Anda di halaman 1dari 23

Referat

SUBINVOLUSI UTERUS

Oleh :

Rizkha Nadha Hasrizal Putri 1410312081

Preseptor:

dr. Erman Ramli, SpOG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan nikmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Referat yang berjudul
“Subinvolusi Uterus” sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik
di bagian Obstetri dan Ginekologi RS. Achmad Mochtar Bukittinggi Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas.
Penyusunan Referat ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti
kepaniteraan klinik senior di bagian Obstetri dan Ginekologi RS. Achmad Mochtar
Bukittinggi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.. Terima kasih penulis
ucapkan kepada dr. Erman Ramlin, SpOG (K) sebagai preseptor dalam
kepaniteraan klinik senior ini beserta seluruh jajarannya dan semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan Referat ini.
Penulis menyadari bahwa Referat ini jauh dari sempurna, maka dari itu
sangat diperlukan saran dan kritik untuk kesempurnaan Referat ini. Penulis
berharap agar Referat ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan terutama
bagi penulis sendiri dan bagi teman-teman dokter muda yang tengah menjalani
kepaniteraan klinik. Akhir kata, semoga Referat ini bermanfaat bagi kita semua.

Bukittinggi, 9 Agustus 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN i


KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 2
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Metode Penulisan 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Uterus 3
2.2 Involusi Uterus 7
2.3 Definisi Subinvolusi Uterus 10
2.4 Faktor Predisposisi 11
2.5 Patofisiologi 13
2.6 Manifestasi Klinik 13
2.7 Diagnosis 13
2.8 Penatalaksanaan 16
2.9 Komplikasi 16
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 17
DAFTAR PUSTAKA 18

iii
Daftar Tabel
Halaman
Tabel 2.1 : Tinggi Fundus Uteri 8

iv
Daftar Gambar
Halaman
Gambar 2.1 : Organ Visera Pelvis 3
Gambar 2.2 : Ligamen pada Uterus 4
Gambar 2.3 : Suplai darah ke Uterus dan Ovarium 6
Gambar 2.4 : Jaras Persarafan Uterus 7
Gambar 2.5 : Tinggi Fundus Uteri Masa Nifas 8
Gambar 2.6 : Potongan Melintang Level Involusi Uterus 9

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nifas merupakan proses alamiah yang dialami oleh seorang wanita setelah
persalinan, yang berlangsung kira-kira 6 minggu. Walaupun merupakan masa yang
relatif tidak kompleks dibandingkan dengan kehamilan, nifas ditandai oleh banyak
perubahan fisiologis.1
Dalam masa nifas alat – alat genitalia interna maupun eksterna akan
berangsur – angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan –
perubahan alat – alat genitalia ini dalam keseluruhannya disebut involusi. Sesudah
partus berakhir uterus yang beratnya 1000 gram mengecil sampai menjadi 40 – 60
gram dalam 6 minggu. Proses ini yang dinamakan involusi uterus, didahului oleh
kontraksi – kontraksi uterus yang kuat, yang menyebabkan berkurangnya peredaran
darah dalam alat tersebut. Kontraksi itu dalam masa nifas berlangsung terus,
meskipun tidak sekuat seperti saat melahirkan. Hal tersebut disertai hilangnya
pengaruh estrogen dan progesteron, menyebabkan autolisis mengakibatkan sel – sel
otot pada dinding uterus menjadi lebih kecil dan pendek.1,2
Kebanyakan ibu merasa ditinggalkan pasca melahirkan karena fokus baru
ditujukan pada bayi yang baru lahir, sehingga masa nifas merupakan kecemasan
tersendiri hingga berujung abnormal pada ibu.2
Maka dari itu seorang dokter harus memahami tentang masa nifas baik
fisiologis maupun patologis, dan mengetahui sebab akibat, penatalaksanaan,
manifestasi klinisnya, klasifikasi penyakitnya, dan pencegahan bahkan mengetahui
penangan yang baik, sesuai klasifikasi sub involusi yang terjadi. Seorang dokter
harus bisa lebih mengerti proses nifas bukan hanya pada kelahiran bayi tetapi juga
memproritaskan kesehatan ibu. Sehingga dapat memberikan asuhan dengan tepat
sesuai dengan standar asuhan kedokteran yang baik dan benar sesuai kode etik dan
aturan-aturan dalam kedokteran.

1
1.2 Batasan Masalah
Makalah ini terbatas pada anatomi dan fisiologi involusi uterus, definisi,
faktor predisposisi, patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, penatalaksanaan,
dan komplikasi dari subinvolusi uterus.

1.3 Tujuan Penulisan


Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi involusi uterus, definisi, faktor
predisposisi, patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, penatalaksanaan, dan
komplikasi dari subinvolusi uterus.

1.4 Manfaat Penulisan


Diharapkan mahasiswa kedokteran mengerti dan memahami tentang
subinvolusi uterus sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan
pada ibu hamil yang mengalami permasalahan yang terkait terkhususnya
subinvolusi uterus.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Uterus


Sebagian besar uterus adalah otot polos. Saat tidak hamil beratnya lebih
kurang 40 gram, tetapi saat hamil beratnya meningkat menjadi 1000 gram, karena
hipertrofi dan hiperplasia dari serat otot polos. Saat hamil, uterus memberikan
perlindungan bagi perkembangan janin dan juga bertanggungjawab dalam
pengeluaran janin saat melahirkan.3 Uterus dibentuk oleh serat otot polos,
sedangkan serviks disusun oleh jaringan ikat padat yang berfungsi untuk menahan
janin di dalam uterus,i memungkinkan otot polos uterus untuk meregang dan
mengalami hipertrofi. Pertemuan antara uetrus dan serviks ini mengalami dilatasi
dan penipisan, bagian dinding yang lebih tipis inilah yang merupakan daerah insisi
pada operasi caesar.3
Uterus seluruhnya berada di bagian rendah pelvis, diantara vesika urinaria
dan rektum. Tuba fallopi memasuki uterus di dua sisi, pada pertemuan antara
fundus dan korpus.

Gambar 2.1 Organ Visera Pelvis3

Uterus adalah moveable organ yang ditahan oleh empat ligamen. Selain
ligamen, lipatan peritoneum (peritoneum fold) membentuk struktur yang
berhubungan dengan uterus, namun lipatan ini memiliki peran yang sangat terbatas
untuk menahan uterus dalam pelvis. Di anterior, uterovesical fold terbentuk dari
uterus pada pertemuan antara serviks dan korpus uteri ke permukaan atas vesica
urinaria. Rectovaginal fold terbentuk dari forniks posterior vagina ke permukaan

3
rektum dan membentuk lantai kantong rektouterina (rectouterine ponch). Kantong
ini pada sisi anterior dibatasi oleh dinding posterior corpus uteri, sisi posterior oleh
rektum dan lateral oleh lipatan peritoneum yang lewat dari serviks ke dinding
posterior dari bagian rendah pelvis.3
Ligamen Uterosacral
Lipatan peritoneum yang meluas ke posterior dari serviks ke dinding bagian
rendah pelvis mengandung sejumlah besar otot polos dan jaringan fibrosa. Lipatan
ini melekat ke permukaan anterior sacrum dan membentuk ligamen sejati uterus
yang disebut ligamen uterosacral pada gambar 2.23

Gambar 2.2 Ligamen pada Uterus3

Ligamen Luas/ Broad Ligament


Pada kedua sisi uterus terdapat broad ligament dan peritoneum fold yang
terdiri dari tuba fallopi, ligamen bundar (round ligament) dari uterus dan ligamen
ovari. Dari sisi uterus, broad ligament mencapai dinding lateral pelvis dan
membentuk septum antara daerah anterior pelvis yang terdiri dari vesika urinaria
dengan daerah posterior yang terdiri dari rektum. Ovarium melekat ke lapisan
posterior dari broad ligament melalui mesoovarium.3
Ligamentum suspensorium ovari adalah bagian dari broad ligament yang
membentang dari infundibulum tuba uteri dan kutub atas ovarium ke dinding lateral
pelvis. Ligamentum suspensorium mengandung pembuluh darah, saraf, dan saluran
limfatik ovarium. Istilah mesometrium digunakan sebagai bagian dari broad

4
ligament yang membentang dari lantai pelvis naik ke ovarium dan ligamen
ovarium.3
Arteri uterina, cabang dari arteri iliaka interna anterior, berjalan di antara
lapisan broad ligament. Menyeberang di atas ureter lalu naik di medial menuju
dinding posterior vesika urinaria, arteri uterina yang lewat ini lebih kurang 1,5 cm
dari lateral ke serviks. Arteri ini lalu menuju ke superior broad ligament untuk
beranastomose dengan cabang arteri ovarium, memberikan pasokan anastomotor
yang kaya dari kedua arteri ke uterus.3
Ligamentum Servikalis Transversum
Berasal dari arteri iliaka interna, arteri uterina berjalan dalam ligamentum
servikalis transversum atau ligamen cardinal. Ligamen ini melekat ke lateral serviks
dan dinding lateral pelvis dan memberikan tahanan yang cukup besar pada uterus.
Ligamentum servikalis transversum ini adalah salah satu ligamen yang berperan
dalam mempertahankan posisi uterus dalam pelvis. Nama dari ligamen ini masih
diragukan karena bukan ligamen yang sebenarnya, melainkan gabungan jaringan
ikat padat yang terbentuk di sekitar struktur neurovaskular yang memanjang dari
dinding lateral pelvis ke visera. Namun, ligamen ini sangat kuat menyatu dengan
fasia yang melingkari serviks dan bagian atas vagina dan lewat di belakang dan
depan akar dari arteri vena iliaka interna. Ligamentum servikalis transversum
menahan serviks dan bagian atas vagina, membantu menjaga sudut aksis antara
vagina dan anteversi uterus. Di inferior ligamen ini diteruskan dengan fasia superior
dari diafragma pelvis.3
Ligamen Bundar/ Round Ligament
Round ligament juga berperan dalam mempertahankan posisi anteversi
uterus. Round ligament pada dasarnya merupakan rangkaian diantara lapisan broad
ligament. Ligamen ini melewati cincin inguinal dalam untuk memasuki canalis
inguinalis bersama dengan nervus ilioinguinal dan berakhir di jaringan labia
mayora.3
Perdarahan dan Drainase Limfatik Uterus
Meskipun suplai darah utama uterus berasal dari arteri uterina, sistem arteri
azygos ada untuk memasok uterus, serviks, dan vagina dengan suplai yang kaya
akan arteri. Jaringan pembuluh darah ini memiliki kontribusi dari uterus, vagina,
dan arteri pudenda interna.

5
Sistem limfatik utama uterus melewati nodus iliaka interna. Namun ada
beberapa yang terhubung dengan nodus inguinal superfisial karena pembuluh limfe
lewat melalui round ligament menuju ke nodus tersebut. Sel malignansi dari uterus
dapat berjalan ke nodus inguinal superfisial melalui rute ini.

Gambar 2.3 Suplai darah ke uterus dan ovarium3

Persarafan otonom uterus dan adneksa


Saraf sensori dari korpus dan fundus uterus (warna ungu, Gambar 2.4),
berjalan dengan saraf simpatik melalui pleksus hypogastrik inferior dan superior ke
torakal 11 dan 12. Kedua pleksus hypogastrik berlanjut melalui saraf hipogastrik
kanan dan kiri. Saraf motorik korpus dan fundus uterus berasal dari saraf simpatik,
sedangkan bagian terbawah uterus dan bagian atas vagina adalah parasimpatik,
berjalan melalui nervus splenikus pelvis.

6
Gambar 2.4 Jaras Persarafan Uterus3

2.2 Involusi Uterus


Sesaat setelah pengeluaran plasenta, uterus akan mulai berubah secara
fisiologis seperti keadaan semula keadaan ini disebut involusi. Bagian tersebut
sebagian besar terdiri dari miometrium yang ditutupi oleh serosa dan dilapisi oleh
desidua basalis. Dinding posterior dan anterior dalam jarak yang terdekat, masing-
masing tebalnya 4 sampai 5 cm. Pada saat post partum, berat uterus kira-kira
menjadi 1.000 gram.1,4
Selama nifas, terjadi destruksi dan dekonstruksi yang luar biasa pada uterus.
Dua hari setelah persalinan, uterus mulai berinvolusi, dan pada minggu pertama
beratnya sekitar 500 g. Pada minggu kedua beratnya sekitar 300 g. Sekitar 4
minggu setelah melahirkan, uterus kembali ke ukuran sebelum hamil yaitu 100 g

7
atau kurang. Uterus biasanya kembali ke ukuran semula setelah sekitar 4 bulan.
Jumlah sel otot mungkin tidak berkurang cukup besar. Akan tetapi ukuran masing-
masing sel menurun secara bermakna dari 500-800µm kali 5-10 µm saat aterm
menjadi 50-90 µm kali 2,5-5 µm postpartum.3,4

Tabel 2.1 Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi4

Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus


Bayi Lahir Setinggi umbilicus 1000 gram
Plasenta lahir 2 jari dibawah umbilicus 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simfisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simfisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

Gambar 2.5 Tinggi Fundus Uteri Masa Nifas4

Dalam 2 atau 3 hari setelah persalinan, desidual yang tersisa di dalam uterus
berdiferensiasi menjadi dua lapisan. Lapisan superficial menjadi nekrotik dan
terlepas dalam bentuk lokia. Lapisan basal yang berdekatan dengan miometrium
yang berisi fundus kelenjar endometrium tetap utuh dan merupakan sumber
endometrium baru.3,4

8
Gambar 2.6 Potongan melintang level involusi uteri pada tempat bekas
perlengketan plasenta3

Proses involusi uterus yang terjadi pada pada masa nifas melalui tahapan
berikut:2
a. Autolisis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam
otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah
mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar dari semula
selama kehamilan. Diketahui adanya penghancuran protoplasma dan jaringan
yang diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal. Inilah sebabnya
beberapa hari setelah melahirkan ibu sering berkemih. Pengrusakan secara
langsung jaringan hipertropi yang berlebihan ini disebabkan karena penurunan
hormon estrogen dan progesteron.
b. Atrofi jaringan
Atrofi jaringan yaitu jaringan yang berproliferasi dengan adanya
penghentian produksi estrogen dalam jumlah besar menyertai pelepasan
plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot – otot uterus, lapisan desidua akan
mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan
beregenerasi menjadi endometrium baru.
Setelah kelahiran bayi dan plasenta, otot uterus berkontraksi sehingga
sirkulasi darah ke uterus terhenti yang menyebabkan uterus kekurangan darah
(lokal iskhemia). Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi dan

9
retraksi yang cukup lama seperti tersebut di atas tetapi disebabkan oleh
pengurangan aliran darah ke uterus, karena pada masa hamil uterus harus
membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi
kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus mengadakan hipertropi dan
hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi. Maka pengaliran darah
berkurang, kembali seperti biasa.
c. Efek oksitosin
Oksitosin merupakan zat yang dapat merangsang miometrium uterus
sehingga dapat berkontraksi. Kontraksi uterus merupakan suatu proses yang
kompleks dan terjadi karena adanya pertemuan aktin dan myosin. Dengan
demikian aktin dan myosin merupakan komponen kontraksi. Pertemuan aktin
dan myosin disebabkan kaena adanya myocin light chine kinase (MLCK) dan
dependent myosin ATP ase, prose ini dapat dipercepat oleh banyaknya ion
kalsium yang masuk dalam sel, sedangkan oksitosin merupakan suatu yang
memperbanyak masuknya ion kalsium ke dalam intra sel. Sehingga dengan
adanya oksitosi akan memperkuat kontraksi uterus.
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi
lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang
sangat besar. Hormon oksitosin yang terlepas dari kelenjar hipofisis memperkuat
dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu
proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uteri akan menurangi pedarahan.
Selama 1 sampai 2 jam pertama masa nifas intensitas kontraksi uterus bisa
berkurang dan menjadi tertatur, karena itu penting sekali menjaga dan
mempertahankan kontraksi uterus pada masa itu.

2.3 Definisi Subinvolusi Uterus


Subinvolusi adalah keadaan terhentinya proses involusi diikuti oleh
memanjangnya pengeluaran lokia dan perdarahan uterus yang ireguler atau
berlebihan, yang terkadang sangat banyak jumlahnya. Penyebab paling umum
adalah infeksi plasenta. Subinvolusi Uteri adalah kegagalan uterus untuk mengikuti
pola normal involusi/proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana
mestinya,sehingga proses pengecilan uterus terhambat.4

10
2.4 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya subinvolusi uteri sebagai berikut:4,5
1. Seksio Sesaria
Tindakan SC dapat memperlama terjadinya penyembuhan dari otot uterus
sehingga dapat menyebabkan terjadinya subinvolusi uterus.
2. Status gizi ibu nifas buruk ( kurang gizi)
Pada masa nifas dibutuhkan tambahan energi sebesar 500 kkal per hari,
kebutuhan tambahan energi adalah untuk menunjang proses kontraksi uterus pada
proses involusi menuju normal. Kekurangan energi pada ibu nifas dapat
menyebabkan proses kontraksi tidak maksimal, sehingga involusi uterus terus
berjalan lambat.
3. Ibu tidak menyusui bayinya
Laktasi adalah produksi dan pengeluaran ASI, laktasi ini dapat dipercepat
dengan memberiksan rangsangan puting susu (isapan bayi). Pada puting susu
terdapat saraf – saraf sensorik yang jika mendapat rangsangan (isapan bayi) maka
timbul impuls menuju hipotalamus kemudian disampaikan pda kelenjar hipofisi
bagian depan dan belakang. Pada kelenjar hipofisis bagian depan akan
mempengaruhi pengeluran hormon prolaktin yang berperan dalam peningkatan
produksi ASI, sedangkan kelenjar hipofisis bagian belakang akan mempengaruhi
pengeluaran hormon oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang
ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar serta
memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi uterus berlangsung lebih cepat.
4. Usia
Proses involusi uterus sangat dipangaruhi oleh usia ibu yang melahirkan. Usai
20 – 30 tahun merupakan usia yang sangat ideal untuk terjadinya proses involusi
yang baik. Hal ini disebakan karena faktor elastisitas dari otot uterus mengingat ibu
yang telah berusia 35 tahun lebih elastisitas ototnya berkurang.
Pada usia kurang dari 20 tahu elastisitasnya belum maksimal karena organ
reproduksi yang belum matang. Sedangkan usia diatas 35 tahun sering terjadi
komplikasi saat sebelum dan setelah kelahiran dikarenakan elastisitas otot rahimnya
sudah menurun, menyebabkan kontraksi uterus tidak maksimal.

11
5. Parietas
Setiap kehamilan rahim mengalami pembesaran, terjadi peregangan otot – otot
rahim selama 9 bulan kemudian. Semakin sering ibu hamil dan melahirkan,
semakin dekat jarak kehamilan dan kelahiran, elastisitas uterus semakin terganggu
akibatnya uterus tidak akan berkontraksi secara sempurna dan mengakibatkan
lamanya proses pemulihan organ reproduksi (involusi) pascasalin.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa parietas ibu mempengaruhi lamanya
pengeluaran lokia, semakin tinggi paritas semakin cepat proses pengeluaran lokia.
Akan tetapi karena kondisi otot rahim pada ibu bersalin multipara cenderung sudah
tidak terlalu kuat maka proses involusi berjalan lebih lambat.
6. Terdapat bekuan darah yang tidak keluar
7. Terdapat sisa plasenta dan selaputnya dalam uterus sehingga proses involusi
uterus tidak berjalan dengan normal atau terlambat
8. Terjadi infeksi pada endometrium
Infeksi puerperalis paling sering terjadi adalah endometritis. Setelah masa
inkubasi, kuman – kuman menyerbu ke dalam luka endometrium, biasanya bekas
perlengketan plasenta. Endometritis dapat menghambat involusi.

2.5 Patofisiologi
Uterus harus membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin.
Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus, aliran darah ke
uterus pada masa kehamilan menjadi 2 kali lipat dari keadaan sebelum hamil. Pada
saat bayi lahir, maka pengaliran darah ke uterus akan berkurang, kembali seperti
biasa. Pembuluh darah akan berkurang akibat kontraksi uterus yang baik setelah
melahirkan. Demikian dengan adanya hal-hal tersebut ditambah dengan pengaruh
hormon estrogen dan progesteron, sehingga jaringan otot-otot uterus mengalami
atrofi kembali ke ukuran semula.2
Pada kasus subinvolusi uterus, kontraksi uterus menurun sehingga
pembuluh darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga pendarahan terjadi
terus menerus, menyebabkan permasalahan lainya baik itu infeksi maupun
inflamasi pada bagian rahim terkhususnya endromatrium. Sehingga, proses involusi
yang mestinya terjadi setelah nifas terganggu akibat dari permasalah-permasalahan
diatas.1,2

12
2.6 Manifestasi Klinis
Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak,sampai kira-kira 4 – 6
minggu pasca nifas.

a. Fundus uteri letaknya tetap tinggi didalam abdomen/pelvis dari yang


diperkirakan/penurunan fundus uteri lambat dan tonus uterus lembek.
b. Keluaran lochia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bentuk
serosa,lalu kebentuk lochia alba.
c. Lochia bisa lebih banyak daripada yang diperkirakan
d. Leukore dan lochia berbau menyengat,bisa terjadi jika ada infeksi.

2.7 Diagnosis4,5
1. Anamnesis
a. Identitas pasien
Data pasien meliputi nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat,
medical record, dll.
b. Keluhan yang dirasakan ibu saat ini : pengeluaran lochia yang tetap
berwarna merah (dalam bentuk rubra dalam beberapa hari postpartum
atau lebih dari 2 minggu postpartum adanya leukore dan lochia berbau
menyengat)
c. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, mioma
uteri, riwayat preeklamsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi
pembuluh darah, sisa plasenta.
d. Riwayat penyakit keluarga
Adanya riwayat keluarga yang pernah/sedang menderita
hipertensi, penyakit jantung dan preeklamsia, penyakit keturunan
hemofilia dan penyakit menular.
e. Riwayat obstetrik
Riwayat menstruasi meliputi : menarche, lama siklusnya,
banyaknya, baunya, keluhan waktu haid.
f. Riwayat perkawinan meliputi : usia kawin, kawin yang keberapa,
usia mulai hamil.

13
g. Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu.
1) Riwayat hamil meliputi: waktu hamil muda, hamil tua, apakah
ada abortus
2) Riwayat persalinan meliputi: Tuanya kehamilan, cara persalinan,
penolong, tempat bersalin, adakah kesulitan dalam persalinan,
anak lahir hidup / mati, berat badan & panjang anak waktu lahir.
3) Riwayat nifas meliputi : keadaan lochia, apakah ada perdarahan,
ASI cukup/tidak,kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan
kontraksi.
4) Riwayat kehamilan sekarang
a) Hamil muda: keluhan selama hamil muda
b) Hamil tua: keluhan selama hamil tua, peningkatan BB, suhu
nadi, pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi
akibat mual atau keluhan lain.
c) Riwayat ANC meliuti: dimana tempat pelayanan. berapa kali
perawatan serta pengobatannya yang di dapat.
5) Riwayat persalinan sekarang meliputi : tuanya kehamilan, cara
persalinan, penolong tempat bersalin, apakah ada penyulit dalam
persalinan (missal: retensio plasenta, perdarahan yang berlebihan
setelah persalinan, dll), anak lahir hidup/mati, berat badan dan
panjang anak waktu lahir.
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan ibu
b. Tanda – tanda vital meliputi: suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan
c. Kulit dingin, berkeringat, pucat, kering, hangat, kemerahan
d. Payudara, dilihat kondisi aerola, konsistensi dan kolostrum
e. Uterus, meliputi: fundus uteri serta konsistensinya
 Pengukuran tinggi fundus uteri dapat dilakukan dengan menggunakan
meteran atau pelvimeter. Untuk meningkatkan ketepatan pengukuran
sebaikanya dilakukan oleh orang yang sama. Dalam pengukuran tinggi uterus
ini perlu diperhatikan apakah kandung kemih dalam keadaan kosong atau
penuh dan juga bagaimana keadaan uterus apakah dalam keadaan kontraksi

14
atau rileks.2,4 Cara penempatan meteran untuk mengukur tinggi fundus uteri
(TFU) :
o Meteran dapat diletakkan di bagian tengah abdomen dan
pengukuran dilakukan dengan mengukur dari batas atas
symphisis pubis sampai bagian atas fundus. Meteran
pengukuran ini menyentuh kulit sepanjang uterus.
o Salah satu ujung meteran diletakkan di batas atas
symphisis pubis dengan satu tangan : tangan lain
diletakkan di batas atas fundus. Meteran diletakkan di
antara jari telunjuk dan jari tengah dan pengukuran
dilakukan sampai titik dimana jari mengapit meteran.2,4
f. Lochia
Meliputi: warna, banyaknya, dan baunya.
g. Perineum
Diobservasi untuk melihat apakah ada tanda infeksi dan luka jahitan.
h. Vulva
Dilihat apakah ada edema atau tidak.
i. Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun / berkurang.
3. Pemeriksaan penunjang
 USG : untuk menentukan ukuran uterus, lesi atau perdarahan
endometrium, serta sisa plasenta.
 Laboratorium ( Hb, golongan darah,eritrosit, leukosit, trombosit,
hematokrit, CT, Bleeding time )
 Pemeriksaan patologi jaringan endometrium

2.8 Penatalaksanaan
1. Pemberian antibiotik
Hampir sepertiga kasus infeksi uterus pascapartum disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis, jadi terapi azythromycin atau doxycycline
merupakan terapi empiris yang sesuai.1
2. Pemberian uterotonika1,6
a. Oksitosin

15
b. Metilergonovine 0,2 mg setiap 3 sampai 4 jam selama 24 sampai 48
jam
3. Pemberian transfusi
4. Dilakukan kuretase bila disebabkan karena tertinggalnya sisa-sisa plasenta

2.9 Komplikasi
Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga
pembuluh darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga perdarahan terjadi
terus menerus. Perdarahan postpartum (PPH) merupakan perdarahan vagina yang lebih
dari 24 jam setelah melahirkan. Penyebab utama adalah subinvolusi uterus. Yakni kondisi
dimana uterus tidak dapat berkontraksi dan kembali kebentuk awal.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sesaat setelah pengeluaran plasenta, uterus akan mulai berubah secara
fisiologis seperti keadaan semula keadaan ini disebut involusi. Fundus uteri yang
berkontraksi tersebut terletak sedikit dibawah umbilikus. Pada saat post partum,
berat uterus kira-kira menjadi 1000 gram.
Selama nifas, terjadi destruksi dan dekonstruksi uterus. Uterus yang
berinvolusi dengan baik mampu mengurangi setengah berat uterus saat hamil pada
satu minggu pertama pasca salin atau beratnya sekitar 500 g. Pada minggu kedua,
berat uterus dapat terus menurun hingga sekitar 300 g. Uterus biasanya kembali ke
ukuran semula setelah sekitar 4 minggu hingga 4 bulan. Berat uterus, otot, protein,
dan kolagen mengalami penurunan, karena hormon plasenta yang menurun dengan
cepat setelah kelahirannya. Jumlah sel otot mungkin tidak berkurang cukup besar,
tetapi ukuran masing- masing sel menurun secara bermakna dari 500- 800 μm kali
5- 10 μm saat aterm menjadi 50- 90 µm kali 2,5-5 µm postpartum.
Gagal kembalinya ukuran organ reproduksi seperti sebelum hamil disebut
subinvolusi. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti riwayat
seksio sesaria, gizi buruk, ibu yang tidak memberikan ASI pasca salin, kurangnya
mobilisasi, usia, paritas, sisa plasenta, serta infeksi dan inflamasi endometrium.
Gejala yang muncul dapat berupa fundus uteri yang masih tinggi pada palpasi,
tonus uterus yang lembek, lokia yang banyak dan tidak terjadi perubahan warna,
leukore dan lokia berbau menyengat bila telah terjadi infeksi. Penatalaksanaan yang
dapat dilakukan adalah terapi kausatif dengan pemberian tambahan uterotonika.
Target terapi yang harus dicapai adalah kembalinya kontraksi uterus sehingga
mampu berinvolusi dengan baik.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, et al.
2014. Williams Obstetrics. 24th ed. McGraw-Hill Companies
2. Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan Edisi 4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
3. Fiander A, Thilaganathan B (eds). 2016. Royal College of Obstetrician and
Gynaecologists. 2nd Ed. Cmbridge University Press. pp: 118- 128, 862- 866.
4. Prawirohardjo, S. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
5. Mansjoer,Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
6. Mazmudar. Involution. Diakses dari: www.gynaeonline.com diunduh 24 Juli 2018.

18