Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

LISTRIK MAGNET
RESISTANSI

KELOMPOK :5

ANNGOTA KELOMPOK : 1. TISA FEBRI DELVIA

2. ABDUL AZIZ

PRODI : PENDIDIKAN FISIKA A

DOSEN PEMBIMBING : HARMAN AMIR,S.Si,M.Si

ASISTEN PRAKTIKUM : 1. MUHAMMAD RAEIS

2. SYAFRI

LABORATORIUM FISIKA LANJUT


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
RESISTANSI

A. Tujuan

1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap resistansi suatu kawat.

2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap resistansi suatu kawat.

3. Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap resistansi suatu


kawat.

B. Alat dan Bahan

Virtual Nyata

Laptop Multimeter

Aplikasi Virtual Laboratorium Projectboard

Kabel penghubung

Resistor

Penggaris

Kawat

C. Dasar Teori

1. Pengaruh Hambatan Listrik Terhadap Jenis Bahan

Hambatan yang dimiliki oleh suatu bahan penghantar ternyata dapat


mempengaruhi kuat arus yang mengalir pada penghantar tersebut. Hambatan yang
besar pada suatu bahan menyebabkan bahan tersebut sukar mengalirkan arus listrik,
sedangkan bahan yang hambatannya kecil akan lebih mudah mengalirkan arus listrik.
Berdasarkan kemampuannya dalam menghantarkan arus listrik, bahan dibedakan
menjadi konduktor, isolator, semi konduktor, dan super konduktor.

1
a. Konduktor

Bahan konduktor adalah bahan yang mudah mengalirkan arus karena


elektron-elektron di setiap atomnya tidak terikat kuat oleh inti atom sehingga mudah
bergerak atau berpindah. Dengan kata lain, bahan konduktor adalah bahan yang
memiliki hambatan kecil. Bahan yang termasuk konduktor di antaranya adalah besi,
baja, dan tembaga.

b. Isolator

Bahan isolator memiliki sifat yang berlawanan dengan bahan konduktor. Bahan
yang termasuk isolator sangat sulit, bahkan tidak bisa mengalirkan arus listrik. Pada
bahan isolator, elektron-elektron di setiap atom pada bahan isolator terikat kuat oleh
inti atom sehingga sangat sukar untuk bergerak dan berpindah. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa bahan isolator memiliki hambatan yang sangat besar. Namun,
pada kondisi tertentu bahan isolator dapat berubah menjadi bahan konduktor. Kondisi
tersebut adalah ketika bahan isolator mendapat tegangan yang sangat tinggi. Tegangan
tinggi ini akan melepaskan elektron dari ikatan dengan inti atom sehingga elektron
pada bahan isolator tersebut akan menjadi mudah bergerak dan berpindah. Bahan yang
tergolong isolator adalah kayu dan plastik.

c. Semi Konduktor

Bahan semi konduktor adalah bahan-bahan yang kadang bersifat isolator dan
kadang bersifat konduktor. Yang termasuk bahan ini adalah karbon, silikon, dan
germanium.

d. Super Konduktor

2
Bahan super konduktor adalah bahan yang sangat kuat mengalirkan arus. Ilmuwan
yang pertama kali menemukan bahan ini adalah tokoh yang berasal dari Belkita yang
bernama Kamerlingh Onnes pada 1991. Bahan yang beliau temukan adalah raksa dan
timah.

(Giancoli,2001: 64-65)

2. Hukum Ohm dan Tahanan

Analisis sebuah konduktor dengan resistivitas 𝜌 , kerapatan 𝐽 disebuah titik


dimana medan listrik adalah 𝐸 diberikan persamaan 𝐸 = 𝜌 𝐽 yang dapat
diilustrasikan melalui gambar 1 berikut :

Gambar 1. Gerak arus dari VA menuju VB

Jika kawat merupakan batang homogen maka potensial 𝑉 = 𝐸 𝑙. Dengan


mensubstitusikan persamaan 𝐸 = 𝜌 Ј, maka diperoleh :

𝜌 𝑙
𝑉= 𝐼 (5.1)
𝐴

Persamaan (1) memperlihatkan bahwa bila 𝜌 konstan, arus total I itu sebanding
dengan selisih potensial V. Rasio perbandingan V terhadap I dinamakan hambatan
(resistansi).

𝑉
𝑅= (5.2)
𝐼

Maka untuk mendapatkan hubungan hambatan terhadap hambat jenis dapat dilakukan
dengan substitusi nilai V ke persamaan 2 maka diperoleh persamaan R. Hambatan R

3
kawat logam berbanding lurus dengan panjang L dan resistivitas kawat dan berbanding
terbalik dengan luas penampang lintang kawat A.

𝐿
𝑅=𝜌 (5.3)
𝐴

Resistivitas sebuah konduktor logam hampir selalu bertambah dengan suhu yang
semakin bertambah. Jika suhu bertambah, ion-ion konduktor akan bergetar dengan
amplitudo yang besar, sehingga cenderung mengakibatkan tumbukan elektron. Pada
jangkauan suhu yang kecil (sampai ±100˚C) secara aproksimasi hubungan resistivitas
dengan suhu adalah

𝜌(𝑇) = 𝜌0 [1 + 𝛼(𝑇 − 𝑇0 ] (5.4)

Karena nilai R sebanding dengan besarnya resistivitas, maka secara spesifik besarnya
R juga dipengaruhi oleh besarnya suhu. Hubungan ini memiliki analogi bentuk dengan
persamaan 4 yaitu :

𝑅(𝑇) = 𝑅0 [1 + 𝛼(𝑇 − 𝑇0 ] (5.5)

Resistansi atau hambatan dalam sebuah kawat penghantar dapat terpengaruh oleh
perubahan suhu lingkungannya. Material murni seperti bahan platina memiliki respon
resistansi yang baik terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun kendala yang
dihadapi material platina memiliki harga yang relatif mahal, sehingga membutuhkan
biaya yang besar untuk merancang pengukuran suhu rendah.

Beberapa jenis harga p dan a dapat dilihat dalam Tabel 5-1.

4
(Young and Freedman, 2001: 230)

3. HAMBATAN/RESISTANSI R dan RESISTIVITAS ρ

Ketika“mengalir” dalam suatu kawat konduktor, elektron berhadapan/mengalami


rintangan dari molekul-molekul dan ion-ion dalam konduktor tersebut sehingga
mengalami aliran arus listrik mengalami semacam hambatan. Seberapa besar
hambatan ini dinyatakan dengan resistansi (hambatan) yang disimbolkan dengan R.
Satuan dari hambatan dalam SI adalah ohm. Besarnya resistansi suatu bahan atau
konduktor dengan luas penampang A dan panjang l serta hambat-jenism (resistivitas)
ρ adalah :

5
𝑙
𝑅 = 𝜌𝐴 (8)

dengan
R : Hambatan/resistansi (ohm)
ρ : Hambatan jenis/Resistivitas (ohm. Meter)
l : panjang kawat (m)
A : luas penampang kawat (m2)

Resistivitas merupakan sifat dari medium. Zat dengan sifat konduktivitas yang
baik memiliki resistivitas yang sangat kecil, sedangkan zat yang bersifat isolator
sebalikya.

Tabel 4.1 Data beberapa sifat konduktivitas dan resistivitas bahan


Sifat konduktivitas Konduktivitas 𝜎 Resistivitas 𝜌 R
Konduktor Baik
Cu, Ag, Au 108 10−8 10−2

Isolator Baik
Kaca, Plastik 10−12 − 10−16 1012 − 1016 1020

Resistansi juga merupakan fungsi dari temperatur (dipengaruhi temperatur) dengan


rumusan sebagai berikut :
𝑅 = 𝑅0 + 𝛼𝑅0 (𝑇 − 𝑇0 ) (9)
dengan :

6
R = resistansi pada temperatur T
Ro= resistiansi pada temperatur To (temperatur kamar)
α =koefisien temperatur resistansi

Bagaimana perubahan resistansi terhadap temperatur dapat dilihat pada kurva berikut
:

kurva di atas merupakan kurva perubahan resistansi terhadap temperatur untuk bahan
tembaga dengan resistansi pada temperatur kamar 1,7𝑥 10−8 Ω dan koefisien
temperatur pada temperatur kamar 3,9 𝑥 10−3 𝐶 −1 .
Resistansi (juga resistivitas) suatu bahan akan meningkat dengan naiknya
temperatur, dalam hal ini yang terjadi adalah kenaikan temperatur membuat elektron
bergerak lebih aktif dan lebih banyak tumbukan yang terjadi sehingga arus listrik
menjadi terhambat.

7
Berikut ini data resistivitas untuk beberapa bahan pada temperatur kamar (berkisar
20˚C) :

(William,Jack,dan Steven.1999: Hal 92-95)

8
D. Prosedur Kerja

1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap resistansi suatu


kawat.

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

b. Menetapkan nilai panjang kawat danluas penampang

c. Dengan memvariasikan hambat jenis kawat, mengukur besar resistansi


dari kawat sebanyak 10 data

d. Memasukkan hasil pengukuran pada tabel 1.

Gambar 1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap


resistansi suatu kawat

2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap resistansi suatu


kawat.

a. Menetapkan nilai hambat jenis kawat dan luas penampang

b. Dengan memvariasikan panjang kawat, mengukur besar resistansi dari


kawat sebanyak 10 data

c. Memasukkan hasil pengukuran pada tabel 2

9
Gambar 2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap
resistansi suatu kawat

3. Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap resistansi suatu


kawat.

a. Menetapkan nilai hambat jenis kawat dan panjang kawat

b. Dengan memvariasikan luas penampang, mengukur besar resistansi dari


kawat sebanyak 10 data

c. Memasukkan data hasil pengukuran pada tabel 3

Gambar 3. Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap


resistansi suatu kawat

10
E. Tabel Data

Tabel 1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap resistansi suatu


kawat.

L = 10 cm

A = 4,17 cm2

NO ρ (Ω cm) R (Ω)

1 0,5 Ω cm 1,25 Ω

2 0,55 Ω cm 1,32 Ω

3 0,6 Ω cm 1,44 Ω

4 0,64 Ω cm 1,53 Ω

5 0,69 Ω cm 1,65 Ω

6 0,72 Ω cm 1,73 Ω

7 0,76 Ω cm 1,82 Ω

8 0,8 Ω cm 1,92 Ω

9 0,83 Ω cm 1,99 Ω

10 0,92 Ω cm 2,21 Ω

Tabel 2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap resistansi


suatu kawat.

ρ = 0,5 Ω cm

A =5,03 cm2

11
NO L (cm) R (Ω)

1 10 cm 0,97 Ω

2 9,6 cm 0,94 Ω

3 9,2 cm 0,9 Ω

4 8,4 cm 0,82 Ω

5 7,8 cm 0,76 Ω

6 6,4 cm 0,62 Ω

7 5,8 cm 0,57 Ω

8 4,4 cm 0,43 Ω

9 4 cm 0,39 Ω

10 2,8 cm 0,27 Ω

Tabel 3.Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap resistansi suatu


kawat.

ρ = 0,6 Ω cm

L =10 cm

NO A (cm2) R (Ω)

1 11,57 cm2 0,53 Ω

2 10,51 cm2 0,58 Ω

3 9,74 cm2 0,63 Ω

4 9,25 cm2 0,66 Ω

5 8,77 cm2 0,7 Ω

12
6 7,85 cm2 0,78 Ω

7 6,36 cm2 0,96 Ω

8 5,21 cm2 1,17 Ω

9 3,4 cm2 1,8 Ω

10 1,97 cm2 3,1 Ω

13
F. Pengolahan Data
1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap resistansi suatu
kawat.

L = 10 cm

A = 4,17 cm2

0,5cm  10cm
%kesalahan 
1,20  1,25 100%  4%
1. R   1,20
4,17cm 2 1,20
0,55cm  10cm
%kesalahan 
1,32  1,32 100%  0%
2.R   1,32
4,17cm 2 1,32
0,6cm 10cm
%kesalahan 
1,44  1,44 100%  0%
3.R   1,44
4,17cm 2 1,44

0,64cm 10cm
%kesalahan 
1,53  1,53 100%  0%
4.R   1,53
4,17cm 2 1,53
0,69cm  10cm
%kesalahan 
1,65  1,65 100%  0%
5.R   1,65
4,17cm 2 1,65
0,72cm 10cm
%kesalahan 
1,73  1,73 100%  0%
6. R   1,73
4,17cm 2 1,73
0,76cm 10cm
%kesalahan 
1,82  1,82 100%  0%
7. R   1,82
4,17cm 2 1,82
0,8cm  10cm
%kesalahan 
1,92  1,92 100%  0%
8. R   1,92
4,17cm 2 1,92
0,83cm  10cm
%kesalahan 
1,99  1,99 100%  0%
9.R   1,99
4,17cm 2 1,99
0,92cm 10cm
10.R   2,21
4,17cm 2

%kesalahan 
2,21  2,21 100%  0%
2,21

14
Tabel 4. tabel hasil perhitungan 1

NO ρ (Ω cm) Ru (Ω) Rh (Ω) %kesalahan

1 0,5 Ω cm 1,25 Ω 1,20 Ω 4%

2 0,55 Ω cm 1,32 Ω 1,32 Ω 0%

3 0,6 Ω cm 1,44 Ω 1,44 Ω 0%

4 0,64 Ω cm 1,53 Ω 1,53 Ω 0%

5 0,69 Ω cm 1,65 Ω 1,65 Ω 0%

6 0,72 Ω cm 1,73 Ω 1,73 Ω 0%

7 0,76 Ω cm 1,82 Ω 1,82 Ω 0%

8 0,8 Ω cm 1,92 Ω 1,92 Ω 0%

9 0,83 Ω cm 1,99 Ω 1,99 Ω 0%

10 0,92 Ω cm 2,21 Ω 2,21 Ω 0%

2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap resistansi


suatu kawat.

ρ = 0,5 Ω cm

A =5,03 cm2

0,5cm 10cm
%kesalahan 
0,99  0,97 100%  2%
1.R   0,99
5,03cm 2 0,99

0,5cm  9,6cm
%kesalahan 
0,95  0,94 100%  1%
2. R   0,95
5,03cm 2 0,95

15
0,5cm  9,2cm
%kesalahan 
0,9  0,9 100%  0%
3. R   0,9
5,03cm 2 0,9

0,5cm  8,4cm
%kesalahan 
0,83  0,82 100%  1%
4. R   0,83
5,03cm 2 0,83

0,5cm  7,8cm
%kesalahan 
0,77  0,76 100%  1%
5.R   0,77
5,03cm 2 0,77

0,5cm  6,4cm
%kesalahan 
0,63  0,62 100%  1%
6. R   0,63
5,03cm 2 0,63

0,5cm  5,8cm
%kesalahan 
0,57  0,57 100%  0%
7.R   0,57
5,03cm 2 0,57

0,5cm  4,4cm
%kesalahan 
0,43  0,43 100%  0%
8.R   0,43
5,03cm 2 0,43

0,5cm  4cm
%kesalahan 
0,39  0,39 100%  0%
9.R   0,39
5,03cm 2 0,39

0,5cm  2,8cm
%kesalahan 
0,27  0,27 100%  0%
10.R   0,27
5,03cm 2 0,27

Tabel 5. tabel hasil perhitungan 2

NO L (cm) Ru (Ω) Rh (Ω) %kesalahan

1 10 cm 0,97 Ω 0,99 Ω 2 %

2 9,6 cm 0,94 Ω 0,95 Ω 1 %

3 9,2 cm 0,9 Ω 0,9 Ω 0 %

4 8,4 cm 0,82 Ω 0,83 Ω 1 %

16
5 7,8 cm 0,76 Ω 0,77 Ω 1 %

6 6,4 cm 0,62 Ω 0,63 Ω 1 %

7 5,8 cm 0,57 Ω 0,57 Ω 0 %

8 4,4 cm 0,43 Ω 0,43 Ω 0 %

9 4 cm 0,39 Ω 0,39 Ω 0 %

10 2,8 cm 0,27 Ω 0,27 Ω 0 %

3. Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap resistansi suatu


kawat.

ρ = 0,6 Ω cm

L =10 cm

0,6cm 10cm
%kesalahan 
0,52  0,53 100%  1%
1.R   0,52
11,57cm 2 0,52

0,6cm  10cm
%kesalahan 
0,57  0,58 100%  1%
2. R   0,57
10,51cm 2 0,57

0,6cm 10cm
%kesalahan 
0,61  0,63 100%  3%
3.R   0,61
9,74cm 2 0,61

0,6cm  10cm
%kesalahan 
0,65  0,66 100%  1%
4. R   0,65
9,25cm 2 0,65

0,6cm  10cm
%kesalahan 
0,7  0,7 100%  0%
5. R   0,7
8,77cm 2 0,7

0,6cm  10cm
%kesalahan 
0,76  0,78 100%  2%
6.R   0,76
7,85cm 2 0,76

0,6cm  10cm
%kesalahan 
0,94  0,96 100%  2%
7.R   0,94
6,36cm 2 0,94

17
0,6cm  10cm
%kesalahan 
1,15  1,17 100%  2%
8.R   1,15
5,21cm 2 1,15

0,6cm  10cm
%kesalahan 
1,8  1,8 100%  0%
9. R   1,8
3,4cm 2 1,8

0,6cm  10cm
%kesalahan 
3,01  3,1 100%  2%
10.R   3,01
1,97cm 2 3,01

Tabel 6. tabel hasil perhitungan 3

NO A (cm2) Ru (Ω) Rh (Ω) %kesalahan

1 11,57 cm2 0,53 Ω 0,52 Ω 1%

2 10,51 cm2 0,58 Ω 0,57 Ω 1%

3 9,74 cm2 0,63 Ω 0,61 Ω 3%

4 9,25 cm2 0,66 Ω 0,65 Ω 1%

5 8,77 cm2 0,7 Ω 0,7 Ω 0%

6 7,85 cm2 0,78 Ω 0,76 Ω 2%

7 6,36 cm2 0,96 Ω 0,94 Ω 2%

8 5,21 cm2 1,17 Ω 1,15 Ω 2%

9 3,4 cm2 1,8 Ω 1,8 Ω 0%

10 1,97 cm2 3,1 Ω 3,01 Ω 2%

18
G.Pembahasan
Praktikum kali ini dilakukan untuk menyelidiki pengaruh nilai hambat
jenis,panjang kawat dan luas penampang terhadap nilai resistansi suatu kawat
penghantar. Pertama Praktikum dilakukan untuk menyelidiki pengaruh nilai hambat
jenis kawat terhadap nilai resistansi. Praktikum dilakukan dengan memvariasikan
nilai hambat jenis kawat pada aplikasi. Kemudian mengukur nilai resistansi untuk
setiap variasi hambat jenis. Dari data hasil pada tabel 4 didapatkan bahwa nilai
resistansi kawat semakin besar saat nilai hambat jenis semakin besar sebaliknya nilai
resistansi akan kecil saat nilai hambat jenis juga kecil. Artinya, nilai hambat jenis (ρ)
sebanding dengan nilai resistansi kawat (R).

Selanjutnya praktikum dilakukan dengan memvariasikan panjang kawat.


Kemudian mengukur nilai resistansi untuk setiap variasi panjang kawat. Dari data
hasil pada tabel 5 pengukuran didapatkan nilai resistansi kawat semakin besar saat
kawat penghantar bertambah panjang dan nilai resistansi semakin kecil saat nilai
panjang kawat juga kecil. Artinya, nilai resistansi (R) sebanding dengan panjang
kawat (L).

Selanjutnya dilakukan pengukuran resistansi kawat dengan memvariasikan nilai


luas penampang. Dari data hasil pada tabel 6 praktikum didapatkan bahwa nilai
resistansi semakin kecil saat nilai luas penampang semakin besar dan nilai resistansi
semakin besar saat nilai luas penampangnya kecil. Artinya, nilai resistansi (R)
berbanding terbalik dengan nilai luas penampang (A).

Data yang didapatkan saat praktikum terdapat beberapa data yang berbeda hasil
pengukuran dengan hasil perhitungan. Hal ini disebabkan karena kesalahan pada saat
pengukuran dan kekurang telitian saat membaca hasil pengukuran serta kesalahan
saat mengolah data.

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa nilai resistansi suatu
kawat bergantung pada nilai hambat jenis kawat, panjang kawat penghantar, dan luas
penampang kawat tersebut.

19
H. Lampiran

Gambar 1. Menyelidiki pengaruh perubahan hambat jenis terhadap


resistansi suatu kawat

Gambar 2. Menyelidiki pengaruh perubahan panjang kawat terhadap


resistansi suatu kawat

Gambar 3. Menyelidiki pengaruh perubahan luas penampang terhadap


resistansi suatu kawat

20
Grafik

Grafik 1.Grafik pengaruh perubahan hambat jenis terhadap resistansi suatu


kawat

Perubahan R Terhadap Hambat Jenis


2.5
2
1.5
R (Ω)

1
Perubahan R
0.5
0
0.5 0.55 0.6 0.64 0.69 0.72 0.76 0.8 0.83 0.92
ρ (Ωcm)

Dari grafik 1, jika semakin besar nilai massa jenisya maka nilai resistansinya
juga semakin besar dan jika semakin kecil nilai massa jenisnya maka nilai
resistansinya juga semakin kecil.

Grafik 2. Grafik pengaruh perubahan panjang kawat terhadap resistansi suatu


kawat

Perubahan R terhadap Panjang Kawat


1.2
1
0.8
R(Ω)

0.6
0.4 Perubahan R
0.2
0
2.8 4 4.4 5.8 6.4 7.8 8.4 9.2 9.6 10
L ( cm )

Dari grafik 2, jika semakin besar nilai panjang kawatnya maka nilai
resistansinya juga semakin besar dan jika semakin kecil nilai panjang kawatnya
maka nilai resistansinya juga semakin kecil.

21
Grafik 3.Grafik pengaruh perubahan Luas Penampang terhadap resistansi suatu
kawat

Perubahan R terhadap Luas Penampang


3.5
3
2.5
2
R(Ω)

1.5
Perubahan R
1
0.5
0
1.97 3.4 5.21 6.36 7.85 8.77 9.25 9.74 10.5111.57
A ( cm²)

Dari grafik 3, jika semakin besar nilai luas penampangnya maka nilai
resistansinya semakin kecil dan jika semakin kecil nilai luas penampangnya
maka nilai resistansinya semakin kecil.

22
I. Kesimpulan
Dari pratikum yang telah dilakukan mengenai resistansi suatu kawat dapat
disimpulkan :

1. Nilai hambat jenis berbanding lurus dengan nilai resistansi suatu kawat,
sehingga semakin besar nilai hambat jenis suatu kawat maka nilai
resistansinya semakin besar pula sebaliknya jika semakin kecil nilai hambat
jenis suatu kawat maka nilai resistansinya juga semakin kecil.
2. Nilai panjang kawat berbanding lurus dengan nilai resistansi suatu kawat,
sehingga semakin panjang suatu kawat maka semakin besar nilai
resistansinya dan jika semakin pendek suatu kawat maka nilai resistansinya
juga semakin kecil.

3. Nilai luas penampang berbanding terbalik dengan nilai resistansi, sehingga


semakin besar nilai luas penampang kawat maka semakin kecil nilai
resistansinya dan jika semakin kecil nilai luas penampang kawat maka
semakin besar nilai resistansi kawat.

23
DAFTAR PUSTAKA
Giancolli, 2001. Physics Fifth Edition. Alih bahasa Hanum, Yuhilza. 1998. Fisika
Edisi Ke Lima Jilid 2. Jakarta: Erlangga

William H. Hayt, Jack E. Kemerly, danSteven M. Durbin. Rangkaian Listrik Edisi


Keenam Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Young, H.D. dan Freedman, R.A. 2001. University Physics Tent Edition. Alih bahasa
Siahaan, Pantur. 1996. Fisika Universitas edisi sepuluh jilid 2. Jakarta:
Erlangga.

24
Pertanyaan

1. Yunita Ela Saputri


Pada grafik jelaskan mengapa pada kesimpulan penyaji mengatakan pengaruh
perubahan panjang kawat terhadap R suatu kawat berbanding lurus sementara
pada grafik berbanding terbalik. Padahal pada tabel terlihat berbanding terbalik
( begitu juga pada grafik 3 ) !

2. Winni Suhadi
Pada tabel 1 sampai 6 jelaskan hubungan grafik dari yang didapatkan dan apa
yang menyebabkan persentase kesalahannya bisa dikatakan bagus (tidak besar)
?

3. Putri Lenggogeni

Bagaimana pengaruh massa jenis dan luas penampang suatu kawat itu
sama-sama bernilai besar/tinggi terhadap resistansi !

4. Yenni Nofita Sari

Kenapa pada tabel 1 data pertama persentase kesalahan sampai 4% sedangkan


selanjutnya 0%. Apa penyebabnya/faktornya hal tersebut terjadi ?

5. Putri Aulia

Bagaimana pengaruhnya jika massa jenis dari suatu bahan itu berbeda-beda,
jadi bagaimana pengaruhnya jika massa jenis terlalu besar ?

6. Rika Septian Amelia

Apakah jenis bahan yang termasuk ke dalam super konduktor yang kita bisa
temukan di labor saat praktikum ? (kecuali raksa dan timah)

7. Doni Zulfadli

Tolong jelaskan mengenai titik-titik pada kawat dalam percobaan virtual lab,
lalu bagaimana pengaruhnya terhadap besar resistansi ?

25
Jawaban

1. Yunita Ela Saputri

Pada grafik 2 hubungan R dengan L adalah berbanding lurus dilihat lagi nilai L pada
grafik semakin ke kanan kami buat semakin kecil dan yang semakin ke kiri semakin
besar. Begitu juga pada grafik 3 hubungan R dengan A adalah berbanding terbalik
dilihat lagi pada grafik nilai A semakin kekanan semakin kecil dan yang semakin ke
kiri semakin besar. jadi ini mungkin karna kekeliruan membaca grafik..

2. Winni Suhadi

Pada tabel 1 hubungan antara nilai massa jenis dengan resistansi adalah berbanding
lurus begitu juga pada tabel 4 karena pada tabel 4 masih menyelidiki hubungan antara
nilai massa jenis dengan resistansi.

Pada tabel 2 hubungan antara nilai panjang kawat dengan resistansi adalah
berbanding lurus begitu juga pada tabel 5 karena pada tabel 5 masih menyelidiki
hubungan antara nilai panjang kawat dengan resistansi.

Pada tabel 3 hubungan antara nilai luas penampang dengan resistansi adalah
berbanding terbalik begitu juga pada tabel 6 karena pada tabel 6 masih menyelidiki
hubungan antara nilai luas penampang dengan resitansi.

Yang menyebabkan persentase kesalahan bernilai bagus adalah karena nilai pada
pengukuran yang didapat sesuai dengan nilai yang di dapat dengan perhitungan.
Artinya pengukuran yang kami lakukan akurat karna kecil perbedaan antara
perhitungan dan hasil pengukuran.

3. Putri Lenggogeni

Jika nilai massa jenisnya besar maka nilai resistansinya juga besar dan jika nilai luas
penampangnya besar maka nilai resistansinya akan kecil.

4. Yenni Nofita Sari

Penyebab dari data pertama kesalahannya sampai 4% adalah pada saat kami
praktikum nilai dari massa jenis berubah dari apa yang sebelumnya kami lihat dan
yang sudah kami catat di tabel data. Karena nilai massa jenis yang berubah dari yang
sebelum dan yang sesudah inilah yang menyebabkan persen kesalahannya menjadi
4%, maka dari itu untuk praktikum yang selanjutnya setelah kami menetapkan nilai

26
massa jenisnya kami biarkan sesaat agar tidak berubah dan inilah yang
menyebabkanpersen kesalahan untuk uang selanjutnya bernilai 0%. Jadi, hal tersebut
terjadi karna kecerobohan nilai rho yang tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan
mungkin tangan yang tidak sengaja tertekan.

5. Putri Aulia

Jika massa jenis terlalu besar tentu ini akan menyebabkan nilai resistansinya semakin
besar. Karena hubungan dari massa jenis dengan resistansi adalah berbanding lurus.

6. Rika Septian Amelia

Contoh bahan superkonduktor lain selain raksa dan timah adalah Niobium Nitrida,
Niobium Germanium, Lanthanum Barium Tembaga Oksida, karbon, dan Thalium
Barium Kalsium Tembaga Oksida.

7. Doni Zulfadli

Titik-titik pada kawat melambangkan itu adalah kawatnya dan pengaruhnya terhadap
resistansi adalah semakin banyak titiknya maka semakin besar resistansinya dan jika
semakin sedikit titiknya maka semakin kecil nilai resistansinya karena banyaknya
titik dipengaruhi perubahan panjang kawatnya karena titik-titik itu adalah kawatnya.

27

Anda mungkin juga menyukai