Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Gastritis merupakan peradangan atau inflamasi pada mukosa dinding

lambung yang dapat besifat akut maupun kronis. Gastritis akut merupakan

penyakit yang sering ditemukan pada masyarakat, biasanya penyakit ini

bersifat ringan atau dapat sembuh dengan sendirinya, gastritis akut

merupakan repon mukosa lambung dari suatu iritan lokal dimana iritan

tersebut salah satunya disebabkan oleh pola makan yang buruk, kafein,

alkohol, dan obat-obatan aspirin dapat menyebabkan iritan (Price, 2005).

Gastritis kronis merupakan penyakit gastritis yang bersifat menahun,

gastritis kronis yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter Pylori disertai

dengan kejadian atrofi pada dinding lambung sehingga dinding lambung

menjadi tipis, dan permukaan mukosa lambung menjadi rata. Kebanyakan

oranng meremehkan penyakit ini dikarenakan dapat hilang dengna

sendiirinya terutama pada gastritis akut, tetapi apabila kejadian gastritis

terus terjadi berulang-ulang kali maka kejadian gastritis yang semula adalah

gastritis akut yang dikarenakan asam lambung meningkat akan menjadi

kronis, peningkatan menjadi kronis dikarenakan mukosa dinding lambung

akan terus menerus dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik sehingga

dinding lambung akan menjadi tipis, hal ini akan mengakibatkan penyakit

yang lebih berbahaya bila tidaks egera ditangani seperti ulkus peptikum,

perforasi, animeia, perdarahan saluran cerna, hematemesis & melena,

kanker lambung (FKUI,2002).

1
2

Gastritis merupakan penyakit inflmasi dari dinding lambung terutama

pada mukosa lambung,, bila seseorang terkena gastritis maka akan

mengalami keluhan seperti nyeri pada lambung atau ulu hati, mual, muntah,

lemas, kembung, terasa sesak, bersendawa terus menerus dan penurunan

nafsu makan. Kejadian gastritis tersebut diakibatkan dari asam lambung

yang meningkat atau mengalami perubahan dimana asam lambung ini

meningkat salah satunya disebabkan oleh perilaku, terutama pola makan

seorang penderita yang kurang baik.

Gastritis sering disebut sebagai penyakit maag atau sakit ulu hati oleh

kebanyakan orang, merupakan peradangan pada dinding lambung atau

mukosa lambung, kebanyakan orang mengeluh sakit pada ulu hati sehingga

penyakit ini dapat menganggu aktivitas sehari-hari penderita, walaupun

penyakit ini dapat hilang dengan sendirinya tetapi bila tidak ditangani atau

dibiarkan terus menerus akan berakibat fata. Penyakit gastritis biasanya

diawali oleh perilaku individu yang buruk terutama perilaku pemenuhan

kebutuhan makan atau nutrisi yang buruk atau tidak teratur atau jenis

makanan yang tidak hygenis merupakan salah satu faktor resiko terjadinya

gastritis (Wahyu, 2011 dalam Hartati, 2014).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit gastritis

diantaranya yaitu pengetahuan dan perilaku seorang individu atau kelompok

manusia untuk mencegah terjadinya penyakit gastritis maupun kekambuhan

penyakit gastritis, apabila pengetahuan orang tersebut kurang baik maka

resiko untuk terjadinya penyakit gastritis lebih tinggi daripada orang yang

mengetahui dengan baik tentang penyakit gastritis, bergitu juga dengan


3

perilaku kesehatan pada seorang individu, perilaku kesehatan merupakan

respon seseorang terhadap sesuatu objek yang berkaitan dengan sehat, sakit,

penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta

lingkungan yang berhubungan dengan kesehatan (Notoatmodjo, 2012).

Notoatmodjo (2012) perilaku adalah suatu respon seseorang yang

dikarenakan adanya suatu stimulus/ rangsangan dari luar, respon tersebut

dapat berarti sebuah tindakan atau seperti : berjalan, berbicara, menangis,

tertawa, bekerja, kuliah menulis, membaca, makan dan lain sebagainya,

dalam kata lain perilaku adalah semua kegiatan seorang individu maupun

kelompok manusia, baik yang diamati langsung maupun tidak dapat diamati

langsung, dalam kasus ini penyebab gastritis salah satunya adalah perilaku

pemenuhan kebutuhan nutrisi atau makan yang kurang baik, perlikau makan

individu yang kurang baik dapat berupa jenis makanan yang kurang baik,

frekuensi makan yang kurang baik, jumlah makanan yang kurang baik,

ataupun cara diet makanan individu yang kurang baik.

Sumangkut (2014) dalam penelitian yang berjudul pengaruh penyuluhan

kesehatan tentang gastritis terhadap pengetahuan dan perilaku pencegahan

gastrtisi pada remaja di SMA Negeri 7 Manado, hasil penelitian menyatakan

bahwa terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan tentang gastritisterhadap

pengetahuan dan perilaku pencegahan gastritis, dimana penngetahuan

remaja yang sebelmnya dalam kategori cukup setelah diberikan penyuluhan

perlaku pencegahan penyakit gastritis pengetahuan remaja tersebut menjadi

baik, begitu juga dengan perilaku pencegahan penyakit gastritis, sebbelum

dilakukan peyuluhan tentang gastritis, periilaku pencegahan remaja di SMA


4

Negeri 7 Manado dalam kategori buruk kemduain setelah dilakukan

penyuluhan perilaku pencegahan remaja di SMA Negeri 7 Manado menjadi

dalam kategori sedang. Menurut Hartati & Chayaningsih (2013) dalam

penelitian yang berjudul hubungan makan dengan kejadian gastritis pada

mahasiswa Akper Manggala Husada Jakarta Tahun 2013, hasil penelitian

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan makan, jenis

makan, dan pengetahuan dengan kejadian penyakit gastritis.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) dalam Jauhari

(2014) mengadakan tinjauan terhadap beberapa negara didunia dan

mendapatkan hasil presentase angka kejadian gastritis dibeberapa negara,

diantaranya Inggris 22%, Cina 31%, Jepang 14,5%, Kanada 35% dan

prancis 29,5%, sedangkan preferensi gastritis di Indonesia sendiri menurut

World Health Organization (WHO) cukup tinggi yaitu sebbanyak 274.396

kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk Indonesia, prefalansi tersebut

menepatkan Indonesia sebagai negara urutan ketiga yang penduduknya

terbanyak menderita gastritis, pemicu dari penyakit gastritis di Indoensia

dipengaruhi ooleh jumlah penduduk yang padat, penduduk Indonesia lebih

mengutamakan pekerjaan dan mengesampingkan hal-hal kecil seperti pola

makan sehingga mengakibatkan pola makann tidak teratur kemudian

kebiasaan makan-makanan yang kurang hygenis orang Indonesia, serta

beberapa kasus yang dikarenakan diet pola makan yang kurang baik ini

merupakan contoh dari perllaku makan yang tidak baik. Penyakit gastritis

merupakan salah satu penyakit dalam 10 besar penyakit pada pasien rawat

inap di Rumah Sakit diseluruh Indonesia dengan jumlah 30.154 kasus


5

(Depkes RI, 2009). Prevalensi gastritis dijawatimur pada tahun 2011

mencapai 44,5% yaitu dengan jumlah 58.116 kejadian (Dinkes Jatim,2011).

Di Kota Malang sendiri kejadian gastritis masuk 5 besar penyakit yang

paling sering diderita (Dinkes Kota Malang, 2014). Sedangkan di Kota Batu

angka kejadi gastritis sebanyak 5370 kejadian serta masuk 3 besar penyakit

dengan angka kejadian terbanyak (Dinkes Kota Batu, 2013).

Setelah mengetahui tentang kejadian dan fenomena diatas salah satu

cara untuk mengatasinya adalah dengan pendidikan kesehatan yang mana

pendidikan adalah upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi seorang

individu, kelompok maupun masyarakat sehingga mereka melakukan apa

yang diharpkan oleh pendidik, sedangkan pendidikan kesehatan adalah

aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan sehingga

meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku, praktek individu, kelompok

maupun masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya

dalam hal ini dapat meningkatkan perilaku pencegahan kekambuhan

gastritis. Pendidikan kesehatan juga dapat diartikan proses dari individu,

kelompok maupun masyarakat dari yang semula tidaktahu menjadi tahu,

dengan usaha/kegiatan untuk membantu seorang individu, kelompok,

maupun masyarakat dalam meningkatkan kemampuannya baik

pengetahuan, sikap, keterampilan/praktik untuk mencapai hidup sehat

secara optimal dalam hal ini adalah peningkatan tentnag pengetahuan, sikap,

maupun keterampilan dalam pencegahan penyakit gastritis (Notoatmodjo,

2012).
6

Berdasarkan fenomena yang terjadi dimasyarakat serta angka kejadian

gastritis yang cukup tinggi, peneilit tertarik untuk meniliti tentang “Perilaku

Pencegahan Kekambuhan Penyakit Gastritis Sebelum Dan Sesudah

Diberikan Pendidikan kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas xxx”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana perilaku pencegahan kekambuhan penyakit gastritis

sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui perilaku penecgahan kekambuhan penyakit gastritis

sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Manfaat Teoritis

1.4.1.1 Secara teoritis, hasil dari penelitian ini bisa memberikan

informasi tentang perilaku pencegahan kekambuhan gastritis

pada masyarakat di usia produktif.

1.4.1.2 Hasil dari penilitian juga diharapkan agar perilaku pencegahan

penyakit gastritis pada masyarakat di usia produktif menjadi

lebih baik.

1.4.2 Manfaat Praktis

1.4.2.1 Secara praktis, hasil pennelitian ini diharap bisa menjadi dasar

atau tambahan bagi institusi pendidikan untuk pengembangan

dan atau penyempurnaan kurikulum yang sudah ada.

1.4.2.2 Hasil dari peneilitan dapat digunakan untuk menyusun program-

program atau renncana dilahan penelitian ataupun institusi yang


7

berkepentingan sehubungan dengan perilaku pencegahan

kekambuhan penyakit gastritis.