Anda di halaman 1dari 16

HALAMAN JUDUL

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK


“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT BRONCHOPNEUMONIA”

Fasilitator :
Disusun oleh:
Kelompok 3 (Kelas AJ-1 B-21)

1. Oky Ayu W (131811123011)


2. Ainun Mulia (131811123026)
3. Mabda Novalia (131811123057)
4. Arifatul Mahmudah (131811123065)
5. Aulia Alfafa (131811123068)
6. Farih Aminudin (131811123075)
7. Ilham ‘Ainun Najib (131811123076)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

I.KONSEP MEDIS

1. Pengertian

Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneomonia yang mempunyai pola


penyebaran berbecak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan
meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya.

Bronkopneumonia adalah suatu cadangan pada parenkim paru yang meluas sampai
bronkioli atau dengan kata lain peradangan da n yang terjadi pada jaringan paru melalui cara
penyebaran langsung melalui saluran pernfasan atau melalui hematogen sampai ke bronkus.

2.Etiologi

Penyebab tersering bronchopneumonia pada anak adalah pneomococus sedang


penyebab lainnya antara lain adalah streptococcus pneumoniae, stapilokokus aureus,
Haemophillus influenzae, jamur (seperti candida albicans), dan virus. Pada bayi dan anak
kecil ditemukan staphylococcus aureus sebagai penyebab yang berat, serius dan sangat
progresif dengan mortalitas tinggi.

3. WOC
Virus, Bakteri, Jamur
(Penyebab

Invasi saluran napas atas

Kuman berlebih Kuman Terbawa Infeksi saluran napas bawah


di Bronkus ke saluran cerna

Proses peradangan Kuman terbawa ke


saluran cerna
Dilatasi Peradangan
Akumulasi secret di bronkus Pembuluh
Infeksi saluran cerna darah
Peningkatan suhu
Eksudat masuk
Peningkatan flora tubuh
Bersihan Jalan Mucus di alveoli
bronkus normal di usus
Napas Tidak
Efektif meningkat
Hipetermi
Gangguan difusi
Peristaltic gas
Bau mulut tak sedap
Usus
Meningkat Hipetermi
Gangguan
Anoreksia
Pertukaran Gas
Malabsorpsi
Suplai O2 dalam darah
Intake menurun menurun
Frekuensi BAB>
3X/hARI
Nutrisi Kurang Hipoksia
Dari Kebutuhan
Gangguan Keseimbagan
Cairan Fatique

Intoleransi
Aktivitas

4. Tanda dan Gejala


Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratori bagian atas
selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak samapai 39-40 °C dan kadang
disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat
dan dangkal disertai pernfasan cuping hdung serta sianosis sekitar hdung, dan mulut, merintih
dan dangkal disertai pernafasan cuping hidungserta sianosis sekitar hidung dan mulut,
merintih dan sianosis. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak
ditemukan pada permulanan penyakit, tetpai setelah beberapa hari mula-mula kering
kemudian menjadi produktif. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari luas daerah auskultasi
yang terkena. Pada perkusi hanya terdengar ronki basah yang nyaring halus atau sedang. Bila
sarang bronkopneomonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar
keredupan dan suara pernfasan pada auskultasi terdengar mengeras.

Anak yang lebih besar dengan pneomonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang
sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Tanda pneomonia berupa retraksi (penarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
nafas) perkusi pekak, fremifus melemah, suara nafas melemah dan ronki. Pada neonatus dan
bayi kecil tanda pneomonia tidak terlalu jelas. Efusi pleura pada bayi akan menimbulkan
pekak perfusi.

5. Penatalaksanaan

Penataklaksanaan yang dapat diberikan pada anak dengan bronchopneomonia:


a. Medis

1. Pemberian obat antibiotik penisilin 50000 U/Kg Bb/hari, ditambah dengan


kloramfenikol 50-70 mg/kg bb/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai
spektrum luas seperti ampisilin.
2. Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari. Pemberian obat kombinasi
bertujuan untuk menghilang penyebab infeksi yang kemungkinan lebih dari satu
jenis juga untuk menghindari resistensi antibiotik.
3. Koreksi gangguan asam basa dengan pemberian oksigen dan cairan intravena,
biasanya diperlukan campuran glukosa 5% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1
ditambah larutan Kcl 10 mEq/500ml/botol infus.
4. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang
makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas
darah arteri.

b.Keperawatan
1. Menjaga kelancaran pernafasan
– Atur posisi agar mudah bernafas : semi fowler, mengekstensikan kepala
pada bayi saat berbaring dengan memberi ganjal di bawah bahu
– Mengajarkan batuk efektif
– Menghisapan lendir
– Melonggarkan pakaian
2. Memenuhi kebutuhan istirahat
 Memberikan lingkungan yang nyaman, tenang
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan
 Pemasangan infus
 Menganjurkan ibu untuk sering meneteki bayi
 NGT
4. Mengontrol suhu tubuh
 Melakukan pengontrolan setiap 1 jam
 kompres
5. Mencegah komplikasi/gangguan rasa aman dan nyaman
 Ubah posisi tiap 2 jam
 Mengeluarkan sekret : isap lendir, postural drainage. fisioterapi

6.Pencegahan
1. Vaksin pneumokok polivalen untuk pasien yang berpredisposisi misalnya
penyakit sel sabit, pascasplenektomi dan bronchitis parah.
2. Minum banyak air putih dan berhenti minum minuman yang berakhohol
3. Hindari iritan atau allergen yang dapat memperangarah penyakit sperti asap
rokok
4. Tingkatkan imunitas tubuh makan makanan yang mengandung nutrisi seimbang
berolah raga dan cukup istirahat serta mengurangi stress
5. Jika penyakit bertambah parah segera berkonstriksi dengan dokter.
7.Komplikasi
1. Empiema (penyebaran infeksi kedalam rongga pleura)
2. Pembentukan Abses paru
3. Meningitis
4. Bakteremia dan sepsis dengan infeksi pada organ tubuh yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Jakarta : Salemba Medika.

Mitchell. 2008. Buku saku dasar patologis penyakit Robbins & Cotran. Jakarta: EGC.

Thomson, A.D. & Cotton, R.E. 1997. Catatan Kuliah Patologi Edisi III. Jakarat: EGC.
Price, A.S. & Wilson, L.M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.

II. KONSEP ASKEP


Asuhan kepearawatan
Pengkajian riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional menurut
Gordon:
a. Pola presepsi sehat-penatalaksanaan sehat
Data yang mucul sering orangtua berpersi meskipun anaknya batuk masih
mengagap belum terjadi gangguan serius, biasanya orang tua menganggap
ankanya benar-benar sakit apabila anak sudah mengalami sesak nafas.
b. Pola metabolik nutrisi
Anak dengan bronkopneumonia sering muncul anoreksia (akibat respon sistemik
melalui mual dan muntah (karena peningkatan rangsangan gaster sebagai dampak
peningkatan toksik mikroorganisme)
c. Pola eliminasi
Penderita sering mengalami penurunan produksi urin akibat perpindahan cairan
melalui proses evaporasi karena demam.
d. Pola tidur-istirahat
Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena sesak
nafas. Penampilan anak terlihat lemah, sering menguap, mata merah, anak juga
sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut.
e. Pola aktivitas-latihan
Anak tampak menurun aktifitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan fisik.
Anak tampak lebih banyak minta digendong orangtuanya atau bedrest.
f. Pola kognitif-presepsi
Penurunan kognitif untuk mengiongat apa yang pernah disampaikan biasanya
sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen pada otak. Pada saat di rawat
anak tampak bingung kalau ditanya tentang hal-hal baru disampaikan.
g. Pola presepsi diri-konsep diri
Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat, tidak suka
bermain, ketakutan terhadap orangh meningkat.
h. Pola peran hubungan
Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya maupun yang
lebih besar, Anak lebih banyak diam dan selalu bersama dengan orang terdekat
orang tua.
i. Pola seksualitas reproduktif
Pada kondisi sakit dan anak kecil masih sulit terkaji. Pada anak yang sudah
mengalami pubertas mungkin terjadi gangguan yang sudah mengalami pubertas
mungkin terjadi gangguan menstruasi pada wanita tetapi bersifat sementara dan
biasanya penundaan.
j. Pola toleransi stress-koping
Aktifitas yang sering tampak saat menghadapi stress adalah anak yang mengangis,
kalau sudah remaja saat sakit yang dominan adalah mudah tersinggung dan suak
marah.
k. Pola nilai-keyakinan
Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk mendapat
sumber kesembuhan dari allah SWT.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status penampilan kesehatan: lemah
b. Tingkat kesadaran kesehatan; kesadaran normal, letargi, strupor, koma, apatis
tergantung tingkat penyebaran penyakit.
c. Tanda-tanda vital
1. Frekuensi nadi dan tekanan darah: Takikardi, hipertensi
2. Frekuensi pernafasan:
Takipnea, dispnea progresif, pernafasan dangkal, penggunaan otot bantu
pernfasan, pelebaran nasal.
3. Suhu tubuh
Hipertemi akibat penyebaran toksik mikroorganisme
Yang direspon oleh hipotalamus.
d. Berat badan dan tinggi badan
Kecendrungan berat badan anak mengalami penurunan.
e. Integumen
Kulit
1. Warna;Pucat sampai sianosis
2. Suhu
Pada hipetermi kulit terbakar panas akan tetapi setelah hipertemi teratasi
kulit anak akan teraba dingin.
3. Turgor; Menurun pada dehidrasi.
f. Kepala dan mata
Kepala
1. Perhatikan bentuk dan keistemawan
2. Palpasi tengkorak akan adanya nodus atau pembengkakan yang nyata.
3. Periksa higiene kulit kepala, ada tidaknya lesi, kehilangan rambut,
perubahan warna.
Data yang paling menonjol pada pemeriksaan fisik adalah pada; Thorax dan
paru-paru

1. Inspeksi: Frekuensi irama, kedalaman dan upaya bernafas antara lain :


takipnea, dispnea progresif, pernfasan dangkal, pektus ekskavatum (dada
corong),paktus karinatum(dada burung), barrel chest.
2. Palpasi; Adanya nyeri tekan, massa, peningkatan vokal frtemitus pada
daerah yang terkena.
3. Perkusi;Pekak terjadi bila terisi cairan pada paru, normal-nya timpani
(terisi udara) resonansi.
4. Auskultasi: Suara pernafasan yang meningkat intensitasnya:
- Suara bronkovesikuler atau bronchial pada daerah yang terkena.
- Suara pernafasan tambahan-ronki inspiratoir pada sepertiga akhir
inspirasi.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis dengan predominan PMN atau
dapat ditemukan leukositosis dengan predominan PMN atau dapat ditemukan
leucopenia yang menandakan prognosis buruk. Dapat ditemukan anemia ringan
atau sedang.
2. Pmeriksaan radiologis member gambaran bervariasi:
- Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia
- Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris
- Gambaran bronkopneumonia difusatau infiltrate pada pneumonia
stafilokok.
3. Pemeriksaan cairan pleura
4. Pemriksaan mikrobiologik, dapat dibiak dri specimen usap tenggorok, sekresi
nasofaring, bilasan bronkus atau sputum, darah, aspirsi trake, fumgsi pleura atau
aspirasi paru.
(Mansjoer, A. 2000)
7. Masalah keperawatan dan intervensi
A. Diagnosa 1
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan poduksi sputum.
- Kemungkinan dibuktikan oleh:
1. Pernfasan cepat dan dangkal (RR mungkin> 35 kali permenit)
2. Bunyi nafas ronkhi basah, terdapat retraksi dada dan penggunaan otot bantu
pernfasan.
3. Pasien mengeluh sesak nafas
4. Batuk biasanya produktif dengan produksi sputum yang cukup banyak.
Intervensi:
1. Kaji frekuensi atau kedalamanan pernfasan dan gerakan dada
Rasional: Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris terjadi karena
peningkatan tekanan dalam paru dan penyempitan bronkus. Semakin sempit dan
tinggi tekanan semakin meningkat frekwensi pernfasan.
2. Auskultasi area paru, cata area penurunan atau tak ada aliran udara.
Rasional: Suara mengi mengindikasikan terdapatnya penyempitan bronkus oleh
sputum. Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Krekels
terjadi pada area paru yang banyak cairan eksudatnya.
3. Bantu pasien latihan nafas dan batuk secara efektif rasional: nafas dalam
memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. Batuk secara
efektif mempermudah pengeluaran dahak dan mengurangi tingkat kelelahan akibat
batuk.
4. Section sesuai indikasi
Rasional: mengeluarkan sputum secara mekanik dan mencegah obtruksi jalan nafas.
5. Lakukan fisioterapi dada
Rasional: merangsang gerakan mekanik lewat vibrasi dinding dada supaya sputum
mudah bergerak keluar.
6. Berikan cairan sedikitnya 1000 ml/hari (kecuali kontra indikasi). Tawarkan air hangat
dari pada dingin.
Rasional: meningkatkan hidrasi sputum. Air hangat mengurangi tingkat kekentalan
dahak sehingga mudah dikeluarkan.
Kolaborasi
1. Terapi obat-obatan bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi (nebulizer). Contoh
pemberian obat flexotid dan ventolin atau flexotid dan bisolvon.
Rasional: memudahkan pengenceran, dan pembuangan secret dengan cepat.
2. Berikan obat bronkodilator, ekspetoran, dan mukolitik secara oral (kalau sudah
memungkinkan)
Rasional: mengurangi, spasma bronkus, mengencerkan dahan dan mempermudah
pengeluaran dahak melalui silia mukus pada saluran pernapasan.
3. Berikan cairan tambahan misalnya cairan intravena
Rasional: cairan di perlukan untuk menggantikan kehilangan (termasuk yang tidak
tambak) dan memobilisasikan secret.
4. Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri.
Rasional: mengevaluasi kemajuan dan efek proses penyakit dan memudahkan plihan
terapi yang diperlukan.
5. Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional: antibiotik membantu mikroorganisme penyebab sehingga dapat mengurangi
peningkatan produk sputum yang merupakan sebagai akibat timbulnya peradangan.
6. Bronkoskopi bila diindikasikan
Rasional: kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa.
Mengeluarkan sekresi purulen dan atau mencegah atelektasis.
B. Diagnosa II
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan kapiler alveolus.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
1. Dispnea, sianosis
2. Takipne dan takikardi
3. Gelisah atau perubahan mental
4. Kelemahan fisik
5. Dapat juga terjadi penurunan kesadaran
6. Nilai AGD menunjukkan peningkatan PCO2 (normal PCO2 35-45 MmHg, sedangkan
pada kondisi asidosis dapat menjadi 70 MmHg) dan penurunan PH (normal PH 7,35-
7,45, kalau asidosis 7,25 MmHg)
Intervensi
1. Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas
Rasional: Distres pernafasan yang dibuktikan dengan dispnea dan takipnea
sebagai indikasi penurunan kemampuan menyediakan oksigen bagi jaringan.
2. Observasi warna kulit, catat adanya sianosis pada kulit, kuku dan jaringan sentral.
Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi. Sedanhkan sianosis daun
telinga, membrane mukosa dan kulit sekitar mulut (membrane hangat)
menunjukkan hipoksemia sistemik.
3. Kaji status mental dan penurunan kesadaran
Rasional: gelisah, mudah terangsang, bingung dan somnolen sebagai petunjuk
hipoksemia atau penurunan oksigen serebral.
4. Awasi frekuensi jantung atau irama
Rasional: takikardia biasanya ada sebagai akibat demam atau dehidrasi tetapi
dapat sebagai respons terhadap hipoksemia.
5. Awasi suhu tubuh
Rasional: demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan
oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
6. Kaji tingkat ansietas sediakan waktu untuk berdiskusi dengan pasien atau susun
bersama jadwal pertemuan.
Rasional: ansietas adalah manifestasi masalah psikologi sesuai dengan respons
fisiologi terhadap hipoksia. Pemberian keyakinan dan meningkatkan rasa aman
dapat menurunkan komponen psikologis, sehingga menurunkan kebutuhan
oksigen dan efek merugikan dari respons fisiologis.
Kolaborasi
1. Berikan terapi oksigen dengan benar, misalnya: dengan nasal prong, masker,
masker venture
Rasional: tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg
(normal PO2 80-100 MmHg). Oksigen diberikan dengan metode yang
memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
2. Pemantauan AGD (Analisa Gas Darah)
Rasional: tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg
(normal PO2 80-100 MmHg). Oksigen di berikan dengan metode yang
memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
C. Diagnosa III
Nyari dada berhubungan dengan kerusakan parenkim paru
Kemungkinan dibuktikan oleh:
i. Pasien mengeluh adanya sakit
ii. Pasien terlihat meriungis kesakitan
iii. Terlihat gerakan dada terbatas saat bernafas
iv. Perilaku distraksi, gelisah
v. Tampak perilaku seperti meringis kesakitan, menangis, rewel.
Intervensi
1. Tentukan karakteristik nyeri, misalnya: tajam, konstan, ditusuk, selidiki perubahan
karakter atau lokasi atau intensitas nyeri.
Rasional: nyeri pneumoni mempunyai karakter nyeri dalam dan meningkat saat di
buat inspirasi dan biasanya menetap. Nyeri dapat di rasakan pada bagian apeks atau
tengah dada, kalau pada dada bagian bawah nyeri kemungkinan timbul komplikasi
perikarditis.
2. Pantau tanda vital
Rasional: nyeri akan meningkatkan meditor kimia serabut persarafan yang dapat
merangsang vaso konstriksi pembuluh darah sistemik, meningkatkan denyut jantung ,
meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan (meningkatkan RR).
3. Berikan tindakan nyaman, misalnya mendengarkan music anak, menonton film
tentang anak-anak, menonton film tentang anak-anak.
Rasional: mengurangi fokus terhadap nyeri dada sehingga dapat mengurangi
ketegangan karena nyeri
4. Berikan tindakan nyaman, misalnya: pijatan punggung, perubahan posisi, music
tenang, relaksasi atau latihan nafas.
Rasional: tindakan non-analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat
menghilangkan ketidak nyamanan dan memperbesar efek terapianalgesik.
5. Anjurkan keluarkan atau pasien dan bantu pasien dalam teknik menekankan dada
selama episode batuk.
Kolaborasi
Berikan analgesik dan antitusif sesuai indikasi
Rasiona: obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk nonproduktif atau paroksismal
atau menurunkan mukosa berlebihan, meningkatkan kenyamaan atau istirahat umum.
D. Diagnosa IV
Intoleransi aktivitas berhubungn dengan: ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigan atau kelelahan yang behubungan dengan gangguan pola tidur.
Kemungkinan di buktikan oleh:
a. Laporan verbal kelemahan, keletihan
b. Pasien tampak lemah, saat dicoba untuk bangun pasien mengeluh tidak kuat.
c. Nadi teraba lemah dan cepat dengan frekwensi > 100 kali permenit
Intervensi:
1. Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan
kelemahan atau kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas.
Rasional: menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan
intervensi
2. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Dorong penggunaan menejemen stress dan pengalihan yang tepat.
Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
3. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan
aktivitas dan istirahat.
Rasional: tirah baring di pertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan
metabolik, menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas di tentukan
dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan
pernapasan.
4. Bantu pasien memilih posisi nyaman utnuk istirahat dan atau tidur
Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur dikursi atau menunduk
kedepan meja atau bantal.
5. Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan. Berikan kemajuan peningkatan
aktivitas selama fase penyembuhan.
Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebtuhan
oksigen.
E. Diagnosa V
Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan
metabolic sekunder tahadap demam dan proses infeksi.
Kemungkinan dibuktikan dengan:
a. Pasien mengeluh lemah
b. Berat badan anak mengalami penurunan
c. Kulit tidak kencang
d. Nilai laboratorium seperti Hb kurang dari 9 gr% (normal usia 1 tahun keatas 9-14
gr%)
Intervensi:
1. Identivikasi factor yang menimbulkan mual atau muntah, misalnya: sputum banyak,
pengobatan aerosol, dispnea berat, nyeri.
Rasional: sputum akan merangsang nervus vegus sehingga beakibat mual, dispnea
dapat merangsang pusat pengaturan maan di medulla oblongata.
2. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin. Berikan atau
bantu kebersihan mulut setelah muntah. Setelah tindakan aerosol dan drainase
postural, dan sebelum makan.
Rasional: menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat
menurunkan mual.
3. Jadwal pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional: menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan.
4. Auskultasi bayi usus. Observasi atau palpasi distensi abdomen.
Rasional: bunyi usus mungkin merurun/tak ada bila proses infeksi berat atau
memanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukan
pengaruh toksin bakteri pada saluran GI.
5. Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering dan atau makanan
yang menarik untuk pasien.
Rasional: tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin
lambat untuk kembali.
6. Evaluasi status nutrisi umum. Ukur berat badan dasar
Rasional: adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme) atau keterbatasan
keuangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi dan
atau lambatnya respons terhadap terapi.