Anda di halaman 1dari 61

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGAMATAN ATAS PEREKAMAN DAN PENATAUSAHAAN ALAT


KETERANGAN DALAM RANGKA INTENSIFIKASI DAN
EKSTENSIFIKASI PERPAJAKAN DI KANTOR PELAYANAN
PAJAK PRATAMA JAKARTA KEBAYORAN BARU DUA

Diajukan oleh :
IBNU YUDHI WIBOWO
NPM 131020001111

Mahasiswa Program Diploma I Keuangan


Spesialisasi Pajak
Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat
Dinyatakan Lulus Program Diploma I Keuangan
Pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

AGUSTUS 2014
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

TANDA PERSETUJUAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA : IBNU YUDHI WIBOWO


NOMOR POKOK MAHASISWA : 131020001111
DIPLOMA I KEUANGAN
SPESIALISASI : PAJAK
BIDANG LAPORAN PKL : PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI
JUDUL LAPORAN PKL : PENGAMATAN ATAS PEREKAMAN DAN
PENATAUSAHAAN ALAT KETERANGAN
DALAM RANGKA INTENSIFIKASI DAN
EKSTENSIFIKASI PERPAJAKAN DI
KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA JAKARTA KEBAYORAN
BARU DUA

Mengetahui Tangerang Selatan, Agustus 2014


Kepala Bidang Akademis Menyetujui
Pendidikan Pembantu Akuntan Dosen Pembimbing,

Widya Novita, S.Psi. Lucky Kurniawan


NIP 197103171996032001 NIP 198106242002121001

ii
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI


LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA : IBNU YUDHI WIBOWO


NOMOR POKOK MAHASISWA : 131020001111
DIPLOMA I KEUANGAN
SPESIALISASI : PAJAK
BIDANG LAPORAN PKL : PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI
JUDUL LAPORAN PKL : PENGAMATAN ATAS PEREKAMAN DAN
PENATAUSAHAAN ALAT KETERANGAN
DALAM RANGKA INTENSIFIKASI DAN
EKSTENSIFIKASI PERPAJAKAN DI
KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA JAKARTA KEBAYORAN
BARU DUA

Tangerang Selatan, Oktober 2014

1. ........................................................... (Penilai I/Pembimbing)


Lucky Kurniawan
NIP 198106242002121001

2. ........................................................... (Penilai II)


Siapa
NIP 19xxxxxxxxxxxxxxxx

iii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur Penulis sampaikan kepada Tuhan Yang

Maha Kuasa yang telah mengaruniakan kesehatan, kesempatan, kelancaran dan

keberhasilan kepada Penulis untuk dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktik

Kerja Lapangan dengan judul “PENGAMATAN ATAS PEREKAMAN DAN

PENATAUSAHAAN ALAT KETERANGAN DALAM RANGKA INTENSIFIKASI

DAN EKSTENSIFIKASI PERPAJAKAN DI KANTOR PELAYANAN PAJAK

PRATAMA JAKARTA KEBAYORAN BARU DUA” sesuai dengan waktu yang telah

ditentukan.

Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan Program Diploma I

Keuangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Spesialisasi Pajak yang

penyusunannya berdasarkan pengalaman dan pengamatan Penulis selama melaksanakan

PKL di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua. Laporan ini berisi tentang

pengamatan penulis atas perekaman dan penatausahaan Alat Keterangan oleh Seksi

Pengolahan Data dan Informasi serta pemanfaatannya dalam rangka intensifikasi dan

ekstensifikasi perpajakan oleh seksi-seksi terkait di KPP Pratama Jakarta Kebayoran

Baru Dua.

Dalam melaksanakan PKL Penulis mendapatkan banyak pengalaman baru yang

berharga dan Penulis juga dapat mengetahui proses bisnis dan keadaan nyata di lapangan

khususnya di KPP Pratama Jakarta kebayoran Baru Dua. Penulis menyadari bahwa

banyak pihak yang telah mendukung, memberi bimbingan, nasihat dan membantu

penulis dalam melaksanakan PKL serta menyelesaikan laporan Praktik Kerja Lapangan

iv
ini. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini dengan hormat Penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua Penulis, Ayahanda Suyadi dan Ibunda Sri Haryatun tercinta yang

telah merawat, membimbing, mendidik Penulis untuk teguh dalam kebaikan, kasih

sayang, serta doanya yang telah dipanjatkan untuk keberhasilan Penulis;

2. Bapak Kusmanadji, Ak, MBA selaku Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara;

3. Ibu Widya Novita, S.Psi selaku Kepala Bidang Akademis Pembantu Akuntan STAN

dan seluruh jajaran di Sekretariat Bidang Akademis Pendidikan Pembantu Akuntan;

4. Bapak Lucky Kurniawan selaku dosen pembimbing yang telah mengorbankan

waktu, pikiran dan tenaga di tengah kesibukannya dan dengan penuh kesabaran

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun Laporan Praktik Kerja

Lapangan ini;

5. Para widyaiswara dan dosen pada Program Diploma I Pajak STAN yang telah

memberikan ilmu dan pengalaman kepada penulis selama masa perkuliahan di

STAN.

6. Ibu Trilawati selaku Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebayoran

Baru Dua yang telah memberikan izin kepada Penulis untuk bisa melaksanakan

Praktik Kerja Lapangan di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua;

7. Bapak Eben Kennedy Simanjuntak selaku dosen pembimbing PKL yang telah

memberikan bimbingan, nasihat serta petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan

penulisan Laporan PKL ini;

8. Seluruh pegawai KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua terutama Mbak Anggi,

Mbak April, Mas Dion, Mbak Dona yang telah memberikan bimbingan dalam

v
menyelesaikan penugasan serta membantu Penulis dalam mengumpulkan data untuk

penyusunan laporan ini;

9. Rekan-rekan sesama anggota PKL di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

serta teman-teman satu dosbim atas kebersamaan dan kerjasamanya dalam

penyusunan laporan Praktik Kerja Lapangan ini;

10. Teman-teman Kos Bulukumba (Irfan, Nizar, Bregas, Siddiq, Wafil, Daniel, Syauqi,

Kharis, Humam) dan PUSAKA KLATEN yang telah menjadi teman hidup

seperjuangan penulis dalam menjalani kerasnya hidupnya di perantauan;

11. Teman –teman kelas B Program Diploma 1 Pajak atas kebersamaan dan telah

menemani penulis selama menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi

Negara;

12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu

dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis telah mengarahkan segala daya dan upaya tapi apa daya “Tak ada gading

yang tak retak”, begitu juga hal nya dengan penulisan laporan praktik kerja lapangan ini

yang tak luput dari kekurangan baik dari segi penulisan maupun materi yang dibahas,

oleh karena itu, Penulis mengharapkan saran dan kritik konstruktif dari pembaca dan

pengguna laporan ini untuk perbaikan penulisan selanjutnya. penulis sangat berharap

laporan ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca, mahasiswa, maupun

masyarakat secara umum,Aamiin.

Tangerang Selatan, Agustus 2014

Ibnu Yudhi Wibowo


NPM 131020001111
vi
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa

Laporan Praktik Kerja Lapangan ini seluruhnya hasil kerja saya sendiri. Dalam hal

kutipan yang saya ambil dari buku, majalah, peraturan-peraturan yang berlaku dan/atau

sumber-sumber lainnya, telah saya sebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila dalam laporan ini ditemui bahwa sebagian atau seluruh isinya merupakan

jiplakan atau bersifat plagiat sesuai dengan Bab II A No. 7 dan Bab II B No. 3 Keputusan

Direktur STAN No: KEP-100/PP.7/2001, saya bersedia untuk dinyatakan tidak

lulus/kelulusan dibatalkan dan dikeluarkan dari program Diploma I Keuangan

Spesialisasi Pajak.

Tangerang Selatan, Agustus 2014


Yang Membuat Pernyataan

Materai
6000

Ibnu Yudhi Wibowo


NPM 131020001111

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PKL............................................................ii

HALAMAN PERSETUJUAN DARI TIM PENILAI LAPORAN PKL........................iii

KATA PENGANTAR ................................................................................................... iv

SURAT PERNYATAAN ............................................................................................. vii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ viii

DAFTAR TABEL .......................................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ............................................................................ x

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1

A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1

B. Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 3

C. Ruang Lingkup Pembahasan..................................................................................... 3

D. Metode Pengumpulan Data ....................................................................................... 4

E. Sistematika Penulisan ............................................................................................... 5

BAB II URAIAN PERMASALAHAN .......................................................................... 7

A. Landasan Teori.......................................................................................................... 7
1. Dasar hukum......................................................................................................... 7
2. Pengertian dan ruang lingkup data ....................................................................... 8
3. Sumber data .......................................................................................................... 9
4. Istilah Istilah lainnya .......................................................................................... 11
5. Alat keterangan................................................................................................... 13
6. Intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan ........................................................ 13
7. Tata cara penatausahaan alat keterangan ............................................................ 16
viii
8. SOP peminjaman berkas alat keterangan ........................................................... 18
9. SOP pelaksanaan ekualisasi oleh Account Representative ................................ 19
10. SOP penerbitan surat himbauan ber-NPWP Seksi Ekstensifikasi...................... 21

B. Gambaran Umum Seksi PDI dan KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua ..... 22

C. Data dan Fakta di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua .............................. 47
A. Pengamatan Perekaman dan Penatausahaan Alat Keterangan ........................... 48
B. Pengamatan Atas Pemanfaatan Data Alat Keterangan untuk Tujuan Intensifikasi
dan Ekstensifikasi ..................................................................................................... 48

DAFTAR TABEL

ix
DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK

x
DAFTAR LAMPIRAN

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Instansi di bawah Kementerian Keuangan yang bertugas untuk menghimpun pajak

dari masyarakat adalah Direktorat Jenderal Pajak (DJP). DJP mempunyai unit vertikal

dengan membentuk beberapa unit kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di berbagai

wilayah agar pengumpulan dana dari masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan

efisien.

Dari tahun ke tahun pos- penerimaan negara mengalami perubahan, perubahan

tersebut terlihat dari semakin menurunnya penerimaan negara dari sektor migas dan

meningkatnya penerimaan negara dari sektor pajak. Setiap tahun DJP menentukan

target penerimaan pajak, agar biaya dalam APBN kita terpenuhi, target tersebut

dibagikan ke setiap unit kerja KPP oleh Kanwil sesuai potensi perpajakan yang terdapat

di wilayah kerja suatu unit KPP. Tiap KPP diharapkan dapat secara maksimal menggali

potensi perpajakan yang ada di wilayah kerjanya. Dengan penggalian potensi

perpajakan yang maskimal diharapkan dapat memenuhi atau bahkan melebihi target

penerimaan yang telah ditentukan sebelumnya.

Penggalian potensi perpajakan oleh KPP dilakukan melalui kegiatan ekstensifikasi

wajib pajak dan intensifikasi perpajakan. Kegiatan ekstensifikasi wajib pajak adalah

kegiatan penambahan jumlah wajib pajak terdaftar dalam administrasi DJP. Perluasan

ini dapat melalui penerbitan himbauan untuk ber NPWP bahkan pemberian NPWP

secara jabatan, Kegiatan intensifikasi perpajakan adalah kegiatan optimalisasi

penggalian penerimaan pajak terhadap subjek pajak yang telah tercatat atau terdaftar

dalam administrasi DJP. Intensifikasi perpajakan ini dapat dilakukan secara persuasif

dengan melalui penyuluhan, himbauan, dll. Namun intensifikasi juga.dapat dilakukan


1
melalui law enforcement seperti melalui mekanisme pemeriksaan, penyidikan, dll.

Kegiatan ekstensifikasi wajib pajak dan intensifikasi perpajakan ini memanfaatkan data

alat keterangan yang ada di suatu KPP.

Seksi yang secara khusus mengolah data dan informasi dalam suatu KPP adalah

seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI). Seksi inilah yang melakukan

pembangunan basis data dengan melakukan kegiatan perekaman data baik yang berasal

dari internal KPP yaitu dari masing-masing seksi di KPP maupuan eksternal yaitu data

yang diperoleh dari pihak lain di luar KPP.

Salah satu perekaman yang dilakukan dalam proses bisnis DJP adalah perekaman

Alat Keterangan (alket) yang krusial. Mengenai perekaman dan penatausahaan alat

keterangan telah diatur dalam Standar Operating Procedures tahun 2008 dan karena

terbit PER - 45/PJ/2009 tanggal 13 Agustus 2009 tentang (PAP3D), untuk selanjutnya

akan diusulkan SOP baru, tetapi pekerjaan terkait alat keterangan masih masuk dalam

job description dan IKU seksi pengolahan data dan informasi. Data-data inilah yang

kemudian dijadikan sarana dalam kegiatan ekstensifikasi wajib pajak dan intensifikasi

perpajakan guna memaksimalkan potensi perpajakan yang ada di wilayah kerja suatu

KPP.

Mengingat pentingnya data alat keterangan di suatu KPP guna meningkatkan

penerimaan pajak dan juga untuk mengetahui perekaman dan penatausahakan data alket

secara nyata di lapangan . Maka dari itu penulis tertarik untuk membuat sebuah Laporan

Praktik Kerja Lapangan yang berjudul ““PENGAMATAN ATAS PEREKAMAN

DAN PENATAUSAHAAN ALAT KETERANGAN DALAM RANGKA

INTENSIFIKASI DAN EKSTENSIFIKASI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK

PRATAMA JAKARTA KEBAYORAN BARU DUA”.

2
B. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja

Lapangan (PKL) ini adalah:

1. Untuk memenuhi sebagian dari syarat dinyatakan lulus dari program Diploma

I Keuangan Spesialisasi Pajak Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

2. Untuk meningkatkan pengetahuan penulis dalam bidang pengolahan data dan

informasi perpajakan khusunya mengenai alket.

3. Untuk mengetahui gambaran praktik kegiatan perekaman dan penatausahaan

alat keterangan (alket) oleh seksi PDI di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Jakarta Kebayoran Baru Dua. (KPP Pratama JKB Dua)

4. Untuk mengetahui pemanfaatan alket untuk tujuan intensifikasi dan

Ekstensifikasi Perpajakan di KPP Pratama JKB Dua.

5. Untuk mengetahui permasalahan yang biasa timbul dalam melaksanakan

kegiatan perekaman, pengolahan dan pemanfaatan alket di KPP Pratama JKB

Dua kemudian menganalisis penyebabnya dan terakhir dapat mengetahui

upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut

C. Ruang Lingkup Pembahasan

Masalah yang akan dibahas penulis dalam Laporan Praktek Kerja Lapangan ini

adalah Tinjauan Atas Perekaman dan Penatausahaan Alat Keterangan Pada KPP

Pratama JKB Dua, Penulis menentukan batasan-batasan masalah sebagai berikut :

1. Objek penelitian yang dipilih oleh penulis adalah proses perekaman dan

penatausahaan Alat Keterangan (alket) dalam rangka Intensifikasi dan

Ekstensifikasi Perpajakan di KPP Pratama JKB Dua

3
2. Fokus bahasan yang akan diambil oleh penulis akan berkisar pada proses

perekaman dan penatausahaan alket dengan menggunakan aplikasi perpajakan

seperti SIDJP dan Portal DJP, Jumlah data alket yang direkam dan darimana sumber

dan jenis dokumennya, kemudian Penulis juga membahas tindak lanjutnya dalam

hal intensifikasi yaitu pemanfaatan alket untuk KPP sendiri khususnya untuk seksi

waskon dan pemeriksaan maupun untuk KPP lain, dan juga dalam hal

Ekstensifikasi yaitu untuk menambah WP baru oleh seksi Ekstensifikasi,

diharapkan penulis dapat mengerti permasalahan yang terjadi serta mengukur

tingkat efisiensi perekaman dan pemanfaatan alket di KPP Pratama JKB Dua.

3. Data yang akan digunakan Penulis dalam Laporan PKL ini khusunya untuk

perekaman dan penatausahaan alket adalah data tahun 2013 dan 2014, untuk tahun

2014 yaitu sampai dengan bulan Agustus 2014.

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam menyusun dan menyelesaikan tugas Laporan PKL ini penulis

menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain:

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penulis melakukan pengumpulan data dan infornmasi dengan cara

mempelajari buku-buku situs internet ,makalah, modul-modul, peraturan

perundang-undangan, SE Dirjen Pajak, serta berbagai sumber tertulis lainnya

yang memiliki relevansi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan

objek yang menjadi fokus pengamatan dalam Laporan PKL.

2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Penulis mengadakan pengamatan observasi secara langsung pada KPP

Pratama JKB Dua untuk mendapatkan data- yang lengkap baik itu data

4
kualitatif maupun data kuantitatif. Data-data perpajakan ini nantinya akan

diolah lagi lebih lanjut untuk memperoleh informasi sesuai pembahasan.

Penulis juga melakukan pengumpulan data menggunakan aplikasi perpajakan

seperti Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP).

3. Wawancara (Interview)

Yaitu dengan melakukan wawancara secara langsung atau konsultasi dengan

berbagai sumber, seperti dosen pembimbing dan petugas-petugas pajak di

KPP Pratama JKB Dua, terfokus kepada pelaksana proses perekaman dan

penatausahaan alket yaitu Seksi PDI, operator console (OC), Seksi

Pengawasan dan Konsultasi, Seksi Ekstensifikasi dalam hal pemanfaatan data

alket dan/atau pihak-pihak terkait lainnya.

4. Statistik

Yaitu dengan cara mengolah data-data kuantitatif perpajakan melalui

penerapan disiplin ilmu statistik sehingga dapat menghasilkan informasi

perpajakan sesuai kebutuhan pembahasan.

E. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan, ruang

lingkup pembahasan, metode pengumpulan data, dan sistematika

penulisan yang dibuat oleh penulis dalam menyusun Laporan PKL.

BAB II LANDASAN TEORI DAN URAIAN PERMASALAHAN

Bab ini akan terbagi menjadi lima subbab.

Subbab pertama akan menguraikan tentang beberapa landasan teori yang

digunakan penulis seperti dasar hukum, pengertian dan ruang lingkup

5
data, sumber data, alat keterangan, pengertian intensifikasi, dan

ekstensifikasi, aplikasi penatausahaan alket, SOP penatausahaan alket,

SOP peminjaman berkas alket.

Sedangkan di subbab kedua akan diuraikan tentang gambaran umum KPP

dan seksi PDI di KPP Pratama JKB Dua seperti sejarah berdirinya,

wilayah kerja, struktur organisasi dan fungsi tiap seksi, sumber daya

manusia, data wajib pajak, penerimaan pajak di KPP Pratama JKB Dua.

Subbab ketiga akan diuraikan data dan fakta mengenai sumber dan jenis

data alket, jumlah alket yang direkam dan dimanfaatkan di KPP Pratama

JKB Dua.

Subbab kempat berisi tentang pengamatan atas perekaman dan

penatausahaan alat keterangan di lapangan dimulai dari penerimaan data

alket dari berbagai pihak, penatausahaan alket di KPP Pratama JKB Dua,

perekaman alket menggunakan aplikasi perpajakan, dan kendala yang

dialami dalam perekaman dan penatausahaan alat keterangan.

Sub bab kelima tentang pemanfaatan alket untuk tujuan intensifikasi dan

ekstensifikasi perpajakan oleh seksi seksi yang terkait.menguk, r efekifitas

perekaman alket ditinjau dari kuantitas data, serta kendala yang dialami

dalam pemanfaatan alket.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan simpulan dari apa yang telah diuraikan pada bab-bab

sebelumnya dan beberapa saran yang diharapkan dapat digunakan untuk

memecahkan masalah yang timbul dalam pelaksanaan perekaman dan

penatausahaan alat keterangan dan pemanfaatan alat keterangan di KPP

Pratama JKB dua, serta alternatif pemecahannya


6
BAB II
URAIAN PERMASALAHAN

A. Landasan Teori

1. Dasar hukum

Pembahasan dalam Laporan PKL ini berdasarkan atas peraturan-peraturan

yang berhubungan dengan penatausahaan dan pemanfaatan alat keterangan, antara

lain sebagai berikut.

a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah

diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan

Umum dan Tata Cara Perpajakan.

b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.01/2009 sebagaimana telah diubah

terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2012 tentang

Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal

c. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-14/PJ/2008 tentang Standard

Operating Procedures Direktorat Jenderal Pajak.

d. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-420/PJ/2010 Tentang Standar

Prosedur Operasi (Standard Operating Procedures) Instansi Vertikal Direktorat

Jenderal Pajak

e. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2009 tanggal 13 Agustus

2009 tentang Pedoman Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengawasan Data

(PAP3D).

f. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-35/PJ/2008 Tentang Kewajiban

Pemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak Dalam Rangka Pengalihan Hak Atas Tanah

dan/atau Bangunan.

7
g. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-04/PJ.9/2001 Tanggal 21 Mei

2001 tentang Pemrosesan Data Alat Keterangan.

h. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 Tanggal 21 Mei

2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak Dan Intensifikasi Pajak.

i. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ.2/2003 Tanggal 9 Oktober

2003 Tentang Penyempurnaan Pemanfaatan Data Mikro

2. Pengertian dan ruang lingkup data

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, data memiliki banyak definisi. Beberapa

di antaranya adalah sebagai berikut.

1) Kenyataan yang ada yang berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun suatu

pendapat.

2) Keterangan yang benar.

3) Keterangan atau bahan yang dipakai untuk penalaran atau penyelidikan.

4) Informasi yang mempunyai makna untuk keperluan tertentu.

Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 20/PJ/2009 tanggal 2 Maret 2009 Tentang

Pedoman Administrasi Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengawasan Data (PAP3D)

Kemudian PER - 20/PJ/2009 dicabut dan pada tanggal 13 Agustus 2009 diganti dengan

PER-45/PJ/2009 Tentang PAP3D

Berikut ini adalah definisi dan klasifikasi data berdasarkan PeraturanDirektur Jendral

Pajak Nomor PER - 45/PJ/2009 Tentang PAP3D.

Data adalah keterangan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berkaitan

dengan kegiatan ekonomi baik yang tertuang dalam tulisan, media elektronik maupun

media lain.

1) Berdasarkan sifat informasi:

8
a) Data makro adalah keterangan yang menyatakan kegiatan atau keadaan umum

dalam suatu masa tanpa menunjuk secara khusus kegiatan atau keadaan wajib

pajak dan/atau objek pajak tertentu

b) Data mikro adalah keterangan yang secara khusus memberi petunjuk tentang

kegiatan atau keadaan satu atau sekelompok wajib pajak dan/atau objek pajak

dalam suatu peristiwa atau masa.

2) Berdasarkan jumlah satuan:

a) Data tunggal adalah data mikro di mana dalam lembar dokumen atau media

yang bersangkutan hanya menunjuk kegiatan atau keadaan satu wajib pajak

atau objek pajak.

b) Data gabungan adalah data mikro di mana dalam lembar dokumen atau media

yang bersangkutan menyatakan kegiatan atau keadaan dua atau lebih wajib

pajak atau objek pajak.

3) Berdasarkan jenis informasi data:

a) Data kuantitatif adalah data yang mengandung informasi moneter (bernilai

uang), misalnya: kontrak perjanjian, bukti pemotongan Pajak Penghasilan

(PPh) Pasal 21, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, Pemberitahuan Import Barang

(PIB), Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), dan sebagainya.

b) Data kualitatif adalah data yang mengandung informasi nonmoneter (tidak

bernilai uang), misalnya: informasi likuidasi perusahaan, merger, akuisisi,

ekspansi, divestasi, dan sebagainya.

3. Sumber data

Sumber data adalah asal data diperoleh, yaitu:

1) Wajib pajak:

a) Dalam rangka pemenuhan kewajiban perpajakan, antara lain:


9
- Surat Pemberitahuan (termasuk Surat Pemberitahuan Objek Pajak)

- Surat menyurat wajib pajak

- Bukti pemungutan/pemotongan pajak.

b) Dari temuan pada saat pemeriksaan, antara lain faktur pajak, invoice, voucher,

dan sebagainya.

2) Instansi/lembaga pemerintah/swasta dan BUMN karena tugasnya, menghasilkan

data antara lain berupa:

a) Pemberitahuan Impor Barang (PIB);

b) Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB);

c) Berbagai perijinan seperti Ijin Kerja Tenaga Asing, Ijin Penempatan Tenaga

Asing, Surat Ijin Tempat Usaha, Surat Ijin Usaha Perdagangan, Ijin

Mendirikan Bangunan;

d) Persetujuan tetap BKPM;

e) Akte pendirian;

f) Pengesahan badan hukum;

g) Sertifikat tanah;

h) Putusan badan peradilan yang berkekuatan hukum tetap termasuk konsideran

dan uraian pendukungnya;

3) Data lain yang diperlukan sebagai komponen pembentuk Basis Data Pajak. Media

masa, antara lain terdiri dari media cetak (koran, majalah, brosur, leaflet, dan

sebagainya), media elektronik (televisi, radio, internet, dan sebagainya), dan media

lainnya (pementasan, seminar, pameran, dan sebagainya).

4) Manca negara, antara lain data yang diperoleh dari negara-negara treaty partners.

10
5) Sumber lainnya, misalnya hasil penyisiran (canvassing), penelitian, pengawasan,

pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, pengamatan/intelijen, atau penyidikan

terhadap kegiatan tertentu.

4. Istilah Istilah lainnya

Istilah istilah lain yang tidak kalah penting dan perlu untuk diperhatikan serta

penulis gunakan di laporan PKL ini adalah sebagai berikut.

1) NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib

Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai

tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan

kewajiban perpajakannya.

2) Surat Himbauan adalah surat konfirmasi data dan himbauan yang diterbitkan

dan dikirimkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) kepada WP untuk

konfirmasi data dan/atau himbauan melakukan pembetulan SPT berdasarkan

hasil analisis profil WP yang bersangkutan.

3) Nilai Data adalah nilai yang dinyatakan dalam satuan uang dari suatu keadaan,

peristiwa, atau perbuatan. Contoh:

a) Nilai Pemberitahuan Impor Barang (PIB) adalah nilai Cost, Insurance, &

Freight (CIF)

b) Nilai Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) adalah nilai Free On Board

c) Nilai Bukti potong PPh Pasal 21 adalah nilai gaji/upah/honorarium/imbalan

lainnya yang menurut ketentuan terutang PPh Pasal 21;

d) Nilai Bukti pungut PPh Pasal 22 adalah nilai dasar impor/transaksi;

4) Aplikasi Input Data adalah sarana tertentu yang dibuat untuk merekam alat

keterangan ke dalam basis data.

11
5) Berkas Data adalah tempat kumpulan data yang berfungsi sebagai sarana

administrasi khususnya untuk keperluan pembuktian keabsahan data.

6) Pencarian Data adalah kegiatan mencari data dalam bentuk lembar dokumen,

media komputer, maupun transfer langsung melalui jaringan komputer dari

sumber data.

7) Penerimaan Data adalah kegiatan menerima data, memeriksa kelengkapan data,

mencatat penerimaan tersebut dan merespon ke sumber data bahwa data

tersebut telah diterima.

8) Pemrosesan Data adalah kegiatan identifikasi, editing, dan perekaman data yang

berbentuk lembar dokumen atau loading data media elektronik ke sistem

komputer.

9) Identifikasi Data adalah kegiatan pencarian identitas data antara lain pencarian

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), pencarian Nomor Objek Pajak (NOP),

pencarian alamat, penentuan jenis dokumen, atau kegiatan identifikasi lainnya.

10) Perekaman Data adalah kegiatan merekam elemen-elemen pada dokumen data,

melakukan konversi data yang diterima dalam bentuk media komputer atau

secara on-line, dan menyimpan data ke basis data.

11) Pengesahan Data adalah kegiatan mengesahkan hasil produksi data dan/atau

hasil perekaman data.

12) Penyimpanan Data adalah kegiatan menyimpan data secara sistematis,

memelihara data, dan mengamankan data yang berbentuk lembar dokumen,

media komputer, dan hasil transfer dari sumber data.

13) Pengiriman Data adalah kegiatan menyalurkan data berdasarkan surat

peminjaman data untuk keperluan tertentu.

12
14) Pemanfaatan Data adalah kegiatan memanfaatkan data untuk tujuan

ekstensifikasi dan/atau intensifikasi perpajakan.

5. Alat keterangan

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2009 tanggal

13 Agustus 2009 tentang PAP3D Alat Keterangan adalah informasi berupa hasil

pemecahan data gabungan menjadi data tunggal, hasil penyalinan informasi yang dapat

dimanfaatkan sebagai data tunggal, atau hasil kegiatan pemeriksaan, di luar struktur

standar basis data.

Data alat keterangan (alket) adalah data yang diperoleh sebagai informasi bagi KPP

sehubungan dengan kegiatan dan kondisi ekonomi wajib pajak yang berasal dari

berbagai sumber data yang secara spesifik untuk setiap wajib pajak berupa data

transaksi wajib pajak dengan pihak tertentu lengkap dengan nilai nominal transaksinya

atau hanya merupakan informasi tentang data profil wajib pajak tersebut.

Sumber data alket dapat diperoleh dari data internal dan eksternal, data eksternal

didapat dari kerja sama dengan pihak ketiga, pihak ketiga tersebut memberikan data

secara berkala ke KPP tempat wilayah kerjanya seperti data dari Notaris/PPAT, laporan

masyarakat dan tidak menutup kemungkinan dari laporan wajib pajak sendiri atau hasil

konfirmasi kepada wajib pajak lawan transaksi. Sedangkan data alket internal adalah

data hasil pemeriksaan internal KPP sendiri, temuan fungsional Account Representatif,

temuan fungsional Pemeriksa atau alket yang dikirim dari KPP lainnya di luar wilayah

kerjanya maupun dari Kanwil.

6. Intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2009 tanggal

13 Agustus 2009 tentang PAP3D Ekstensifikasi Wajib Pajak adalah kegiatan yang

13
berkaitan dengan penambahan jumlah Wajib Pajak terdaftar dan perluasan objek pajak

dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Sedangkan Intensifikasi pajak

adalah kegiatan optimalisasi penggalian penerimaan pajak terhadap objek serta subjek

pajak yang telah tercatat atau terdaftar dalam administrasi DJP, dan dari hasil

pelaksanaan ekstensifikasi wajib pajak

Berdasarkan SE-06/PJ.9/2001, data yang dapat digunakan untuk pelaksanaan

kegiatan ekstensifikasi wajib pajak dan intensifikasi pajak meliputi data internal dan

data eksternal, antara lain:

a. Pelanggan listrik untuk rumah tinggal dengan daya 6.600 Watt atau lebih

b. Pelanggan telkom dengan pembayaran pulsa rata-rata perbulan Rp300.000 / lebih

c. Pemilik mobil dengan nilai Rp200.000.000 atau lebih, atau pemilik motor dengan

nilai Rp100.000.000 atau lebih.

d. Pemegang paspor Indonesia, kecuali pemegang paspor haji dan pemegang paspor

tenaga kerja Indonesia (tidak termasuk awak pesawat terbang atau kapal laut).

e. Tenaga kerja asing (expatriate) yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia

lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.

f. Karyawan lokal kedutaan besar asing atau organisasi internasional.

g. Pemilik tanah dan atau bangunan dengan Nilai jual Objek pajak (NJOP)

Rp1.000.000.000 atau lebih berdasarkan data kartu jalan atau peta blok atau Daftar

Hasil Rekaman (DHR) atau data Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP).

h. Data orang pribadi atau badan selaku penjual atau pembeli tanah dan atau

bangunan dari laporan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) atau informasi dari

notaris dengan nilai Rp60.000.000 atau lebih.

i. Pemilik telepon selular pasca bayar.

j. Pemegang kartu kredit.


14
k. Pemegang polis atau premi asuransi

l. Pemegang kartu keanggotaan Golf.

m. Artis

n. Pemilik atau Penyewa ruang apartemen atau kondominium.

o. Pemilik kapal pesiar atau yacht, speed boat, dan pesawat terbang.

p. Pemilik saham yang diperdagangkan di pasar bursa.

q. Pemilik rumah sewa dan kost.

r. Pemegang saham, komisaris, direktur dan penerima dividen.

s. Pemilik atau penyewa atau pengguna dan pengelola ruangan pada sentra

perdagangan atau perbelanjaan atau pertokoan atau perkantoran atau mal atau plaza

atau kawasan industri atau sentra ekonomi lainnya.

t. Subjek pajak yang berdasarkan data pada lampiran Surat Pemberitahuan (SPT),

telah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak, tetapi belum mempunyai NPWP.

1. Aplikasi Perekaman dan Penatausahaan Alat Keterangan

Proses Perekaman dan penatausahaan alket yang ada di Instansi Pajak dilakukan

menggunakan media komputerisasi dan data alket tersebut dihimpun dalam Sistem

Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP). SIDJP adalah aplikasi Sistem Informasi

DJP yang menggabungkan seluruh aplikasi perpajakan yang ada di DJP, yaitu SIP,

SAPT, SISMIOP, SIMPP, SIG, dan SIDJP dalam versi yang sekarang

SIDJP merupakan suatu sistem informasi dalam administrasi perpajakan di lingkungan

kantor modern DJP dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang

dihubungkan dengan suatu jaringan kerja di kantor pusat. Terdapat empat komponen

utama dalam SIDJP yaitu core system; pembangkit kasus yang dapat dilakukan secara

sistem, workflow sistem, serta profil wajib pajak. SIDJP menggunakan jaringan

intranet kantor, sehingga tidak bisa diakses diluar KPP dan untuk bisa menggunakan
15
SIDJP seseorang harus mempunyai username dan password yang terdaftar, setiap

pegawai mempunyai responsibility dan kewenangan akses di SIDJP yang berbeda beda

sesuai dengan jabatan di KPP contohnya, pada menu aplikasi administrasi, untuk

pelaksana PDI khusus perekam alket terdapat menu “input alat keterangan”, sedangkan untuk

AR tidak terdapat menu tersebut yang ada adalah menu pemeriksaan WP, begitupun juga

sebaliknyaa

Aplikasi lainnya yang digunakan dalam proses penatausahaan alket adalah portal DJP

karena Sebelum direkam data harus didentifikasi terlebih dahulu yaitu dengan

melakukan kegiatan pencarian identitas data antara lain pencarian Nomor Pokok Wajib

Pajak (NPWP) di aplikasi pajak lainnya yaitu Portal DJP, pencarian Nomor Objek Pajak

(NOP), pencarian alamat, penentuan jenis dokumen, atau kegiatan identifikasi lainnya.

7. Tata cara penatausahaan alat keterangan

Kode SOP penatausahaan alat keterangan di KPP adalah KPP20-0002, SOP ini

diatur di Kep-420/Pj/2010 Tentang Standar Prosedur Operasi, kemudian terbit

Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-332/Pj/2011 Tentang Perubahan Atas

Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-420/Pj/2010 Tentang Standar Prosedur

Operasi Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang mengapus SOP ini

sehubungan dengan terbitnya PER - 45/PJ/2009 tanggal 13 Agustus 2009 tentang

Pedoman Administrasi Pembangunan, Pengelolaan, Dan Pengawasan Data, untuk

selanjutnya akan diusulkan SOP baru ,

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-74/PJ/2009 tentang

Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2009

tentang Pedoman Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengawasan Datta (PAP3D) proses

penerimaan, identifikasi sampai perekaman data alat keterangan terdapat dalam tata

16
cara pengolahan dan pengesahan data di KPP, Tata cara pengolahan dan pengesahan

data dalam bentuk dokumen dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.) Kepala Seksi (Kasi) PDI menerima dan memeriksa kelengkapan data dalam

bentuk dokumen beserta Surat Pengantar Data dari Sumber Data kemudian

menugaskan Pelaksana Seksi PDI untuk melakukan proses lebih lanjut

2.) Pelaksana Seksi PDI menerima data beserta Surat Pengantar Data dan melakukan

log ke dalam Register Pengolahan Data .

3.) Pelaksana Seksi PDI kemudian mencetak Surat Pemberitahuan Penerimaan Data

untuk dikirim ke Sumber Data/ Unit Pencari Data.

4.) Pelaksana Seksi PDI kemudian melakukan proses identifikasi data dengan cara

sebagai berikut:

a) Mengelompokkan data per jenis data

b) Memisahkan data yang teridentifikasi dan yang tidak teridentifikasi;

c) Mencari NPWP/NOP pada Master File Nasional/Lokal;

d) Dalam hal data diterima tidak teridentifikasi dan tidak beralamat lengkap yang

diperkirakan mempunyai potensi untuk meningkatkan penerimaan atau

mempunyai nilai tertentu, pelaksana menugaskan petugas pencari data untuk

menghubungi sumber data agar melengkapi alamatnya.

5.) Pelaksana Seksi PDI kemudian melakukan proses editing dengan cara :

a) Memberi tanda pada elemen-elemen yang akan direkam;

b) Memberi kode pada elemen data tertentu sesuai dengan petunjuk editing data;

6.) Pelaksana Seksi PDI kemudian melakukan proses perekaman data dan

meneruskan data beserta Surat Pengantarnya kepada Kasi PDI, untuk disahkan.

17
7.) Kasi PDI menerima, melihat, dan meneliti hasil perekaman data, kemudian

melakukan proses pengesahan dengan memasukkan Nomor Identitas Pribadi

(Personal Identification Number, PIN) atas data yang sudah dinyatakan valid.

8.) Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi mencetak Pengesahan Hasil

Perekaman Data kemudian menggabungkannya dengan Surat Pengantar Data dan

lembar dokumen data yang sudah direkam dan meneruskannya kepada Kasi PDI

untuk ditandatangani

9.) Kasi PDI menandatangani formulir Pengesahan Hasil Perekaman Data.

10.) Surat Pengantar dan Formulir pengesahan hasil perekaman data yang sudah

ditandatangani kemudian disimpan sesuai dengan Tata Cara Penyimpanan Data

11.) Proses selesai.

8. SOP peminjaman berkas alat keterangan

Kode SOP peminjaman Berkas alat keterangan di KPP adalah KPP20-0007, SOP

ini diatur di Kep-420/Pj/2010 Tentang Standar Prosedur Operasi, kemudian SOP ini

juga dihapus dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-332/Pj/2011

Petunjuk Pelaksanaan Peminjaman Data Alat Keterangan oleh Seksi PDI

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-74/PJ/2009 peminjaman

data alat keterangan terdapat dalam tata cara peminjaman dokumen di KPP. Tata cara

peminjaman dokumen dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.) Petugas yang membutuhkan fisik dokumen mengisi Formulir Peminjaman

Dokumen berdasarkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3) dan/atau Surat

Tugas lainnya kemudian menyerahkan kepada Kepala Seksi terkait.

2.) Dalam hal dilakukan peminjaman dokumen ke unit internal Kantor, Kasi terkait

menyetujui dan menandatangani Formulir Peminjaman Dokumen kemudian


18
menugaskan Petugas yang membutuhkan fisik dokumen terkait untuk

mengirimkan Formulir Peminjaman Dokumen ke unit terkait yang menyimpan

data. Dalam hal dilakukan peminjaman dokumen ke unit eksternal Kantor, Kasi

terkait meneliti dan memaraf Formulir Peminjaman Dokumen kemudian

menyampaikannya ke Kepala KPP.

3.) Kepala KPP menyetujui dan menandatangani Formulir Peminjaman Dokumen

4.) Petugas yang membutuhkan fisik dokumen mengirimkan Formulir Peminjaman

Dokumen ke unit terkait yang menyimpan data.

5.) Unit terkait yang menyimpan dokumen/data kemudian menanggapi peminjaman

dokumen dengan mengirimkan dokumen/data yang diminta.

6.) Proses selesai.

Bagan arus yang menunjukkan tata cara peminjaman dokumen di KPP dapat

dilihat pada lampiran 3.

9. SOP pelaksanaan ekualisasi oleh Account Representative

1.) Para Account Representative (AR) secara periodik membandingkan dan

menganalisa data yang diperoleh KPP dari alat keterangan dan sumber lainnya

dengan data yang tercantum dalam SPT WP serta membandingkan kecocokan

data antar SPT, untuk selanjutnya hasil pelaksanaan ekualisasi data tersebut

dibuat konsep surat permintaan penjelasan/himbauan pembetulan SPT/himbauan

pembayaran pajak apabila ditemukan kemungkinan adanya potensi pajak yang

belum dilaporkan dan atau dibayar serta menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

2.) Kasi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, mempelajari, dan menyetujui konsep

surat permintaan penjelasan/himbauan pembetulan SPT/himbauan pembayaran


19
pajak serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor. Dalam hal Kepala Seksi

tidak menyetujui konsep surat yang dibuat, AR harus memperbaiki dokumen

tersebut terlebih dahulu.

3.) Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep surat permintaan

penjelasan/himbauan pembetulan SPT/himbauan pembayaran pajak serta

meneruskannya kepada Kasi Pelayanan. Dalam hal Kepala Kantor tidak

menyetujui konsep surat yang telah dibuat, AR harus memperbaiki dahulu

dokumen tersebut.

4.) Kasi Pelayanan menugaskan pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak

dokumen hasil persetujuan.

5.) Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak Surat Permintaan Penjelasan/Himbauan

Pembetulan SPT/Himbauan Pembayaran Pajak kemudian meneruskannya ke Kasi

Pelayanan.

6.) Kasi Pelayanan meneliti dan memaraf Surat Permintaan Penjelasan/Himbauan

Pembetulan SPT/Himbauan Pembayaran Pajak kemudian meneruskannya kepada

Kepala KKP.

7.) Kepala KPP menyetujui dan menandatangani Surat Permintaan

Penjelasan/Himbauan Pembetulan SPT/Himbauan Pembayaran Pajak dan

meneruskannya kepada Kasi Pelayanan untuk diproses lebih lanjut dengan SOP

Tata Cara Penatausahaan Dokumen WP dan disampaikan kepada wajib pajak

melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.) AR memantau perkembangan respon surat permintaan penjelasan/himbauan

pembetulan SPT/himbauan pembayaran pajak secara langsung dari wajib pajak,

memberikan laporan kepada Kasi Pengawasan dan Konsultasi serta melakukan

langkah-langkah :
20
a) Dalam hal Kasi Pengawasan dan Konsultasi menilai respon wajib pajak telah

memadai, maka tidak dilaksanakan tindak lanjut berikutnya.

b) Dalam hal Kasi Pengawasan dan Konsultasi menilai respon wajib pajak tidak

memadai atau wajib pajak tidak memberikan respon, maka ditindaklanjuti

dengan pengusulan pemeriksaan atau penerbitan STP.

10. SOP penerbitan surat himbauan ber-NPWP Seksi Ekstensifikasi

1.) Kasi Ekstensifikasi berdasarkan dokumen masuk yang telah didisposisi Kepala

KPP, Nota Dinas dari Kasi Pengawasan dan Konsultasi, data pihak ke tiga,

laporan hasil penelitian pendahuluan, dan/atau alat keterangan, menyusun dan

menugaskan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk mencetak konsep

Surat Himbauan ber-NPWP.

2.) Pelaksana Seksi Ekstensifikasi mencetak konsep Surat Himbauan ber-NPWP dan

menyampaikan konsep tersebut kepada Kasi Ekstensifikasi.

3.) Kasi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti, menyetujui, dan memaraf Surat

Himbauan ber-NPWP serta meneruskannya ke Kepala KPP.

4.) Kepala KPP menelaah, menyetujui, dan menandatangani Surat Himbauan ber-

NPWP.

5.) Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyiapkan pengiriman Surat

Himbauan yang telah ditandatangani dan menatausahakan arsipnya.

6.) Proses dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

7.) Proses selesai.

21
B. Gambaran Umum KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

1. Sejarah dan Lokasi Kerja KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Kebayoran Baru Dua dibentuk berdasarkan

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 443/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001 sebagai

pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2001 merupakan hasil reorganisasi

DJP yaitu pemekaran dari Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Kebayoran Baru. Mengingat

KPP merupakan unit eselon III di lingkungan DJP, maka KPP ini baru dapat

beroperasional sebagai suatu instansi sejak ditetapkannya Pejabat Eselon III (Kepala

Kantor) dengan KMK No 23/KM.OI/UP.11/2002(23 Januari 2002).

Awal operasional KPP JKB Dua dilakukan bersamaan dengan KPP JKB Satu di

gedung jalan KH Achmad Dahlan No 14 A, Kebayoran Baru, melihat kondisi dan

kapasitas gedung yang tidak memungkinkan dihuni 2 unit kantor, kemudian pada

tanggal 8 mei launching pemakaian gedung baru di Jalan TB Simatupang Jav. 18,

Jakarta Selatan.

Sebelum diterapkannya administrasi modern, KPP Pratama Jakarta Kebayoran

Baru Dua adalah KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua (lama) yang struktur organisasinya

masih berdasarkan jenis pajak dan memiliki tugas pelayanan, pengawasan

administratif, penagihan dan pemeriksaan terbatas hanya untuk jenis Pajak

Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak

Tidak Langsung lainnya.

Seiring dengan adanya modernisasi dalam administrasi perpajakan yang

dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak maka sesuai dengan Keputusan Dirjen

Pajak KEP-86/PJ/2007 tanggal 11 Juni 2007 terbentuklah Kantor Pelayanan Pajak

Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua yang menerapkan sistem administrasi perpajakan

yang modern dan struktur organisasi yang didasarkan atas fungsi. Di dalam struktur
22
organisasi modern ini fungsi pemeriksaan yang sebelumnya di Kantor Pemeriksaan

Pajak dan fungsi pelayanan PBB yang sebelumnya di Kantor

Pelayanan PBB dilebur ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dengan prinsip “ One

Stop Services” dan diharapkan Wajib Pajak dapat memenuhi seluruh hak dan kewajiban

perpajakannya di satu tempat.

Saat mulai operasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

terhitung sejak tanggal 12 Juni 2007 dan menempati gedung baru yang merupakan eks

Kantor Pelayanan PBB Jakarta Selatan II di Jalan Ciputat Raya No.2 ,Pondok Pinang

,Jakarta Selatan.

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kebayoran Baru Satu beralamatkan

di Jl. K.H Ahmad Dahlan No. 14A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan mengalami

pemecahan membentuk KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Tiga dengan SMO

terhitung mulai 1 Oktober 2007 dan beroperasi pada gedung yang sama, hingga

akhirnya KPP KJB Satu berpindah alamat ke Gedung Patra Jasa Lt. Dasar dan Lt. 14

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling 32-34.

Tabel II.1
Alamat KPP Pratama di Kecamatan Kebayoran Baru per 2014

Nama KPP Kode Alamat No. Telepon


KPP
KPP Pratama Jakarta 012 Gedung Patra Jasa Lt. Dasar dan Lt. 14 021-52920983
Kebayoran Baru Satu Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling
32-34 , Jakarta Selatan 12950
KPP Pratama Jakarta 019 Jalan Ciputat Raya No. 2 Pondok 021-75818842,
Kebayoran Baru Dua Pinang, Jakarta Selatan 12310 75908704
KPP Pratama Jakarta 064 Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 14 A, 021-7245735,
Kebayoran Baru Tiga Jakarta Selatan 12130 7245785

Sumber : diolah dari www.pajak.go.id September 2014

23
KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua beralamat di J Jalan Ciputat Raya

No. 2 Pondok Pinang, Jakarta Selatan memiliki Koordinat Lintang Bujur DMS

6°15'38.0"S 106°46'31.4"E. Batas Kantor Pelayanan Pajak KPP Pratama Jakarta

Kebayoran Baru dua terdiri dari :

Sebelah Utara :Perumahan

Sebelah Selatan : Jl Pondok Pinang Raya, UPI YAI, Pasar Jaya

Sebelah Timur : Kali Grogol

Sebelah Barat : Perumahan

Gambar II.1

Gedung KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua (tampak depan)

Sumber :Foto Pribadi Penulis

KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua memiliki empat bangunan, yang

terdiri gedung utama, Mushola, Kantin, dan Pos Satpam Ada pun bangunan utama

terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing peruntukan ruang sebagai berikut

Lantai I : a. Tempat Pelayanan Terpadu

b. Seksi Pelayanan

c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi

e. Gudang Berkas

24
Lantai II : a. Ruang Kepala Kantor

b. Ruang Kepala Subbag umum

c. Seksi Subbag Umum

c. Seksi Pengawasan dan Konsultasi 1

d. Seksi Pengawasan dan Konsultasi 2

e. Seksi Pengawasan dan Konsultasi 3

e. Seksi Pengawasan dan Konsultasi 4

f. Ruang Rapat

Lantai III : a. Seksi Penagihan

b. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal

c. Jabatan Fungsional

d. Seksi Ekstensifikasi

Letak gedung lainnya seperti Kantin, Mushola dan parkir motor di sebelah utara

Kantor, Pos satpam Masuk dan Parkir Mobil di sebelah Timur.sedangkan di sebelah

selatan kantor terdapat Pos Satpam Keluar

2. Struktur Organisasi dan Tugas Fungsi Tiap Seksi

KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua berada di bawah dan bertanggung

jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Jakarta Selatan. Struktur organisasi

KPP ini sudah sesuai dengan KPP modern, yaitu berdasarkan fungsi dan bukan

berdasarkan jenis pajak lagi. KPP modern terdiri dari satu Pejabat Eselon III (Kepala

Kantor), sepuluh Pejabat Eselon IV (Kepala Seksi/Kepala Sub Bagian), dan satu Ketua

Kelompok Fungsional KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua terbagi menjadi

sebelas bagian yaitu: Sub Bagian Umum, Seksi Pengolahan Data dan Informasi , Seksi

Pelayanan, Seksi Penagihan, Seksi Pemeriksaan, Seksi Ekstensifikasi Perpajakan Seksi


25
Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Seksi Pengawasan

dan Konsultasi III, Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV, Kelompok Jabatan

Fungsional.

Gambar II.2
Struktur Organisasi KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Sumber : diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Jakarta KB Dua, 2014,

jumlah dan nama pegawai serta jabatannya dapat dilihat di lampiran 1

26
Dalam menjalankan fungsinya, bagian-bagian tersebut memiliki tugas pokok dan

fungsi tersendiri yaitu:

a. Sub Bagian Umum, mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan,

tata usaha, dan rumah tangga.

b. Seksi Pengolahan Data dan Informasi, mempunyai tugas melakukan pengumpulan,

pencarian, pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen

perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pelayanan dukungan teknis

komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, update SIDJP serta penyiapan

laporan kinerja.

c. Seksi Pelayanan, mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan produk

hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan,

penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya,

penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, serta melakukan

kerjasama perpajakan.

d. Seksi Penagihan, mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang

pajak, penundaaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan

penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen perpajakan

e. .Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal (RIKKI), Seksi Pemeriksaan bertugas

mengkoordinasikan pelaksanaan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan

pelaksanaan aturan pemeriksaan, penertiban dan penyaluran Surat Perintah

Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya. Sejak tahun

2013, seksi pemeriksaan juga bertugas untuk mengawasi kepatuhan internal para

pegawai di lingkungan DJP khususnya di KPP Pratama sehingga namanya menjadi

seksi RIKKI.

27
f. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan, mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi

perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, penelitian objek pajak dalam rangka

ekstensifikasi.

g. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, II, III, dan IV, masing-masing mempunyai

tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak,

bimbingan atau himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan,

penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan

rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan

melakukan evaluasi hasil banding. Berikut ini adalah pembagian kerja wilayah

waskon :

Seksi Waskon I : Cipete Utara

Seksi Waskon II : Pulo

Seksi Waskon III : Gandaria Utara

Seksi Waskon IV : Kramat Pela dan bendaharawan

h. Kelompok Jabatan Fungsional, mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai

dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku. Setiap kelompok tersebut dikoordinasikan supervisor yaitu

pejabat fungsional senior yang ditunjuk oleh kepala kantor

Selain tugas dan fungsi tiap seksi tersebut di atas, terdapat pula fungsi tiap jabatan,

contohnya : Account Representative, Pelaksana dan Juru Sita,

a. Account Representative (AR) adalah pegawai pajak yang mengemban tugas

intensifikasi perpajakan melalui pemberian bimbingan/himbauan, konsultasi,

analisis, dan pengawasan terhadap Wajib Pajak.

b. Pelaksana adalah pegawai struktural yang mempunyai tugas pengadministrasian

segala dokumen yang ada di masing-masing seksi di Kantor Pelayanan Pajak

28
3. Tugas dan fungsi KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua, berdasarkan Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 62/PMK.01/2009 sebagaimana telah diubah terakhir dengan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.01/2012 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak Menteri Keuangan Republik

Indonesia, mempunyai tugas dan fungsi. Yaitu.

1) Tugas Pokok KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

KPP Pratama Jakarta Jakarta Kebayoran Baru Dua mempunyai tugas untuk

melaksanakan pelayanan, pengawasan administratif, dan pemeriksaan

sederhana terhadap Wajib Pajak dalam bidang Pajak Penghasilan, Pajak

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Pajak Tidak

Langsung Lainnya dalam wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

2) Fungsi KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

a. pengumpulan, pencarian dan pengolahan data, pengamatan potensi

perpajakan, penyajian informasi perpajakan, pendataan objek dan subjek

pajak, serta penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan;

b. penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan;

c. pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan

pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya;

d. penyuluhan perpajakan;

e. pelaksanaan registrasi Wajib Pajak;

f. pelaksanaan ekstensifikasi;

g. penatausahaan piutang pajak dan pelaksanaan penagihan pajak;

h. pelaksanaan pemeriksaan pajak;


29
i. pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak;

j. pelaksanaan konsultasi perpajakan;

k. pelaksanaan intensifikasi;

l. pembetulan ketetapan pajak;

m. pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan;

n. pelaksanaan administrasi kantor.

4. Sumber Daya Manusia di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Dalam menjalankan agenda modernisasi di Direktorat Jenderal Pajak tidak hanya

dari segi sistem dan struktur organisasi yang dimodernisasi tetapi yang paling penting

adalah sumber daya manusia sebagai motor penggerak roda organisasi. Untuk itu di

KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua yang didukung oleh 89 pegawai telah dan

sedang dilakukan perbaikan secara berkelanjutan sehingga KPP dapat memposisikan

diri sebagai pusat layanan yang bercirikan sebagai berikut :

a. Keramahan, melayani dengan keikhlasan, penuh perhatian dan berempati.

b. Kemudahan, menjamin bahwa Wajib Pajak akan mendapat kemudahan akses

informasi dan kemudahan prosedur pelayanan dalam melaksanakan

kewajibannya.

c. Kompetensi, menjamin bahwa Wajib Pajak akan dilayani oleh karyawan yang

terlatih dan profisional.

d. Kejelasan, menjamin bahwa Wajib Pajak akan mendapat informasi yang jelas

tentang hak dan kewajibannya.

e. Kepastian, menjamin bahwa Wajib Pajak dalam menjalankan hak-dan

kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

f. Integritas, berpedoman kepada sikap jujur, tegas dalam melayani Wajib Pajak.

30
Jumlah seluruh pegawai yang ada di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua per

September 2014 adalah 89 pegawai. Berikut data tentang Sumber Daya Manusia

yang dikelompokkan per seksi

Tabel II.2
Alokasi SDM Tiap Seksi di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Komponen Organisasi Jumlah Keterangan L P


Kepala Kantor 1 Orang 1
Subbagian Umum 9 Orang 1 Kasi, 4 Kepegawaian, 2 4 5
Keuangan , 2 Rumah Tangga
Seksi Pelayanan 15 Orang 1 Kasi, 14 Pelaksana 6 9
Seksi Penagihan 4 Orang 1 Kasi, 2 Jurusita, 1 Pelaksana 4
Seksi PDI 6 Orang 1 Kasi, 2 OC, 3 Pelaksana 2 4
Seksi Ekstensifikasi 4 Orang 1 Kasi, 3 Pelaksana 4
Seksi Pemeriksaan 3 Orang 1 Kasi, 2 Pelaksana 2 1
Seksi Waskon I 8 Orang 1 Kasi, 7 AR 4 4
Seksi Waskon II 9 Orang 1 Kasi, 7 AR, 1 Pelaksana 3 6
Seksi Waskon III 7 Orang 1 Kasi, 5 AR, 1 Pelaksana 2 5
Seksi Waskon IV 8 Orang 1 Kasi, 6 AR, 1 Pelaksana 2 6
Kelompok Jabatan Fungsional 13 Orang 7 6
Pelaksana Kantor 2 Orang 1 1
Total 89 Orang 42 47
Sumber : diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Jakarta KB Dua, 2014 dan
Aplikasi SIKKA

Jumlah pegawai yang cukup besar juga merupakan sebuah peluang yang dapat

dimanfaatkan secara efektif sehingga tiap wajib pajak dapat terlayani dengan baik

sehingga wajib pajak merasa puas dengan kinerja instansi. Dari Tabel Diatas Kita bisa

mengetahui 4 Data menegenai Pegawai di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua,

yaitu sebagai berikut.

1.) Komposisi Pegawai berdasarkan seksi

31
2.) Komposisi Pegawai berdasarkan Jabatan

3.) Komposisi Pegawai berdasarkan tingkat eselon

4.) Komposisi pegawai berdasarkan Jenis Kelamin

Ke empat data tersebut akan sulit dipahami dan dianalisa lebih lanjut jika dilihat dalam

bentuk tabel karena data bercampur, maka kita harus pisahkan data tersebut satu per

satu dalam bentuk diagram.

Diagram II.1

Komposisi Pegawai berdasarkan seksi

Kepala Kantor
2% 1% Subbagian umum

15% 10% Seksi Pelayanan


17% Seksi Penagihan
Seksi PDI
36% 7% Seksi Eksten
5% Seksi Riki

4% Seksi Waskon
3%
Kel. Jabfung
Pelaksana Kantor

Sumber : diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Jakarta KB Dua, 2014

Berdasarkan diagram di atas seksi dengan jumlah pegawai paling banyak adalah

seksi waskon dengan jumlah 32 orang dan presentase 36 % dari seluruh pegawai, hal

ini dikarenakan tugas dan fungsi waskon yang banyak serta berhubungan langsung

dengan wajib pajak dalam hal melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan

Wajib Pajak, bimbingan atau himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis

perpajakan, penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan

rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, banyaknya

32
pegawai di seksi ini juga karena terdapat 4 seksi waskon di KPP Pratama Jakarta

Kebayoran Baru Dua dengan rata-rata 8 pegawai per seksi Dan posisi yang kedua

ditempati dari seksi Pelayanan dengan jumlah pegawai 15 orang dengan presentae 17

%, hal ini dikarenakan tugas dari Pelayanan paling banyak daripada seksi-seksi lainnya,

karena seksi ini yang pertama kali menerima SPT.

Diagram II.2

Komposisi Pegawai berdasarkan Jabatan dan Tingkat Eselon

Kepala Kantor Kepala Kasubbag/Kasi Eselon III Eselon IV Non Eselon


Fungsional Jurusita
Operator Console Pelaksana
1%
1% 11%

12%

15%

2%
68%
2% 88%

Sumber : Sistem Informasi Kepegawaian, Keuangan & Aktiva (SIKKA)

Diagram II.2 memberikan ilustrasi komposisi pegawai KPP Pratama Jakarta

Kebayoran Baru Dua berdasarkan jabatan .Dari diagram tersebut, diketahui bahwa

mayoritas pegawai di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru adalah Pelaksana dengan

presentase 68 %, Kemudian Fungsional dengan 15 %. Pada umumnya Kebanyakan

Pegawai di KPP Pratama adalah non eselon yang terdiri dari pelaksana, jurusita, OC

sedangkan eselon III terdiri dari kasi dan Kasubbag.

Ditinjau dari jenjang pendidikannya, pegawai pada Kantor Pelayanan Pajak

Pratama Semarang Candisari terdiri atas beberapa kelompok jenjang pendidikan mulai

dari SMA hingga jenjang kuliah Sarjana, Magister dan Doktoral. Pemetaan jenjang
33
pendidikan ini secara tak langsung dapat menggambarkan tingkat pendidikan dan SDM

(Sumber Daya Manusia) yang mendukung kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Semarang Candisari. Data yang diperoleh merupakan data update per September 2014.

Berikut data pegawai menurut jenjang pendidikan :

Tabel II.3
Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua
menurut Jenjang Pendidikan per September 2014

Tingkat Pendidikan Jumlah


No Golongan
Lain-Lain SMA D1 DIII D IV S1 S2/S3
1 Golongan I - - - - - - - 0
2 Golongan II 1 1 3 10 3 18
3 Golongan III 2 7 2 7 4 38 7 67
4 Golongan IV 4 4
Jumlah 3 8 5 16 4 42 11 89
Sumber : diolah dari Sistem Informasi Kepegawaian, Keuangan & Aktiva (SIKKA)

Lain-Lain dalam tingkat pendidikan ditabel adalah lulusan SMEA, Akademi

Pimpinan Perusahaan dan Akademi Akunting. Dari tabel diatas pegawai KPP

Kebayoran Baru Dua dengan golongan 1( Pangkat Juru) tidak ada, sedangkan golongan

II ( Pangkat Pengatur) ada 18 Orang kebanyakan berasala dari lulusan pendidikan D III

, golongan III (Penata) ada 67 Orang kebanyakan berasal dari lulusan pendidikan

Sarjana, dan golongan IV dengan lulusan pendidikan Strata Magister atau Doktoral,

terlihat gemuk di tengah komposisi Pegawai di KPP Kebayoran Baru Dua yaitu dari

lulusan Sarjana, untuk kedepannya Kementerian sangat membutuhkan lulsan D1 dan

DIII.

5. Wilayah Kerja

Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.01/2012 tentang Organisari Dan

Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak ditetapkan Wilayah kerja KPP

Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua meliputi Empat kelurahan di kecamatan

34
Kebayoran Baru Jakarta Selatan, yaitu meliputi kelurahan Kramat Pela, Gandarioa

Utara, Pulo, dan Cipete Utara. Dimana keempat kelurahan tersebut ditangani oleh

empat Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang sebagaimana berikut

Tabel II.4
Wilayah Kerja Seksi Pengawasan dan Konsultasi di KPP Pratama Jakarta
Kebayoran baru Dua
Seksi Pengawasan dan Konsultasi Wilayah Kerja Kode Pos
I Kelurahan Cipete Utara 12150
II Kelurahan Pulo 12160
III Kelurahan Gandaria Utara 12140
IV Kelurahan Kramat Pela dan 12130
Bendaharawan
Sumber: diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi

Batas Wilayah geografis Terdiri dari :

 Sebelah Utara : Jl. Kyai Maja, Jln Panglima Polim Raya,, dan Jalan Wijaya

 Sebelah Timur : Kali Krukut

 Sebelah Selatan : Jl. Pelita, Jl. Cipete Utara, Jl. Rs Fatmawati, Jl Haji Nawi, dan

Jl.Marga Guna

 Sebelah Barat : Kali Grogol

Batas Wilayah Kerja KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua Terdiri dari :

 Sebelah Utara : KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Tiga

 Sebelah Timur : KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan

 Sebelah Selatan : KPP Pratama Jakarta Cilandak

 Sebelah Barat : KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama

Untuk jelasnya terlihat dalam denah/ peta berikut.

35
Gambar II.3
Peta wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Sumber : diolah dari Seksi PDI KPP dan google maps 2013

6. Potensi Perpajakan

Luas wilayah kerja KPP Semarang Candisari adalah 5,85 Ha, kurang lebih setara

dengan 45,31 % dari seluruh luas wilayah kecamatan Kebayoran Baru yaitu wilayah

12,91 Ha, berikut statistik wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Tabel II.4
Statistik Wilayah Kerja KPP Pratama Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Nama Kelurahan Luas Jumlah


Wilayah
(Ha) jiwa laki Perempuan KK RT RW
Kel. Pulo 1,27 6999 3156 3843 1905 48 8
Kel. Gandaria Utara 1,52 40023 20340 19683 10947 147 15
Kel. Cipete Utara 1,83 38224 19447 18777 10526 104 11
Kel. Kramat Pela 1,23 13908 6904 7004 3599 84 10
Total 5,85 99154 49847 49307 26977 383 44
Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta

36
Dai Tabel II.4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di wilayah kerja KPP Pratama

Jakarta Kebayoran Baru Dua sebanyak 99.154 jiwa dengan jumlah laki-laki 49.847 jiwa

dan perempuan 49.307 jiwa dan 26.977 KK, dilihat dari proporsi ini, Penduduk di

wilayah kebayoran baru dua kebanyakan adalah laki-laki, karena laki-laki sebagai

kepala keluarga dan harus menafkahi keluarganya maka hampir dipastikan banyak yang

mempunyai penghasilan.

Potensi perpajakan dilihat dari jumlah penduduk dapat diketahui kelurahan yang

mempunyai penduduk paling banyak adalah kelurahan gandaria utara kemudian disusul

kelurahan Cipete Utara. Sedangkan kelurahan yang memiliki Potensi perpajakan dilihat

dari Luas wilayahnya adalah Cipete Utara dengan luas 1,83 Ha kemudian Gandaria

Utara dengan luas 1,52 Ha.

Tabel II.4
Jumlah SPT yang disampaikan per jenis SPT

Jenis SPT Tahunan 2011 2012 2013


OP 4.354 4.805 5.361
OPS 14.555 15.474 17.875
OPSS 18.056 19.374 22.349
Sumber: diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi

SPT 1770, Bentuk Formulir ini dipergunakan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang

mempunyai Penghasilan. SPT 1770 S, Bentuk Formulir ini dipergunakan oleh wajib

pajak yang mempunyai penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja (Karyawan) yang

mempunyai penghasilan lebih dari 60 juta per tahun. SPT 1770 SS, Bentuk Formulir

ini bagi Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan selain dari usaha dan/atau

pekerjaan bebas dengan jumlah penghasilan bruto tidak lebih dari Rp60.000.000,00

(enam puluh juta rupiah) setahun.

Dari Tabel II.4 Dapat diketahui pada tahun 2013 jumlah SPT yang paling banyak

disampaikan adalah SPT OPSS sebanyak 22.349, jadi sebanyak 22.349 Wajib Pajak

37
memiliki penghasilan kurang dari 60 Juta. Dapat dilihat juga bahwa dari tahun ke tahun

jumlah SPT yang disampaikan meningkat di setiap jenis SPT nya baik SPT OPSS, OPS,

OP, perkembangan jumlah SPT yang disampaikan yang paling signifikan adalah dari

tahun 2012 ke 2013 untuk SPT OPSS dengan pertambahan sebanyak 2.975 SPT

Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP 321/PJ/2012 Tentang

Klasifikasi Lapangan Usaha Wajib Pajak, Seluruh Kegiatan Ekonomi di Inonesia

dibagi dalam 21 Kategori.

Tabel II.5
Kategori Klasifikasi Lapangan Usaha WP KPP Pratama Jakarta Kebayoran
Baru Dua tahun 2014

Kategori Jumlah WP
Pertanian, Kehutanan dan perikanan 16
Pertambangan dan Penggalian 90
Industri Pengolahan 324
Pengadaan Listrik, Gas, Uap, Air dingin 29
Pengadaaan air, Pengolahan sampah daur ulang, Pembuangan dan
Pembersihan limbah 12
Konstruksi 90
Perdagangan besar dan Eceran, reparasi dan perawatan mobil dan
sepeda motor 1.942
Transportasi dan Pergudangan 133
Penyedian Akomodasi dan Air minum 235
Informasi dan komunikasi 308
Jasa Keuangan dan Asuransi 152
Real Estate 68
Jasa Profesional dan Teknis 904
Jasa persewaan Ketanagakerjaan, agen perjalanan 234
Administrasi pemerintahan 0
Jasa Pendidikan 75
Jasa Kesehatan danKegiatan sosial 188
Kebudayaan, hiburan dan rekreasi 132
Kegiatan Jasa Lainnya 27.046
Jasa Perorangan yang melayani rumah tangga 6
Kegiatan Badan Internasional 0
Sumber: diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi, Master File

38
Dari Tabel II.5 dapat diketahui bahwa kebanyakan jumlah WP memiliki lapangan

usaha masuk dalam kategori Kegiatan Jasa Lainnya yang terdiri dari Pegawai Swasta

sebanyak 21.335 orang dan Pegawai Negeri Sipil sebanyak 2.912 orang dan sebanyak

871 Orang Pegawai BUMD/BUMN.

Selain kategori kegiatan jasa lainnya, Sektor Ekonomi yang signifikan lainnya

adalah kategori Perdagangan besar dan Eceran, reparasi dan perawatan mobil dan

sepeda motor yang terdiri dari perdagangan besar kulit dan kulit jangat sebanyak 30

WP, perdagangan besar mesin, peralatan dan perlengkapan lainnya sebanyak 22 WP,

perdagangan besar peralatan dan perlengkapan rumah tangga sebanyak 53 WP,

perdagangan eceran alat laboratorium, farmasi dan kesehatan sebanyak 20 WP,

Reparasi Mobil dan Motor 5 WP, dan pedagang Besar dan Eceran Lainnya

Kategori lainnya yang cukup berkontribusi dalam penerimaaan pajak di KPP Prata

Jakarta Kebayoran Baru Dua adalah Jasa Profesional dan Teknis, Industri Pengolahan,

Penyedia akomodasi, Informasi dan komunikasi, Jasa Keuangan dan Asuransi.

Wilayah Kanwil Jakarta Selatan khususnya KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua

ditinjau dari aspek geografis dan demografis memiliki beberapa hal yang spesifik.

Sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pemukiman, perkantoran dan

perdagangan, selain hunian / pemukiman berupa perumahan terdapat pula berbagai

apartemen, rumah toko, maupun rumah kantor. Melihat kondisi wilayah yang demikian,

maka muncul berbagai kegiatan usaha bidang perdagangan, jasa maupun pendidikan

yang berdomisili di sekitar / dalam hunian dengan tujuan agar lebih dekat dengan

konsumen. Ada juga yang menjadikan tempat tinggalnya sebagai tempat kegiatan

usahanya. Kegiatan usaha yang paling banyak bermunculan adalah rumah makan, cafe

atau restoran. Kegiatan usaha lainnya yang dominan adalah bengkel atau show room

kendaraan bermotor di sepanjang jalan Radio Dalam serta toko kelontong dan salon di
39
Jalan Fatmawati. Mengingat KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua dekat pula dengan pusat

pemerintahan dan bisnis, maka terdapat pula berbagai gedung perkantoran.

Disimpulkan bahwa sektor strategis yang menonjol untuk wilayah kecamatan

Kebayoran Baru pada masa mendatang adalah :

1. Sektor perdagangan, terutama terdapat di wilayah pusat-pusat perbelanjaan dan

pertokoan. Misalnya : Blok M, Duta Mas Fatmawati, Dharmawangsa Square.

2. Sektor pemukiman, terutama di daerah Kelurahan Pela.

3. Sektor jasa dan perkantoran, terutama di wilayah Jalan Radio Dalam dan Jalan

Fatmawati.

Melihat latar belakang keadaan ekonomi dan sosial di wilayah KPP Jakarta

Kebayoran Baru Dua tersebut maka penggalian potensi perpajakan yang masih

memungkinkan untuk ditingkatkan. Penggalian potensi perpajakan dapat dipetakan /

dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Penggalian potensi perpajakan sektor pemukiman.

Kegiatan yang dilakukan misalnya pemanfaatan data Pejabat Pembuat Akte

Tanah / PPAT dan permohonan Ijin Mendirikan Bangunan / IMB untuk

menambah jumlah Wajib Pajak dan penerimaan PPh dan PPN Kegiatan

Membangun Sendiri.

2. Penggalian potensi perpajakan sektor usaha perdagangan dan jasa.

Kegiatan yang dilakukan misalnya menghimbau para pemilik rumah makan,

toko / warung kelontong ataupun salon untuk mendaftarkan diri sebagai Wajib

Pajak dan memenuhi kewajiban perpajakannya.

3. Penggalian potensi perpajakan sektor perkantoran. Kegiatan yang dilakukan

misalnya dengan meminta data Penyewa pada para pemilik gedung perkantoran

dan pertokoan dilakukan himbauan agar mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak
40
kepada Penyewa yang belum mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak kemudian

mengawasi pemenuhan kewajiban perpajakannya.

Objek objek yang berada di wilayah kerja KPP Kebayoran Baru Dua adalah

sebagai berikut.

1. Kramat Pela

Taman Jalan Langsat, Hotel Gran Mahakam, Plaza Blok M, SMA 70, Kejaksaan

Agung, Kedutaan Besar Mali, Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil, Graha

Parama, Pasar Burung, Graha Darya Varia, Universitas Muhammadiyah,

Apartemen Permata Gandaria, Mal Kebayoran Baru, SMA 6, Pasar Puring,

Taman Puring, Taman Ayodia-Barito

2. Gandaria Utara

Plaza 5 Pondok Indah, Masjid Annur, STIK, Pasar Inpres Radio Dalam,

Komplek TNI-AL, Komplek Yado

3. Cipete Utara

ITC Fatmawati, Pasar Cipete, SMK Tunasa Pembangunan, Masjid Annur,

Komplek Pertamina Maxus, Griya Prapanca Apartemen, Apartemen Prapanca,

Apartemen Kemang Village, Villa Sawo, Masjid Al Hidayah

4. Pulo

Palyja Selatan, Apartemen Brawijaya, Sasana Golf Wijaya, Darmawangsa

Residence, The Darmawangsa Hotel, Taman Puri Oasis, Komplek Ruko Wijaya

Grand Centre, Komplek Ruko Grand Panglima Polim, Polres Metro Jakarta

Selatan, Pasar Blok A, SMA Pangudi Luhur, Darmawangsa Square The City

Walk, Komplek Ruko Bahan Bangunan Panglima Polim, Masjid Jami Nuur

Abu Wizar, Komplek Ruko Blok A, Rukan Darmawangsa Square

41
7. Gambaran Umum Seksi PDI di KPP Kebayoran Baru Dua

Seksi Pengolahan Data dan Informasi adalah seksi yang bertugas untuk mengolah
dan merekam data yang masuk dalam sebuah KPP. Dapat dibilang seksi PDI adalah
Pusat Informasi di KPP. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) di KPP Pratama
Jakarta Kebayoran Baru Dua seperti seksi PDI pada umumnya, di seksi ini hanya
terdapat 6 pegawai, yang terdiri dari satu Kepala Seksi, tiga pelaksana harian dan dua
operator console. Untuk keterangan lengkap mengenai SDM di seksi PDI bisa dilihat dalam
Tabel dibawah ini.
Tabel II.6
Sumber Daya Manusia Seksi PDI KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

Pangkat/ Pendidikan
Nama Pegawai NIP Jabatan
Golongan Terakhir
Eben Kennedy Penata Sarjana Pertanian
Kepala
Simanjuntak, 197305011999031001 Tingkat Jurusan Sosial
Seksi PDI
S.P. I/III.d Ekonomi
D III Keuangan
M. Dion Putra Pengatur Operator
198706222008121003 Spesialisasi Penilai
Nurcahya Tk. 1//II.d Console
( PBB )
Dona
Pengatur Operator
Raramentik, 198607212004122002 Akademi Akunting
Tk. 1//II.d Console
A.Md.
Pengatur Pelaksana D I Keuangan
Aprilia Dhian
198504152004122001 Muda Tk. (Perekam Spesialisasi
Purwaningsih
1/ II.bData Alket) Perpajakan
Pelaksana
Sri Suwarti Pengatur Sarjana Ekonomi
196804151999032001 (Perekam
Tk.I/II.d Jurusan Manajemen
SPT)
Pelaksana
Murniyati Penata Sarjana Ekonomi
196107281984032008 (Perekam
/III.c Jurusan Manajemen
SPT)
Sumber : Diolah dari SIKKA DJP September 2014

Dari tabel II.6 dapat diketahui bahwa Pegawai di Seksi PDI berjumlah 6 orang

yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 4 orang Perempuan, dilihat berdasarkan

golongannya terdapat 4 golongan II dan 2 Golongan III.

Ditinjau dari jenjang pendidikannya, pegawai di seksi PDI 3 orang bergelar

Sarjana dan 3 Orang bergelar Diploma dan Akademi, dengan tingkat pendidikan seperti

ini seharusnya bisa mendukung kinerja Seksi PDI

42
Dalam menjalankan tugasnya seksi PDI berpedoman pada Standard

Operating Procedure (SOP) yang sudah ada. Terhitung per tahun 2012 Seksi PDI

memiliki 12 SOP yang masih dipergunakan, yaitu :

Tabel II.7
SOP Seksi PDI 2012

Kode SOP Tentang Status


Tata Cara Pemrosesan Dan Penatausahaan Dokumen Masuk Di
KPP20-0001
Seksi PDI
KPP20-0002 Tata Cara Penatausahaan Alat Keterangan
Hapus
Tata Cara Penyusunan Rencana Penerimaan Pajak Berdasarkan
KPP20-0003
Potensi Pajak, Perkembangan Ekonomi
KPP20-0004 Tata Cara Pembentukan Bank Data
Hapus
KPP20-0005 Tata Cara Pemanfaatan Bank Data
Hapus
Tata Cara Pembuatan Dan Penyampaian Surat Perhitungan (SPH)
KPP20-0006
Kirim Ke Kantor Pelayanan Pajak Lain
Tata Cara Peminjaman Berkas Data/Alat Keterangan Oleh Seksi
KPP20-0007
Pengolahan Data Dan Informasi Kepada Seksi Terkait
Hapus
KPP20-0008 Tata Cara Penatausahaan Penerimaan PBB Non Elektronik
Revisi 1
KPP20-0009 Tata Cara Pembuatan Bahan Laporan Penerimaan PBB/BPHTB
Revisi 2
KPP20-0010 Tata Cara Penyelesaian Pembagian Hasil Penerimaan PBB
Hapus
KPP20-0011 Tata Cara Tindak Lanjut Surat Keputusan Pengurangan PBB
Tata Cara Perubahan Data Tagihan Pada Tempat Pembayaran
KPP20-0012 Tertentu Akibat Surat Keputusan Pengurangan Denda Administrasi
PBB Yang Ditandatangani Oleh Kepala Kanwil DJP
KPP20-0013 Tata Cara Penyelesaian Cetak Massal SPPT, STTS, Dan PBB
KPP20-0014 Tata Cara Pelaksanaan Back Up Data Sismiop
KPP20-0015 Tata Cara Penunjukan Tempat Pembayaran PBB (TB)
KPP20-0016 Tata Cara Menjawab Permintaan Data PBB Di KPP Pratama
Tata Cara Penatausahaan Nomor Rekening Kas Negara Q.Q. PBB
KPP20-0017 Pada Bank Persepsi Dalam Rangka Penyusunan Tabel Relasi Untuk
Tempat Pembayaran Elektronik di KPP Pratama
Baru
Sumber : Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

43
Dari Tabel II.7 dapat diketahui bahwa terdapat 5 SOP seksi PDI yang dihapus,

Menurut hasil wawancara dengan Operator Console 4 SOP dihapus dikarenakan

sehubungan dengan terbitnya PER - 45/PJ/2009 tanggal 13 Agustus 2009 tentang

Pedoman Administrasi Pembangunan, Pengelolaan, Dan Pengawasan Data, untuk

selanjutnya akan diusulkan SOP baru, tapi sepanjang belum ada SOP baru dan

pekerjaan tersebut ada di IKU, SOP lama tetap digunakan diakarenakan agar tertib

prosedur dan produk yang dihasilkan pun tidak seenaknya, tetapi dalam mengikuti

prosedurnya tetap fleksibel tidak wajib, salah satunya adalah Tata cara Penatausahaan

Alat Keterangan. 1 SOP lainnya yang di hapus karena tugas tersebut sudah wewenang

Kanwil, 2 SOP yang di revisi dan 1 SOP Baru.

Secara umum Seksi PDI di KPP ini memiliki tiga tanggung jawab yaitu:

a. Perekaman Surat Pemberitahuan (SPT).

Perekaman SPT di KPP ini dilaksanakan oleh empat orang pelaksana yang betugas

khusus untuk merekam SPT. SPT yang direkam di sini antara lain:

1) SPT witholding tax

a) SPT PPh 1721 Pasal 21/26

b) SPT PPh Pasal 22

c) SPT PPh 23/26

d) SPT PPh Pasal 4 ayat (2)

e) SPT PPh Pasal 15

f) SPT PPN 1107PUT

2) SPT Tahunan

a) SPT PPh Badan 1771

b) SPT PPh OP 1170

44
c) SPT PPh OP 1770 S

d) SPT PPh OP 1770 SS

Tiga orang pelaksana perekam SPT masing-masing bertanggung jawab khusus

atas SPT Wajib Pajak yang berada di bawah salah satu seksi pengawasan dan

konsultasi. Hal ini dibuat sedemikian sehingga agar persoalan teknis yang mungkin

dihadapi saat perekaman SPT dapat langsung dimintakan keterangan ke AR yang

bersangkutan.

b. Penatausahaan Alat Keterangan (Alket).

Seksi PDI di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua memiliki fungsi untuk

tata usaha alat keterangan. Perekaman alat keterangan menggunakan aplikasi SIDJP.

Salah seorang pelaksana seksi PDI menjadi petugas perekam alat keterangan. Alat

keterangan yang direkam di sini bersumber baik dari data luar KPP (eksternal)

maupun dari dalam KPP (internal). Selama ini data alat keterangan di KPP Pratama

Jakarta Kebayoran Baru Dua berupa:

1) Sumber Ektsernal

a) Dari KPP lain:

 Catatan transaksi jual beli tanah dan bangunan.

 Faktur pajak atas transaksi antara WP yang terdaftar di KPP lain dan

KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua.

b) Laporan bulanan dari notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di

wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Tebet. Kebanyakan laporan ini juga

berupa data transaksi atas jual beli tanah dan bangunan.

2) Sumber Internal

a) Catatan transakasi jual beli tanah dan bangunan. Catatan ini berasal dari

seksi ekstensifikasi serta pengawasan dan konsultasi.


45
b) SPT Tahunan baik orang pribadi (OP) maupun badan yang telah diimbau

namun tidak direspon. Imbauan biasanya berupa permintaan koreksi,

kelengkapan SPT, dan lain sebagainya. Data ini berasal dari seksi

pengawasan dan konsultasi.

Berdasarkan pengamatan penulis, alat keterangan di KPP ini biasanya

dimanfaatkan oleh seksi ekstensifikasi perpajakan dan seksi pemeriksaan. Seksi

ekstensifikasi perpajakan biasanya menggunakan data alat keterangan non-NPWP.

Yang dimaksud dengan non-NPWP adalah pihak yang terkait dalam data alat

keterangan tersebut tidak memiliki NPWP, sebagai contoh adalah transaksi jual beli

tanah dan bangunan di mana pihak yang berangkutan atas transaksi tersebut belum

memiliki NPWP. Sedangkan seksi pemeriksaan menggunakan alat keterangan sebagai

data pelengkap dalam persiapan audit plan.

Pihak yang memerlukan alat keterangan akan mengajukan permintaan berkas data

dan kemudian pelaksana seksi PDI akan menjawab dan meminjamkan data yang

diperlukan. Seksi PDI juga melakukan pengiriman alat keterangan ke KPP lain yang

menjadi mitra WP. Maksudnya mitra WP di sini adalah KPP yang di wilayah kerjanya

terdapat WP yang berhubungan atau bertransaksi dengan WP dari KPP Pratama Jakarta

Kebayoran Baru Dua. Alat keterangan yang dikirimkan juga tidak berbeda, antara lain

transaksi jual beli tanah dan bangunan, faktur pajak, dan lain sebagainya. Bagian dari

tugas fungsi inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengambil tema laporan PKL.

Penulis akan meninjau penatausahaan serta pemanfaatan alat keterangan di KPP

Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua Penjelasan lebih lanjut akan dibahas pada subbab

D Uraian Permasalahan.

46
Petugas perekam alat keterangan di seksi PDI ini juga merangkap tugas untuk

mencatat surat keluar masuk seksi. Hal ini dilakukan karena memang terjadi

kekurangan SDM di seksi ini.

c. Pengolahan Data serta pemeliharaan perangkat lunak dan keras.

Tugas dan fungsi ini dilaksanakan oleh seorang operator console sistem informasi

(OCSI). OCSI juga bertanggung jawab sebagai administrator SIDJP di KPP ini. Tugas

yang dilakukan OCSI antara lain:

1) Input dan update pegawai di SIDJP

2) Assign WP pada AR yang bertanggung jawab

3) Penanganan WP nonefektif yang kasusnya berasal dari AR.

4) Pembenahan dan update master file. Dilakukan saat ada perubahan data WP

seperti perubahan alamat, nomor telepon, dan nomor Klasifikasi Lapangan

Usaha (KLU).

5) Pemeliharaan perangkat lunak dan keras.

C. Data dan Fakta di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

1. Data Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak di KPP Pratama Jakarta

Kebayoran Baru Dua

47
2. Sumber dan Jenis data Alket di KPP Pratama Jakarta Kebayoran

Baru Dua

1. Jumlah Alket yang direkam di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru

Dua

2. Jumlah Alat Keterangan yang dimanfaatkan Tiap Tahunnya di KPP

Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua.

A. Pengamatan Atas Perekaman dan Penatausahaan Alat Keterangan di

Lapangan

1. Penerimaan Data Alat Keterangan Dari Berbagai Pihak

2. Penatausahaan Alat Keterangan di KPP Pratama Jakarta Kebayoran

Baru Dua

a. Alat Keterangan untuk KPP Lain

b. Alat Keterangan untuk KPP Sendiri

3. Perekaman Alat Keterangan menggunakan aplikasi perpajakan di KPP

Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua

4. Perekaman data alat keterangan dari PPAT

5. Peminjaman Alat Keterangan oleh Pihak KPP Lain

6. Kendala yang Dialami dalam Perekaman dan Penatausahaan alket

B. Pengamatan Atas Pemanfaatan Data Alat Keterangan untuk Tujuan

Intensifikasi dan Ekstensifikasi

1. Pemanfaatan alket Oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi

2. Pemanfaatan alket Oleh Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal

3. Pemanfaatan alket Oleh Seksi Ekstensifikasi

4. Efektifitas Perekaman Alat Keterangan di Lapangan

a. Dilihat dari Kuantitas Data


48
b. Berkaitan dengan SDM

5. Kendala yang Dialami dalam Perekaman Alket

Kendala untuk menggali potensi fiskal yang ada adalah sebagai berikut :

1. Kesulitan mencari data yang diperlukan baik yang berasal dari WP maupun dari

instansi terkait.

2. Data dari PPAT tidak dilengkapi dengan copi KTP dan SSP sehingga himbauan

seringkali kembali dari pos dan tidak dapat diketahui kebenaran penyetoran PPh

atas transaksi jual beli yang dilakukan, dan sulit untuk dilakukan pengukuhan

NPWP secara jabatan karena data tersebut tidak akurat.

3. Masih kurang kesadaran diri dan pengetahuan perpajakan dari calon Wajib

Pajak, misalnya ketika diminta mengisi formulir / daftar isian mengenai

kegiatan usahanya maka mereka mengisinya dengan tidak lengkap bahkan ada

yang tidak mau mengisi sama sekali, bahkan tidak mengembalikan formulir

tersebut.

4. Tidak semua pengelola / pemilik gedung perkantoran, pusat perbelanjaan

maupun apartemen mau menyerahkan data tenantnya (harus melakukan

himbauan berulang kali).

5. Kerjasama yang belum maksimal dengan instansi lain, antara lain :

a. Instansi Perbankan.

b. Instansi Pemerintah lainnya.

c. Instansi BUMN dan BUMD.

6. Kurangnya data masukan Pemda/Kecamatan antara lain tindakan izin domisili

usaha yang telah dikeluarkan/diterbitkan dalam wilayah tersebut

49
50