Anda di halaman 1dari 14

CORPORATE GOVERNANCE

Corporate Governance di Asia dan Dunia


Ditinjau Dari Struktur Pengelola Perusahaan

Dosen Pengampu:
Dr. I Gusti Ayu Made Asri Dwija Putri, S.E., M.Si.

Oleh :
KELOMPOK : 3
NAMA : NIM :
1. Ni Putu Meydiani Chintia Dewi 1607532009
2. Nyoman Ratna Candradewi 1607532010

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI REGULER DENPASAR
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1. Corporate Governance di Asia dan Dunia ditinjau dari Struktur Pengurus
atau Pengelola Perusahaan
1.1. Corporate Governance di Asia
Krisis ekonomi yang melanda Asia Timur pada akhir tahun 1997 telah memicu
terjadinya diskusi tentang pentingnya sistem tata kelola dalam suatu negara. Secara umum ada
tiga persoalan utama di Asia yang menyebabkan pelaksanaan good corporate governance
masih begitu lemah. Tiga persoalan ini antara lain:
1) Banyak perusahaan yang masih terbelakang atau belum didisain untuk
memainkan peran penting di pasar.
2) Pasarnya sendiri tidak bekerja secara optimal dan lingkungan bisnisnya tidak
kompetitif.
3) Sistem hukum yang lemah dan lembaga-lembaga yang menangani dan
menjalankan aturan main itu sendiri maupun keseluruhan penegakan peraturan
administratif masih lemah termasuk didalamnya penegakan peraturan di bursa
saham atau standarisasi laporan akutansi.
Hal ini berarti bahwa GCG tidak saja berakibat positif bagi pemegang saham, namun
juga bagi masyarakat yang lebih luas yang berupa pertumbuhan ekonomi nasional. Karena
itulah berbagai lembaga – lembaga ekonomi dan keuangan dunia seperti World Bank dan
International Monetary Fund sangat berkepentingan terhadap penegakan corporate
governance (CG) di negara-negara penerima dana, karena mereka menganggap bahwa
corporate governance (CG) merupakan bagian penting sistem pasar yang efisien.
Bank Dunia sejak dini menyebutkan bahwa krisis finansial Asia disebabkan kegagalan
sistematis (systematic failures) dalam pelaksanaan corporate governance yang ditandai oleh
lemahnya sistem hukum, inkonsistensi dalam setandar akutansi dan auditing, penyelenggaraan
praktek perbankan yang buruk, supervisi dewan komisaris yang tidak efektif, dan pelindungan
yang kurang terhadap pemegang saham minoritas. Asian Development bank (ADB)
menyatakan secara tegas bahwa krisis yang terjadi di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina,
dan Korea Selatan disebabkan kegagalan dalam melaksanakan good corporate governance.
Hal ini diindikasikan dari konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi (mencapai 57-65
persen), supervisi Dewan Komisaris yang tidak efektif, prosedur pengawasan perusahaan
yang tidak transparan dan tidak efisien, peranan sumber pembiayaan eksternal yang sangat
dominan yaitu utang dari bank, dan pengawasan yang minim dari pemberi dana eksternal
tersebut.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa pelaksanaan good
corporate governance di Indonesia tergolong yang terburuk di Asia. Riset McKensey and Co.
mengenai pelaksanaan corporate governance di tujuh negara Asia yaitu Jepang, Korea
Selatan, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Indonesia, juga menempatkan Indonesia pada posisi
terbawah dengan skor 1,1 di mana dalam penelitian ini makna skor adalah yang terburuk dan
6 adalah yang terbaik. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat tujuh kesimpulan yang
diperoleh yaitu:
1) Pelaksanaan good corporate governance di Indonesia masih sekedar menuruti
aturan baru sehingga serba ala kadarnya dan tidak sungguh-sungguh.
2) Aturan-aturan pelaksanaan good corporate governance itu sendiri belum tegas
dan menyeluruh.
3) Pemenuhan hak-hak pemegang saham khususnya pemegang saham minoritas
masih rendah.
4) Dewan komisaris belum efektif menjalankan fungsinya.
5) Pengawasan kinerja direksi lemah.
6) Laporan tahunan belum memberikan informasi yang memadai bagi para
stakeholders untuk mengetahui lebih jauh tentang kegiatan perusahaan, laporan
keuangan, dan informasi lain untuk mengambil suatu keputusan.
7) Perhatian terhadap stakeholders yaitu investor, otoritas bursa, karyawan, dan
masyarakat sudah cukup baik dilihat dari bentuknya corporate secretary dan
pelaksanaan community development program.

1.2. Contoh Good Corporate Governance (GCG) di Asia


1) Good Corporate Governance di Malaysia
Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on Corporate
Governance) ini diterbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban untuk
melaksanakan Pedoman ini diatur dalam peraturan tentang pencatatan efek di bursa
efek tersebut. Pedoman ini diterbitkan pada tahun 2007 dan merupakan revisi atas
pedoman yang diterbitkan sebelumnya.
a. Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat
comply and explain. Dengan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan tidak
menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman tersebut. Bagi perusahaan yang
tercatat di bursa efek Malaysia, prinsip prinsip Good Corporate Governance dan
praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan perusahaan wajib diungkapkan
dalam laporan tahunan. Perusahaan juga wajib mengidentifikasi prinsip dan
praktik terbaik yang tidak dilaksanakan disertai alasan atas ketidakpatuhan
tersebut. Apabila perusahaan mengadopsi praktek tata kelola negara lain, hal ini
juga harus diungkapkan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate
Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and explains
sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan seluruh
aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat kewajiban
untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam laporan
tahunan. Dengan demikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan mencatatkan
sahamnya di bursa tidak mengungkapkan dalam laporan tahunannya terkait
dengan penerapan tata kelola, Bursa Malaysia dapat mengambil tindakan
terhadap perusahaan atau direksi sebagaimana tercantum dalam Persyaratan
Listing di Bursa Malaysia.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Pedoman Good Corporate Governance terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a) Bagian 1 :
Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas yang berlaku
di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk memungkinkan
fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan
keadaan masing-masing perusahaan.
b) Bagian 2 :
Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan.
Mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang dimaksudkan
untuk membantu perusahaan dalam merancang pendekatan mereka terhadap
tata kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya.
c) Bagian 3 :
Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas yang
bersifat sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang terdaftar
tetapi untuk investor dan auditor untuk meningkatkan peran mereka dalam
tata kelola perusahaan. Adapun ruang lingkup dari Pedoman Good Corporate
Governance tersebut adalah :
 The Board Structure, Duties and Effectiveness
 The Audit Committee and its Challenges
 Assessing the Risk and Control Environment
 Effective Oversight of Financial Reporting
 Internal and External Audit: “Eyes And Ears” of Audit Committee
 Conflict of Interest and Related Party Transactions
 Nominating Committee
 Remuneration Committee
 Shareholder Relations

2) Good Corporate Governance di Singapura


a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and
explain. Selanjutnya berdasarkan ketentuan pencatatan efek di Bursa efek
Singapore mengharuskan perusahaan tercatat untuk mengungkapkan praktik tata
kelola mereka dalam laporan tahunan dengan referensi khusus kepada prinsip-
prinsip yang terdapat dalam Pedoman. Perusahaan juga wajib mengungkapkan
dan menjelaskan setiap perbedaan pelaksanaannya dari Pedoman tersebut.
Perusahaan juga didorong untuk melakukan konfirmasi positif tentang
pemenuhan prinsip-prinsip tata kelola dan mengungkapkan setiap ketidak
patuhan terhadap prinsip-prinsip tersebut dalam laporan tahunan perusahaan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat
voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan
untuk tidak menerapkannya.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Ruang lingkung Tata Kelola perusahaan
a) Board Matters
b) Remuneration Matters
c) Accountability and Audit
d) Communication with Shareholders
e) Disclosure of Corporate Governance Arrangements

3) Good Corporate Governance di China


Di China, perusahaan terbuka menggunakan system two-tiered board. Walaupunn
China menggunakan two-tiered board, namun dalam penerapannya ada perbedaannya
dengan yang ditetapkan di Amerika Serikat dan Inggris. Two-triered board di China
terdiri dari dewan direksi dan dewan pengawas, yang merupakan transplantasi dari
system di Jerman. Fungsi dewan pengawas di China berbeda dengan dewan pengawas
di Jerman. Dewan pengawas di China tidak memiliki kewenangan dalam membuat
keputusan perusahaan dan juga tidak memiliki kewenangan untuk mengangkat atau
membubarkan anggota-anggota dewn direksi. Dalam praktiknya peran monitoring
dewan komisaris lebih dekoratif daripada fungsinya.
Pada Agustus 2001, China Securities Regulatory Commission (CSRC) diberikan
kewenangan oleh Negara, untuk mengundangkan Guielines for Introducing Independent
Directors to the Board of Directors of Listed Companies (Guidelines). Agar direksi
independen dapat berperan secara aktif, Guilines ini mewajibkan agar direksi
independen harus dapat mengungkapkan pendapat yang independen dalam setiap
peristiwa yang penting dalam perusahaan terbuka dan juga memiliki kewenangan
khusus lainnya seperti yang terdapat dalam hukum perusahaan dan hukum dan regulasi
yang relevan lainnya.
Pada Januari 2002, CSRC dan State Ecconomic and Trade Commission secara
bersama-sama mengeluarkan Code of Corporate Governance of Listed Companies in
China (the Code). Code ini terdiri atas seperangkat aturan yang komprehensif yang
mencngkup prinsip-prinsip dasar corporate governance bagi peruahaan terbuka. Secara
khusus, dapat dikatakan Code di China ini menegaskan bahwa semua perusahaan
terbuka di China dalam menjalankan usahanya harus menggunakan semangat yang ada
pada Code untuk mengembangkan corporate governance.
Code dibuat berdasarkan OECD principles, meliputi 5 prinsip GCG yaitu, hak-
hak pemegang saham, transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan pertangguangjawaban.
Selain itu, China Securities Regulatory Commission (CSRC) segera serius berkomitmen
untuk memajukan dan menerapkan corporate governance di China dan mensejajarkan
dengan perkembangan internasional seperti inisiatif-inisiatif yang dikeluarkan oleh
OECD.
Model corporate governance yng ditetapkan di China merupakan hal yang relatif
baru di Negara tersebut. Model tersebut pada dasarnya memberikan 5 karakteristik dasar
bentuk korporasi ang ada pada saat ini hadir di China yaitu :
a. Adanya pemisahan dan personalitas hukumm yang berbeda
b. Pertanggungjawaban bagi pemilik dan manajer

4) Good Corporate Governance di Jepang


Konsep inti corporate governance yang diterapkan oleh jepang adalah company
community. Pandangan ini menganggap bahwa para pegawai tidak dipekerjakan oleh
perusahaan tetapi mereka termasuk dalam “comapny community”. Company community
itu sendiri terdiri dari manajemen, dewan direksi, dan para pegawai inti yang membagi
identitas mereka sebagai “company community”. Dewan direksi yang dipilih oleh
pemegang saham menentukan semua arah dan kebijakan korporasi dan menunjuk
eksekutif perusahaan yang mengimplementasikan kebijakan-kebijakan tersebut. Pada
praktiknya yang berlaku umum saat ini, corporate board di jepang mewakili
kepentingan perusahaan dan karyawannya secara kolektif, bukan hanya kepentingan
pemegang saham semata.
Dua hal yang muncul dari praktik governance tersebut adalah :
a. Hampir semua direktur merupakan senior manajer atau mantan karyawan
perusahaan. Hampir 80% korporasi di jepang tidak mempunyai anggota dewan
direksi dari luar. Jikapun ada, tidak lebih dari 2 orang.
b. Pemegang saham merupakan pemilik pasif. Komposisi pemegang saham biasanya
didominasi business partner dan investor institusi dengan membentuk block of
friendly serta stable shareholders (60-80%), sedangkan individual hanya sebagai
pemegang saham minoritas.
Upaya pembaharuan corporate governance di jepang dilakukan oleh Corporate
Governance Forum of Japan dengan mengeluarkan corporate governance code pada
Mei 1998. Forum ini terdiri dari para eksekutif, akademis, pengacara, dan perwakilan
shareholders. Shareholder sebagai penyedia modal penyertaan, diberi posisi yang
istimewa. Forum ini membuat beberapa rekomendasi yang memberi perubahan penting
bagi corporate governance di jepang. Rekomendasi – rekomendasi tersebut antara lain :
a. Mengharuskan lebih banyak outside directors dalam keanggotaan dewan.
b. Mengharuskan dibentuknya Komite Audit, Komite Remunerasi, dan Komite
Nominasi yang independen.
Dalam pelaksanaannya, Corporate Governance Forum of Japan sendiri yang
memonitor kemajuan dan mendesak Tokyo Stock Exchange untuk menyertakan the
code dalam daftar aturan pencatatan (listing rules). Kemudian pada 22 Mei 2002, jepang
mengeluarkan revisi Japan’s Commercial Code. Revisi ini berlaku ppada 1 Februari
2003, yang didalamnya termasuk sejumlah perubahan yang berakibat pada
pengoperasian dewan direksi di jepang. Sistem yang baru ini mengharuskan untuk
membentuk 3 komite dalam dewan direksi: nomination committee, komite audit dan
komite pemberian kompensasi.
1.3.Good Corporate Governance di Dunia
Pada awal dekade 2000an dunia dikejutkan oleh tumbangnya perusahaan –
perusahaan raksasa terkemuka di berbagai negara industri maju termasuk Amerika
Serikat, Inggris, Itali, Australia, Singapura, dan Hongkong. Regulator pemerintah tiap
negara dan pakar manajemen memberikan kesimpulan bahwa penyebab utama
tumbangnya perusahaan perusahaan besar tersebut adalah karena lemahnya penerapan
prinsip – prinsip good corporate governance mereka.
Kelemahan corporate governance tersebut antara lain ditandai oleh berbagai
macam hal, diantaranya yaitu :
1. Renggangnya hubungan antara para pemegang saham dengan manajemen
perusahaan.
2. Lemahnya peranan dewan pengurus dalam mengarahkan dan mengendalikan
kebijaksanaan dan pengelolaan harta, utang, dan operasi bisnis perusahaan.
3. Semakin bebasnya manajemen perusahaan mengelola dan mengambil keputusan –
keputusan penting yang bersangkutan dengan kelangsungan hidup perusahaan.
4. Tidak transparan, akurat, dan tepat waktunya penyampaian laporan perkembangan
bisnis dan laporan keuangan oleh manajemen perusahaan kepada para pemegang
saham dan kreditur.
5. Dalam banyak kasus auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan tidak
bekerja di bawah pengawasan langsung dari komite audit
Kelemahan - kelemahan corporate governance itulah yang memberikan peluang
dewan pengurus dan manajemen perusahaan yang memiliki moral dan etika bisnis
yang buruk mengelola perusahaan demi kepentingan pribadi atau golongan mereka
bukan demi kepentingan perusahaan. Dalam melakukan penyalah gunaan jabatan
tersebut tidak sedikit manajemen perusahaan berkolusi dengan institusi profesi papan
atas seperti penasehat hukum, perusahaan konsultan, dan perusahaan akuntan publik.
Skandal bisnis perusahaan – perusahaan raksasa dunia tersebut telah melukai
kehidupan ekonomi banyak negara. Dampak negatif skandal tersebut antara lain
adalah menurunnya kepercayaan investor untuk menanamkan dananya dalam
perdagangan surat berharga. Selain itu bank dan lembaga keuangan non – bank lebih
selektif dalam menyalurkan kredit mereka. Sejak terjadinya skandal bisnis tersebut
diatas para investor surat berharga dan bank - bank kreditur sadar bahwa hak dan
kepentingan mereka di perusahaan dimana mereka menanamkan dananya tidak
sepenuhnya terlindungi.

Mengingat pentingnya penerapan GCG, negara – negara di dunia berusaha unuk


menerapkan GCG di dalam perusahaan dan pemerintahannya. Hingga saat ini GCG
berkembang pesat dan memiliki beragam cara dalam pelaksanaannya. Berikut adalah
beberapa contoh penerapan GCG di berbagai negara di dunia.
1) Good Corporate Governance di Amerika
Tipikal perusahaan di Amerika Serikat kebanyakan bisnis dikelola atas arahan
direksi. Dalam praktiknya, sebagian besar direksi, yaitu direksi yang berasal dari luar
perusahaan, tidak dapat secara langsung mengelola bisnis perusahaan. Sebagai
akibatnya, maka manajerlah yang mengelola bisnis perusahaan dan peran direksi
terbatas hanya untuk memberikan pengawasan dalam urusan perusahaan. Sistem
pengelolaan perusahaan di Amerika Serikat menggunakan outsider atau arm’s length
yang berarti investor ataupun pemegang saham menyerahkan pengelolaan perusahaan
sepenuhnya kepada pengurus perusahaan dan mereka sangat jarang mencampuri dan
ikut serta dalam pelaksanaan bisnis.
Pergerakan reformasi corporate governance dimulai dengan adanya SEC. SEC
melakukan evaluasi tentang bagaimana perusahaan yang dimiliki public dikelola. SEC
mewajibkan perusahaan untuk melakukan investigasi internal dan secara sukarela
menyerahkan laporan tersebut kepada SEC. Di samping itu, peranan SEC dalam
corporate governance yaitu memberikan saran dan nasihat kepada CEO untuk
memonitor kinerja perusahaan, SEC juga menyarankan untuk membentuk suatu komite
audit dalam perusahaan public. Selain SEC, The American Law Institute (ALI) juga
mengintroduksikan aturan yang berisi rekomendasi tentang prinsip-prinsip corporate
governance.
Reformasi corporate governance pertama kali berawal dari sebuah pidato Arthur
Levitt pada tahun 1998. Levitt memaparkan berbagai permasalahan yang ada dalam
suatu perusahaan pada saat itu, yang mengakibatkan kinerja dan akuntabilitas
perusahaan terhadapt pemegang saham atau stakeholders menjadi buruk. Reformasi
kedua corporate governance kedua terjadi pada tahun 2002 yaitu disahkannya undang-
undang yang mengatur keberadaan komite audit dalam perusahaan di Amerika Serikat.
2) Good Corporate Governance di Inggris
Mulai Mei 1991, upaya perbaikan corporate governance di Inggris dilakukan
dengan membentuk Cadbury Committee yang bertugas untuk membuat rekomendasi
untuk memperbaiki mekanisme corporate governance bukan hanya untuk bank saja
melainkan juga untuk semua perusahaan-perusahaan di Inggris. Rekomendasi ini
tertuang dalam Cadbury Report.
Selain Cadbury Committee, Hampell Committee juga merupakan komite yang
berperan dalam penegakan corporate governance di Inggris, yang diharapkan
memfokuskan rekomendasi pada tiga bidang yaitu pembentukan prinsip keterbukaan
pada pembayaran bagi eksekutif, klarifikasi lebih lanjut dalam peranan eksekutif direksi
dan non eksekutif direksi, dan metode untuk meningkatkan kepentingan institusional
investor di Inggris. Dalam perkembangan berikutnya, Hampel Committee
mengharuskan agar komite-komite yang akan dibentuk pada masa mendatang dalam
mereview corporate governance haruslah memperhatikan prinsip-prinsip corporate
governance yang dibuat oleh American Law Institute (ALI).
3) Good Corporate Governance di Australia
Corporate governance sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku bisnis,
tetapi sudah merupakan suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah merupakan
tuntutan masyarakat. Setiap tindakan memerlukan pertanggungjawaban yang baik.
Penerapan GCG didukung oleh Organisation for Economic Cooperation and
Development dengan penerbitan prinsip prinsip GCG yang bertujuan untuk membantu
negara-negara baik negara anggota OECD maupun bukan anggota OECD untuk
menerapkan GCG di negaranya terutama untuk dapat menyediakan pedoman dan saran-
saran bagi bursa saham, investor, perusahaan, dan pihak-pihak lain yang memiliki
peranan dalam proses pengembangan GCG.

Penerapan GCG di Australia dimulai dari adanya reaksi pemerintah Australia


terhadap krisis ekonomi dan runtuhnya perusahaan banyak perusahaan public pada
awal tahun 2000. Pemerintah Australia menerbitkan pedoman good corporate
governance bagi perusahaan – perusahaan publik serta memperbaharui undang –
undang tentang perusahaan Australia. Pemerintah Australia menyusun program untuk
meninjau kembali regulasi audit dan pengungkapan informasi perusahaan yang disebut
Corporate Law Economic Reform Program (CLERP). Program tersebut juga
mengaktifkan partisipasi pemegang saham dalam meningkatkan akuntabilitas dan
transparansi perusahaan – perusahaan public.
4) Implementasi Corporate Governance dan Peran OJK
Implementasi Corporate Governance merupakan hal yang wajib dilakukan oleh tiap
perusahaan baik BUMN maupun BUMS serta lembaga keuangan. Dalam proses
implementasinya tentunya diperlukan suatu pengawasan agar implementasi GCG
tersebut tetap berjalan dengan baik dan sesuai dengan prinsip Corporate Governance itu
sendiri.
OJK adalah lembaga yang dibentuk dengan fungsi untuk mengawasi kegiatan sektor
keuangan. OECD bersama OJK meluncurkan The New G20/OECD Principles Of
Corporate Governance (CG) di Jakarta sebagai bentuk partisipasi OJK untuk
mendukung penerapan prinsip GCG G20/OECD yang baru diluncurkan September
2015 lalu di pertemuan G20 di Ankara, Turki. Prinsip-prinsip GCG G20/OECD terbaru
tersebut merupakan pengembangan dari versi terdahulu yang memberikan
rekomendasi bagi para pembuat kebijakan nasional tentang hak-hak pemegang saham,
remunerasi eksekutif, pengungkapan informasi keuangan, perilaku investor institusi,
dan bagaimana mekanisme pasar saham harus berfungsi. OJK sebelumnya sudah
mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) terkait pelaksanaan GCG yaitu, yaitu Tata Kelola
Perusahaan Terbuka yang terdiri dari lima aspek:
(1) Hubungan Perusahaan Terbuka dengan Pemegang Saham Dalam Menjamin Hak-
Hak Pemegang Saham
(2) Fungsi dan Peran Dewan Komisari
(3) Fungsi dan Peran Direksi
(4) Partisipasi Pemangku Kepentingan; dan
(5) Keterbukaan Informasi.
Diharapkan penerapan prinsip-prinsip baru ini dapat memudahkan para pelaku pasar
untuk menyesuaikan implementasi prinsip GCG dengan perubahan dan pertumbuhan
bisnis di era sekarang untuk mendorong pertumbuhan dan keberlangsungan sektor jasa
keuangan Indonesia, sehingga dapat mendorong ketahanan sektor jasa keuangan dan
pertumbuhan ekonomi dalam kondisi normal ataupun krisis.
Implementasi prinsip-prinsip terbaru ini diharapkan dapat menciptakan kepercayaan,
transparansi dan akuntabilitas, sehingga sektor jasa keuangan dapat berkembang dan
membuka akses serta peluang untuk investasi dan pendanaan jangka panjang melalui
pasar modal. Perubahan prinsip-prinsip GCG G20/OECD dibagi menjadi 6 bab yang
penambahannnya dimasukkan ke dalam tiap-tiap bab tersebut:

1. Dasar kerangka tata kelola yang efektif


2. Hak dan perlakuan yang adil untuk pemegang saham dan fungsi kunci
kepemilikan
3. Investor institusi, pasar modal dan perantara lainnya
4. Peran pemangku kepentingan dalam tata kelola
5. Transparansi dan Keterbukaan informasi
6. Tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris
Sumber Referensi

Asri Dwija Putri dan Agung Ulupui.2017. Pengantar Corporate Governance. Denpasar : CV
Sastra Utama.

Friska,Junia.2013. Penerapan Good Corporate Governance di Dunia.

https://unicapah19.blogspot.com/2013/03/implementasi-good-governance-di.html
(Diakses tanggal 16 Februari 2019).

Komite Nasioal Kebijakan Governance.2015. Pedoman Umum Corporate Governance di


Indonesia. http://www.ecgi.org/codes/documents/indonesia_cg_2015_id.pdf. (Diakses
tanggal 16 Februari 2019).

OJK.2015. OJK Luncurkan Prinsip GCG.

https://www.ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OECD-
OJK-Luncurkan-Prinsip-Good-Corporate-Governance-G20-OECD.aspx. (Diakses tanggal
16 Februari 2019).

Yanwariani,Dwi.2015.Implementasi GCG.

https://yanwariyanidwi.wordpress.com/2015/12/15/pengertian-prinsip-dan-penerapan-
good-governance-di-indonesia/ (Diakses tanggal 16 Februari 2019).