Anda di halaman 1dari 41

CASE PRESENTATION

DIAGNOSIS HOLISTIK DAN PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF


TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA PASIEN NY. H
DI PUSKESMAS GENUK

Laporan Kesehatan Masyarakat


Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas Genuk
Periode Kepaniteraan 14 Mei – 02 Juni 2018

Oleh :
Hannydita Lutfi Buwana Adji
012095918

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
DIAGNOSIS HOLISTIK DAN PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA PASIEN NY. H
DI PUSKESMAS GENUK

Laporan Kesehatan Masyarakat


Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas Genuk
Periode Kepaniteraan 14 Mei – 02 Juni 2018
Yang dipersiapkan dan disusun oleh:

Oleh :
Hannydita Lutfi Buwana Adji
012095918

Semarang, Mei 2018


Disahkan Oleh:

Mengetahui,

Pembimbing PKM Pembimbing Kepaniteraan IKM

dr. Syska Maolana Dr. Siti Thomas Zulaikha, SKM, M.Kes

Kepala PKM Halmahera Kepala Bagian IKM

Satida Fargiani, SKM, M.Kes Dr. Siti Thomas Zulaikha, SKM, M.Kes

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
Diagnosis Holistik dan Penatalaksanaan Komprehensif terhadap Kejadian Diare
Pada Pasien Ny. H di Puskesmas Genuk. Laporan ini disusun untuk memenuhi
tugas-tugas dalam rangka menjalankan kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Laporan ini dapat diselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari
berbagai pihak, sehingga kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Satida Fargiani, SKM, M.Kes, selaku Kepala Puskesmas Genuk yang telah
memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami menempuh Kepanitraan
Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Genuk Semarang.
2. dr. Syska Maolana, selaku pembimbing di Puskesmas Genuk yang telah
memberikan bimbingan dan masukan selama kami menempuh Kepanitraan
Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Genuk Semarang.
3. Dokter, Paramedis, beserta Staf Puskesmas Genuk atas bimbingan dan
kerjasama yang telah diberikan.
Kami menyadari sepenunhnya bahwa penyusunan laporan ini masih jauh
dari sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Karena itu kami
sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata kami berharap semoga hasil Laporan Kasus Diagnosis Holistik
dan Penatalaksanaan Komprehensif terhadap Kejadian Diare Pada Pasien Ny.
H di Puskesmas Genuk dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, Mei 2018

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

PRAKATA iii

DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan 2

1.3.1 Tujuan umum 2

1.3.2 Tujuan khusus 2

1.4 Manfaat 3

1.4.1 Manfaat bagi mahasiswa 3

1.4.2 Manfaat bagi masyarakat 3

1.4.3 Manfaat bagi tenaga kesehatan 3

BAB II ANALISA SITUASI 4

2.1 Cara dan Waktu Pengamatan 4

2.2 Hasil Pengamatan 4

2.2.1 Identitas Pasien 4

2.2.2 Anamnesis Holistik 5

2.2.3 Data Keluarga 9

2.2.4 Pemeriksaan Fisik 12

4
2.2.5 Diagnosis Holistik 14

2.3 Usulan Penatalaksanaan Komprehensif 15

2.3.1 Identifikasi Masalah 15

2.3.2 Intervensi 15

BAB III PEMBAHASAN 21

3.1 Uraian Temuan Pada Setiap Aspek 21

3.2 Alternatif Pemecahan Masalah 25

3.3 Plan of Action (POA) 26

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 28

4.1 Kesimpulan 28

4.2 Saran 28

4.2.1 Untuk pasien 28

4.2.2 Untuk Puskesmas 29

4.2.3 Untuk UNISSULA 29

DAFTAR PUSTAKA 30

LAMPIRAN 31

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diare adalah suatu kondisi seseorang buang air besar dengan

konsistensi lunak sampai cair. Frekuensi buang air besar lebih sering,

sebanyak 3 kali atau lebih dalam satu hari (Depkes RI, 2000). Diare masih

menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang

seperti di Indonesia. Angka kesakitan masih tinggi sebesar 411 per 1000

penduduk pada tahun 2010 (Menkes RI, 2011). Penderita dengan diare cair

mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah elektrolit. Hal ini dapat

menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dalam keadaan yang paling berbahaya

dapat menyebabkan kematian bila tidak diobati dengan tepat (Juffrie, 2010)

Pada tahun 2000 IR (Insiden Rate) penyakit diare 301/1000 penduduk,

tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi

423/1000 penduduk dan tahun 2010 naik menjadi 411/1000 penduduk.

Menurut Riskesdas 2013, insiden diare untuk seluruh kelompok umur di

Indonesia adalah 3,5% dan insiden diare pada kisaran usia 50-60 tahun

sebesar 3,6%. Berdasarkan tingkat pendidikan, insiden diare tertinggi pada

kelompok yang tidak sekolah sebesar 3,8%. Petani/nelayan/buruh mempunyai

proporsi tertinggi untuk kelompok pekerjaan yaitu sebesar 7,1% (Menkes RI,

2011).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan

bahwa kejadian diare pada tahun 2016 sebesar 32.100 kasus, dengan jumlah kasus

6
terbanyak pada kelompok umur > 5 tahun sebanyak 16.823 kasus dan terendah

pada kelompok umur < 1 tahun sejumlah 2.792 kasus. Data dari Puskesmas

Genuk menyebutkan terdapat 911 kasus diare pada tahun 2016.Kemidian terjadi

peningkatan pada tahun 2017 sebanyak 1002 kasus. Pada bulan Januari - April

2017 terdapat 360 kasus sedangkan pada bulan Januari – April 2018 terdapat 422

kasus. Hal ini berarti angka kasus diare pada Puskesmas Genuk masih cukup

tinggi.

80

70

60

50

40 Laki Laki
Perempuan
30

20

10

0
Januari Februari Maret April

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk

lebih mendalami kasus diare pada Ny. H di Puskesmas Genuk dengan

pendekatan teori segitiga epidemiologi.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas, maka

dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana diagnosis

7
holistik dan penatalaksanaan komprehensif terhadap kejadian diare pada

pasien Ny. H di Puskesmas Genuk?”

1.3. Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi mengenai diagnosis holistik dan

penatalaksanaan komprehensif terhadap kejadian diare pada pasien Ny.

H di Puskesmas Genuk.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk memperoleh informasi mengenai aspek personal pada

kejadian diare pada pasien Ny. H.

1.3.2.2 Untuk memperoleh informasi mengenai aspek medis umum

pada kejadian diare pada pasien Ny. H.

1.3.2.3 Untuk memperoleh informasi mengenai aspek faktor risiko

internal pada kejadian diare pada pasien Ny. H.

1.3.2.4 Untuk memperoleh informasi mengenai aspek faktor risiko

eksternal pada kejadian diare pada pasien Ny. H.

1.3.2.5 Untuk memperoleh informasi mengenai aspek derajat

fungsional pada kejadian diare.

1.3.2.6 Untuk memperoleh informasi dan mendeskripsikan penyebab

masalah pada kejadian diare dengan pendekatan segitiga

epidemiologi.

1.3.2.7 Untuk mengetahui penatalaksanaan komprehensif melalui

kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

8
1.4. Manfaat

1.4.1. Manfaat bagi mahasiswa

1.4.1.1 Menambah wawasan tentang diare, penyebab diare serta faktor

yang mempengaruhinya.

1.4.1.2 Mahasiswa mengetahui secara langsung permasalahan yang

ada di lapangan.

1.4.1.3 Sebagai modal dasar untuk melakukan penelitian bidang ilmu

kesehatan masyarakat pada tataran yang lebih lanjut.

1.4.2. Manfaat bagi masyarakat

1.4.2.1 Memberi rekomendasi langsung kepada masyarakat untuk

memperhatikan perilaku dan lingkungan tempat tinggalnya.

1.4.2.2 Memberikan edukasi dan intervensi yang berkaitan dengan

pencegahan diare.

1.4.3. Manfaat bagi tenaga kesehatan

1.4.3.1. Memberi masukan kepada tenaga kesehatan untuk lebih

memberdayakan masyarakat dalam upaya kesehatan promotif

dan preventif terhadap kejadian diare.

9
BAB II

ANALISA SITUASI

2.1 Cara dan Waktu Pengamatan

Pengamatan kasus diare dilakukan berdasarkan data kunjungan pasien

terdiagnosis diare di Puskesmas Genuk pada 25 Mei 2018. Analisa segitiga

epidemiologi terhadap kejadian diare diperoleh dari kunjungan rumah pasien

pada 26 Mei 2018. Anamnesa dan kunjungan rumah dilakukan untuk

mengamati kondisi lingkungan, perilaku pasien dan keluarga pasien.

Intervensi pada tanggal 27 Mei 2018.

2.2 Laporan Hasil Pengamatan

2.2.1. Identitas Pasien

Nama : Ny. H

Tempat, tanggal lahir : Demak, 27 Oktober 1964

Umur : 54 tahun

JenisKelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : MI

Pekerjaan : Pedagang

Alamat : Genuk Rt 11 Rw 4

Kewarganegaraan : WNI

Cara pembayaran : Jamkesmas

10
2.2.2. Anamnesis Holistik

A. ASPEK 1 : Personal

- Keluhan Utama : BAB cair 10 kali perhari.

- Harapan : Keluhan menghilang, buang air besar menjadi

normal baik kualitas maupun kuantitasnya, pasien dapat

bekerja seperti biasa.

- Kekhawatiran : Sakit yang dialami bertambah parah seperti

dehidrasi sehingga pasien tidak dapat bekerja lagi seperti

sebelumnya.

B. ASPEK 2 : Anamnesis Medis Umum

1. Riwayat Penyakit Sekarang

Pada tanggal 25 Mei 2018 pasien bernama Ny.H datang ke

Puskesmas Genuk, pasien mengeluh BAB cair 10 kali perhari

sejak sehari sebelumnya. BAB cair tanpa lendir, ampas dan

darah, berwarna kuning kecoklatan, berbau tengik, nyemprot,

dan volume sedikit. Pasien menjadi lebih lemah setelah

beberapa kali BAB. Pasien sudah membeli obat diare di warung

tetapi tidak ada perubahan. Keluhan muncul setelah pasien

memakan makanan yang diberikan tetangga sebelah.

2. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah sakit seperti ini sebelumnya dan sembuh

setelah minum obat warung. Tidak ada riwayat alergi obat

maupun makanan.

11
3. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini

4. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga dengan tujuh orang

anak tetapi saat ini pasien hanya tinggal bersama 2 anak

terakhirnya. Suami pasien bekerja sebagai buruh di daerah

manyaran. Pekerjaan pasien sehari-hari berjualan dengan

penghasilan tidak tetap, rata-rata perhari 150 ribu rupiah.

Pembiayaan kesehatan menggunakan biaya sendiri. Tetangga

tidak ada yang mengalami sakit serupa.

C. ASPEK 3 : Faktor Resiko Internal

1. Data Individu :

Pasien berusia 54 tahun, pasien berpendidikan terahir MI. Berat

badan pasien 40 kg, dan tinggi badan 144 cm dimana BMI

pasien = 19,3 Kg/m2. Berdasarkan analisa tersebut pasien

termasuk normoweight berat badan ideal.

12
2. Data Keluarga

N Nam Usi
Pendidikan Status
o a a
Tidak
1. Tn. L 60 Suami
Sekolah
Ny. Anak
2. 32 SD
H Kandung
Anak
3. Ny. T 30 SD
Kandung
Anak
4. Ny. T 28 SD
Kandung
Anak
5. Tn. E 26 SMP
Kandung
Anak
6. Tn. S 23 SMP
Kandung
Anak
7. Tn. Y 20 SMP
Kandung
An. Anak
8. 12 SD
B Kandung
Tabel 2.1. Data Keluarga

3. Data Genetik

Gambar 2.1. Data Genetik

13
Keterangan:

: Laki-laki meninggal

: Wanita meninggal

: Pasien

: Wanita hidup

: Laki-laki hidup

: Tinggal satu rumah

4. Data Perilaku :

a. Perilaku Makan

Pasien rutin makan tiga kali sehari dengan porsi yang cukup.

Pasien makan dengan lauk seperti tahu, tempe, ayam, ikan dan

sayur. Pasien memiliki kebiasaan mengambil tananaman sayur

di belakang rumahnya untuk dimasak. Pasien tidak

memperhatikan porsi makanannya dalam sehari.

b. Perilaku Higenitas Personal

Pasien jarang mencuci tangan sebelum memasak dan sebelum

makan, pasien tidak terbiasa mencuci tangan dengan sabun.

Pengetahuan pasien menganai perilaku hidup bersih dan sehat

(PHBS) kurang.

14
D. ASPEK 4 : Faktor Resiko Eksternal

a. Lingkungan

Pasien dan keluarga tinggal di rumah berukuran ± 5m x

12m = 36 m2 yang dihuni 2 orang. Rumah pasien berdinding

semen, berlantai kramik hingga ke bagian belakang rumah, dan

beratap genteng tanpa eternit. Terdapat jendela di ruang tamu.

Kamar pasien terdapat jendela. Pencahayaan di kamar pasien

cukup.

Terdapat 2 kamar mandi di belakang rumah pasien, keadaan

kamar mandi cukup bersih, terdapat wc leher angsa. Terdapat

tempat sampah terbuka didekat kamar mandi pasien. Keadaan

lingkungan rumah saling berdampingan dengan rumah tetangga

lainnya. Sumber air minum, mandi, dan cuci didapatkan dari air

artesis. Kondisi banjir mempengaruhi kebersihan air sumur dan

bak mandi rumah. Untuk memasak pasien menggunakan bahan

bakar gas LPG.

b. Ekonomi

Pasien bekerja sebagai pedagang. Penghasilan pasien tidak

tetap, rata-rata perbulan 4,5 juta rupiah. Pasien tinggal bersama

suami dan 2 anak terakhirnya. Pasien tinggal di rumah sederhana

daerah jalan rejosari 3. Rumah tersebut terdiri atas 1 ruang tamu,

3 tempat tidur, 1 dapur, dan kamar mandi. Dinding rumah

pasien terbuat dari semen, lantai rumah pasien adalah kramik.

15
Pasien mengaku pendapatannya cukup untuk biaya hidup sehari-

hari pasien dan keluarganya. Pasien berobat menggunakan

jamkesmas.

c. Sosial Masyarakat

Pasien dan keluarga pasien berhubungan baik dengan

tetangga sekitar rumah. Rata-rata lingkungan masyarakat pasien

adalah golongan menengah bawah, dan beberapa merupakan

golongan menengah ke atas.

Tabel Checklist survei PHBS

No Indikator Perilaku Ya tidak


1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan V
KLP Kesling
2 Air bersih V
3 Ada Jamban V
4 Anggota rumah tangga menggunakan jamban V
4 Anggota rumah tangga membuang sampah pada V
tempatnya
5 Lantai rumah kedap air V
KLP GAYA HIDUP
6 Aktivitas fisik/olahraga V
7 Ada anggota keluarga yg tidak merokok V
8 Mencuci tangan V
9 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari V
10 Anggota rumah tangga tidak menyalahgunakan V
Miras/Narkoba
KLP UKM

16
11 Anggota rumah tangga menjadi peserta V
JPK/Dana Sehat
12 Anggota rumah tangga melakukan PSN V
seminggu sekali

● Dari hasil di atas didaptkan skor 11 sehingga dapat di kasifikasikan

sebagai keluarga yang memiliki PHBS Strata Sehat Utama.

E. ASPEK 5: Derajat Fungsional

Pemeriksaan Fisik

Kesadaran dan Keadaan Umum : Composmentis dan baik.

Tanda Vital :

a. Tekanan Darah : 130/80 mmHg

b. Nadi

● Frekuensi : 88 x/menit

● Irama : Reguler

● Isi & Tegangan : Cukup

● Ekualitas : Ekual

c. Laju Pernapasan : 20 x/menit

d. Suhu : 36oC

e. Antropometri : BB = 58 kg, TB = 155 cm, BMI = 24,14

kg/m2. Status gizi: cukup.

Status Present

a. Kepala : Mesocephale

b. Rambut : Putih, tidak mudah dicabut

17
c. Kulit : Tidak sianosis, Ikterus (-), Petechie (-), kelembaban

cukup, kulit kering (+), turgor cukup.

d. Mata : Oedema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera

ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil isokor (3 mm/3mm) bulat-

di tengah, tidak ada alat bantu penglihatan.

e. Hidung : Epistaksis (-/-).

f. Telinga : Aurikula dalam batas normal, discharge (-/-)

g. Mulut : Gusi berdarah (-), Bibir kering (+), Bibir sianosis (-)

h. Leher : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)

i. Tenggorok : Uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (-), Tonsil

T1-T1 tenang.

j. Anggota Gerak : Atas Bawah

Capillary refill : < 2” < 2”

Akral dingin : -/- -/-

R. Fisiologis : +/+ +/+

R. Patologis : -/- -/-

k. Ekstreminatas bawah : Tidak terdapat luka.

1. Mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit

2. Mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari di dalam dan

luar rumah

3. Mampu melakukan perawatan diri, tapi tidak mampu

melakukan pekerjaan ringan

18
4. Dalam keadaan tertentu masih mampu merawat diri, tapi

sebagian besar aktivitas hanya duduk dan berbaring

5. Perawatan diri oleh orang lain, hanya berbaring pasif

DERAJAT FUNGSIONAL : 2

2.2.5 Diagnosis Holistik

2.2.5.1 Aspek 1 Personal

- Keluhan : Buang air besar encer 10 kali perhari

- Kekhawatiran : Sakit yang dialami bertambah parah

sehingga pasien tidak dapat bekerja seperti sebelumnya.

- Harapan : Sembuh sehingga pasien bisa sehat seperti

semula dan tidak kambuh lagi.

2.2.5.2 Aspek 2 Anamnesis Medis Umum

- Diagnosis kerja : Diare Akut

- Diagnosis Banding :-

2.2.5.3 Aspek 3 Kondisi Internal

- Kebiasaan mencuci tangan tanpa sabun

- Ketahanan tubuh yang menurun

- Konsumsi minuman sembarangan

2.2.5.4 Aspek 4 Kondisi Eksternal

− Kurangnya pengetahuan pasien mengenai diare

− Makanan tidak ditutup dengan baik sehingga berisiko terkena

vektor penyakit

19
− Tempat sampah tidak tertutup sehingga berisiko terkena vektor

penyakit

2.2.5.5 Aspek 5 Derajat Fungsional

Derajat fungsional : 2 (Dapat melakukan aktivitas ringan di


dalam maupun di luar rumah secara mandiri)

2.3 Usulan Penatalaksanaan Komprehensif

2.3.1 Identifikasi Masalah

Dalam kasus ini terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi

penyebab timbulnya diare, yaitu:

1. Pasien tidak biasa mencuci tangan dengan sabun

2. Pasien kurang pengetahuan tentang diare

3. Pasien tidak menggunakan penutup makanan setelah makanan

disajikan

4. Tempat sampah tidak diberi plastik dan tidak tertutup

5. Lingkungan di sekitar rumah pasien meningkatkan risiko

terjadinya diare

6. Pasien tidak mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat.

2.3.2 Intervensi

a Promotif

● Patient centered

▪ Memberikan penyuluhan/edukasi tentang penyakit

Diare mulai dari definisi yang benar tentang Diare,

20
penyebab, cara penularan, cara pencegahan dan

pengobatan yang benar untuk penderita Diare serta

penyuluhan tentang PHBS

● Family oriented

▪ Memberikan edukasi atau penyuluhan mengenai

penyakit Diare kepada keluarga mulai dari definisi

yang benar tentang Diare, penyebab, cara penularan,

cara pencegahan dan pengobatan yang benar untuk

penderita Diare serta penyuluhan tentang PHBS

▪ Pemberian poster 6 langkah cuci tangan

● Community oriented

▪ Puskesmas atau pihak terkait dapat melakukan

kunjungan rumah pasien dan memberikan edukasi

tentang penyakit diare, PHBS, lingkungan yang

sehat

a. Preventif

● Patient centered

▪ Memberikan edukasi tentang kebiasaan mencuci

tangan dengan 6 langkah cuci tangan serta 5 waktu

penting cuci tangan.

▪ Menggunakan penutup makanan ketika makanan

disajikan untuk mencegah kontaminasi pada

makanan dan minuman

21
● Family oriented

▪ Semua anggota keluarga ikut melaksanakan

kegiatan pencegahan diare yaitu kebiasaan cuci

tangan, mengolah makanan-minuman dengan benar,

dan membuang sampah di tempat sampah tertutup.

● Community oriented

▪ Mengadakan kerja bakti seminggu sekali

▪ Tidak menimbun sampah di rumah

▪ Membuang sampah pada tempat sampah tertutup

▪ Penataan tata ruang RT RW

▪ Renovasi daerah – daerah yang masih seperti rawa

dan rentan sebagai sumber penyakit

b. Kuratif

● Patient centered

Medicamentosa

▪ Attapulgite 2 × 1

Supportif

▪ Pemberian asupan cairan berupa air putih

▪ Pemberian makanan yang tidak terkontaminasi

● Family oriented

▪ Keluarga diharapkan dapat mengingatkan pasien

untuk meminum obat.

22
c. Rehabilitatif

● Patient centered

▪ minum obat teratur

▪ perilaku hidup bersih dan sehat, seperti selalu

mencuci tangan

▪ Menjaga makan dan minum higenis

● Family oriented

▪ Memfasilitasi pengamanan makanan dari

kontaminasi

▪ Memotivasi pasien untuk kontrol ke puskesmas/RS

hingga dinyatakan sembuh oleh dokter

● Community oriented

▪ Menjaga lingkungan bersih dan bebas dari sampah

▪ Menjaga pembuangan air di komplek perumahan

tetap mengalir

23
Agent

Bakteri

Host Lingkungan

1. Pasien tidak terbiasa mencuci tangan 1. Lingkugan rumah banjir jika terjadi hujan
dengan sabun lebat.
2. Pasien tidak terbiasa menutup makanan 2. Air menurun kualitasnya ketika hujan dan
yang disajikan banjir
3. Tempat sampah di rumah pasien tidak 3. Pasien berpendidikan MI, sehingga
ditutup pengetahuan pasien mengenai diare
kurang

Gambar 2.2 Diagram Segitiga Epidemiologi

24
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Analisa Penyebab Masalah

3.1.1 Host

Penyakit diare yang diderita pasien dikaitkan dengan kebiasaan

pasien yang tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah

makan. Mencuci tangan dengan air yang mengalir serta membersihkan

sela-sela jari dan menggunakan sabun dapat mengurangi jumlah bakteri

di tangan. Kurangnya pengetahuan mengenai mencuci tangan dengan

sabun serta membersihkan seluruh bagian tangan dapat meningkatkan

kejadian diare (Prasetyoningsih, 2015).

Kebiasaan menyajikan makanan di meja tanpa menggunakan

penutup atau tudung saji dan proses pengolahan makanan yang tidak

bersih dapat mempengaruhi timbulnya penyakit diare dilihat dari cara

pengolahan dan penyajian makanan yang tidak benar sehingga berisiko

terkontaminasi bakteri (Suriyatni, 2013).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara

kondisi fisik tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare.

Tempat penampungan sampah sementara yang baik dan memenuhi

syarat kesehatan haruslah: (1) Mudah dibersihkan; (2) Tidak mudah

rusak; (3) Tidak berupa lokasi terbuka/tumpukan sampah yang dibuang

atau dibiarkan begitu saja diatas permukaan tanah; (4) Sebaiknya

tempat penampungan sampah sementara mempunyai tutup yang rapat

25
untuk menghindari kumpulan lalat; (5) Sebaiknya tempat penampungan

sampah sementara ditempatkan di luar atau jauh dari rumah dengan

tujuan agar kebersihan rumah terjaga, menjaga kesejukan hawa/udara

sekitar rumah dan mudah diangkut oleh petugas sampah/truk sampah

(Marylin J dan Eliaser B, 2008). Pasien hanya memiliki satu tempat

sampah yang terbuka dan tidak diberi plastik untuk manajemen sampah

yang efisien.

Pasien tidak menggunakan penutup makanan ketika makanan

disajikan sehingga dapat menyebabkan penularan bakteri oleh vektor

penyakit terutama lalat yang berasal dari tempat sampah terbuka milik

pasien sendiri ataupun tetangga pasien.

3.1.2 Agent

Agent adalah penyebab penyakit yang kadang bersifat kompleks

(multiple causation), baik jelas nyata maupun tidak jelas, dimana dalam

jumlah yang berlebihan atau sebaliknya dapat menimbulkan proses

penyakit. Penyebab penyakit (agent) yang dapat menimbulkan proses

peyakit seperti penyebab biologis, kimiawi, nutrient, dan lain-lain.

Contoh penyebab biologis seperti bakteri, virus, rickettsia, fungi,

protozoa, dan lain-lain makhluk hidup termasuk manusia itu sendiri.

(Budioro, 2001).

Penyebab diare terbanyak setelah rotavirus adalah Escherichia

coli. Bakteri ini merupakan bakteri komensal, patogen intestinal dan

26
patogen ekstra intestinal yang dapat menyebabkan infeksi saluran

kemih, meningitis dan septicemia. Sebagian besar dari E. coli berada

dalam saluran pencernaan, tetapi yang bersifat patogen menyebabkan

diare pada manusia. Diare yang disebabkan oleh Escherichia coli

merupakan patogen enterik yang dapat menyebabkan dehidrasi dengan

berbagai mekanisme tergantung jenis patotipenya. Jumlah koloninya

dalam usus dapat memengaruhi beratnya gejala diare. Standar emas

untuk mendiagnosis dehidrasi adalah dengan mengukur kehilangan

berat badan akut. Namun, berat badan sebelum sakit pada umumnya

tidak diketahui, maka perkiraan kehilangan cairan dilakukan

berdasarkan penilaian klinis. Semakin berat derajat dehidrasi

mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas (Halim dkk,

2017).

3.1.3 Environment

Faktor lingkungan dapat diklasifikasikan dalam empat komponen,

yaitu lingkungan fisik, biologi, sosial, dan ekonomi. Lingkungan fisik

meliputi kondisi udara, musim, cuaca dan kondisi geografi serta

geologinya. Lingkungan biologi meliputi hewan atau tumbuh-tumbuhan,

mikroorganisme saprofit. Lingkungan social seperti kepadatan penduduk,

pendidikan, pekerjaan, kebiasaan, adat, sikap, moral, kehidupan

masyarakat, tersedianya layanan kesehatan, organisasi sosial dan politik.

27
Lingkungan ekonomi seperti kemiskinan, dan ketersediaan fasilitas

kesehatan (Bakti Husada, 2012; Budioro 2001).

Masalah kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari akibat masih

rendahnya tingkat pendidikan penduduk, masih terikat eratnya masyarakat

Indonesia dengan adat istiadat kebiasaan, kepercayaan dan lain sebagainya

yang tidak sejalan dengan konsep kesehatan. Penyebab yang

mempengaruhi PHBS adalah faktor perilaku dan non perilaku fisik, sosial

ekonomi dan sebagainya, oleh sebab itu penanggulangan masalah

kesehatan masyarakat juga dapat ditunjukkan pada kedua faktor utama

tersebut (Eddy, 2002).

Hasil penelitian Millah (2012) menyatakan bahwa terdapat hubungan

yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian diare. Menurut

Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan seseorang semakin tinggi, maka

akan semakin memahami tentang sesuatu hal dalam hubungan kejadian

diare. Sebaiknya seseorang mengetahui tentang gejala penyakit, cara

penularan, dan cara pencegahannya. Pasien masih tidak mengetahui cara

manajemen diare.

Lingkungan pasien banjir ketika hujan deras. Banjir pada halaman

depan dan belakang rumah pasien. Dibelakang rumah pasien terdapat

sungai dan terdapat tumpukan sampah di seberangnya. Ketika hujan turun

air sungai akan meluap sampai halaman belakang rumah pasien.

Selanjutnya rumah pasien sendiri memiliki ventilasi yang kurang dengan

ketiadaan jendela pada sisi – sisi rumah kecuali pada ruang depan saja.

28
Lingkungan seperti ini rentan dihuni oleh agen-agen penyakit yang dapat

menyebabkan diare. Secara sosial keluarga pasien memiliki tetangga

tetangga dekat yang akrab dan secara ekonomi keluarga pasien masih

tergolong berkecukupan dari hasil berjualan makanan atau sebagai tukang

cuci.

3.2. Alternatif Pemecahan Masalah

Masalah Pemecahan masalah


Pengetahuan tentang diare masih Edukasi dan leaflet tentang definisi
kurang. diare, gejala, penularan, pencegahan,
dan penanganan awal

Kebiasaan cuci tangan dengan sabun Edukasi cuci tangan dengan 6 langkah
kurang cuci tangan yang benar, pemberian
poster langkah cuci tangan, Pemberian
sabun cuci tangan.

Makanan yang dihidangkan tidak Edukasi dan Pemberian penutup


ditutup. makanan
Tidak ada tempat sampah tertutup di Edukasi dan pengadaan tempat sampah
dalam rumah tertutup

Lingkungan di sekitar rumah pasien Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat
meningkatkan faktor risiko diare

29
3.1 Plan Of Action

Indikator
Masalah Kegiatan Tujuan Sasaran Metode Waktu Biaya Pelaksana
Keberhasilan
1. Kurangnya Edukasi Memberikan Pasien Edukasi 27 April Rp. - Dokter Pasien dan
pengetahuan tentang diare pengetahuan dan 2018 muda FK keluarga
tentang dan cara tentang diare keluarga Unissula mengetahui
penyakit mengatasi sehingga penyakit diare
diare diare di rumah pasien dapat dan
menangani bagaimana
sendiri mengatasinya
2. Makanan Menyadarkan untuk Pasien Edukasi 27 April Rp. - Dokter Pasien
yang pasien akan mencegah dan 2018 muda FK menyajikan
dihidangkan pentingnya vektor pemberian Unissula makanan yang
tidak ditutup. menutup penyakit tutup diberi tutup.
makanan yang makanan.
disajikan

30
3. Pasien dan Mengajarkan 6 Pasien dan Pasien Pemberian 27 April Rp - Dokter Pasien
keluarga cuci langkah cuci keluarga dan poster cuci 2018 Muda FK membiasakan
tangan tangan kepada mampu keluarga tangan, Unissula 6 langkah cuci
sekedarnya Pasien dan melakukan pelatihan tangan dalam
dan tidak keluarga cuci tangan cuci tangan kehidupan
terbiasa cuci yang benar diperagaka sehari hari
tangan sehingga n oleh sebelum dan
dengan sabun mengurangi dokter sesudah
risiko muda, dan makan.
terinfeksi pemberian
penyakit sabun cuci
diare tangan.

4. - Lingkungan Menyampaika Pasien tahu Pasien Edukasi 27 April Rp. - Dokter Pasien
di sekitar n pentingnya pentingnya dan oleh dokter 2018 Muda FK menjaga
rumah pasien lingkungan lingkungan keluarga muda Unissula lingkungan
meningkatka yang bersih yang bersih rumahnya
n faktor dan Edukasi dan tahu tetap bersih
risiko diare mengenai perilaku dan
- Pasien PHBS hidup bersih membiasakan
tidak dan sehat berperilaku
mengetahu dengan benar hidup bersih
i PHBS dan sehat.

31
5. Tidak ada Menyampaika Pasien tahu Pasien Edukasi 27 April Rp - Dokter Pasien
tempat n pentingnya cara oleh dokter 2018 Muda FK membiasakan
sampah tempat sampah mengelola muda dan Unissula menggunakan
tertutup di tertutup sampah pemberian tempat
dalam rumah, dalam rumah tempat sampah
tempat tangga sampah tertutup.
sampah yang dengan benar tertutup
ada terbuka

32
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari laporan kasus ini adalah:

4.1.1 Studi kasus dilakukan pada pasien Ny.H, usia 54 tahun, dengan

diagnosis Diare akut dapat diambil kesimpulan bahwa dari diagnosis

holistik dan hasil pendekatan segitiga epidemiologi terdapat beberapa

faktor risiko yang menjadikan pasien mengalami diare pada kasus ini

berkaitan dengan Host dan Lingkungan.

4.1.2 Faktor internal pasien yang mempengaruhi terjadinya diare pada kasus

ini didominasi oleh faktor perilaku yaitu pasien tidak cuci tangan

dengan sabun sebelum dan sesudah makan dan setelah BAB, dan

pencegahan serta penanganan diare masih kurang

4.1.3 Faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya diare pada kasus ini

didominasi oleh lingkungan yang meningkatkan faktor risiko diare

dan pengetahuan pasien tentang diare.

4.2 Saran

4.2.1. Untuk Pasien

1. Pasien dan keluarga dapat menjaga kebersihan lingkungan dan

berperilaku sehat kaitannya mencegah diare, seperti mencuci

tangan yang benar dengan sabun, menutup makanan yang

disajikan, melakukan penataan tempat sampah tertutup.

33
2. Memotivasi pasien dan keluarga dapat menjaga kebersihan diri dan

lingkungan

3. Menjaga daya tahan tubuh dengan makan yang bergizi, olahraga

dan istirahat cukup

4.2.2. Untuk Puskesmas

1. Evaluasi masalah kesehatan secara menyeluruh terhadap faktor –

faktor yang mempengaruhi kejadian diare.

2. Memberikan penyuluhan sederhana mengenai penyakit Diare

kepada pasien dan masyarakat sekitar sehingga masyarakat dapat

mengetahui tentang diare.

4.2.3. Untuk Unissula

1. Dapat membantu masyarakat dan puskesmas untuk berpartisipasi

aktif dalam menanggulangi diare.

2. Membimbing dokter muda di jejaring dengan lebih baik sehingga

data yang diambil oleh dokter muda dapat lebih tepat

3. Meningkatkan kerjasama dengan puskesmas-puskesmas untuk

bersama-sama meningkatkan kesehatan masyarakat.

34
DAFTAR PUSTAKA
Depkes, 2016. Profil Kesehatan Indonesia 2016.

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-

indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2016.pdf

Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah

2015.http://dinkesjatengprov.go.id/v2015/dokumen/profil2015/Profil_2015_

fix.pdf

Dinkes Semarang, 2016. Profil Kesehatan Kota Semarang 2016.

http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_KOTA

_2014/3374_Jateng_Kota_Semarang_2015.pdf.

Kemenkes RI, 2011. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan : Situasi Diare

di Indonesia. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Bakti Husada, 2012, Konsep Dasar Epidemiologi, Modul Pelatihan Jarak jauh

Asisten Epidemiologi Lapangan.

Budioro B, 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan

Penerbit Universitas Diponegoro.

Eddy S. S., 2002. Seri Penyakit Tropik Infeksi: Perkembangan Terkini Dalam

Pengelolaan Beberapa Penyakit Tropik Infeksi. Surabaya: Airlangga

University Press.

Halim F, Sarah M. W. Novie H. Rampengan. Praevilia S. 2017. Hubungan Jumlah

Koloni Escherichia Coli dengan Derajat Dehidrasi pada Diare Akut. Sari

Peditari.

Juffrie, M. Mulyani, N.S. 2010. Modul Pelatihan Diare. UKK Gastrohepatologi.

Jakarta : IDAI

35
Marylin J, Eliaser B. 2008. Hubungan Antara Pembuangan Sampah Dengan

Kejadian Diare Pada Penduduk Di Kelurahan Oesapa Kecamatan Kelapa

Lima Kota Kupang. MKM.

Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Prasetyoningsih, 2015. Hubungan Antara Pengetahuan Cuci Tangan Yang Benar

Dengan Kejadian Diare Pada Lansia Di Puskesmas Nguntoronadi 1

Purwodadi.

Suriyatni, Novitasri D. Amiroh U. 2013. Gambaran Beberapa Faktor Risiko

Kejadian Diare Pada Mahasiswa Di Asrama Akper Ngudi Waluyo Ungaran

WHO. Diarrheal Diseases 2013. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/

fs330/en/

36
LAMPIRAN

37
Lampiran 1. Poster cuci tangan

Lampiran 2. Leaflet Diare

Lampiran 3. Poster PHB

38
KEGIATAN HOME VISIT

Gambar 1. Kamar mandi pasien Gambar 2. Halaman depan rumah pasien

Gambar 3. Dapur pasien

39
Gambar 5. Belakang rumah pasien

Gambar 6. Kunjungan rumah pasien

40
INTERVENSI

Gambar 1. Edukasi Cuci Tangan Gambar 2. Pemberian Sabun cuci tangan

Gambar 4. Pemberian Penutup Makanan Gambar 5. Tempat sampah tertutup

41