Anda di halaman 1dari 31

REVOLUSI HIJAU DAN INDUSTRI PADA

MASA ORDE BARU


ORDE BARU

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto dari
tahun 1996 sampai tahun 1998 di Indonesia yang menggantikan Orde Lama yang
merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat
“koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde
Lama.

Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat


meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela.
Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin
melebar.

Beriringan dengan hal tersebut, ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam


sektor pertanian dan industri di Indonesia juga berkembang pesat. Namun,
keadaan ekonomi di Indonesia masih belum labil.

Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai peninggalan


pemerintah
Orde Lama tersebut, maka pemerintah Orde Baru melakukan serangkaian
langkah dan berbagai kebijakan ekonomi.

Orde Baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa dan
negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Dengan kata lain, Orde Baru adalah suatu orde yang
mempunyai sikap dan tekad untuk mengabdi pada kepentingan rakyat dan nasional
dengan dilandasi oleh semangat dan jiwa Pancasila serta UUD 1945

Kelebihan Sistem Pemerintahan Orde Baru


•Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya US$70
dan pada 1996 telah mencapai lebih dari US$1.000.
•Sukses transmigrasi.
•Sukses KB.
•Sukses memerangi buta huruf.
•Sukses swasembada pangan.
•Pengangguran minimum.
•Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
•Sukses Gerakan Wajib Belajar.
•Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh.
•Sukses keamanan dalam negeri.
•Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia.
•Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri.

Kelemahan Sistem Pemerintahan Orde Baru


•Semaraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme.
•Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan
pembangunan antara pusat dan daerah.
•Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan
pembangunan, terutama di Aceh dan Papua.
•Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang
memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun
pertamanya.
•Bertambahnya kesenjangan sosial.
•Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan.
•Kebebasan pers sangat terbatas.
•Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan.
•Tidak ada rencana suksesi

REVOLUSI HIJAU

Munculnya beberapa teknik pertanian pada abad ke-17 dan abad ke-18
dapat dilacak dari jenis tanaman baru dan beberapa perubahan ekonomi. Pada
masa sekarang ini di negara yang maju dan sedang berkembang terjadi
perbedaan makin besar dalam taraf hidup masyarakatnya. Hal ini disebabkan
perbedaan antara efisiensi teknologi pertanian dan kenaikan jumlah penduduk.
Perubahan-perubahan di bidang pertanian sebenarnya telah berkali-kali terjadi
dalam sejarah kehidupan manusia yang biasa dikenal dengan istilah revolusi.
Perubahan dalam bidang pertanian itu dapat berupa peralatan pertanian,
perubahan rotasi tanaman, dan perubahan sistem pengairan. Usaha ini ada yang
cepat dan lambat. Usaha yang cepat inilah disebut revolusi, yaitu perubahan
secara cepat menyangkut masalah pembaruan teknologi pertanian dan
peningkatan produksi pertanian, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Revolusi Hijau merupakan bagian dari perubahan-perubahan yang terjadi


dalam sistem pertanian pada abad sekarang ini. Revolusi Hijau pada dasarnya
adalah suatu perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara
modern. Lahirnya Revolusi Hijau melalui proses panjang dan akhirnya meluas ke
wilayah Asia dan Afrika. Revolusi Hijau mulai mendapat perhatian setelah
Thomas Robert Malthus (1766–1834) mulai melakukan penelitian dan memaparkan
hasilnya. Malthus menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah yang tidak bisa
dihindari oleh manusia. Di Meksiko pada tahun 1944 didirikan sebuah pusat
penelitian benih jagung dan gandum. Pusat penelitian ini mendapat bimbingan
langsung dari Rockefeller Foundation. Hanya dalam beberapa tahun, para peneliti
di lembaga tersebut berhasil menemukan beberapa varietas baru yang hasilnya
jauh di atas rata-rata hasil varietas lokal Meksiko. Diilhami oleh kesuksesan hasil
penelitian di Meksiko, pada tahun 1962 Rockefeller Foundation bekerja sama
dengan Ford Foundation mendirikan sebuah badan penelitian untuk tanaman padi
di Filipina. Badan penelitian ini dinamakan International Rice Research Institute
(IRRI) yang bertempat di Los Banos, Filipina. Pusat penelitian initernyata juga
menghasilkan suatu varietas padi baru yang hasilnya jauh melebihi rata-rata hasil
varietas lokal di Asia. Varietas baru tersebut merupakan hasil persilangan
genetik antara varietas padi kerdil dari Taiwan yang bernama Dee-Geowoogen
dan varietas padi jangkung dari Indonesia yang bernama Peta.

Hasil dari persilangan tersebut diberi nama IR 8-288-3 atau biasa dikenal
dengan IR-8 dan di Indonesia dikenal dengan sebutan padi PB-8. Setelah
penemuan padi PB- 8, disusul oleh penemuan varietasvarietas baru yang lain.
Jenis-jenis bibit dari IRRI ini di Indonesia disebut padi unggul baru (PUB). Pada
tahun 1966, IR-8 mulai disebarkan ke Asia diikuti oleh penyebaran IR-5 pada
tahun 1967. Pada tahun 1968 di India, Pakistan, Sri Lanka, Filipina, Malaysia,
Taiwan, Vietnam, dan Indonesia telah dilaksanakan penanaman padi jenis IR atau
PUB secara luas di masyarakat. Pada tahun 1976 areal sawah di Asia yang
ditanami PUB sudah mencapai 24 juta hektar. Revolusi Hijau adalah proses
keberhasilan para teknologi pertanian dalam melakukan persilangan (breeding)
antarjenis tanaman tertentu sehingga menghasilkan jenis tanaman unggul untuk
meningkatkan produksi bahan pangan. Jenis tanaman unggul itu mempunyai ciri
berumur pendek, memberikan hasil produksi berlipat ganda (dibandingkan dengan
jenis tradisional) dan mudah beradaptasi dalam lingkungan apapun, asal memenuhi
syarat, antara lain:

a. tersedia cukup air;


b. pemupukan teratur;

c. tersedia bahan kimia pemberantas hama dan penyakit;

d. tersedia bahan kimia pemberantas rerumputan pengganggu.

PERKEMBANGAN REVOLUSI HIJAU DI INDONESIA

Perkembangan revolusi hijau yang semakin bertambah pesat, juga


berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia. Sebagian besar kondisi social
ekonomi masyarakat Indonesia berciri agraris. Oleh karena itu pertanian menjadi
sector yang sangat penting dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi
Indonesia, hal ini didasari oleh:

a. Kebutuhan penduduk yang meningkat dengan pesat.

b. Tingkat produksi pertanian yang masih sangat rendah.

c. Produksi pertanian belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan penduduk.

Maka, berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah Indonesia berupaya


untuk meningkatkan produksi pertanian dengan melakukan berbagai cara
diantaranya dikenal dengan sebutan sebagai berikut:

a. Intensifikasi pertanian

Intensifikasi pertanian yaitu usaha meningkatkan produksi pertanian


dengan menerapkan pancausaha tani, panca usaha tani ini meliputi

· pemilihan dan penggunaan bibit unggul atau varitas unggul;

· pemupukan yang teratur;

· pengairan yang cukup;

· pemberantasan hama secara intensif;

· teknik penanaman yang lebih teratur.

b. Ekstensifikasi pertanian

Ekstensifikasi pertanian yaitu usaha meningkatkan produksi pertanian


dengan membuka lahan baru termasuk usaha penangkapan ikan dan penanaman
rumput untuk makanan ternak.
c. Diversifikasi pertanian

Diversifikasi pertanian yaitu usaha meningkatkan produksi pertanian


dengan keanekaragaman usaha tani.

d. Rehabilitasi pertanian

Rehabilitasi pertanian yaitu usaha meningkatkan produksi pertanian


dengan pemulihan kemampuan daya produkstivitas sumber daya pertanian yang
sudah kritis.

Dalam pelaksanaannya Revolusi Hijau dilakukan dalam bermacam bentuk


dan cara. Di Indonesia misalnya Revolusi Hijau dilakukan melalui “komando dan
subsidi”. Program BIMAS atau Bimbingan Massal tahun 1970 adalah salah satu
bentuk pelaksanaan Revolusi Hijau. Bimas adalah suatu paket program
pemerintah yang berupa teknologi pertanian, benih hibrida, pupuk kimia,
pestisida, dan bantuan kredit. Ketika jumlah peserta BIMAS menurun,
pemerintah melontarkan program baru INMAS (intensifikasi massal) yakni suatu
program kredit sebagai lanjutan bagi peserta Bimas. Pada tahun 1979 sekali lagi
sebuah program baru bernama INSUS (intensifikasi khusus) diluncurkan.
Tujuannya adalah untuk mendorong petani menanam tanaman sambil mengontrol
hama padi.

Revolusi Hijau di Indonesia diformulasikan dalam konsep


‘Pancausaha Tani’ yaitu:

a. pemilihan dan penggunaan bibit unggul atau varitas unggul;


b. pemupukan yang teratur;
c. pengairan yang cukup;
d. pemberantasan hama secara intensif;
e. teknik penanaman yang lebih teratur.

Program-program yang diluncurkan pemerintah ini dibarengi dengan


beberapa subsidi. Bentuk-bentuk subsidi tersebut adalah

a. bantuan dan subsidi besar besaran terhadap harga pupuk kimia

b. subsidi terhadap kredit pertanian

c. pembayaran gabah oleh negara melalui operasi pembelian dengan harga dasar
dan pembangunan stok persediaan
d. meningkatkan kuantitas irigasi serta pinjaman modal melalui utang luar negeri.

Hasil kuantitatif Revolusi Hijau di Indonesia memang menakjubkan. Di


satu pihak pertanian di Jawa mampu memproduksi dua kali lipat padi dari hasil
pertanian di Pulau Jawa tahun 1960-an. Jawa menyumbangkan lebih dari rata
rata kontribusi pangan nasional, dalam arti hasil dibanding daerah lain di
Indonesia, dan karena itu memainkan peran utama dalam perubahan status
Indonesia dari pengimpor beras terbesar menjadi mandiri pada tahun 1985.

Namun demikian jika dilihat secara kwalitatif dan kritis, terdapat


berbagai persoalan yang berdampak terhadap meningkatnya kemiskinan di
pedesaan, urbanisasi, serta represi politik terhadap kaum tani. (Banyak study
telah dilakukan diantaranya oleh Gunawan Riyadi).

Dalam rangka untuk mencegah terjadinya penolakan penyebab


marginalisasi akibat dari program terebut pemerintah telah menerapkan suatu
mekanisme konrol politik dengan memperkenalkan “floating mass policy”, yakni
melarang organisasi massa dan politik berkembang di tingkat desa. Pemilihan
kepala desa diganti dengan sistim penunjukan, dan sering kali dengan seorang
militer untuk melengkapi Komando rayon militer di tingkat kecamatan.
Pembentukan KUD sebagai satu-satuya koperasi di tingkat kecamatan, serta
kebijaksanaan tentang pemerintahan desa yang berlaku sejak tahun 1979 untuk
menggantikan model rembug desa, adalah juga proses pembatasan politik petani
melalui penciptaan lembaga yang bisa kontrol.

DAMPAK POSITIF DAN DAMPAK NEGATIF DARI REVOLUSI


HIJAU

Revolusi Hijau dapat memberikan keuntungan bagi kehidupan umat


manusia, tetapi juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan umat manusia.
Keuntungan Revolusi Hijau bagi umat manusia, antara lain sebagai berikut.

a. Revolusi Hijau menyebabkan munculnya tanaman jenis unggul berumur


pendek sehingga intensitas penanaman per tahun menjadi bertambah (dari satu
kali menjadi dua kali atau tiga kali per dua tahun). Akibatnya, tenaga kerja yang
dibutuhkan lebih banyak. Demikian juga keharusan pemupukan, pemberantasan
hama dan penyakit akan menambah kebutuhan tenaga kerja
b. Revolusi Hijau dapat meningkatkan pendapatan petani. Dengan paket teknologi,
biaya produksi memang bertambah. Namun, tingkat produksi yang dihasilkannya
akan memberikan sisa keuntungan jauh lebih besar daripada usaha pertanian
tradisional.

c. Revolusi Hijau dapat merangsang kesadaran petani dan masyarakat pada


umumnya akan pentingnya teknologi. Dalam hal ini, terkandung pandangan atau
harapan bahwa dengan masuknya petani ke dalam arus utama kehidupan ekonomi,
petani, dan masyarakat pada umumnya akan menjadi sejahtera.

d. Revolusi Hijau merangsang dinamika ekonomi masyarakat karena dengan hasil


melimpah akan melahirkan pertumbuhan ekonomi yang meningkat pula di
masyarakat. Hal ini sudah terjadi di beberapa negara, misalnya di Indonesia.

Namun, bukan hanya danpak positif saja yang diberikan akibat adanya
revolusi hijau ini, ada juga dampak negative yang muncul akibat revolusi hijau ini.
Dampak negatif munculnya Revolusi Hijau bagi para petani Indonesia, antara lain
sebagai berikut.

a. Sistem bagi hasil mengalami perubahan. Sistem panen secara bersamasama


pada masa sebelumnya mulai digeser oleh sistem upah. Pembeli memborong
seluruh hasil dan biasanya menggunakan sedikit tenaga kerja. Akibatnya,
kesempatan kerja di pedesaan menjadi berkurang.

b. Pengaruh ekonomi uang di dalam berbagai hubungan sosial di daerah pedesaan


makin kuat.

c. Ketergantungan pada pupuk kimia dan zat kimia pembasmi hama juga
berdampak pada tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani.d.
Peningkatan produksi pangan tidak diikuti oleh pendapatan petani secara
keseluruhan karena penggunaan teknologi modern hanya dirasakan oleh petani
kaya.

Pengaruh Revolusi Hijau terhadap Perubahan Sosial Ekonomi di


Pedesaan dan Perkotaan pada Masa Orde Baru

Sebelum Revolusi Hijau, produksi padi yang merupakan bahan pangan


utama di Indonesia masih bergantung pada cara pertanian dengan mengandalkan
luas lahan dan teknologi yang sederhana. Pada periode kemudian, intensifikasi
pertanian menjadi tumpuan bagi peningkatan produksi pangan nasional. Usaha
peningkatan produksi pangan di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1950-an.

Pada waktu itu, pemerintah menerapkan kebijakan Rencana Kemakmuran


Kasimo. Program itu dilakukan pada kurun waktu tahun 1952–1956. Keinginan
mencapai produksi pangan yang tinggi kemudian dilanjutkan. Beberapa program
baru dilaksanakan, seperti program padi sentra pada tahun 1959– 1962 dan
program bimbingan masyarakat (bimas) pada tahun 1963–1965.

Program-program tersebut telah merintis penerapan prinsip-prinsip


Revolusi Hijau di Indonesia melalui pelaksanaan kegiatan Pancausaha Tani yang
mencakup intensifikasi dan mekanisasi pertanian. Berbagai usaha telah dilakukan
oleh pemerintah (departemen pertanian), seperti “Bimas (Bimbingan Massal),
Intensifikasi Masal (Inmas), Insus (Intensifikasi Khusus), Opsus (Operasi
Khusus).

Insus dan Opsus lebih menekankan pada peningkatan partisipasi petani


secara kelompok dan aparat pembina dalam meningkatkan produksi. Insus
merupakan upaya intensifikasi kelompok guna meningkatkan potensi lahan,
sedangkan opsus merupakan upaya menjangkau lahan yang belum diintensifikasi
dan mencoba memberi rangsangan dalam peningkatan produksi.

Berbagai usaha yang telah dilakukan belum berhasil menutupi kebutuhan


pangan yang besar. Produksi beras per tahun menunjukkan kenaikan dari 5,79
juta ton pada tahun 1950 menjadi 8,84 juta ton pada tahun 1965. Namun, jumlah
beras yang tersedia per jiwa masih tetap rendah sehingga impor beras masih
tetap tinggi. Ketika ekonomi nasional memburuk pada awal tahun 1960-an,
persediaan beras nasional juga menurun.

Akibatnya, harga beras meningkat dan masyarakat sulit mendapatkan


beras di pasar. Ketika Pelita I dimulai pada tahun 1969, sebuah rencana
peningkatan hasil tanaman pangan khususnya beras dilakukan melalui program
intensifikasi masyarakat (inmas). Program inmas tersebut untuk melanjutkan
program bimbingan masyarakat (bimas).

Pusat-pusat penelitian itu tidak hanya bergantung pada pembudidayaan


jenis padi yang telah dikembangkan oleh IRRI. Para peneliti Indonesia juga
melakukan penyilangan terhadap jenis padi lokal. Mereka berhasil menemukan
jenis padi baru yang lebih berkualitas, baik dalam penanaman, tingkat produksi,
maupun rasa dengan memanfaatkan teknologi baru yang ada. Hasilnya, beberapa
jenis benih unggul yang dikenal sebagai padi IR, PB, VUTW, C4, atau Pelita
ditanam secara luas oleh para petani Indonesia sejak tahun 1970-an.

Perkembangan Revolusi Hijau di Indonesia mengalami pasang surut karena


faktor alam ataupun kerusakan ekologi. Hal ini tentu saja memengaruhi
persediaan beras nasional. Pada tahun 1972, produksi beras Indonesia terancam
oleh musim kering yang panjang. Usaha peningkatan produksi beras nasional
sekali lagi terganggu karena serangan hama dengan mencakup wilayah yang
sangat luas pada tahun 1977. Produksi pangan mengalami kenaikan ketika
program intensifikasi khusus (insus) dilaksanakan pada tahun 1980.

Hasilnya, Indonesia mampu mencapai tingkat swasembada beras dan


berhenti mengimpor beras pada tahun 1984. Padahal, pada tahun 1977 dan 1979
Indonesia merupakan pengimpor beras terbesar di dunia. Selain memanfaatkan
jenis padi baru yang unggul, peningkatan produksi beras di Indonesia didukung
oleh penggunaan pupuk kimia, mekanisasi pengolahan tanah, pola tanam,
pengembangan teknologi pascapanen, penggunaan bahan kimia untuk membasmi
hama pengganggu, pencetakan sawah baru, dan perbaikan serta pembangunan
sarana dan prasarana irigasi.

Selain kebijakan intensifikasi, Indonesia juga melakukan pencetakan


sawah baru. Sampai tahun 1985, sudah terdapat 4,23 juta hektar sawah
beririgasi terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat dibandingkan sekitar
1,8 juta hektar pada tahun 1964. Selama empat pelita, telah dibangun dan
diperbaiki sekitar 8,3 juta hektar sawah beririgasi.

Dengan demikian Revolusi Hijau memberikan pengaruh yang positif dalam


pengadaan pangan. Sejak tahun 1950 Indonesia masuk menjadi anggota FAO
(Food and Agricultur Organization). FAO telah banyak memberi bantuan untuk
pengembangan pertanian. Keberhasilan Indonesia dalam swasembada pangan
dibuktikan dengan adanya penghargan dari FAO pada tahun 1988. Hal ini berarti
Indonesia telah dapat mengatasi masalah pangan.

PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI

Industrialisasi adalah kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk mengolah


bahan mentah, bahan baku, barang ½ jadi menjadi barang jadi yang mempunyai
nilai lebih tinggi dalam penggunaannya.
Pemerintah orde baru mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1984 tentang
industri. Secara garis besar, industri dibedakan menjadi 2, yakni industri
pertanian dan nonpertanian.

Industri pertanian adalah kegiatan industri yang berkaitan dengan bidang


pertanian atau hasil industri itu akan menopang industri pertanian. Contohnya
industri minyak kelapa, pengolahan udang, kayu dan lain-lain.
Industri nonpertanian adalah industri di luar bidang pertanian yang merupakan
suatu kegiatan yang bersifat bisnis. Contohnya industri semen, baja, elektronika,
pesawat terbang, dan sebagainya.

Dampak positif industrialisasi:


- Meningkatnya mobilitas penduduk.
- Terbukanya lapangan kerja baru.
- Meningkatnya pendapatan masyarakat.
- Kebutuhan manusia semakin terpenuhi.

Dampak negatif industrialisasi:


- Terjadinya pencemaran lingkungan.
- Munculnya sifat konsumerisme.
- Menurunnya budaya gotong royong.
- Berkembangnya paham individualitas.
- Banyak terjadi suap menyuap dalam pembangunan industri.
- Berkurangnya lahan karena industri.

Perkembangan industi yang pesat dewasa ini memang tidak terlepas dari proses
perjalanan panjang penemuan-penemuan baru dalam bidang industry . dimana
selain penemuan-penemuan baru di bidang industry masih ada lagi factor yang
menyebabkan terjadi industrialisasi, diantaranya yaitu pengaruh dari
perkembangan revolusi hijau. Dimana revolusi hijau ini menyebabkan upaya untuk
melakukan modernisasi yang berdampak pada perkembangan industrialisasi yang
ditandai dengan adanya pemikiran ekonomi rasional. Pemikiran tersebut akan
mengarah pada kapitalisme. Dengan industrialisasi juga merupakan proses budaya
dimana dibagun masyarakat dari suatu pola hidup atau berbudaya agraris
tradisional menuju masyarakat berpola hidup dan berbudaya masyarakat industri.
Perkembangan industri tidak lepas dari proses perjalanan panjang penemuan di
bidang teknologi yang mendorong berbagai perubahan dalam masyarakat.
Industrialisasi ini juga berhasil menjerat Indonesia untuk masuk didalamnya,
dimana Industrialisasi di Indonesia ditandai oleh :

a. Tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja.

b. Banyaknya tenaga kerja terserap ke dalam sektor-sektor industri.

c. Terjadinya perubahan pola-pola perilaku yang lama menuju pola-pola perilaku


yang baru yang bercirikan masyarakat industri modern diantaranya rasionalisasi.

d. Meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat di berbagai daerah


khususnya di kawasan industri.

e. Menigkatnya kebutuhan masyarakat yang memanfaatkan hasil-hasil industri


baik pangan, sandang, maupun alat-alat untuk mendukung pertanian dan
sebagainya.

Dari hal diatas, pemerintah Indonesia mulain tertarik akan perkembangan


industrialisasi di Indonesia. Untuk itu pemerintah berupaya untuk meningkatkan
industrialisasi di Indoensia, upaya yang dilakukan pemerintah diantaranya yaitu:

a. Meningkatkan perkembangan jaringan informasi, komunikasi, transportasi


untuk memperlancar arus komunikasi antarwilayah di Nusantara.

b. Mengembangkan industri pertanian

c. Mengembangkan industri non pertanian terutama minyak dan gas bumi yang
mengalami kemajuan pesat.

d. Perkembangan industri perkapalan dengan dibangun galangan kapal di Surabaya


yang dikelola olrh PT.PAL Indonesia.

e. Pembangunan Industri Pesawat Terbang Nusantara(IPTN) yang kemudian


berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia.

Pembangunan kawasan industri di daerah Jakarta, Cilacap, Surabaya, Medan, dan


Batam.

Dengan adanya tekhnologi baru dan revolusi industry, masyarakat dunia


sekarang ikut menikmati segala macam barang dan jasa yang bermutu dan
jumlahnya pun semakin meningkat. Indonesia sebagai salah satu Negara
berkembang turut menikmati kemajuan dari perkembangan industry.
a. Industry pertanian.

Industry pertanian merupakan suatu upaya untuk mengolah sumber daya


hayati dengan bantuan tekhnologi industry. Tekhnologi industry itu dapat
menghasilkan berbagai macam hasil yang mempunyai nilai lebih tinggi. Bentuk
bentuk industry pertanian meliputi hal-hal sebagai berikut:

· Industry pengolahan hasil tanaman pangan termasuk hortikultura.

· Industry pengolahan hasil perkebunan seperti industry minyak kelapa,


industry barang-barang karet dan sebagainya.

· Industry pengolahan hasil perikanan seperti industry pengolahan udang,


rumput laut, ubur-ubur dan lain sebagainya.

· Industry pengolahan hasil hutan seperti pengolahan kayu, pengolahan pulp,


kertas dan ranyon, serta industry pengolahan rotan.

· Industry pupuk, yaitu dengn memanfaatkan gas alam, serta eksploitsi sumber-
sumber yang baru.

· Industry pestisida yang dikembangkan terutama untuk memenuhi kebutuhan


dalam negeri maupun ekspor.

· Industry mesin dan peralatan pertanian.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan industry pertanian agar


lebih baik yaitu:

Ø Melakukan panca usaha tani

Ø Penanganan pascapanen

Ø Menentukan harga yang layak bagi produsen dan konsumen.

Ø Penyediaan sarana dan prasarana

Ø Pengembangan dan pemanfaatan tekhnologi.

Ø Pemanfaatan lahan kering, pekarangan dan rawa.

Pada dasarnya perekonom ian Indonesia bersifat agraris, bahkan hamper


80% wilayah Indonesia merupakan daerahpertanian dan sebagian besar penduduk
indionesia bekerja di sector pertanian.
Hasil hasil pertanian yang meliputi hasil produksi pertanian, perkebunan,
perikanan, peternakan, dan kehutanan merupakan bahan mentah untuk kegiatan
industry, seperti industry furniture, tekstil, kertas, rokok, dan lain sebagainya.
Sudah tentu, pengolahan hasil produksi pertanian itu ditempuh melalui proses
industry pabrtik. Beberapa pabrik industry pengolahan hasil pertanian itu antara
lain pabrik ban mobil goodyear di bogor, pabrik kina di bandung, pabrik kertas di
leces dan padalarang, pabrik pengolahan udang di semarang dan lain sebagainya.

b. Industry nonpertanian.

Industri nonpertanian adalah industri yang aktivitasnya di luar bidang


pertanian, meliputi industri maritim, industri elektronika, industri pariwisata,
industri pertambangan dan energi, industri semen, besi baja, perakitan
kendaraan bermotor. Berbagai macam industri telah didirikan untuk
meningkatkan produksinya. Pabrik semen di Gresik, Padang, Cibinong, dan Ujung
Pandang. Untuk memperkuat struktur industri Indonesia yang masih lemah, mulai
tahun 1984 pemerintah menyusun suatu langkah strategis yang disebut “Peta
Rangka Landasan” bidang industri dengan sistem “Pusat Pertumbuhan Industri
(Industrial Growth Center) “sebuah proyek percontohan di Lhok Seumawe
sebagai suatu wilayah terpadu dari pusat industri petrokimia, pupuk Urea, semen,
kertas, dan sebagainya. Upaya yang sama dilaksanakan di Palembang, Gresik,
Kupang, dan Kalimantan Timur.

· Industri Pertambangan dan Energi

Industri pertambangan dan industri diarahkan pada pemanfaatan dan penyediaan


bahan baku bagi industri dalam negeri, dan meningkatkan ekspor.

Contohnya adalah:

Ø industri tambang batu bara di Sawahlunto;

Ø industri tambang emas di Irian Jaya;

Ø industri tambang minyak bumi di Balikpapan, Palembang;

Ø industri tambang timah di Belitung;

Ø industri semen di Gresik, Padang, Cibinong, Ujung Pandang


· IndustriElektronika.

Perkembangan elektronika di Indonesia semakin maju seiring bermunculan


perusahaan elektronika Maspion, Polytron, LG, Panasonic (sekarang National dan
Panasonic bergabung menjadi Panasonic).

· Industri Pariwisata

Indonesia (Pulau Bali) termasuk peringkat 5 setelah Hawai pada


pariwisatainternasional. Wilayah Indonesia termasuk wisata alam, budaya, dan
teknologi. Adapun keuntungan industri wisata adalah:

Ø mendatangkan devisa Negara

Ø memperluas lapangan kerja

Ø memacu pembangunan daerah

Ø meningkatkan rasa cinta tanah air

Ø mengembangkan kerajinan rakyat.

Menurut UU No. 5 Tahun 1984, Departemen Perindustrian secara nasional


membagi industri menjadi 4 kelompok,yaitu:

· industri mesin dan logam dasar (industri hulu);

· industri kimia dasar (industri hulu);

· kelompok aneka industri (industri hilir);

· industri kecil termasuk industri rumah tangga.

Perkembangan industri pertanian dan nonpertanian telah membawa hasil


yang cukup menggembirakan. Hasil-hasilnya telah dapat dirasakan dan dinikmati
saat itu oleh masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut.

· Swasembada Beras

· Kesejahteraan Penduduk

· Perubahan Struktur Ekonomi

· Perubahan Struktur Lapangan Kerja


· Perkembangan Investasi

PERKEMBANGAN TEKHNOLOGI INFORMASI DAN


KOMUNIKASI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi menampakkan kemajuan


sekitar abad ke-19, ketika para ilmuan berhasil menemukan berbagai penemuan
penting. Misalnya penemuan di bidang keasehatan yang memungkinkan kesehatan
manusia menjadi lebih baik. Perkembangan itu sampai sekarang masih
berlangsung dan telah mengubah cara kehidupan manusia diseluruh dunia. Namun
yang paling menakjubkan dalam penemuan itu adalah perkembangan di bidang
tekhnologi informasi dan komunikasi.

a. System informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi merupakan gabungan antara teknologi perangkat


keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Pengembangan teknologi
hardware cenderung menuju ukuran yang kecil dengan kemampuan serta
kapasitas yang tinggi. Namun diupayakan harga yang relatif semakin murah.
Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan
memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan
akurat sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Perkembangan
teknologi informasi telah memunculkan berbagai jenis kegiatan yang berbasis
pada teknologi, seperti : e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-
laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk


mengolah data, meliputi : memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,
memanipulasi data dengan berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang
berkualitas. Informasi yang dibutuhkan akan relevan, akurat, dan tepat waktu,
yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan yang strategis
untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer
untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer
dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan.

Dengan ditunjang teknologi informasi telekomunikasi data dapat disebar


dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi
informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti
informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi
seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana
kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok
yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi,
ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
Perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan,
dari kehidupan itu dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal
dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan
secara elektronik. Sehingga sekarang sedang semarak dengan berbagai
terminologi yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-
education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan
yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Ekonomi global juga mengikuti evoluasi dari agraris dengan ciri utama
tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Melalui penemuan mesin
uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utama modal
sebagai faktor produksi yang paling penting. Abad sekarang, cenderung manusia
menduduki tempat sentral dalam proses produksi berdasar pada pengetahuan
(knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused).
Telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci
(enabler technology). Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat,
memungkinkan diterapkannya cara-cara yang lebih efisien untuk produksi,
distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke
dalam masyarakat atau ekonomi informasi sering disebut sebagai masyarakat
pasca industri. Pada era informasi ini, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi
menjadi faktor penentu dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha,
sehingga dunia ini menjadi suatu kampung global atau Global Village.

b. Perkembangan media komunikasi Massa di Indonesia.

Komunikasi massa dikenal di Indonesia sejak abad ke-18, tahun 1744


ketika sebuah surat kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan oleh
pengusahaan Belanda. Kemudian terbit Vendu Niews tahun 1776 yang
mengutamakan diri pada berita pelelangan. Ketika memasuki abad ke-19, terbit
berbagai surat kabar lainnya yang semuanya diusahakan oleh orang-orang Belanda
untuk para pembaca Belanda dan segelintir kaum pribumi yang mengerti bahasa
Belanda. Kemudian media massa yang dikelola oleh pribumi mulai dengan
terbitnya majalah Bianglala tahun 1854 dan Bomartani 1885, keduanya di
Weltevreden. Selain itu pada tahun 1856 terbit Soerat kabar Bahasa Melajoe di
Surabaya. Umumnya media itu terbit di Jawa. Ini dikarenakan percetakan
sebagai sarana yang sangat vital untuk menerbitkan media hanya ada di Jawa. Itu
sebabnya pers di Sumatera dan pulau-pulau lainnya berkembang belakangan. Di
Padang misalnya muncul terbit pertama kalinya Pelita Kecil tahun 1882 dan Partja
Barat tahun 1892. Kaum pribumi kemudian mulai banyak menerbitkan media
sendiri pada abad ke-20.

Setelah kemerdekaan, kehidupan pers ikut menikmati kemerdekaan


dengan bebas dari berbagai tekanan. Media pun bermunculan seperti cendawan di
musim hujan. Seperti di Jakarta terbit Merdeka pada 1 Oktober 1945, di
Yogyakarta terbit Kedaulatan Rakya tahun 1945, di Surabaya terbit Jawa Pos
tahun 1949 dan Surabaya Pos tahun 1953. Tetapi suasan bebas ini hanya
berlangsung selama masa Demokrasi Liberal (1945-1959). Setelah itu muncul
Demokrasi terpimpin (1959-1965), pada masa ini banyak pembatasan terhadap
kehidupan pers, kerenanya pers Indonesia pada masa itu boleh disebut sebagai
pers otoriter. Kemudian pers di Indonesia kembali sedikit menerima udara bebas
pada masa Orde Baru lahir tahun 1966 dan keadaan ini berlangsung hingga tahun
1974. Hal ini terlihat dengan terbitnya kembali sejumlah surat kabar yang pada
masa Demokrasi Terpimpin pernah di berdel, yaitu Merdeka (Juni 1966), Berita
Indonesia (Mei 1966), Indonesia Observer (September 1966), Nusantara (Maret
1967), Indonesia Raya (Oktober 1968), Pedoman (November 1968) dan Abadi
(Desember 1968).

Pada masa Orde Baru pers Indonesia disebut sebagai pers pancasila,
cirinya adalah bebas dan bertanggungjawab. Di mana selanjutnya mendapat
penegasan dari Tap MPR No.IV/1973 dan Tap MPR No.III/1983 agar pers di
Indonesia dijadikan sebagai pers sehat, yaitu pers yang menjalankan fungsinya
sebagai penyebar infomasi yang objektif, menyalukan aspirasi rakyat serta
memperluas komunikasi dan partisipasi rakyat.

Aturan yang menindas pers itu terus dilestarikan pada era Soeharto,
represi sudah dijalankan bahkan sejak pada awal era Orde Baru yang menjanjikan
keterbukaan. Sejumlah Koran menjadi korban, antara lain majalah Sendi terjerat
delik pers, pada 1972, karena memuat tulisan yang dianggap menghina Kepala
Negara dan keluarga. Surat ijin terbit Sendi dicabut, pemimpin redaksi-nya
dituntut di pengadilan. Setahun kemudian, 1973, Sinar Harapan, dilarang terbit
seminggu karena dianggap membocorkan rahasia negara akibat menyiarkan
Rencana Anggaran Belanja yang belum dibicarakan di parlemen.

Pengekangan terhadap pers kembali terjadi pada 1978, berkaitan dengan


maraknya aksi mahasiswa menentang pencalonan Soeharto sebagai presiden.
Sebanyak tujuh surat kabar di Jakarta (Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita,
The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore) dibekukan penerbitannya untuk
sementara waktu hanya melalui telepon, dan diijinkan terbit kembali setelah
masing-masing pemilik Koran tersebut meminta maaf kepada pemimpin nasional
(Soeharto).

Pada era Soeharto terdapat tiga faktor utama penghambat kebebasan


pers dan arus informasi: adanya sistem perizinan terhadap pers (SIUPP), adanya
wadah tunggal organisasi pers dan wartawan, serta praktek intimidasi dan sensor
terhadap pers. Faktor-faktor itulah yang telah berhasil menghambat arus
informasi dan memandulkan potensi pers untuk menjadi lembaga kontrol.

Jatuhnya Soeharto ternyata tidak dengan sendirinya mengakhiri berbagai


persoalan. Periode transisi, di era Presiden Habibie berlanjut ke Presiden
Abdurrahman Wahid, suasana keterbukaan justru memunculkan berbagai
persoalan baru yang lebih kompleks, tidak sekadar hitam-putih.

Rezim Habibie, tidak punya pilihan lain, selain harus melakukan liberalisasi
dan itu pun bukan tanpa ancaman. Era Abdurrahman Wahid memperlihatkan
kesungguhan untuk mengadopsi kebebasan pers, namun masih harus ditunggu
sejauh mana keseriusan rezim Gus Dur-Megawati menegakkan kebebasan pers,
mengingat basis pendukung dua pemimpin ini (Banser NU dan Satgas PDI
Perjuangan) kini terbukti cenderung merongrong kebebasan pers melalui aksi-
aksi intimidasi terhadap pers. Ancaman terhadap kebebasan pers yang semula
datang dari pemerintah melalui berbagai aturan represif, beralih wujud melalui
tekanan massa serta ancaman internal: tumbuhnya penerbitan pers yang
sensational dan tidak mengindahkan etika.

Departemen Penerangan, lembaga kontrol yang dua dasawarsa lebih


menjadi hantu pencabut nyawa bagi Pers, dibubarkan oleh Presiden Abdurrahman
Wahid, pada Oktober 1999. Presiden Wahid yang baru terpilih itu menegaskan,
informasi adalah urusan masyarakat, bukan lagi menjadi urusan pemerintah.
Pembubaran Departemen Penerangan menandai hilangnya kontrol negara,
selanjutnya siapa mengontrol pers? Babak baru perkembangan pers Indonesia
sedang berlangsung, belum ketahuan ke mana arahnya, banyak catatan sejarah
pers di Indonesia berada pada titik rekaman tekanan dan intimidasi. Pers
Indonesia terperangkap dalam ranjau-ranjau peraturan dan sensor yang dipasang
pemerintah. Pengalaman di Indonesia, kebebasan itu seakan-akan merupakan
berkah atau hadiah dari penguasa baru yang muncul menggantikan penguasa
otoriter sebelumnya. Kebebasan pers setelah masa reformasi membawa peluang
besar bagi kelompok pengusaha.

Era reformasi telah membuka kesempatan bagi pers Indonesia untuk


mengekplorasi kebebasan. Dampak yang kemudian terlihat, kebebasan itu untuk
sebagian media, bukannya diekplorasi melainkan dieksploitasi. Sejumlah
kebingungan dan kejengkelan terhadap kebebasan pers di era reformasi ini bisa
dipahami. Kini media bebas untuk mengumbar sensasi, informasi yang diedarkan
adalah yang bernilai jual tinggi, dikemas dengan gaya sensasi. Akibat ketiadaan
otoritas yang memiliki kewenangan untuk menegur atau menindak pers, maka
“publik” kemudian menjalankan aksi menghukum pers sesuai tolok ukur mereka
sendiri.

Era reformasi kini telah memproduksi media massa berorientasi populis,


mengangkat soal-soal yang digunjingkan masyarakat. Akibatnya seringkali media
massa menyebarkan informasi yang sebenarnya berkualifikasi isu, rumor bahkan
dugaan-dugaan (hingga cacian dan hujatan). Pada ekstrim yang lain terdapat pula
pers yang diterbitkan untuk tujuan politis: mempengaruhi dan membujuk
pembacanya agar sepakat dan ikut dengan ideologi dan tujuan politisnya, atau
bahkan menyerang dan membungkam pihak lawan.

Media massa sebagai penyalur informasi mengemas apapun yang bisa


diinformasikan, asalkan itu menyenangkan dan sedang menjadi gunjingan publik.
Gaya media semacam ini kemudian mendapat reaksi sepadan dari kelompok
masyarakat tertentu yang cenderung radikal dan tertutup, atau kelompok-
kelompok yang mengklaim kebenaran sebagai milik mereka. Jika pemberitaan
media tidak menyenangkan pihaknya atau kelompoknya, maka jalan pintasnya
adalah melabrak dan mengancam yang ternyata memang terbukti sangat efektif
bahkan sampai pada masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono
kondisi komunikasi massa di Indonesia tampak jauh lebih baik dari sisi
penyajiannya, namun sampai saat ini banyak materi-materi yang disajikan,
menyimpang dari apa yang dicita-citakan. Hal ini ditandai dengan semakin
banyaknya media cetak maupun elektronik hadir dikalangan masyarakat, yang
orientasinya lebih kepada meraut keuntungan dunia usaha

c. System komunikasi satelit domestic (SKSD) Palapa.

Dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di Indonesia


dilakukan pembangunan system komunikasi satelit domestic (SKSD) untuk
keperluan komunikasi. Pembangunan satelit itu dimulai tahun 1975 dan selesai
tahun 1976. Satelit itu diberi nama palapa yang diambil dari sumpah mahapatih
gajah mada untuk menyatukan nusantara. SKSD Palapa merupakan suatu system
satelit komunikasi yang dikendalikan oleh system pengendali yang ada di bumi,
yang mempunyai fungsi sebagai sarana dalam berbagai aktivitas komunikasi.

Satelit komunikasi mempunyai masa kerja tertentu, satelit yang masa


kerjanya sudah habis harus diganti dengan satelit generasi baru. Generasi
pertama dari SKSD Palapa adalah Palapa A-1 yang diluncurkan pada tanggal 18
juli 1976. Berturut-turut dari generasi satelit yang diluncurkan adalah

· Palapa A-2 (10 Maret 1977).

· Palapa B-1 (19 Juni 1983).

· Palapa B-2 (6 February 1984).

· Palapa B-2P ( 20 Maret 1987).

· Palapa B-2R (20 Maret 1990).

· Palapa B-4 (7 Mei 1992).

· Palapa C-1 (February 1996).

· Palapa C-2 yang diluncuran pada tanggal 16 mei 1966.

· Sekarang ini, kita juga mengenal satelit komunikasi yang lain yakni telkomsel-1
dan garuda-1.
Jangkauan dari satelit palapa C-2 meliputi wilayah dari Irian sampai
Vladiwostok (Rusia) dan dari Australia sampai selandia baru. Melalui SKSD
Palapa, hubungan komunikasi antar daerah dan antarnegara menjadi lebih mudah.
System komunikasi tersebut memungkinkan bangsa Indonesia mengetahui
berbagai informasi yang disajikan melalui televise secara cepat.

d. Radio.

Radio siaran pertama di Indonesia (waktu itu bernama Nederlands Indie-


Hindia Belanda), ialah Bataviase radio siaran Vereniging (BRV) di Batavia
(Jakarta tempo dulu) yang resminya didirikan pada tanggal 16 juni 1925 pada
saat Indonesia masih dijajah Belanda dan berstatus swasta. Setelah BRV berdiri
secara serempak berdiri pula badan-badan radio siaran lainnya di kota
Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan yang paling terbesar dan
terlengkap adalah radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Mij) di
Jakarta, Bandung, dan Medan, karena mendapat bantuan dari pemerintah Hindia
Belanda. Sebagai pelopor timbulnya radio siaran usaha bangsa Indonesia adalah
Solosche Radio Vereniging (SRV) yang didirikan di kota Solo pada tanggal 1 April
1933 oleh Mangkuneoro VII dan Ir. Sarsito Mangunkusumo.

Ketika Belanda menyerah pada Jepang tanggal 8 Maret 1942, sebagai


konsekuensinya, radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta
dinonaktifkan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku,
merupakan pusat radio siaran yang berkedudukan di Jakarta, serta mempunyai
cabang-cabang yang bernama Hoso Kyoku di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta,
Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Rakyat Indonesia pada masa ini
hanya boleh mendengarkan siaran Hoso Kyosu saja. Namun demikian di kalangan
pemuda terdapat beberapa orang dengan risiko kehilangan jiwa, secara
sembunyi-sembunyi mendengarkan siaran luar negeri, sehingga mereka dapat
mengetahui bahwa pada 14 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Dengan demikian, ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan


kemerdekaan Indonesia, tidak dapat disiarkan langsung melalui radio siaran
karena radio siaran masih dikuasai oleh Jepang. Teks proklamasi kemerdekaan
Indonesia baru dapat disiarkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris pukul 19.00
WIB namun hanya dapat didengar oleh penduduk disekitar Jakarta. Baru pada
tanggal 18 Agustus 1945, naskah bersejarah itu dapat dikumandangkan kelluar
batas tanah air dengan risiko petugasnya diberondong senjata serdadu Jepang.
Tak lama kemudian dibuat pemancar gelap dan berhasil berkumandang di udara
radio siaran dengan station call”Radio Indonesia Merdeka”. Dari sinilah Wakil
Presiden Mohammad Hatta dan pimpinan lainnya menyampaikan pidato melalui
radio siaran yang ditujukan kepada rakyat Indonesia.

Pada tanggal 11 September 1945 diperoleh kesepakatan dari hasil


pertemuan antara para pemimpin radio siaran untuk mendirikan sebuah organisasi
radio siaran. Tanggal 11 September itu menjadi hari ulang tahun RRI (Radio
Republik Indonesia).

Sampe akhir tahun 1966 RRI adalah satu-satunya radio siaran di


Indonesia yang dikuasai dan dimiliki oleh pemerintah. Peran dan fungsi radio
siaran ditingkatkan. Selain berfungsi sebagai media informasi dan hiburan, pada
masa orde baru, radio siaran melalui RRI menyajikan acara pendidikan persuasi.
Acara pendidikan yang berhasil adalah “Siaran Pedesaan” yang mulai diudarakan
pada bulan September 1969 oleh stasiun RRI Regional. Selanjutnya, stasiun RRI
Regional juga membantu menginformasikan program-program pemerintah, seperti
Keluarga Berencana, transmigrasi, kebersihan lingkungan, imunisasi ibu hamil dan
balita. Sejalan dengan perkembangan social budaya serta teknologi, maka
bermunculan beberapa radio siaran amatir yang diusahakan oleh perorangan.
Keadaan ini tidak dapat dihindari, namun perlu ditertibkan. Pemerintah kemudian
mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran
Non Pemerintah. Karena jumlah radio siaran swasta niaga semakin lama semakin
banyak, serta fungsi dan kedudukannya penting bagi masyarakat, maka pada
tahun 1974 stasiun-stasiun radio siaran swasta niaga berhimpun dalam wadah
yang dinamakan Persatuan Radio siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI).

e. Televisi.

Kegiatan penyiaran televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus


1962, bertepatan dengan berlangsungnya pesta olahraga se- Asia IV atau Asean
Games di Senayan. Sejak itu pula Televisi republik Indonesia (TVRI)
dipergunakan sebagai panggilan stasiun (station call) sampai sekarang (Effendy,
pada Komala, dalam Karlinah, dkk. 1999) Selama tahun 1962-1963 TVRI berada
di udara rata-rata satu jam sehari dengan segala kesederhanaannya.

Sejalan dengan kepentingan pemerintah dan keinginan rakyat Indonesia


yang tersebar diberbagai wilayang agar dapat menerima siaran televise, maka
pada tanggal 6 Agustus 1976, Presiden Soeharto meresmikan penggunaan satelit
Palapa untuk telekomunikasi dan siaran televisi. Dalam perkembangannya satelit
Palapa A selanjutnya Satelit Palapa B, Palapa B-2, Palapa B2P dan Palapa B-4
diluncurkan tahun 1992 (Effendy, pada Komala, dalam Karlinah, dkk. 1999).

TVRI yang berada di bawah, Departemen Penerangan, kini siarannya sudah


dapat menjangkau hampir seluruh rakyat Indonesia yang berjumlah 200 juta
jiwa. Sejak tahun 1989 TVRI mendapat saingan televise siaran lainnya, yakni
RCTI yang bersifat komersial. Kemudian secara berturut-turut berdiri stasiun
televise swasta lainnya seperti SCTV, TPI, ANTV , dll.

Meskipun lima stasiun televisi sudah beroperasi, televise siaran tidaka


akan pernah menggeser kedududkan radio siaran, karena radio siaran memiliki
karakteristik tersendiri. Televise siaran dan rasio siaran, serta media lainnya
berperan salaing mengisi. Televise siaran menggeser radio siaran mungkin dalam
hal porsi iklan.

Faktor faktor jatuhnya masa orde baru


Kronologi Jatuhnya Kekuasaan Orde Baru

 22 Januari 1998 : Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS


hingga mencapai Rp16.000,00.

 2 Februari 1998 : Presiden Soeharto mengangkat Wiranto sebagai


panglima ABRI.

 ü 10 Maret 1998 : Seoharto kembali terpilih menjadi presiden yang ke-7


kalinya, di damping wakil presiden B.J Habibie.
 4 Mei 1998 : Harga bahan bakar minyak naik hingga 71%.
 9 Mei 1998 : Presiden Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk
menghadiri pertemuan negara-negara berkembang.
 12 Mei 1998 : Tragedi Trisakti, 4 orang mahasiswa Trisakti tewas.
 13 Mei 1998 : Kerusuhan massa terjadi di Jakarta dan Solo, Soeharto
memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
 14 Mei 1998 : Demonstrasi bertambah besar hampir diselurh kota-kota
besar di Indonesia.
 18 Mei 1998 : Ketua MPR/DPR, ketua umum Harmoko mengeluarkan
pernyataan agar Soeharto mundur dari jabatannya, mahasiswa menduduki
gedung MPR/DPR.
 19 Mei 1998 : Presiden Soeharto berbicara di depan TVRI ia menyatakan
tidak akan mengundrukan diri tetapi akan merombak cabinet dan
membentuk Komite Reformasi.
 20 Mei 1998 : Amien Ras membatalkan rencana demonstrasi besar-
besaran di Monas karena di jaga ketat.
 21 Mei 1998 : Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pukul 19.00
WIB, wakil presiden B.J Habibie menjadi presiden yang baru.

Faktor Penyebab Keruntuhan Orde Baru

Runtuhnya pemerintahan Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 yang disertai


dengan tuntutan demokratisasi di segala bidang serta tuntutan untuk menindak
tegas para pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia telah menjadi perubahan di
Indonesia berlangsung dengan akselarasi yang sangat cepat dan dinamis.

Situasi ini menuntut bangsa Indonesia untuk berusaha mengatasi kemelut


sejarahnya dalam arus utama perubahan besar yang terus bergulir melalui
agenda reformasi. Ada beberapa factor yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan
orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto antara lain sebagai berikut.

1.Krisis Ekonomi dan Moneter

Pada waktu krisis melanda Thailand, keadaan Indonesia masih baik. Inflasi
rendah, ekspor masih surplus sebesar US$ 900 juta dan cadangan devisa masih
besar, lebih dari US$ 20 B. Banyak perusahaan besar menggunakan hutang dalam
US Dollar. Ini merupakan cara yang menguntungkan ketika Rupiah masih kuat.
Hutang dan bunga tidak jadi masalah karena diimbangi kekuatan penghasilan
Rupiah.

Akan tetapi, setelah Thailand melepaskan kaitan Baht pada US Dollar,


Indonesia sangat merasakan dampak paling buruk. Hal ini disebabkan oleh
rapuhnya fondasi Indonesia dan banyaknya praktik KKN serta monopoli ekonomi.

Pada tanggal 1 Juli 1997 nilai tukar rupiah turun dari Rp2.575,00 menjadi
Rp2.603,00 per dollar Amerika Serikat. Pada bulan Desember 1997 nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika mencapai Rp5.000,00 per dollar, bahkan pada
bulan Maret 1998 telah mencapai Rp16.000,00 per dollar Amerika Serikat.

Faktor lain yang menyebabkan krisis ekonomi di Indonesia adalah masalah


utang luar negeri, penyimpangan terhadap pasal 33 UUD 1945, dan pola
pemerintahan yang sentralistik.
a. Utang Luar Negeri Indonesia

Utang luar negeri Indonesia tidak sepenuhnya merupakan utang negara,


tetapi sebagian merupakan utang swasta. Utang yang menjadi tanggungan negara
hingga 6 Februari 1998 yang disampaikan oleh Radius Prawira pada sidang Dewan
Pemantapan Ketahanan Ekonomi yang dipimpin oleh Presiden Soeharto di Bina
Graha mencapai 63,462 milliar dollar AS, sedangkan utang pihak swasta
mencapai 73,962 milliar dollar AS.

b. Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945

Dalam pasal 33 UUD 1945 tercantum bahwa dasar demokrasi ekonomi,


produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan
anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat ditafsirkan bukan
merupakan kemakmuran orang per orang, melainkan kemakmuran seluruh
masyarakat dan bangsa Indonesia berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Sistem ekonomi yang berkembang pada masa Orde Baru adalah sistem
ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh para konglomerat dengan berbagai bentuk
monopoli, oligopoly, dan diwarnai dengan korupsi dan kolusi.

c. Pola Pemerintahan Sentralistis

Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan sistem pemerintahan


bersifat sentralistis, artinya semua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara
diatur secara sentral dari pusat pemerintahan (Jakarta), sehingga peranan
pemerintah pusat sangat menentukan dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat.

Selain pada bidang ekonomi, politik sentralistis ini juga dapat dilihat dari
pola pemeberitaan pers yang bersifat Jakarta-sentris. Disebut Jakarta-sentris
karena pemberitaan yang berasal dari Jakarta selalu menjadi berita utama.
Jakarta selalu dipandang sebagai pusat berita penting yang bernilai berita tinggi.
Berbagai peristiwa yang berlangsung di Jakarta atau yang melibatkan tokoh-
tokoh Jakarta dipandang sebagai berita penting dan berhak menempati halaman
pertama.

2. Krisis Politik

Pada dasarnya secara de jure (secara hukum) kedaulatan rakyat tersebut


dilakukan oleh MPR sebagai wakil-wakil dari rakyat, tetapi ternyata secara de
facto (dalam kenyataannya) anggota MPR sudah diatur dan direkayasa, sehingga
sebagian besar anggota MPR tersebut diangkat berdasarkan pada ikatan
kekeluargaan (nepotisme).

Mengakarnya budaya KKN dalam tubuh birokrasi pemerintahan,


menyebabkan proses pengawasan dan pemberian mandataris kepemimpinan dari
DPR dan MPR kepada presiden menjadi tidak sempura. Unsure legislative yang
sejatinya dilaksanakan oleh MPR dan DPR dalam membuat dasar-dasar hukum dan
haluan negara menjadi sepenuhnya dilakukan oleh Presiden Soeharto. Karena
keadaan tersebut, mahasiswa yang didukung oleh dosen dan rektornya
mengajukan tuntutan untuk mengganti presiden, reshuffle cabinet, dan
menggelar Sidang Istimewa MPR serta melaksanakan pemilu secepatnya.

Salah satu penyebab mundurnya Soeharto adalah melemahnya dukungan


politik, yan telihat dari pernyataan politik Kosgoro yang meminta Soeharto
mundur. Pernyataan Kosgoro pada tanggal 16 Mei 1998 tersebut diikuti dengan
pernyataan Ketua Umum Golkar, Harmoko yang pada saat itu juga menjabat
sebagai ketua MPR/DPR Republik Indonesia meminta Soeharto untuk mundur.

3. Krisis Kepercayaan

Dalam pemerintahan Orde Baru berkembang KKN yang dilaksanakan


secara terselubung maupun secara terang-terangan. Hal terseut mengakibatkan
munculnya ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dan ketidakpercayaan
luar negeri terhadap Indonesia.

Kepercayaan masyarakt terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto


berkurang setelah bangsa Indonesia dilanda krisis multidimensi. Kemudian muncul
bderbagai aksi damai yang dilakukan oleh para masyarakat dan mahasiswa. Para
mahasiswa semakin gencar berdemonstrasi setelah pemerintah mengumumkan
kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Puncaknya
pada tanggal 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti Jakarta. Aksi mahasiswa yang
semula damai berubah menjadi aksi kekerasan setelah tertembaknya empat
mahasiswa Trisakti, yaitu Elang Mulya Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Sie,
dan Hafidhin Royan.

4. Krisis Sosial

Ada dua jenis aspirasi dalam masyarakat, yaitu mendukun Soeharto atau
menuntut Seoharto turun dari kursi kepresidenan. Kelompok yang menuntut
Presiden Soeharto untuk mundur diwakili oleh mahasiswa. Kelompok mahasiswa
ini memiliki cita-cita reformasi terhadap Indonesia. Organisasi yang mendukung
mundurnya Presiden Soeharto diantaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia (KAMMI) dan Forum Kota (Forkot).

5. Krisis Hukum

Banyak ketidakadilan yang terjadi dalam pelaksanaan hukum pada masa


pemerintahan Oede Baru. Seperti kekuasaan kehakiman yang dinyatakan pada
pasal 24 UUD 1945 bahwa kehakiman memiliki kekuasaan yang merdeka dan
terlepas dari kekuasaan pemerintah (eksekutif). Namun pada saat itu, kekuasaan
kehakiman dibawah kekuasaan eksekutif. Hakim juga sering dijadikan sebagai
alat pembenaran atas tindakan dan kebijakan pemerintah atau sering terjadi
rekayasa dalam proses peradilan, apabila peradilan itu menyangkut diri penguasa,
keluarga kerabta, atau para pejabat negara. Reformasi menghendaki penegakan
hukum secara adil bagi semua pihak sesuai dengan prinsip negara hukum.

Tragedi Trisakti

Aksi demonstrasi mahasiswa diawali dari kampus Universitas Trisakti. Aksi


demo yang diikutu sekitar sepuluh ribu mahasiswa, deosen, dan segenap karyawan
Universitas Trisakti ini terjadi pada tanggal 12 Mei 1998. Para mahasiswa
menggelar mimbar bebas yang intinya menuntut pemrintah untuk segera
melaksanakan reformasi politik ekonomi, dan hukum serta biang Istimewa MPR.

Aksi diawali secara damai, namun sekitar pukul 17.15-22.00 WIB beberapa
aparat keamanan melakukan penembakan ke arah mahasiswa yang tertahan
dikampus. Aksi aparat ini dibalas dengan lemparan batu dan botol dari mahasiswa.
Kerusuhan pun tidak dapat dicegah lagi. Peristiwa ini mengakibatkan tewanya
empat mahasiswa Trisakti, yaitu Hendriawan Sie, Heri Hartanto, Elang Mulya
Lesmana, dan Hafidin Royan. Untuk mengenang jasa-jasa mereka. Keempat
mahasisw diberi gelar sebagai Pahlawan Reformasi.

Kerusuhan diberbagai kota

Tragedi Trisakti memicu terjadinya aksi demo dibeberapa daerah Republik


Indonesia. Pada dasarnya tuntutan yang mereka suarakan sama, yaitu menuntut
adanya reformasi total. Aksi yang di pelopori mahasiswa ini disusupi oleh masa
dari berbagai kalangan sehingga menimnulkan kerusahan.

Aksi demo di Jakarta

Tragedi Trisakti mengakibatkan aksi demonstrasi makin besar dan luas.


Peristiwa tersebut mendapat simpati dari masyarakat di berbagai daerah,
khususnya Jakarta. Namun aksi demonstrasi tersebut berkembang menjadi
kerusuhan. Kerusuhan terjadi pada hari rabu dan kamis tanggal 13 dan 14 Mei
1998. Massa membakar mobil, toko, dan kantor-kantor. Pada tanggal 14 Mei
1998, massa juga melakukan penjarahan, seperti di Palmerah Plaza, Bank Lippo,
Bank BCA, Slipi Jaya Plaza, Pasar Tanah Abang, dan Plaza Sentral Klender.
Kerusuhan ini mengakibatkan tewasnya sekitar 500 orang dan kerugian materi
sekitar 2.5 Triliun.

Aksi demo di Semarang

Aksi demo di Semarang juga dipelopori oleh mahasiswa dengan diikuti


masyarakat umum. Massa berhasil menduduki gedung RRI, Gedung Gubernur
Jawa Tengah, dan Gedung DPRD pada tanggal 14 Mei 1998. Selain menuntut
mundurnya Presiden Soehart, massa juga menuntut turunya Gubernur Suwardi.

Aksi demo di Medan

Aksi demo di Medan dipelopori oleh mahasiswa Universitas Sumatra Utara


(USU) Gedung kantor DPRD Sumut. Ketua DPRD Sumut, H.M. Iskak menyatakan
mendukung penuh refomarsi. Dalam aksi ini seorang aparat tertembak hingga
meninggal.

Aksi demo di Solo

Aksi demo di Solo berpusat dikampus Universitas Muhammadiyah


Surakarta (UMS) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) tanggap 14 dan 15 Mein
1998. Aksi ini menimbulkan beberapa kerusuhan. Massa membakar beberapa
hotel dan kantor Bank, serta menghancurkan toko milik warga keturunan
Tionghoa.

Aksi demo di Surabaya

Aksi demo di Surabaya terjadi pada hari kamis tanggal 14 Mei 1998. Aksi
demo dibarengi dengan perusakan dan penjarahan. Mahasiswa berhasil
menduduki kantor RRI regional I Surabaya dan lewat radio itu mereka
menyuarakan tuntutan mengenai Sidang Istimewa MPR dan turunnya Presiden
Soeharto.

Aksi demo di Manado

Unjuk rasa terjadi pada hari kamis tanggal 14 Mei 1998 dengan dipelopori
mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Dalam Aksinya, mereka mengajukan empat
tuntutan pokok, yaitu reformasi di segala bidang, penurunan harga bahan bakar
minyak dan obat usut tuntas insiden 20 April di Unsrat, dan usust tuntas Tragedi
12 Mei di Universitas Trisakti.

Aksi demo di Yogyakarta

Aksi demo di Yogyakarta dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai


universitas. Pada tanggal 19 Mei 1998 terjadi peristiwa bersejarah kurang lebih
sejuta manusia berkumpul di alun-alun utara Keraton Yogyakarta untuk
menghadiri Pisowanan Ageng yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X
dan Sri Paku Alam VIII.

Pada perkembagannya, mahasiswa berusaha menduduki Gedung DPR/MPR


Jakarta. Para Mahasiswa menuntut kepada wakil-wakil rakyat agar segera
menyelenggarakan Sidang Istimewa MPR untuk mencabut mandat Presiden
Soeharto. Pada tanggal 19 Mei 1998, para mahasiswa dari barbagai Universitas di
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya berhasil menduduki Gedung
DPR/MPR.

Kuatnya desakan yang datang dari mahasiswa dan rakyat di berbagai


daerah, berakibat diadakannya Sidang Istimewa MPR tanggal 20 Mei 1998.
Keesokan harinya pada tanggal 20 Mei 1998, Presiden Soeharto mengumumkan
pengunduran dirinya di Istana Negara Jakarta.
KESIMPULAN

Revolusi Hijau merupakan bagian dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam


sistem pertanian pada abad sekarang ini. Revolusi Hijau pada dasarnya adalah
suatu perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara
modern. Lahirnya Revolusi Hijau melalui proses panjang dan akhirnya meluas ke
wilayah Asia dan Afrika. Revolusi Hijau mulai mendapat perhatian setelah
Thomas Robert Malthus (1766–1834) mulai melakukan penelitian dan memaparkan
hasilnya

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian yaitu


dengan cara Intensifikasi pertanian, Ekstensifikasi pertanian, Diversifikasi
pertanian, dan Rehabilitasi pertanian

Industrialisasi merupakan salah satu dampak dari adanya revolusi hijau, dimana ini
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu industi pertanian, dan industry
nonpertanian.

Tekhnologi informasi dan komunikasi berkembang pesat di Indonesia, ini dapat


dilihat dari perkembangan media massa di Indonesia yang semakin pesat, bukan
hanya itu tapi perkembangan radi, satelit domestic, dan juga radio pun
berkembang pesat.

faktor faktor yang menyebab kan jatuhnya masa orde baru adalah 1. krisis
ekonomi dan moneter yang meliputi utang luar negeri indonesia, penyimpangan
pasal 33 UUD 1995, pola pemerintahan sentralistis; 2. Krisis politik; 3. Krisis
kepercayaan; 4. Krisis sosial; 5. Krisis hukum
DAFTAR PUSTAKA
http://ifamyumyu.blogspot.com/2014/12/perkembangan-industrialisasi-masa-orde.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Industrialisasi