Anda di halaman 1dari 13

KERANGKA ACUAN KERJA

(K A K)

KONTRAKTUAL

PEMANTAUAN DAN EVALUASI


RTR KSN KAWASAN BOROBUDUR

TAHUN ANGGARAN 2019

DIREKTORAT PEMANFAATAN RUANG

DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG


KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/
BADAN PERTANAHAN NASIONAL
KERANGKA ACUAN KERJA
PEMANTAUAN DAN EVALUASI RTR KSN KAWASAN BOROBUDUR
DAN SEKITARNYA

Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan


Pertanahan Nasional
Unit Eselon I/II : Direktorat Jenderal Tata Ruang/Direktorat
Pemanfaatan Ruang
Program : Program Perencanaan Tata Ruang dan
Pemanfaatan Ruang
Hasil (Outcome) : Terlaksananya Pemantauan dan Evaluasi
RTR KSN Kawasan Borobudur dan sekitarnya
Kegiatan : Pemantauan dan Evaluasi RTR KSN Kawasan
Borobudur dan sekitarnya
Indikator Kinerja Kegiatan : Jumlah Dokumen Pemantauan dan Evaluasi
RTR KSN Kawasan Borobudur dan sekitarnya
Jenis Keluaran (Output) : Dokumen Pemantauan dan Evaluasi RTR
KSN Kawasan Borobudur dan sekitarnya
Volume Keluaran(Output) : 1 (satu)
Satuan Ukuran Keluaran : KSN
(Output)
Jenis Paket Kegiatan : Kontraktual
KERANGKA ACUAN KERJA
PEMANTAUAN DAN EVALUASI RTR KSN KAWASAN BOROBUDUR
DAN SEKITARNYA

I. LATAR BELAKANG
A. Dasar Hukum
Pembentukan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan
Pertanahan Nasional (BPN) didasarkan pada Peraturan Presiden No. 17 Tahun
2015. Direktorat Pemanfaatan Ruang merupakan bagian dari Direktorat Jenderal
Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN sebagaimana tertuang
dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN Nomor 8/2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN. Permen
tersebut menjelaskan tentang tugas dan fungsi Direktorat Pemanfaatan Ruang
sebagai Unit Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Tata Ruang, serta
perangkat organisasi untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut.
Dasar Hukum
1. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68;
2. PP No. 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP No. 26 Tahun 2008
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 77;
3. PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21;
4. Perpres No. 58 Tahun 2014 tentang RTR Kawasan Borobudur dan Sekitarnya,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 137; dan
5. Permen ATR/Kepala BPN No. 9 Tahun 2017 tentang Pedoman Pemantauan
dan Evaluasi Pemanfaatan Ruang.

B. Gambaran Umum
Sesuai dengan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang pasal 55 ayat
2 perlu dilakukan pengawasan untuk menjamin tercapainya tujuan
penyelenggaraan penataan ruang. Kegiatan pengawasan tersebut terdiri dari
tindakan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Tindakan pemantauan, evaluasi,
dan pelaporan terhadap penyelenggaraan penataan ruang merupakan kegiatan
mengamati dengan cermat, menilai tingkat pencapaian rencana secara objektif,
dan memberikan informasi hasil evaluasi secara terbuka terhadap
penyelenggaraan penataan ruang, yang meliputi: pengaturan, pembinaan,
pelaksanaan, dan pengawasan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang menegaskan pula bahwa
pentingnya kegiatan evaluasi sebagai salah satu bentuk pengawasan. Kegiatan
evaluasi yang dilakukan dalam rangka : menganalisis penyebab terjadinya
permasalahan-permasalahan penataan ruang yang timbul, memperkirakan
besaran dampak akibat permasalahan yang terjadi, menganalisis tindakan yang
diperlukan untuk menghilangkan dan/atau mengurangi penyimpangan dan
dampak yang timbul dan akan terjadi, dan merumuskan langkah tindak lanjut yang
diperlukan.
RTRWN menetapkan 76 Kawasan Strategis Nasional (KSN) yang secara
definisi merupakan wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan
negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Hingga
tahun 2018, 17 KSN telah ditetapkan menjadi Peraturan Presiden yang kemudian
akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan pembangunan di KSN tersebut. Adapun
KSN yang telah ditetapkan menjadi Perpes adalah: Kawasan Perbatasan Negara
(KPN) Kalimantan, KPN NTT, KPN Papua, KPN Maluku, KPN Maluku Utara-
Papua Barat, KPN Papua dan KPN Sulut-Gorontalo-Sulteng-Kaltim-Kaltara;
Kawasan Metropolitan Mebidangro, Metropolitan Mamminasata, Metropolitan
Sarbagita, dan Metropolitan Jabodetabekjur; KSN Borobudur; KSN Kawasan
Danau Toba dan Sekitarnya; KSN Kawasan Merapi dan Sekitarnya; KSN Batam
Bintan Karimun; KSN Perkotaan Kedungsepur; KSN Perkotaan Cekungan
Bandung dan KPN Aceh Sumut.
Kawasan Borobudur dan Sekitarnya merupakan bentuk dari Kawasan
Strategis Nasional yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan lingkungan
hidup. Kawasan Borobudur sendiri menjadi salah satu lokasi dari 10 destinasi
pariwisata prioritas di dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang
tertuang dalam RPJMN tahun 2015-2019. Di dalam Rencana Tata Ruang KSN
Kawasan Borobudur dan Sekitarnya, pengembangan yang direncanakan
diarahkan untuk menjadikan Borobudur sebagai: kawasan cagar budaya nasional
dan warisan budaya dunia yang lestari.
Untuk selanjutnya, perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap
peraturan perundangan tersebut untuk melihat implementasinya. Dalam UUPR
dan PP Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (PP
PPR) diamanatkan bahwa perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap RTR
secara rutin 5 (lima) tahun sekali dan dapat dapat dilakukan dari waktu rutin
apabila dalam kondisi lingkungan strategis tertentu, seperti bencana alam skala
besar dan/atau perubahan batas teritorial. Proses pelaksanaan peninjauan
kembali dilakukan melalui kegiatan pengkajian, evaluasi, dan penilaian terhadap
rencana tata ruang dan penerapannya.
Sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan amanat UUPR dan PP PPR
maupun prioritas Pemerintah dalam bidang kepariwisataan, maka pada tahun
anggaran 2018 Direktorat Pemanfaatan Ruang akan melakukan kegiatan
Pemantauan dan Evaluasi RTR KSN Kawasan Borobudur dan Sekitarnya.

II. MAKSUD DAN TUJUAN


A. Maksud
Meningkatkan kualitas penyelenggaraan penataan ruang dengan
peningkatan fungsi pengawasan melalui kegiatan Pemantauan dan Evaluasi RTR
KSN Kawasan Borobudur dan Sekitarnya.

B. Tujuan
1. Mengidentifikasi ketercapaian tujuan Rencana Tata Ruang Kawasan
Borobudur dan Sekitarnya;
2. Mengidentifikasi perwujudan dan ketidaksesuaian perwujudan rencana
struktur ruang dan rencana pola ruang (khususnya Kawasan Budidaya
diutamakan Kawasan Permukiman) RTR Kawasan Borobudur dan Sekitarnya
serta dampaknya terhadap kelestarian Candi Borobudur dan candi lainnya di
Zona Sub Pelestarian 1 ;
3. Mengidentifikasi dan menilai tingkat kesesuaian program sektor dengan
program RTR;
4. Mengkaji perkembangan implementasi RTR KSN (dalam kurun waktu minimal
4 tahun terakhir) dan faktor penyebabnya; dan
5. Merumuskan rekomendasi/masukan terhadap penyelenggaraan penataan
ruang (perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang).

III. MANFAAT
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan masukan dalam proses Peninjauan
Kembali (PK) RTR yang dilakukan secara rutin lima tahun sekali semenjak RTR
tersebut didefinitifkan. Selain itu, hasil kegiatan ini juga menjadi bahan masukan
bagi proses sinkronisasi program pemanfaatan ruang. Serta sebagai bahan
masukan bagi kegiatan pemantauan dan evaluasi pengendalian pemanfaatan
ruang.

IV. STRATEGI PENCAPAIAN KELUARAN


A. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan (Input, Proses, Output)

Pada dasarnya metode pelaksanaan kegiatan ini harus mengikuti Permen

ATR/Kepala BPN No. 9 Tahun 2017 tentang Pedoman Pemantauan dan Evaluasi
Pemanfaatan Ruang. Secara garis besar pelaksanaan pemantauan dan evaluasi
pemanfaatan ruang termuat di dalam Gambar 1.

Gambar 1. Bagan Tata Cara Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan


Ruang
B. Kebutuhan Data

 Dokumen RTR termasuk seluruh lampiran yang meliputi indikasi program


dan peta-peta;
 Rencana program pembangunan K/L sesuai dengan jangka waktu
pelaksanaan program sejak RTR diundangkan sampai dengan tahun
pelaksanaan pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang;
 Capaian / realisasi fisik dari program yang telah direncanakan dalam
jangka waktu pelaksanaan program sejak RTR diundangkan sampai
dengan tahun pelaksanaan pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang;
 Daftar program pembangunan daerah yang mendukung keterwujudan
RTR sesuai dengan jangka waktu pelaksanaan program sejak RTR
diundangkan sampai dengan tahun pelaksanaan pemantauan dan
evaluasi pemanfaatan ruang;
 Citra satelit dengan resolusi tinggi yang menggambarkan lokasi KSN
dengan time series sesuai dengan jangka waktu pelaksanaan
Pemantauan dan Evaluasi RTR KSN yang diolah menjadi peta. Peta ini
dibutuhkan guna mendukung pelaksanaan pemantauan dan evaluasi
terkait pola ruang;
 Dokumen Neraca Penatagunaan Tanah dan Peta Neraca Penatagunaan
Tanah; dan
 Peta RBI terbaru yang dibutuhkan guna mendukung pelaksanaan
pemantauan dan evaluasi terkait pola ruang.

C. Kebutuhan Analisis

Pemantauan dan Evaluasi RTR ini mencakup analisis struktur ruang dan pola
ruang. Terdapat dua aspek yang menjadi dimensi struktur ruang dan pola
ruang dalam pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi, yakni: aspek
perencanaan dan aspek pemanfaatan. Hal yang membedakan diantara
kedua aspek tersebut terletak pada waktu pelaksanaan program. Aspek
perencanaan terfokus pada rencana program yang ada di dalam RTR,
sedangkan aspek pemanfaatan terfokus selain pada program, juga pada
aspek waktu pelaksanaan program RTR.

Pemantauan dan Evaluasi RTR terkait struktur ruang dilakukan dengan


menyusun parameter untuk mengukur tingkat kesesuaian serta ketercapaian
program masing-masing. Parameter-parameter yang digunakan diambil dari
aspek-aspek yang dijabarkan didalam RTR, meliputi: nomenklatur/ kriteria,
tahapan pengembangan, lokasi, dan waktu pelaksanaan program.
Selanjutnya dilakukan penyusunan tipologi-tipologi kesesuaian program
untuk membagi tipe kesesuaian hasil persandingan antara program RTR
dengan program sektor/K/L. Analisis pada proses monitoring ini difokuskan
pada mengukur kesesuaian program sektor dengan rencana program dalam
RTR, hingga implementasi program tersebut oleh masing-masing sektor.

Untuk analisis pola ruang, juga dilakukan terhadap aspek perencanaan dan
aspek pemanfaatan. Proses yang ditempuh dilakukan dengan pendekatan
spasial menggunakan analisis GIS. Monitoring pola ruang ini dilakukan
dengan menyandingkan antara peta pola ruang RTR KSN dengan kondisi di
lapangan menggunakan Peta Neraca penggunaan Tanah atau Peta RBI
(terbaru). Peta yang digunakan untuk melakukan monitoring pola ruang
idealnya menggunakan Peta Neraca Penggunaan Tanah, akan tetapi
sebagai alternatif lain bisa menggunakan Peta RBI. Selanjutnya terkait
cakupan analisis pola ruang ini mencakup kawasan hutan lindung karena
mempertimbangkan delineasi yang jelas. Untuk analisis pola ruang ini proses
yang ditempuh secara umum serupa seperti pada struktur ruang, dimana
menggunakan parameter dan tipologi kesesuaian. Parameter yang
digunakan untuk melakukan monitoring pola ruang adalah parameter luas
dan lokasi. Yang perlu menjadi catatan penting dalam analisis pola ruang
adalah bahwa proses-proses yang sudah dijabarkan di atas dapat
dilaksanakan secara baik apabila didukung dengan ketersediaan data yang
mumpuni dan kredibel (misalnya seperti kesetaraan skala peta yang
diperbandingkan, dll.).

D. Tahapan dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan


Kegiatan ini dilaksanakan selama 8 (delapan) bulan seperti yang terlihat di bawah
ini:

Waktu Pelaksanaan
No Tahapan Kegiatan (Bulan ke-) Output
1 2 3 4 5 6 7 8
Kajian literatur pedoman Pemantauan
1
dan Evaluasi RTR
2 Pengumpulan dan pembaharuan data
dan informasi pendukung dari K/L dan
pemerintah daerah (sebagaimana
yang terdapat pada poin kebutuhan
data)

3 Melakukan inventarisasi terhadap


permasalahan dan isu sektor strategis
terhadap implementasi RTR
4 Melakukan konsinyasi di Jakarta  Pendalaman
sebanyak 2 (dua) kali pedoman PE,
penyiapan FGD
daerah dan
FGD Jakarta #1
 Wrap up hasil
FGD daerah
dan FGD
Jakarta #2,
maupun
perumusan
seminar

5 Melakukan survey ke daerah meliputi Hasil pemantauan


Provinsi DI. Yogyakarta sebanyak 1 berdasar tata cara
(satu) kali dan Provinsi Jawa Tengah di dalam
sebanyak 1 (satu) kali pedoman
6 Melakukan FGD di daerah sebanyak 2 Pemaparan tata
(dua) kali di Magelang cara PE dan hasil
pemantauan,
serta
pengumpulan
informasi daerah
terkait
implementasi
program RTR
7 Melakukan FGD di Jakarta bersama  Pemaparan
kementerian/lembaga sebanyak 1 tata cara
(satu) kali monitoring dan
hasil monitoring

8 Melakukan Seminar di Jakarta  Paparan Hasil


sebanyak 1 (satu) kali perumusan
rekomendasi /
masukan
terhadap hasil
PE
 Tanggapan K/L
terkait sebagai
bahan
perumusan
evaluasi
berdasarkan
hasil
pemantauan

9 Tahap Pelaporan
 Laporan Pendahuluan Dokumen
Laporan
Pendahuluan
 Laporan Antara Dokumen
Laporan Antara
 Laporan Akhir Dokumen
Laporan Akhir
beserta
kelengkapannya

E. Keluaran
Dokumen matrik dan peta yang memuat hasil Pemantauan dan Evaluasi RTR
KSN Kawasan Borobudur dan Sekitarnya serta penjelasannya.

F. Ruang Lingkup Kegiatan


1. Hasil Pemantauan dan Evaluasi RTR KSN
 Melakukan konsinyasi di Jakarta sebanyak 1 (satu) kali dengan peserta
sebanyak 20 (dua puluh) orang.
 Melakukan survey ke daerah meliputi Provinsi DI. Yogyakarta sebanyak
1 (satu) kali dan Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1 (satu) kali.
 Melakukan FGD di daerah Magelang sebanyak 2 (dua) kali dengan
peserta sebanyak 30 (tiga puluh) orang.
 Melakukan FGD awal bersama kementerian/lembaga di Jakarta
sebanyak 1 (satu) kali dengan peserta sebanyak 35 (tiga puluh lima)
orang.
2. Rekomendasi/masukan terhadap hasil Pemantauan dan Evaluasi RTR
KSN
 Melakukan konsinyasi di Jakarta sebanyak 1 (satu) kali dengan peserta
sebanyak 20 (dua puluh) orang.
 Melakukan Seminar bersama kementerian/lembaga di Jakarta
sebanyak 1 (satu) kali dengan peserta sebanyak 35 (tiga puluh lima)
orang dan mengundang peserta daerah.

G. Tenaga Ahli
Pelaksanaan pekerjaan ini didukung oleh tenaga ahli yang memiliki kualifikasi
sebagai berikut :

No Kualifikasi Tenaga Ahli Jumlah Man Month Pengalaman


(MM)
1 Ahli Perencanaan Wilayah dan 1 8 S-2 3 tahun
Kota (Ketua Tim)
2 Ahli Arkeologi 1 3 S-2 3 tahun atau
S-1 5 tahun
3 Ahli Geologi Lingkungan 1 3 S-2 3 tahun atau
S-1 5 tahun
4 Ahli Sistem Informasi 1 6 S-2 3 tahun atau
Geografis (GIS) S-1 5 tahun
5 Ahli Desain Grafis 1 1 S-2 3 tahun atau
S-1 5 tahun
6 Asisten Ahli Perencanaan 1 8 S-1 5 tahun
Wilayah dan Kota
Tenaga Penunjang

1 Operator Komputer 1 8 D-3 3 tahun atau


SMA sederajat

1. Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (Ketua Tim)


Ketua Tim merupakan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota yang disyaratkan
memiliki latar belakang pendidikan (S-2) Perencanaan Wilayah dan Kota,
lulusan universitas negeri atau yang telah disamakan, dengan pengalaman
dalam pelaksanaan pekerjaan di bidang penataan ruang sekurang-kurangnya
3 (tiga) tahun. Sebagai ketua tim, tugas utamanya adalah memimpin dan
mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam pelaksanaan
pekerjaan selama 8 (delapan) bulan penuh sampai dengan pekerjaan
dinyatakan selesai.

2. Ahli Arkeologi
Tenaga ahli yang disyaratkan minimal memiliki latar belakang Ahli Arkeologi S-
2 atau S-1, lulusan universitas negeri atau yang telah disamakan yang
berpengalaman dalam bidang arkeologi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun
untuk S-2 atau sekurang-kurangnya 5 tahun untuk S-1. Ahli Arkeologi bertugas
untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan,
mengolah dan menganalisa data untuk keperluan pemenuhan output/keluaran
sesuai dengan latarbelakang keilmuannya, memberikan laporan kepada ketua
tim terhadap perkembangan dari aktivitasnya, dan menjaga
soliditas/kekompakan tim dalam pelaksanaan pekerjaan selama 3 (tiga) bulan
penuh sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

3. Ahli Geologi Lingkungan


Tenaga ahli yang disyaratkan minimal memiliki latar belakang Ahli Geologi
Lingkungan (S-2 Geologi Lingkungan atau S-1 Teknik Geologi), lulusan
universitas negeri atau yang telah disamakan yang berpengalaman dalam
bidang arkeologi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun untuk S-2 atau sekurang-
kurangnya 5 tahun untuk S-1. Ahli Geologi Lingkungan bertugas untuk
melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, mengolah
dan menganalisa data untuk keperluan pemenuhan output/keluaran sesuai
dengan latarbelakang keilmuannya, memberikan laporan kepada ketua tim
terhadap perkembangan dari aktivitasnya, dan menjaga soliditas/kekompakan
tim dalam pelaksanaan pekerjaan selama 3 (tiga) bulan penuh sampai dengan
pekerjaan dinyatakan selesai.

4. Ahli Sistem Informasi Geografis


Tenaga ahli yang disyaratkan minimal memiliki latar belakang Ahli Sistem
Informasi Geografis (S-2) atau Sarjana Ilmu Geografi (S-1), lulusan universitas
negeri atau yang telah disamakan yang berpengalaman dalam bidang Sistem
Informasi Geografis sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun untuk S-2 atau
sekurang-kurangnya 5 tahun untuk S-1. Ahli Sistem Informasi Geografis
bertugas untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang
berkepentingan, mengolah dan menganalisa data untuk keperluan pemenuhan
output/keluaran sesuai dengan latarbelakang keilmuannya, memberikan
laporan kepada ketua tim terhadap perkembangan dari aktivitasnya, dan
menjaga soliditas/kekompakan tim dalam pelaksanaan pekerjaan selama 6
(enam) bulan penuh sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

5. Ahli Desain Grafis


Tenaga ahli yang disyaratkan minimal memiliki latar belakang Ahli Desain
Grafis (S-2) atau Sarjana Desain Komunikasi Visual (S-1), lulusan universitas
negeri atau yang telah disamakan yang berpengalaman dalam bidang Desain
Komunikasi Visual/Desain Grafis sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun untuk S-2
atau sekurang-kurangnya 5 tahun untuk S-1. Ahli Desain Grafis bertugas untuk
melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, mengolah
dan menganalisa data untuk keperluan pemenuhan output/keluaran sesuai
dengan latarbelakang keilmuannya, memberikan laporan kepada ketua tim
terhadap perkembangan dari aktivitasnya, dan menjaga soliditas/kekompakan
tim dalam pelaksanaan pekerjaan selama 1 (satu) bulan penuh sampai dengan
pekerjaan dinyatakan selesai.
6. Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
Tenaga ahli yang disyaratkan minimal memiliki latar belakang Sarjana
Perencanaan Wilayah dan Kota (S-1), lulusan universitas negeri atau yang
telah disamakan yang berpengalaman dalam bidang perencanaan wilayah dan
kota sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. Asisten Ahli Perencanaan Wilayah
dan Kotabertugas untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang
berkepentingan, mengolah dan menganalisa data untuk keperluan pemenuhan
output/keluaran sesuai dengan latarbelakang keilmuannya, memberikan
laporan kepada ketua tim terhadap perkembangan dari aktivitasnya, dan
menjaga soliditas/kekompakan tim dalam pelaksanaan pekerjaan selama 8
(delapan) bulan penuh sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

Tenaga penunjang yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah:

1. Operator Komputer
Tenaga operator komputer yang disyaratkan adalah Sarjana Muda (D-3)/SMA
sederajat dan mampu mengoperasikan komputer untuk dapat menunjang
kegiatan. Operator komputer melaksanakan pekerjaan selama 8 (delapan)
bulan penuh sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

H. Pelaporan
Pelaporan pekerjaan ini terdiri atas:
1. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan sedikitnya memuat:
 Pemahaman konsultan terhadap substansi pekerjaan berikut tanggapan;
 Pendekatan/metodologi yang digunakan dalam melaksanakan berbagai
kegiatan yang tersebut dalam lingkup pelaksanaan kegiatan;
 Daftar kebutuhan data dan informasi;
 Rencana kerja rinci dan rencana mobilisasi tenaga ahli yang dilengkapi
dengan rincian tugas dan keluaran yang dihasilkan oleh masing-masing
tenaga ahli.
 Laporan Pendahuluan diserahkan sebanyak 5 (lima) eksemplar dengan
softcopy-nya, dan diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah
SPMK dikeluarkan.

2. Laporan Antara
Laporan ini berisi hasil perolehan data, kajian dan analisis, hasil pembahasan,
dan peta. Laporan Antara diserahkan sebanyak 5 (lima) eksemplar dengan
softcopy-nya, dan diserahkan selambat-lambatnya pada bulan ke 4 (empat)
setelah SPMK dikeluarkan.

3. Laporan Akhir
Laporan ini berisi hasil Pemantauan dan Evaluasi RTR KSN Kawasan
Borobudur dan Sekitarnya berikut rekomendasinya. Laporan akhir diserahkan
sebanyak 5 (lima) eksemplar. Laporan Akhir ini diserahkan pada bulan ke 8
(delapan) setelah tanda tangan kontrak yang kemudian direkam ke dalam 1
unit harddisk eksternal.
Laporan akhir juga dilengkapi dengan:
 Executive Summary sebanyak 5 (lima) eksemplar;
 Prosiding pelaksanaan kegiatan sebanyak 5 (lima) eksemplar;
 Harddisk External Laporan berisi softcopy mengenai:
- Laporan Pendahuluan;
- Laporan Antara;
- Laporan Akhir;
- Laporan Bulanan;
- Executive Summary;
- Peta dalam format .jpg (image); .shp (shapefile) dan .mpk (map
package);
- Seluruh data dan informasi yang telah dikumpulkan selama
pelaksanaan survei, baik instansional maupun lapangan;
- Prosiding Pelaksanaan Kegiatan;
- Laporan Pelaksanaan Kegiatan berikut file asli berita acara
pembahasan, notulensi, file asli dokumentasi, serta rekaman audio
maupun video hasil pelaksanaan kegiatan; dan
- Buku Pemantauan dan evaluasi dalam format asli (sesuai aplikasi yang
digunakan) dan .pdf.

4. Buku Pemantauan dan Evaluasi RTR 5 (lima) eksemplar


Buku ini berisi seluruh hasil kegiatan pemantauan dan evaluasi yang disusun
secara informatif sehingga layak untuk dipublikasikan.

5. Laporan Bulanan
Laporan ini berisi progress/kemajuan pelaksanaan pekerjaan yang dicapai
pada bulan yang bersangkutan dengan rincian masing-masing tenaga ahli,
laporan realisasi pelaksanaan pekerjaan bulan berjalan dengan rincian dana
pengeluaran, serta rencana pekerjaan yang akan dilakukan pada bulan
selanjutnya.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya pada minggu terakhir bulan
yang bersangkutan, sebanyak 1 (satu) dengan softcopy-nya. Muatan laporan
ini harus dikonsultasikan dengan Tim Supervisi yang telah ditunjuk oleh
pengguna jasa.

V. BIAYA
Pekerjaan ini dilakukan secara kontraktual dan dibiayai oleh APBN dengan
alokasi sebesar Rp. 876.784.000,00 (delapan ratus tujuh puluh enam juta tujuh
ratus delapan puluh empat ribu rupiah) yang terdiri dari nilai kontraktual sebesar
Rp. 806.877.000,- (delapan ratus enam juta delapan ratus tujuh puluh tujuh ribu
rupiah) dan nilai supervisi sebesar Rp. 69.907.000,- (enam puluh sembilan juta
sembilan ratus tujuh ribu rupiah) dengan rincian sesuai RAB terlampir.

Mengetahui,
Direktur Pemanfaatan Ruang

Ir. Dwi Hariyawan S, M.A


NIP. 196501161994011001