Anda di halaman 1dari 13

Karakteristik Legalisasi Hukum Humaniter:

Suatu Analisa Terhadap Hukum Jenewa 1949


Oleh : Eka An Aqimuddin*

I. Pendahuluan
Kerjasama antarnegara saat ini sudah tidak dapat lagi dihindarkan. Bentuk kehidupan
yang kompleks sangat rentan untuk tejadi perselisihan. Untuk menghindari agar perselisihan
tidak terjadi maka masyarakat internasional harus senantiasa bertumpu pada norma atau aturan.
Aturan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghindari perselisihan, akan tetapi juga untuk
menertibkan, mengatur dan memelihara hubungan antarnegara. Perwujudan kerjasama tersebut
dituangkan dalam bentuk perjanjian.1
Dalam pembuatan perjanjian antarnegara, masyarakat internasional kemudian mengenal
istilah hard law dan soft law. Meskipun tidak ada kesepakatan di antara para pakar hukum
internasional mengenai definisi antara hard law dan soft law, namun secara umum untuk
membedakanya adalah unsur kekuatan mengikat kedua instrumen tersebut. Hard law diartikan
sebagai perjanjian yang bersifat mengikat sedangkan soft law tidak mengikat.2
Bentuk soft law dalam praktek negara biasa dikenal berbentuk deklarasi, resolusi,
rekomendasi serta rencana aksi (plan of action), sedangkan hard law biasanya berbentuk
perjanjian (treaty), konvenan, konvensi dan protokol.3
Konvensi Jenewa 1949 merupakan salah satu instrumen hukum internasional yang
dianggap sebagai hard law. Sekilas, dapat dilihat bahwa Konvensi Jenewa 1949 merupakan suatu
hard law karena para negara yang membentuknya memilih menggunakan istilah konvensi
(convention) daripada deklarasi (declaration) misalnya. Konsekuensi dari pemilihan bentuk hard
law ini adalah setiap negara peserta Konvensi Jenewa 1949 memiliki tanggungjawab untuk
melaksanakan (mematuhi) isi konvensi. Namun, patut dipertanyakan apakah sekedar pemilihan
istilah konvensi sudah cukup menjadikan Konvensi Jenewa 1949 memiliki karakteristik hard
law? Inilah titik masalah yang akan coba penulis urai dalam tulisan ini.
Penulis sengaja membatasi penggunaan instrumen Konvensi Jenewa 1949 dan tidak turut
menyertakan Protokol tambahan I dan II tahun 1977 meskipun antara kedua instrumen tersebut

1
*Mahasiswa Pascasarjana Hukum Internasional, Unpad, Bandung
Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Hukum Internasional: Bunga Rampai, Alumni, Bandung, 2003, hlm, 105.
2
Gregory C. Schaffer, Mark A. Pollack, Hard Vs Soft Law : Alternatives, Complement and Antagonists in
International Governance, Legal Study Research Paper Series (Research Paper No.09-23), University of Minnesota
Law School, 2010.
3
Dinah L. Shelton, Soft Law, Handbook of International Law, Routledge Press, 2008, hlm. 1
memiliki korelasi yang kuat. Penulis berpendapat pembatasan itu dilakukan karena adanya
semangat berbeda pada saat pembuatan kedua instrumen tersebut.
Untuk menganalisi Konvensi Jenewa 1949 ini, penulis meminjam teori legalisasi yang
dikemukakan oleh Kenneth W. Abbott dan Duncan Snidal4 untuk melihat karakteristik suatu
instrumen hukum internasional (hard law atau soft law). Meskipun suatu instrumen hukum
internasional dapat dibedakan secara sederhana ke dalam bentuk hard law dan soft law, akan
tetapi pilihan untuk menentukan salah satu bentuk tersebut kurang mendapat perhatian. Dengan
teori legalisasi ini maka akan dapat dilihat bagaimana perilaku negara sebagai aktor dalam
memilih bentuk hukum internasional tersebut.

II.Teori Legalisasi dalam Hukum Internasional


Teori legalisasi bukanlah sesuatu yang baru bagi pemerhati hukum internasional. Teori ini
digagas pada tahun 1998 oleh Kenneth W.Abbott dan Duncan Snidal. Gagasan tersebut lahir dari
sebuah proyek riset yang diketuai oleh Dinah L Shelton dari The George Washington University
Law of School untuk mengidentifikasi dan menganalisa sebab dan akibat dari lahirnya sebuah
instrumen hukum internasional dalam hubungan antarnegara.5 Riset itu sendiri lahir dipicu oleh
keingintahuan mengapa negara dalam melakukan relasinya memilih cara dengan membentuk
hukum internasional. Untuk itulah, maka riset tersebut melibatkan lintas disiplin ilmu, dalam hal
ini adalah bidang hukum internasional dan hubungan internasional.6
Dalam hukum internasional terdapat pembedaan (masih diperdebatkan) instrumen hukum
yaitu antara hard law dan soft law. Namun, identifikasi dan analisa antara kedua bentuk
instrumen tersebut masih jarang dibahas. Teori legalisai lalu coba membawa alat ukur untuk
mengidentifikasi apakah suatu instrumen hukum internasional itu hard law atau soft law?
Ada tiga ukuran yang digunakan oleh Kenneth W Abbott dan Duncan Snidal untuk
mengidentifikasi sebuah instrumen hukum internasional yaitu: kewajiban (obligation), presisi
(precision) dan delegasi (delegation)7.
Kewajiban diartikan bahwa keterikatan suatu negara untuk memenuhi kewajiban atau
komitmen yang tertera dalam sebuah instrumen hukum. Dengan demikian perilaku negara
dibatasi oleh seperangkat aturan atau komitmen.

4
Kenneth W. Abbott, Robert O. Keohane, Andrew Moravcsik, Anne-Marie Slaughter, Duncan Snidal, “The Concept
Of Legalization” dalam Judith Goldstein, Miles Kahler, Robert Keohane dan Anne Marie Slaughter, (eds),
Legalization and World Politics: An Introduction, International Organizations, volume 54, No 3, MIT Press, 2000,
hlm. 401
5
Kenneth W. Abbott, The Many Faces of International Legalization, ASIL Proceedings 1998, hlm. 57.
6
ibid.
7
Kenneth W. Abbott, et all, The Concept of Legalization, loc.cit
“Obligation means that states or other actors are bound by a rule or commitment.
Specifically. it means that they are legally bound by a rule or commitment in the
sense that their behavior there under is subject to scrutiny under the general rules,
procedures and discourse of international law.”8

Ukuran kewajiban tersebut kemudian diturunkan menjadi beberapa unsur mulai dari yang
tertinggi hingga terendah yaitu :
1) Adanya kewajiban mutlak (Unconditional Obligation). Artinya adalah bahwa redaksional
instrumen tersebut secara tegas mensyaratkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para
pihak tanpa ada syarat
2) Persyaratan kewajiban (Implicit conditions of obligation) yaitu bahwa kewajiban yang
tertera dalam instrumen harus memenuhi persyaratan tertentu.
3) Reservasi kewajiban (national reservation obligation) yaitu adanya beberapa bunyi
ketentuan yang membolehkan adanya reservasi atas beberapa kewajiban tertentu.
4) Himbauan (Hortatory obligation) yaitu bahwa kewajiban yang terdapat dalam instrumen
tersebut bersifat himbauan.
5) Rekomendasi dan pedoman (Recommendations and guidelines) adanya rekomendasi dan
pedoman yang terdapat dalam instrumen akan tetapi tidak dimaksudkan sebagai aturan
yang mengikat.
6) Tidak Mengikat secara hukum (Explicit negation of intent to be legally bound)
maksudnya bahwa instrumen yang dibuat memang tidak bermaksud untuk mengikat para
peserta dengan kewajiban.9

Presisi didefinisikan bahwa aturan-aturan yang tertera dalam instrumen hukum tersebut
harus jelas mengatur perilaku para peserta perjanjian. “Precision means that rules
unambiguously define the conduct they require, authorize, or proscribe.”10
Untuk menjelaskan perihal presisi, maka ukuran tersebut diturunkan menjadi beberapa
unsur dari tingkatan yang tertinggi hingga terendah. Adapaun turunan dari ukuran presisi adalah:
1) Aturan tetap (determinate rules). aturan dalam instrumen dibuat sebisa mungkin untuk
dapat ditafsirkan secara luas.
2) Substantial terbatas (Substantial but limited issues) diperboleh tafsir perihal isi instrumen
hukum akan tetapi dibatasi.
3) Diskresi luas (Broad areas of discretion); banyak ketentuan yang dapat ditafsir
4) Standar tertentu (Standards); suatu aturan hanya memiliki arti pada kondisi tertentu saja

8
ibid
9
id., hlm. 410
10
loc.cit.
5) Aturan yang tidak jelas.11

Delegasi ditafsirkan bahwa adanya pendelegasian otoritas kepada pihak ketiga untuk
menafsirkan aturan, menyelesaikan sengketa atau bahkan membuat ketentuan lebih lanjut atas
instrumen tersebut.
“Delegation means that third parties have been granted authority to
implement, interpret, and apply the rules; to resolve disputes; and
(possibly) to make further rules.”12

Ukuran delegasi kemudian diperinci menjadi unsur-unsur mulai dari yang


tertinggi hingga terendah; yaitu :
A) Penyelesaian Sengketa :
1) Pengadilan dengan kekuatan mengikat pihak ketiga, yurisdiksi umum, akses
terhadap lembaga privat dan individu, dapat menafsirkan dan menambah aturan,
memiliki yurisdiksi di negara peserta.
2) Pengadilan dengan kekuatan terbatas
3) Arbitrase yang mengikat
4) Arbitrase tidak mengikat
5) Konsiliasi dan Madiasi
6) Kesepakatan kelembagaan
7) Kesepakatan Politik

B) Putusan dan implementasi


1) Putusan mengikat yaitu pelaksanaanya terpusat (centralized enforcement)
2) Putusan mengikat berdasarkan kesepakatan (consent or opt-out)
3) Pelaksanaan putusan tidak terpusat (decentralized enforcement)
4) Koordinasi standar
5) Monitoring
6) Rekomendasi
7) Pernyataan normatif
8) Forum negosiasi. 13

Berdasarkan ketiga ukuran tersebut, Abbott dan Snidal ingin mengatakan bahwa
instrumen hukum internasional bersifat hard law apabila suatu instrumen hukum
memuat kewajiban yang sangat presisi untuk mengikat perilaku para pihak serta

11
id., hlm. 415
12
loc.cit.
13
id., hlm. 416
adanya pendelegasian wewenang kepada pihak ketiga untuk menafsirkan instrumen
tersebut dan menyelesaikan sengketa. 14
Namun, perlu diingat, bahwa sejak awal Abbott dan Snidal menyatakan bahwa
ketiga ukuran tersebut bersifat independen. Artinya bahwa salah satu ukuran tidak
mempengaruhi ukuran yang lain. Hal ini diperlukan untuk membedakan tingkatan dari
instrumen hukum yang dibuat.
Dengan melihat independensi ketiga ukuran itulah maka dapat dilihat bagaimana
kepentingan negara bermain dalam membuat suatu instrumen hukum internasional. Pada
titik inilah, menurut Abbott dan Snidal, pendekatan rasional untung-rugi (cost and benefit)
dari ilmu hubungan internasional masuk.15
Keuntungan negara dalam membuat instrumen hukum yang bersifat hard law
adalah menghindari biaya yang tinggi (transactional cost), menguatkan kredibilitas
komitmen negara, memperluas jangkauan politik. Sedangkan kelemahannya adalah akan
mengikis kedaulatan negara serta tidak mudah adaptasi.
Instrumen hukum yang berbentuk soft law akan memberikan keuntungan berupa
teguhnya kedaulatan negara, mudahnya mencapai kesepakatan, lebih fleksibel menghadapi
perubahan dan adaptasi norma. Sedangkan kelemahannya adalah sulit untuk menerapkan
ketentuan tersebut karena bersifat normatif.16
Konsekuensi dari independensi ukuran-ukuran instrumen hukum tersebut maka
terdapat delapan kemungkinan yang dapat timbul yaitu; 17

Hard Law Kewajiban Presisi Delegasi


(Obligasi) (Precision) (Delegation)

Tipe 1 Tinggi Tinggi Tinggi

Tipe 2 Tinggi Rendah Tinggi

Tipe 3 Tinggi Tinggi Rendah

14
Kenneth W. Abbott dan Duncan Snidal, “Hard Law and Soft Law in International Governance”, dalam Judith
Goldstein, Miles Kahler, Robert Keohane dan Anne Marie Slaughter, (eds), Legalization and World Politics: An
Introduction, International Organizations, volume 54, No 3, MIT Press, 2000, hlm. 421
15
id., hlm. 422
16
id.,hlm 423
17
Kenneth W. Abbott et.all, The Concept of Legalization, id. 406.
Tipe 4 Rendah Tinggi Moderat

Tipe 5 Tinggi Rendah Rendah

Tipe 6 Rendah Rendah Moderat

Tipe 7 Rendah Tinggi Rendah

Tipe 8 Rendah Rendah Rendah


Soft Law

III. Konvensi Jenewa 1949


Konvensi Jenewa 1949 merupakan istilah yang digunakan untuk memudahkan
penyebutan atas empat buah konvensi yang berhasil disusun oleh masyarakat
internasional. Konvensi Jenewa 1949 merupakan salah satu pondasi pokok dalam
hukum humaniter. Hal ini dikarenakan konvensi tersebut mengatur mengenai
perlindungan terhadap korban peperangan baik warga sipil maupun pihak yang terlibat
peperangan (kombatan). Selain Konvensi Jenewa 1949, pondasi pokok lainnya dalam
hukum humaniter adalah Konvensi Den Haag 1899 dan 1907 yang mengatur mengenai
alat dan metode berperang. Sebelum adanya kedua konvensi tersebut, peradaban
manusia sebenarnya juga sudah mengenal hukum atau kaidah dalam berperang
meskipun masih minimal. 18
Latar belakang sejarah kelahiran Konvensi Jenewa 1949 tidak bisa dipisahkan
dengan peristiwa perang dunia kedua yang berakhir tahun 1945. Peperangan yang
berskala luas dan kejam itu menumbuhkan kesadaran dunia internasional untuk
melindungi korban peperangan, khususnya warga sipil. 19 Oleh karena itu, akhirnya
negara-negara bersepakat untuk membuat Konvensi Jenewa 1949 yang terdiri dari :
1) Konvensi mengenai Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Luka dan
Sakit pada waktu Peperangan di Darat (Convention for the Amelioration of the Condition
of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field)
2) Konvensi mengenai Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Luka, Sakit
dan Korban Karam pada waktu Peperangan di Laut (Convention for the Amelioration of
the Condition of Wounded, Sick and Shipwrecked Members of Armed Forces at Sea)
18
Robert Klob dan Richard Hyde, An Introduction to The International Law of Armed Conflict, Hart Publishing,
Portland, 2008, hlm.,37.
19
Philip Spoerri, The Geneva Conventions of 1949 : Origins and Current Significance, diakses dari
http://www.icrc.org pada tanggal 22 November 2010.
3) Konvensi mengenai Perlakuan terhadap Para Tawanan Perang (Convention relative to the
Treatment of Prisoners of War)
4) Konvensi mengenai Perlindungan Orang-orang Sipil pada waktu Perang ( Convention
relative to the Protection of Civilian Persons in Time of War)
Untuk memahami secara garis besar Konvensi Jenewa 1949, menurut Arlina
Permanasari, maka harus dipelajari dahulu apa yang disebut dengan “common articles”
yaitu pasal-pasal yang sama atau nyaris sama, baik isinya maupun nomor pasalnya
yang terdapat dalam semua Konvensi Jenewa 1949. 20
Selain memahami “common articles”, dalam rangka menguji konsep legalisasi
yang digunakan dalam pembentukan Konvensi Jenewa 1949, maka penulis juga akan
menganilisis tiap pasal yang terdapat dalam konvensi tersebut untuk mendapatkan
pemahaman yang utuh dan menyuluruh.

IV. Legalisasi Dalam Konvensi Jenewa 1949


A. Unsur Kewajiban dalam Konvensi Jenewa 1949
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa definisi kewajiban (obligation) dalam konsep
legalisasi adalah keterikatan suatu negara untuk memenuhi kewajiban atau komitmen yang
tertera dalam sebuah instrumen hukum. Dengan demikian perilaku negara dibatasi oleh
seperangkat aturan atau komitmen.
Konsekuensi dari adanya unsur kewajiban adalah akan menimbulkan tanggungjawab bagi
negara peserta yang melanggar ketentuan. Untuk itu perlu dilihat dengan rinci bagaimana unsur
kewajiban yang ada dalam Konvensi Jenewa 1949.
Pada pasal-pasal kembar (common articles) Konvensi Jenewa 1949 akan terlihat
beberapa gradasi kewajiban yang dibebankan kepada negara peserta. Pada Pasal 1 contohnya
dinyatakan bahwa para negara peserta berkewajiban untuk menghormati dan menjamin
penghormatan terhadap konvensi pada saat kapanpun. Penggunaan kata “undertake” ketimbang
“shall” memang tidak terlalu kuat. Namun, perlu diperhatikan konteks pada saat pembuatan
konvensi. Dengan asumsi menggunakan kata yang tidak terlalu ketat maka diharapkan konvensi
akan mudah diterima oleh semua pihak.
Dalam Pasal 3 ayat 1 kewajiban negara peserta konvensi sangat jelas terhadap “horse de
combat” tanpa ada persyaratan apapun. Namun, dalam ayat 2 dinyatakan berbeda bahwa
pelaksanaan kewajiban dalam pasal tersebut itu dengan persyaratan kesepakatan khusus. Alasan
yang dapat menjustifikasi pasal ini adalah bahwa ketentuan tersebut memang untuk perang yang

20
Arlina Permanasari, Apa Maksud “common articles” dalam Konvensi Jenewa 1949?, diakses dari
http://arlina100.wordpress.com pada tanggal 22 November 2010.
tidak bersifat internasional (bukan negara lawan negara) sedangkan Konvensi Jenewa 1949
sejatinya berlaku untuk perang yang terjadi antara negara dengan negara.
Hal menarik terdapat dalam Pasal 6, dimana negara peserta diberikan kewenangan untuk
membuat kesepakatan yang dianggap sesuai. Akan tetapi, kewenangan tersebut tidak
menghilangkan kewajiban negara peserta untuk melindungi orang-orang yang wajib dilindungi
dalam Konvensi 1949.
Kewajiban terhadap orang yang sakit dan luka dalam Konvensi I Jenewa 1949 sangat
jelas tercantum dalam Pasal 12-19. Dalam Pasal 12 misalnya dinyatakan bahwa negara peserta
wajib melindungi dan menghormati orang yang terluka dan sakit selama peperangan tanpa
melihat perbedaan kelamin, suku, kebangsaan, agama dan pandangan politiknya. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kewajiban bagi negara peserta dalam Pasal 12 sangat tinggi.
Kewajiban lain negara peserta dalam Konvensi I Jenewa 1949 adalah berkaitan dengan
perlindungan terhadap bangunan dan kesatuan-kesatuan kesehatan. Ketentuan itu tercantum
dalam Pasal 19. Kewajiban melindungi itu harus dilakukan selama peperangan berlangsung
meskipun jika kesatuan kesehatan jatuh ke tangan pihak lawan. Namun, lagi-lagi, Konvensi I
Jenewa 1949 memberikan persyaratan kewajiban perlindungan tersebut yang tercantum dalam
Pasal 22.
Perihal perlindungan terhadap anggota dinas kesehatan, Konvensi I Jenewa 1949
memberikan kewajiban tinggi kepada negara peserta. Kewajiban-kewajiban tersebut tidak hanya
berlaku untuk dinas kesehatan dari pihak yang bersengketa akan tetapi juga dari negara netral
(Pasal 27 jo 32). Kewajiban itu berbentuk bahwa anggota dinas kesehatan harus dijamin untuk
menjalan tugasnya sesuai dengan etika profesinya.
Pasal 46 Konvensi Jenewa I 1949 secara nyata memberikan kewajiban kepada negara
peserta sebuah larangan untuk menyerang orang terluka, sakit, para petugas, bangunan-bangunan
atau perlengkapan yang dilindungi oleh konvensi. Pasal ini secara nyata memberikan kewajiban
tanpa syarat kepada negara peserta.
Pada Konvensi II Konvensi Jenewa 1949, kewajiban negara peserta hampir serupa
dengan Konvensi I Jenewa 1949. Hal yang membedakan adalah tempat peristiwanya. Jika Pada
Konvensi I perlindungan terhadap korban di darat sedangkan Konvensi II perlindunganya
terhadap korban akibat perang di laut (Pasal 12-21 Konvensi II Jenewa 1949). Namun,
kewajiban perlindungan tersebut dilakukan dengan persyaratan siapa saja yang termasuk orang
luka, sakit dan korban kapal di laut (Pasal 13 Konvensi Jenewa 1949).
Negara peserta juga wajib melakukan perlindungan terhadap kapal kesehatan yang
tercantum dalam Pasal 22-35 Konvensi II Jenewa 1949. Meski terdapat persyaratan atas apa
yang dikategorikan terhadap kapal kesehatan, namun hal tersebut tidak dapat mengurangi
kewajiban negara peserta untuk melindungi kapal kesehatan (Pasal 35 Konvensi II Jenewa
1949). Dalam Pasal 36 kemudian juga kewajiban negara peserta untuk tidak menangkap
personel dinas rohani, kesehatan, kapal kesehatan serta awaknya.
Kini akan dielaborasi kewajiban bagi negara peserta yang terdapat dalam Konvensi III
Jenewa 1949 tentang perlakuan terhadap tawanan perang. Negara peserta wajib melindungi
tawanan perang secara manusiawi agar tidak membahayakan nyawa serta kesehatanya (Pasal
13). Selain itu para tawanan perang memiliki hak atas penghormatan diri, martabat serta hak
keperdataan penuh.(Pasal 14).
Pasal 16 memberikan kewajiban bagi negara peserta untuk menjamin kesehatan dan
keselamatan tawanan perang tanpa ada perbedaan suku, kebangsaan, kepercayaan, agama atau
pandangan politik. Pasal ini secara jelas memberikan kewajiban negara peserta tanpa ada
persyaratan tertentu. Dalam bagian III Perihal Penawanan, Konvensi III Jenewa 1949, negara
peserta diwajibkan memberikan serangkaian perlindungan terhadap tawanan perang. Kewajiban
tersebut dapat dilihat misalnya dalam hal memberikan kartu pengenal (Pasal 17), perlindungan
terhadap barang-barang pribadi (Pasal 18), tindakan manusiawi saat evakuasi (Pasal 19-20),
pengasingan (Pasal 21-24), termasuk didalamnya pemberian tempat tinggal, makanan dan
pakaian, kesehatan (Pasal 25-33).
Setiap negara peserta juga wajib memberikan upah kepada tawanan perang sesuai
pangkat tawanan itu pada saat di tahan namun kewajiban tersebut dapat diabaikan apabila ada
ketentuan khusus yang mengatur hal itu (Pasal 60)
Konvensi IV Jenewa 1949 mengatur tentang perlindungan penduduk sipil saat terjadinya
perang. Kewajiban perlindungan terhadap penduduk sipil dalam perang merupakan suatu hal
yang baru. Hal ini terkait dengan keganasan Nazi selama perang dunia kedua yang banyak
menelan korban penduduk sipil.21
Kewajiban negara untuk melindungi penduduk sipil terdapat dalam Pasal 4. Perlindungan
tersebut tidak boleh membedakan nasionalitas, ras, agama atau pandangan politik (Pasal 13).
Bentuk kewajiban itu lalu diperinci dalam Pasal 27-34 yang berisi perlindungan penduduk sipil
atas tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani, menjatuhkan hukum kolektif, intimidasi,

21
Philip Spoerri, op.cit.
terror dan perampokan, pembalasan, dijadikan sandera serta tindakan yang menumbulkan
penderitaan jasamani dan pembasmian.
Jika melihat kewajiban yang dibebankan Konvensi IV Jenewa kepada negara peserta atas
perlindungan penduduk sipil, maka dapat terlihat bahwa bentuk kewajiban yang ada cukup
tinggi. Pada bagian ketiga, seksi 1, tentang status dan perlakuan terhadap penduduk sipil,
misalnya, kewajiban perlindungan yang diberikan oleh Konvensi IV Jenewa 1949 harus
dijalankan tanpa syarat oleh negara peserta. Namun, dalam bagian lain, Pasal 5 misalnya,
kewajiban negara peserta diberikan persyaratan pembedaan antara penduduk sipil yang terlibat
dalam permusuhan dengan yang tidak.
Atas pelanggaran dan penyalahgunaan terhadap Konvensi Jenewa 1949. Pasal-pasal
kembar dalam Konvensi Jenewa 1949 yaitu; Pasal 49 (Konvensi I), Pasal 50 (Konvensi II), Pasal
129 (Konvensi III), Pasal 146 Konvensi IV, mewajibkan negara peserta untuk membuat
ketentuan pidana agar dapat menghukum pihak yang melanggar ketentuan dalam Konvensi Wina
1949. Kewajiban tersebut harus dilakukan tanpa syarat.
Bagian yang menarik mengenai kewajiban dalam Konvensi Jenewa 1949 adalah adanya
pasal yang memberikan kebebasan negara peserta untuk tidak turut serta dalam konvensi
(escaping clause) yaitu Pasal 63/62/142/158. Jika menggunakan kacamata konsep legalisasi
secara sederhana, dengan adanya ketentuan tersebut dalam Konvensi Jenewa 1949, maka dapat
dikategorikan bahwa konvensi tersebut merupakan instrumen hukum yang lemah. Namun,
menurut penulis, dengan melihat secara keseluruhan ketentuan tersebut, maka penghentian
keterlibatan dalam Konvensi Jenewa 1949 juga dilengkapi dengan persyaratan. Oleh karena itu,
Konvensi Jenewa 1949 memiliki unsur kewajiban yang tetap tinggi meskipun terdapat pasal
mengenai penghentian secara unilateral.
B. Unsur Presisi dalam Konvensi Jenewa 1949
Menurut konsep legalisasi yang telah dijelaskan di atas bahwa presisi didefinisikan
sebagai aturan-aturan yang tertera dengan jelas dan terperinci agar tidak terjadi kepastian hukum
dalam mengatur perilaku para negara peserta. Unsur presisi dalam sebuah instrumen hukum
sangat penting untuk menentukan maksud yang pasti dari sebuah instrumen hukum sehingga
tidak terjadi multi tafsir.
Konvensi Jenewa 1949 menurut penulis dapat dikategorikan memiliki presisi yang cukup
tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya ketentuan yang memperinci perihal
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Sebagai contoh dapat dilihat dalam Pasal 13
Konvensi I Jenewa 1949. Pasal tersebut memperinci mengenai siapakah yang tergolong sakit dan
terluka sehingga wajib untuk dilindungi. Perincian yang sama juga tercantum dalam Pasal 13
Konvensi II Jenewa 1949. Dalam Konvensi III Jenewa 1949 tentang Tawanan Perang, definisi
dan perincian siapakah yang termasuk tawanan perang sehingga harus dilindungi juga diatur
secara rinci dalam Pasal 4. Sedangkan hal yang sama juga diberlakukan pada Pasal 4 Konvensi
IV Jenewa 1949 untuk merinci siapakah yang terrmasuk dalam kategori penduduk sipil yang
harus dilindungi.
Meskipun demikian, tidak semua pasal dalam Konvensi Jenewa 1949 memberikan arti
yang pasti. Padal Pasal 1 (common articles) contohnya, ketentuan itu menyebutkan bahwa pihak
peserta berjanji untuk menghormati dan menjamin penghormatan konvensi. Akan tetapi, tidak
dijelaskan secara pasti apakah yang dimaksud dengan menghormati dan menjamin
pernghormatan itu?. Ketidakjelasan seperti ini akan menimbulkan ketidakpastian arti yang
dipahami oleh masing-masing peserta sehingga dapat menghambat pelaksanaan kewajiban yang
terdapat dalam Konvensi Jenewa 1949.
Contoh lainya adalah tentang definisi Penduduk Sipil dalam Konvensi IV Jenewa 1949.
Menurut F. Sugeng Istanto, definisi tentang penduduk sipil tidak dijelaskan secara eksplisit
dalam Konvensi IV Jenewa 1949. Namun, meski tidak dijelaskan secara eksplisit perihal subjek
yang harus dilindungi seperti dalam ketiga Konvensi Jenewa yang lain, kita dapat memahami apa
yang dimaksud dengan penduduk sipil dalam Konvensi IV Jenewa 1949 dalam uraian pasalnya
yang tercantum dalam Pasal 4.22
Kedua contoh tersebut memberikan justifikasi bahwa presisi dalam Konvensi Jenewa
1949 cukup tinggi meskipun dengan catatan masih terdapat beberapa ketentuan yang masih
ambigu. Unsur presisi ini selain akan menimbulkan implikasi pada pelaksanaan kewajiban juga
akan berujuk pada siapakah yang dapat menafsirkan ketentuan-ketentuan tersebut? Pada titik ini
unsur delegasi ikut turut andil dalam menyelesaikannya.
C. Unsur Delegasi dalam Konvensi Jenewa 1949
Delegasi ditafsirkan sebagai adanya pendelegasian otoritas kepada pihak ketiga untuk
menafsirkan aturan, menyelesaikan sengketa atau bahkan membuat ketentuan lebih lanjut atas
suatu instrumen hukum. Unsur delegasi kemudian dibagi dua yaitu; metode penyelesaian
sengketa dan sifat putusan yang diambil.
Dalam Konvensi Jenewa 1949 perihal pelaksanaan dan pelanggaran konvensi masuk
dalam pasal-pasal kembar. Adapun pasal-pasal yang dimaksud adalah Pasal 49 dan 52/Pasal 50
dan 53/ Pasal 129 dan 132/ Pasal146 dan 149.
22
F. Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil Dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum Internasional,
Andi Offset, Yogyakarta, 1992, hlm. 49.
Membaca pasal-pasal kembar tersebut penulis menyimpulkan bahwa unsur delegasi
dalam Konvensi Jenewa 1949 tergolong rendah. Asumsi ini didasarkan bahwa tidak adanya
lembaga/otoritas yang mengawasi pelaksanaan isi konvensi secara independen.
Memang dalam pasal-pasal kembar yaitu Pasal 52/53/132/149 dijelaskan bahwa negara
peserta dapat bersepakat untuk membentuk lembaga penyelidikan (enquiry) untuk menyelidiki
apakah telah terjadi pelanggaran atas ketentuan Konvensi Jenewa 1949. Namun, penyerahan
delegasi kepada lembaga penyelidikan harus berdasarkan kesepakatan. Pasal tersebut juga
mengatur apabila tidak terjadi kesepakatan maka para pihak harus sepakat untuk menunjuk wasit
(arbiter) untuk menyelediki. Akan tetapi, tidak dijelaskan bagaimana cara penunjukan wasit dan
batas waktu gagal atau tidaknya kesepakatan tersebut. Putusan dalam lembaga penyeledikan itu
memang bersifat final dan mengikat akan tetapi hal tersebut sukar diperoleh apabila prosedur
pembentukan lembaga penyelidikan masih tidak jelas.
Kelemahan delegasi Konvensi Jenewa semakin terlihat pada pasal-pasa kembar yaitu
Pasal 49/50/129/146 Konvensi Jenewa 1949 yang menyatakan bahwa negara peserta wajib
membuat ketentuan pidana nasional untuk menghukum pihak-pihak yang melakukan
pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa 1949. Ketentuan tersebut secara gamblang ingin
menjelaskan bahwa perihal penghukuman kepada pihak yang melanggar ketentuan konvensi
dikembalikan ke negara masing-masing, dengan cara membentuk hukum pidana .

IV. Kesimpulan
Dengan menggunakan konsep legalisasi dari Abbott dan Snidal untuk menganalisa
Konvensi Jenewa 1949, maka dapat disimpulkan bahwa Konvensi Jenewa 1949 termasuk dalam
Tipe Legalisasi Ketiga, yaitu Kewajiban : Tinggi; Presisi : Tinggi; Delegasi : Rendah. Dengan
demikian dapat diartikan bahwa Konvensi Jenewa 1949 tidaklah termasuk instrumen hukum
yang benar-benar Hard Law (Tinggi) meskipun menggunakan istilah konvensi.
Meskipun hal ini tidak berkaitan dengan efektifitas suatu instrumen hukum, namun
dengan hasil analisa tersebut dapat dilihat bagaimana perilaku negara pada saat pembentukan
Konvensi Jenewa 1949.
Pemilihan bentuk konvensi (hard law) dilakukan oleh negara-negara pemenang perang
dunia kedua untuk melindungi orang dalam peperangan. Motifnya tentu saja demi menjaga nilai-
nilai kemanusiaan selama perang. Namun, dibalik itu akan terlihat bahwa seolah-olah negara-
negara tersebut ingin meneguhkan bahwa norma kemanusiaan dalam perang merekalah yang
mengusungnya.
Bentuk hard law tersebut juga ingin menegaskan bahwa mereka sangat serius untuk
mengangkat isu kemanusiaan dalam perang. Hal ini dapat terlihat dalam ketentuan kewajiban
dan presisi dalam Konvensi Jenewa 1949. Namun, dapat dilihat juga bahwa negara-negara pada
saat itu masih memegang teguh prinsip kedaulatan negara, sehingga enggan untuk
menyererahkan sebagiannya kepada pihak ketiga apabila terjadi pelanggaran atas Konvensi
Jenewa 1949.

Daftar Pustaka

Dinah L. Shelton, Soft Law, Handbook of International Law, Routledge Press, 2008.
F. Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil Dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum
Internasional, Andi Offset, Yogyakarta, 1992.
Gregory C. Schaffer, Mark A. Pollack, Hard Vs Soft Law : Alternatives, Complement and
Antagonists in International Governance, Legal Study Research Paper Series (Research
Paper No.09-23), University of Minnesota Law School, 2010.
Judith Goldstein, Miles Kahler, Robert Keohane dan Anne Marie Slaughter, (eds), Legalization
and World Politics: An Introduction, International Organizations, volume 54, No 3, MIT
Press, 2000
Kenneth W. Abbott, The Many Faces of International Legalization, ASIL Proceedings 1998.
Robert Klob dan Richard Hyde, An Introduction to The International Law of Armed Conflict,
Hart Publishing, Portland, 2008
Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Hukum Internasional: Bunga Rampai, Alumni, Bandung, 2003,

Internet :
Philip Spoerri, The Geneva Conventions of 1949 : Origins and Current Significance, diakses dari
http://www.icrc.org pada tanggal 22 November 2010.
Arlina Permanasari, Apa Maksud “common articles” dalam Konvensi Jenewa 1949?, diakses
dari http://arlina100.wordpress.com pada tanggal 22 November 2010.