Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Fraktur adalah gangguan kontinuitas yang normal dari suatu tulang.
(Keperawatan Medical Bedah, Buku1)
Fraktur femur adalah hilangnya kontinuitas tulang paha tanpa tau disertai
adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, dan pembuluh
darah). Fraktur femur disebut terbuka apabila terdapat hubunganlangsung
antara tulang dengan udara luar. Kondisi ini secara umum disebabkan oleh
trauma langsung pada paha. (Buku Saku Kedaruratan dibidang Bedah
Ortopedi, 2012)
Frakur femur adalah patah tulang,biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulng itu
sendiri, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah
fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi
apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak
melibatkan seluruh kekebalan tulang.
Tingkatan Fraktur
1. Grade I : Sakit jelas, dan sedikit kerusakan kulit
2. Grade II : Fraktur terbuka dan sedikin kerusakan kulit
3. Gradee III : Banyak sekali jejak kerusakan kulit, otot dan
jaringan syaraf, pembuluh darah serta luka seebesar 6-8cm.

Fraktu Terbuka dan Tertutup

Fraktur Tertutup

Farktur tertutup adalah dimana kulit tidak ditembus fragmen tulang,


sehiinga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.

Fraktur Terbuka

3
Fraktur dimna kulit dari ekstremitas yang terlibat telah di tembus. Yang
harus diperhatikan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan
pada tempat terjadinya fraktur terbuka. Fragmen fraktur dapat menembus
kulit pada saat terjadinya cedera, terkontaminasi, kemudian kembali
hampir padaa ke posisi semula.

Prinsip Pertolongan Fraktur

1. Pertolongan Pertama
Jika kondisi mengancam jiwa ddengan A,B,C terjadi pendarahan maka
tidak boleh syok
2. Penanganan Syok
3. Penilaian awal dan pemeriksaan diagnosa.
2.2 Anatomi dan Fisiologi

Femur terdiri dari:

Ujung atas, corpus, ujung bawah.

Ujung atas terdiri dari:

a. Caput: masa bulat yang mengarah kedalam dan ke atas; licin dan ditutupi
oleh tulang rawan kecuali pada povea, cekungan kecil yang merupakan
tempat melekatnya ligamentum yang menghubungkan caput pada daerah
yang kasar pada acetabulum os coxae,
b. Collum; corpus femoris yang mengarah ke bawah dan lateral,
menghubungkan caput dengan corpus,
c. Trochanter major disebelah lateral dan trochanter minor disebelah medial:
eminentia untuk perlengkatan otot.

Corpus adalah tulang panjang:

Yang mengecil dibagian bawah sebagian besar permukaannya licin dan


memiliki otot yang melekat pada bagian ini. Dibagian posterior terdapat linea
aspera yang merupakan rigi tulang ganda, yang berjalan kea rah bawah dari

3
trochanter diatas dan melebar pada bagian bawah mengapit pada bagian yang
licin.

Ujung bawah terdiri dari: condyles medialis dan lateralis yang besar dan
sebuah daerah tulang diantaranya. Condyles memiliki permukaan sendi untuk
tibia dibagian bawah dan patella dibagian depan.

2.3 Etiologi

Fraktur dapat di sebabkan oleh:

1. Trauma atau tenaga Fisik


2. Tumor (Tumor prier ataupun Tumor Metatase)
3. Dua tulang menumpuk tulang ke tiga yang berada di ataranya.
4. Osteoporosis, Infeksi atau penyakit lainnya.
2.4 Klasifikasi
menurut Helmi (2012) fraktur femur dapat dibagi 5 jenis berdasarkan letak
garis fraktur seperti dibawah ini:
a. Fraktur intertrokhanter femur
Merupakan patah tulang yang bersifat ekstra kapsuler dari femur, sering
terjadi pada lansia dengan kondisi osteoporosis. Fraktur ini memiliki risiko
nekrotik avaskuler yang rendah sehingga prognosanya baik.
Penatalaksanaan sebaiknya dengan reduksi terbuka dan pemasangan
fiksasi internal. Intervensi konservatif hanya dilakukan pada penderita
yang sangat tua dan tidak dapat dilakukan dengan anastesi general.
b. Fraktur subtrokhanter femur
Garis fraktur berada 5 cm distal dari trochanter minor, diklasifikasikan
menurut filding & magliato sebagai berikut: 1) tipe 1 adalah garis fraktur
satu level dengan trochanter minor: 2) tipe 2 adalah garis patah berada 1-2
inci dibawah dari batas atas trochanter minor: 3) tipe 3 adalah 2-3 inci dari
batas atas trochanter minor. Penatalaksanaannya dengan cara reduksi
terbuka dengan fiksasi internal dan tertutup dengan pemasangan traksi

3
tulang selama 6-7 minggu kemudian dilanjutkan dengan hip gips selama 7
minggu yang merupakan alternative pada pasien dengan usia muda.
c. Fraktur batang femur
Fraktur batang femur biasanya disebabkan oleh trauma langsung. Secara
klinis dibagi menjadi: 1) fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan
jaringan lunak, risiko infektif dan perdarahan dengan penatalaksanaan
berupa debridement, terapi anti biotika serta fiksasi internal maupun
eksternal: 2) fraktur tertutup dengan penatalaksanaan konservatif berupa
pemasangan skin traksi serta operatif dengan pemasangan plate-screw
d. Fraktur suprakondiler femur
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi
sehingga terjadi gaya aksial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya
rotasi. Penatalaksanaan berupa pemasangan traksi berimbang dengan
menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut pearson, kaccast-bracing
dan spika pinggul serta operatif pada kasus yang gagal konservatif dan
fraktur terbuka dengan pemasangan nail-phroc dare screw.
e. Fraktur kondiler femur
Mekanisme trauma fraktur ini biasanya merupakan kombinasi dari gaya
hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur
keatas. Penatalaksanaanya berupa pemasangan traksi tulang selama 4-6
minggu dan kemudian dilanjutkan dengan penggunaan gips minispika
sampai union sedangkan reduksi terbuka sebagai alternative apabila
konservatif gagal.
2.5 Patofisiologi

Paha mendapat distribusi darah dari percabangan arteri iliaka. Secara


anatomis pembuluh darah arteri mengalir di sepanjang paha dekat dengan
tulang paha, sehingga apabila terdapat fraktur femur juga akan menyebabkan
cedera pada arteri femoralis yang berdampak banyaknya darah yang keluar
(setiap kejadian patah satu tulang femur diprediksi akan menghilangkan darah
sebanyak 500 ml dari system vascular) sehingga berisiko tinggi terjdai syok

3
hipovolemik. Distribusi saraf perifer berjalan pada sepanjang tulang femur,
sehingga adanya fraktur femur akan mengakibatkan saraf terkompresi,
menyebabkan respons nyeri hebat yang berisiko terhadap kondisi syok
neurogenic pada fase awal.

2.6 Tanda & Gejala

Tanda-tanda fraktur pasti

1. Deformitas
2. Krepitasi
3. False movement (gerakan tak biasa)
4. Foto roentgen

Tanda-tanda fraktur tidak pasti

1. Odema
2. Nyeri tekan
3. Nyeri gerak
4. Luka
2.7 Pemeriksaa penunjang
1. Radiografi
2. CT-Scan
3. MRI
2.8 Gambaran Klinis fraktur
1. Pada tulang traumatic dan cedera jaringan lunak biasanya di sertai nyeri.
Setelah terjadi patah tulang terjadi spasme otot yang menambah rasa
nyeri. Setelah terjadi patah tulang terjadi spasme otot yang menambah
rasa nyeri. Pada fraktur stres, nyeri biasanya timbul pada saat aktifitas
dan hilang pada saat istirahat. Faktor patologis mungkin tidak di sertai
nyeri
2. Nyeri, Bengkak, dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tendrerness)
3. Deformitas : ubahan bentuk tulang
4. Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ekstemitas yang tidak alami

3
5. Pembengkakan di sekitar fraktur akan menyebabkan proses peradangan
6. Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian terdekat
7. Gerakan abnormal
8. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang
mengisyaratkan kerusakan syaaraf. Denyut nadi di bagian distal fraktur
harus utuh dan setara dengan bagian non fraktur. Hilangnya denyut nadi
sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen.
9. Krepitas suara gemertak akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang
satu sama lain.
2.9 Komplikasi
1. Trauma syaraf
2. Trauma pembulu darah
Indikasi iscemia post trauma : pain, pulseless, parasthesia, pale,
paralise→Kompartemen syndrome : kumpulan gejala yang terjadi
karena kerusakan akibat trauma dalam jangka waktu 6 jam pertama, jika
tidak dibersihkan maka sampai terjadi nekroe→amputasi.
3. Komplikasi tulang :
a. Delayed union : penyatuan tulang lambat
b. Non unuion : tidak bisa nyambung
c. Mal union : salah sambung
d. Kekakuan sendi
e. Nekrosis avaskuler
f. Osteoarhtritis
g. Reflek simpatik distrofi
h. Stress pasca trumatik
i. Dapat timbul embolik lemah setelah patah tulang, terutama tulang
panjang
2.10 Penatalaksanaan

Setelah kondisi mengancam jiwa telah stabil atau dikesampingkan, intervensi


fraktur femur dapatdiatasi.

3
Berikut adalah beberapa intervensi yang dilakukan di bagian gawat darurat.

1. Reduksi dan imobilisasi fraktur


a. Reduksi fraktur dilakukan untuk menurunkan nyeri dan membantu
mencegah formasi hematom. Reduksi dapat dilakukan dengan
menggunakan traksi
b. Bidai pneumatic dipasang untuk menurunkan kehilangan darah
dengan memberikan tekanan dan temponade pada formasi hematom.
Traksi diperlukan untuk menahan tulang paha agar tidak memberikan
tekanan pada jaringan lunak akibat kontraksi massa otot paha yang
besar dan kuat pada saat mengalami spasme.
2. Pemberian analgesic yang tepat dalam manajemen nyeri harus segera
diberikan.
3. Profilaksis antibiotic
4. Transfuse darah, terutama pada fraktur femur terbuka dengan adanya
penurunan kadar hemoglobin
5. Konsultasi ortopedi untuk intervensi reduksi terbuka

BAB 3
KASUS

Ny. A. umur 31 thn datang kerumah sakit pada tanggal 10 oktober 2011,
klien di diagnosa menderita fraktur femur dextra dengan keluhan yang
dirasakan saat ini nyeri pada paha sebelah kanan yang disebabkan adanya
luka fraktur ( saat ini pasien sudah dioperasi dan dipasang pen).
Hal yang memperbaiki keadaan adalah istirahat, membatasi pergerakan
terutama didaerah fraktur, dan terapi analgetik, hal ini yang memperberat.
Keadaan saat melakukan pergerakan dan aktivitas, terutama pada daerah
fraktur mengakibatkan terganggunya ganguan aktivitas. Hal ini dirasakan
klien sejak tanggal 05 oktober 2011 dan nyeri muncul secara bertahap
tetapi juga kadang spontan.

3
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 10 oktober 2011 dengan
keadaan umum sedang dengan tanda vital sign TD : 100/60 mmHg, RR :
22 x/i, HR : 76x/i, TEMP : 36 derajat celcius berdasarkan hasil penilaian
ekstermitas bawah terutama pada ekstermitas bawah kanan disimpulkan
bahwa nilai kekuatan otot : 2, sehingga klien mengalami keterbatasan
dalam pergerakan sehingga susah memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-
hari, pola makan klien 3x1 sehari, selera makan dan porsinya menurun,
klien tidak mampu untuk berjalan memenuhi kebutuhan eliminasi dan
personal hygien sehingga kebutuhan ini dibantu oleh perawat dan
keluarga. Pola istirahat tidur klien setelah sakit berubah/mengalami
penurunan dimana tidur malam + 5 jam, tidur siang + 1 jam, hal ini terjadi
akibat nyeri yang timbul sehingga klien tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Klien mengatakan skala nyeri kadang 4 kadang hingga 6 jika digunakan
untuk bergerak, nyeri terasa seperti diremas-remas, nyeri hilang timbul
karena gerakan, lama nyeri 10-15 menit.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. A DENGAN FRAKTUR FEMUR

I. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 05 Maret 2017
Tanggal masuk Rumah Sakit : 05 Maret 2017
Ruang :
Jam :
No. Rekan Medis :
Diagnosa Medik : Fraktur Femur
A. BIODATA
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Umur : 31 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Sunda

3
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jln. Rancabentang Rt3/ Rw 7

2. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn. B
Umur : 44 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pendidikan : SMA
Pekerjan : Wiraswasta
Hub. Dengan Pasien : Suami Dari Pasien
Alamat : Jln. Rancabentang Rt3/Rw7

B. RIWAYAT KESEHATAN

1. Keluhan Utama :
Klien mengeluh nyeri pada paha sebelah kanan yang
disebabkan adanya luka fraktur

2. Riwayat Kesehatan Sekarang :


Klien mengeluh nyeri pada paha sebelah kanan yang
disebabkan adanya luka fraktur ( saat ini pasien sudah
dioperasi dan dipasang pen), nyeri muncul secara bertahap
tetapi juga kadang spontan, klien juga mengatakan jika
digunakan untuk bergerak, nyeri terasa seperti diremas-remas,
nyeri hilang timbul karena gerakan, lama nyeri 10-15 menit. hal ini ia
rasakan sejak tanggal 5 oktober 2011

3. Riwayat kesehatan dahulu : -

4. Riwayat kesehatan keluarga : -

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg

3
Nadi : 76x/i
Respirasi : 22 x/i
Suhu : 36˚ c

b. Pengkajian Head To Toe


a. Kepala :
Bentuk kepala profosional, distribusi rambut merata,
rambut tebal,warna rambut hitam, kulit kepala bersih,
tidak ada massa, tidak tercium bau
b. Muka :
Kulit bewarna sawo matang, struktur
muka(mata,hidung,mulut,telinga) simetris, dan tidak ada
nyeri pada sinus wajah
c. Mata :
Bentuk kedua mata simetris, warna konjungtiva merah,
warna sclera putih,reaksi pupil terhadap cahaya (+),
pergerakan bola mata simetris, penglihatan baik klien
dapat membaca/ melihat tanpa menggunakan kacamata

d. Hidung :
Bentuk hidung proposional, tidak ada bengkak & tidak ada
secret, tidak ada nyeri tekan, fungsi penciuman baik, dapat
membedakan harum kopi & minyak kayu putih.
e. Mulut :
Bentuk mulut proposional, warna bibir merah muda .
jumlah gigi 28, tidak ada lubang gigi, tidak ada caries gigi,
mukosa mulut tidak bau, tidak terdapat pembesaran/
peradangan pada tonsil, letak ulvula ditengah. Fungsi
pengecapan baik.
f. Telinga :
Bentuk kedua telinga simetris, pina sejajar dengan kantus
mata, tidak ada serumen, tidak ada benjolan, fungsi
pendengaran baik klien dapat mendengar detik jam
tangan, dan dapat mendengar gesekan tangan.
g. Leher :
Bentuk proposional, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,
letak trakhea ditengah, tidak ada pembesaran kelenjar
getah bening.

3
h. Dada & paru-paru :
Bentuk dan pergerakan dada simetris antara yg kanan dan
yg kiri, tidak ada lesi dan nyeri
i. Jantung :
Tidak ada pembesaran jantung,tidak ada rasa nyeri,bunyi
jantung saat diaustukultasi terdengar 84x/menit
j. Abdomen :
Warna kuning langsat,bentuk datar, tidak ada pembesaran
organ, tidak ada massa, frekuensi bising usus 10x/menit
k. Ekstremitas atas :
Bentuk simetris,tidak ada bengkak,dapat merasakan
sensasi halus tajam panas dan dingin,

5 5

l. Ekstremitas bawah :
Bentuk simetris, tidak ada bengkak, terpasang sebuah pen
pada kaki sebelah kanan, terasa nyeri dan sulit untuk
digerakkan

2 5

m. Genitalia :
Bentuk sesuai (normal), tidak ada lesi tidak ada
pembengkakakn dan tidak ada luka.
n. Anus :
Menurut keterangan klien tidak ada hemoroid/ lesi
kemerahan dan tidak ada massa

D. POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI

3
No. Jenis aktivitas Dirumah Dirumah Sakit
1. Nutrisi
a. Makan
- Jenis makanan Nasi,sayur, lauk pauk Nasi,sayur,buah-
- Porsi 1 porsi buahan
- Frekuensi 3x1 3x1
- Keluhan - Porsi makan menurun
b. Minum
- Jenis
- Frekuensi
- Keluhan Air putih, jus,dll Air putih
5-6 gelas 3-4 gelas
2. Istirahat Dan Tidur
a. malam
- kualitas 7-8 jam +5 jam
- keluhan - Sulit tidur karena
b. Siang terasa nyeri pada kaki
- kualitas 2 jam +1 jam
- keluhan - Terjadi penurunan
akibat nyeri

3. Eliminasi
a. BAK
- Warna Kuning jernih Kuning
- Bau Bau khas Bau khas
- Kesulitan - Merasa sakit saat BAK
- Tempat Ke wc ke Wc
- Frekuensi 3-5x/hari 5-6x/hari

b. BAB
- Warna Warna khas Warna khas
- Bau Bau khas Bau khas
- Kesulitan - Merasakan sakit
- Konsistensi Lunak Lunak
- Tempat Di wc 2 hari sekali
- Frekuensi 1xsehari
4. Personal Hygiene
a. Mandi
- beberapa kali sehari 2x sehari 1x sehari (seka)
- frekuensi sikat gigi 3xsehari 1x/hari
- tempat Di kamar mandi Di Bed
- mencuci rambut 2 hari sekali 3 hari sekali

3
b. Berpakaian
- frekuensi 2x sehari 1x sehari
5. Mobilitas Dan Aktivitas
- aktivitas yang Klien biasa mengerjakan Aktivitas klien sedikit
dilakukan pekerjaan rumah tangga, terganggu karena klien
dan jika hari libur klien ber sering merasa nyeri
rekrasi dengan keluarga. pinggul/pinggang dan
merasa pusing karena
sering perdarahan pada
vaginanya

- kesulitan Tidak ada kesulitan pada Aktivitas klien


saat beraktivitas dirumah. terkadang dibantu oleh
keluarganya atau
meminta bantuan
perawat di ruangan.

E. Data Psikososial
Klien dapat menerima dengan sabar terhadap penyakit yang
dideritanya . klien juga dapat beradaptasi dengan baik
dilingkungan Rumah Sakit dan tim kesehatan.
F. Data spiritual
Klien beragama islam, sebelum dirumah sakit klien tidak pernah
lupa beribadah 5 waktunya. Namun saat dirawat diRumah sakit
klien tidak dapat beribadah 5 waktu. Klien terkadang hanya
berdoa untuk meminta kesembuhannya.
G. Data penunjang
Pemeriksaan Diagnostik:
1. Radiografi
2. CT Scan

II. Analisa Data

Tanggal DATA ETIOLOGI MASALAH


06 DS : Klien mengatakan sakit Nyeri akut
Maret pada kakinya dengan skala 4

3
2017 kadang sampai 6
DO : - klien tampak meringis
- Klien tampak pucat
TTV :
TD = 100/60 MmHg
N = 76x/menit
S = 36˚c
R = 22x/menit
06 DS : Gangguan mobilitas
Maret DO : fisik b.d nyeri daerah
2017 TTV : fraktur
TD = 100/60 MmHg
N = 76x/menit
S = 36˚c
R = 22x/menit
06 DS : Resiko tinggi terhadap
Maret DO : kerusakan integritas
2017 TTV : kulit b.d pemasangan
TD = 100/60 MmHg traksi pen
N = 76x/menit
S = 36˚c
R = 22x/menit
III. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri daerah fraktur
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b.d pemasangan
traksi pen

INTERVENSI KEPERAWATAN

HARI/
DIAGNOSA TUJUAN/CRITERIA
NO TANG INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
GAL
05 Nyeri Akut Setelah dilakukan 1. Pertahankan bagian 1. Menghilangkan nyeri
1. Maret asuhan keperawtan yang sakit dengan tirah dan mencegah
2017 selama 3x24 jam baring kesalahan posisi
Nyeri hilang dengan tulang/jaringan yang
kriteria Hasil: cedera
- Rilek 2. Evaluasi keluhan 2. Mempengaruhi pilihan
- Mampu nyeri/ketidaknyaman, atau pengawasan
berpartisipasi dalam keefektifan intervensi.
perhatikan lokasi dan
aktivitas/tidur/

3
istirahat dengan tepat. karakteristik, termasuk Tingkat ansietas dapat
intensitas (skala 0 – mempengaruhi persepsi
10). Perhatikan atau reaksi terhadap
petunjuk nyeri non nyeri
verbal
3. Lakukan dan awasi 3. Mempertahanakan
latihan rentang gerak kekuatan atau mobilitas
pasif/aktif otot yang sakit dan
memudahkan resolusi
implamasi pada
jaringan yang cedera
4. Dorong/ajari teknik 4. Memfokuskan kembali
manajemen nyeri, perhatian,
latihan nafas dalam, meningkatkan rasa
sentuhan teraupeti kontrol, dan dapat
selidiki keluhan nyeri meningkatkan
yang tidak biasa/tiba- kemampuan koping
tiba dalam manajemen nyeri
yang mungkin menetap
untuk periode lebih
lama
2. 05 Gangguan mobilitas Setelah diberikannya 1. Instruksikan pasien 1. Meningkatkan aliran
Maret fisik b.d nyeri asuhan keperawtan untuk/bantu dalam darah ke otot dan tulang
2017 daerah fraktur selama 3x24jam klien rentang gerak untuk meningkatkan
dapat Meningkatkan pasien/aktif pada tonus otot,
atau ekstremitas yang sakit mempertahankan gerak
mempertahankan dan yang tidak sakit sendi, mencegah
mobilitas fisik dengan kontraktor/atrofi dan
kriteria hasil : resporpsi kalsium karena
- Mampu melakukan tidak digunakan
aktivitas. 2. Bantu.dorong 2. Meningkatkan kekuatan
perawatan diri/ otot dan sirkulasi,
kebersihan (contoh; meningkatkan kontrol
mandi) pasien dalam situasi, dan
meningkatkan kesehatan
diri langsung.
3. Berikan/bantu dalam 3. Mobilisasi dini
mobilisasi dengan menurunkan komplikasi
kursi roda, kruk, tirah baring (contoh;
tingkat, sesegera flebitis) dan
mungkin meningkatkan
penyembuhan dan
normalisasi fungsi organ.

3
3. 05 Resiko tinggi Setelah diberikannya 1. Kaji kulit untuk luka 1. Memberikan informasi
Maret terhadap kerusakan asuhan keperawatan terbuka, benda asing, tentang sirkulasi kulit
2017 integritas kulit b.d selama 3x24jam klien kemerahan, dan masalah yang
pemasangan traksi dapat Mencegah perdarahan, perubahan mungkin disebabkan
pen kerusakan integritas warna kelabu, oleh alat pemasangan
kulit dengan kriteria: memutih pen
- Mencapai
penyembuhan sesuai 2. Ubah posisi dengan 2. Mengurangi tekanan
waktu sering konstan pada area yang
- Ketidaknyamanan
sama dan
hilang.
meminimalkan resiko
kerusakan kulit.
3. Kaji posisi cincin 3. Posisi yang tidak tepat
bebat pada alat traksi dapat menyebabkan
cidera kulit
4. Letakan bantalan 4. Meminimalkan tekanan
pelindung di bawah pada area ini
kaki dan di atas
tonjolan tulang

Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan

Hari/ Diagnosa Jam Implementasi Jam Evaluasi Paraf


tanggal keperawatan
1. Mempertahankan S:
05 Nyeri Akut bagian yang sakit O:
Maret dengan tirah baring A:
2017 2. Mengevaluasi keluhan P:
nyeri/ketidaknyaman,
perhatikan lokasi
dan karakteristik,
termasuk intensitas
(skala 0 – 10).
Perhatikan petunjuk
nyeri non verbal
3. Melakukan dan
mengawasi latihan
rentang gerak
pasif/aktif
4. Dorong/ajari teknik
manajemen nyeri,

3
latihan nafas dalam,
sentuhan teraupeti
selidiki keluhan
nyeri yang tidak
biasa/tiba-tiba
Gangguan 1. Menginstruksikan S:
mobilitas fisik pasien untuk/bantu O:
b.d nyeri daerah dalam rentang gerak A:
fraktur pasien/aktif pada
ekstremitas yang P:
sakit dan yang tidak
sakit
2. Membantu.dorong
perawatan diri/
kebersihan (contoh;
mandi)
3. Memberikan/bantu
dalam mobilisasi
dengan kursi roda,
kruk, tingkat,
sesegera mungkin
Resiko tinggi 1. Mengkaji kulit S:
terhadap untuk luka terbuka, O:
kerusakan benda asing, A:
integritas kulit kemerahan,
perdarahan, P:
b.d pemasangan
perubahan warna
traksi pen
kelabu, memutih
2. Mengubah posisi
dengan sering
3. Mengkaji posisi
cincin bebat pada
alat traksi
4. Meletakan bantalan
pelindung di bawah
kaki dan di atas
tonjolan tulang