Anda di halaman 1dari 16

“PENCEMARAN AIR LAUT AKIBAT TUMPAHAN MINYAK”

DISUSUN OLEH :

ARIF HARAHAP (1452010004)

DIMAS HAFIS (1452010005)

RAKA RULISTYANTO (1452010038)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan
limpahan rahmat-NYA penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“Pencemaran Air Laut Akibat Tumpahan Minyak”. Penulisan makalah ini merupakan salah
satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Teknologi Pengendalian Pencemaran Air Laut
di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Mengingat akan kemampuan yang penulis miliki, dalam penulisan makalah ini
penulis menyadari masih banyak mempunyai banyak kekurangan baik pada teknik penulisan
maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis butuhkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah selanjutnya.

Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak


yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini khususnya kepada Dosen kami yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas ini. Namun penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Minyak dan gas bumi sampai saat ini masih merupakan merupakan
sumber energi yang menjadi pilihan utama untuk digunakan pada industri, transportasi dan
rumah tangga. Selain itu, pemanfaatan berbagai produk akhir atau produk-produk turunan
minyak bumi juga semakin meningkat sehingga peningkatan akan permintaan minyak bumi
di seluruh dunia telah mengakibatkan pertumbuhan dan ekspansi pada kegiatan eksplorasi
dan pengolahan minyak mentah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun demikian,
kita selalu dihadapkan pada dilema antara peningkatan produksi dengan pelestarian
sumberdaya alam lingkungan serta dampak yang ditimbulkan dari proses produksi tersebut.
Hal ini berarti perkembangan industri baik pengolahan minyak bumi maupun industri yang
menggunakan minyak bumi, ternyata merupakan salah satu sumber pencemar lingkungan
(Astri Nugroho, 2006).

Industri minyak bumi memiliki potensi sebagai sumber dampak terhadap


pencemaran air, tanah dan udara baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengelolaan
limbah pada kegiatan industri minyak pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan
lingkungan dan kemungkinan penurunan kualitas lingkungan. Limbah padat dapat berupa
lumpur minyak, lumpur aktif, drum-drum bekas bahan kimia, sampah dan lain-lain. Limbah
minyak merupakan kotoran minyak yang terbentuk dari proses pengumpulan dan
pengendapan kontaminan minyak. Limbah minyak mengandung minyak, zat padat, air, dan
logam berat. Limbah minyak ini merupakan bahan pencemar yang dapat menimbulkan
dampak negatif bagi lingkungan dan oleh sebab itu harus segera ditanggulangi. Berbagai
upaya yang dilakukan untuk mengatasi pencemaran lingkungan dengan perbaikan pada
sistim penambangan, pengolahan, penyaluran minyak dan pengolahn limbah. Upaya
pencegahan tumpahan minyak di lingkungan dapat dilakukan dengan mengusahan sekecil
mungkin tumpahan yang dapat terjadi (Dessy, Y., 2002).

Penanganan kondisi lingkungan yang tercemari minyak bumi dapat dilakukan secara
fisika, kimia, dan biologi. Penanganan secara fisika biasanya dilakukan pada langkah awal
yaitu dengan mengisolasi secara cepat sebelum tumpahan minyak menyebar kemana-mana.
Metode fisika yang dapat digunakan ialah dengan mengambil kembali minyak bumi yang
tumpah dengan oil skimmer. Penanganan secara kimia lebih mudah dilaksanakan yaitu
tinggal mencari bahankimia dan konsentrasi yang sesuai untuk mendegradasi kandungan
minyak bumi. Misalnya surfaktan sintetis seperti alkil-benzene sulfonat (ABS) dan
turunannya dapat digunakan sebagai bahan baku diterjen dan mengatasi pencemaran minyak
di daratan maupun dipermukaan laut. Namun. ini akan membawa efek sampingan terhadap
kehidupan lingkungan disekitar yang terkena tumpahan minyak yaitu mencemari tanah dan
air serta tidak dapat didegradasi secara biologis. Penanganan secara kimia dan fisika
merupakan cara penanganan cemaran minyak bumi yang membutuhkan waktu yang relatif
singkat, tetapi metode ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Ini dapat dilakukan jika
tumpahan minyak bumi belum menyebar kemana-mana. Jika minyak bumi telah mengendap
dan menyebar sulit dilakukan dengan metode ini. Penanganan secara biologi merupakan
salah satu alternatif dalam upaya mendegradasi kandungan minyak bumi di lingkungan.
Surfaktan ramah lingkungan yang dapat dihasilkan oleh mikroorgansime disebut
biosurfaktan. Aplikasi biosurfaktan dapat digunakan untuk recovery minyak bumi dan
pembersihan tangki. Untuk itu, perlu dicari jenis mikroorganisme yang aktif mendegradasi
minyak bumi (Prince et.al. 2003).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan pencemaran air laut ?
2. Apa penyebab tumpahan minyak di laut ?
3. Permasalahan apa saja yang timbul akibat tumpahan minyak di laut ?
4. Bagaimana cara mengatasi pencemaran yang ditimbulkan akibat tumpahan minyak
di laut ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari pencemaran air laut
2. Untuk mengetahui penyebab tumpahan minyak di laut
3. Untuk mengetahui bahaya yang ditimbulkan oleh air laut yang sudah tercemar
tumpahan minyak
4. Untuk mengetahui cara pencegahan pencemaran air laut akibat tumpahan minyak
1.4 Manfaat
1. Makalah ini dapat menambah wawasan dan memberikan inspirasi dalam
penanggulangan atas permasalahan tumpahan minyak di laut
2. Makalah ini dapat memberi gambaran/ wawasan mengenai permasalahan tumpahan
minyak di laut
3. Makalah ini untuk memenuhi tugas semester 5 mata kuliah Teknologi Pengendalian
Pencemaran Air Laut
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pencemaran Air Laut

Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah


industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke
dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya. Dalam sebuah kasus pencemaran,
banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk partikel kecil yang kemudian diambil oleh
plankton dan binatang dasar, yang sebagian besar adalah pengurai ataupun filter
feeder(menyaring air). Dengan cara ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke
dalam rantai makanan, semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin
besar pula kadar racun yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari partikel
kimiawi ini bereaksi dengan oksigen, menyebabkan perairan menjadi anoxic.

Pencemaran laut (perairan pesisir) didefinisikan sebagai “dampak negatif”


(pengaruh yang membahayakan) terhadap kehidupan biota, sumberdaya dan kenyamanan
(amenities) ekosoistem laut serta kesehatan manusia dan nilai guna lainnya dari ekosistem
laut yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan
atau limbah (termasuk energi) ke dalam laut yang berasal dari kegiatan manusia
(GESAMP,1986).

Menurut Soegiarto (1978), pencemaran laut adalah perubahan laut yang tidak
menguntungkan (merugikan) yang diakibatkan oleh benda-benda asing sebagai akibat
perbuatan manusia berupa sisa-sisa industri, sampah kota, minyak bumi, sisa-sisa biosida, air
panas dan sebagainya.

2.2 Sumber dan Penyebab Pencemaran Air Laut

Sumber
Pencemaran laut pada umumnya diakibatkan oleh masuknya ke lautzat-zat pencemaran dari
(a) lautan sendiri dan (b) yang dibawa berasal dari daratan.

a. Yang bersumber dari pencemaran laut sendiri mungkin berasal dari :


1. Kapal
Berupa pembuangan minyak yang merupakan pembuangan rutin, pembersihan kapal
tangki kebocoran kapal dan hal lain yang mungkin saja dapat terjadi ialah
kecelakaan kapal berupa pecahnya kapal, kandasnya kapal, ataupun tabrakan antar
kapal.
2. Instalasi Minyak di Lautan
Yang mungkin mengalami kebocoran ataupun rusak.
b. Yang bersumber dari darat bisa berupa:
1. Datang melalui udara, berupa pestisida atau lainnya.
2. Pembuangan sampah ke laut (dumping), dan
3. Melalui air buangan sungai

Penyebab

Pencemaran laut dapat disebabkan oleh hal-hal berikut :

a. Pembuangan limbah (rumah tangga/domestik, non domestik, industri, dll) ke perairan


laut
b. Terjadinya erosi yang membawa partikel-partikel tanah ke perairan
c. Penggunaan racun dan bahan peledak dalam penangkapan ikan
d. Tumpahan minyak karena kebocoran tanker/ ledakan sumur minyak lepas pantai

2.3 Perilaku Minyak di Laut

Senyawa Hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berupa benzene,


touleuna, ethylbenzen, dan isomer xylena, dikenal sebagai BTEX, merupakan komponen
utama dalam minyak bumi, bersifat mutagenic dan karsinogenik pada manusia. Senyawa ini
bersifat rekalsitran, yang artinya sulit mengalami perombakan di alam, baik di air maupun
didarat, sehingga hal ini akan mengalami proses biomagnetion pada ikan ataupun pada biota
laut lain. Bila senyawa aromatic tersebut masuk ke dalam darah, akan diserap oleh jaringan
lemak dan akan mengalami oksidasi dalam hati membentuk phenol, kemudian pada proses
berikutnya terjadi reaksi konjugasi membentuk senyawa glucuride yang larut dalam air,
kemudian masuk ke ginjal (Kompas, 2004).

Ketika minyak masuk ke lingkungan laut, maka minyak tersebut dengan segera akan
mengalami perubahan secara fisik dan kimia. Diantaran proses tersebut adalah membentuk
lapisan ( slick formation ), menyebar (dissolution), menguap (evaporation), polimerasi
(polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil
emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water emulsions), fotooksida, biodegradasi
mikorba, sedimentasi, dicerna oleh planton dan bentukan gumpalan (Mukhstasor, 2007).

Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan segera


membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut
digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan
permukaan. Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap.
Proses penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan
meningkat. Hilangnya sebagian material yang mudah menguap tersebut membuat minyak
lebih padat/ berat dan membuatnya tenggelam. Komponen hidrokarbon yang terlarut dalam
air laut, akan membuat lapisan lebih tebal dan melekat, dan turbulensi air akan menyebabkan
emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Ketika semua terjadi, reaksi fotokimia dapat
mengubah karakter minyak dan akan terjadi biodegradasi oleh mikroba yang akan
mengurangi jumlah minyak. Proses pembentukan lapisan minyak yang begitu cepat,
ditambah dengan penguapan komponen dan penyebaran komponen hidrokarbon akan
mengurangi volume tumpahan sebanyak 50% selama beberapa hari sejak pertama kali
minyak tersebut tumpah. Produk kilang minyak, seperti gasoline atau kerosin hamper semua
lenyap, sebaliknya minyak mentah dengan viskositas yang tinggi hanya mengalami
pengurangan kurang dari 25%.

2.4 Dampak Pencemaran Air Laut Akibat Tumpahan Minyak

Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan mengapung yang
menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak tenggelam dan
terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai.
Komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh pada reproduksi, perkembangan,
pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada plankton, bahkan dapat mematikan ikan,
dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan. Proses emulsifikasi merupakan sumber
mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan perkembangan embrio karena pada
tahap ini sangat rentan pada lingkungan tercemar (Fakhrudin, 2004).

Bahwa dampak-dampak yang disebabkan oleh pencemaran minyak di laut adalah


akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang.

a. Akibat jangka pendek


Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membran sel biota laut, mengakibatkan
keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke dalam sel. Berbagai jenis
udang dan ikan akan beraroma dan berbau minyak, sehingga menurun mutunya. Secara
langsung minyak menyebabkan kematian pada ikan karena kekurangan oksigen,
keracunan karbon dioksida, dan keracunan langsung oleh bahan berbahaya.
b. Akibat jangka panjang
Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak di dalam laut dapat termakan oleh biota
laut. Sebagian senyawa minyak dapat dikeluarkan bersama-sama makanan, sedang
sebagian lagi dapat terakumulasi dalam senyawa lemak dan protein. Sifat akumulasi ini
dapat dipindahkan dari organisma satu ke organisma lain melalui rantai makanan. Jadi,
akumulasi minyak di dalam zooplankton dapat berpindah ke ikan pemangsanya.
Demikian seterusnya bila ikan tersebut dimakan ikan yang lebih besar, hewan-hewan
laut lainnya, dan bahkan manusia. Secara tidak langsung, pencemaran laut akibat minyak
mentah dengan susunannya yang kompleks dapat membinasakan kekayaan laut dan
mengganggu kesuburan lumpur di dasar laut. Ikan yang hidup di sekeliling laut akan
tercemar atau mati dan banyak pula yang bermigrasi ke daerah lain.
Minyak yang tergenang di atas permukaan laut akan menghalangi masuknya sinar matahari
sampai ke lapisan air dimana ikan berkembang biak. Menurut Fakhrudin (2004), lapisan
minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi kelarutan
oksigen yang akhirnya sampai pada tingkat tidak cukup untuk mendukung bentuk kehidupan
laut yang aerob. Lapisan minyak yang tergenang tersebut juga akan mempengarungi
pertumbuhan rumput laut , lamun dan tumbuhan laut lainnya jika menempel pada permukaan
daunnya, karena dapat mengganggu proses metabolisme pada tumbuhan tersebut seperti
respirasi, selain itu juga akan menghambat terjadinya proses fotosintesis karena lapisan
minyak di permukaan laut akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam zona
euphotik, sehingga rantai makanan yang berawal pada phytoplankton akan terputus. Jika
lapisan minyak tersebut tenggelam dan menutupi substrat, selain akan mematikan organisme
benthos juga akan terjadi perbusukan akar pada tumbuhan laut yang ada.
Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove. Minyak tersebut berpengaruh
terhadap sistem perakaran mangrove yang berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2, dimana
akar tersebut akan tertutup minyak sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang. Jika
minyak mengendap dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan pembusukan pada
akar mangrove yang mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove tersebut. Tumpahan
minyak juga akan menyebabkan kematian fauna-fauna yang hidup berasosiasi dengan hutan
mangrove seperti moluska, kepiting, ikan, udang, dan biota lainnya.

2.4 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Air Laut

Pencegahan

 Pengadaan tangki ballast terpisah ( Seperated ballast tank ) atau COW pada ukuran
kapal-kapal tanki tertentu ditambah dengan peralatan ODM oil Separator dan sebagainya
 Memberi batasan-batasan jumlah minyak yang dapat dibuangkelaut
 Menentukan daerah-daerah pembuangan minyak
 Keharusan pelabuhan-pelabuhan khusus pelabuhan minyak untuk menyediakan tanki
penampungan slop ( Ballast kotor )
 Tidak menggunakan pukat harimau atau bom bagi nelayan yang mencari ikan
 Tidak membuang sampah di laut
 Mengurangi dan mendaur ulang sampah (prinsip 3R)
 Pembuangan limbah industri diatur sehinga tidak mencemari lingkungan atau ekosistem
dengan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
 Pengawasan terhadap penggunaan jenis-jenis pestisida dan zat-zat kimia lain yang dapat
menimbulkan pencemaran.
 Melakukan pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan
penginderaan jauh (remote sensing).

Pengamatan secara visual

Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini
melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada
umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada
tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga
menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna
terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari,
sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya.

Pengamatan penginderaan jauh

Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-
looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga
menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik
ini hanya bisa mendeteksi lapisan minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi
minyak yang berada dibawah air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan
juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, danLandsat Satellite
System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat.

Penanggulangan

 In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi
kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan
minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk
mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa
tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar.
Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.
 Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan
menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan
menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.
 Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai
spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain
itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat
penurunan polutan.
 Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui
mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent)
dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah
fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan.
Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di
permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent
yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami
(lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilendan
serat nilon).
 Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil
(droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam
tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang
disebut surfaktan.
 Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.
 Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan.
 Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup sehingga
manusia lebih mencintai lingkungannya.

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan

Pencemaran laut terjadi apabila dimasukkannya oleh manusia, baik secara langsung
maupun tidak langsung, sesuatu benda, zat atau energi ke dalam lingkungan laut, sehingga
menimbulkan akibat sedemikian rupa kepada alam dan membahayakan kesehatan serta
kehidupan manusia dan ekosistem serta merugikan lingkungan yang baik dan fungsi laut
sebagaimana mestinya. Tumpahan minyak menjadi penyebab utama pencemaran laut.
Minyak yang tumpah diakibatkan oleh operasi kapal tanker, docking (perbaikan/perawatan
kapal), terminal bongkar muat tengah laut, tanki ballast dan tanki bahan bakar, scrapping
kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua), kecelakaan tanker (kebocoran
lambung, kandas, ledakan, kebakaran dan tabrakan), sumber di darat (minyak pelumas bekas,
atau cairan yang mengandung hydrocarbon ( perkantoran & industri ), dan tempat
pembersihan (dari limbah pembuangan Refinery ).

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya adalah in-situ


burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan
bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya
efektif pada kondisi tertentu.

Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan mengapung yang
menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak tenggelam dan
terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai.
Komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh pada reproduksi, perkembangan,
pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada plankton, bahkan dapat mematikan ikan,
dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan.

3.2 Saran
Masuknya minyak ke dalam perairan karena aktifitas manusia merupakan hal yang
fatal. Sehingga kita sebagai insan akademisi di harapkan terus memberi kontribusi dengan
memikirkan masalah-masalah serius seperti ini. Upaya pencegahan maupun penanggulangan
pemcemaran laut telah diatur oleh pemerintah dalam PERATURAN PEMERINTAH
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN
PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT.
DAFTAR PUSTAKA

Fakhruddin.2004.Dampak Tumpahan Minyak Pada Biota Laut. Jakarta : Kompas

Furkhon.2010. Analisis Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak di Laut. Bandung :


Unpad

Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta : C.V. Andi Offset

Hartanto, Benny. 2008. Oil Spill (Tumpahan Minyak) Di Laut Dan Beberapa Kasus di
Indonesia. Yogyakarta : Bahari Jogja

Juarir Sumardi. 1996. Hukum Pencemaran Laut Transnasional. Bandung : Citra Aditya
Bakti

Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta : PT Pradnya Paramita

Mochtar kusumaatmadja. 1992. Perlindungan dan Pelertarian Lingkungan Laut Dilihat dari
Sudut Hukum Internasional, Regional, dan Nasional. Jakarta : Sinar Grafika dan Pusat
Studi Wawasan Nusantara

Alamsyah, Rachmat Benny, 1999, Kebijaksanaan, Strategi, dan Program Pengendalian


Pencemaran dalam Pengelolaan Pesisir dan Laut, Prosiding Seminar Sehari Teknologi dan
Pengelolaan Kualitas Lingkungan Pesisir dan Laut, Bandung: Jurusan Teknologi Lingkungan
ITB.

Charade, Titi Heri Subandri, 1983, Sekali Lagi Tentang Penanggulangannya : Pencemaran
Air Akibat Industri Minyak, dalam Harian Pikiran Rakyat, edisi 15Mei 1983. Eckenfelder Jr.,
W.Wesley, 1989, Industrial Water Pollution Control, 2ndedition, Singapore: McGraw Hill
International Editions.

Pramudianto, Bambang, 1999, Sosialisasi PP No.19/1999 tentang Pengendalian Pencemaran


dan atau Perusakan Laut, Prosiding Seminar Sehari Teknologi dan Pengelolaan Kualitas
Lingkungan Pesisir dan Laut, Bandung: Jurusan Teknologi Lingkungan ITB.