Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS PADA ANAK

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon
terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama)
dan keluhan gatal (Djuanda, Adhi, 2007).

2. Epidemiologi
Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan
umur, ras, dan jenis kelamin. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup
banyak, namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh
banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat. Bila dibandingkan dengan
dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena
hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). Namun sedikit sekali
informasi mengenai prevalensi dermatitis ini di masyarakat.

3. Etiologi
Penyebabnya secara umum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1) Faktor dari luar atau eksogen misalnya bahan kimia (deterjen, oli, semen), fisik (sinar
matahari, suhu), mikroorganisme (mikroorganisme, jamur).
2) Faktor dari dalam atau endogen misalnya dermatitis atopik.

4. Faktor Predisposisi
a. Keringnya kulit.
b. Iritasi oleh sabun, deterjen, pelembut pakaian, dan bahan kimia lain.
c. Menciptakan kondisi yang terlalu hangat untuk anak, misalnya membungkus anak
dengan pakaian berlapis.
d. Alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu.
e. Alergi terhadap debu, serbuk bunga, atau bulu hewan.
f. Virus dan infeksi lain.
g. Perjalanan ke Negara dengan iklim berbeda.
5. Gejala klinis
Pada umumnya penderita dermatitis akan meneluh gatal, dimana gejala klinis lainnya
bergantung pada stradium penyakitnya.
a. Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan
eksudasi sehingga tampak basah.
b. Stadium sub akut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mongering menjadi
kusta.
c. Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis sejak awal
memberikan gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis.

6. Patofisologi
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh iritan melalui kerja
kimiawi atau fisik. Bahan irisan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan
lemak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air kulit. Keadaan ini akan merusak sel
epidermis.

Ada 2 jenis bahan iritan yaitu: iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan
menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan
lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor
lain yang dapat mempengaruhi yaitu: kelembaban udara, tekanan, gesekan, mempunyai andil
pada terjadinya kerusakan tersebut. Berkaitan dengan gejala diatas dapat menimbulkan rasa
nyeri yang timbul akibat lesi kulit, erupsi dan gatal. Selain itu, dapat menimbulkan gangguan
intergritas kulit dan gangguan citra tubuh yang timbul karena vesikel kecil, kulit kering,
pecah-pecah, dan kulit bersisik.

7. Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya dermatitis diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :


1) Dermatitis kontak ( dermatitis venemata )
Merupakan dermatitis yang disebabkan oleh bahan yang menempel pada kulit
atau dermatitis kontak merupakan respon reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV.
Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering bersifat ekzematosa yang
disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah bahan yang iritatif atau alergenik.
Ada 4 bentuk dermatitis kontak yaitu :
a. Dermatitis kontak iritan
Dermatitis yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang secara kimiawi
atau fisik merusak kulit tanpa dasar imunologik. Terjadi sesudah kontak
pertama dengan iritan atau kontak ulang dengan iritan ringan selama waktu
yang lama. Dermatitis ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
ukuran molekul, daya larut, konsentrasi bahan tersebut, lama kontak, kekerapan,
gesekan dan trauma fisis, shu serta kelembaban. Selain faktor diatas faktor lain
yang mendukung terjadinya dermatitis kontak alergik adalah faktor individu
misalnya perbedaan kelembaban kulit, usia (anak dibawah umur 8 tahun dan
usia lanjut lebih mudah teritasi), ras (kulit hitam lebih rentan dari kulit putih)
dan jenis kelamin (insidans DKI lebih banyak pad wanita). Gejala klinis yang
terjadi adalah kekeringan kulit yang berlangsung beberapa hari hingga bulan.
Vesikulasi, fisura dan pecah-pecah. Tangan dan lengan bawah merupakan
bagian yang paling sering terkena.

b. Dermatitis kontak alergik


Merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV yang terjadi akibat kontak kulit
dengan bahan alergik (bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas). Tipe ini
memiliki periode sensitisasi 10 – 14 hari.
Reaksi hipersensitivitas tipe IV terjadi melalui 2 fase yaitu:
1. Fase sensitisasi
Hapten masuk ke dalam epidermis melewati stratum korneum akan
ditangkap oleh sel langerhans dengan cara pinositosis dan diproses secara
kimiawi oleh enzim lisosom. Pada awalnya sel langerhans dalam keadaan
istirahat, dan hanya berfungsi sebagai makrofag dengan sedikit
kemampuan menstimulasi sel T. Terjadinya sensitisasi kontak tergantung
pada sinyal iritan yang dapat berasal dari alergen kontak sendiri dari
ambang rangsang yang rendah terhadap respon iritan, dari bahan kimia
inflamasi pada kulit yang meradang. Jadi sinyal bahaya yang
menyebabkan sensitisasi tidak berasal dari sinyal antigenik sendiri
melainkan dari iritasi yang menyertainya. Suatu tindakan mengurangi
iritasi akan menurunkan potensi sensitisasi.
2. Fase elisitasi
Fase kedua (elisitasi) hipersensitivitas tipe lambat terjadi pada pajanan
ulang alergen (hapten), hapten akan ditangkap sel langerhans dan diproses
secara kimiawi menjadi antigen, diikat oleh HLA-DR, kemudian
diekskresi di permukaan kulit. Selanjutnya kompleks HLA-DR-antigen
akan dipresentasikan kepada sel T yang telah tersensitisasi baik di kulit
maupun di kelenjar limfe sehingga terjadi proses aktivasi. Fase elisitasi
umumnya berlangsung antara 24-48 jam. Gambaran klinisnya dapat
berupa vasodilatasi dan infiltrat perivaskuler pada dermis, edema intrasel,
biasanya terlihat pada permukaan dorsal tangan.

c. Dermatitis kontak fototoksik


Merupakan dermatitis yang menyerupai tipe iritan tetapi memerlukan
kombinasi sinar matahari dan bahan kimia yang merusak epidermis kulit.
Gambaran klinis yang terjadi serupa dengan dermatitis iritan.

d. Dermatitis kontak fotoalergik


Menyerupai dermatitis alergi tetapi memerlukan pajanan cahaya
disamping kontak alergen untuk menimbulkan reaktivitas imunologik.
Gambaran klinis serupa dengan dermatitis iritan.

2) Dermatitis Atopik
Adalah peradangan kulit yang melibatkan perangsangan berlebihan limfosit T
dan sel Mast. Tipe gatal kronik yang sering timbul, dalam keadaan yang sering
disebut eksema. Manifestasi klinik dimulai sejak selama kanak-kanak. Dalam keadaan
akut, yang pertama tampak kemerahan dan banyak kerak. Pada bayi lesi kulit tampak
pada wajah dan bokong. Pada anak yang yang lebih tua dan remaja, lesi tampak lebih
sering muncul di tangan dan kaki, di belakang lutut dan lipat siku. Gejala terbesar
adalah pruritus hebat menyebabkan berulangnya peradangan dan pembentukan lesi
yang merupakan keluahan utama mencari bantuan.

3) Dermatitis medika mentosa


Adalah kelainan hipersensitivitas tipe I, merupakan istilah yang digunakan untuk
ruang kulit karen pemakaian internal obat-obatan atau medikasi tertentu. Pada
umumnya reaksi obat timbul mendadak, ruam dapat disertai dengan gejala sistemik
atau menyeluruh.
Berdasarkan morfologinya, dermatitis dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1. Dermatitis papulosa
2. Dermatitis vesikulosa
3. Dermatitis madidans
4. Dermatitis eksfloliative
Berdasarkan bentuknya , dermatitis diklasifikasikan menjadi :
1. Dermatitis numularis
Merupakan dermatitis yng lesinya berbentuk mata uang atau agak lonjong,
berbatas tegas, dengan efloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah
pecah sehingga basah.

Gambaran klinis yang terjadi adalah : umumnya mengeluh sangat gatal, lesi
akut berupa vesikel dan papolu vesikel ( 0,3 – 1.0 cm ) kemudian membesar
dengan cara berkonploensi atau meluas kesamping. Membentuk satu lesi
karakteristik seperti uang logam ( koin ), eritematosa, sedikit edematosa, dan
berbatas tegas. Jumlah lesi dapat 1 dapat pula banyak dan tersebar, bilateral
atau simetris dengan ukuran bervariasi mulai dari miliar – numular.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes Tempel Terbuka.
Pada uji terbuka bahan yang dicurigai ditempelkan pada daerah belakang telinga
karena daerah tersebut sukar dihapus selama 24 jam. Setelah itu dibaca dan dievaluasi
hasilnya. Indikasi uji tempel terbuka adalah alergen yang menguap.

b. Tes Tempel Tertutup.


Untuk uji tertutup diperlukan Unit Uji Tempel yang berbentuk semacam plester
yang pada bagian tengahnya terdapat lokasi dimana bahan tersebut diletakkan. Bahan
yang dicurigai ditempelkan dipunggung atau lengan atas penderita selama 48 jam
setelah itu hasilnya dievaluasi.

c. Tes tempel dengan Sinar


Uji tempel sinar dilakukan untuk bahan-bahan yang bersifat sebagai
fotosensitisir yaitu bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu bahan yang
dengan sinar ultra violet baru akan bersifat sebagai alergen. Tehnik sama dengan uji
tempel tertutup, hanya dilakukan secara duplo. Dua baris dimana satu baris bersifat
sebagai kontrol. Setelah 24 jam ditempelkan pada kulit salah satu baris dibuka dan
disinari dengan sinar ultraviolet dan 24 jam berikutnya dievaluasi hasilnya. Untuk
menghindari efek daripada sinar, maka punggung atau bahan test tersebut dilindungi
dengan secarik kain hitam atau plester hitam agar sinar tidak bisa menembus bahan
tersebut. Untuk dapat melaksanakan uji tempel ini sebaiknya penderita sudah dalam
keadaan tenang penyakitnya, karena bila masih dalam keadaan akut kemungkinan
salah satu bahan uji tempel merupakan penyebab dermatitis sehingga akan menjadi
lebih berat. Tidak perlu sembuh tapi dalam keadaan tenang. Disamping itu berbagai
macam obat dapat mempengaruhi uji tempel sebaiknya juga dihindari paling tidak
24 jam sebelum melakukan uji tempel misalnya obat antihistamin dan
kortikosteroid.
Dalam melaksanakan uji tempel diperlukan bahan standar yang umumnya
telah disediakan oleh International Contact dermatitis risert group, unit uji tempel
dan penderita maka dengan mudah dilihat perubahan pada kulit penderita. Untuk
mengambil kesimpulan dari hasil yang didapat dari penderita diperlukan
keterampilan khusus karena bila gegabah mungkin akan merugikan penderita
sendiri. Kadang-kadang hasil ini merupakan vonis penderita dimana misalnya
hasilnya positif maka penderita diminta untuk menghindari bahan itu. Penderita
harus hidup dengan menghindari ini itu, tidak boleh ini dan itu sehingga berdampak
negatif dan penderita dapat jatuh ke dalam neurosis misalnya. Karenanya dalam
mengevaluasi hasil uji tempel dilakukan oleh seorang yang sudah mendapat latihan
dan berpengalaman di bidang itu. Tes in vitro menggunakan transformasi limfosit
atau inhibisi migrasi makrofag untuk pengukuran dermatitis kontak alergik pada
manusia dan hewan. Namun hal tersebut belum standar dan secara klinis belum
bernilai diagnosis.

9. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik
adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi
individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
• Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan
dan kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya
penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan
mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan deterjen.

• Pengobatan
Pengobatan yang diberikan dapat berupa pengobatan topikal dan sistemik.

• Pengobatan topical
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum
pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila
kering berikan terapi kering. Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan
aktif. Bila akut berikan kompres, bila subakut diberi losio, pasta, krim atau
linimentum (pasta pendingin ), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres,
bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di
dalam, diberi salep. Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada kasus-kasus
ringan. Jenis-jenisnya adalah :
1. Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan penting dalam sistem imun. Pemberian
topikal akan menghambat reaksi aferen dan eferen dari dermatitis kontak alergik.
Steroid menghambat aktivasi dan proliferasi spesifik antigen. Ini mungkin
disebabkan karena efek langsung pada sel penyaji antigen dan sel T. Pemberian
steroid topikal pada kulit menyebabkan hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR sel
Langerhans, sehingga sel Langerhans kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga
menghalangi pelepasan IL-2 oleh sel T, dengan demikian profilerasi sel T
dihambat. Efek imunomodulator ini meniadakan respon imun yang terjadi dalam
proses dermatitis kontak dengan demikian efek terapetik. Jenis yang dapat
diberikan adalah hidrokortison 2,5 %, halcinonid dan triamsinolon asetonid. Cara
pemakaian topikal dengan menggosok secara lembut. Untuk meningkatan
penetrasi obat dan mempercepat penyembuhan, dapat dilakukan secara tertutup
dengan film plastik selama 6-10 jam setiap hari. Perlu diperhatikan timbulnya
efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit dan erupsi akneiformis.

2. Radiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet juga mempunyai efek terapetik dalam dermatitis kontak
melalui sistem imun. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya fungsi
sel Langerhans dan menginduksi timbulnya sel panyaji antigen yang berasal dari
sumsum tulang yang dapat mengaktivasi sel T supresor. Paparan ultraviolet di
kulit mengakibatkan hilangnya molekul permukaan sel langehans (CDI dan HLA-
DR), sehingga menghilangkan fungsi penyaji antigennya. Kombinasi 8-methoxy-
psoralen dan UVA (PUVA) dapat menekan reaksi peradangan dan imunitis.
Secara imunologis dan histologis PUVA akan mengurangi ketebalan epidermis,
menurunkan jumlah sel Langerhans di epidermis, sel mast di dermis dan infiltrasi
mononuklear. Fase induksi dan elisitasi dapat diblok oleh UVB. Melalui
mekanisme yang diperantarai TNF maka jumlah HLA- DR + dari sel Langerhans
akan sangat berkurang jumlahnya dan sel Langerhans menjadi tolerogenik. UVB
juga merangsang ekspresi ICAM-1 pada keratinosit dan sel Langerhans.

3. Siklosporin A
Pemberian siklosporin A topikal menghambat elisitasi dari hipersensitivitas
kontak pada marmut percobaan, tapi pada manusia hanya memberikan efek
minimal, mungkin disebabkan oleh kurangnya absorbsi atau inaktivasi dari obat
di epidermis atau dermis.

4. Antibiotika dan antimikotika


Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus,
E. coli, Proteus dan Candida sp. Pada keadaan superinfeksi tersebut dapat
diberikan antibiotika (misalnya gentamisin) dan antimikotika (misalnya
clotrimazole) dalam bentuk topikal.

5. Imunosupresif topical
Obat-obatan baru yang bersifat imunosupresif adalah FK 506 (Tacrolimus)
dan SDZ ASM 981. Tacrolimus bekerja dengan menghambat proliferasi sel T
melalui penurunan sekresi sitokin seperti IL-2 dan IL-4 tanpa merubah responnya
terhadap sitokin eksogen lain. Hal ini akan mengurangi peradangan kulit dengan
tidak menimbulkan atrofi kulit dan efek samping sistemik. SDZ ASM 981
merupakan derivat askomisin makrolatum yang berefek anti inflamasi yang
tinggi. Pada konsentrasi 0,1% potensinya sebanding dengan kortikosteroid
klobetasol-17-propionat 0,05% dan pada konsentrasi 1% sebanding dengan
betametason 17-valerat 0,1%, namun tidak menimbulkan atrofi kulit. Konsentrasi
yang diajurkan adalah 1%. Efek anti peradangan tidak mengganggu respon imun
sistemik dan penggunaan secara topikal sama efektifnya dengan pemakaian
secara oral.

• Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan atau edema, juga
pada kasus-kasus sedang dan berat pada keadaan akut atau kronik. Jenis-jenisnya
adalah :
1. Antihistamin
Maksud pemberian antihistamin adalah untuk memperoleh efek sedatifnya.
Ada yang berpendapat pada stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin.
Tapi ada juga yang berpendapat dengan adanya reaksi antigen-antobodi terdapat
pembebasan histamin, serotonin, SRS-A, bradikinin dan asetilkolin.

2. Kortikosteroid
Diberikan pada kasus yang sedang atau berat, secara peroral, intramuskular
atau intravena. Pilihan terbaik adalah prednison dan prednisolon. Steroid lain lebih
mahal dan memiliki kekurangan karena berdaya kerja lama. Bila diberikan dalam
waktu singkat maka efek sampingnya akan minimal. Perlu perhatian khusus pada
penderita ulkus peptikum, diabetes dan hipertensi. Efek sampingnya terutama
pertambahan berat badan, gangguan gastrointestinal dan perubahan dari insomnia
hingga depresi. Kortikosteroid bekerja dengan menghambat proliferasi limfosit,
mengurangi molekul CD1 dan HLA- DR pada sel Langerhans, menghambat
pelepasan IL-2 dari limfosit T dan menghambat sekresi IL-1, TNF-a dan MCAF.

3. Siklosporin
Mekanisme kerja siklosporin adalah menghambat fungsi sel T penolong dan
menghambat produksi sitokin terutama IL-2, INF-r, IL-1 dan IL-8. Mengurangi
aktivitas sel T, monosit, makrofag dan keratinosit serta menghambat ekspresi
ICAM-1.

4. Pentoksifilin
Bekerja dengan menghambat pembentukan TNF-a, IL-2R dan ekspresi ICAM-
1 pada keratinosit dan sel Langerhans merupakan derivat teobromin yang memiliki
efek menghambat peradangan.

5. FK 506 (Takrolimus)
Bekerja dengan menghambat respon imunitas humoral dan selular.
Menghambat sekresi IL-2R, INF-r, TNF-a, GM-CSF . Mengurangi sintesis
leukotrin pada sel mast serta pelepasan histamin dan serotonin. Dapat juga
diberikan secara topikal.

6. Ca++ antagonis
Menghambat fungsi sel penyaji dari sel Langerhans. Jenisnya seperti nifedipin
dan amilorid.

7. Derivat vitamin D3
Menghambat proliferasi sel T dan produksi sitokin IL-1, IL-2, IL-6 dan INF-r
yang merupakan mediator-mediator poten dari peradangan. Contohnya adalah
kalsitriol.

8. SDZ ASM 981


Merupakan derivay askomisin dengan aktifitas anti inflamasi yang tinggi.
Dapat juga diberikan secara topical, pemberian secara oral lebih baik daripada
siklosporin
Pathway Dermatitis
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Pemeriksaan fisik
• Kulit
Pemeriksaan kulit meliputi pemeriksaan inspeksi dan palpasi.
1. Inspeksi
a. Higiene kulit
Penilaian atas kebersihan yang merupakan petunjuk umum atas kesehatan
seseorang.
b. Kelainan yang bisa nampak pada inspeksi, yaitu:
 Makula: suatu bercak yang nampak berwarna kemerahan, permukaan kulit datar
dan ukurannya kurang dari 1 cm, misalnya pada morbili atau campak.
 Eritema: suatu bercak kemerahan yang ukurannya lebih besar dari makula,
misalnya: crysipelas
 Papula: suatu lesi kulit yang menonjol lebih tinggi daripada sekitarnya, misal
nya gigitan.
 Vesikula: suatu tonjolan kecil kurang dari 1 cm, berisi cairan yang jernih,
misalnya cacar air herpes simpleks. Jika tonjolannya besar-besar lebih
dari 1 cm disebut bula, misalnya luka bakar.
 Pustula: suatu tonjolan berisi cairan nanah, misalnya impetigo, jerawat, infeksi
kuman staphilococcus (bisul).
 Ulkus: suatu lesi yang terbuka yang diakibatkan pecahnya vesikula dan pustula.
 Crusta: cairan tubuh yang mengering bisa dari serum, nanah, darah dsb.
 Eksoriasis: pengelupasan epidermis pada luka lecet atau abrasi.
 Fisurre: retak / pecahnya jaringan kulit sehingga terbentuk celah retakan. Hal ini
diakibatkan penurunan elastisitas jaringan kulit.
 Cicatrix: pembentukan jaringan ikat pada kulit sesudah penyembuhan luka. Hal
ini bisa karena bakat ( mempunyai kecenderungan untuk itu) ada pula
yang spesifik, yaitu cicatrixbekas irisan kulit pada seseorang mofinis
dan bekas suntikan BCG.
 Petekie: ada bercak pendarahan yang terbatas dan terletak di epidermis kulit
berukuran kurang dari 1 cm.
 Hematoma: pendarahan di bawah kulit yang umumnya berukuran lebih besar
dan berwarna merah, biru, ungu sampai biru.
 Naevus pigmentosus: andeng- andeng atau tahi lalat, hiperpigmentasi pada suatu
daerah kulit dengan batas tegas.
 Hiperpigmentasi: suatu daerah di kulit yang lebih tua warnanya dari kulit
sekitarnya.
 Vitiligo/hipopigmentasi: daerah kulit yang tidak berpigmen/ kurang pigmen
daripada kulit sekitarnya.
 Tatttoo: hiperpigmentasi buatan dengan masukan zat warna.
 Hemangioma: suatu bercak kemerahan akibat pelebaran pembuluh- pembuluh
darah setempat yang biasanya kongenital.
 Spider naevi: suatu pelebaran pembuluh- pembuluh darah arteriola di kulit yang
khas bentuk dan arah aliran darahnya ( keluar) misalnya pada
penderita sirosis hepatis.
 Lichenifikasi: penebalan epidermis dan kekakuan kulit.
 Striae: suatu garis- garis putih kulit yang bisa ditemui pada kulit perut wanita
hamil, orang- orang yang sangat gemuk ( daerah gluteal, lipat bahu,
ketiak ini karena regangan kulit yang melebihi ekstisitisitasnya).
 Mongolian spot: suatu bercak kebiruan yang sering didapat di daerah gluteal
sampai lumbal, bayi-bayi dari ras oriental, Indian, Amerika,
dan Negro.
 Uremie frost: bedak ureum, salju ureum di kulit merupakan kristal halus ureum
yang terjadi akibat menguapnya keringat pasien uremia sehingga
di kulit tertinggal ”bedak” ureum.
 Anemi: pucat bisa dilihat dari telapak tangan mulosa bibir, konjungtiva, warna
dasar kuku karena kurangnya Hb.
 Cyanosis: tampak kulit warna kebiruan akibat jumlah reduced Hb melebihi
kadar 5 % akibat kegagalan transport oksigen atau menumpuknya
CO2 di jaringan.
 Ikterus: warna kuning- kuning kehijauan yang bisa tampak di kulit, telapak
tangan, dan sklera mata karena bilirubin yang tinggi pada penyakit-
penyakit hati.

2. Palpasi
Pada palpasi pertama dirasakan kehangatan kulit (dingin, hangat, demam)
kemudian kelembabannya, pasien dehidrasi terasa kering dan pasien hipertiroidisme
berkeringat terlalu banyak.
a) Tekstur kulit dirasakan halus, lunak, lentur, pada kulit normal. Teraba ksar pada
defisiensi vitamin A, hipotitoid, terlalu sering mandi, banyak ketombe, diaper-
rash (di selangkangan bayi ) akibat popok bayi.
b) Turgor dinilai pada kulit perut dengan cubitan ringan. Bila lambat kembali ke
keadaan semula menunjukkan turgor turun pada pasien dehidrasi.
c) Krepitasi teraba ada gelembung-gelembung udara di bawah kulit akibat fraktura
tulang-tulang iga atau trauma leher yang menusuk kulit sehingga udara paru-paru
bisa berada di bawah kulit dada.
d) Edema adalah terkumpulnya cairan tubuh di jaringan tubuh lebih daripada jumlah
semestinya.

• Kriteria diagnosis dermatitis kontak alergik adalah :


1. Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama, beberapa kali
atau Satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak dengan bahan serupa.
2. Terdapat tanda-tanda dermatitis terutama pada tempat kontak.
3. Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat yang
serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat,
yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak.
4. Rasa gatal.
5. Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif.

• Dermatitis atopik :
Erupsi kulit yang bersifat kronik residif, pada tempat-tempat tertentu seperti lipat
siku, lipat lutut dise rtai riwayat atopi pada penderita atau keluarganya. Penderita
dermatitis atopik mengalami efek pada sisitem imunitas seluler, dimana sel TH2 akan
memsekresi IL-4 yang akan merangsang sel Buntuk memproduksi IgE, dan IL-5 yang
merangsang pembentukan eosinofil. Sebaliknya jumlah sel T dalam sirkulasi menurun
dan kepekaan terhadap alergen kontak menurun.
• Dermatitis numularis :
Merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar
uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.
• Dermatitis medikamentosa:
Adanya riwayat minum obat sebelumnya, setelah itu timbul reaksi obat
mendadak, ruam dapat disertai dengan gejala sistemik atau menyeluruh.

b. Data subyektif
- Pruritus
- Nyeri
- Kecemasan
- Malu
c. Data obyektif
- Eritema
- Vesikel
- warna
- suhu
- Kelembapan / kekeringan
- Tekstur kulit
- Lesi
- Vaskularitas
d. Tanyakan :
- Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat alergi kulit
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat pengobatan sebelumnya
- Riwayat psikososial
2. Diagnosa Keperawatan
1.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan pada kulit
2.Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen
3.Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus
4.Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
5.Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.

3. Intervensi

No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil
1. Gangguan Tujuan : 1. Mandikan anak 1. Dengan mandi air
integritas kulit Setelah dilakukan paling tidak akan meresap dalam
b.d tindakan keperawatan sekali sehari saturasi kulit.
kekeringan selama 3x24 jam, selama 15 – 20 Pengolesan krim
pada kulit diharapkan orang tua menit. Segera pelembab selama 2 –
akan mempertahankan oleskan salep 4 menit setelah
kulit klien agar atau krim yang mandi untuk
mempunyai hidrasi telah diresepkan mencegah
yang baik dan setelah mandi. penguapan air dari
turunnya peradangan Mandi lebih kulit.
sering jika tanda
Kriteria hasil : dan gejala
1. Mengungkapkan meningkat.
peningkatan 2. Gunakan air 2. Air panas
kenyamanan kulit hangat untuk menyebabkan
2. Berkurangnya memandikan vasodilatasi yang
derajat peng- anak. akan meningkatkan
elupasan kulit pruritus.
3. Berkurangnnya 3. Anjurkan orang 3. Sabun yang
kemerahan tua dan anak mengandung
4. Berkurangnya lecet untuk meng pelembab lebih
karena garukan gunakan sabun sedikit kandungan
5. Penyembuhan area yang meng alkalin dan tidak
kulit yang telah andung pelembab membuat kulit
rusak atau sabun untuk kering, sabun kering
kulit sensitive dapat meningkatkan
pada anak. keluhan.
Hindari mandi
busa.
4. Oleskan/berikan 4. Salep atau krim
salep atau krim akan melembabkan
yang telah kulit.
diresepkan 2 atau
tiga kali per hari
pada anak.

2. Resiko Tujuan : 1. Ajari orang tua 1. Menghindari


kerusakan Setelah dilakukan dan anak untuk alergen akan
kulit b.d tindakan keperawatan menghindarkan menurunkan
terpapar selama 3x24 jam atau menurunkan respon alergi
alergen diharapkan klien/orang paparan terhadap
tua akan mempertahan alergen yang
kan integritas kulit klien telah diketahui
Kriteria hasil : pada anak.
1. Menghindari 2. Anjurkan orang 2. Menghindari alergi
alergen tua dan anak makanan.
membaca label
makanan kaleng
agar anak
terhindar dari
bahan makanan
yang
mengandung
allergen
3. Hindari anak 3. Jika alergi
dari binatang terhadap bulu
peliharaan. binatang sebaiknya
hindari memelihara
binatang atau batasi
keberadaan
binatang di sekitar
area rumah
4. Gunakan 4. AC membantu
penyejuk ruangan menurunkan
(AC) di rumah, paparan terhadap
bila beberapa alergen
memungkinkan. yang ada di
lingkungan.

3. Perubahan Tujuan : 1. Jelaskan pada 1. Dengan mengetahui


rasa nyaman Dalam waktu 2x24 orang tua dan proses fisiologis
b.d pruritus jam pasien anak gejala dan psikologis dan
menunjukkan gatal ber- prinsip gatal serta
berkurangnya pruritus hubungan penangannya akan
dengan meningkatkan rasa
Kriteria hasil : penyebabnya kooperatif.
1. Berkurangnya (misal kering
lecet akibat nya kulit) dan
garukan prinsip
2. Klien tidur terapinya (misal
nyenyak tanpa hidrasi) dan
terganggu rasa siklus gatal-
gatal garuk-gatal-
3. Klien garuk.
mengungkapkan 2. Anjurkan 2. Pruritus sering
adanya orang tua dan disebabkan
peningkatan rasa anak untuk oleh dampak
nyaman mencuci semua iritan atau
pakaian allergen dari
sebelum bahan kimia
digunakan atau komponen
untuk pelembut
menghilangkan pakaian.
formaldehid dan
bahan kimia
lain serta
hindari
menggunakan
pelembut
pakaian buatan
pabrik.
3. Anjurkan orang 3. Bahan yang
tua dan anak tertinggal (deterjen)
untuk meng pada pencucian
gunakan pakaian dapat
deterjen ringan menyebabkan
dan bilas iritasi
pakaian untuk
memastikan
sudah tidak ada
sabun yang
tertinggal.

4. Gangguan Tujuan : 1. Nasihati 1. Udara yang kering


pola tidur b .d Dalam waktu 3x24 klien/orang tua membuat kulit
pruritus jam pasien bisa untuk menjaga terasa gatal,
beristirahat tanpa kamar tidur agar lingkungan yang
adanya pruritus. tetap memiliki nyaman
ventilasi dan meningkatkan
Kriteria hasil : kelembaban relaksasi.
1. Mencapai tidur yang baik.
yang nyenyak. 2. Menjaga agar 2. Tindakan ini
2. Melaporkan gatal kulit selalu mencegah
mereda. lembab. kehilangan air, kulit
3. Mempertahankan yang kering dan
kondisi gatal biasanya tidak
lingkungan yang dapat disembuhkan
tepat. tetapi bisa
4. Menghindari dikendalikan.
konsumsi kafein. 3. Menghindari 3. Kafein memiliki
5. Mengenali minuman yang efek puncak 2-4
tindakan untuk mengandung jam setelah
meningkat kan kafein dikonsumsi.
tidur. menjelang tidur.
6. Mengenali pola 4. Melaksanakan 4. Memberikan efek
istirahat/tidur gerak badan menguntungkan
yang memuaskan secara teratur. bila dilaksanakan di
sore hari.
5. Mengerjakan 5. Memudahkan
hal ritual peralihan dari
menjelang tidur. keadaan terjaga ke
keadaan tertidur.

5. Gangguan Tujuan : 1. Kaji adanya 1. Gangguan citra


citra tubuh b.d Setelah melakukan gangguan citra diri akan
penampakan tindakan keperawatan diri menyertai setiap
kulit yang selama 2x24 jam, (menghindari penyakit/keadaan
tidak bagus. Pengembangan kontak yang tampak nyata
peningkatan mata,ucapan bagi klien, kesan
penerimaan diri pada merendahkan orang terhadap
klien tercapai diri sendiri). dirinya
berpengaruh
Kriteria hasil : terhadap konsep
1. Mengembangkan diri.
peningkatan 2. Identifikasi 2. Terdapat hubungan
kemauan untuk stadium antara stadium
menerima psikososial perkembangan,
keadaan diri. terhadap citra diri dan reaksi
2. Mengikuti dan perkembangan. serta pemahaman
turut klien terhadap
berpartisipasi kondisi kulitnya.
dalam tindakan 3. Berikan 3. Pasien
perawatan diri. kesempatan membutuhkan
3. Melaporkan pengungkapan pengalaman
perasaan dalam perasaan. didengarkan dan
pengendalian 4. Nilai rasa dipahami.
situasi. keprihatinan 4. Memberikan
4. Menguatkan dan ketakutan kesempatan pada
kembali dukungan klien, bantu petugas untuk
positif dari diri klien yang menetralkan
sendiri. cemas kecemasan yang
5. Mengutarakan mengembang tidak perlu terjadi
perhatian terhadap kan kemampuan dan memulihkan
diri sendiri yang untuk menilai realitas situasi,
lebih sehat. diri dan ketakutan merusak
6. Tampak tidak mengenali adaptasi pasien.
meprihatinkan masalahnya.
kondisi. 5. Dukung upaya
7. Menggunakan klien untuk 5. Membantu
teknik memperbaiki meningkatkan
penyembunyian citra diri , spt penerimaan diri
kekurangan dan merias, dan sosialisasi.
menekankan merapikan.
teknik untuk 6. Mendorong 6. Membantu
meningkatkan sosialisasi meningkatkan
penampilan dengan orang penerimaan diri
lain. dan sosialisasi
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marlynn E dkk.2005. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


dan pendokumentasian Perawatan pasien, Ed III. Jakarta: EGC

Djuanda, Adhi. (2005). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen.
Jakarta: Salemba Medika.

Panduan Diagnosa Keperawatan. (2009). Nanda 2005-2006 Definisi dan Klasifikasi.Jakarta:


Prima Medika.

Taylor, Cynthia M. (2003). Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan. Jakarta: EGC.