Anda di halaman 1dari 2

PATOMEKANISME NYERI DADA

Nyeri sebenarnya adalah mekanisme protektif yang dimaksudkan untuk menimbulkan


kesadaran bahwa telah atau akan terjadi kerusakan jaringan. Terdapat tiga kategori reseptor nyeri
yaitu nosiseptor mekanis, yang berespon terhadap kerusakan mekanis misalnya tusukan, benturan,
atau cubitan; nosiseptor termal yang berespon terhadap suhu yang berlebihan terutama panas; dan
nosiseptor polimodal yang berespon setara terhadap semua jenis rangsangan yang merusak,
termasuk iritasi zat kimia yang dikeluarkan dari jaringan yang cedera. Ketiga nosiseptor ini adalah
ujung saraf telanjang yang tidak beradaptasi terhadap rangsangan yang menetap atau repetitive.
Sinyal-sinyal yang berasal dari nosiseptor mekanis dan termal disalurkan melalui serat A-
delta yang berukuran besar dan bermielin dengan kecepatan sampai 30 meter/detik (jalur nyeri
cepat). Impuls dari nosiseptor polimodal diangkut oleh serat C yang kecil dan tidak bermielin
dengan kecepatan yang jauh lebih lambat sekitar 12 meter/detik (jalur nyeri lambat).
Salah satu neurotransmitter yang dikeluarkan dari ujung-ujung aferen nyeri ini adalah
subtansi P yang diperkirakan khas untuk serat-serat nyeri. Jalur nyeri asenden memiliki tujuan di
korteks somatosensorik, thalamus dan formasio retikularis.
Jadi penyebab nyeri yaitu tersensitisasinya nosiseptor-nosi septor yang ada pada tubuh
juga bias disebabkan oleh kerusakan didalam jalur-jalur nyeri walaupun tidak terdapat cedera
perifer atau rangsang nyeri. Sebagai contoh, stroke yang merusak jalur-jalur asendens dapat
menimbulkan sensasi nyeri yang abnormal dan menetap.
Dengan melihat penjelasan di atas, proses terjadinya nyeri dada yaitu karena terjadinya
iskemia jaringan pada jantung yang akan mengubah jalur transportasi energi yang tadinya aerob
menjadi anaerob yang akan menghasilkan banyak asam laktat. Sifat asam laktat ini yang kemudian
merangsang nosiseptor-nosiseptor yang ada pada jantung yang akan menimbulkan sensasi nyeri.
Iskemia ini disebabkan apabila terjadi aterosklerosis pada pembuluh darah, yang lama-
kelamaan akan menyebabkan ruptur pada plak akibatnya terbentuk trombus. Apabila trombus ini
berkumpul semakin banyak, maka dapat menyebabkan obstruksi pada arteri koroner. Apabila
terjadi obstruksi, maka darah kekurangan suplai oksigen yang akan menyebabkan iskemik. Iskemik
inilah yang akan menimbulkan rasa nyeri pada daerah dada.
Apabila terjadi gangguan hemodinamik pada jantung, akan menimbulkan vasokonstriksi
pada pembuluh darah yang lama kelamaan menyebabkan trombus. Trombus yang terbentuk dan
bertambah besar, akan menyebabkan obstruksi pada arteri koroner sehingga dapat terjadi
penyempitan. Akibatnya, suplai oksigen untuk jaringan dan arteri koroner khususnya akan
berkurang. Hal ini mengakibatkan mekanisme anaerob meningkat sebagai mekanisme kompensasi
dari tubuh. Namun, akibatnya akan terbentuk asam laktat yang sangat banyak sehingga menekan
ujung-ujung saraf atau reseptor nyeri pada daerah dada yang akan menimbulkan respon nyeri.