Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENGKAJIAN LUKA DAN SUPPORT NUTRISI

PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA

Disusun untuk memenuhi tugas Wound Care

Oleh:

Adinda Dwi Karnita 1511001

Bunga Innashofa 1511003

Farikha Nur Mulya Saputri 1511004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PATRIA HUSADA

BLITAR

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pada saat ini, perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat

terutama dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan

kontribusi yang sangat untuk menunjang praktek perawatan luka ini. Disamping itu pula, isu

terkini yang berkait dengan manajemen perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan profil

pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolic semakin

banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kekompleksan suatu luka

dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan

optimal.

Dengan demikian, perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan

keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari

pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan,

evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Isu

yang lain yang harus dipahami oleh perawat adalah berkaitan dengan cost effectiveness.

Manajemen perawatan luka modern sangat mengedepankan isu tersebut. Hal ini ditunjang

dengan semakin banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan produk-produk yang bisa

dipakai dalam merawat luka. Dalam hal ini, perawat dituntut untuk memahami produk-

produk tersebut dengan baik sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang sesuai

dengan kebutuhan pasien. Pada dasarnya, pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan

pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety). Secara umum,

perawatan luka yang berkembang pada saat ini lebih ditekankan pada intervensi yang melihat

sisi klien dari berbagai dimensi, yaitu dimensi fisik, psikis, ekonomi, dan sosial.
1.2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa saja yang harus dilakukan saat mengkaji luka?
b. Apa saja nutrisi yang dapat membantu dalam proses penyembuhan luka?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGKAJIAN LUKA


Pengkajian holistic pasien harus dilakukan berkaitan dengan pengkajian luka yang

bukan hanya menentukan mengapa luka itu ada namun juga menemukan berbagai factor yang

dapat menghambat penyembuhan luka.


Pengkajian riwayat pasien harus dilakukan secara teliti. Perawat harus mengevaluasi

setiap pasien dan lukanya melalui identifikasi terhadap;


a. Penyebab luka (trauma, tekanan, diabetes dan insuffisiensi vena)
b. Riwayat penatalaksanaan luka terakhir dan saat ini.
c. Usia pasien.
d. Durasi luka; akut (<12 minggu) atau kronis (> 12 minggu).
e. Kecukupan saturasi oksigen.
f. Identifikasi faktor-faktor sistemik yang mempengaruhi penyembuhan luka; obat-

obatan (seperti prednison, tamoxifen, NSAID) dan data laboratorium (kadar albumin,

darah lengkap dengan diferensial, hitung jumlah limposit total).


g. Penyakit akut dan kronis, kegagalan multi sistem: penyakit jantung, penyakit vaskuler

perifer, anemia berat, diabetes, gagal ginjal, sepsis, dehidrasi, gangguan pernafasan

yang membahayakan, malnutrisi atau cachexia.


h. Faktor-faktor lingkungan seperti distribusi tekanan, gesekan dan shear pada jaringan

yang dapat menciptakan lingkungan yang meningkatkan kelangsungan hidup jaringan

dan mempercepat penyembuhn luka. Observasi dimana pasien menghabiskan harinya;

ditempat tidur,? Dikursi roda?. Apakah terjadi shearing selama memindahkan pasien

dari tempat yang satu ketempat lainnya? Apakah sepatu pasien terlalu ketat,? Apakah

pipa oksigen pasien diletakkan di atas telinga tanpa diberi alas?

Pengkajian luka meliputi:

1. Jenis luka (luka akut dan luka kronis).


2. Mode Penyembuhan.
3. Kehilangan jaringan.
4. Penampilan klinis.
5. Lokasi.
6. Dimensi ukuran.
7. Exudate.
8. Kulit sekitar luka.
9. Nyeri.
10. Infeksi luka.
11. Implikasi psikososial.
2.1.1. Jenis Luka.
a. Luka akut, adalah berbagai jenis luka bedah yang sembuh melalui intensi primer atau

luka traumatik atau luka bedah yang sembuh melalui intensi sekunder dan melalui

proses perbaikan yang tepat pada waktu dan mencapai hasil pemulihan integritas

anatomis.
b. Luka kronik, adalah terjadi bila proses perbaikan jaringan tidak sesuai dengan waktu

yang telah diperkirakan dan penyembuhannya mengalami komplikasi, terhambat baik

oleh faktor intrinsik maupun ekstrinsik yang berpengaruh kuat pada individu, luka atau

lingkungan.

2.1.2. Mode Penyembuhan.


a. Intensi Primer (Primary Intention). Jika ada kehilangan jaringan minimal dan kedua

tepi luka dirapatkan baik dengan suture (benang), clips (aggrave) atau tape (plester).

Jaringan parut (scar) minimal.


b. Intensi primer lambat (Delayed Primary Intention). Jika luka terinfeksi atau

mengandung benda asing dan membutuhkan pembersihan intensif, selanjutnya ditutup

secara primer pada 3-5 hari kemudian.


c. Intensi Sekunder (Secondary Intention). Penyembuhan luka terlambat dan terjadi

melalui proses granulasi, kontraksi dan epithelization. Jaringan parut (scar) cukup luas.
d. Skin Graft. Skin graft ketebalan parsial atau penuh digunakan untuk mempercepat

proses penyembuhan dan mengurangi resiko infeksi.


e. Flap. Pembedahan relokasi kulit dan jaringan subcutan keluka yang berasal dari

jaringan terdekat.

2.1.3. Kehilangan jaringan.


Kehilangan jaringan menggambarkan kedalaman kerusakan jaringan atau berkaitan

dengan stadium kerusakan jaringan kulit.

a. Superfisial. Luka sebatas epidermis.


b. Parsial (Partial thickness). Luka meliputi epidermis dan dermis.
c. Penuh (Full thickness). Luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan subcutan.

Mungkin juga melibatkan otot, tendon dan tulang.

Atau dapat juga digambarkan melalui beberapa stadium luka (Stage I – IV ).

a. Stage I: Lapisan epidermis utuh, namun terdapat erithema atau perubahan warna.
b. Stage II: Kehilangan kulit superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis.

Erithema dijaringan sekitar yang nyeri, panas dan edema. Exudte sedikit sampai

sedang mungkin ada.


c. Stage III: Kehilangan sampai dengan jaringan subcutan, dengan terbentuknya rongga

(cavity), terdapat exudat sedang sampai banyak.


d. Stage IV: Hilangnya jaringan subcutan dengan terbentuknya rongga (cavity), yang

melibatkan otot, tendon dan/atau tulang. Terdapat exudate sedang sampai banyak.

2.1.4. Penampilan Klinik.


a. Hitam atau Nekrotik; eschar yang mengeras dan nekrotik, mungkin

kering atau lembab.


b. Kuning atau Sloughy; jaringan mati yang fibrous, kuning dan slough.
c. Merah atau Granulasi; jaringan granulasi sehat.
d. Pink atau Epithellating; terjadi epitelisasi.
e. Kehijauan atau terinfeksi.; terdapat tanda-tanda klinis infeksi seperti

nyeri, panas, bengkak, kemerahan dan peningkatan exudate.

2.1.5. Lokasi.

Posisi luka, yang berhubungan dengan posisi anatomis dan mudah dikenali

didokumentasikan sebagai referensi utama. Lokasi luka diarea yang cenderung bergerak dan

tergesek, mungkin lebih lambat sembuh karena regenerasi dan migrasi sel terkena trauma

(siku, lutut, kaki). Area yang rentan oleh tekanan atau gaya lipatan (shear force) akan lambat
sembuh (pinggul, pantat), sedangkan penyembuhan meningkat diarea dengan vaskularisasi

baik ( wajah ).

2.1.6. Dimensi Ukuran.

Dimensi ukuran meliputi ukuran panjang, lebar, kedalaman atau diameter (lingkaran).

Pengkajian dan evaluasi kecepatan penyembuhan luka dan modalitas terapi adalah komponen

penting dari perawatan luka.

Semua luka memerlukan pengkajian 2 dimensi pada luka terbuka dan pengkajian 3

dimensi pada luka berongga atau berterowongan.

a. Pengkajian dua dimensi.


Pengukuran superfisial dapat dilakukan dengan alat seperti penggaris untuk mengukur

panjang dan lebar luka. Jiplakan lingkaran (tracing of circumference) luka

direkomendasikan dalam bentuk plastik transparan atau asetat sheet dan memakai

spidol.
b. Pengkajian tiga dimensi.
Pengkajian kedalaman berbagai sinus tract internal memerlukan pendekatan tiga

dimensi. Metode paling mudah adalah menggunakan instrumen berupa aplikator kapas

lembab steril atau kateter/baby feeding tube. Pegang aplikator dengan ibu jari dan

telunjuk pada titik yang berhubungan dengan batas tepi luka. Hati-hati saat menarik

aplikator sambil mempertahankan posisi ibu jari dan telunjuk yang memegangnya.

Ukur dari ujung aplikator pada posisi sejajar dengan penggaris sentimeter (cm).

Melihat luka ibarat berhadapan dengan jam. Bagian atas luka (jam 12) adalah titik

kearah kepala pasien, sedangkan bagian bawah luka (jam 6) adalah titik kearah kaki

pasien. Panjang dapat diukur dari ” jam 12 – jam 6 ”. Lebar dapat diukur dari sisi ke

sisi atau dari ” jam 3 – jam 9 ”.

2.1.7. Exudate.
Hal yang perlu dicatat tentang exudate adalah jenis, jumlah, warna, konsistensi dan

bau.

a. Jenis Exudate
Serous: cairan berwarna jernih.
Hemoserous: cairan serous yang mewarna merah terang.
Sanguenous: cairan berwarna darah kental/pekat.
Purulent: kental mengandung nanah.
b. Jumlah
Kehilangan jumlah exudate luka berlebihan, seperti tampak pada luka bakar atau fistula

dapat mengganggu keseimbangan cairan dan mengakibatkan gangguan elektrolit. Kulit

sekitar luka juga cenderung maserasi jika tidak menggunkan balutan atau

alat pengelolaan luka yang tepat.


c. Warna
Ini berhubungan dengan jenis exudate namun juga menjadi indikator klinik yang baik

dari jenis bakteri yang ada pada luka terinfeksi (contoh, pseudomonas aeruginosa yang

berwarna hijau/kebiruan).
d. Konsistensi
Ini berhubungan dengan jenis exudate, sangat bermakna pada luka yang edema dan

fistula.
e. Bau
Ini berhubungan dengan infeksi luka dan kontaminasi luka oleh cairan tubuh seperti

faeces terlihat pada fistula. Bau mungkin juga berhubungan dengan proses autolisis

jaringan nekrotik pada balutan oklusif (hidrocolloid).

2.1.8. Kulit sekitar luka.

Inspeksi dan palpasi kulit sekitar luka akan menentukan apakah ada sellulitis, edema,

benda asing, ekzema, dermatitis kontak atau maserasi. Vaskularisasi jaringan sekitar dikaji

dan batas-batasnya dicatat. Catat warna, kehangatan dan waktu pengisian kapiler jika luka

mendapatkan penekanan atau kompresi. Nadi dipalpasi terutama saat mengkaji luka di

tungkai bawah. Penting untuk memeriksa tepi luka terhadap ada tidaknya epithelisasi

dan/atau kontraksi.
2.1.9. Nyeri.

Penyebab nyeri pada luka, baik umum maupun lokal harus dipastikan. Apakah nyeri

berhubungan dengan penyakit, pembedahan, trauma, infeksi atau benda asing. Atau apakah

nyeri berkaitan dengan praktek perawatan luka atau prodak yang dipakai. Nyeri harus diteliti

dan dikelola secara tepat.

2.1.10. Infeksi luka.

Infeksi klinis dapat didefinisikan sebagai ”pertumbuhan organisme dalam luka yang

berkaitan dengan reaksi jaringan”. (Westaby 1985). Reaksi jaringan tergantung pada daya

tahan tubuh host terhadap invasi mikroorganisme. Derajat daya tahan tergantung pada faktor-

faktor seperti status kesehatan umum, status nutrisi, pengobatan dan derajat kerusakan

jaringan. Infeksi mempengaruhi penyembuhan luka dan mungkin menyebabkan dehiscence,

eviserasi, perdarahan dan infeksi sistemik yang mengancam kehidupan. Secara reguler klin

diobservasi terhadap adanya tanda dan gejala klinis infeksi sistemik atau infeksi luka.

Berdasarkan kondisi infeksi, luka diklasifiksikan atas:

a. Bersih
Tidak ada tanda-tanda infeksi. Luka dibuat dalam kondisi pembedahan yang

aseptik, tidak termasuk pembedahan pada sistem perkemihan, pernafasan atau

pencernaan.
b. Bersih terkontaminasi
Luka pembedahan pada sistem perkemihan, pernafasan atau pencernaan. Luka

terkontaminasi oleh flora normal jaringan yang bersangkutan namun tidak ada

reaksi host.
c. Kontaminasi oleh bakteri diikuti reaksi host namun tidak terbentuk pus/nanah.
d. Terdapat tanda-tanda klinis infeksi dengan peningkatan kadar leukosit atau

makrophage.

2.1.11. Implikasi Psikososial.

Efek psikososial dapat berkembang luas dari pengalaman perlukaan dan hadirnya

luka. Kebijaksanaan dan pertimbangan harus digunakan dalam pengkajian terhadap masalah

potensial atau aktual yang berpengaruh kuat terhadap pasien dan perawatnya dalam kaitannya

terhadap;

a. Harga diri dan Citra diri.


b. Perubahan fungsi tubuh.
c. Pemulihan dan rehabilitasi.
d. Issue kualitas hidup.
e. Peran keluarga dan sosial.
f. Status finansial.

2.2. SUPPORT NUTRISI

Nutrisi merupakan suatu substansi oleh bahan organik yang dibutuhkan organisme

untuk fungsi normal dari sistem tubuh berupa pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi

sendiri didapatkan dari makanan dan cairan yang selanjutnya di asimilasi oleh tubuh. Nutrisi

sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang proses penyembuhan luka. Peran

nutrisi dalam proses penyembuhan luka adalah sebagai berikut:

2.2.1. Karbohidrat

Telah dijelaskan bahawa kalori dibutuhkan untuk suplai energi yang didapat dari

karbohidrat melalui penggunaan laktat, dimana sel-sel kulit bergantung pada asupan tersebut

untuk penyembuhan luka pada fase poliferatif. Selama fase ini, matriks darah baru dan sel-sel

kulit mulai terbentuk, serta fibrolast yang berfungsi memproduksi kolagen juga terbentuk
Karbohidrat sendiri dapat mempengaruhi faktor lubriksi matriks pada sel, transport energi,

dan sitem imunitas.

Karbohidrat adalah komponen kunci dari glucoproteins, yang merupakan elemen

dalam penyembuhan luka digunakan untuk struktur dan sifat komunikatif. Karbohidrat telah

ditemukan menjadi faktor kunci dalam aktivitas heksokinase enzim sintase dan sitrat yang

digunakan untuk ebaika area luka.

Laktat adalah produk sampingan metabolisme glukosa. Senyawa2-karbon yang

dihasilkan memiliki efek penyembuhan luka, yaitu pada proses sintesis kolagen oleh fibroblas

dan angiogenesis sehingga peningkatan laktat diperlukan untuk proses tersebut.

Untuk menghitung kebutuhan kalori dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut:

LAKI-LAKI = 66 + (13.7 x BB) + (5 x TB) – (6.8 x U)

WANITA = 65.5 + (9.6 x BB) + (1.7 x TB) – (4.7 x U)

Keterangan:

BB = Berat Badan ideal (kg)

TB = Tinggi Badan (cm)

U = Umur (tahun)

Kandungan kalori pada makanan untuk proses penyembuhan luka:

Bahan Makanan Berat (gr) Ukuran

Nasi 200 1 gelas kecil

Roti putih 70 3 potong kecil

Singkong 120 1 potong sedang

Kentang 210 2 buah sedang

Makaroni 50 ½ gelas kecil


Untuk penderita luka diabetes mellitus atau ganggren makan nasi hanya sebanyak 45-

60 gram (kira-kira setengah gelas) per satu kali makan. Selain itu, penggunaan nasi sebagai

sumber kalori juga dapat digantikan dengan mengkonsumsi nasi merah, roti gandum, dan

oatmeal.

2.2.2. Lemak

Sekitar 20% sampai 25% dari kalori harus disediakan oleh lemak, tetapi tidak lebih

dari 2 g/ kg/day. Lemak berfungsi baik sebagai sumber energi dan juga sebagai molekul

sinyal dan penting untuk komposisi membrane yang mempengaruhi sel untuk mempengaruhi

penyerapan enzim seperti protein kinase C dan berbagai gen.

Lemak dipecah menjadi asam lemak bebas kemudian dikemas ke dalam penyerapan

chylomicron dan transportasi ke tubuh untuk energy atau penyimpanan.. Asam lemak tak

jenuh ganda yang digunakan untuk produksi membran sel, sedangkan asam lemak jenuh yang

sering digunakan pada keadaan stress oksidatif pada luka yang meradang , yaitu

menyebabkan perubahan membrane dengan proses yang disebut peroksidasi lipid.

2.2.3. Protein
Protein diperlukan untuk penyembuhan luka. Molekul dipeptida, polipeptida, dan

beberapa asam amino memiliki efek aktivitas anabolik. Proses pembaruan kulit melibatkan 2

komponen, yaitu proliferasi sel terutama fibroblas dan sintesis protein, terutama kolagen.

Kedua proses tersebut membutuhkan substrat protein. Setelah sel mengalami cedera,

metabolisme dipercepat untuk memperbaiki luka.


Protein sebagai pembentuk enegi setiap gramnya menghasilkan 4 kalori. Dan orang

yang mengalami trauma (perlukaan) maka jumlah kebutuhan proteinnya sekitar 1,2-2

g/kg/hari. Kandungan Protein pada makanan untuk proses penyembuhan luka:

Bahan Makanan Berat (gr) Ukuran


Ikan 40 1 potong sedang

Ikan teri 20 1 sendok makan

Ayam tanpa kulit 40 1 potong sedang

Daging sapi 35 1 potong sedang

Telor ayam 55 1 butir

2.2.4. Glutamin
Glutamin adalah asam amino yang paling banyak dalam tubuh dan menyumbang 60%

dari asam amino intraseluler. Asam amino ini dianggap kondisional penting sebagai

kekurangan yang dapat terjadi dengan cepat setelah cedera. Glutamine digunakan sebagai

sumber energy setelah respon stress seperti yang dilepaskan dari sel untuk menjalani konversi

glukosa dalam hati untuk digunakan sebagai energy. Selain itu, glutamin adalah sumber

bahan bakar utama untuk cepat membagi sel seperti sel epitel selama penyembuhan.
Glutamin memiliki aktivitas antioksidan kuat, menjadi komponen dari system

glutathione intraseluler. Ia juga memiliki fungsi imunologi langsung dengan merangsang

proliferasi limfosit melalui penggunaannya sebagai energi. Glutamin memiliki sifat

anticatabolic dan anabolic juga dan adalah tingkat-membatasi gen untuk sintesis protein baru.

2.2.5. Vitamin
a. Vitamin A
Perannya adalah mempromosikan sintesis kolagen dan diferensiasi fibroblast

serta mengendalikan infeksi. Vitamin A juga membantu proses epitelisasi dan

perkembangan dari jaringan tulang, diferensiasi sel, dan sistem imunitas. Sumbernya

dari sayuran berdaun hijau, buah-buahan berwarna kuning dan orange, serta produk

susu yang sudah difortifikasi.


Peranan vitamin A dalam berbagai kondisi klinis:
Kondisi Klinis Dosis Harian Peranan
Yang Dianjurkan
Kesehatan Kulit
 Kulit Kering 1000 µg Mendukung turnover sel dan pertumbuhan kulit
yang sehat
 Penuaan Kulit β-carotene Sebagai antioksidan yang melindungi kulit dari
kerusakan yang menyebabkan kulit keriput dan
timbulnya bintik penuaan
 Acne 2000-10000 µg Efektif dalam mengurangi inflamasi dan keparahan
acne
 Psoriasis 8000 µg Memainkan peranan penting dalam regulasi dan
kontrol pertumbuhan sel kulit, dan suplementasi
dapat membantu membersihkan psoriasis
Trauma Vitamin A memainkan peranan penting dalam
penyembuhan luka dan fraktur tulang

b. Vitamin C
Vitamin C merupakan kofaktor pada sintesis kolagen, proteoglikan, kmponen

organik lainnya pada matriks intraselular dari jaringan dan tulang. Defisiensi vitamin

C dapat menyebabkan abnormalitas dari pembentukan serat-serat kolagen dan

pembentukan matriks intraselular sehingga dapat bermanifestasi pada pembentukan

lesi kutaneus, berkurangnya adhesi dari sel endotel, dan penurunan kekuatan dari

jaringan fibrosa. Vitamin C juga dibutuhkan untuk hidroksilasi dari prolin dan lisin

dapa pembentukan kolagen.


Vitamin ini juga bertindak sebagai kofaktor dalam mencegah pecahnya luka-

luka yang sudah sembuh dan meningkatkan angiogenesis. Suber vitamin C dapat

berasal dari tomat, paprika, kentang, bayam, jeruk, strawberry, brokoli, kol dan

kembang kol.
c. Vitamin K
Pembekuan darah adalah fase pertama dari proses penyembuhan luka, dan

vitamin K berperan besar dalam proses ini. Vitamin K bersama kalsium menghasilkan

trombin (agen utama pembekuan tubuh). Sumbernya dari sayuran berdaun hijau,

brokoli, anggur, alpukat dan kiwi.


d. Vitamin E
Merupakan vitamin yang sering dikonsumsi untuk perlindungan kulit dan

pencegahan dalam pembentukan jaringan parut. Vitamin ini berfungsi sebagai anti

oksidan lipofilik dan untuk menstabilkan permukaan membran sel.

2.2.6. Mineral
a. Zinc
Zinc merupakan kofaktor untuk polymerase RNA dan DNA dan karena itu,

terlibat dengan sintesis DNA, sintesis protein, dan proliferasi sel. Zinc juga

merupakan kofaktor penting untuk aktivitas metalloproteinase matriks dan juga

terlibat dalam fungsi kekebalan tubuh dan sintesis kolagen. Zinc juga merupakan

kofaktor untuk superoksida dismutase, antioksidan. Sumbernya dari seafood, domba,

daging merah, sereal, asparagus, sawi, kacang polong, miso, dan biji wijen.
Zinc tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis berikut:
Tablet: 10 mg, 20 mg, 25 mg, 30 mg.
Syrup: 10 mg/5ml, 20 mg/5 ml.
Cairan injeksi: 10 mg/10 ml.
b. Zat besi
Dalam proses sintesis kolagen, zat besi diperlukan untuk hidroksilasi proline

dan lisin. Jika orang kekurangan zat besi (anemia) akan mengganggu penyembuhan

luka. Sumbernya bisa dari kunyit, kacang panjang, aspragaus, tahu, jamur shiitake,

bayam, daun bawang, rumput laut, daging sapi dan rusa


c. Tembaga
Tembaga membantu enzim lysyl oxidase untuk memproduksi kolagen dan

elastin yang berfungsi mempromosikan penyembuhan luka agar lebih cepat.

Sumbernya dari tomat, kentang, kacang hijau, jahe, sawi, terong, asparagus, biji

bunga matahari, peppermint, lobak, jamur crimini, dan tempe.


BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
a. Penggunaan ilmu dan teknologi serta inovasi produk perawatan luka dapat

memberikan nilai optimal jika digunakan secara tepat


b. Prinsip utama dalam manajemen perawatan luka adalah pengkajian luka yang

komprehensif agar dapat menentukan keputusan klinis yang sesuai dengan kebutuhan

pasien
c. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan klinis diperlukan untuk menunjang

perawatan luka yang berkualitas.


DAFTAR PUSTAKA

Gitarja,W.Perawatan Luka Diabetes.Cetakan kedua.Bogor : Wocare Pubhlising.Juli 2008

Suriadi. Manajemen luka. Pontianak: Stikep Muhammadiyah; 2007 Bryant,R dan Nix,D.

Acute & Chronic Wounds.Third Edition.St. Louis : Mosby.2007