Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TERNAK

PRAKTIKUM I
PEMBUATAN ABON TELUR

OLEH:

NAMA : SUARDI

NIM : I011 17 1512

KEL / GEL : XIX (SEMBILAN BELAS)/IV (EMPAT)

WAKTU : 13.30 WITA/MINGGU, 17 FEBRUARI 2019

ASISTEN : RACHMAT BUDIANTO

LABORATORIUM TEKNOLOGI HASIL TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Telur merupakan salah satu produk hewani yang berasal dari ternak unggas

dan telah dikenal sebagai bahan pangan sumber protein yang bermutu tinggi. Telur

sebagai bahan pangan mempunyai banyak kelebihan misalnya, kandungan gizi telur

yang tinggi, harganya relatif murah bila dibandingkan dengan bahan sumber protein

lainnya. Telur mudah mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh

kerusakan secara fisik, serta penguapan air, karbondioksida, ammonia, nitrogen,

dan hidrogen sulfida dari dalam telur. Lama penyimpanan menentukan kualitas

telur, semakin lama telur disimpan, kualitas dan kesegaran telur semakin menurun.

Pembuatan abon telur ayam merupakan suatu produk pangan hasil

pengolahan dari telur ayam yg diolah secara tradisional dengan cara yang sangat

sederhana namun memiliki kandungan protein yang tinggi yang meliputi proses

menggoreng, mengepres minyak, dan mencampur bumbu. Pembuatan abon dapat

dijadikan sebagai salah satu alternatif pengolahan bahan pangan sehingga umur

simpan bahan pangan lebih lama. Abon memiliki umur simpan yang relatif lama

karena berbentuk kering. Dengan cara pengolahan yang baik abon dapat disimpan

berbulan-bulan tanpa mengalami banyak penurunan mutu.

Abon merupakan salah satu jenis produk olahan makanan kering berbentuk

khas yang dibuat dari daging yang direbus dan disayat-sayat dan diberi bumbu,

digoreng kemudian dipres. Pada prinsipnya abon merupakan suatu proses

pengawetan, yaitu kombinasi antara perebusan dan penggorengan dengan

menambahkan bumbu-bumbu. Produk yang dihasilkan mempunya tekstur, aroma

dan rasa yang khas. Selain itu proses pembuatan abon merupakan proses

pengurangan kadar air dalam bahan daging untuk memperpanjang proses


penyimpanan. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukan praktikum Teknologi

Pengolahan Hasil Ternak mngenai Pembuatan Abon Telur.

Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dilakukannya praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak

mengenai Pembuatan Abon Telur adalah untuk mengetahui cara pengolahan telur

menjadi abon, menghasilkan produk abon yang dapat dijadikan salah satu alternatif

pengolahan bahan pangan sehingga umur simpan bahan pangan lebih lama, dan

mengetahui kualitas abon yang baik dikonsumsi.

Kegunaan dilakukannya praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak

mengenai Pembuatan Abon Telur adalah agar praktikan dapat mengaplikasikan

kepada masyarakat tentang cara pengolahan telur menjadi abon, menghasilkan

produk abon yang dapat dijadikan salah satu alternatif pengolahan bahan pangan

sehingga umur simpan bahan pangan lebih lama, mengetahui kualitas abon yang

baik dikonsumsi.
TINJAUAN PUSTAKA

Sifat Fungsional Telur Ayam

Telur mempunyai sifat fungsional yang berguna dalam pengolahan pangan,

misalnya dalam pembuatan kue dengan memanfaatkan salah satu sifat fungsional

telur, yaitu daya buih dan stabilitas buih. Daya buih merupakan dispersi koloid dari

fase gas dalam fase cair yang dapat terbentuk pada saat telur dikocok. Stabilitas

buih merupakan kemampuan protein untuk menstabilkan buih melawan gravitasi

dan tekanan mekanik (Jiwanggoro, 2013).

Kualitas telur dapat berubah karena adanya perlakuan yang diberikan seperti

pemanasan dan penyimpanan. Pemanasan pada telur dapat dilakukan dengan cara

pasteurisasi yakni suatu cara pemanasan dengan suhu 60oC selama 3,5 menit untuk

menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang terdapat pada telur. Kualitas telur

dapat menurun terutama selama penyimpanan. Penguapan air akan terjadi karena

adanya penyimpanan telur yang mengakibatkan penurunan berat pada telur

terutama dari putih telur (Agustina, 2013).

Sifat fungsional adalah sifat – sifat yang terdapat pada telur selain sifat

gizinya yang berperan dalam proses pengolahan. Sifat fisik dan kimia protein

sangat berperan dalam menentukan sifat fungsional telur. Oleh karena itu terjadinya

perubahan terhadap sifat fisik dan kimia protein telur juga akan berpengaruh

terhadap sifat-sifat fungsional telur tersebut (Siregar, 2012).

Tinjauan Umum Abon Telur

Abon merupakan salah satu jenis produk olahan makanan kering berbentuk

khas yang dibuat dari daging yang direbus dan disayat-sayat dan diberi bumbu,

digoreng kemudian dipres. Pada prinsipnya abon merupakan suatu proses

pengawetan yaitu kombinasi antara perebusan dan penggorengan dengan


menambahkan bumbu-bumbu. Produk yang dihasilkan mempunya tekstur, aroma

dan rasa yang khas. Selain itu proses pembuatan abon merupakan proses

pengurangan kadar air dalam bahan daging untuk memperpanjang proses

penyimpanan (Mustar, 2013). Dalam SNI 01-3707-1995 disebutkan abon adalah

suatu jenis makanan kering berbentuk khas, dibuat dari daging, direbus disayat-

sayat, dibumbui, digoreng dan dipres.

Table 1. Syarat Umum Kandungan Gizi Abon

Sumber : Badan Standardisasi Nasional. Abon. SNI 01-3707-1995.

Abon umumnya memiliki komposisi gizi yang cukup baik dan dapat

dikonsumsi sebagai makanan ringan atau sebagai lauk pauk. Abon sebagai salah

satu bentuk produk olahan kering sudah dikenal masyarakat luas karena harganya
cukup terjangkau dan rasanya lezat. Pembuatan abon dapat dijadikan sebagai salah

satu alternatif pengolahan bahan pangan sehingga umur simpan bahan pangan lebih

lama. Abon memiliki umur simpan yang relatif lama karena berbentuk kering.

Dengan cara pengolahan yang baik abon dapat disimpan berbulan-bulan tanpa

mengalami banyak penurunan mutu (Aditia, 2014).

Pembuatan abon telur ayam merupakan suatu produk pangan hasil

pengolahan dari telur ayam yg diolah secara tradisional dengan cara yang sangat

sederhana namun memiliki kandungan protein yang tinggi yang meliputi proses

menggoreng, mengepres minyak, dan mencampur bumbu (Ningrum, 2014).

Prinsip Pengeringan Abon Telur

Prinsip Pengeringan Abon Telur dilakukan dengan menggunakan alat yang

bernama Spinner. Menurut Felayati,dkk (2016) yang menyatakan bahwa Spinner

pulling oil merupakan solusi kreatif yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan

mitra, sebagai alat pengentasan minyak dalam pembuatan produk makanan. Dalam

hal ini, produk spinner pulling oil dapat diaplikasikan dalam elaborasi usaha

perikanan melalui produk abon dengan memanfaatkan spinner. Kandungan minyak

pada abon yang masih tinggi setelah proses penggorengan dengan menggunakan

alat spinner pulling oil dapat mengurangi kandungan minyak sesuai dengan lama

waktu pengentasannya. Alat spinner pulling oil memiliki kapasitas 10 kg dengan

kecepatan putaran dinamo yaitu 1400 rpm serta terbuat dari bahan stainless steel

(food grade).

Proses pengentasan dilakukan dengan waktu yang tidak menentu

dikarenakan terjadi perbedaan massa abon yang dientaskan serta waktu optimal

pengentasan. Semakin lama waktu yang digunakan pada saat menggunakan maka

akan semakin banyak energi yang digunakan. Oleh karena itu dibutuhkan pengujian
performansi alat spinner pulling oil untuk menghasilkan kebutuhan energi yang

optimal (Felayati,dkk.2016)

Tinjaun Umum Bahan Tambahan Pangan

Gula Merah atau gula yang terbuat dari bahan baku utama nira kelapa adalah

merupakan salah bahan yang memberikan rasa manis dan gurih pada makanan atau

minuman, yang tidak dimiliki oleh gula yang terbuat dari bahan baku tebu.

Sehingga gula kelapa memiliki ciri khusus baik rasa, aroma dan bentuknya, yang

sangat berbeda dengan gula putih, sehingga memiliki ciri khusus. Dari jenis industri

kecil gula merah ini adalah salah satu bentuk peningkatan pendapatan penduduk

dan bisa meningkatkan pendapatan asli daerah bertumpu pada ekonomi kerakyatan

(Heri, 2007).

Garam adalah benda padatan bewarna putih berbentuk kristal yang

merupakan kumpulan senyawa dengan sebahagian besar terdiri dari Natrium

Chlorida (>80%), serta senyawa-senyawa lain seperti Magnesium Chlorida,

Magnesium Sulfat, Calsium Chlorida. Garam mempunyai sifat karakteristik

hidroskopis yang berarti mudah menyerap air, tingkat kepadatan sebesar 0,8-0,9

dan titik lebur pada tingkat suhu 801oC. Garam merupakan salah satu bahan

kimiawi untuk stabilisasi tanah lempung, struktur garam (NaCl) meliputi anion

ditengah dan kation menempati pada rongga octahedral (Herman, 2015).

Bawang merah mengandung vitamin C, potassium, serat dan asam folat

selain itu juga mengandung kalsium, zat besi, dan protein degan kandungan yang

tinggi. Bawang merah juga mengandung zat pengatur tumbuh alami berupa

hormone auksin dan giberalin (Rahayu, 2016).

Bawang putih (Allium sativum) bermanfaat bagi kesehatan karena

mengandung unsur-unsur aktif, memiliki daya bunuh terhadap bakteri, sebagai


bahan antibiotik, merangsang pertumbuhan sel tubuh, dan sebagai sumber vitamin

B1. Selain itu, bawang putih mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, dan

mengandung sejumlah komponen kimia yang diperlukan untuk hidup manusia

(Damanik, 2010).

Ketumbar (Coriandrum sativum) adalah tumbuhan rempah-rempah yang

populer. Buahnya yang kecil dkeringkan dan diperdagangkan, baik digerus maupun

tidak. Bentuk yang tidak digerus mirip dengan lada, seperti biji kecil-kecil

berdiameter 1-2 mm (Hendrawati, 2014).

Asam jawa termasuk tumbuhan tropis dan mempunyai tipe buah polong.

Asam jawa memiliki manfaat yang banyak, semua bagian dari asam jawa dapat

dimanfaatkan, baik daun, batang, akar, biji maupun buahnya. Daging buahnya dapat

digunakan sebagai bumbu sayur, dibuat selai, sirup atau permen. Asam jawa

mengandung 15% asam sitrat (Solihah, 2016).

Minyak goreng adalah minyak yang dipakai untuk menggoreng, seperti

minyak kelapa, minyak jagung, minyak kacang. Minyak goreng tersusun atas asam

lemak berbeda yaitu sekitar dua puluh jenis asam lemak. Setiap minyak atau lemak

tidak ada yang hanya tersusun atas satu jenis asam lemak, karena minyak atau lemak

selalu ada dalam bentuk campuran dari berberapa asam lemak (Noriko, 2012).

Kecap merupakan jenis makanan hasil fermentasi yang berwarna coklat,

kental dan mengandung protein. Kecap dapat dibuat melalui tiga cara, yaitu

fermentasi, hidrolisis asam, dan kombinasi fermentasi dengan hidrolisis asam.

Dibandingkan dengan kecap yang dibuat secara hidrolisis asam, kecap yang dibuat

dengan cara fermentasi, biasanya mempunyai rasa dan aroma lebih baik (Septiani,

2004).
METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak mengenai Pembuatan Abon

Telur dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Februari 201, pukul 13.30 WITA sampai

selesai bertermpat di Laboratorium Terpadu Teknologi Pengolahan Susu Fakultas

Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Metode Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak

mengenai Pembuatan Abon Telur adalah spinner, kompor + panci, wajan, pisau,

sendok, saringan minyak, wadah abon, dan timbangan analitik.

Bahan yang digunakan pada praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak

mengenai Pembuatan Abon Telur adalah telur ayam 3 butir, gula merah 3 gr, garam

3,7 gr, bawang putih 4 gr, bawang merah 6 gr, royko (secukupnya), ketumbar 2 gr,

asam jawa tanpa biji 8 gr, minyak goreng secukupnya, dan kecap manis 7 ml.

Prosedur Kerja

Menyiapkan wadah pencampur, memisahkan asam jawa dari bijinya,

menimbang bahan sesuai kebutuhan, memasukkan telur 3 butir sekaligus dikocok,

memasukkan bumbu lainnya, memanaskan minyak, menurunkan adonan abon

dengan menggunakan saringan, menggoreng hingga warna kecoklatan,

mengangkat kemudian meniriskan, memasukkan kedalam spinner, mempress

sampai minyaknya tidak menetes lagi, selanjutnya menguji daya penerimaan.


Skala Daya Terima

Skala Daya Terima merupakan uji yang dilakukan oleh panelis dengan

menggunakan panca indra bau (hidung), indra perasa (lidah), indra peraba (kulit),

untuk mengetahui kualitas dari suatu bahanmakanan terhadap warna, bau, rasa,

dan tekstur (Sigit, 2017). Pada pembuatan abon telur, telah dilakukan uji daya

penerimaan dengan lima panelis dengan teknik skala pengujian sebagai berikut

Warna

Hitam Coklat Muda

1 2 3 4 5 6

Keterangan :
1. Hitam 4. Coklat
2. Agak hitam 5. Agak coklat muda
3. Hitam kecoklatan 6. Coklat muda

Tekstur

Kasar Halus

1 2 3 4 5 6

Keterangan :
1. Kasar 4. Agak halus
2. Agak kasar 5. Hampir halus
3. Sedikit 6. Halus

Aroma

Tidak Beraroma Telur Sangat Beraroma Telur

1 2 3 4 5 6

Keterangan :
1. Tidak beraroma telur 4. Agak beraroma telur
2. Agak tidak beraroma telur 5. Beraroma telur
3. Sedikit beraroma telur 6. Sangat beraroma telur
Kesukaan

Tidak Suka Sangat Suka

1 2 3 4 5 6

Keterangan :
1. Tidak suka 4. Hampir suka
2. Hampir tidak suka 5. Suka
3. Agak suka 6. Sangat suka

Diargam alir
Telur Ayam 3 Butir

Pengocokan Lepas

Menambahkan bumbu berupa : gula


merah 3 gr, garam 3,7 gr, bawang
putih 4 gr, bawang merah 6 gr,
royko (secukupnya), ketumbar 2
gr, asam jawa tanpa biji 8 gr,
minyak goreng secukupnya, dan
kecap manis 7 ml.

Penyaringan dan Penggorengan

Pengangkatan dan penirisan

Memasukkan ke spinner

Abon telur

Gambar 1. Diargam Alir Proses Pembuatan Abon Telur


HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak mengenai

Pembuatan Abon Telur yang telah dilakukan, di dapatkan hasil sesuai dengan tabel

di bawah :

Tabel 2. Hasil Uji Penerimaan Abon Telur


No. Indikator Skala Keterangan
1. Warna 4 Coklat
2. Tekstur 3 Agak Kasar
3. Aroma 5 Beraroma Telur
4. Kesukaan 5 Suka
Sumber : Data Hasil Praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak, 2019.

Warna

Berdasarkan hasil praktikum, di dapatkan indikator warna berskala 4 yang

berarti coklat. Warna pada abon telur tergantung dari proses penggorengan. Hal ini

sesuai dengan pendapat Hardoko (2015), yang menyatakan bahwa makin besar nilai

kecerahan (lightness) abon berarti makin cerah warna coklat abon. Nilai kecerahan

warna coklat berhubungan dengan tingkat reaksi pencoklatan (browning) yang

terjadi.

Warna merupakan kesan pertama yang ditangkap panelis sebelum

mengenali rangsangan-rangsangan yang lain. Warna sangat penting bagi setiap

makanan sehingga warna yang menarik akan mempengaruhi penerimaan

konsumen. Selain itu warna juga dapat memberikan petunjuk mengenai terjadinya

perubahan kimia dalam makanan seperti pencoklatan dan karamelisasi. Perubahan

warna pada proses pengolahan seperti penggorengan disebabkan oleh reaksi

maillard, pada reaksi ini, terjadi reaksi antara asam amino dan gula pereduksi

(Suhan, 2014).
Tekstur

Berdasarkan hasil praktikum, di dapatkan indikator tekstur berskala 3 yang

berarti agak kasar. Tekstur dapat dipengaruhi oleh perlakukan selama pemasakan

dan prosedur pemasakan. Tekstur abon pada umumnya adalah lembut dan halus

tidak kasar. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Mustar (2013), yang menyatakan

bahwa proses pengurangan kadar air akan semakin cepat, selain karena pengaruh

panas, tekstur abon juga dipengaruhi dari bentuk daging yang disuwir sehingga

permukaan bahan lebih luas dan ukuran bahan yang dikeringkan sehingga akan

mempermudah proses pengeluaran air dalam bahan dan menjadikan produk

memiliki tekstur yang lebih kering.

Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau

sentuhan. Kadang-kadang tekstur juga dianggap sama penting dengan bau, rasa dan

aroma karena mempengaruhi citra makanan. Tekstur paling penting pada makanan

lunak dan renyah. Ciri yang paling sering diacuh adalah kekerasan, kekohesifan,

dan kandungan air (Suhan, 2014).

Aroma

Berdasarkan hasil praktikum, di dapatkan indikator aroma berskala 5 yang

berarti beraroma telur. Aroma yang tercium dapat dipengarhi oleh penambahan

bumbu-bumbu pada abon telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Mustar (2013), yang

menyatakan bahwa aroma yang timbul selama proses pengolahan disebabkan oleh

pelunakan tekstur dan kehilangan keutuhan jaringan/sel sehingga minyak atsiri

yang terdapat pada rongga-rongga dalam jaringan pada bumbu atau rempah yang

digunakan akan keluar sebagai akibat kerusakan dari pemanasan sehingga zat-zat

kimia dalam bahan akan bereaksi dan menimbulkan perubahan flavor.


Aroma yang dihasilkan dari bahan makanan banyak menentukan kelezatan

makanan tersebut ada perlakuan pemanasan akan menimbulkan perubahan pada

tekstur, cita rasa dan nilai gizi. Pelunakan tekstur dan kehilangan keutuhan jaringan

/ sel sebagai akibat kerusakan dari pemanasan sehingga zat-zat kimia dalam bahan

akan bereaksi dan menimbulkan perubahan warna, flavour dan nilai gizi. Perubahan

flavour ditimbulkan karena kekurangan zat cita rasa (Suhan, 2014).

Kesukaan

Berdasarkan hasil praktikum, di dapatkan indikator kesukaan berskala 5

yang berarti disukai. Kesukaan terhadap abon telur dapat dipengaruhi oleh

komponen yang terkandung dalam abon telur dan bahan tambahan yang digunakan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ningrum (2014), yang menyatakan bahwa adanya

peningkatan level bahan pengisi tidak menyebabkan meningkatnya rasa kesukaan

terhadap banyaknya bahan pengisi yang diberikan ke dalam abon telur.

Uji kesukaan (uji hedonik) merupakan uji dimana panelis diminta untuk

memberi tanggapan pribadi mengenai kesukaan atau ketidaksukaan dan

mengemukakan tingkat kesukaannya. Tingkat kesukaan dalam uji hedonik disebut

dengan skala hedonik, misalnya dalam penilaian “suka” memiliki skala hedonik

seperti amat sangat suka, sangat suka, suka, dan agak suka. Sebaliknya, penilaian

“tidak suka” memiliki skala hedonik seperti amat sangat tidak suka, sangat tidak

suka, tidak suka, dan agak tidak suka (Suhan, 2014).


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak mengenai

Pembuatan Abon Telur sebagai berikut.

 Indikator warna berskala 4 yang berarti coklat. Warna pada abon telur tergantung

dari proses penggorengan.

 Indikator tekstur berskala 3 yang berarti agak kasar. Tekstur dari abon telur dapat

dipengaruhi oleh proses penggorengan.

 Indikator aroma berskala 5 yang berarti beraroma. Aroma yang tercium dapat

dipengarhi oleh penambahan bumbu-bumbu pada abon telur.

 Indikator kesukaan berskala 5 yang berarti disukai. Kesukaan terhadap abon

telur dapat dipengaruhi oleh komponen yang terkandung dalam abon telur dan

bahan tambahan yang digunakan.

Saran

Sebaiknya untuk praktikum selanjutnya pembuatan abon telur bisa

dilakukan dengan menggunakan jenis telur yang berbeda-beda setiap praktikum

sehingga dapat diketahui karakteristik fisik mutu abon yang terbaik dari perbedaan

penggunaan telur yang digunakan.


DAFTAR PUSTAKA

Aditia, L. 2014. Abon Telur. Laporan Lengkap Praktikum. Fakultas Sains Dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin. Makassar.

Agustina, N., Thohari, I., dan Rosyidi, D. 2013. Evaluasi sifat putih telur ayam
pasteurisasi ditinjau dari pH, kadar air, sifat emulsi dan daya kembang
Angel Cake. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 23 (2): 6-3. Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya, Jawa Timur.

Damanik, R. M. S. 2010. Pengaruh Konsentrasi Kalsium Clorida (CaCl2) dan Lama


Penyimpanan Terhadap Mutu Tepung Bawang Putih. Laporan Tugas Akhir.
Universitas Sumatera Utara.

Felayati.H.F, Susilo.B, dan Sugiarto.Y.2016. Uji Performansi Mesin “Spinner


Pulling Oil” Sebagai Pengentas Minyak Otomatis Dalam Peningkatan
Produktifitas Abon Ikan Patin (Pangasius pangasius). Jurnal Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem Vol. 4 (1):41-47

Hardoko., Putri, Y. S., dan Yunita, E. P. 2015. Subtitusi jantung pisang dalam
pembuatan abon dari pindang ikan tongkol. Jurnal Perikananan Dan
Kelautan. ISSN 0853-7607.

Hendrawati, V. S., Suyasa, I. N. G., dan Sujaya, I. N. 2014. Efektivitas larutan


bawang putih (Allium sativum L.) dan ketumbar (Coriandrum sativum)
terhadap daya awet tahu lombok. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 4 No.
1: 79-87.

Heri, M. K., dan Lukman, M. 2007. Pendampingan penerapan diversifikasi produk


gula kelapa/merah kemasan kecil. Jurnal Dedikasi Vol. 4.

Herman., dan Joetra, W. 2015. Pengaruh garam dapur (nacl) terhadap kembang
susut tanah lempung. Jurnal Momentum Vol.17 No. 1.

Jiwanggoro, A., Santosa, R. S. S., dan Widayaka, K. 2013. Pengaruh lama maserasi
kuning telur pada pembuatan tepung kuning telur puyuh menggunakan
berbagai level etanol terhadap daya dan stabilitas buih. Jurnal Ilmiah
Peternakan, 1(3): 1143-1149. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto.

Mustar. 2013. Studi Pembuatan Abon Ikan Gabus (Ophiocephalus Striatus)


Sebagai Makanan Suplemen (Food Suplement). Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin. Makassar.

Ningrum, E. M., dan Wahniyati, H. 2014. Karakteristik organoleptik abon telur


ayam dengan penambahan daging buah semu jambu mete sebagai bahan
pengisi. Jurnal Ilmiah Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Noriko, N., Elfidasari, D., Perdana, A. T., Wulandari, N., dan Wijayanti, W. 2012.
Analisis penggunaan dan syarat mutu minyak goreng pada penjaja makanan
di food court uai. Jurnal AL-AZHAR Indonesia Seri Sains dan Teknologi
Vol. 1 No. 3.

Rahayu, I. D., Sutawi., dan Endang, S. H. 2016. Aplikasi bahan tambahan pangan
(BTP) alami dalam proses pembuatan produk olahan daging di tingkat
keluarga. Jurnal Volume 13.

Septiani, Y., Purwoko, T., dan Pangastuti, A. 2004. Kadar karbohidrat, lemak, dan
protein pada kecap dari tempe. Bioteknologi 1 (2): 48-53.

Sigit, M., Akbar, M., dan Fianti, L. 2017. Kualitas organoleptik abon ayam yang
diberi perlakuan substitusi kacang tanah (Arachis hypogaea L.). Jurnal Fillia
Cendekia Vol. 2 No.1.

Siregar. R. F. A., Hintono., dan Mulyani, SPerubahan sifat fungsional telur ayam
ras pasca pasteurisasi. Anima Agri J, 1(1): 521-528.

Solihah, M., Rachmadiarti, F., dan Raharjo. 2016. Pemanfaatan filtrat asam jawa
(tamarindus indica) untuk menurunkan kadar timbal (pb) pada ikan bader
putih (barbonymus gonionotus). LenterabioVol. 5 No.3.

Standar Nasional Indonesia. 1995. SNI 01-3707-199. Abon. BSN, Jakarta.

Suhan.M.G.2014. Pengaruh lama penggorengan terhadap uji Organoleptik dan


kandungan albumin Abon ikan gabus (ophiocephalus striatus).skripsi.
Fakultas Ilmu Kesehatan.Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Perhitungan Uji Penerimaan Pembuatan Abon Telur

a. Warna = (5 x 3) + (4x 7) + (3 x 2)
12

= 15+ 28+ 6 = 49 = 4 (coklat)


12 12

b. Tekstur = (1x 2) + (2x 1) + (3 x 7) + (4x1) + (5x1)


12

= 2 + 2 + 21+ 4+ 5 = 34 = 3 (agak kasar)


12 12

c. Aroma = (3x 1) + (4 x 4) + (5 x 6) + (6 x 1)
12

= 3 + 16 + 30 + 6 = 55 = 5 (beraroma telur)
12 12

d. Kesukaan = (6 x 3) + (5 x 4) + (4 x 2) + (3 x 2) + (2 x 1)
12

= 18 + 20 + 8 + 6 + 2 = 19 = 5 (suka)
12 12
Lampiran 2. Dokumentasi Pembuatan Abon Telur

Gambar 1.Menyiapkan Bahan Gambar 2. Menggocok Telur

Gambar 3. Memasukkan Garam Gambar 4. Memasukkan Gula Merah

Gambar 5. Memasukkan Air Asam Gambar 6. Memanaskan Minyak

Gambar 7. Menggoreng Adonan Gambar 8. Mengaduk Abon


Gambar 9. Menirikan Abon Gambar 10. Mengeppres Abon

Gambar 11. Menyalakan Mesin Gambar, 12. Hasil Press

Gambar 13. Hasil Akhir Pembuatan Abon Telur