besarnya harga (tDA)pss:
 m*
(t DA ) pss  0.1833(t ) pss   ............................................................................................................. (3-22)
 m 
8. Menentukan bentuk reservoir yang sesuai dari hasil perhitungan CA dan (tDA)pss dengan
tabel Dietz tersebut

3.3. Prosedur Analisa


Analisa pada Periode Transien hingga Semi Steady State
1. Dari data yang diberikan, menghitung harga ΔP untuk setiap data yang ada
2. Dari data yang ada, membuat plot grafik sebagai berikut:
a. Grafik log Δt (sumbu x) vs log ΔP (sumbu y)
b. Grafik log Δt (sumbu x) vs Pwf (sumbu y)
c. Grafik kartesian Δt (sumbu x) vs Pwf (sumbu y)

24
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
3. Menentukan harga Δt EOWB dari grafik log Δt vs log ΔP dengan membuat garis lurus 45°.
Kemudian menggeser sejajar sampai menyinggung grafik. Harga Δt EOWB diperoleh dari
pembelokan pertama grafik dengan garis 45° ditambah 1.5 cycle.
4. Menentukan nilai slope (m), P1jam , k, S, ΔP, PWF , PI dan FE dengan menggunakan grafik log Δt

vs Pwf.
5. Memasukkan nilai Δt EOWB pada grafik log Δt vs Pwf, kemudian menentukan trendline dan
persamaan garis dari titik-titik disekitar harga Δt EOWB tersebut. Kemudian memperpanjang
garis trendline yang sudah terbentuk
6. Menentukan harga slope (m) dengan pembacaan harga tekanan pada garis trendline yang
terbentuk
7. Menentukan harga P1jam yang diperoleh dengan menarik garis keatas pada Δt = 1 jam sampai

menyentuh garis trendline yang ada dan membaca harga tekanannya


8. Menentukan besarnya harga permeabilitas (k) dengan persamaan:
q B
k  162.6 
mh
9. Menentukan nilai faktor skin dengan persamaan:

 P  P   k  
S  1.151 i 1jam  log   3.23
2 
 m      Ct  rw  
10. Menentukan harga Δt EOWB dengan menggunakan persamaan:
a. Menghitung konstanta wellbore storage dengan persamaan

 q  Bo  t 
Cs    
 24  P 
b. Membuat garis trendline dari grafik log Δt vs log ΔP. Harga Δt dan ΔP pada rumus
diperoleh dengan menentukan titik pada saat dimulai perpisahan garis linear (trendline)
pada grafik log Δt vs log ΔP. Kemudian dari titik tersebut menarik garis sehingga
berpotongan dengan sumbu x dan sumbu y. Membaca harga Δt pada sumbu x dan
membaca harga ΔP pada sumbu y
c. Menghitung Δt EOWB dengan persamaan:

t wbs 
200000  12000  S  Cs
k  h 

Catatan: harga k, h dan S menggunakan nilai yang telah dihitung sebelumnya
11. Menentukan ΔP skin dengan persamaan:
Ps  0.87  m  S

25
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
12. Menentukan harga PWF dengan persamaan:

162.6  q    Bo    
logt wbs   log
k
PWF  Pi    3.23  0.86859  S
2 
kh       Ct  rw  
13. Menentukan FE dengan persamaan:
P * -PWF  Ps
FE   100 %
P * -PWF
14. Menentukan harga PI dengan persamaan:
q
PI 
P * -PWF  Ps
15. Menentukan harga re. Dari grafik log Δt vs Pwf dapat diketahui harga tpss, selanjutnya dihitung
harga re

0.0015  k  t pss
re 
    Ct
16. Penentuan volume pori dengan grafik kartesian Δt vs Pwf. Menentukan:

  PWF  PWF1  PWF2


  
 t  t1  t 2

17. Menghitung volume pori dengan persamaan:


0.234  q  Bo
Vp  -
P
Ct 
t
WF

26
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
(Studio Analisa Tekanan, 2018)
Dietz Shape Factor
Gambar 3.1.

27
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
BAB IV
ANALISA PRESSURE BUILD UP TESTING

Pressure Build-Up Testing adalah suatu teknik pengujian transien tekanan yang paling
dikenal dan banyak dilakukan orang. Pada dasarnya, pengujian dilakukan pertama-tama dengan
memproduksi sumur suatu selang waktu tertentu dengan laju aliran yang tetap, kemudian
menutup sumur tersebut. Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat
sebagai fungsi waktu.

4.1. Tujuan Analisa


Berdasarkan data-data tekanan yang didapat dari hasil analisa pressure build-up, maka
dapat ditentukan:
a. Permeabilitas formasi (k)
b. Adanya karakteristik kerusakan atau perbaikan formasi (faktor skin)
c. Menetukan produktivitas formasi (PI)
̅) reservoir
d. Menentukan tekanan statis (P*) dan tekanan rata-rata (P

4.2. Konsep Dasar PBU


Pressure Build-up Testing (PBU) adalah suatu teknik pengujian tekanan transien dengan
cara memproduksikan sumur dengan laju produksi konstan selama waktu tertentu, kemudian
sumur ditutup (biasanya dengan menutup kepala sumur dipermukaan). Pada dasarnya,
pengujian ini dilakukan pertama-tama dengan memproduksikan sumur selama selang waktu
tertentu dengan laju aliran yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan sumur ini
menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu (tekanan yang dicatat ini
biasanya adalah tekanan dasar sumur).

4.2.1. Konsep Dasar Horner (Superposisi)


Dasar analisa pressure build-up test ini diajukan oleh Horner, yang pada prinsipnya adalah
memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu berdasarkan suatu prinsip yang dikenal dengan
superposisi (superposition principle).
Berdasarkan prinsip superposisi tersebut, maka sumur-sumur diproduksi dengan laju
alir tetap selama waktu “tp”, kemudian sumur ditutup selama waktu “t”, sehingga didapat bentuk
umum persamaannya adalah:
qB  tp  t 
Pws  Pi  162.6 log  .................................................................................................. (4-1)
kh  t 

28
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Keterangan: Pws : tekanan dasar sumur, psi
Pi : tekanan mula-mula reservoir, psi
Q : laju produksi sebelum sumur ditutup, bbl/day
 : viskositas minyak, cp
B : faktor volume formasi, bbl/stb
K : permeabilitas, mD
h : ketebalan formasi, ft
tp : waktu produksi sebelum sumur ditutup, jam
: (Np/q) x 24
t : waktu penutupan sumur, jam

Gambar 4.1.
Skema Pressure Build Up Test
(Laboratorium Analisa Tekanan 2018)
Dari persamaan (4-1), terlihat bahwa apabila Pws diplot terhadap log  tp  t  akan
 t 
merupakan garis lurus dengan kemiringan (slope = m):
qB
m  162.6 ........................................................................................................................................... (4-2)
kh
Berdasarkan konsep tersebut, maka harga permeabilitas dapat ditentukan dari slope “m”,
sedangkan apabila garis tersebut diekstrapolasi ke harga “horner time” (tp+t/t) sama dengan
1, maka secara secara teoritis harga Pws sama dengan tekanan awal reservoir.

29
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.2.
Skema grafis Horner Plot

Sedangkan untuk menentukan apakah terjadi kerusakan atau perbaikan formasi yang
ditandai oleh harga skin faktor (S), maka digunakan persamaan:

 P1 jam  Pwf k 
S  1.151  log  3.23 ............................................................................. (4-3)
 m Ctrw2

Selanjutnya apabila “S” ini:
• Berharga positif berarti ada kerusakan (damaged) yang pada umumnya dikarenakan
adanya filtrat lumpur pemboran yang meresap kedalam formasi atau endapan
lumpur (mud cake) disekeliling lubang bor pada formasi produktif yang kita amati.
• Berharga negatif berarti menunjukan adanya perbaikan (stimulated), yang biasanya
terjadi setelah dilakukan pengasaman (acidizing) atau suatu perekahan hidrolik
(hydraulic fracturing).
Sedangkan adanya hambatan aliran yang terjadi pada formasi produktif akibat adanya
skin effect, biasanya diterjemahkan kepada besarnya penurunan tekanan, Ps yang ditentukan
menggunakan persamaan:
Ps = 0.87 m S, psi .................................................................................................................................... (4-4)
Sehingga besarnya produktifitas formasi (PI) dan atau flow effisiensi (FE) berdasarkan
analisa pressure build-up ini dapat ditentukan menggunakan persamaan:
q
PI  , BPD / Psi ........................................................................................................ (4-5)
P  Pwf  Ps
*

Dan

30
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
 P*  Pwf  Ps 
FE    x100% ......................................................................................................... (4-6)
 P  Pwf
*

Sedangkan untuk mengetahui besarnya radius of investigation (ri) dapat ditentukan
menggunakan persamaan:

k t
r i  0.03 , ft .................................................................................................................................. (4-7)
Ct
Keterangan:
Ct : kompresibilitas, psi-1

Tahapan untuk melakukan analisa pressure built-up test berdasarkan metoda Horner
adalah:
a. Berdasarkan data-data PBU buat tabulasi yang menghubungkan harga Pws terhadap
Horner time (tp + t/t).
b. Plot harga-harga Pws vs (tp + t/t) pada grafik semilog.
c. Buat garis ekstrapolasi berdasarkan plot harga tersebut (langkah 2) sampai harga (tp
+ t/t) = 1, maka akan didapatkan harga tekanan statis reservoir (P*).
d. Tentukan besarnya slope (m) pada bagian garis yang lurus grafik tersebut.
e. Tentukan besarnya permeabilitas (K).
f. Tentukan besarnya harga P1jam yang diambil pada bagian garis ekstrapolasi.
g. Tentukan skin faktor, dan berdasarkan harga skin tersebut tentukan apa yang terjadi
pada formasi produktif yang diamati.
h. Tentukan produktifitas formasi (PI).
i. Tentukan flow effisiensi (FE).
j. Tentukan besarnya radius of investigation (ri).
k. Buat analisanya dari hasil-hasil yang didapatkan.

4.2.2. Penentuan Tekanan Rata-Rata Reservoir


Seperti diketahui bersama bahwa tekanan rata-rata reservoir merupakan suatu besaran
fisik yang mendasar untuk diketahui pada proses primary recovery maupun enhanced recovery,
yaitu sangat berguna untuk karakterisasi suatu reservoir, penentuan cadangan dan peramalan
kelakuan reservoir tersebut.
Untuk reservoir yang bersifat infinite acting, tekanan rata-rata reservoir ini adalah P* = Pi

= P yang dapat diperkirakan dengan mengekstrapolasikan segmen garis lurus pada Horner plot

sampai pada harga


tp  t 
t = 1. Tetapi pada reservoir yang terbatas, hal diatas tidak dapat

31
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
dilakukan mengingat bahwa dengan adanya pengaruh dari batas reservoir, maka tekanan pada
umumnya akan jatuh berada dibawah garis lurus Horner.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya tekanan rata-
rata reservoir ini, yaitu:
• Metode Matthews - Brons - Hazebroek (Metode MBH)
• Metode Miller - Dyes - Hutchinson (Metode MDH)
• Metode Dietz

4.2.2.1. MBH
Metode ini dilakukan dengan asumsi bahwa mobilitas dan kompresibilitas fluida tidak
bervariasi sampai sebatas radius pengurasan atau dapat dikatakan bahwa tidak ada variasi sifat-
sifat fluida dan batuan reservoirnya.
Langkah-langkah pengerjaan metode ini adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan harga P* dari metode Horner (untuk reservoir yang terbatas, P* ini
dikenal sebagai “False Pressure”)
2. Mendapatkan juga harga kemiringannya (slope, m)

Memperkirakan besarnya harga tekanan rata-rata reservoir P menggunakan persamaan: 


PDMBH tp DA  .............................................................................................................. (4-8)
m
P  P*-
2.303
Keterangan:
PDMBH atau dikenal sebagat “MBH Dimensionless Pressure” dibaca pada ordinat
gambar 4.3. sampai gambar 4.6. tergantung pada bentuk dari daerah pengurasannya,
sedangkan harga absisnya tp DA  didapat dengan persamaan:

0.0002367  k  tp
tp DA  ............................................................................................. (4-9)
    Ct  A

4.2.2.2. MDH
Metode ini hanya dapat digunakan untuk menentukan tekanan rata-rata reservoir pada
reservoir-reservoir yang berbentuk lingkaran atau bujur sangkar dengan sumur produksi pada
pusatnya. Salah satu syarat mutlak untuk menggunakan metode MDH ini adalah anggapan bahwa
sebelum sumur ditutup (shut in) kondisi telah mencapai Pseudo Steady-State.
Langkah-langkah pengerjaan metode ini adalah sebagai berikut:
1. Membuat MDH plot yaitu Pws vs log Δt, kemudian menentukan m dan k.

32
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
2. Memilih sembarang harga Δt, asalkan masih terletak pada semilog straightline
(katakanlah Δt'), kemudian membaca harga PWS yang berhubungan dengan waktu

Δt' tadi.
3. Menghitung besarnya t'DA , yaitu:

0.0002367  k  t'
t'DA 
    Ct  A ................................................................................................................ (4-10)

4. Dari gambar 4.7. membaca harga PDMDH untuk reservoir yang sesuai dengan

pendekatan lingkaran atau bujur sangkar dan kondisi pada batasnya (No Flow atau
Constant Pressure)
5. Menentukan tekanan rata-rata reservoir berdasarkan persamaan:
m  PDMDH  t'DA
P  P'WS  .............................................................................................................. (4-11)
    Ct  A

4.2.2.3. Dietz
Syarat untuk menggunakan metode ini adalah kondisi Pseudo Steady-State telah dicapai
sebelum penutupan sumur, telah diketahui shape factor (CA) dan faktor skin harus lebih besar
dari negatif 3.
Langkah-langkah pengerjaan metode ini adalah sebagai berikut:
1. Membuat plot (Δt vs Pws), kemudian menentukan m dan k.

2. Menentukan besarnya harga t P , yaitu pada saat:

    Ct  A
t P  tp
 ................................................................................. (4-12)
C A  tp DA 0.0002367  C A  k

3. Kemudian P dibaca pada waktu t P yang dihitung dari langkah 2 pada semilog

straightline.

33
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.3.
MBH Dimensionless Pressure
Untuk Sumur yang Terletak Ditengah dari Equilateral Drainages Area
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

34
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.4.
MBH Dimensionless Pressure
Untuk Lokasi Sumur yang Berbeda pada Area Pengurasan Bujursangkar
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

35
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.4.
MBH Dimensionless Pressure
Untuk Lokasi Sumur yang Berbeda pada Area Pengurasan Rectangular 2:1
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

36
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.5.
MBH Dimensionless Pressure
Untuk Lokasi Sumur yang Berbeda pada Area Pengurasan Rectangular 4:1 dan 5:1
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

37
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 4.6.
MDH Dimensionless Pressure
Untuk Area Pengurasan Berbentuk Lingkaran dan Bujursangkar
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

38
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
4.3. Prosedur Analisa

1. Berdasarkan data yang diberikan, menghitung harga Horner Time


tp  t 
t dan
mentabulasikan untuk setiap data Δt yang diberikan (apabila Δt dalam menit maka tp juga
dalam menit, bila Δt dalam jam maka tp juga dalam jam).
2. Berdasarkan data-data Pws membuat tabulasi ΔPws untuk setiap data yang ada.
3. Memplot harga Δt vs ΔPws pada grafik log-log untuk menentukan harga End of Wellbore
Storage (EOWB) dimana Δt sebagai sumbu x dan ΔPws sebagai sumbu y.
4. Membuat garis 450 dan disejajarkan dengan hasil plot grafik pada langkah 3 untuk
menentukan Δt EOWB (EOWB ditentukan dari titik pisah antara garis 450 dengan plot
grafik pada langkah 3 dan kemudian hasilnya Δt ditambahkan 1.5 cycle dan mencatat
harganya sebagai Δt EOWB).
5. Memplot harga horner time (sumbu x) vs ΔPws (sumbu y) pada grafik semilog.

6. Membuat grafik ekstrapolasi (dengan menghitung harga


tp  t EOWB
t EOWB )
pada grafik langkah 5 dan memplot harga tersebut pada grafik, kemudian menarik

trendline pada titik-titik disekitar harga


tp  t EOWB kemudian
t EOWB
menentukan persamaan garisnya.

7. Mengekstrapolasikan garis pada langkah 6 sampai pada harga


tp  t   1 , maka
t
didapatkan harga tekanan statis reservoir (P*).

8. Menentukan besarnya slope m  P1  P2


1 Cycle  pada bagian garis lurus dari grafik tersebut
(misal P1 = harga P pada
tp  t   0.1 ; P2 = harga P pada tp  t   0.01 ).
t t
9. Menentukan besarnya permeabilitas dengan persamaan:
q B
k  162.6 
mh
10. Menentukan besarnya harga P1jam yang diambil pada bagian garis ekstrapolasi dengan
menghitung harga Horner time pada waktu (tp + 1jam)
11. Menentukan harga Skin Factor dengan persamaan:

 P1 jam  PWF  k  
S  1.151  log   3.23
     Ct  rw
2
 m  
12. Menentukan harga ΔPS dengan persamaan:
Ps  0.87  m  S

39
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
13. Menentukan produktivitas formasi/Productivity Index (PI) dengan persamaan:
q
PI 
P * - PWF  Ps
14. Menentukan Flow Efficiency (FE) dengan persamaan:

 P * - PWF  Ps 
FE     100 %
 P * - PWF 
15. Menentukan besarnya Radius Investigation (ri) dengan persamaan:

kxt
ri  0.03
    Ct
16. Membuat analisa dari hasil-hasil yang didapatkan.

40
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
BAB V
ANALISA TEKANAN SUMUR GAS

Tujuan utama dari suatu pengujian sumur gas adalah untuk menentukan kemampuan
suatu formasi untuk berproduksi. Tekanan merupakan data yang sangat penting dalam tahap
perhitungan reservoir engineering. Apabila pengujian dilakukan dengan baik dan hasilnya
dianalisa dengan baik maka banyak informasi yang sangat berharga diperoleh, seperti
permeabilitas efektif fluida, kerusakan atau perbaikan formasi disekeliling lubang sumur akibat
pemboran ataupun pada saat berproduksi, tekanan reservoir, batas-batas reservoir dan bentuk
radius pengurasan.

5.1. Tujuan Analisa


Aplikasi penggunaan persamaan aliran gas dalam formasi produktif dianalisa secara
tepat, maka diperoleh informasi-informasi seperti :
• Tekanan reservoir
• Permeabilitas
• Skin Factor
• Radius investigasi atau batas reservoir
• Absolute Open Flow Potential (AOFP)

5.2. Konsep Dasar


Prinsip dasar dari well test yaitu memberikan gangguan keseimbangan tekanan terhadap
sumur yang diuji dengan cara memproduksikan sumur dengan laju alir konstan (drawdown) atau
dengan menutup sumur selama selang waktu tertentu (build-up).
Secara garis besar, terdapat dua jenis uji sumur gas, yang pertama adalah pressure
transient test, mencakup Pressure Drawdown (PDD) dan Pressure Build-up (PBU). Dari pressure
test didapatkan informasi yang berharga yaitu tekanan reservoir(Pi), permeabilitas(k), skin(s),
radius investigasi(rinv), dan Productivity Index (PI). Kemudian yang kedua adalah uji
deliveribilitas termasuk Back Pressure test, Isochronal test dan Modified Isochronal test. Dari uji
deliverabilitas dapat diketahui besarnya Absolute Open Flow Potential (AOFP) sehingga
didapatkan laju alir optimum gas.
Gas merupakan fluida yang “Fully Compressible” dimana sifat fisik gas merupakan fungsi
tekanan, maka didalam penyelesaian persamaan aliran variabel tekanan yang digunakan adalah

41
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
P, P2 dan Ψ (Pseudo Pressure). Sebagai pegangan kasar maka dapat digunakan acuan sebagai
berikut:
1. Untuk P < 2000 psia, digunakan persamaan dalam bentuk P2
2. Untuk 2000 < P < 4000 psia, digunakan persamaan dalam bentuk Ψ
3. Untuk P > 4000 psia, digunakan persamaan dalam bentuk P

5.2.1. Uji Tekanan Transien


Pressure Transient Testing adalah suatu pengujian sumur dengan cara menutup dan
mengalirkan sumur secara bergantian yang merupakan gangguan pada reservoir kemudian
merekam respon tekanan di dalam lubang sumur. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk
mengidentifikasi karakteristik reservoir dan batas pengurasan sumur tersebut. Dari data yang
didapat, pressure transient Testing digunakan untuk:
1. Menganalisa identifikasi kerusakan formasi yang ditandai dengan skin
2. Menentukan harga permeabilitas formasi,
3. Memperkirakan daerah pengurasan dan batas reservoir serta keheterogenan suatu
formasi.
5.2.1.1. Pressure Build-Up
Pressure Build-Up Test adalah suatu teknik pengujian tekanan transien dengan cara
memproduksikan sumur dengan laju produksi konstan, qsc selama waktu tertentu, kemudian
sumur ditutup pada Δt = 0. Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan alir dasar sumur
(Pwf) yang dicatat sebagai fungsi waktu. Skema laju alir dan juga perekaman tekanan alir dasar
sumur (Pwf) pada Pressure Build-Up dapat dilihat pada Gambar 5.1 di bawah ini.

Gambar 5.1.
History Plot Pressure Build Up
(Chaudry, 2003)

Horner menyatakan bahwa hasil plot antara Tekanan shut-in (Pws) dan Log Horner Time,
(tp + Δt)/Δt harus menghasilkan persamaan garis lurus pada reservoir tak terbatas. Pada uji
build-up, tp mengacu pada waktu drawdown sebelum mengalami build-up dan Δt mengacu pada

42
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
waktu penutupan atau saat build-up. Kemudian Mathhews, Brons dan Hazerbroek (MBH)
memodifikasi aplikasi dari horner plot tersebut ke reservoir terbatas. Grafik horner plot dapat
dilihitat pada Gambar 5.2 berikut.

Gambar 5.2.
Plot Pws vs Horner Time
(Chaudry, 2003)

Menggunakan prinsip superposisi, maka solusi persamaan analisa pressure buildup test
untuk gas dengan pendekatan pseudo-pressure adalah:

57,920 x10 6 q sc Tp sc  t p  t 
 ( pi)   ( pws )  log  .................................................... (5-1)
khTsc  t 
Keterangan:
tp = lamanya waktu produksi, jam
∆t = lamanya waktu penutupan sumur, jam
Dari bentuk Persamaan (5-9) di atas, dapat diperoleh bahwa plot antara m(P)ws vs log
(tp +∆t)/∆t memberikan garis lurus dengan kemiringan garis atau slope m. Dalam grafik Horner
Plot seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.2 berlaku persamaan untuk menentukan slope (m)
sebagai berikut.
(𝑃1−𝑃2)
𝑚= .................................................................................................................................................. (5-2)
1 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒

Dari perolehan hasil slope m ini dapat diketahui besarnya kapasitas aliran (k.h) yang
dapat diperoleh menggunakan persamaan berikut.
𝑞𝑠𝑐 𝑇
𝑘ℎ = 1,637 × 106 ............................................................................................................................. (5-3)
𝑚

43
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Michael Economides (2002) memberikan klasifikasi harga permeabilitas untuk
reservoir gas.
Permeabilitas kecil, jika k < 0.5 mD
Permeabilitas sedang, jika 0.5 < k < 5 mD
Permeabilitas besar, jika k > 0.5 mD
Pada saat sumur ditutup sampai pada waktu tak terhingga maka transien tekanan pada
saat berada di lubang sumur akan mengalami hambatan karena adanya faktor skin yang dapat
dihitung dari kombinasi persamaan Pws dan Pwfo yang memiliki tekanan awal reservoir yang sama
(Pi) yang dinyatakan dengan Persamaan 5-4.

  ( p1hr )   ( p wfo )  k  
s'  1,151  log   3,23 ............................................... (5-4)
 
   g Ct rw 
2
m 
Adanya Kerusakan formasi atau skin akan mengakibatkkan pressure drop pada daerah di
sekitar lubang bor. Besarnya pressure drop dapat ditentukan menggunakan persamaan berikut.
∆𝑃𝑠𝑘𝑖𝑛 = 0.87𝑚𝑆 ..................................................................................................................................... (5-5)
Productivity Index (PI) dapat diperoleh menggunakan Persamaan 5-6 berikut.
𝑄𝑔𝑎𝑠
𝑃𝐼 = (𝑃2−𝑃2 ............................................................................................................................................ (5-6)
𝑅 𝑤𝑓 )

Kermit E Brown (1967) telah mencoba memberikan batasan terhadap tingkat


produktivitas sumur sebagai berikut:
PI rendah jika, PI < 0.5
PI sedang jika, 0.5< PI < 1.5
PI tinggi jika, PI> 1.5

5.2.1.2. Pressure Drawdown Testing


Persamaan 5-7 adalah persamaan dasar pressure drawdown pada sumur-sumur di
reservoir gas.
QT  k  ................................................................ (5-7)
 wf   i  1637 log t  log  3.23  0.87 S '
kh   Ct i rw
r

Penyeleseiannya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut ini:


1. Seperti biasa, data yang ditatat adalah Pwf versus waktu
2. Buat hubungan antara Pwf dengan wf Ini dilakukan dengan integrasi numerik apabila 

dan Z dapat ditentukan.


3. Kemudian plot wf versus log t.

Setelah garis lurus semilog ditentukan, maka dapat ditentukan besaran-besaran:

44
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Qt
kh = 1.637×106 ..................................................................................................................... (5-8)
mh
S '  S  Dq

 i   1 hr k 
 1.151  log  3.23 ................................................................................ (5-9)
 m  Ct i rw
2

Apabila pendekatan P2 digunakan, maka dari plot antara Pwr2 versus log t dapat
ditentukan:
Qt Z av
kh  1637 ............................................................................................................................... (5-10)
m
S '  S  Dq
 Pi 2   12hr k  ............................................................................. (5-11)
 1.151  log  3.23
 m  Ct i rw2 

5.2.2. Uji Deliverabilitas


Deliverabilitas adalah kemampuan dari suatu sumur gas untuk berproduksi. Uji
deliverabilitas terdiri dari tiga atau lebih aliran dengan laju alir, tekanan dan data lain yang
dicatat sebagai fungsi dari waktu. Absolute Open Flow Potential (AOFP) didefinisikan sebagai
kemampuan suatu sumur gas untuk memproduksi gas ke permukaan dengan laju alir maksimum
pada tekanan alir dasar sumur (sandface) sebesar tekanan atmosphere (± 14,7 psia). Dalam
melakukan uji deliverabilitas terdapat 3 macam metode yang dapat dilakukan, antara lain Back
Pressure Test, Isochronal Test dan Modified Isochronal Test.

5.2.2.1. Back Pressure Test


Metode ini ditemukan oleh Pierce dan Rawlins (1929). Back pressure adalah suatu
metode pengujian sumur gas untuk mengetahui kemampuan sumur berproduksi dengan
memberikan tekanan balik (back pressure) yang berbeda-beda. Skema dari uji back pressure test
diperlihatkan pada Gambar 5.9.

45
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 5.9.
Diagram Laju Produksi dan Tekanan Back Pressure Test
(Chaudry, 2003)

Pelaksanaan tes ini dimulai dengan menutup sumur hingga tekanan reservoir stabil.
Selanjutnya sumur diproduksi dengan laju sebesar q sc sehingga aliran mencapai stabil, dan
mengganti laju produksinya dengan mengubah ukuran choke lainnya tanpa melakukan
penutupan sumur. Lama waktu pencapaian kondisi stabil dipengaruhi oleh permeabilitas batuan.

5.2.2.2. Isochronal Test


Cullender (1955) mengusulkan suatu cara tes berdasarkan anggapan, bahwa jari-jari
daerah penyerapan yang efektif (rd) adalah fungsi dari tD dan tidak dipengaruhi oleh laju
produksi. Ia mengusulkan laju yang berbeda tetapi dengan selang waktu yang sama, akan
memberikan grafik log ∆P2 vs log qsc yang linier dengan harga eksponen n yang sama, seperti
pada kondisi aliran yang stabil.
Diagram laju produksi dan tekanan di dasar sumur dapat dilihat pada Gambar 5.10. Tes
ini terdiri dari serangkaian proses penutupan sumur sampai mencapai tekanan stabil (PR), yang
dilanjutkan dengan pembukaan sumur, sehingga menghasilkan laju produksi tertentu selama
jangka waktu t, tanpa menanti kondisi stabil. Setiap perubahan laju produksi didahului oleh
penutupan sumur sampai tekanan mencapai stabil (PR).

46
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 5.10.
Diagram Laju Produksi dan Tekanan Isochronal Test
(Chaudry, 2003)

5.2.2.3. Modified Isochronal Test (MIT)


Katz (1959) mengembangkan prosedur MIT yang pada prinsipnya hampir sama dengan
Isochronal tes, akan tetapi penutupan dan pembukaan sumur saat pengujian tidak perlu
mencapai tekanan stabil (PR), serta selang waktu penutupan dan selang waktu aliran sumur
dibuat sama besar, hal ini sesuai untuk reservoir yang mempunyai permeabilitas kecil karena
tekanan rata-ratanya PR lama dicapai. Diagram tekanan MIT dapat dilihat pada Gambar 5.11.

Gambar 5.11.
Diagram Tekanan Dan Laju Produksi MIT
(Chaudry, 2003)

47
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
5.2.3. Metode Analisa Uji Deliverabilitas Gas
Analisa data hasil uji deliverabilitas gas digunakan untuk menentukan indikator
produktivitas sumur gas, yaitu Absolute Open Flow Potential (AOFP). Untuk keperluan tersebut,
ada tiga metode analisa yang digunakan, yaitu:
1. Metode Rawlins-Schellhardt (Konvensional),
2. Metode Jones-Blount-Glaze, dan
3. Metode Laminer-Inertia Turbulence-Pseudo Pressure atau LIT (ψ).

5.2.3.1. Metode Analisis Konvensional (Rawlins-Schellhardt)


Tahun 1935, Rawlins-Schellhardt mengembangkan suatu persamaan empiris yang
menggambarkan hubungan antara laju alir dan tekanan pada sumur gas. Hubungan tersebut
dinyatakan dengan persamaan dalam bentuk pendekatan tekanan kuadrat (square pressure),
seperti berikut ini:


q sc  C p R  p wf
2 2 n
 ............................................................................................................................... (5-12)

keterangan:
qsc = Laju alir gas, Mscf/d.
C = Koefisien performance yang menggambarkan posisi kurva deliverabilitas yang
stabil, Mscfd/psia2.
n = Bilangan eksponen, merupakan inverse slope dari garis kurva deliverabilitas yang
stabil dan mencerminkan derajat pengaruh faktor inersia-turbulensi terhadap
aliran, umumnya berharga antara 0.5 - 1
̅̅̅
Pr = Tekanan rata-rata reservoir, psia.
Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psia.
Persamaan 5-12 diatas dapat juga ditulis dalam bentuk sebagai berikut:

 1

log p R  p wf   log q sc  log C ......................................................................................... (5-13)
2 2

n
Harga eksponen n pada Persamaan 5-13 adalah n = 1/slope, atau:
logq sc2  logq sc1
n

log p R  p wf
2 2
  logp
2 R
2
 p wf
2
 ...................................................................................... (5-14)
1

Harga koefisien kinerja C dapat ditentukan dari persamaan berikut:


q sc
C ..................................................................................................................................... (5-15)
p R
2
 p wf
2 n

48
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Harga koefisien C juga dapat ditentukan dengan melakukan ekstrapolasi garis lurus pada

p R
2
 p wf
2
  1 dan dibaca pada harga q . Sedangkan besarnya harga AOFP adalah sama dengan
sc

harga qsc pada harga Pwf sebesar 14.7 psi.


Metode Analisis Rawlins-Schellhardt kurang baik karena tidak memperhatikan faktor
deviasi gas, sehingga tidak cocok dengan real gas.

5.2.3.2. Metode Analisis Jones-Blount-Glaze


Metode plot data uji yang diperkenalkan oleh Jones dkk dapat digunakan pada sumur gas
untuk mendapatkan kinerja sumur pada masa sekarang. Metode ini digunakan untuk
menentukan koefisien turbulensi b dan koefisien laminar a. Persamaan aliran radial semi-mantap
dapat ditulis dalam bentuk:
12
1422 μ g z Tq sc  0.472 re  3.161 x 10 β z Tγ g q sc  1 1
2

p R  p wf
2 2
 
 ln r 
 s     ................... (5-16)
kh  w  h2  rw re 
Keterangan: Pr = Tekanan rata-rata reservoir, psia.
Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psia.
T = Temperatur dasar sumur, 0R.
µ = Viskositas gas, cp.
γg = Specific gravity gas, fraksi.
z = Faktor deviasi gas, fraksi.
k = Permeabilitas efektif, mD.
h = Ketebalan formasi produktif, ft.
β = Koefisien kecepatan aliran, ft-1 = (2.33×1010/k1.201).
q = Laju alir gas.
re = Jari-jari pengurasan, ft.
rw = Jari-jari sumur, ft.
s = Faktor skin
Persamaan 5-13 bila dibagi dengan qsc akan menghasilkan:

p R  p wf
2 2
Δ p2
  a  b q sc ............................................................................................................ (5-17)
q sc q sc
dengan koefisien aliran laminar a adalah:
1422 μ g z T  0.472 re 
a  ln  s  ....................................................................................................... (5-18)
kh  rw 
Karena 1/re amat kecil, maka dapat diabaikan, dan koefisisen aliran turbulen b:

3.161 x 10 12 β z Tγ g
b ...................................................................................................................... (5-19)
h 2 rw

49
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Bila diplot antara ΔP2/qsc vs qsc pada kertas grafik kartesian akan memberikan suatu garis
lurus dengan slope b yang menunjukkan derajat aliran turbulen di dalam sumur dan intercept a
yang menunjukkan kerusakan formasi.
Harga b akan berubah setiap waktu ketika adanya perubahan pola aliran ke dalam lubang
sumur. Efek dari perubahan ini dalam tahapan komplesi sumur dapat dievaluasi dengan
membandingkan kedua harga b:
𝑏1 𝛽1 ℎ𝑃22 𝑟𝑤2
=
𝑏2 𝛽2 ℎ𝑃21 𝑟𝑤1
Jika hanya panjangnya komplesi yang berubah, maka
𝑏1 ℎ𝑃22
=
𝑏2 ℎ𝑃21
Untuk harga b = 0, maka ∆P/q = a atau
2
𝑞 = 𝐶(𝑝̅𝑅2 − 𝑝𝑤𝑓 )
Harga laju produksi gas (qsc) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

q sc 
 
 a  a 2  4b p R  pwf
2 2
0.5

.................................................................................................. (5-20)
2b
Hubungan antara ∆P/q dengan Laju Alir yang kemudian didapatkan parameter a dan b
seperti Gambar 5.12 berikut:

Slope = b
∆𝑝2
𝑞

Intercept = a

0
0 q

Gambar 5.12.
∆𝑝2
Grafik vs q
𝑞
(Chaudry, 2003)

Sedangkan besarnya harga AOFP adalah sama dengan qsc pada harga Pwf sebesar 0 psi.

AOF 

 a  a 2  4b p R  2 0.5

........................................................................................................... (5-21)
2b

50
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Metode Analisis Jones-Blount-Glaze dapat diterapkan untuk real gas, tetapi pada metode
ini dibutuhkan dua data atau lebih uji aliran yang stabil, karena untuk mendapatkan harga stabil
dari koefisien laminar a diperlukan sekurang-kurangnya dua uji aliran yang stabil.

5.2.3.3. Metode Analisa LIT


Metode LIT atau metode Eropa merupakan uji deliverability gas yang menggunakan
persamaan aliran laminar-inertial-turbulent (LIT) dalam bentuk pendekatan pseudo-pressure
dengan asumsi besarnya harga μz akan tergantung pada tekanan. Metode analisa tersebut untuk
kisaran harga 2000<P<4000 psia, namun demikian penggunaan metode ψ berlaku untuk semua
harga tekanan.
Bentuk kuadrat dari persamaan aliran laminar-inertia-turbulence (LIT) adalah berikut:
1. Pendekatan Tekanan (p)

Δ p  p R  p wf  a1 q sc  b1 q sc ......................................................................................................... (5-22)
2

2. Pendekatan Tekanan Kuadrat (p2)

Δ p  p R  pwf  a2 q sc  b2 q sc .................................................................................................. (5-23)


2 2 2

3. Pendekatan Pseudo-Pressure ψ

Δψ   ψ R  ψ wf  a3 q sc  b3 q sc .................................................................................................... (5-24)


2

Bagian pertama ruas kanan (A.qsc) Persamaan di atas menunjukkan hubungan


penurunan tekanan yang disebabkan oleh pengaruh aliran laminar dan kondisi lubang sumur.
Sedangkan bagian keduanya (bqsc2) merupakan hubungan penurunan tekanan yang disebabkan
oleh aliran inertial-turbulence.
Karena analisa pseudo-pressure dianggap lebih teliti dan dapat digunakan pada semua
kisaran tekanan reservoir, maka pendekatan LIT menggunakan pseudo-pressure dan untuk
selanjutnya disebut sebagai pendekatan LIT(Ψ).
Dari Persamaan 5-24, plot antara (ΔΨ-bqsc2) vs qsc pada kertas grafik log-log akan
memberikan garis lurus. Kurva ini merupakan garis deliverability yang stabil, dimana harga A
dan B dapat dicari dari persamaan berikut ini:

A
 Δψ q  q   q  Δψ ......................................................................................... (5-25)
sc sc
2
sc

Nq  q q
2
sc sc sc

N  Δψ   q sc  Δψ q sc 
B ................................................................................................... (5-26)
N  q sc   q sc  q sc
2

Keterangan N = banyaknya poin-poin data.


Plot Uji Deliverability- Metode Eropa antara Pseudopressure vs qsc ditunjukkan Gambar 5.13.
berikut:

51
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar 5.13.
Plot Uji Deliverability-Metode Eropa
(Chaudry, 2003)

Harga laju produksi gas dapat dihitung dengan menggunakan penyelesaian persamaan
kudrat berikut ini untuk berbagai harga ΔΨ:

q

 a3  a3  4b3 
2

0.5

................................................................................................................ (5-27)
2b3
Sedangkan besarnya AOFP sama dengan qsc pada harga Ψ sebesar 0 psi.

5.2.4 Prosedur Pengerjaan


a. Penentuan Harga Pseudopressure
1. Siapkan data pendukung seperti harga viskositas gas dan faktor deviasi gas pada setiap
harga tekanan
𝑃
2. Menentukan harga [2 ( )]
𝜇𝑔 𝑧

3. Menentukan harga Ψ dengan tabulasi perhitungan, sebagai berikut:


mean
mean
𝑃 𝑃
P, psia μ, cp z 2( ) 𝑃 ΔP [2 ( )] × Ψ
𝜇𝑔 𝑧 [2 ( )] 𝜇𝑔 𝑧
𝜇𝑔 𝑧
∆𝑃

52
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
4. Memplot plot antara P (sumbu x) vs Ψ (sumbu y) pada kertas grafik kartesian, tentukan
trendline garis dan persamaan garisnya.
5. Menentukan harga Ψ pada setiap harga pencatatan tekanan dengan memasukan harga
P kedalam persamaan garis yang diperoleh.

b. Analisa PBU Metode Pseudopressure (Ψ)


1. Siapkan data pendukung untuk analisa: laju produksi (qsc), viskositas gas (µg),
kompresibilitas total (ct), faktor deviasi gas (z), temperatur reservoir (T), tebal lapisan
(h), jari-jari lubang bor (rw), waktu produksi sebelum sumur ditutup (tp) dan porositas
(ϕ).
2. Tentukan pendekatan tekanan yang akan digunakan P atau P2 atau Pseudopressure.
3. Buat tabel atau grafik korelasi P ke m(P) untuk Pseudopressure
4. Buat tabel Δt, Pws, m(Pws), {m(Pws)-m(Pwf)} dan (tp+ Δt)/Δt
5. Plot {m(Pws)-m(Pwf)} terhadap Δt pada kertas grafik log-log. Garis lurus dengan
kemiringan 45° (slope=1) pada data awal menunjukkan adanya pengaruh wellbore
storage. Dari garis ini, bila ada, tentukan awal penyimpangan dan ukur 1 sampai 1 ½ log
cycle dari titik tersebut untuk menerangkan awal dari tekanan yang tidak terpengaruh
oleh wellbore storage.
6. Plot m(pws) terhadap log (tp+ Δt)/Δt pada kertas semilog. Buat garis melalui titik-titik
yang bebas dari pengaruh wellbore storage, kemudian tentukan kemiringan (m).
7. Ekstrapolasikan garis lurus di atas sampai harga (tp+ Δt)/Δt =1 untuk mendapatkan
harga m(P*). Kemudian tentukan harga P* melalui korelasi butir 3.
8. Tentukan harga permeabilitas (k)
𝑞𝑠𝑐 𝑇
𝑘 = 1.637 × 106
ℎ𝑚
9. Tentukan harga faktor skin dan m(Pskin)

  ( p1hr )   ( p wfo )  k  
s'  1,151  log   3,23
 m   C r 2  
 g t w 
𝑚(𝑃𝑠𝑘𝑖𝑛) = 0.87 𝑚 𝑆
10. Tentukan harga efisiensi aliran (FE)
 ( Pi)   ( Pwfo )   (p) skin
FE 
 ( Pi)   ( Pwfo )

53
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
LAMPIRAN

54
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
A. IHS WELL TEST

Dalam melakukan analisa dengan software HIS Well Test, workflow untuk analisa Tekanan
adalah sebagai berikut:
1. Import Data
2. Perisapan Data untuk Analisa
3. Memasukaan Data PVT
4. Perhitungan Bottom Hole Pressure (kondisional)
5. Diagnostic Analysis
6. Modelling

Setelah membuka window IHS Well Test, pilih New  Build Up/Draw Down untuk
memulai analisa tekanan dengan workflow sebagai berikut:
1. Import Data
1.1. Pilih data Tekanan dan data Rate untuk diimport ke dalam software.

Setelah itu pilih next: Specify Starting Row for Import.

55
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
1.2. Pilih baris yang akan dibaca software sebagai data inputan.

Lanjut ke langkah berikutnya: Specify Colum Types.


1.3. Masukan jenis data sesuai dengan kolom data masing-masing.

Catatan:
Dalam langkah ini hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah satuan. Apabila salah
memasukan satuan, import data harus dilakukan dari awal lagi.

56
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
2. Perisapan Data untuk Analisa
3.1. Sebelum data siap untuk dianalisa, langkah yang sangat penting untuk dilakukan adalah
Sinkronisasi Data. Data Tekanan dan data Rate dapat memiliki catatan waktu (range)
yang berbeda sehingga perlu diselaraskan.
3.2. Pilih Tab Synchronize, kemudian pilih titik pada data Tekanan dan data Rate yang
dianggap memiliki catatan waktu yang sama. Data Tekanan dan data Rate berada di
window Primary dan Secondary Dataset.

3.3. Cek hasilnya pada window Result Dataset.


3.4. Apabila sudah sinkron, klik Apply.

57
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
3.5. Langkah selanjutnya adalah memotong data yang tidak diperlukan dalam analisa. Hal ini
dilakukan untuk mempercepat proses analisa software agar tidak terganggu oleh
banyaknya data yang tidak diperlukan. Caranya adalah dengan masuk ke Tab Data
Management, pilih baris sebagai batas, kemudian klik kanan dan pilih Delete All Rows
Before (untuk data sebelum batas) atau Delete All Rows After (untuk data setelah batas).

58
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
3. Memasukaan Data PVT
3.1. Masuk ke menu Adjust gauge pressure to datum depth:

3.2. Selanjutnya masuk ke Tab Properties untuk memasukkan data PVT:

59
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
4. Diagnostic Analysis
4.1. Setelah input properties, abaikan menu header/footer, pilih jenis sumur apakah vertikal
atau horisontal pada menu Wizard: Specify Wellbore Type.

4.2. Pilih jenis analisa Diagnostic, kemudian akan muncul window sebagai berikut:

60
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
4.3. Tugas kita adalah menentukan jenis aliran yang terjadi dengan melihat slope dari
derivative-nya.

4.4. Selanjutnya adalah menentukan radius pengurasan dengan cara menempatkan anotasi di
titik setelah aliran radial (tepat setelah zona transient). Klik kanan, pilih radius of
investigation, masukkan nilai permeabilitas yang dipeoleh dari radial flow.

61
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
5. Modelling
5.1. Tahapan ini dilakukan untuk menentukan bentuk reservoir.
5.2. Langkah pertama adalah history matching, yaitu menyelaraskan properties hasil
pengukuran well test dengan kurva derivative dan bentuk reservoirnya. Caranya adalah
dengan mengganti skin, permeabilitas, konstanta wellbore storage, dan ukuran reservoir
serta koordinat sumur untuk mendapatkan model yang match.

62
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
5.3. Model yang matching adalah model dengan nilai error yang mendekati 0.

63
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
B. PRESSURE DERIVATIVE

➢ Pressure Derivative
Analisa moderen telah berkembang dengan menggunakan derivative plot yang
diperkenalkan oleh Bourdet, Whittle, Douglas dan Pirard (1983). Derivative plot menggambarkan
log ∆p vs log ∆t dan log tdp/dt vs log ∆t secara simultan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
B.1.
Metoda pressure derivative ini muncul oleh karena pada penentuan akhir dari efek
wellbore storage dengan menggunakan metoda analisa Horner tidak dapat memberikan harga
yang tepat dan juga metoda analisa Horner tidak bisa memberikan hasil yang akurat apabila
digunakan untuk menganalisa reservoir yang begitu kompleks.

Gambar B.1.
Log log Plot Pressure Derivative
(Chaudry, 2003)

Selain dapat menentukan berakhirnya wellbore storage, kurva pressure derivative dapat
digunakan untuk menentukan model reservoir dan model batas reservoirnya. Seperti yang
ditunjukkan pada Gambar B.1, dimana kurva pressure derivative, dapat ditentukan bahwa
reservoirnya homogen dan belum mencapai batas (infinite).

64
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.2.
Pressure Derivative Type Curve
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

65
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.3.
Tipikal Respon Yang Diberikan Oleh Kurva Pressure Derivative Dari Hasil Well Test
(Laboratorium Analisa Tekanan, 2018)

• Langkah-langkah pembuatan kurva pressure derivative :


1. Dari data  t dan  P, mencari nilai slope (psi/hr) dengan persamaan sebagai
berikut:
P2  P1
slopem , psi / hr  ............................................................................................... (B-1)
t2  t1
2. Hitung P ’ dengan persamaan sebagai berikut:

m2  m1
P' , psi / hr  ............................................................................................................ (B-2)
2
3. Hitung ∆t∆P’(tp + ∆t)/tp, kemudian plot dalam grafik antara log ∆t∆P’(tp + ∆t)/tp vs
log ∆t

66
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Tabel B.1
Flow Period Characteristic Plot
Infinite acting radial P vs log dt (MDH
Semilog straight line
flow (drawdown) Plot)
Infinite acting radial Straight line p vs log
P vs log (tp+dt)/dt
flow (buildup) (tp+dt)/dt
log dp vs log dt
Straight line p vs t unit
Wellbore storage (log-log type
slope log dp vs log dt
curve)
Finite conductivity Straight line slope 1/4 log log dp vs log dt or
fracture dp vs log dt dp vs dt1/4
Infinite conductivity Straight line slope 1/2 log log dp vs log dt or
fracture dp vs log dt dp vs dt1/2
S-shaped transition
Double porosity P vs log dt
between semilog straight
effects (difficult)
lines
Pseudosteady state, P vs dt
Closed boundary
pressure linear wth time (Cartesian Plot)
Impermeable Doubling of slope on P vs log dt (MDH
boundary semilog straight line Plot)
Constant pressure Constant pressure flat line
boundary on all P/t plots

Dari tabel B.1., bisa dilihat bahwa untuk plot yang berbeda digunakan untuk tujuan yang
berbeda juga, dan hampir semua analisis akan membutuhkan pertimbangan dari beberapa plot –
plot.

Gambar B.4.
Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Analisa modern telah sangat berkembang dengan dikenalkannya derivative plot oleh
Bourdet, Whittle, Douglas dan Pirard (1983) (didiskusikan juga dalam Bourdet, Ayoub, dan
Pirard, 1989). Derivative plot tersebut menyediakan sebuah presentasi simultan tentang log ΔP
vs log Δt dan log dP/dt vs log Δt, seperti di gambar B.4.

67
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Keuntungan dari plot derivative ini adalah dapat memperlihatkan berbagai jenis
karakteristik dalam satu grafik, dimana seharusnya dibutuhkan berbagai macam plot.
Karakteristik ini ditunjukkan pada gambar B.5 – B.12, dibandingkan denga plot traditional.

Gambar B.5.
Aliran Radial Infinite Acting Ditunjukan sebagai Semilog Straight Line pada Semilog Plot,
sebagai Flat Region Dalam Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Gambar B.6.
Storage Ditunjukkan sebagai Suatu Unit Slope (Kemiringan) Straight Line pada Sebuah
Log – Log Plot, sebagai Suatu Unit Slope Line Ditambah Kenaikkan pada Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Gambar B.7.
Sebuah Finite Conductivity Fracture Ditunjukkan sebagai ¼ Slope Line pada Log – Log
Plot, Sama pada Derivative Plot
(Roland N, 1990)

68
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.8.
Sebuah Infinite Conductivity Fracture Ditunjukkan sebagai ½ Slope Line pada Log – Log
Plot, Sama Seperti Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Gambar B.9.
Perilaku Double Porosity (Porositas Ganda) Ditunjukkan sebagai 2 Parallel Semilog
Straight Line pada Semilog Plot, sebagai Suatu Minimum pada Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Gambar B.10.
Sebuah Outer Boundary Tertutup (Closed, Pseudostead State) Ditunjukkan sebagai
Straight Line pada Cartesian Plot, sebagai Peningkatan Straight Line Yang Curam pada
Derivative Plot
(Roland N, 1990)

69
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.11.
Sebuah Linear – Impermeable Boundary Ditunjukan sebagai Semilog Straight Line dengan
Kemiringan Yang Ganda (Double Slope) dalam Semilog Plot, sebagai Flat Region Kedua
Pada Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Gambar B.12.
Sebuah Boundary dengan Pressure yang Konstan Ditunjukkan sebagai Flat Region dalam
Hampir Keseluruhan P Vs T Plot, sebagai Suatu Penurunan Terus – Menerus dalam
Derivative Plot
(Roland N, 1990)

Sebenarnya, perilaku double porosity lebih mudah untuk dilihat dalam derivative plot
(gambar B.9) bahkan ketika simlog straight line pertama terganggu oleh wellbore storage
Walaupun derivative plot sejauh ini merupakan yang paling berguna dalam diagnosis,
bukan berarti memiliki keakuratan yang tinggi dalam perhitungan ketika memperkirakan
parameter – parameter. Maka dari itu terdapat plot – plot lain (terutama semilog plot) yang
dibutuhkan.
Menghitung tekanan derivative membutuhkan ketelitian, karena proses men-
differensiasi-kan data akan meningkatkan noise yang mungkin akan muncul. Sebuah differensiasi
numerik yang straightforward menggunakan point yang sejajar (Persamanaan B-3) akan
menghasilkan derivative yang memiliki noise yang besar
𝑑𝑃 (𝑡𝑖 − 𝑡𝑖−1 )∆𝑝𝑖+1 (𝑡 + 𝑡 −2𝑡𝑖 )∆𝑝𝑖 (𝑡𝑖+1 − 𝑡𝑖 )∆𝑝𝑖−1
𝑡 ( )𝑖 = 𝑡𝑖 [ + (𝑡𝑖+1 𝑖−1 − ] ............................. (B-3)
𝑑𝑡 (𝑡𝑖+1 − 𝑡𝑖 )(𝑡𝑖+1 − 𝑡𝑖−1 ) 𝑖+1 − 𝑡𝑖)(𝑡𝑖 − 𝑡𝑖−1 ) (𝑡𝑖 − 𝑡𝑖−1 )(𝑡𝑖+1 − 𝑡𝑖−1 )

70
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.13.
Noise Derivative
(Roland N, 1990)

Jika data terdistribusi dalam progress geometris (dengan perbedaan waktu dari satu titik
ke selanjutnya menjadi meningkat selama test berlangsung), maka noise di derivative bisa
diturunkan dengan menggunakan differensiasi numerik dengan mempertimbangkan logaritmik
dari waktu:
𝑡 𝑡
ln( 𝑖 )∆𝑝𝑖+1 ln( 𝑖+1)∆𝑝𝑖−1
𝑑𝑝 𝑑𝑝 𝑡𝑖−1 ln(𝑡𝑖+1 𝑡𝑖−1 /𝑡𝑖 2)∆𝑝𝑖 𝑡𝑖
𝑡( )𝑖 = ( ) = + − ................................... (B-4)
𝑑𝑡 𝑑 ln 𝑡 𝑖 𝑡
ln( 𝑖+1
𝑡
) ln(𝑡𝑖+1)
𝑡
ln( 𝑖+1
𝑡
) ln(𝑡 𝑖 ) ln(𝑡
𝑡𝑖 𝑡
) ln(𝑡𝑖+1 )
𝑡𝑖 𝑖−1 𝑡𝑖 𝑖−1 𝑖−1 𝑖−1

Namun, bahkan pendekatan ini menuju derivative dengan noise. Metode terbaik untuk
mengurangi noise adalah dengan menggunakan data yang terpisah setidaknya 0.2 dari log cycle,
daripada data yang langsung berseberangan. Maka:
𝑡𝑖+𝑗 𝑡𝑖−𝑘 𝑡𝑖+𝑗
ln( )∆𝑝𝑖 ln( )∆𝑝𝑖−𝑘
𝑑𝑝 𝑑𝑝 ln(𝑡𝑖 /𝑡𝑖−𝑘)∆𝑝𝑖+𝑗 𝑡𝑖2 𝑡𝑖
𝑡( )𝑖 = ( ) = + − ........................................... (B-5)
𝑑𝑡 𝑑 ln 𝑡 𝑖 𝑡𝑖+𝑗
ln( 𝑡 ) ln(𝑡 )
𝑡𝑖+𝑗 𝑡𝑖+𝑗
ln( 𝑡 ) ln(𝑡 𝑖 )
𝑡 𝑡 𝑡𝑖+𝑗
ln(𝑡 𝑖 ) ln(𝑡 )
𝑖 𝑖−𝑘 𝑖 𝑖−𝑘 𝑖−𝑘 𝑖−𝑘

ln 𝑡𝑖+𝑗 − ln 𝑡𝑖 ≥ 0.2 ......................................................................................................................................... (B-6)


ln 𝑡𝑖 − ln 𝑡𝑖−𝑘 ≥ 0.2 ....................................................................................................................................... (B-7)
Harga 0.2 (diketahui sebagai diferensiasi interval) bisa digantikan dengan harga yang
lebih kecil atau lebih besar (biasanya antara 0.1 – 0.5), dengan penggantian harga akan merubah
kondisi noise. Gambar B.14a hingga c membandingkan perbedaan kehalusan dari noise yang
didapat. Perhatikan jika interval sangat besar digunakan (0.5 pada gambar B.14c), maka bentuk
dari kurva perhitungan derivative (direpresentasikan sebagai poin dalam gambar B.14a-c)
mungkin akan membelok. Pada gambar B.14c, point yang berada dikanan dari lekukan storage
terposisi ke bagian kanan, sebagai perbandingan dengan gambar B.14a dan b

71
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Harus diperhatikan bahwa penggunaan dari interval differensiasi mungkin akan
menyebabkan masalah – masalah dalam menentukan derivative di bagian akhir dari kurva
derivative, karena datanya “habis” dalam differensiasi interval terakhir. Beberapa noise akan
muncul pada akhir dari data. Selain itu, pendekatan interval differensiasi terkadang terlalu
meratakan derivative di early time, walaupun bagian data ini tidak bereaksi dengan noise pun,
terkadang lebih baik menggunakan differensiasi aritmatik pada poin – poin awal (Eq. 3.2)

Gambar B.14a.
Interval Differensiasi 0.1
(Roland N, 1990)

Gambar B.14b.
Interval Differensiasi 0.2
(Roland N, 1990)

72
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018
Gambar B.14c.
Interval Differensiasi 0.5
(Roland N, 1990)

73
LABORATORIUM ANALISA TEKANAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN”V” YOGYAKARTA 2018