Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan (growth) dan perkembangan(development) sebenarnya


memiliki makna yang berbeda, tetapi antara keduanya tidak dapat dipisahkan.
Pertumbuhan menunjukkan arti perubahan kuantitatif, pertambahan dalam
ukuran dan struktur. Sejalan dengan pertumbuhan otak anak, dia memiliki
kapasitas belajar lebih besar untuk belajar, mengingat, dan bernalar.
Perkembangan dapat didefinisikan sebagai kemajuan terurut
berkesinambungan, perubahan-perubahan koheren (menyatu). Kemajuan
artinya perubahan itu berlanjut ke arah depan. Terurut dan koheren, artinya
terdapat relasi tertentu antara perubahan yang sedang terjadi dan apa yang
dilalui atau berikutnya. Berkembang, yaitu menunjukkan perubahan
kuantitatif dan kualitatif berikutnya.
Pertumbuhan dan perkembangan anak pada umumnya amat
bergantung dari genetic dan pengasuhan ibunya masing-masing. Pengasuhan
anak yang optimal akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
berkembangannya. Contoh sebagai berikut :Pada tahun pertama, anak-anak
kebanyakan telah mulai belajar berjalan. Jika pada usia dini ini dilatih
berbagai kecakapan motorik secara terus menerus maka perkembangan
kemampuan anak akan berlangsung cepat.Pada tahun kedua
perkembangannya, anak anak kebanyakan telah dapat atau setidaknya telah
belajar berjalan. Sebagian anak bahkan telah mampu berlari-lari dari
halamannya sendiri menuju ke halaman tetangganya dan menelusuri lorong-
lorong di sekitarnya. Mereka berlatih dengan berbagai kecakapan motorik, dan
secara terus menerus ingin menunjukkan keterampilannya itu kepada orang
tuanya dan orang lain yang menyaksikannya.Pada tahun ketiga, perilaku anak
akan tampak sedikit perubahan yang berbeda. Watak tantrumnya (merengek)
belum sepenuhnya hilang, kemanjaan usia dua tahunan dapat berakhir pada
tahun keempat, tetapi perilaku senang rewel kebanyakan telah
ditinggalkan.Setiap minggu menghasilkan ungkapan katakata baru dan cara
baru dalam memanjat,melonjak dan meloncat. Anak-anak mulai mampu
2

menguasai dan mengendalikan anggota badannya guna melakukan sesuatu


yang tidak bisa dilakukan sebelumnya. Kita dapat melihat perubahan tindakan
anak pada saat usiamenginjak tahun prasekolah, dia belajar bagaimana
menulis, mengambar, dan bagaimana memainkan permainan dengan berbagai
alat permainan seperti bola, kelereng, dan sebagainya. Mereka juga membuat
tentang keterampilan baru yang dapat dilakukan dan pertumbuhan diri.
Misalkan ada seorang anak berkata : “Saya sudah tidak lagi kecil, ya
bukan?”Anak-anak ini memang benar. Mereka bukan lagi bayi kecil, masa
bayi kecilnya sudah berlalu.Pada usia empat tahun, mereka telah menjadi lebih
berpetualangan, mengeksplorasi dunianya dengan senang, bangga, dan terus
menerus. Pada usia lima tahun, mereka adalah anak yang mampu mencukupi
kebutuhannya sendiri, dalam arti telah mampu mengkoordinasi motorik
dengan baik. Anak-anak pada usia ini bahkan senang bertindak yang dapat
mengejutkan orang tuanya atau pengasuhnya dengan perilaku yang
mengkhawatirkan, misalnya sering menapaki anak tangga dan bangunan-
bangunan lain yang menanjak bahkan sembarangan objek yang dapat
dinaiki.Piaget menegaskan bahwa bentuk tertinggi kecerdasan logis dapat
ditelusuri hingga keasalnya ke dalam tubuh. Sebab mulai dari pertama
kehidupan, tubuh bayi dengan aktif meneliti dunia dan membangun kerangka
dasar yang berfungsi sebagai fondasi semua pikiran berikutnya. Kemampuan
awal ini mempersiapkan jalan untuk perkembangan berikutnya di tengah-
tengah masa kanak-kanak ketika anak-anak bisa secara internal mewakili
berbagai benda dari sudut pandang yang berbeda-beda.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan motorik kasar pada
anak
2. Untuk mengetahui penyebab keterlambatan motorik kasar

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motorik Kasar


2.2.1 Definisi
3

Motorik kasar mencakup gerakan otot-otot besar seperti otot


tungkai dan lengan pada bayi berupa gerakan menendang,menjejak ,
meraih, mengangkat leher, dan menoleh. Pertumbuhan kemampuannya
harus terus di pantau dan di stimulasi agar anak dapat tumbuh dan
berkembang optimal.
Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang
melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya
(Depkes, 2010).
Motorik kasar berkaitan dengan aktivitas fisik/jasmani dengan
menggunakan otot-otot besar, seperti otot lengan, otot tungkai, otot bahu,
otot punggung dan otot perut yang dipengaruhi oleh kematangan fisik
anak. Motorik kasar dilakukan dalam bentuk berjalan, berjinjit, melompat,
meloncat, berlari, dan berguling (Depdiknas, 2008).
2.2.2 Urutan perkembangan motorik kasar pada anak.:
1. Menggerakkan kaki tangan saaat berbaring
Sejak lahir bayi sudah memiliki reflex untuk menggerakkan kaki
dan tangannya secara sederhana . menginjak usia 1 bulan dia mulai
blajar menggerakkan kaki dan tangannya ke atas.
2. Menggangkat kepala telungkup
Mengangkat kepala saat telungkup umumnya baru bis di lakukan
bayi berusia 2 bulan . namun tidak menutup kemungkinan jika
sebelum usia 2 bulan bahkan 1 bulan.
3. Memiringkan badan saat telungkup
Memiringkan badan saat telungkupumumnya sudah dapat
dilakukan bayi usia 3-4 bulan. Latihlah gerakan ini denagn
membunyikan mainan dari arah samping / memanggil namanya.
4. Telungkup sendiri
Bayi berusaha untuk telungkup sendiri pada umumnya dapat
dilakukan di usia 4-5 bulan , dan membutuhkan bantuan orangtua .
menstimulasi berulang kali sampai melakukannya sendiri.
5. Duduk
Di usia 4-6 bulan bayi belum bias duduk sendiri , namun orangtua
sudah bias memposisikannya duduk saat si kecil di gendong . usia
6-7 bulan mampu duduk sendiri meski Cuma sebentar tanpa di
4

bantu. Usia 8 bulan sudah dapat duduk kurang lebih 10 menit dan
usia 9-10 bulan duduk sendiri.
6. Merangkak
Kemampuan merangkak bayi usia 8-10 bulan meski beberapa bayi
sudah dapat merangkak pada usia 6-7 bulan , tapi tidak semua bayi
dapat merangkak / melalui tahapan kemampuan ini sebelum berdiri
dan berjalan
7. Berdiri
Di usia 4-5 bulan , bayi sangat senang bial di berdirikan di atas
pangkuan kita . berdiri sendiri mulai belajar dilakukannya pada usia
9 bulan lalu usia 10-12 bulan sudah berdiri sendiri tanpa bantuan.
8. Berjalan
Umumnya anak dapat berjalan di rentang usia 13-15 bulan

2.2.3 4 Stimulasi Motorik Kasar :


1. Jalan
Sebelum orangtua memberikan stimulasi pada anak,
pastikan anak sudah melalui perkembangan sebelumnya, seperti
duduk, merangkak, dan berdiri. Pada kemampuan motorik kasar ini,
yang harus distimulasi adalah kemampuan berdiri, berjalan ke
depan, berjalan ke belakang, berjalan berjingkat,
melompat/meloncat, berlari, berdiri satu kaki, menendang bola, dan
lainnya. Berjalan seharusnya dikuasai saat anak berusia 1 tahun
sementara berdiri dengan satu kaki dikuasai saat anak 2 tahun.
Untuk berjalan, perkembangan yang harus dikuatkan adalah
keseimbangan dalam hal berdiri. Ini berarti, si kecil tak hanya
dituntut sekadar berdiri, namun juga berdiri dalam waktu yang lebih
lama (ini berkaitan dengan lamanya otot bekerja, dalam hal ini otot
kaki).
Bila perkembangan jalan tidak dikembangkan dengan baik,
anak akan mengalami gangguan keseimbangan. Si kecil jadi
cenderung kurang pede dan ia pun selalu menghindari aktivitas
yang melibatkan keseimbangan seperti main ayunan, seluncuran,
dan lainnya. Sebaliknya, anak lebih memilih aktivitas pasif seperti
membaca buku, main playstation, dan sebagainya.
5

Stimulasi :
Orangtua berdiri berjarak dengan anak sambil memegang mainan
yang menarik. Gunakan karpet bergambar atau tempelkan gambar-
gambar yang menarik di lantai. Minta anak untuk menginjak
karpet/lantai. Misalnya, “Ayo Dek, injak gambar gajahnya!”
Mainan seperti mobil-mobilan atau troli yang bisa didorong-dorong
juga bisa membantu anak belajar berjalan.

2. Lari

Perkembangan lari akan memengaruhi perkembangan


lompat dan lempar serta kemampuan konsentrasi anak kelak, Pada
tugas perkembangan ini, dibutuhkan keseimbangan tubuh,
kecepatan gerakan kaki, ketepatan 4 pola kaki-(heel strike/bertumpu
pada tumit, toe off/telapak kaki mengangkat kemudian kaki
bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, swing/kaki berayun dan
landing/setelah mengayun kaki menapak pada alas)dan motor
planning (perencanaan gerak).
Lalu apa hubungan perkembangan lari dengan kemampuan
konsentrasi? Begini, pada perencanaan gerak (salah satu syarat
tugas perkembangan lari) dibutuhkan kemampuan otak untuk
membuat perencanaan dan dilaksanakan oleh motorik dalam bentuk
gerak yang terkoordinasi. Nah, kemampuan perencanaan gerak
tingkat tinggi (seperti lari) akan memacu otak melatih konsentrasi.
Jika perkembangan lari tidak dikembangkan dengan baik,
anak akan bermasalah dalam keseimbangannya, seperti mudah
capek dalam beraktivitas fisik, sulit berkonsentrasi, cenderung
menghindari tugas-tugas yang melibatkan konsentrasi dan aktivitas
yang melibatkan kemampuan mental seperti memasang pasel, tak
mau mendengarkan saat guru bercerita (anak justru asyik ke mana-
mana), dan lainnya.
Stimulasi :
Stimulasi lari bisa dimulai ketika anak berada pada fase jalan,
sekitar usia 12 bulan ke atas. Aktivitasnya bisa berupa menendang
6

bola, main sepeda (mulai roda 4 sampai bertahap ke roda 3 dan


kemudian roda 2) serta naik turun tangga.

3. Lompat

Kemampuan dasar yang harus dimiliki anak adalah


keseimbangan yang baik, kemampuan koordinasi motorik dan
motor planning (perencanaan gerak). Contoh, saat anak ingin
melompati sebuah tali, ia harus sudah punya rencana apakah akan
mendarat dengan satu kaki atau dua kaki. Kalaupun satu kaki, kaki
mana yang akan digunakan.
Jika anak tidak adekuat dalam perkembangan melompat,
biasanya akan menghadapi kesulitan dalam sebuah perencanaan
tugas yang terorganisasi (tugas-tugas yang membutuhkan
kemampuan motor planning).
Stimulasi:
Lompat di tempat atau di trampolin. Jangan lompat-lompat di
tempat tidur karena meski melatih motorik namun “mengacaukan”
kognitif. Dalam arti, mengajarkan perilaku atau mindset yang tidak
baik pada anak. Karena seharusnya tempat tidur bukan tempat untuk
melompat atau bermain.
Lompatan berjarak (gambarlah lingkaran-lingkaran dari kapur atau
gunakan lingkaran holahop yang diatur sedemikian rupa letaknya).
Minta anak untuk melompati lingkaran-lingkaran tersebut,
gradasikan tingkat kesulitan dengan memperlebar jarak dan
menggunakan kaki dua lalu satu secara bergantian.

4. Lempar

Pada fase ini yang berperan adalah sensori keseimbangan,


rasa sendi (proprioseptif), serta visual. Peran yang paling utama
adalah proprioseptif, bagaimana sendi merasakan suatu gerakan atau
aktivitas. Umpama, pada saat anak melempar bola, seberapa kuat
atau lemah lemparannya, supaya bola masuk ke dalam keranjang
atau sasaran yang dituju.
7

Jika kemampuan melempar tidak dikembangkan dengan


baik, anak akan bermasalah dengan aktivitas yang melibatkan gerak
ekstrimitas atas (bahu, lengan bawah, tangan dan jari-jari tangan).
Seperti, dalam hal menulis. Tulisannya akan tampak terlalu
menekan sehingga ada beberapa anak yang tulisannya tembus
kertas, atau malahan terlalu kurang menekan (tipis) atau
antarhurufnya jarang-jarang (berjarak). Dalam permainan yang
membutuhkan ketepatan sasaran pun, anak tidak mahir. Umpama,
permainan dartboard. Aktivitas motorik halus lainnya juga
terganggu semisal pakai kancing baju, menali sepatu, makan
sendiri, meronce, main pasel, menyisir rambut, melempar sasaran,
dan lain-lain. Intinya, stimulasi pada perkembangan ini yang tidak
optimal berindikasi pada keterampilan motorik halus yang
bermasalah.
Gangguan lain berkaitan dengan koordinasi, rasa sendi dan
motor planning yang bermasalah. Contoh, ketika bola dilempar ke
arah anak, ada dua kemungkinan respons anak, yaitu tangan
menangkap terlambat sementara bola sudah sampai. Atau tangan
melakukan gerak menangkap terlebih dahulu sementara bola belum
sampai. Seharusnya, respons tangkap anak sesuai dengan stimulus
datangnya bola dan anak bisa memprediksinya. Bila ada gangguan
berarti anak bermasalah dalam sensori integrasinya. Sensori
integrasi adalah mengintegrasikan gerak berdasarkan kemampuan
dasar sensori anak. Tentunya ini dapat diatasi dengan terapi yang
mengintegrasikan sensori-sensorinya.
Stimulasi:
Main lempar tangkap bola (gradasikan tingkat kesulitannya) yaitu
posisi, besar bola, berat bola, dan jenis lambungan. Pada posisi bisa
dilakukan sambil duduk kaki lurus, duduk kaki bersila, duduk kaki
seperti huruf W ke belakang, jongkok, dan bahkan berdiri. Pada
jenis lambungan, bisa dilakukan dengan lambungan dari atas,
sejajar, atau lambungan dari bawah.
Main dartboard atau lempar panah. Gunakan jenis dartboard yang
khusus buat anak-anak (yang aman dan tidak tajam), seperti jenis
8

dartboard yang terbuat dari papan velcrow dan anak panahnya


diganti dengan bola yang bervelcrow.

2.2.4 Tugas Perkembangan motorik kasar pada anak


1. Pada anak usia 1 tahun :
a. Anak bisa bergerak di tempat yang rata
b. Berdiri dan berjalan beberapa langkah
c. Bejalan lancer atau cepat
d. Bias langsung duduk saat jatuh
e. Merangkak di tangga
f. Menarik dan mendorong benda yang besar
g. Melempar bola
2. Pada usia 2 tahun :
a. Meloncat
b. Berjalan mundur
c. Menendang bola
d. Memanjat sofa
e. Berjalan jinjit
f. Berdiri sebelah kaki
g. Bangun tidur langsung duduk
h. Naik tangga
i. Duduk di sepeda
j. Mengayuh sepeda

3. Tugas perkembangan motorik kasar pada usia 3 tahun :


a. Berjinjit sambil berjaln tanpa jatuh ( seimbang)
b. Melompat dengan satu kaki
c. Melompat dengan satu kaki lebih dari 5 detik
d. Berjalan menyusuri papan titian.
e. Melempar bola jarak jauh
f. Melampar bola besar
g. Mengendarai sepeda roda tiga
4. Pada anak usia 4 tahun :
a. Sudah boleh menuruni tangga
b. Berjalan mundur dengan lurus

2.2 Penyebab Keterlambatan Motorik Kasar


Keterlambatan motorik kasar menunjukkan adanya kerusakan pada
susunan saraf pusat seperti serebral palsi( gangguan motorik yang di sebabkan
oleh kerusakan bagian otak yang mengatur otot –otot tubuh) :
1. Kurang asupan nutrisi , terserang penyakit infeksi selama hamil
2. Bayi terlalu lama di jalan lahir , bayi terjepit jalan lahir, bayi menderita
caput sesadonium, bayi menderita cepal hematom
9

3. Kurang asupan nutrisi (asi) , menderita penyakit


infeksi,asifisia,ikterus.

2.3 Patofisiologi

Intranatal
Antenatal Post Natal

Bayi terlalu lama di jalan


lahir , bayi terjepit di jalan Kurang asupan nutrisi
Kurang asupan ( ASI) ,Bayi
nutrisi , terserang lahir,bayi menderita kaput
sesadonium, bayi menderita penyakit
penyakit infeksi infeksi asfiksia,dan
selama hamil menderita sepal hematom
ikterus

Nutrisi yang
diterima janin Trauma Lahir
Suplai zat-zat nutrient
2.4 Gejala-gejala
sedikit keterlambatan perkembangan motorik kasar pada anak
ke organ-organ tubuh
1. Bayi terlalu kaku
terutama otak dan otot
Pertumbuhan otak
Perhatikan bila si kecil terus berbaring tanpa melakukan gerakan apapun
Kerusakan Otak berkurang
tidak optimal
serta kepalanya tidak dapat di angkat saat di gendong. Ini menunjukkan
motorik kasar si kecil terlalu parah.
2. Gerakan anak kurang aktif
Perhatikan bila gerak anak kurang aktif jika di bandingkan dengan anak
sebaya nya .
2.5 Penatalaksanaan
Jika memang ditemukan adanya keterlambatan dalam perkembangan
motorik kasar si kecil, harus segera ditelusuri. Faktor-faktor penyebabnya
sebelum menentukan apa yang harus dilakukan .
1. Pola Asuh
Bila penyebabnya karena masalah perbedaan pola asuh atau protektif,
maka pertama-tama yang harus dirubah adalah sikap orang tua . Orang tua
harus membiarkan anak bergerak bebas sebatas tidak membahayakan si
kecil . Dengan upaya ini si kecil semakin terpicu untuk melatih semua
tahap perkembangan motorik kasarnya.
2. Kelainan Tubuh
Kalau penyebab keterlambatan tersebut karena kelainan tubuh tertentu
maka harus dikonsultasikan dengan dokter anak . Berbagai kelainan
10

tersebut misalnya otot yang tidak berkembang secara optimal atau karena
adanya gangguan saraf tepi, kelainan sumsum tulang belakang , kurangnya
tenaga untuk beraktivitas, ukuran kepala bayi yang abnormal serta
kerusakan susunan saraf pusat. Melalui berbagai pemeriksanaan dokter
dapat mendiagnosa penyebabnya dan mengatasi gangguannya .
3. Kurang Bergerak
Keterlambatan perkembangan motorik kasar si kecil dapat pula disebabnya
kurangnya ia bergerak atau kurangnya rangsangan. Kalau hal ini yang
terjadi tatalaksana yang dapat dilakukan adalah dengan rehabilitasi medik
antara lain melalui fisiotherapi. Fisiotherapi dapat menjadi salah satu
alternative jalan keluar yaitu dengan melatih otot-otot tubuh si kecil
sehingga kemampuan motorik kasarnya di harapkan berkembang optimal.
4. Kecukupan Gizi
Gizi yang seimbang harus diberikan dengan baik agar bertumbuhan fisik
anak optimal . Kondisi ini memungkinkan kemampuan motorik pun akan
terasah dengan baik , sebaliknya kondisi gizi yang kurang atau buruk tentu
akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan fisik dan kemampuannya
secara umum.
5. Kematangan Otot
Bayi yang memiliki kematangan otot sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan kemampuan motorik kasarnya . Hal ini akan sulit pula untuk
menstimulasinya. Yang perlu dilakukan hanyalah memberikan fisiotherapi
okupasi ditambah terapi obat-obatan jika memang dianggap perlu .
6. Berat Tubuh
Berat tubuh berlebihan berkemungkinan membuat bayi menjadi sulit
mengembangkan kemampuan motorik kasarnya. Yang diperlukan adalah
menjaga asupan makan si kecil agar berat bandannya mendekati angka
ideal sehingga ia lebih nyaman bergerak .

7. Kenyamanan
Kekurang nyamanan bisa disebabkan ada sesuatu yang melekat di tubuh
bayi . terkadang bayi menjadi sulit menggerakkan kaki karena terikat
bedong. Saat mengajaknya belajar berjalan sebaiknya lepaskan kaos kaki
dan kenakan kaos atau sepatu yang tidak licin.
8. Pengalaman Negatif
Pengalaman negatif misalnya saat belajar merangkak, si kecil pernah
terjatuh yang membuat gusinya berdarah. Kejadian ini dapat membuatnya
11

trauma dan enggan melakukan latihan sehingga kemampuannya menjadi


terlambat muncul.
9. Sakit
Bayi sering mengalami sakit, diantaranya infeksi telinga, batuk, pilek
maupun radang tenggorokan yang akan membuat perkembangan
motoriknya terlambat disbanding bayi seusiannya.

BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan


suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien
(Nursalam, 2001).
1. Identitas data umum
a. Umur : Menyerang anak di usia tumbuh kembang
b. Status ekonomi : Nutrisi yang kurang merupakan salah satu penyebab
dari gangguan motorik kasar
c. Pendidikan : Suatu kebiasaan yang biasanya ada satu larangan
mengkonsumsi makanan pada masa tumbuh kembang.
2. Keluhan utama
Keluhan utama, apa yang menyebabkan pasien berobat atau gejala yang
pertama timbul saat pasien datang ke rumah sakit
12

3. Riwayat penyakit saat ini


Riwayat penyakit saat ini, merupakan penyakit yang dirasakan pasien pada
saat dikaji (Hidayat, AA, 2006)
4. Riwayat kehamilan dan kelahiran
a. Prenatal : Kurang asupan nutrisi, terserang penyakit selama hamil
b. Intra natal : Bayi terlalu lama di jalan lahir, terjepit di jalan lahir, bayi
menderita caput sesodonium, bayi menderita cepal hematom.
c. Post natal : Kurang asupan nutrisi, bayi menderita penyakit infeksi,
asfiksia, dan ikterus.
5. Riwayat Penyakit
a. Penyakit waktu kecil
b. Pernah dirawat di Rumah sakit
c. Obat – obat yang digunakan
d. Tindakan operasi
e. Alergi
f. Kecelakaan
g. Imunisasi
6. Riwayat keluarga
Riwayat keperawatan keluarga adalah riwayat kesehatan atau keperawatan
yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga, apakah ada yang menderita
penyakit yang seperti dialami pasien (Hidayat, AA, 2006).
7. Riwayat kesehatan lingkungan
a. Lingkungan tempat tinggal
b. Pola sosialisasi anak
c. Kondisi rumah
8. Riwayat psikososial- spiritual
a. Yang mengasuh
b. Hubungan dengan anggota keluarga
c. Hubungan dengan teman sebaya
d. Pembawaan secara umum
e. Pelaksanaan ke suatu spiritual

9. Pengkajian menggunakan KMS, KKA, dan DDST :


a. Pertumbuhan
1) Kaji BBL
2) BB normal 3-12 bulan : Umur ( bulan ) + 9
2
3) BB normal 1-6 tahun : Umur ( tahun ) x 2 + 8
4) BB normal 6-12 tahun : Umur ( tahun ) x 7 – 5
2
5) LL dan luka saat lahir dan kunjungan
b. Perkembangan
1) Lahir kurang bulan : Belajar mengangkat kepala , mengikuti
objek dengan mata, mengoceh
13

2) Usia 3 – 6 bulan : Mengangkat kepala 90º belajar meraih


benda, tertawa dan menagis, meringis
3) Usia 6-9 bulan : Duduk tanpa dibantu, tengkurap, berbalik
sendiri, merangkak, meraih benda,
memindahkan benda dari tangan satu ke
tangan lain dan mengeluarkan kata – kata
tanpa arti
4) Usia 9-12 bulan : Dapat berdiri sendiri, mengeluarkan kata-
kata, mengerti ajakan sederhana dan
larangan, berpartisipasi dalam bermain.
5) Usia 12- 18 bulan : Mengeksplorasi rumah dan sekelilingnya,
menyusun 2-3 kata ,dapat mengatakan 3-
10 kata, rasa cemburu/ bersaing.
6) Usia 18-24 bulan : Naik turun tangga, menyusun 6 kata
,menunjukkan mata dan hidung, belajar
makan sendiri, menggambar garis,
memperhatikan minat pada anak lain, dan
bermain dengan mereka.
7) Usia 2-3 tahun : Belajar melompat, memajat, buat
jembatan dengan 3 kotak, menyusun
kalimat
8) Usia 3-4 tahun : Belajar sendiri berpakaian, menggambar,
bebicara dengan baik, menyebut nama dan
menyayangi saudara
9) Usia 4-5 tahun : Melompat, menari, menggambar orang,
dan menghitung

3.2 Diagnosa Keperawatan


Suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan
atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat
secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara
pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan
merubah (Nursalam, 2001).
Diagnosa yang mungkin muncul (Nanda, 2012)
14

1. Anxietas berhubungan dengan keadaan pertumbuhan dan perkembangan


anak yang terlambat.
2. Gangguan aktivitas fisik dan ketergantungan sekunder berhubungan
dengan disfungsi otak.
3. Gangguan tingkat perkembangan berhubungan dengan disfunsional otak.
3.3 Intervensi
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah,
mengurangi, atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada
diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa
keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam, 2001).

1. Anxietas berhubungan dengan keadaan pertumbuhan dan perkembangan


anak yang terlambat
a. Tujuan : Anxietas berkurang.
b. Kriteria :
1) Keluarga mau menerima keadaan pertumbuhan dan perkembangan
anaknya yang dialami sekarang
2) Keluarga mengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan serta
factor-faktor yang memepengaruhi..
3) Keluarga nampak tenang dan mau bekerja sama dalam perawatan
dan penatalaksanaan
c. Intervensi
1) Bina hubugan antara perawat-keluarga-dokter dalam pengumpulan
data/pengkajian dan penatalaksanaan.
R/ Rasa percaya yang terbina antara perawatan-keluarga
klien/klien-dokter merupakan modal dasar komunikasi efektif
dalam pengumpulan data, menemukan masalah dan alternatif
pemecahan masalah.
2) Disukusikan dan informasikan dengan jelas sesuai tingkat
pengetahuan dan pengalaman keluarga :
a) Tingkat pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang
terlambat perlu pemeriksaan yang kompleks dan pengangan
lintas devisi.
15

R/ Diskudi merupakan metode efektif untuk menyampaikan


informasi untuk diterima dan dipertimbangkan oleh keluarga ,
sehingga informasi tersebut mendapat tanggapan dan
kooperatif serta partisipatif yang berkesinambungan.
b) Jelaskan tentang tingkat pertumbuhan dan perkembangan
yang dicapai saat dikaji.
R/ Penjelasan yan diterima cenderung memberikan jalan
pikiran terbuka, sehingga mau menerima keadaan anaknya
dan sedikit menekan stres.
3) Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya dan
mengungkapkan perasaan cemasnya.
R/ Asertivitas dalam menghadapi sesuatu dengan segala perasaan
dan kepuasan akan mendorong atau memberi semangat untuk
memfasilitasi tingkat pertumbuhan dan perkembangan anaknya
mencapai tingkat optimal sesuai dengan kelompok sebayanya.
4) Beri reinforcement terhadap kemauan dan kemampuan keluarga
untuk semangat dan tanggapan yang positif serta benar tetnang
persepsi keadaan anaknya.
R/ Reinforcement sebagai kekuatan untuk meningkatkan tingkat
psikologis yang baik dan positif sehingga termotivasi untuk
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
2. Gangguan aktivitas fisik dan ketergantungan sekunder berhubungan
dengan disfungsi otak
a. Tujuan : Aktivitas fisik dan kemandirian klien dalam batas optimal
b. Kriteria :
1) Klien mampu melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan dan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia yang
sama.
2) Tingkat ketergantuangan sekunder minimal
3) Stimulasi pada anak dalan aktivitas efektif dan adequat
c. Intervensi :
16

1) Monitor tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada area


fungsi motorik kasar dengan perangkat scoring denvers (DDST)
dan NCHS (BB, TB, Lingkar kepala, lingkar dada dan lingkar
lengan atas).
R/ Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan individu
tergantung pada sensivitas suatu organ dalam fase cepat seperti
fungsi biologis, gizi dan faktor lingkungan serta pola suh, asah dan
asih yang dapat tergambar dalam perangkat scoring perkembangan
denvers dan NCHS dapat meneilai tingkat kenormalan fisik
individu yang sesuai dengan usianya.
2) Diskusikan dan ajarkan keluagra dan pengasuh tentang tugas-tugas
perkembangan anak yang sesuai dengan kelompok usia dan
sstimulasinya.
R/ Anak harus lebih diberlakukan sebagai pribadi anak yang aktif
yang perlu dirangsang atau stimulasi untuk menghadapi dan
mampu mengatasi masalah melalui interaksi dan komunikasi
antara orang tua-klien da pengasuh.
3) Ajarkan dan beri kesempatan pada anak untuk memenuhi tugas
perkembangan sesauai dengan kelompok seusianya.
R/ Tindakan pemeberian stimulasi untuk ungkapkan rasa kasih
sayang yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang
dimulai dari tahap yang sudah dicapai oleh anak dengan wajar atau
tanpa paksaan serta beri pujian bila hal yang dilakukan itu
mencapai keberhasilan.
4) Berikan reinforcement terahadap keberhasilan anak dalam
aktivitas tertentu.
R/ Reinforcement dapat meningkatkan semangan dan rasa perceya
diri anak dalam perkembangan dan aktivitsnya.
5) Tugaskan dan cari pengasuh yang konsisten.
R/ Peran aktif pengasuh diperlukan adaptasi anak dalam pola asuh,
asih dan asah terutama pada balita.
17

6) Dorong anak untuk melakukan aktivitas perawatan diri (makan,


minum dan toileting sendiri).
R/ Tingkat kemampuan motorik kasar dan halus pada usia 1-3
tahun siberi stimulasi untuk membantu anak mencapai tingkat
perkembangan yang optimal.
7) Berikan area yang aman, dimana anak dapat bermain bebas
menggerakkan alat bantu jalan, pegangi tangan saat melangkah)
R/ Tempat aman dimana anak bermain hendaknya diperhatikan,
sehingga terhindar dari cedera, efek keracunana bahan mainan dan
lain-lain.
8) Kolaborasi rehabilitasi medis (latihan fisik).
R/ Fasilitas latihan fisik untuk mendapatkan kemampuan yang
optimal.
3. Gangguan tingkat perkembangan berhubungan dengan disfunsi otak
a. Tujuan : Memperlihatkan tingkat perkembangan (personal sosial,
bahasa dan kognisi) seoptimal mungkin sesuai dengan kelompok
seusianya.
b. Kriteria :
1) Perilaku sangat ingin tahu dan lebih memungkinak melakukan
sesuai secara mandiri.
2) Belajar dengan kata-kata melalui perabaan bahasa
3) Penducapan verbal meningkat1-2 kata
4) Dapat berbicara pada diri sendiri dan atau orang lain
5) Keluarga mau melakukan stimulan terhadap tugas-tugas
perkembangan anak.
c. Intervensi :
1) Monitor tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada area
fungsi motorik kasar dan halus dengan perangkat scoring denvers
(DDST) dan NCHS (BB, TB, Lingkar kepala, lingkar dada dan
lingkar lengan atas).
R/ Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan individu
tergantung pada sensivitas suatu organ dalam fase cepat seperti
18

fungsi biologis, gizi dan faktor lingkungan serta pola suh, asah dan
asih yang dapat tergambar dalam perangkat scoring perkembangan
denvers dan NCHS dapat meneilai tingkat kenormalan fisik
individu yang sesuai dengan usianya.
2) Diskusikan dan ajarkan keluagra dan pengasuh tentang tugas-tugas
perkembangan anak yang sesuai dengan kelompok usia dan
sstimulasinya.
R/ Anak harus lebih diberlakukan sebagai pribadi anak yang aktif
yang perlu dirangsang atau stimulasi untuk menghadapi dan
mampu mengatasi masalah melalui interaksi dan komunikasi
antara orang tua-klien dan pengasuh.

3) Ajarkan dan beri kesempatan pada anak untuk memenuhi tugas


perkembangan sesauai dengan kelompok seusianya.
R/ Tindakan pemeberian stimulasi untuk ungkapkan rasa kasih
sayang yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang
dimulai dari tahap yang sudah dicapai oleh anak dengan wajar atau
tanpa paksaan serta beri pujian bila hal yang dilakukan itu
mencapai keberhasilan.
4) Tugaskan dan cari pengasuh yang konsisten.
R/ Peran aktif pengasuh diperlukan adaptasi anak dalam pola asuh,
asih dan asah terutama pada balita.
6) Berikan waktu bermain dengan anak sebaya.
R/ Anak bermain dengan karakterstik (paralel play dan solitary
play), bermain secara spontan dan bebas. Perlu diingat anak
mempunyai autonomi dan kemauan sehingga penting diperhatikan
keamanan dan keselamatannya.
3.4 Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik (Nursalam, 2001). Pada tahap pelaksanaan ini, fase
pelaksanaan terdiri dari berbagai kegiatan yaitu
19

1. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan


konsulidasi
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, tehnical, dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat
3. Keamanan fisik dan psikologia dilindungi
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien.
3.5 Evaluasi Keperawatan
Hal hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan
berfokus pada criteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan
pedoman pembuatan SOAP, atau SOAPIE pada masalah yang tidak
terselesaikan atau teratasi sebagian.

DAFTAR PUSTAKA
20

Depkes RI (2010). Pedoman kader seri kesehatan anak, Direktorat bina kesehatan
anak kemenkes RI : Jakarta
Depdiknas RI (2008). Pengembangan kemampuan motorik kasar di taman kanak-
kanak. Dirktorat jendral manajemen pendidikan dasar: Jakarta

Herdman, TH. (2012). NANDA International Diagnosa Keperawatan. EGC :


Jakarta.

Hidayat, A.A. (2006). Kebutuhan dasar manusia 1. salemba medika: Jakarta

Nursalam. (2001). Proses & dokumentasi keperawatan. salemba medika: Jakarta

Nursalam. (2008). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. salemba medika: Jakarta
Wilkinson, judith M. (2006). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan
intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC : Jakarta

Anonym (2009). Asuhan keperawatan motorik kasar, diambil dari


http://id.scribd.com/doc/20351668/askep-motorik-kasar. pada tanggal
10/02/2013 jam 09:00.