Anda di halaman 1dari 8

MODUL II

FOTOGRAMETRI

2.1. Pengertian Fotogrametri


Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui foto
udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat
langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Pemetaan secara
fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai
dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran
batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di
lapangan.
Sejarah fotogrametri sebagai sains diawali jauh sebelum diketemukannya
fotografi. Diantaranya Aristhoteles pada tahun 350 SM menemukan sistem
pemroyeksian citra secara optis. Dr. Brook Taylor dan J.H. Lambert
memperkenalkan prinsip perspektif untuk pembuatan peta. Dalam perkembangan
kamera dan fotografi ada sejumlah nama lainnya yang tidak tidak disebutkan satu
persatu. Fotogrametri dengan penggunaan foto udaranya secara praktis oleh Louis
Daguerre asal Paris tahun 1839 dengan proses fotografik secara langsung.
Seorang Perancis lainnya yakni Colonel Aime Laussedat pada tahun 1849
menggunakan foto udara untuk pemetaan topografi yang kemudian dikenal
sebagai bapak fotogrametri. Waktu itu, pemotretan dilakukan dengan wahana
balon udara dan laying-layang besar. Penemuan pesawat udara oleh Wright
bersaudara pada tahun 1902 membawa fotogrametri udara menjadi modern saat
itu. Untuk aplikasi pembuatan peta topografi pemotretan dengan pesawat udara
dilakukan untuk pertama kalinya adalah pada tahun 1913.
Fotogrametri berasal dari kata Yunani yakni dari kata “photos” yang berarti
sinar, “gramma” yang berarti sesuatu yang tergambar atau ditulis, dan “metron”
yang berarti mengukur. Oleh karena itu “fotogrametri” berarti pengukuran scara
grafik dengan menggunakan sinar. (Thompson, 1980 dan Sutanto, 1983). Dalam
manual fotografi edisi lama, fotogrametri didefinisikan sebagi ilmu atau seni
untuk memperoleh ukuran terpercaya dengan mengguanakan foto. Di dalam
manual edisi ketiga, definisi fotogrametri dilengkapi dengan menambahkan
PENGINDRAAN JARAK JAUH

interpretasi foto udara kedalamnya dengan fungsi yang hampir sama


kedudukannya dengan penyadapan ukuran dari foto. Setelah edisi ketiga pada
tahun 1996, definisi fotogrametri diperluas lagi hingga meliputi penginderaan
jauh. (Sutanto, 1983). Sehingga dapat disimpilkan bahwa Fotogrametri adalah
suatu seni, ilmu, dan teknik untuk memperoleh data-data tentang objek fisik dan
keadaan di permukaan bumi melalui proses perekaman, pengukuran, dan
penafsiran citra fotografik. Citra fotografik adalah foto udara yang diperoleh dari
pemotretan udara yang menggunakan pesawat terbang atau wahana terbang
lainnya.
Dalam kajian fotogrametri dimaksud di sini adalah fotogrametri dalam arti
terbatas yaitu : fotogrametri sebagai dasar untuk interpretasi foto udara vertical
karena foto udara vertical merupakan foto yang terbanyak digunakan dalam
interpretasi foto udara. Foto udara vertical dibuat dengan sumbu kamera tegak
lurus terhadap bidang referensi yaitu bidang datar yang merupakan ketinggian
rata-rata daerah yang dipotret, atau daerah yang sempit dengan arah grafitasi.
Azas fotogrametri penting bagi penafsir foto, karena merupakan dasar untuk
kuantifikasi kenampakan medan hasil interpretasi dalam kaitannya dengan lokasi
dan bentangannya. Proses kuantisasi ini penting karena perhatian penafsir pada
apa yang terdapat pada citra hampir selalu disertai dengan memperhatikan dimana
kedudukan obyek yang diamati tersebut dilapangan dan bagaimana bentangan
arealnya. Prosedur analisis fotogrametri dapat berkisar dari mengukur jarak dan
elevasi kurang teliti dengan menggunakan alat yang relatif kurang canggih dan
memanfaatkan konsep geometrik yang sederhana hingga menghasilkan peta,
hingga perolehan ukuran dan peta yang sangat tepat dengan menggunakan alat
yang canggih dan dengan teknik perhitungan yang rumit. Walaupun sebagian
besar terapan fotogrametri berhubungan dengan fotoudara, tetapi foto terestrial
(dipotret dengan kamera dari muka bumi) juga dapat digunakan. Penggunaan
teknik fotogrametri terestrial berkisar dari perekam secara tepat pemandangan
kecelakaan mobil hingga pemetaan tubuh manusia dalam bidang kedokteran.
Penginderaan jauh sistem fotogrametri adalah sistem perekaman objek yang
didasarkan pantulan. Semakin besar pantulan tenaga dari objek maka rona yang
tergambar akan cerah, dan sebaliknya semakin kecil pantulan objek rona yang

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-2


PENGINDRAAN JARAK JAUH

terbentuk akan gelap. Karena itu objek yang tegak lurus dengan sumbu kamera
berpantulan tinggi, rona yang tergambar akan cerah dibandingkan dengan objek
yang jauh dari sumbu kamera.

2.2. Pembagian Fotogrametri


2.2.1. Fotogrametri Metrik
Terdiri dari pengukuran cermat berdasarkan foto dan sumber informasi
lain yang pada umumnya digunakan untuk menentukan lokasi relatif titik-titik,
sehingga bisa untuk memperoleh ukuran jarak, sudut, luas, volume, elevasi,
ukuran dan bentuk obyek. Contoh : Menyusun Peta Topografi berdasarkan foto
dengan menggunakan foto udara (dari wahana udara) dan foto teresterial
(dengan kamera di muka bumi)

2.2.2. Fotogrametri Interpretasi


Mempelajari pengenalan dan identifikasi obyek serta menilai arti
pentingnya obyek tersebut melalui analisis sistematik dan cermat, meliputi
cabang ilmu interpretasi foto udara (engkajian citra foto) dan penginderaan jauh
(meliputi analisis foto dan penggunaan data penginderaan jauh melipti kamera
multispektral, sensor inframerah, penyiam atau skener termal dan radar udara
dengan arah perekaman ke samping.

2.3. Unsur – Unsur Fotogrametri


2.3.1. Pengukuran Luas
Berdasarkan metode yang digunakan alat sederhana dibedakan atas :
a. Metode strip
Yang digunakan berupa lembaran tembus cahaya yang padanya ditarik
garis-garis sejajar dan berinterval sama besar. Lembaran tembus
cahaya ini ditumpangkan pada objek yang diukur luasnya. Kemudian
ditarik garis-garis tegak lurus pada batas objek sedemikian hingga
bagian yang dihilangkan sama dengan bagian yang yang ditambahkan.
Sisi atas segi empat panjang atau sisi atas strip itu dijumlahkan dan

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-3


PENGINDRAAN JARAK JAUH

dikalikan dengan intervalnya sehingga diperoleh luas objek pada foto


(Aryo Arief , 2009).
b. Metode bujursangkar
Dilakukan dengan kertas milimeter. Kertas milimeter ini ditumpangkan
di atas objek yang diukur luasnya. Dalam mengukur luas pada objek
pada citra dihitung berapa bujur sangkar 1cm x 1cm yang jatuh dalam
batas objek yang diukur luasnya (AryoArief, 2009).
c. Metode jaringan titik
Alat ukurnya berupa lembaran tembus cahaya yang diberi jaringan titik
yang masing-masing berjarak sama. Titik itu serupa dengan titik yang
dibuat pada tengah-tengah bujursangkar yang kemudian
bujursangkarnya dihapus. Dalam metode ini kita tinggal menghitung
berapa titik yang masuk dalam batas objek yang diukur luasnya. Tiap
titik dianggap mewakili satu bujursangkar, sehingga tiap titik dikalikan
dengan luas bujursangkar untuk mendapatkan luas objeknya (Aryo
Arief, 2009).

2.3.2. Skala Foto Udara Vertikal


Skala foto udara merupakan perbandingan antara jarak pada foto udara
dengan jarak sebenarnya di lapangan. Skala foto diperlukan untuk menentukan
ukuran objek maupun untuk mengenalinya.
Ada beberapa cara untuk menentukan skala foto udara vertikal, yaitu :
a. Perbandingan antara panjang fokus dan tinggi terbang. Persamaannya
yaitu : S = f / H, dengan S = skala, f = fokus dan H = tinggi terbang.
b. Membandingkan jarak foto terhadap jarak lapangan, dilakukan bila
membawa foto udara ke lapangan atau kalau tahu jarak
sesungguhnyaobjek di lapangan dari objek yang tergambar pada foto.
Persamaan yang digunakan yaitu : S = df / dl, dengan S = skala, df = jarak
pada foto, dan dl = jarak di lapangan.
c. Membandingkan jarak pada foto terhadap jarak pada peta yang telah
diketahui jaraknya. Persamaan yang digunakan yaitu: dp / pf = df /
pp dengan dp = jarak di peta, df = jarak pada foto, pf = skala foto dan pp =
skala pada peta (Aryo Arief, 2009).

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-4


PENGINDRAAN JARAK JAUH

2.3.3. Basis Foto ( Photo Base )


Merupakan jarak antara dua pemotretan berurutan. Hal ini menyebabkan
kenampakan adanya pergeseran titik pusat foto satu dengan foto berikutnya.
Jarak pergeseran pada lembar foto ini disebut photo base atau basis foto.
Besarnya basis foto pada sepasang foto udara adalah rata-rata dari hasil
pengukuran dua basis foto tersebut, persamaannya yaitu : B = b1 + b2, dengan B
= basis foto, b1 = basis foto 1 dan b2 = basis foto 2 (Aryo Arief, 2009).

2.3.4. Paralaks
Merupakan perubahan kedudukan gambaran titik pada foto udara yang
bertampalan yang disebabkan oleh perubahan kedudukan kamera. Paralaks ini
disebut juga dengan paralaks absolut atau paralaks total. (Aryo Arief, 2009).
Pengukuran paralaks dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a. Pengukuran paralaks secara stereoskopik
Dilakukan dengan menggunkan batang paralaks atau meter paralaks
(parallax bar) terdiri dari dua keping kaca yang diberi tanda padanya.
Tanda ini disebut tanda apung (floating mark). Masing-masing keping
kaca dipasang pada batang yang dapat diatur panjangnya yang diatur
dengan memutar sekrup mikrometer. Pengukuran dilakukan setelah foto
disetel di bawah pengamatan stereoskopik. Tanda apung kiri diletakkan
pada titik yang akan diukur paralaksnya di foto kiri, dan tanda apung
kanan diletakkan pada titik yang akan diukur paralaksnya pada foto kanan,
dimana peletakan dilakukan dengan melihat dari stereoskop. Kemudian
dilakukan pembacaan pada sekrup mikrometer yang dibaca dalam
milimeter (mm) (Aryo Arief, 2009).
b. Pengukuran paralaks secara monoskopik
Atau disebut juga cara manual, dilakukan tanpa menggunakan batang
paralaks, melainkan hanya dengan menggunakan penggaris biasa (Aryo
Arief, 2009).

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-5


PENGINDRAAN JARAK JAUH

2.3.5. Pengukuran Jarak


Jarak pada foto udara tidak mencerminkan jarak sesungguhnya di
lapangan, karena ada pergeseran. Untuk menentukan jarak horizontal yang
sesungguhnya digunakan cara grafis, karena kalau dengan mengukur relief-
displacement satu per satu akan membutuhkan waktu lama.

2.4. Cara Kerja


 Dua buah foto udara yang tipis , perbedaan sudut pengambilan gambarnya,
biasanya kode foto tersebut tidak jauh jaraknya satu sama lain
 Siapkan alat stereoskop dan letakan kedua foto dibawah lensa amat, dengan
yang lebih kecil berada di sebelah kiri
 Buat kedua foto berhimpit dan gambar yang ada pada foto seakan timbul
dan nyata
 Selotip foto disebelah kanan dan beri garis pinggir pada foto, setelah itu
tentukan titik focus foto, dengan cara menggaris tengah foto ditengah dan
dibawah sehingga ditemukan tanda silang perpotongan.
 Beri symbol angka pada setiap wilayah yang berbeda ronanya. Dengan
ketentuan warna sebagai berikut
 Warna merah untuk menyatakan rona jalan yang bahanya terdiri dari
aspal yang memancarkan rona terang difoto
 Warna hijau menyatakan satuan wilayah, apakah itu sawah, pemukiman,
maupun hutan
 Warna biru menyatakan sungai dengan rona yang terlihat gelap pada foto
udara

2.5. Hasil dan Pembahasan


Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui foto
udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat
langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Pemetaan secara
fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai
dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran
batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di
lapangan.

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-6


PENGINDRAAN JARAK JAUH

Dalam kajian fotogrametri dimaksud di sini adalah fotogrametri dalam arti


terbatas yaitu : fotogrametri sebagai dasar untuk interpretasi foto udara vertical
karena foto udara vertical merupakan foto yang terbanyak digunakan dalam
interpretasi foto udara. Foto udara vertical dibuat dengan sumbu kamera tegak
lurus terhadap bidang referensi yaitu bidang datar yang merupakan ketinggian
rata-rata daerah yang dipotret, atau daerah yang sempit dengan arah grafitasi.
Azas fotogrametri penting bagi penafsir foto, karena merupakan dasar untuk
kuantifikasi kenampakan medan hasil interpretasi dalam kaitannya dengan lokasi
dan bentangannya. Proses kuantisasi ini penting karena perhatian penafsir pada
apa yang terdapat pada citra hampir selalu disertai dengan memperhatikan dimana
kedudukan obyek yang diamati tersebut dilapangan dan bagaimana bentangan
arealnya. Prosedur analisis fotogrametri dapat berkisar dari mengukur jarak dan
elevasi kurang teliti dengan menggunakan alat yang relatif kurang canggih dan
memanfaatkan konsep geometrik yang sederhana hingga menghasilkan peta,
hingga perolehan ukuran dan peta yang sangat tepat dengan menggunakan alat
yang canggih dan dengan teknik perhitungan yang rumit. Walaupun sebagian
besar terapan fotogrametri berhubungan dengan fotoudara, tetapi foto terestrial
(dipotret dengan kamera dari muka bumi) juga dapat digunakan. Penggunaan
teknik fotogrametri terestrial berkisar dari perekam secara tepat pemandangan
kecelakaan mobil hingga pemetaan tubuh manusia dalam bidang kedokteran.

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-7


PENGINDRAAN JARAK JAUH

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Fotogrametri
http://arryprasetya.blogspot.co.id/2010/03/konsep-dasar-pemetaan-
fotogrametri.html
http://automaps.blogspot.co.id/
http://automaps.blogspot.co.id/2012/06/sejarah-fotogrametri.html
http://teddyseptiadi.blogspot.co.id/2011/10/v-behaviorurldefaultvml-o.html
http://sepcirebon.blogspot.co.id/2011/06/metrik-fotografi.html
http://library.unej.ac.id/client/en_US/default/search/detailnonmodal/ent:$002f$00
2fSD_ILS$002f245$002fSD_ILS:245741/ada;jsessionid=415B7C190D1AF8D1F
A13C998A78DB1C9?qu=FOTOGRAMETRI&ic=true&ps=300
https://id-id.facebook.com/Fotogrametri/posts/621415431220669
http://psnz.umt.edu.my:8080/psnzopac/Record/0000008404
https://www.facebook.com/permalink.php?id=399028036818571&story_fbid=39
9038360150872
http://ayobelajargeologi.blogspot.co.id/2013/04/fotogrametri.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Paralaks
https://id-id.facebook.com/Fotogrametri/posts/693755643986647:0
http://dokumen.tips/documents/pembahasan-laporan-fotogrametri.html

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN II-8