Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID

& SEMISOLID (NON STERIL)


MODUL 4 & 7
EMULSI DAN KRIM

Disusun oleh:
Kelompok 3

Naura Annatasya 10060316184


Iin Dian Novita 10060316185
Childa 10060316187
Agpirahma C.B.A 10060316189
Irman Maryawan 10060316190
Nandianti Nurlita S. 10060316191

Asisten: Septiani Siti Maulidina, S.Farm

Tanggal Praktikum: 11 Oktober 2018


Tanggal Pengumpulan: 18 Oktober 2018

LABORATORIUM FARMASI UNIT E


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1440 H/2018 M
MODUL 4 & 7
“EMULSI DAN KRIM”

I. Teori Dasar
1.1. Pengertian Emulsi
Emulsi adalah sediaan berupa campuran yang terdiri dari dua fase cairan
dalam sistem dispersi dimana fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan
merata dalam fase cairan lainnya, umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi
(emulgator). Fase cairan terdispersi disebut fase dalam, sedangkan fase cairan
pembawanya disebut fase luar (Aulton, 1988).
1.2. Jenis Emulsi
Berdasarkan jenisnya, emulsidibagi dalam 2 golongan, yaitu(Aulton, 1988):
 Emulsi jenis m/a
Emulsi yang terbentuk jika fase dalam berupa minyak dan fase luarnya air,
disebut emulsi minyak dalam air (m/a).
 Emulsi jenis a/m
Emulsi yang terbentuk jika fase dalamnya air dan fase luar berupa minyak,
disebut emulsi air dalam minyak (a/m)
1.3. Pembuatan Emulsi
Metode Pembuatan Emulsi dapat dibuat dengan metode-metode dibawah ini:
 Metode Gom Kering (metode kontinental /metode 4:2:1)
Metode ini khusus untuk emulsidengan zat pengemulsi gom kering.Basis
emulsi (corpus emuls) dibuat dengan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian
gom, lalu sisa air dan bahan lain ditambahkan kemudian.Caranya, minyak dan
gom dicampur, dua bagian air kemudian ditambahkan sekaligus dan campuran
tersebut digerus dengan segera dan dengan cepat serta terus-menerus hingga
terdengar bunyi“lengket”,bahan lainnya ditambahkan kemudian dengan
pengadukan (Anief, 1999).
 Metode Gom Basah (metode inggris)
Metode ini digunakan untuk membuat emulsi dengan musilago atau gom
yang dilarutkan sebagai zat pengemulsi. Dalam metode ini digunakan proporsi
minyak, air dan gom yang sama seperti pada metode gom kering. Caranya, dibuat
musilago kental dengan sedikit air, minyak ditambahkan sedikit demi sedikit
dengan diaduk cepat. Bila emulsi terlalu kental, air ditambahkan lagi sedikit agar
mudah diaduk dan bilasemua minyak sudah masuk, ditambahkan air sampai
volume yang dikehendaki (Anief, 1999).
 Metode Botol
Metode ini digunakan untuk membuat emulsi dari minyak-minyak
menguap yang juga mempunyai viskositas rendah. Caranya, serbuk gom arab
dimasukkan ke dalam suatu botol kering, ditambahkan dua bagian air kemudian
campuran tersebut dikocok dengan kuat dalam wadah tertutup. Minyak
ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus mengocok campuran tersebut setiap
kali ditambahkan air. Jika semua airtelah ditambahkan, basis emulsi yang
terbentuk bisa diencerkan sampai mencapai volume yang dikehendaki (Anief,
1999).

2.1. Definisi Krim


Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (FI III)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. (FI IV hal. 6)
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung air
tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (Formularium
Nasional)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar
yang sesuai (mengandung air tidak kurang dari 60%).
2.2. Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak di dalam air atau disperse mikrokristal
asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci
dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika.
Ada dua tipe krim, yaitu :
1. Tipe M/A atau O/W
Krim m/a (vanishing cream) yang digunakan melalui kulit akan hilang tanpa
bekas. Pembuatan krim m/a sering menggunakan zat pengemulsi campuran dari
surfaktan (jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang
alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih
popular.Contoh : vanishing cream.
Vanishing cream adalah kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan, dan sebagai alas bedak. Vanishing creamsebagai
pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/ film pada kulit.
2. Tipe A/M atau W/O,
Yaitu minyak terdispersi dalam air. Krim berminyak mengandung zat
pengemulsi A/M yang spesifik seperti adeps lane, wool alcohol atau ester asam
lemak dengan atau garam dari asam lemak dengan logam bervalensi 2, misal Ca.
Krim A/M dan M/A membutuhkan emulgator yang berbeda-beda. Jika
emulgator tidak tepat, dapat terjadi pembalikan fasa. Contoh : cold cream.
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih berwarna
putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah
besar.
2.3. Kelebihan dan Kekurangan Krim
Adapun kelebihan dari sediaan krim yaitu:
1. Mudah menyebar rata.
2. Praktis.
3. Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe M/A
(minyak dalam air).
4. Cara kerja langsung pada jaringan setempat.
5. Tidak lengket, terutama pada tipe M/A (minyak dalam air).
6. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak
cukup beracun, sehingga pengaruh absorpsi biasanya tidak
diketahui pasien.
7. Aman digunakan dewasa maupun anak–anak.
8. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe A/M (air dalam
minyak).
9. Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama
pada bayi, pada fase A/M (air dalam minyak) karena kadar
lemaknya cukup tinggi.
10. Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata,
krim kuku, dan deodorant.
11. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak
menyebabkan kulit berminyak.
Adapun kekurangan dari sediaan krim yaitu:
1. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe A/M (air dalam
minyak)
karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena
perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan
salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe krim jika
zat pengemulsinya tidak tersatukan.
2. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan krim harus dalam
keadaan panas.
3. Mudah lengket, terutama tipe A/M (air dalam minyak).
4. Mudah pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas.
5. Pembuatannya harus secara aseptik.

II. Data Preformulasi Zat Aktif


A. Emulsi
 Paraffin Liquidum (Rowe et al, 2009: 445) (Dirjen POM, 1995: 652)
Pemerian : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, tidak berfluoresensi,
tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin dan berbau ketika dipanaskan.
Kelarutan : Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air. Larut dalam jenis
minyak lemak hangat.
Stabilitas : Dapat teroksidasi oleh panas dan cahaya.
Khasiat : Laksativ (pencahar)
Dosis : Emulsi oral : 15 – 45 ml sehari
HLB Butuh : 10 – 12 (M/A), 5 – 6 (A/M)
Inkompatibilitas : Dengan oksidator kuat.

B. Krim
 Parafin Cair (Rowe et al, 2009: 445) (Dirjen POM, 1995: 652)
Pemerian : cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna,
hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut
dalam kloroform P dan dalam eter P.
Bobot per mL : 0,870 gram sampai 0,890 gram.
Khasiat : laksativum. (Depkes RI, 474).
Stabilitas : parafin stabil, meskipun dalam bentuk cair dan mungkin dapat
terjadi perubahan secara fisik. Parafin harus disimpan pada temperatur tidak
melebihi 40°C dalam wadah tertutup baik. (Rowe, 475).

III. Data Preformulasi Bahan Tambahan


A. Emulsi
 PGA (Dirjen POM, 1979: 279-280)
Nama lain : Pulvis Gummi Acacia / serbuk gom arab
Pemerian : serbuk putih atau kekuningan, tidak berbau, tidak berasa.
Kelarutan : mudah larut dalam air, menghasilkan larutan kental, tembus
cahaya, praktis tidak larut dalam ertanol 95% p.
Stabilitas : lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar, mudah
terurai oleh bakteri dari reaksi enzimatis, mudah teroksidasi.
Inkompatibilitas : Dengan amidopirin, apomorfin, kresol, etanol 95%.
 Tween / Polysorbatum 80 (Dirjen POM, 1995: 687) (Rowe et al, 2009 )
Pemerian : Cairan seperti minyak, jernih berwarna kuning mudahingga
coklat muda, bau khas lemah, rasa pahit dan hangat
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larutan tidak berbau dan praktis
tidak berwarna, larut dalam etanol, dalam etil asetat, tidak larut dalam
minyak mineral
Konsentrasi : 1-15%
Stabilitas : Stabil pada elektrolit dan asam lemah, dan basa. Berangsur-
angsur akan tersaponi dengan asam kuat dan basa
Inkompatibilitas : Akan berubah warna atau mengendap dengan phenol,
dan tannin
pH larutan : 6-8 untuk 5% zat (w/v) dalam larutan berair

 Air suling / Aquadest (Dirjen POM, 1979: 96)


BM : 18,02.
Rumus molekul : H₂O.
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Stabilitas : Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam bentuk
Fisik (es, air, dan uap). Air harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada
saat penyimpanan dan penggunaannya harus terlindungi dari kontaminasi
partikel - pertikel ion dan bahan organik yang dapat menaikan
konduktivitas dan jumlah karbon organik. Serta harus terlindungi dari
partikel - partikel lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan
merusak fungsi air.
Inkompabilitas : Dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan eksipient
lainya yang mudah terhidrolisis

 Span 80 / Sorbitan Monooleat (Rowe et al, 2009) (Sweetman et al, 2009)


Pemerian : Cairan kental seperti minyak berwarna kuning.
Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan
propilenglikol, tercampur dalam alcohol dan methanol, 1 bagian span larut
dalam 100 bagian minyak biji kapas, sedikit larut dalam etil asetat.
Khasiat : Emulgator, surfaktan non ionik, peningkat kelarutan.
Bobot jenis : 1,01 g/ml.
Konsentrasi : Emulgator A/M = 1-15%, emulgator M/A = 1-10%
Stabilitas : Stabil terhadap asam dan basa lemah.
Penyimpanan : Wadah bertutup rapat dan pada tempat sejuk dan kering.
HLB : 4,3
Inkompatibilitas: Dengan asam atau basa kuat, terjadi pembentukan sabun
dengan basa kuat

 Setil Alkohol (Rowe et al, 2006: 155)


Rumus Molekul : C16H34O
Berat Molekul : 242,44
Pemerian : Serpihan putih licin, graul, atau kubus putih, bau khas lemah,
rasa lemah
Kelarutan : Tidak larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam eter,
kelarutan bertambah dengan naiknya suhu.
Stabilitas : Dalam asam, basa, cahaya dan udara stabil
Inkompatibilitas : Agen pengoksidasi kuat

B. Krim
 Acidum Stearicum/ Asam Stearat (Dirjen POM, 1997 hal. 57)

Rumus Empiric : C18H36O2

BM : 284,47.

Struktur : CH3(CH2)16COOH

Fungsi : Pengemulsi, Solubilizing Agent

Ointment/Krim : 1-20%.
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih
atau kuning pucat, mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol
(95%)P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
Stabilitas : asam stearat merupakan bahan yang stabil terutama dengan
penambahan antioksidan. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik
ditempat kering dan sejuk.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan, untuk melembutkan kulit dengan konsentrasi 1-
20%.

 Tween 80 ( Dirjen POM,1995 hal 687)

Pemerian : Cairan seperti minyak, jernih berwarna kuning mudahingga


coklat muda, bau khas lemah, rasa pahit dan hangat.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larutan tidak berbau dan praktis
tidak berwarna, larut dalam etanol, dalam etil asetat, tidak larut dalam
minyak mineral.
Konsentrasi : 1-15%.
Stabilitas : Stabil pada elektrolit dan asam lemah, dan basa. Berangsur-
angsur akan tersaponi dengan asam kuat dan basa.
Inkompatibilitas : Akan berubah warna atau mengendap dengan phenol,
dan tannin.
pH larutan : 6-8 untuk 5% zat (w/v) dalam larutan berair
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, lindungi dari cahaya, ditempat
sejuk dan kering.

 TEA ( Trietanolamin ) (Dirjen POM, 1995 hal.1203)


Fungsi : Alkalizing agent, pengemulsi
Kelarutan : Didalam Aseton berbentuk misel pada suhu tertentu 1 : 24
Benzen, 1 : 63 Etil Eter berbentuk misel dalam Methanol, air, Karbon
Tetra Klorida.
Titik lebur : 20 – 21oC
Incompatibilitas : Reaksi dengan Asam mineral, membentuk garam kristal
dan Ester dalam Asam lemah tinggi, TEA membentuk garam yang terlarut
dalam air dan membentuk karakter busa. TEA dapat beraksi dengan Coper
membentuk garam kompleks.

 Emulgid (Rowe et al, 2009 hal 685)

Pemerian : cairan berwarna putih (cairan lili)

Kelarutan : bebas larut dalam propelanaerosol, klorofom dan eter

Titik didih : 50-54 ºC

Stabilitas : zat stabil jika disimpan dalam wadah tertutup baik.

Inkompatibilitas : sukar bercampur dengan tannin, fenoldn benzokain

 Air suling/aquadest (Dirjen POM, 1979 hal 96)


BM : 18,02.
Rumus molekul : H₂O.
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Stabilitas : Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam bentuk
Fisik (es, air, dan uap). Air harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada
saat penyimpanan dan penggunaannya harus terlindungi dari kontaminasi
partikel - pertikel ion dan bahan organik yang dapat menaikan
konduktivitas dan jumlah karbon organik. Serta harus terlindungi dari
partikel - partikel lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan
merusak fungsi air.
Inkompabilitas : Dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan eksipient
lainya yang mudah terhidrolisis.

IV. Alat dan Bahan


A. Emulsi

Alat Bahan
1. Beaker glass 1. Aquadest
2. Cawan penguap 2. Paraffin cair
3. Gelas ukur 3. PGA
4. Hotplate 4. Setil alcohol
5. Matkan 5. Span 80
6. Mortar dan stamper 6. Tween 80
7. Neraca analitik
8. Penggaris
9. Pipet
10. Stirrer
11. Tabung sedimentasi
12. Ultra Turax
13. Water bath

B. Krim
Alat Bahan
1. Timbanga 1. Parafin
n liquidum
2. Batang 2. Asam
pengaduk stearat
3. Spatel 3. TEA
4. Kertas 4. Aquades
perkamen
5. Gelas ukur
6. Matkan
7. Pipet tetes
8. Beaker
glass
9. Kaca arloji
10. Ultra turak
V. Perhitungan dan Penimbangan
5.1. Emulsi
Perhitungan
- Tween 80 dan Span 80 = 10/100 x 100ml = 10g
(10 x HLB Butuh) = (a x 15) + ((10-a) x 4,3)
(10 x 12) = 15a + 43 - 4,3a
120 – 43 = 10,7a
77 = 10,7a
77
a = 10,7

a = 7,2g (Tween 80)


Span 80 = 10-a = 10 – 7,2 = 2,8g.

Penimbangan Bahan
No. Nama zat Konsentrasi V untuk 1 botol (60ml)

1. Parafin Cair 30% 30/100 x 100ml= 30ml

2. PGA 10% 10/100 x 100ml = 10g


3. Aqua pro 1,5 x 10g = 15ml

4. Tween 80 10% 7,2ml

5. Span 80 10% 2,8ml

6. Setilalkohol 5% 5/100 x 100ml = 5g

7. Aquadest ad 100ml

5.2. Krim
Pehitungan
Krim 1
30
- Paraffin liquidum: 100 𝑥 20 = 6 𝑔𝑟𝑎𝑚 + 10% = 6,6 𝑔𝑟𝑎𝑚
7,5
- Emulgid : 100 𝑥20 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚 + 10% = 1,65 𝑔𝑟𝑎𝑚

- Aquadest : 22 – ( 6,6 gram=1,65 gram )


Krim 2
30
- Paraffin liquidum : 100 𝑥 20 = 6 𝑔𝑟𝑎𝑚 + 10% = 6,6 𝑔𝑟𝑎𝑚
7,5
- Asam stearate : 𝑥20 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚 + 10% = 1,65 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
2
- TEA : 100 𝑥 20 = 0,4𝑔𝑟𝑎𝑚 + 10 % = 0.44 𝑔𝑟𝑎𝑚

Penimbangan
No. Nama zat Konsentrasi untuk 20 gram + 10 %

Krim – 1

1. Paraffin liquidum 30% 30/100 x 20 g + 10%= 6,6 g

2. Emulgid 7,5 % 7,5/100 x 20 g + 10% = 1,65


g
3. Aqua dest 22- (6,6+1,65)= 13,75 ml

Krim – 2

1. Paraffin liquidum 30% 30/100 x 20 g + 10%= 6,6 g

2. Asam stearat 7,5% 7,5/100 x 20g + 10% = 1,65 g

3. TEA 2% 2/100 x 20 + 10%= 0,44 g

4. Aquadest 22- (6,6+1,65+0,44)= 13,1 ml

VI. Prosedur
A. Emulsi
1. Emulgator PGA (cara basah)
Alat dan bahan disiapkan kemudian timbang semua bahan parafin cair sebanyak
30gram, PGA sebanyak 10gram, aquadest sebanyak 15 ml, lalu 10 gram PGA
ditambahkan air 15ml hingga terbentuk emulgator ditambahkan parafin cair 30
gram sedikit demi sedikit hingga terbentuk corpus emulsi lalu tuangkan
kerdalam matkan kemudian di ad 100ml aquadest didalam matkan, di aduk
hingga homogen dengan stirrer kemudian dimasukan kedalam tabung
sedimentasi.

2. Emulgator PGA (cara kering)


Alat dan bahan disiapkan kemudian timbang semua bahan parafin cair sebanyak
30gram, PGA sebanyak 10gram, aquadest sebanyak 15 ml, lalu 10 gram PGA
ditambahkan sedikit demi sedikit parafin cair sebanyak 30 gram ditambahkan
aqudest sebanyak 15ml digerus kuat hingga tercampur lalu tuangkan kerdalam
matkan kemudian di ad 100ml aquadest didalam matkan, di aduk hingga
homogen dengan stirrer kemudian dimasukan kedalam tabung sedimentasi.

3. Tween 80 dan Span 80


Alat dan bahan disiapkan kemudian timbang semua bahan parafin cair sebanyak
30gram, tween 80 sebanyak 7,2gram, span 80 sebanyak 2,8gram, aquadest
15ml lalu tween 80 dimasukan kedalam cawan 1 dan span 80 dimasukan
kedalam cawan 2 kemudian dipanaskan dipenangas hingga melebur setelah
melebur tween 80 ditambahkan aquadest sebanyak 15ml dalam cawan 1 dan
span 80 ditambahkan parafin cair sebanyak 30gram lalu keduannya dimasukan
kedalam matkan, kemudian di ad 100ml aquadest didalam matkan, di aduk
hingga homogen dengan stirrer kemudian dimasukan kedalam tabung
sedimentasi.

4. Tween 80 dan Span 80 + setil alkohol


Alat dan bahan disiapkan kemudian timbang semua bahan parafin cair sebanyak
30gram, tween 80 sebanyak 7,2gram, span 80 sebanyak 2,8gram, aquadest
15ml, setil alkohol 5gram lalu tween 80 dimasukan kedalam cawan 1 dan span
80 dimasukan kedalam cawan 2 kemudian dipanaskan dipenangas hingga
melebur setelah melebur tween 80 ditambahkan aquadest sebanyak 15ml dalam
cawan 1 dan span 80 ditambahkan parafin cair sebanyak 30gram dan setil
alokohol sebanyak 5gram lalu keduannya dimasukan kedalam matkan,
kemudian di ad 100ml aquadest didalam matkan, di aduk hingga homogen
dengan stirrer kemudian dimasukan kedalam tabung sedimentasi.

B. Krim
1. Krim-1
Masing masing bahan di timbang sesuai perhitungan, kemudian lebur
parafin cair dan emulgid dalam 1 cawan hingga suhu mencapai 70 derajat C.
Diuapkan aquadest di caw an terpisah diatas penangas air hingga suhu
mencapai 70 derajat C. Kemudian dua fasa campuran tersebut di campurkan
kedalam matkan dan di aduk menggunakan ultra turaks hingga mencapai suhu
35 C. Kemas dan lakukan evaluasi sediaan.

2. Krim-2
Masing masing bahan di timbang sesuai perhitungan, kemudian lebur
parafin cair dan asam stearat dalam 1 cawan hingga suhu mencapai 70 derajat
C. Diuapkan aquadest dengan TEA di cawan terpisah diatas penangas air
hingga suhu mencapai 70 derajat C. Kemudian dua fasa campuran tersebut di
campurkan kedalam matkan dan di aduk menggunakan ultra turaks hingga
mencapai suhu 35 C. Kemas dan lakukan evaluasi sediaan

VII. Hasil Pengamatan


7.1. Data Pengamatan dan Perhitungan Emulsi

Jenis Organoleptis Homogeni Tipe Volume Sedimentasi


Sediaan Warn Bau Rasa tas Emul 10' 20’ 30' 60’ 1 3
a si har har
i i
Emulsi 1 Putih Tidak Pahit Homogen M/A 1 1 1 0,9 0,6 0,
(PGA cara Berba 6 37
basah) u
Emulsi 2 Putih Tidak Pahit Homogen M/A 1 1 1 1 (br (br
(PGA cara Berba eak eak
kering) u ing ing
) )
Emulsi 3 Putih Tidak Pahit Homogen M/A 1 1 1 1 0, 0,3
(Tween 80 Berba 35 1
dan Span u
80 10%)
Emulsi 4 Putih Tidak Pahit Homogen M/A 1 1 0,9 0,9 1 0,5
Berba 7 7
(Tween 80
u
& Span 80
10%, Setil
Alkohol
5%)
a. Emulsi 1 (PGA 10% cara basah)
19,8 11,7
- t10 = 19,8 =1 - 1 hari= 19,5=0,6
19,8 7
- t20 = =1 - 3 hari= = 0, 37
19,8 19,5
19,8
- t30 = 19,8=1
19
- t 60= =0,96
19,8

b. Emulsi 2 (PGA 10% cara kering)


19,5 19,5
- t10 = 19,5= 1 - t30 = 19,5= 1
19,5 19,5
- t20 = 19,5= 1 - t 60 = 19,5= 1

c. Emulsi 3 (Tween 80 dan Span 80 10%)


18,5 18,5
- t10 = 18,5= 1 - t30 = 18,5= 1
18,5 18,5
- t20 = 18,5= 1 - t 60 = 18,5= 1
8,5 5,8
- 1 hari= 18,5= 0, 35 - 3 hari= 18,5= 0, 31

d. Emulsi 4 (Tween 80 & Span 80 10%, Setil Alkohol 5%)


18,5
- t10 = 18,5= 1
18,5
- t20 = 18,5= 1
18,5
- t30 = 18,5= 1
18,5
- t 60 = 18,5= 1
8,5
- 1 hari= 18,5= 0, 35
5,8
- 3 hari= 18,5= 0, 31

7.2. Data Pengamatan dan Perhitungan Krim


Kelompok 3

Basis krim Warna Bau Homogenitas Stabilitas H-1 Stabilitas H-2 Tipe emulsi
Krim -1 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A
Krim -2 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A

(Kelompok lain)
Kelompok 4

Basis krim Warna Bau Homogenitas Stabilitas H-1 Stabilitas H-2 Tipe emulsi
Krim -1 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A
Krim -2 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A
Ket : - krim 1 ( Parafin cair 30%+ emulgid 15%+ aquadest)
-krim 2 (Parafin cair 30% +tween80,span80 10% + setil alcohol 10%)
Kelompok 5

Basis krim Warna Bau Homogenitas Stabilitas H-1 Stabilitas H-2 Tipe emulsi
Krim -1 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A
Krim -2 Putih Tidak berbau Homogen Stabil Stabil M/A
Ket : - krim 1 ( Parafin cair 30%+ emulgid 15%+ aquadest)
- krim 2 (Parafin cair 30% + asam stearate 7.5% + TEA 2% + Aquadest )
VIII. Pembahasan
8.1. Emulsi
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan formula emusi dengan
menggunakan zat aktifnya parafin cair. Paraffin liquid digunakan sebagai zat
aktif untuk obat konstipasi yang bertindak sebagai laksatif emolien/lubrikan.
Kelarutan parafin liquid ini praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air.
Emulgator yang digunakan adalah emulgator alam yaitu PGA dan emulgator
sintetik yaitu Span 80 dan Tween 80. Dalam pembuatan emulsi ini digunakan 2
metode yaitu metode basah dan metode kering.
Pulvis Gummi Acaciae atau gom arab merupakan salah satu emulgator
alam yang digunakan pada pembuatan sediaan emulsi. Pembuatan emulsi minyak
lemak biasanya dibuat dengan emulgator gom arab, dengan perbandingan untuk
10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Gom arab yang
digunakanadalah separuh jumlah minyak lemak. Dan air yang digunakan adalah
1,5 x berat PGA. (Anief, M., 2005).

8.1.1. Emulsi 1 (PGA cara basah)


Pada praktikum pembuatan sediaan emulsi, zat aktif yang
digunakan adalah parafin cair. Parafin cair ini akan mengalami oksidasi ketika
dipanaskan dan terkena sinar atau cahaya. Sehingga jika menggunakan pemanasan
pada proses pembuatan, suhu pada pencampuran parafin tidak boleh terlalu panas.
(Gennaro, 1990).
Emulgator yang digunakan adalah emulgator alam (PGA, Veegum, dan
CMC Na) dan emulgator sintetik yaitu Tween 80 dan Span 80. Dalam
pembuatannya untuk emulgator alam dilakukan dalam 2 metode yaitu pembuatan
emulsi cara kering dan cara basah sedangkan untuk emulgator sintetik hanya
dengan cara basah.
Korpus emulsi cara basah (PGA)
Pulvis Gummi Acaciae atau gom arab merupakan salah satu emulgator
alam yang digunakan pada pembuatan sediaan emulsi. Pembuatan emulsi minyak
lemak biasanya dibuat dengan emulgator gom arab, dengan perbandingan untuk
10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Gom arab yang digunakan
adalah separuh jumlah minyak lemak. Sedangkan air yang digunakan adalah 1,5 x
berat PGA. (Anief, M., 2005)
Pada percobaan kali ini digunakan PGA berkonsentrasi 10%, dengan
metode pembuatan korpus emulsi dengan cara basah dan cara kering. Cara basah
dilakukan dengan dimasukkan 10 gram PGA kedalam mortir, terlebih dahulu
dibuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambah 30 gram parafin cair
sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang kuat, kemudian ditambahkan sisa
air dan minyak secara bergantian sambil diaduk sampai terbentuk corpus emulsi.
Lalu dimasukan ke matkan ,dilakukan pengocokan dengan ultaraturax untuk
pemerataan maksimal kontak antara air dengan PGA sehingga PGA akan
mengalami pengembangan secara merata. Pada saat PGA telah mengembang di
tambahakan aquadest ad 100 ml pada matkan. Dan dilakukan pengadukan kembali
untuk menghasilkan emulsi yang dapat bercampur dan stabil. Pengadukan
dilakukan selama 5 menit agar mencapai hasil yang maksimal. Metode ini
dikatakan sebagai metode basah karena emulgator mengalami pengembangan
terlebih dahulu kemudian digunakan untuk menstabilkan fasa minyak
(terdispersi). Lalu setelah selesai dimasukan kedalam tabung sedimentasi.
Dari hasil praktikum dilakukan evaluasi organoleptis, tipe emulsi,
homogenitas, volume sedimentasi, dan uji arah arah cream. Hasil organoleptis
yang didapat adalah warna putih, tidak berbau, rasa pahit. Pada saat di uji dikertas
saring terbentuk lapisan minyak yang diselimuti air yang menandakan tipe emulsi
minyak dalam air. Homogenitas pada saat diamati adalah homogen karena emulsi
yang didapat stabil merata. Pada uji arah cream, arah cream mengarah ke atas
yang menandakan tipe emulsi minyak dalam air.
Pada pengujian volume sedimentasi pada waktu t-10 menit, t-20 menit dan
t-30 menit volume sedimentasi adalah 1 yang menandakan emulsi stabil. Pada t-
60 menit volume sedimentasinya menjadi 0,96 yang menandakan emulsi
mendekati stabil. Dan pada t-1 hari volume sedimentasi menjadi 0,6 yang
menandakan emulsi mulai tidak stabil. Warna emulsi pada PGA berkonsentrasi
10% ini adalah putih gading. Terjadi flokulasi pada emulsi ini, yaitu terlihat
dengan terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan
tetapi setelah dilakukan pengocokan sediaan emulsi kembali stabil.
Pada pengujian kelompok lain yaitu menggunakan emulgator CMC Na 1%
cara basah. Didapat hasil yaitu pada CMC Na 1% cara basah, hasil organoleptis
yang didapat adalah warna putih, bau seperti susu, rasa pahit. Pada saat di uji
dikertas saring terbentuk lapisan minyak yang diselimuti air yang menandakan
tipe emulsi minyak dalam air. Homogenitas pada saat diamati adalah homogen
karena emulsi yang didapat stabil merata. Pada uji arah cream, arah cream
mengarah ke atas yang menandakan tipe emulsi minyak dalam air. Pada pengujian
volume sedimentasi pada waktu t-10 menit volume sedimentasi adalah 1 yang
menandakan emulsi stabil. Pada t-20 menit volume sedimentasinya menjadi 0,923
yang menandakan emulsi mendekati stabil. Pada t-30 menit dan t-60 volume
sedimentasi menjadi 0,4 da 0,45 yang menandakan emulsi mulai tidak stabil. Pada
t-1 hari volume sedimentasi menjadi 0,06 yang menandakan emulsi sudah tidak
stabil lagi.
Pada pengujian kelompok lain yaitu menggunakan emulgator Veguum 1%
cara basah. Didapat hasil yaitu pada Veguum 1% cara basah, hasil organoleptis
yang didapat adalah warna putih,tidak berbau, rasa pahit. Pada saat di uji dikertas
saring terbentuk lapisan minyak yang diselimuti air yang menandakan tipe emulsi
minyak dalam air. Homogenitas pada saat diamati adalah homogen karena emulsi
yang didapat stabil merata. Pada uji arah cream, arah cream mengarah ke atas
yang menandakan tipe emulsi minyak dalam air. Pada pengujian volume
sedimentasi pada waktu t-10 menit, t-20 menit dan t-30 menit dan t-60 menit
volume sedimentasi adalah 1 yang menandakan emulsi stabil.. Dan pada t-1 hari
volume sedimentasi menjadi 0,66 yang menandakan emulsi mulai tidak stabil.
Dari ketiga hasil pengujian emulsi yang paling adalah pengujian dengan
mengunakan emulgator Veguum 1% dan PGA 10%. Pada pengujian
menggunakan emulgator CMC Na 1% emulsi tidak stabil.
8.1.2. Emulsi 2 (PGA cara kering)
Pada percobaan kali ini digunakan PGA dengan konsentrasi 10%. Dengan
menggunakan 2 cara yaitu dengan cara kering dan cara basah. Cara kering
dilakukan dengan gliserin disiapkan sebanyak 30 ml. Dan ditimbang PGA
sebanyak 30 g. PGA dimasukkan ke dalam mortir digerus agar ukuran pertikel
menjadi kecil sehingga luas permukaan semakin besar. Lalu ditambahkan dengan
parafin cair sedikit demi sedikit agar emulgator tetap stabil. Di gerus dengan
kecepatan konstan, agar emulgator tidak pecah. Lalu air dimasukkan ke dalam
mortir sekaligus. Lalu dimasukkan ke dalam matkan, lalu ditambahkan akuades ad
100 ml. Lalu di stirrer, stirrer ini berfungsi untuk menghomogenkan. Lalu
dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan diperoleh warna dan bau dari sediaan emulsi
berwarna putih, tidak berbau, dan rasa pahit. Dan homogenitasnya bai ditunjukkan
dengan tidak terjadinya pemisahan. Tipe emulsi yang dihasilkan minyak dalam air
karena metika diteteskam pada kertas saring, emulsi tidak menyebar. Volume
sedimentasinya dari waktu ke waktu bertambah hal ini menunjukan emulsi tidak
baik. Evaluasi volume sedimentasi pada kelompok 1 yaitu 0,112. Emulsi kering
ini tidak stabil, karena volume sedimentasinya tidak mendekati 1.
Sediaan emulsi yang baik adalah sediaan emulsi yang baik dan stabil apabila
sediaan emulsi tersebut dapat mempertahankan distribusi yang teratur dari fase
terdispersi dalam jangka waktu yang lama (Depkes RI, 1966,).
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi, adalah:
1. Tegangan antarmuka rendah
2. Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka
3. Tolakkan listrik double layer
4. Relatifitas phase pendispersi kecil
5. Viskositas tinggi.

8.1.3. Emulsi 3 (Tween 80 & Span 80 10%)


Pada percobaan mengunakan emulgator alam yaitu tween 80 pada
konsentrasi 10% dan span 80 pada konsentrasi 10% pertama tween 80 dilakukan
pengukuran dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 7,2 ml lalu span 80
dilakukan pengukuran dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 2,8 ml
kemudian tween 80 dimasukan kedalam cawan dan dipanaskan diatas penangas
sampai melebur ,sama halnya dengan tween 80, span 80 dimasukan ke dalam
cawan yang berbeda lalu dipanaskan diatas penangas sampai melebur. Fungsi
pemanasan keduannya agar tween mudah tercampur dengan akuades pada suhu
yang tinngi dan span akan cepat bercampur dengan parafin. Kemudian setelah
keduannya melebur tween 80 ditambahkan akuades sebanyak 5ml fungsi tween 80
sebagai fase air karena tween mempunyai gugus polar yang lebih besar dari pada
gugus non polar sehingga tween lebih mengarah ke air dan span 80 ditambahkan
parafin sebanyak 30 g fungsi span 80 sebagai fase minyak karena span
mempunyai gugus non polar lebih besar dari pada polarnya sehingga span lebih
cenderung ke minyak. kemudian kedua dimasukan kedalam matkan dan dilakukan
pengadukan dengan menggunakan strirer agar suspensi tercampur secara
homogen lalu dimasukan kedalam tabung sedimentasi.
Tahap selanjutnya dilakukan evaluasi pertama sediaan emulsi. Evaluasi
yang pertama adalah uji organoleptis meliputi warna,bau, dan rasa. Emulsi ini
berwarna putih, tidak berbau, rasa yang pahit.
Evaluasi yang kedua adalah homogenitas, pada saat pengadukan selama ±
15 menit emulsi homogen seluruhnya, terbentuk dengan tidak terlihat partikel-
partikel yang belum terdispersi secara sempurna.
Evaluasi yang ketiga adalah tipe emulsi dengan kertas saring cara di uji
dengan menggunakan kertas saring yaitu tetes sedikit emulsi ke atas kertas saring
hasil yang didapat menunjukan tipe emulsi minyak dalam air.
Evaluasi yang ke empat adalah volume sedimentasi (F) berdasarkan hasil
pengamatan evaluasi volume sedimentasi, emulsi parafin cair dengan emulgator
tween 80 pada konsentrasi 10% dan span 80 pada konsentrasi 10% menunjukan
nilai f yang meningkat pada hari 1-3 hari seiring lamanya waktu.Seharusnya
emulsi yang baik adalah emulsi yang stabil hingga waktu yang panjang.
Berdasarkan data pengamatan emulsi dengan penambahan tween 80 10%
dan span 80 % ,terlihat sistem yang lebih stabil yaitu pada Tween 80 dan Span 80
dengan konsentrasi7,5%walaupun pada hari ke 1 dan ke 3 tetap terbentuk
sedimentasi. Sedangkan pada Tween 80 dan Span 80 dengan konsentrasi
5% sedimentasi telah terbentuk dari hari pertama pengamatan, dan terjadi pecah
pada harike 1 sehingga tidak bisa diamati lagi pada hari ke 3. Ketidakstabilan
emulsi ini dapat terjadi jika konsentrasi dari emulgator tidak sesuai atau tidak
adanya penambahan bahan penstabil lainnya, atau bisa jadi karena perubahan
kelarutan bahan pengemulsi yang disebabkan oleh antaraksi spesifik dengan
bahan penambah (aditif) ataukarena perubahan temperatur (Agoes, 2012. Hal
155).

8.1.4.Emulsi 4 (Tween 80 & Span 80 10%, Setil Alkohol 5%)


Percobaan selanjutnya yaitu pembuatan emulsi dengan campuran emulgator
sintetik berupa tween 80 dan Span 80 dengan konsentrasi 10% juga ditambahkan
dengan bahan pengental berupa setil alkohol dengan konsentrasi 5%. Pertama,
dibuat fase air berupa tween 80 yang dipanaskan terlebih dahulu di atas penangas
air dengan suhu 60˚C, ditambahkan aquades. Setelah dibuat fase air, dibuat fase
minyak berupa campuran span 80 dan setil alkohol yang dipanaskan terlebih
dahulu di atas penangas air dengan suhu 60˚C, lalu setelah panas dicampurkan
dengan parafin cair. Tujuan dipanaskan setil alkohol bersama dengan span 80
karena bentuk dari setil alkohol yang berupa bulatan bulatan kecil sehingga harus
dipanaskan agar dapat melebur atau menyatu menjadi cair. Alasan dibuat menjadi
dua fase karena emulsi sendiri merupakan sistem dua fase yaitu fase air dan fase
minyak.
Setelah itu fase air dan fase minyak tersebut dimasukkan ke dalam matkan
di-ad. 100 ml lalu dicampurkan dengan menggunakan stirrer dalam waktu tertentu
dan kecepatan tertentu. Tujuan digunakannya stirrer agar campuran zat tersebut
tercampur secara homogen.
Sediaan emulsi dievaluasi dengan berbagai cara yaitu pengamatan secara
organoleptis berupa warna, bau, dan rasa; homogenitas; tipe emulsi berupa uji
arah creaming (uji kertas saring); dan volume sedimentasi yang dilakukan pada t10,
t20, t30, T60, 1 hari dan 3 hari.
Prosedur evaluasi yang pertama yaitu pengamatan organoleptis berupa
warna bau dan rasa. Telah diamati warna sediaan berwarna putih tidak berbau dan
terasa pahit karena tidak diberi pewarna, flavoring agent dan pemanis atau perasa.
Prosedur evaluasi yang kedua yaitu pengamatan tipe emulsi berupa uji arah
creaming (uji kertas saring). Arah creaming dari sediaan emulsi berada pada
bagian atas sehingga jenis emulsi ini merupakan tipe M/A karena kertas saring
ketika ditetesi menjadi basah.
Prosedur evaluasi yang ketiga yaitu volume sedimentasi. Ada 3 sediaan
emulsi dengan konsentrasi yang berbeda yaitu tween 80 dan Span 80 10% : 7,5%
: 5% dengan penambahan setil alkohol sebesar 5%. Pertama-tama, sediaan
dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi lalu diukur volume awalnya. Lalu,
volume sedimentasi diukur pada t10, t20, t30, t60, 1 hari dan 3 hari. Data yang
didapat dibandingkan antar kombinasi emulsi tween 80 span 80 dan setil alkohol
dengan konsentrasi yang berbeda-beda.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa emulsi yang diberi tween 80 dan Span
80 10% + setil alkohol 5% pada t10 dan t20 stabil sedangkan pada t30 dan t60
mengalami penurunan volume sedimentasi menjadi 0,97. Dimungkinkan ini
terjadi karena pada tahap pengukuran pertama yang terukur bukan hanya sistem
emulsinya tetapi terdapat busa hasil pengadukan yang terlalu lama saat pembuatan
sehingga sediaan terlihat lebih mengembang.
Untuk emulsi yang diberi tween 80 dan Span 80 7,5% + setil alkohol 5%
menunjukkan sistem emulsi yang stabil sampai hari ke-1 (tidak terjadi kerusakan
pada emulsi), namun pada hari ketiga mulai terjadi ketidakstabilan emulsi dimana
sudah terjadi flokulasi. Sedangkan emulsi yang diberi tween 80 dan Span 80 5% +
setil alkohol 5% dari pengukuran t10 hingga 1 hari menunjukkan data yang stabil
namun pada hari ketiga sediaan emulsi tidak dapat diukur dikarenakan sediaan
terlalu kental.
Dilihat dari pengamatan pun, emulsi tween 80 dan Span 80 yang
ditambahkan setil alkohol terlihat seperti lapisan susu yang putih dengan
konsistensi lebih tinggi dibandingkan dengan formula emulsi tanpa penambahan
setil alkohol. Hal ini disebabkan karena sifat setil alkohol selain sebagai bahan
pengemulsi, setil alkohol juga mampu menyerap air, meningkatkan stabilitas, dan
meningkatkan konsistensi pada emulsi sehingga viskositasnya pun meningkat.
Setil alkohol akan membentuk suatu film yang tidak larut di atas lapisan bawah
yang sama dan setil alkohol juga dapat meningkatkan viskositas sehingga dapat
menstabilkan emulsi (Rowe, 2009: hal 155).
Untuk penggunaan tween 80 dan Span 80 kestabilan akan tercapai pada
penambahan dengan konsentrasi 1 - 10% Sedangkan untuk penambahan alkohol
kestabilan terbaiknya yaitu pada konsentrasi 2- 5% (HOPE hal 591 dan 479 ),
terbukti karena terlalu tinggi konsentrasi setil alkohol yang ditambahkan maka
konsistensi emulsi semakin tinggi sehingga semakin sulit untuk dituangkan.
Untuk itu dalam pembuatan emulsi ada beberapa faktor yang harus
diperhatikan untuk menjaga kestabilan emulsi tersebut, diantaranya adalah (Kadis,
2005):
 Penggunaan zat-zat yang mempertinggi viskositas
 Perbandingan opimum dari minyak dan air. Emulsi dengan minyak 2/3-3/4
bagian meskipun disimpan lama tidak akan terpisah dalam lapisan-lapisan
 Penggunaan alat khusus untuk membuat emulsa homogen.

8.2. Krim
a. Paraffin cair 30% + emulgid 7,5% + akuadest (stabil)
b. Paraffin cair 30% + emulgid 15% + akuadest (stabil)
c. Paraffin cair 30% + asam stearat 7,5% + TEA 2% + akuadest (stabil)
d. Paraffin cair 30% + asam stearat 15% + TEA 4% + akuadest (stabil)
e. Paraffin cair 30% + tween 80-span80 10% + setil alkohol 10% (stabil)

Pada praktikum kali ini terdapat 5 formula krim yang berbeda. Menurut
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Pada praktikum kali ini kelompok kami mengerjakan basis krim a dan c.
8.2.1.Basis krim a
Basis krim a, digunakan zat aktif berupa paraffin cair yang dapat digunakan
sebagai pelembab untuk kulit dalam penggunaan eksternal. Dalam formulasi basis
krim a, digunakan paraffin cair sebanyak 30%. Paraffin ini masuk ke dalam fasa
minyak karena sifatnya yang larut dalam minyak. Selain zat aktif, pada krim ini
juga ditambahkan emulgid. Emulgid digunakan sebagai emulgator atau
pengemulsi. Emulgator berfungsi untuk mencegah penggabungan kembali globul-
globul terdispersi dengan cara membentuk lapisan pada permukaan globul.
Pemilihan emulgator harus disesuaikan dengan fasa minyak yang digunakan,
dengan cara menghitung HLB butuh fasa minyak=HLB emulgator. Dalam
formulasi basis krim a, digunakan emulgid sebanyak 7,5%. Selain emulgid,
digunakan juga bahan tambahan akuades. Akuades digunakan sebagai fasa air.
Akuades ditambahkan sampai mencapai 20 g.
Dalam pembuatan basis krim a ini, hal yang pertama kali dilakukan adalah
menimbang semua bahan yang dibutuhkan. Kemudian paraffin dilebur di atas
penangas air bersama dengan emulgid dalam cawan yang sama, karena emulgid
merupakan tipe emulgator yang bersifat lebih lipofilik. Sedangkan akuades
dipanaskan pada cawan terpisah. Pemanasan ini dilakukan hingga mencapai suhu
70°C. Lalu hasil pemanasan tersebut dicampurkan ke dalam matkan dan kemudian
diaduk menggunakan ultra thurax hingga terbentuk massa yang homogen dan
suhu campuran mendekati 35°C. Pengadukan menggunakan ultra thurax
ditujukan agar meminimalisir kegagalan corpus emulsi, karena untuk membentuk
corpus emulsi yang baik diperlukan pengadukan yang cukup kuat dan cepat. Lalu
krim dikemas ke dalam pot salep dan dilakukan evaluasi sediaan.
Evaluasi sediaan krim yang dilakukan meliputi organoleptis (warna dan
bau), homogenitas, stabilitas (hari ke-1 dan hari ke-3), dan tipe emulsi (uji
pengenceran). Basis krim a ini berwarna putih dan tidak berbau. Berdasarkan uji
homogenitas dengan cara dioles tipis pada kaca arloji, tidak menujukkan adanya
pemisahan antara fasa minyak dan fasa air, sehingga dapat dikatakan homogen.
Pada uji stabilitas hari ke-1 dan hari ke-3 basis krim masih stabil, dibuktikan
dengan tidak adanya pemisahan antara fasa minyak dan fasa air. Pada penentuan
tipe emulsi dilakukan uji pengenceran di dalam air, basis krim dapat larut di
dalam air sehingga dapat ditentukan bahwa basis krim ini merupakan krim tipe
M/A. Dimana paraffin sebagai fasa terdispersi/dalam dan akuades sebagai fasa
pendispersi/luar.
Pada umumnya emulgid digunakan untuk membentuk krim tipe A/M, akan
tetapi pada hasil evaluasi sediaan kali ini terbentuk krim tipe M/A. Hal ini dapat
terjadi karena kandungan fasa air lebih banyak daripada fasa minyak, sehingga
fasa air berperan sebagai fasa pendispersi/luar sedangkan fasa minyak berperan
sebagai fasa terdispersi/dalam.
8.2.2.Basis krim b
Basis krim b memiliki formula hampir sama dengan basis krim a, akan
tetapi konsentrasinya saja yang berbeda. Basis krim b menggunakan paraffin 30%,
emulgid 15%, dan akuades ditambahkan sampai mencapai 20 g. Pada basis krim
ini digunakan emulgator 2 kali lebih banyak daripada basis krim a. Hal ini dapat
mempengaruhi pembentukan lapisan pada globul-globul fase terdispersi/dalam.
Evaluasi sediaan krim yang dilakukan meliputi organoleptis (warna dan
bau), homogenitas, stabilitas (hari ke-1 dan hari ke-3), dan tipe emulsi (uji
pengenceran). Berdasarkan hasil evaluasi dari kelompok 2, basis krim ini
berwarna putih dan tidak berbau. Berdasarkan uji homogenitas dengan cara dioles
tipis pada kaca arloji, tidak menujukkan adanya pemisahan antara fasa minyak
dan fasa air, sehingga dapat dikatakan homogen. Pada uji stabilitas hari ke-1 dan
hari ke-3 basis krim masih stabil, dibuktikan dengan tidak adanya pemisahan
antara fasa minyak dan fasa air. Pada penentuan tipe emulsi dilakukan uji
pengenceran di dalam air, basis krim tidak dapat larut di dalam air sehingga dapat
ditentukan bahwa basis krim ini merupakan krim tipe A/M. Pada umumnya
emulgid digunakan untuk membentuk krim tipe A/M, sehingga telah sesuai
dengan jenis krim yang dikehendaki. Hal ini dapat terjadi karena kandungan fasa
minyak (paraffin dan emulgid) yang digunakan lebih banyak daripada basis krim
a. Dimana akuades sebagai fasa terdispersi/dalam dan paraffin sebagai fasa
pendispersi/luar.

8.2.3.Basis krim c
Basis krim c, digunakan zat aktif berupa paraffin cair yang dapat digunakan
sebagai pelembab untuk kulit dalam penggunaan eksternal. Dalam formulasi basis
krim c, digunakan paraffin cair sebanyak 30%. Paraffin ini masuk ke dalam fasa
minyak karena sifatnya yang larut dalam minyak. Selain zat aktif, pada krim ini
juga ditambahkan asam stearat dan TEA (trietanolamin). Asam stearat dan TEA
digunakan sebagai kombinasi emulgator atau pengemulsi. Emulgator berfungsi
untuk mencegah penggabungan kembali globul-globul terdispersi dengan cara
membentuk lapisan pada permukaan globul. Pemilihan emulgator harus
disesuaikan dengan fasa minyak yang digunakan, dengan cara menghitung HLB
butuh fasa minyak=HLB emulgator. Asam stearat dapat digunakan sebagai
emulgator apabila dikombinasikan dengan TEA atau alkali (Rowe, 2009; 697).
Dalam formulasi basis krim c, digunakan asam stearat sebanyak 7,5% dan TEA
2%. Konsentrasi asam stearat sebagai emulgator adalah 1-20% (Rowe, 2009;
697). Konsentrasi TEA sebagai emulgator adalah 2-4% (Rowe, 2009; 754). Dalam
hal ini, konsentrasi asam stearat dan TEA yang digunakan masuk ke dalam
rentang konsentrasi yang ditentukan. Selain asam stearat dan TEA, digunakan
juga bahan tambahan akuades. Akuades digunakan sebagai fasa air. Akuades
ditambahkan sampai mencapai 20 g.
Dalam pembuatan basis krim c ini, hal yang pertama kali dilakukan adalah
menimbang semua bahan yang dibutuhkan. Kemudian paraffin dilebur di atas
penangas air bersama dengan asam stearat dalam cawan yang sama, karena asam
stearat merupakan tipe emulgator yang bersifat lebih lipofilik. Sedangkan akuades
dipanaskan bersama TEA pada cawan terpisah, karena TEA merupakan tipe
emulgator yang bersifat lebih hidrofilik. Pemanasan ini dilakukan hingga
mencapai suhu 70°C. Lalu hasil pemanasan tersebut dicampurkan ke dalam
matkan dan kemudian diaduk menggunakan ultra thurax hingga terbentuk massa
yang homogen dan suhu campuran mendekati 35°C. Pengadukan menggunakan
ultra thurax ditujukan agar meminimalisir kegagalan corpus emulsi, karena untuk
membentuk corpus emulsi yang baik diperlukan pengadukan yang cukup kuat dan
cepat. Lalu krim dikemas ke dalam pot salep dan dilakukan evaluasi sediaan.
Evaluasi sediaan krim yang dilakukan meliputi organoleptis (warna dan
bau), homogenitas, stabilitas (hari ke-1 dan hari ke-3), dan tipe emulsi (uji
pengenceran). Basis krim c ini berwarna putih dan tidak berbau. Berdasarkan uji
homogenitas dengan cara dioles tipis pada kaca arloji, tidak menujukkan adanya
pemisahan antara fasa minyak dan fasa air, sehingga dapat dikatakan homogen.
Pada uji stabilitas hari ke-1 dan hari ke-3 basis krim masih stabil tetapi terlalu
encer, dibuktikan dengan tidak adanya pemisahan antara fasa minyak dan fasa air.
Pada penentuan tipe emulsi dilakukan uji pengenceran di dalam air, basis krim
dapat larut di dalam air sehingga dapat ditentukan bahwa basis krim ini
merupakan krim tipe M/A. Pada umumnya kombinasi emulgator asam stearat
dengan TEA digunakan untuk membentuk krim tipe M/A. Dimana paraffin
sebagai fasa terdispersi/dalam dan akuades sebagai fasa pendispersi/luar.

8.2.4.Basis krim d
Basis krim d memiliki formula hampir sama dengan basis krim c, akan
tetapi konsentrasinya saja yang berbeda. Basis krim b menggunakan paraffin 30%,
asam stearat 15%, TEA 4%, dan akuades ditambahkan sampai mencapai 20 g.
Pada basis krim ini digunakan emulgator 2 kali lebih banyak daripada basis krim
c. Hal ini dapat mempengaruhi pembentukan lapisan pada globul-globul fase
terdispersi/dalam.
Evaluasi sediaan krim yang dilakukan meliputi organoleptis (warna dan
bau), homogenitas, stabilitas (hari ke-1 dan hari ke-3), dan tipe emulsi (uji
pengenceran). Berdasarkan hasil evaluasi dari kelompok 5, basis krim ini
berwarna putih dan tidak berbau. Berdasarkan uji homogenitas dengan cara dioles
tipis pada kaca arloji, tidak menujukkan adanya pemisahan antara fasa minyak
dan fasa air, sehingga dapat dikatakan homogen. Pada uji stabilitas hari ke-1 dan
hari ke-3 basis krim masih stabil, dibuktikan dengan tidak adanya pemisahan
antara fasa minyak dan fasa air. Pada penentuan tipe emulsi dilakukan uji
pengenceran di dalam air, basis krim dapat larut di dalam air sehingga dapat
ditentukan bahwa basis krim ini merupakan krim tipe M/A. Pada umumnya
kombinasi asam stearat dan TEA digunakan untuk membentuk krim tipe M/A,
sehingga telah sesuai dengan jenis krim yang dikehendaki. Hal ini dapat terjadi
karena kandungan fasa air lebih banyak daripada fasa minyak, sehingga fasa air
berperan sebagai fasa pendispersi/luar sedangkan fasa minyak berperan sebagai
fasa terdispersi/dalam.

8.2.5.Basis krim e
Basis krim e memiliki formula paraffin 30%, tween 80-span 80 10%, dan
setil alkohol 10%. Pada basis krim ini digunakan kombinasi 2 emulgator yang
diketahui konsentrasi totalnya, sehingga perlu dilakukan perhitungan HLB butuh
minyak=HLB emulgator. Dengan adanya perhitungan HLB butuh minyak terlebih
dahulu diharapkan emulgator dapat digunakan secara optimal.
Evaluasi sediaan krim yang dilakukan meliputi organoleptis (warna dan
bau), homogenitas, stabilitas (hari ke-1 dan hari ke-3), dan tipe emulsi (uji
pengenceran). Berdasarkan hasil evaluasi dari kelompok 2, basis krim ini
berwarna putih dan berbau seperti minyak. Bau seperti minyak dapat disebabkan
karena komposisi fase minyak yang digunakan lebih banyak. Berdasarkan uji
homogenitas dengan cara dioles tipis pada kaca arloji, tidak menujukkan adanya
pemisahan antara fasa minyak dan fasa air, sehingga dapat dikatakan homogen.
Pada uji stabilitas hari ke-1 dan hari ke-3 basis krim masih stabil, dibuktikan
dengan tidak adanya pemisahan antara fasa minyak dan fasa air. Pada penentuan
tipe emulsi dilakukan uji pengenceran di dalam air, basis krim dapat larut di
dalam air sehingga dapat ditentukan bahwa basis krim ini merupakan krim tipe
M/A. Pada umumnya kombinasi tween 80-span 80 digunakan untuk membentuk
krim tipe M/A, sehingga telah sesuai dengan jenis krim yang dikehendaki.
Keseluruhan krim dikatakan stabil sehingga dapat dikatakan baik. Karena
pengamatan kestabilan hanya dilakukan 3 hari, ini hanya menjamin produk untuk
3 saja.

IX. Usulan Formula


9.1. Emulsi
A. Emulsi dengan Emulgator Alami
Parafin cair
PGA (Pulvis Gummi Acaciae)
Aquadest
Alasannya:
1. Parafin cair
2. PGA merupakan emulgator yang berasal dari alam dan termasuk ke dalam
golongan surfaktan. PGA ini berfungsi sebagai emulgator. Emulagtor ini untuk
mencegah terjadinya penggabungan globul-globul terdispersi dengan cara
membentuk lapisan film pada permukaan film. Surfaktan ini akan membentuk
lapisan film monomolekuler/monolayer pada permukaan globul fase yang
terdispersi. Dan surfaktan juga mempunyai fungsi untuk menurunkan tegangan
permukaan ,sehingfa surfaktan ini dapat menurunkan energi bebas dan dapat
menstabilkan emulsi.
B. Emulsi dengan Emulgator Sintetik
- Tween 80 dan Span 80
Paraffin Cair 30 mL
Tween 80 10%
Span 80 10%
Aquadest ad 100 mL
- Tween 80, Span 80, dan Setil Alkohol
Paraffin Cair 30 mL
Tween 80 10%
Span 80 10%
Setil alkohol 5%
Aquadest ad 100 mL
1. Paraffin cair : sebagai zat aktif dalam sediaan emulsi.
2. PGA : Salah satu emulgator alam yang berasal dari golongan polisakarida yang
dilarutkan oleh aquadest. Kami mencoba zat ini untuk perbandingan emulgator.
Digunakan sebagai penstabil emulsi dan untuk menurunkan tegangan permukaan
suatu zat.
3. Tween 80 dan Span 80: emulgator sintetik yang berasal dari golongan
surfaktan. Kami mencoba zat ini untuk perbandingan emulgator. Digunakan
sebagai penstabil emulsi dan untuk menurunkan tegangan permukaan suatu zat.
4. Setil Alkohol : Salah satu jenis emulgator. Setil alkohol berfungsi untuk
mencegah terjadinya penggabungan globul-globul terdispersi dengan cara
membentuk lapisan film pada permukaan film, Digunakan sebagai penstabil
emulsi dan untuk menurunkan tegangan permukaan suatu zat. sehingga surfaktan
ini dapat menurunkan energi bebas dan dapat menstabilkan emulsi.

9.2. Krim
Basis krim a
R/ Paraffin cair 30%
Emulgid 15%
Asam benzoat 0,2%
BHA 0,02
Aquadest ad 20 g
 Penambahan konsentrasi emulgid untuk membentuk krim tipe A/M, sehingga
telah sesuai dengan jenis krim yang dikehendaki.
 Penambahan pengawet digunakan sebagai antimikroba karena sediaan krim
tersebut mengandung air sehingga akan dapat dengan mudah ditumbuhi
mikroorganisme.
 Penambahan pengawet digunakan sebagai antioksidan karena paraffin cair
dapat teroksidasi oleh cahaya dan udara.
Basis krim c
R/ Paraffin cair 30%
Asam stearat 15%
TEA 4%
Asam benzoat 0,2%
BHA 0,02
Aquadest ad 20 g
 Penambahan konsentrasi asam stearat dan TEA diharapkan mampu
meningkatkan konsistensi krim agar tidak terlalu encer.
 Penambahan pengawet digunakan sebagai antimikroba karena sediaan krim
tersebut mengandung air sehingga akan dapat dengan mudah ditumbuhi
mikroorganisme.
 Penambahan pengawet digunakan sebagai antioksidan karena paraffin cair
dapat teroksidasi oleh cahaya dan udara.

X. Kesimpulan
9.1. Emulsi
1. Sistem emulsi dengan menggunakan emulgator PGA 10% yang dibuat
menggunakan metode pembuatan korpus emulsi basah dapat membentuk
emulsi yang stabil. Veegum konsentrasi 1 % merupakan konsentrasi yang
paling tepat untuk membuat suatu sediaan emulsi yang stabil.
2. Sistem emulsi dengan menggunakan emulgator PGA konsentrasi 10%
yang dibuat dengan menggunakan cara kering tidak dapat menghasilkan
emulsi yang stabil.
3. Sistem emulsi dengan menggunakan emulgator sintesis, yang lebih stabil
adalah pada penambahan Tween 80 dan Span 80 dengan konsentrasi 7,5%
4. Sistem emulsi dengan menggunakan emulgator sintesis, yang lebih stabil
adalah pada penambahan Tween 80 dan Span 80 ditambahkan setil alkohol
dengan konsentrasi 7,5%

9.2. Krim
Keseluruhan krim dikatakan stabil sehingga dapat dikatakan
baik.Karena pengamatan kestabilan hanya dilakukan 3 hari, ini hanya
menjamin produk untuk 3 saja.
XI. Daftar Pustaka
Anief, M. (1999). Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Ansel, H. C.(1989) Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat.
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Aulton, M. E. (1988). Pharmaceutics, The Science of Dosage Form Design.
Churchill Livingstone, London.
Depkes RI. (1978). Formularium Nasional edisi kedua. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Depkes RI.(1979). Farmakope Indonesia Edisi III. Deprtemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Gennaro, A. R. (1990). Remington’s Pharmaceutical Science volume 2. Mack
Publishing Company, Pennsylvania.
Lahman. L, dkk.(1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI Press,
Jakarta.
Raymond C Rowe, Paul J Sheskey and Marian E Quinn. (2009). Handbook Of
Parmaceutical exipient sixth edition. Pharmaceutical Press, Washington
DC.
Syamsuni, 2006, Farmasetika Dasar Dan Hitungan Farmasi, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Allen, L. V., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition,
Rowe R. C., Sheskey, P. J., Queen, M. E., (Editor), London, Pharmaceutical Press
and American Pharmacists Assosiation