Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKHNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL


Sediaan Infusa Glukosa

Dicky Nurdiansyah 31112014


Farmasi 3A

PROGRAM STUDI S1-FARMASI


STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2015

0
A. Tujuan
1. Mahasiswa mampu membuat sediaan steril
2. Mahasiswa mampu menghitung isotonis suatu sediaan steril
3. Mengetahui kejernihan suatu sediaan injeksi

B. Dasar Teori
Formulasi sediaan steril merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang
banyak dipakai, terutama saat pasien dirawat di rumah sakit. Sediaan steril sangat
membantu pada saat pasien dioperasi, diinfus, disuntik, mempunyai luka terbuka
yang harus diobati, dan sebagainya. Semuanya sangat membutuhkan kondisi steril
karena pengobatan yang langsung bersentuhan dengan sel tubuh, lapisan mukosa
organ tubuh, dan dimasukkan langsung ke dalam cairan atau rongga tubuh sangat
memungkinkan terjadinya infeksi bila obatnya tidak steril. Oleh karena itu, kita
memerlukan sediaan obat yang steril. Disamping steril, kita pun memerlukan
sediaan obat dalam kondisi isohidris dan isotonis agar tidak mengiritasi.
Untuk menghasilkan sediaan yang steril, kita memerlukan pengetahuan
tambahan selain pengetahuan tentang pembuatan bentuk sediaan, yaitu adanya
jaminan bahwa selama produksi dan setelah produksi, sediaan bebas dari cemaran
mikroba. Bentuk sediaan steril bisa bebagai bentuk, yaitu cair, padat, atau
semipadat. Proses pembuatannya pun sama dengan sediaan nonsteril. Salah satu
contoh sediaan steril yang dimaksud yakni injeksi. Injeksi adalah sediaan steril
berupa larutan, emulsi, suspensi, ataupun serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Injeksi pun memiliki beragam
jenis sesuai dengan penggunaannya. Salahsatunya yakni injeksi infus, sesuai
dengan percobaan yang akan dilakukan pada praktikum kali ini.
Infus merupakan larutan steril dan umumnya diberikan melalui intravena
untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, untuk memberi nutrisi atau sebaqgai
pembawa obat. Biasanya diberikan dalam voume besar dengan penetesan lambat
melalui intravena. Infus intravena dapat digunakan untuk pemberian obat agar
bekerja cepat, seperti pada keadaan gawat darurat karena obat tidak di adsorbs
secara oral. Dapat pula digunakan pada penderita yangtidak sadar atau pada
penderita yang tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan oral.

1
Sediaan infus sangatlah penting, dari penggunaannya ini semua infus sangat
sering digunakan pada pasien-pasien di rumah sakit. Infus ini berguna untuk
menggantikan cairan-cairan tubuh yang hilang karena disebabkan oleh
kekurangan cairan akibat muntah, diare yang berkepanjangan, sebagai penambah
energi, serta pengganti makanan bila seorang penderita penyakit tidak dapat lagi
mengkonsumsi makanan seperti biasanya.
Maka untuk mengganti makanan tersebut digunakan infus. Karena di
dalam sediaan infus terdapat zat-zat yang berfungsi sebagai kalorigenik yang
dapat menghasilkan energi, juga dapat menjaga kestabilan cairan dalam tubuh,
karena infus ini merupakan salah satu sediaan obat dalam bidang farmasi, maka
seorang farmasis wajib mengetahui cara pembuatan infus dan bagaimana pula
cara pemakaiannya untuk itulah praktikum dengan percobaan pembuatan sediaan
infus perlu dilaksanakan.
Sediaan infus harus memenuhi persyaratan yaitu steril, bebas pirogen,
jernih dan praktis bebas partikel. Oleh karena itu, sediaan ini lebih mahal jika
dibandingkan dengan sediaan nonsterilnya karena ketatnya persyaratan yang harus
dipenuhi.
Infus dapat berfungsi sebagai:
1. Dasar nutrisi, kebutuhan kalori untuk pasien di rumah sakit harus disuplai via
intravenous seperti protein dan karbohidrat.
2. Keseimbangan elektrolis digunakan pada pasien yang schock, diare, mual,
muntah membutuhkan cairan intravenous.
3. Pengganti cairan tubuh, seperti dehidrasi.
4. Pembawa obat contohnya sebagai antibiotik. (Soetopo,2001)

2
C. Alat dan Bahan
Alat Bahan
 Botol infus  Aqua pro
 Autoklaf injectionum
 Gelas kimia  Glukosa
 Pipet  NaCl
 Batang pengaduk  Karbon aktif
 pH universal
 Kertas saring
 Spet
 Corong
 Gelas ukur

D. Formula Lengkap
Glukosa 5g
NaCl 35mg
Aqua pro injectionum ad 100 mL

E. Penimbangan
Bahan Satuan Dasar Volume Produksi
100mL 350mL
Glukosa 5g 350/100x5g=17,5 g
NaCl 35mg 350/100x35mg=122,5mg=0,1225 g
Karbon aktif 100mg 350/100x100mg=350 mg=0,35g

3
F. Perhitungan
Zat ∆tb C
Glukosa 0,1 5

Perhitungan Tonisitas
0,52−(∆𝑡𝑏.𝐶)
W= 0,576
0,52−(0,1𝑥5)
W= 0,567
0,52−0,5
W= 0,567

W = 0,035% (hipotonis) → jika positif artinya hipotonis


Untuk membuat supaya larutan tersebut isotonis, maka di tambahkan NaCl
sebanyak 0,035%

G. Prosedur

Larutkan glukosa Larutkan NaCl dalam Kedua campuran


dalam sebagian a.p.i sebagian a.p.i tersebut dicampur

Tambahkan karbon Larutan disaring


Larutan
dipanaskan dan di panas-panas dan
ditambahkan a.p.i ad
aduk (60o-70oC) filtrate pertama
350mL, cek pH
selama 15 menit dibuang

Larutan kemudian
Sterilisasi dalam
diisikan kedalam
autoklaf 115o-116oC
botol infus sebanyak
selama 30 menit
105mL

4
H. Hasil Evaluasi
No Jenis evaluasi Penilaian
1. Penampilan fisik wadah Seragam
2. Jumlah sediaan 3 botol infus
3. Kejernihan sediaan Larutan bening jernih
4. Keseragaman volume Seragam
5. Brosur Rapih
6. Kesamaan Seragam
7. Etiket Rapih

I. Pembahasan
Pada praktikum kali ini melakukan pembuatan infusa dengan menggunakan
zat aktif glukosa. Glukosa merupakan bahan aktif yang berkhasiat sebagai
kalorigenik yaitu zat yang dapat meghasilkan atau meningkatkan energy atau
memperkecil kekurangan kalori pada terapi pengganti atau pemeliharaan.
Pembuatan sediaan steril khususnya infus harus dilakukan dengan hati-hati untuk
menghindari kontaminasi mikroba dan bahan asing. Cara pembuatan obat yang
baik juga mensyaratkan tiap wadah akhir infus harus diamati secara fisik dan tiap
wadah yang menunjukkan pencemaran bahan asing yang terlihat secara visual
harus ditolak.
Pertama ditimbang glukosa sebanyak 17,5 gram di dalam kaca arloji dan
dilarutkan dengan Aqua Pro Injeksi secukupnnya hingga larut lalu aduk hingga
dengan batang pengaduk, A.P.I (Aquadest Pro Injection) digunakan untuk bahan
pelarut dalam injeksi. Selain sebagai bahan dalam pembuatan injeksi karena bebas
pirogen, alasan dari penggunaan A.P.I. yaitu dalam ilmu farmasi, air dapat
bereaksi dengan obat dan zat tambahan lainnya yang mudah terhidrolisa (mudah
terurai dengan karena adanya kelembaban). Glukosa merupakan bahan yang
berfungsi sebagai kalorinergik artinya sebagai sumber energi. Bentuk alaminya
disebut juga Dekstrosa. Penggunaan glukosa pada sediaan ini sebagai bahan
utamanya dimaksudkan untuk menambah energi pada pasien yang kehilangan
banyak cairan tubuh karena hipokelemik dehidrasi. Buat larutan NaCl dalam
sebagian aqua pro injeksi, NaCl digunakan sebagai penghistonis karena

5
mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh yakni 0,9%. NaCl
merupakan zat tambahan yang digunakan untuk membuat larutan isotonis.
Glukosa merupakan bahan yang berfungsi sebagai kalorigenik yaitu dapat
menambah energi. Penggunaan glukosa pada sediaan ini yaitu sebagai bahan aktif
yang berfungsi menghasilkan energi. Selain itu, glukosa dapat membuat sediaan
ini lebih lama atau awet. Glukosa juga dapat menambah kadar gula dalam darah.
Glukosa tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dalam waktu yang lama
karena terjadi penurunan pH dan karamelisasi sehingga sterilisasi tidak dilakukan
pada suhu yang tinggi dalam waktu yang lama serta penyimpanan
sediaan disarankan pada suhu yang sejuk. Untuk membuat sediaan yang efektif
dibuat kadar sediaan yang sesuai tujuan terapi yaitu untuk sediaan infus dengan
rentang kadar 2,5 – 7 %.
Sediaan infus haruslah isotonis atau sedikit hipertonis karena jika hipotonis
maka akan menyebabkan sel darah menjadi pecah sehingga itu berbahaya. Selain
itu, perlunya sediaan injeksi ini dibuat isotonis ataupun sedikit hipertonis agar
pada saat penyuntikan tidak menimbulkan rasa nyeri. Untuk memperoleh kondisi
larutan yang isotonis ditambahkan NaCl dalam jumlah tertentu yang telah
dihitung dari perhitungan tonisitas sediaan, dalam praktikum ini perhitungan
tonisitas sediaan berada dalam rentang hipertonis sehingga tidak diperlukan
penambahan NaCl. Dalam sediaan ini berdasarkan hasil perhitungan ditambahkan
NaCl seganyak 0,035 % untuk mencapai keadaan yang isotonis.
Sebelum dilakukan praktikum alat-alat yang akan digunakan harus di
sterilisasikan terlebih dahulu menggunakan autoklaf agar terbebas dari
mikroorganisme yang ada pada lingkungan sekitar. Setelah larutan glukosa yang
sudah dilarutkan dengan aqua pro injeksi dan NaCl yang sudah dilarutkan dalam
aqua pro injeksi kemudian kedua campuran tersebut dicampur. Kemudian di ad
sampai volume yang dibutuhkan, kemudian ditambahkan karbon aktif dan
dipanaskan pada suhu 60o-70oC selama 15 menit kemudian disaring panas-panas.
Fungsi penambahan karbon aktif yaitu agar sediaan steril tersebut bebas pirogen.
Kemudian setelah pembuatan infusa selesei sediaan siap dikemas, masukkan
kedalam botol infus kemudian sterilisasikan kembali dengan menggunakan
autoklaf pada suhu 115o-116oC selama 30 menit.

6
J. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa glukosa merupakan
suatu monosakarida yang dapat diberikan secara peroral maupun intravena
(sediaan infus) sebagai treatment dalam deplesi cairan dan karbohidrat.
Konsentrasi glukosa dalam sediaan ini adalah 5 % untuk sediaan infus
intravena. Volume yang dibuat adalah 350 ml untuk pemakaian 3 botol infus dan
dilebihkan 5 ml sesuai dengan ketentuan sehingga volume total yang dibuat 105
ml per botol infus. Volume sediaan dilebihkan untuk mengantisipasi adanya
volume yang hilang selama proses pengisian dan pembuatan.
% tonisitas dari sediaan adalah 0,035% , secara visual sediaan yang telah
dibuat memenuhi syarat kejernihan.

7
Daftar Pustaka

Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed III. Jakarta: Departemen kesehatan


Republik Indonesia

Howard, C. Ansell. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Depok: UI Press

Lukas, Stefanus. 2011. Formulasi Steril Edisi Revisi. Yogjakarta: CV. Andi
Offset