Anda di halaman 1dari 14

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH

SEKRETARIAT DAERAH
Jln. Gajah Mada No.109-Praya, Tlp. (0370) 654078 No.Fax. (0370) 654073

TELAAHAN STAF
Kepada : 1. Wakil Bupati Lombok Tengah;
2. Sekretaris Daerah;
3. Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra;
4. Camat Praya
5. Camat Praya Tengah
Dari : HERMAN EFENDY, SSTP., M.M.
Pangkat : Penata Tingkat I (III/d)
Jabatan :
Tanggal : 03 Januari 2017
Nomor : 145 / 01 / APU
Sifat : -
Lampira : 1 (satu) Gabung
n
Perihal : OPTIMALISASI FORUM KOORDINASI PIMPINAN
KECAMATAN (FORKOPIMCA) DI KABUPATEN LOMBOK
TENGAH

I. PERSOALAN :

Peran FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah perlu


lebih ditingkatkan untuk menunjang efektifitas penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di kecamatan.

II. PRA ANGGAPAN :

Koordinasi antar kecamatan dengan SKPD dan instansi


vertikal yang terdapat di Kecamatan saat ini belum terlaksana
secara optimal. Koordinasi yang terjadi cenderung hanya
bersifat insidental atau simbolis sesuai dengan kebiasaan-
kebiasaan yang selama ini dipraktekkan di Kecamatan. Oleh
karena itu, perlu disusun telaahan staf sebagai bahan masukan
bagi pimpinan dalam merumuskan kebijakan tentang
optimalisasi peran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan
(FORKOPIMCA) di Kabupaten Lombok Tengah.

HERMAN’S FILE 2017 1


III. FAKTA-FAKTA YANG
MEMPENGARUHI :

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan selama ini,


terdapat beberapa fakta yang berkaitan dengan FORKOPIMCA di
Kabupaten Lombok Tengah antara lain:

1) Koordinasi / pertemuan antar FORKOPIMCA di Kabupaten


Lombok Tengah biasanya dilaksanakan secara insidental
ketika terjadi suatu permasalahan yang memerlukan
komunikasi dan koordinasi antar anggota FORKOPIMCA;
2) FORKOPIMCA tidak memiliki program atau rencana kerja
tahunan yang dijadikan landasan/ pedoman dalam
pelaksanaan koordinasi di kecamatan;
3) FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah tidak memiliki
prosedur kerja / SOP dalam koordinasi pelaksanaan tugas di
Kecamatan;
4) Tidak ada anggaran/ pembiayaan khusus untuk kegiatan
FORKOPIMCA;
5) Seringnya terjadi perubahan personil FORKOPIMCA karena
adanya mutasi jabatan pada instansi vertikal di Kabupaten
Lombok Tengah;
6) Pertemuan antar anggota FORKOPIMCA biasanya hanya
terjadi dalam kegiatan-kegiatan seremonial di Kecamatan;
7) FORKOPIMCA tidak memiliki sekretariat untuk mendukung
pelaksanaan rencana kerja / kegiatan;
8) Selama ini tidak pernah dilaksanakan evaluasi terhadap
efektifitas FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah.

IV. ANALISIS :
Teknik analisis yang digunakan dalam penyusunan telaahan staf
ini adalah studi pustaka dan studi empiris. Studi pustaka dilakukan
untuk mengkaji/menganalisis peraturan dan referensi yang berkaitan
dengan FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah. Hal tersebut
kemudian dielaborasi dengan kondisi empiris berdasarkan observasi
yang telah penulis lakukan.
Adapun beberapa analisis yang telah penulis lakukan adalah
sebagai berikut:

HERMAN’S FILE 2017 2


ANALISIS TEORITIS:
Definis koordinasi:
1. Winardi dalam Victoria (2012):
“Koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan-tujuan
dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah atau
departemen atau bidang- bidang fungsional dari suatu
organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.
Tanpa koordinasi, individu-individu dan departemen-departemen
akan kehilangan pegangan atas peranan mereka dalam
organisasi. Mereka akan mulai mengejar kepentingan sendiri
yang sering merugikan organisasi”.
2. Mc. Farlan dalam Handayaningrat, (2002:90)
sebagaimana dikutip oleh Rahmadeni (2010) menyebutkan
bahwa ciri-ciri koordinasi adalah :
a) Tanggung jawab terletak pada pimpinan;
b) Adanya proses;
c) Pengaturan secara teratur dari pada usaha kelompok;
d) Kesatuan tindakan;
e) Tujuan Koordinasi.
3. Menurut Siagian dalam Moekijat (1996:6) sebagaimana
dikutip oleh Mirwan (2013) koordinasi adalah :“Pengaturan tata
hubungan dari usaha bersama untuk memperoleh kesatuan
tindakan dalam usaha pencapaian tujuan bersama pula. Dan
merupakan suatu proses yang mengatur agar pembagian kerja
dari berbagai orang atau kelompok dapat tersusun menjadi
suatu kebutuhan yang terintegrasi dengan cara yang seefisien
mungkin”.
4. Mintzberg dalam Suryawikarta (1995:10) sebagaimana
dikutip oleh Victoria (2012) memberikan definisi koordinasi
sebagai berikut:
a. Penyesuaian bersama (Mutual Adjusment). Dalam
hal ini komunikasi diwujudkan dengan proses komunikasi
informal;
b. Supervisi Langsung (Direct Supervisi). Dalam hal ini
komunikasi diwujudkan melalui seseorang yang berwenang
memberi perintah atau intruksi kepada beberapa orang
yang pekerjaannya saling terkait.
c. Pembakuan proses pelaksanaan pekerjaan dapat
diwujudkan melalui pengkhususan proses-proses
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh orang- orang
yang tugasnya saling terkait;

HERMAN’S FILE 2017 3


d. Pembakuan hasil (Standardization of out put). Dalam
hal ini koordinasi dapat diwujudkan melalui spesifikasi atau
pengkhususan hasil dari berbagai pekerjaan yang berbeda-
beda.
Berdasarkan berbagai definisi tersebut, diketahui bahwa
koordinasi adalah suatu usaha kerja sama antara badan, instansi, unit
dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu, sehingga terdapat saling
mengisi, saling membantu dan saling melengkapi. Koordinasi
berhubungan dengan sinkronisasi, jumlah, waktu, dan arah
pelaksanaan program/ kegiatan dari berbagi badan/ instansi/ unit
kerja.
Tujuan utama dari koordinasi adalah efektifitas pencapaian
tujuan organisasi. Dengan demikian, tujuan dari koordinasi yang
dilaksanakan oleh FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah adalah
efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sesuai
dengan fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing anggota
FORKOPIMCA. Berkaitan dengan hal tersebut, Iskandar dalam
Yandiana, (2013:7) mengatakan bahwa koordinasi yang efektif dapat
dilihat dari 3 (tiga) dimensi yaitu :
1. Kegiatan perencanaan yaitu dimaksudkan dalam rangka
pencapaian tujuan-tujuan pemerintahan.
2. Pelaksanaan program yaitu berkaitan dengan substansi
koordinasi pada tataran operasional.
3. Komunikasi yaitu merupakan hal yang penting dalam
manajemen, karena proses manajemen baru terlaksana jika
komunikasi dilakukan.
Optimalisasi peran FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah
utamanya dihajatkan untuk meningkatkan efektifitas koordinasi yang
dilaksanakan. Handoko dalam Yandiana (2013:8), memberikan definisi
efektifitas sebagai “kemampuan untuk memilih tujuan yang
tepat/peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan”. Konsep efektivitas juga dikemukakan oleh Siagian dalam
Yandiana, (2013:8) sebagai “penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu
yang telah ditetapkan”. Artinya, pelaksanaan sesuatu tugas dinilai
baik jika tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Efektifitas
tidak melihat dari aspek cara melaksanakannya dan berapa biaya
yang dikeluarkan untuk itu. Bahkan ada beberapa jenis kegiatan yang
sangat menuntut efektivitas tanpa terlalu memperhitungkan efisiensi.
Menurut Siagian dalam Yandiana, (2013:8) dimensi atau indikator
dari efektifitas adalah sebagai berikut:

HERMAN’S FILE 2017 4


1. Ukuran waktu: yaitu berapa lama seseorang dapat
menyelesaikan pekerjaan, kepastian waktu, ketepatan waktu.
2. Ukuran biaya: kepastian biaya kegiatan, biaya perjalanan
dinas, perbandingan antara biaya dan hasil output.
3. Ukuran nilai-nilai sosial budaya: dalam arti bagaimana
tanggung jawab terhadap pekerjaan dan budaya kerja.
4. Ukuran ketelitian: ketelitian melaksanakan tugas,
pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil kerja, kepercayaan atas
ketelitian hasil pekerjaan.

ANALISIS YURIDIS:
Koordinasi Pemerintahan menurut UU Nomor 5 Tahun 1974

1. Dalam sistem desentralisasinya, UU Nomor 5 Tahun 1974

menganut pendekatan uniteritorial dan unipersonal sebagai


konsekuensi logis dari prinsip integrated field administration;

2. Camat karena jabatannya adalah juga Kepala Wilayah.


Sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah Kepala Wilayah
menjalankan fungsi koordinasi terhadap semua instansi vertikal
dan dinas daerah yang ada diwilayahnya (PP Nomor 6 Tahun
1988);

3. Untuk memudahkan komunikasi dibangun forum yang


dinamakan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (MUSPICA) dan
Musyawarah Pimpinan daerah (MUSPIDA);

4. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1976,


Pimpinan Muspida secara ex-officio dijabat oleh Kepala Wilayah
dengan keanggotaan dari :
- Pimpinan unsur Pertahanan (AD, AL, AU);
- Pimpinan unsur Kepolisian;
- Pimpinan unsur Peradilan;
- Unsur Kejaksaan;
5. Kepala Wilayah secara ex-officio menjabat sebagai
Pimpinan MUSPIDA dan MUSPICA;
6. Koordinasi jauh lebih mudah dilaksanakan karena adanya
satu garis komando dari masing-masing pimpinan instansi yang
semuanya bermuara di tangan Presiden.
7. Wibawa Kepala Wilayah sebagai Pimpinan MUSPIDA/
MUSPICA disegani karena dilengkapi dengan kewenangan yg
bersifat desisif
HERMAN’S FILE 2017 5
Koordinasi Pemerintahan menurut UU No. 22 Tahun 1999
 UU Nomor 22 Tahun 1999 menggunakan prinsip
kompetensi umum (general competence principles) dengan
memberi kewenangan yang luas kepada daerah dalam rangka
desentralisasi dengan membatasi asas dekonsentrasi.
 Di tingkat Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota tidak lagi
menjabat sebagai Kepala Wilayah. Begitu juga di tingkat
kecamatan, Camat bukan lagi Kepala Wilayah melainkan
sebagai Perangkat Daerah.
 Posisi Kepala Wilayah hanya ada di tingkat Provinsi yang
secara ex-officio dijabat oleh Gubernur sebagai Kepala Daerah
Provinsi;
 Bagi Gubernur PP Nomor 6 Tahun 1988 masih dapat
digunakan sebagai dasar hukum untuk melaksanakan koordinasi
horisontal maupun vertikal ke bawah;
 Bupati dan Camat bukan lagi sebagai Kepala Wilayah,
sehingga PP Nomor 6 Tahun 1988 tidak dapat digunakan
sebagai landasan hukum melakukan koordinasi dengan Instansi
Vertikal yang ada di wilayahnya;
 Kedudukan Bupati dan Camat sebagai koordinator
pemerintahan di wilayahnya tidak diatur secara jelas di dalam
UU Nomor 22 Tahun 1999;
 Karena Bupati dan Camat bukan lagi sebagai Kepala
Wilayah/Wakil Pemerintah Pusat di Daerah, maka komposisi dan
hubungan kerja dalam Forum MUSPIDA dan MUSPICA perlu
ditata ulang.
Koordinasi Menurut UU No. 32 Tahun 2004
1. Pengaturan koordinasi pemerintahan dalam UU Nomor
32/2004 sama tidak jelasnya dengan pengaturan pada UU
Nomor 22/1999. Pada UU ini, kedudukan Gubernur sebagai Wakil
Pemerintah Pusat lebih kuat dibandingkan masa UU 22/1999.
Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengevaluasi dan
bahkan membatalkan Perda APBD Kabupaten/Kota. Gubernur
juga mempunyai kewenangan untuk melakukan evaluasi
terhadap usulan pengisian jabatan eselon II di tingkat
Kabupaten/Kota;
2. Perubahan paradigma pembagian kekuasaan menjadi
pemisahan kekuasaan di tingkat nasional, berdampak pada
hubungan antar unsur pemerintahan di tingkat Daerah.
HERMAN’S FILE 2017 6
Mengingat Unsur pengadilan tidak lagi berada di bawah
eksekutif – melainkan sebagai institusi di bawah MA yang bebas
dari pengaruh kekuasaan cabang-cabang pemerintahan lainnya,
maka komposisi MUSPIDA juga perlu disusun ulang. Unsur
Pengadilan (Pengadilan Negeri di tingkat Kabupaten/Kota dan
Pengadilan Tinggi di tingkat Provinsi) sudah seharusnya tidak
lagi menjadi anggota MUSPIDA.
3. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004, Bupati dan Camat
tidak lagi berkedudukan sebagai Kepala Wilayah. Dengan
demikian tidak otomatis mempunyai kewenangan melakukan
koordinasi instansi vertikal di wilayahnya. Koordinasi yang
dijalankan saat ini, termasuk forum MUSPIDA dan MUSPICA
hanyalah meneruskan praktik pemerintahan yg selama ini ada
tetapi tanpa dasar hukum yg jelas. PP Nomor 6 Tahun 1988 tidak
berlaku lagi untuk Bupati maupun Camat;
4. Instansi Vertikal yang ada di Daerah Kabupaten/ Kota
antara lain :
 Instansi TNI AD (Kodim) TNI AL yang setingkat atau
TNI AU yang setingkat;
 Instansi Kepolisian ( Polres/Polresta dlsb);
 Instansi Pengadilan (Pengadilan Negeri);
 Instansi Kejaksaan (Kejaksaan Negeri);
 Kantor Statistik;
 Kantor Kementerian Agama;
 Badan Pertanahan Nasional Kab/Kota;
 Instansi Vertikal lainnya yang bersifat tentatif.
5. SKPD dan Instansi Vertikal yang ada di wilayah kecamatan
antara lain :
 Instansi TNI AD (Koramil);
 Instansi Kepolisian ( Polsek);
 Kepala kantor Urusan Agama (KUA);
 Pejabat Mantri Statistik (Mantis);
 UPT Puskesmas;
 UPT DIKPORA;
 UPT Pertanian/ peternakan;
 UPT Terminal;
 UPT Kelautan dan Perikanan;
 UPT Pariwisata;

HERMAN’S FILE 2017 7


Koordinasi Menurut UU No. 23 Tahun 2014

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah pada pasal 209 dijelaskan bahwa Kecamatan adalah
perangkat daerah Kabupaten/kota sebagaimana dijelaskan pada ayat
(2) huruf f, sebagai berikut :
(2) Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas:
a. sekretariat daerah;
b. sekretariat DPRD;
c. inspektorat;
d. dinas;
e. badan; dan
f. Kecamatan.

Kedudukan Kecamatan dijelaskan pada Pasal 221 UU No. 23 Th.2014


sebagai berikut:
(1) Daerah kabupaten/kota membentuk Kecamatan dalam rangka
meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan,
pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat Desa/kelurahan.
(2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan
Perda Kabupaten/Kota berpedoman pada peraturan pemerintah.
(3) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pembentukan
Kecamatan yang telah mendapatkan persetujuan bersama
bupati/wali kota dan DPRD kabupaten/kota, sebelum ditetapkan
oleh bupati/ wali kota disampaikan kepada Menteri melalui
gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk mendapat
persetujuan.
Jadi Kecamatan dibentuk dalam rangka meningkatkan koordinasi
penyelenggaraan pemerintahan. Camat sebagai pimpinan tertinggi di
Kecamatan harus dapat mengkoordinasikan semua urusan
pemerintahan di Kecamatan, kemudian juga Camat harus memberikan
pelayanan publik di Kecamatan dan juga pemberdayaan masyarakat
Desa/Kelurahan.

Khusus untuk menyelenggarakan koordinasi tersebut, di Kecamatan


dibentuk forum koordinasi pimpinan kecamatan (FORKOPIMCA)
sebagaimana diatur dalam Pasal 69 UU No. 23 Th.2014 sebagai
berikut:
Pasal 69
(4) Anggota forum koordinasi pimpinan di Kecamatan terdiri atas
pimpinan kepolisian dan pimpinan kewilayahan Tentara Nasional
Indonesia di Kecamatan.
(5) Forkopimda provinsi, Forkopimda kabupaten/kota dan forum
koordinasi pimpinan di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat mengundang pimpinan Instansi Vertikal sesuai
dengan masalah yang dibahas.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Forkopimda dan forum koordinasi
pimpinan di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dalam peraturan pemerintah.

Koordinasi menjadi salah satu tugas utama camat sebagaimana


diatur dalam Pasal 225 UU No 23 Tahun 2014 sebagai berikut :
HERMAN’S FILE 2017 8
(1) Camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 ayat (1)
mempunyai tugas:
a. menyelenggaraan urusan pemerintahan umum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (6);
b. mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat;
c. mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman
dan ketertiban umum;
d. mengoordinasikan penerapan dan penegakan Perda dan
Perkada;
e. mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana
pelayanan umum;
f. mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan
pemerintahan yang dilakukan oleh Perangkat Daerah di
Kecamatan;
g. membina dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan Desa
dan/atau kelurahan;
h. melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan
oleh unit kerja Perangkat Daerah kabupaten/kota yang ada di
Kecamatan; dan
i. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan.
(2) Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan umum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibebankan pada
APBN dan pelaksanaan tugas lain sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf i dibebankan kepada yang menugasi.
(3) Camat dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dibantu oleh perangkat Kecamatan.

V. KESIMPULAN :

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan


beberapa hal sebagai berikut:

1. Koordinasi dalam penyelenggaraan pemerintahan


Kecamatan sangat diperlukan dalam upaya sinkronisasi dan
mengintegrasikan pelaksanaan program dan kegiatan pada
instansi-instansi vertikal dan UPTD SKPD di Kecamatan.
Koordinasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan efektifitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di
Kecamatan;

HERMAN’S FILE 2017 9


2. Keberhasilan pelaksanaan koordinasi yang dilaksanakan
oleh FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah utamanya
dapat dilihat dari efektifitas pelaksanaan koordinasi yang
dilaksanakan. Berkaitan dengan hal tersebut, Iskandar dalam
Yandiana, (2013:7) mengatakan bahwa untuk mencapai
koordinasi yang efektif menggunakan 3 (tiga) dimensi yaitu :
a) Kegiatan perencanaan yaitu dimaksudkan dalam
rangka pencapaian tujuan-tujuan pemerintahan.
b) Pelaksanaan program yaitu berkaitan dengan
substansi koordinasi pada tataran operasional.
c) Komunikasi yaitu merupakan hal yang penting
dalam manajemen, karena proses manajemen baru
terlaksana jika komunikasi dilakukan.
3. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1974, Camat karena
jabatannya adalah juga Kepala Wilayah. Sebagai Wakil
Pemerintah Pusat di Daerah Kepala Wilayah menjalankan fungsi
koordinasi terhadap semua instansi vertikal dan dinas daerah
yang ada diwilayahnya (PP Nomor 6 Tahun 1988);
4. Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 Camat tidak lagi
menjabat sebagai Kepala Wilayah. Camat bukan lagi Kepala
Wilayah melainkan sebagai Perangkat Daerah. Posisi Kepala
Wilayah hanya ada di tingkat Provinsi yang secara ex-officio
dijabat oleh Gubernur sebagai Kepala Daerah Provinsi.
5. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004, Camat tidak lagi
berkedudukan sebagai Kepala Wilayah. Dengan demikian tidak
otomatis mempunyai kewenangan melakukan koordinasi
instansi vertikal di wilayah kerjanya. Koordinasi yang dijalankan
saat ini, termasuk forum MUSPICA hanyalah meneruskan praktik
pemerintahan yang selama ini ada;
6. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014, camat memiliki
landasan hukum untuk melakukan koordinasi dengan instansi
vertikal di daerah dan membentuk forum koordinasi pimpinan
kecamatan (FORKOPIMCA) sebagaimana telah diatur dalam
Pasal 69 dan Pasal 225 UU No. 23 Tahun 2014.

VI. SARAN :

HERMAN’S FILE 2017 10


Adapun beberapa saran yang dapat kami usulkan dalam
telaahan staf ini adalah sebagai berikut:

1) Optimalisasi peran FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok


Tengah utamanya dapat dilakukan melalui peningkatan
efektifitas koordinasi yang dilakukan. Oleh karena itu,
FORKOMPINCA harus memperhatikan 3 (tiga) dimensi koordinasi
yaitu:
j. Dimensi perencanaan yaitu dimensi yang disusun
dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pemerintahan.
Menurut penulis upaya optimalisasi peran FORKOPIMCA
di Kabupaten Lombok Tengah melalui dimensi
perencanaan antara lain sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan identifikasi Tupoksi dan
identifikasi program / kegiatan dari seluruh UPT dan
instansi vertikal yang terdapat di wilayah
kecamatan. Identifikasi ini meliputi jenis, waktu,
konten serta anggaran program/ kegiatan yang
memiliki keterkaitan dengan UPT dan Instansi
vertikal lainnya di kecamatan. Hasil identifikasi
tersebut selanjutnya dijadikan bahan dalam
penyusunan program /rencana kerja FORKOPIMCA
sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan
koordinasi antar seluruh anggota FORKOPIMCA.
2. Perlu penyusunan dan penetapan program/
rencana kerja FORKOPIMCA secara lengkap dan
rinci setiap tahunnya. Program/ rencana kerja
tersebut harus dilengkapi dengan jadwal waktu
pelaksanaan, personil yang terlibat, pembiayaan
sampai dengan indikator kinerja yang digunakan.
Usulan program FORKOPIMCA terlampir.
k. Dimensi pelaksanaan program yaitu berkaitan
dengan substansi koordinasi pada tataran operasional.
FORKOPIMCA terdiri dari Camat dan instansi vertikal yang
memiliki Tupoksi spesifik dan tidak memiliki hubungan
secara hirarkis/ struktural. Oleh karena itu, pada tataran
operasional, FORKOPIMCA perlu dilengkapi dengan
prosedur / mekanisme kerja / pedoman umum (SOP).
Pedoman umum (SOP) ini merupakan kesepakatan
bersama antar anggota FORKOPIMCA dan tidak
bertentangan dengan peraturan / ketentuan pada
masing-masing anggota FORKOPIMCA;
HERMAN’S FILE 2017 11
l. Dimensi komunikasi yaitu merupakan hal yang
penting dalam manajemen, karena proses manajemen
baru terlaksana jika komunikasi dilakukan. Dalam proses
komunikasi, pemberi dan penerima informasi akan saling
memberikan data atau informasi yang berkaitan dengan
pelaksanaan program/ kegiatan/ rencana kerja
FORKOPIMCA. Untuk memfasilitasi proses komunikasi
antara anggota FORKOPIMCA maka perlu dilakukan rapat
koordinasi secara rutin dan terencana. Rapat/ pertemuan
yang dilaksanakan antara anggota FORKOPIMCA tidak
hanya dilaksanakan pada saat upacara/ kegiatan
seremonial belaka. Rapat koordinasi perlu dilaksanakan
secara rutin dan tanpa diwakili oleh pejabat lain.
Pelaksanaan rapat koordinasi ini dapat menjadi wadah
utama dalam melaksanakan komunikasi antar seluruh
anggota;
2) Camat perlu menyiapkan sekretariat untuk mendukung
pelaksanaan rencana kerja / kegiatan FORKOPIMCA.
Sekretariat ini berfungsi untuk memberikan dukungan
(staffing) bagi pelaksanaan kegiatan FORKOPIMCA.
Keberadaan Sekretariat diharapkan dapat memberikan
manfaat dalam aspek pembiayaan, fasilitasi, dokumentasi dan
sinkronisasi pelaksanaan kegiatan FORKOPIMCA dapat lebih
optimal. Untuk lebih memudahkan pelaksanaan koordinasi,
maka penulis mengusulkan agar Kantor Camat dapat
dijadikan sebagai sekretariat FORKOPIMCA. Sekretariat
dipimpin langsung oleh sekretaris Kecamatan atau Kepala
Seksi pemerintahan.
3) Beberapa bentuk koordinasi yang dapat dilaksanakan di
kecamatan yaitu:
a. Rapat Koordinasi antara lembaga (kecamatan,
instansi vertikal, UPT, dll);
b. Konsultasi antara kepala instansi atau lembaga;
c. Sosialisasi tujuan kegiatan dan proyek yang akan
dilaksanakan oleh kecamatan, instansi vertikal dan
UPT;
d. Melakukan pemantauan dan pengawasan secara
bersama;
e. Antara lembaga saling memberikan data / informasi.
4) Perlu dilakukan evaluasi secara rutin terhadap efektifitas
FORKOPIMCA di Kabupaten Lombok Tengah. Evaluasi ini dapat

HERMAN’S FILE 2017 12


dilakukan oleh sekretariat FORKOPIMCA dengan menggunakan
indikator yang telah dirumuskan dan ditetapkan. Adapun
usulan indikator evaluasi FORKOPIMNCA yang dapat penulis
sampaikan adalah sebagai berikut:
a) Aspek perencanaan;
b) Aspek efektifitas pelaksanaan program;
c) Aspek efektifitas komunikasi;
d) Aspek pencapaian target/ tujuan.
5) Menurut penulis, FORKOPIMCA di kecamatan perlu
diperluas fungsi dan jumlah anggotanya agar sesuai dengan
dinamika dan perubahan sosial masyarakat termasuk akibat
perubahan struktur organisasi di daerah. FORKOPIMCA perlu
diperluas menjadi Forum Koordinasi Kecamatan (FKK). Perluasan
peran dan fungsi FORKOPIMCA menjadi FKK berdasarkan
pertimbangan untuk memperkuat pelaksanaan koordinasi antar
kecamatan, instansi vertikal dan UPT di wilayah kecamatan.
Meskipun Camat tidak lagi menjadi kepala wilayah / wakil
pemerintah pusat di kecamatan, namun Camat harus
melakukan koordinasi intensif dengan seluruh stakeholders
untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pemerinatahan dan
pembangunan di wilayah kecamatan. Koordinasi yang
dilaksanakan oleh Camat tidak hanya terbatas pada Danramil
dan Kapolsek semata. Camat juga harus menjalin koordinasi
yang efektif dengan seluruh instansi vertikal maupun UPT yang
terdapat diwilayah kecamatan. Adapun usulan komposisi
keanggotaan Forum Koordinasi Kecamatan (FKK) menurut
penulis adalah sebagai berikut:

NO Usulan Anggota FKK Usulan kedudukan


dalam FKK
usulan
Anggota
FORKOM
PINCA
1 Camat Ketua
2 Danramil Anggota
3 Kapolsek Anggota
4 Kepala KUA Anggota
5 Kepala UPT Puskesmas Anggota
6 Kepala UPT Dikpora Anggota
7 Kepala UPT Terminal Anggota
8 Kepala UPT Kelautan Anggota
dan Perikanan
9 Kepala UPT Pertanian Anggota
dan Peternakan

HERMAN’S FILE 2017 13


10 Kepala UPT Dinas PU Anggota
dan ESDM, dll

Praya, Januari 2017

Penulis,

HERMAN EFENDY, SSTP., M.M.


Penata Tingkat I (III/d)
NIP. 19840207 200212 1 002

HERMAN’S FILE 2017 14