Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tingginya angka kelahiran di Indonesia masih menjadi masalah utama dalam


kependudukan. Sejak 2004, program keluarga berencana (KB) dinilai berjalan lamban,
hingga angka kelahiran mencapai 4,5 juta per tahun dan pada tahun 2010 berdasarkan
sensus penduduk mencapai 237,6 juta jiwa. Ledakan penduduk disadari akan
berpengaruh pada ketersediaan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Untuk
menghindari dampak tersebut, pemerintah berusaha keras menekan angka kelahiran
hingga di bawah 237,6 juta jiwa per tahun (BKKBN, 2011). Salah satu program untuk
menekan angka pertumbuhan penduduk yakni melalui program KB. Program KB
memiliki peranan dalam menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan
kehamilan, penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran
utama adalah pasangan usia subur (PUS). Program pemerintah dalam upaya
mengendalikan jumlah kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan
sejahtera yaitu melalui konsep pengaturan jarak kelahiran dengan program KB.

Program ini diharapkan bisa mengubah minat mayoritas pengguna alat


kontrasepsi jangka pendek menjadi kontrasepsi jangka panjang, dimana dinilai lebih
praktis karena bisa bertahan dalam hitungan tahun. Tingkat pencapaian pelayanan
keluarga berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan
melalui kelompok sasaran program yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi
yang digunakan akseptor. Sesuai dengan tuntutan perkembangan program, maka
program KB telah berkembang menjadi gerakan keluarga berencana nasional yang
mencakup gerakan masyarakat. Gerakan keluarga berencana nasional disiapkan untuk
membangun keluarga sejahtera dalam rangka membangun sumber daya manusia yang
optimal, dengan ciri semakin meningkatnya peran serta masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan KB (suedirman, 2011).

1
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui sejarah IUD
2. Untuk mengetahui apa pengertian dari IUD
3. Untuk mengetahui pemasangan IUD
4. Untuk mengetahui IUD tembaga
5. Untuk mengetahui syarat untuk dilakukan pemasangan IUD
6. Untuk mengetahui sasaran IUD
7. Untuk mengetahui cara kerja IUD tembaga
8. Untuk mengetahui waktu pemasangan IUD
9. Untuk mengetahui faktor-faktor pemilihan IUD
10.Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian penggunaan IUD
11.Untuk mengetahui kontraindikasi pemakaian IUD
12.Untuk mengetahui komplikasi yang dapat terjadi

1.2.2 Tujuan khusus


Tujuan khusus pembuatan makalah ini dalam menyelesaikan tugas keperawatan
maternitas yang diberikan kepada kelompok 11 oleh Ibu Siti kholifa, supaya kami lebih
mengenal dan memahami tentang Alat kontrasepsi dalam rahim yaitu copper IUD
tembaga, terutama pada keperawatan maternitas.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pemakai IUD di Indonesia mencapai 22.6 % dari semua pemakai metode


kontrasepsi. Wilayah kerja Puskesmas Wonomulyo merupakan salah satu wilayah
dengan persentase peserta IUD yang tinggi dan merupakan wilayah tertinggi kedua
dalam pemakaian kontrasepsi IUD di kabupaten Polman. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui faktor berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi IUD pada wanita peserta
KB di wilayah kerja Puskesmas Wonomulyo. Jenis penelitian adalah penelitian
observasional dengan pendekatan cross sectional study.

Populasi adalah seluruh peserta KB aktif yang ada di lokasi penelitian yang
tercatat sampai September 2013. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 283 responden
adalah peserta KB aktif yang terpilih baik yang menggunakan IUD yaitu 71 orang (total
sampling) maupun non IUD yang diambil secara proportional stratified random
sampling. Hasil penelitian dengan uji chi square menunjukkan ada hubungan umur
dengan pemilihan kontrasepsi IUD, ada hubungan tingkat pengetahuan dengan
pemilihan kontrasepsi dan efek samping dengan pemilihan kontrasepsi IUD sedangkan
jumlah anak tidak berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi IUD. Penelitian ini
menyarankan kepada petugas kesehatan dan petugas lapangan KB untuk memiliki
kompetensi/kemampuan yang terampil sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam
memberikan pelayanan dan penyuluhan (suedirman, 2011).

3
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Sejarah

IUD mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang sebelum generasi III
dengan keamanan, efektivitas dan penyulit yang tidak terlalu besar. Sejarah abad
masalalu, walaupun tidak tertata dengan baik, menunjukkan bahwa kafilah dangan
“bangsa arab” memperaktekkan penggunaan AKDR pada unta-unta mereka. Jika
melakukan perjalanan jauh dalam kegiatan perdagangannya, mereka memasukkan batu
ke dalam rahim unta.
Periode abad berikutnya mencatat keberhasilan Richard Richter pada tahun 1909
di Jerman mengujicobakan penggunaan AKDR pada manusia. AKDR yang digunakan
merupakan cincin catgut ulat sutera yang mempunyai kawat nikel dan tembaga yang
menjulur keluar melalui serviks. Pada tahun 1920-an Grafenberg mengganti cincin
catgut dengan cincin berlapis emas atau perak. Tidak lama berselang pada 1934 ota di
Jepang menambahkan struktur pendukung cincin AKDR yang berlapiskan emas atau
perak untuk mengurangi angka eksplusi. Selama berlangsung perang dunia kedua,
filosofi politik Jepang dan Nazi mengeliminasi penggunaan AKDR. Baru pada tahun
1959 Oppenheimer menggerakkan kembali penggunaan dengan berbagi macam brntuk
pengembangan IUD (Candrawati, 2011).
Perkembangan seterusnya pada tahun 1960 melahirkan AKDR berbentuk “Loop”
hasil karya Jack Lippes. Kemudian berturut-turut tahun 1968 – 1969, Zipper
menambahkan Cu (tembaga) dan Doye dan Clewe (Amerika) menggunakan progestin
sebagai bahan anti fertilitas. Penelitian untuk mendapatkan jenis AKDR yang
palingefektif, dan aman dipakai masih terus berlangsung hingga sekarang

3.2 Landasan hukum

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014

Pasal 22

(1) Pilihan Metode kontrasepsi yang dilakukan oleh pasangan suami istri harus
mempertimbangkan usia, peritas, jumlah anak, kondisi kesehatan dan norma agama

4
(2) Pilihan metode kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengikuti metode
kontrasepsi rasional sesuai dengan fase yang dihadapi pasangan suami istri
meliputi :
a. Menunda kehamilan pada pasangan muda atau ibu yang belum berusia 20 tahun
b. Menjarangkan kehamilan pada pasangan suami istri yang berusia antara 20 – 35
rahun
c. Tidak menginginkan kehamilan pada pasangan suami istri yang berusia lebih
dari 35 tahun.

Pasal 23

(1)Metode kontrasepsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 dapat berupa :


a. Metode kontrasepsi jangka pendek
b. Metode kontrasepsi jagka panjang
(2) Metode kontrasepsi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi suntik, pil, dan kondom
(3) Pemberian pelayanan metode kontrasepsi jangka pendek berupa pil dan kondom
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan difasilitas pelayanan kesehatan
atau fasilitas lain
(4) Metode kontrasepsi jangka panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), alat kontrasepsi bawah kulit atau
implan, metode operasi pria (MOP), dan metode operasi wanita (MOW) harus
dilaksankan sesuai standart difasilitas layanan kesehatan.
(5) Pemberian pelayanan metode kontrasepsi jangka pendek berupa suntik
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan metode kontrasepsi jangka panjang
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten
(6) Dalam hal pasangan suami istri memilih metode kontrasepsi jangka pendek
berupa pil sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemberian pelayanan untuk
pertama kalinya harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.

5
3.3 Pengertian IUD
Copper-T adalah alat kontrasepsi (IUD) bahwa beberapa wanita menggunakan
untuk kontrol kelahiran biasa, tetapi Anda juga dapat memilih dokter atau dokter
terlatih lainnya masukkan hingga lima hari setelah berhubungan seks untuk mencegah
kehamilan. Sebagai kontrasepsi darurat, Copper-T IUD jauh lebih efektif daripada
kedua jenis pil kontrasepsi darurat (atau "pagi setelah pil") karena mengurangi risiko
Anda untuk hamil lebih dari 99%. Keuntungan lain dengan Copper-T IUD adalah
bahwa Anda dapat menyimpannya di tempat untuk mencegah kehamilan sampai
sepuluh tahun. IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian
vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini
mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang
baru IUD inimelepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama
minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam
mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi.
Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan
amenorhea. (Archive, 2016).

3.4 Tujuan
Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga
dengan cara mengatur kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan
sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

6
3.5 Jenis-Jenis Coppert T
Copper IUD
CuT -200 : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, mengandung 200 mm2 Cu (luas
permukaan Cu-nya)
Tatum T : Daya kerja : tiga tahun
Cara insersi : withdrawal
CuT-200B : Seperti CuT-200, tetapi ujung bagian bawah batang IUD berbe bola.
CuT-200Ag : uSeperti CuT-200, tetapi mengandung inti Ag di dalam tembaganya.
CuT-220C : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 220 mm2 Cu di dalam tujuhselubung,
2 pada lengan dan 5 pada batang vertikalnya
Daya kerja : tiga tahun
Cara insersi : withdrawal
Cut-380A : Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314 mm2 kawat Cu pada
batangvertikal,selubung Cu seluas masing-masing 33 mm2 pada
masing-masing lengan horizontal.
Daya kerja : 8 tahun (FDA : 10 tahun)
Cara insersi : Withdrawal (tehnik no-touch).
CuT-380 Ag : Seperti CuT-380A. Hanya dengan tambahan inti AG di dalam kawat
Cu-nya.
Daya kerja : 5 tahun
CuT-380S : CuT-380 SlimlineSelubang Cu diletakan pada ujung-ujung
lenganHorizontalnya dan beberapa di dalam plastiknya.
Daya kerja : 2,5 tahun
Nova-T : Panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200 mm2 luas permukaan Cu dengan
inti Ag di dalam kawat Cu-nya
Novagared Daya kerja : 5 tahun
Cara insersi : Withdrawal
ML Cu-250 :220 mm2 luas permukaan kawat Cu
Benang ekor 2 lebar, berwarna hitam atau tidak berwarna
Daya kerja : 3 tahun
Cara insersi : withdrawal

7
Ada tiga bentuk ML Cu-250 :
-Standard : panjang 35 mm, lebar 18 mm
-Short : panjang 24 mm, lebar 18 mm
-Mini : panjang 24 mm, lebar 13 mm
ML Cu-375 : 375 mm2 luas permukaan kawat Cu
Benang ekor 2 lebar, berwarna hita atautidak berwarna
Daya kerja : 5 tahun
Cara insersi : withdrawal
-Standard : panjang 35 mm, lebar 18 mm
-Short : panjang 29 mm, lebar 18 mm
-SL : panjang 24 mm, lebar 18 mm
Cu-7 : Panjang 36 mm, lebar 26 mm, mengandung 200 mm2 luas
permukaan Cu, mempunyai tabung inserter dia meter paling kecil
dibandingkan tabung-inserter diameter paling kecil dibandingkan
tabung-inserter IUD lain-lainnya sehingga dapat dianjurkan
nulligravid.
Daya kerja : 3 tahun
Cara insersi : withdrawal, . (dapat pula push-out)
MPL-Cu 240 : Ag240 mm2 luas permukaan Cu, dengan inti Ag di dalam kawatCu-
nya.
Daya kerja : 3-5 tahun
Cara insersi : withdrawal
Ada 3 bentuk MPL-Cu 240 Ag :

- Ukuran 0 : Panjang 26 mm, lebar 18 mm, untuk ukuran rahim, 7


cm atau nuligravid.
- Ukuran 1 : Panjang 31 mm, lebar 23 mm, untuk ukuran rahim 7-8
cm
- Ukuran 2 : Panjang 25 mm, lebar 30 mm, untuk ukuran 8 cm atau
para 4 lebih

Utering 330 Cu : terbuat dari plastik polyethylene, dengan leher tepi diagonal 15 mm,
kawat Cu diameter 0,4 mm, melingkari sekitar batangnya dan tanpa
benang ekor tabung inserter berdiametr 4 mm. Daya kerja : 3 tahun

8
3.6 Syarat pemakaian IUD
Yang dapat menggunakan: Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang
akan memilih AKDR (IUD) adalah :
1. Usia reproduktif
2. Keadaan nulipara
3. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
4. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
6. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi Resiko rendah dari
IMS
7. Tidak menghendaki metode hormonal
8. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
9. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama.
10. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi
11. Sedang memakai antibiotika atau antikejang
12. Gemuk ataupun kurus
(Archive, 2016).
3.7 Sasaran
Adapun sasaran program wanita yang telah menikah dan keluarga berencana
adalah Pasangan Usia Subur <20 tahun dengan tujuan menunda kehamilan. Pasangan
Usia Subur 20-35 tahun dengan tujuan mengatur kesuburan dan menjarangkan
kehamilan, Pasangan Usia Subur dengan usia >35 tahun tujuannya untuk mengakhiri
kehamilan. (Archive, 2016).
3.8 Cara Kerja IUD
Mekanisme kerja IUD yaitu :
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba pallopi.
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
3. IUD mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD membuat sperma
sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk pembuahan.
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
Pemasangan IUD sebaiknya dilakukan pada saat menstruasi. Pemilihan IUD yang
akan digunakan tergantung :

9
1. IUD yang dipasang harus mempunyai efektivitas kontraseptif yang tinggi dan
angka kegagalan serta efek samping yang rendah
2. Prinsip yang penting adalah IUD harus mudah dipasang , tetapi tidak bisa lepas
sendiri (ekspulsi)
3. Ukuran IUD harus sesuai dengan besar rahim
4. Riwayat pemakaian IUD jenis tertentu sebelumnya
(suedirman, 2011).
3.9 Waktu pemberian
1. Kapan saja dalam siklus haid selama yakin tidak hamil
2. pemasangan setelah persalinan : boleh dipasang dalam waktu 48 jam setelah
eprsalinan, dan dapat pula dipasang setelah 4 minggu pasca persalinan, dengan
dipastikan tidak hamil antara 48 jam sampai 4 minggu pasca persalinan, tunda
pemasangan, gunakan metode kontrasepsi yang lain.
3. Setelah keguguran atau aborsi : jika mengalami keguguran dalam 7 hari terakhir,
boleh dipasang jika tidak ada infeksi. Jika keguguran lebih dari 7 hari terakhir, boleh
dipasang jika dipastikan tidak hamil jika terjadi infeksi, boleh dipasang 3 bulan
setelah sembuh. Pakai metode kontrasepsi yang lain.
4. Jika ganti dari metode yang lain : jika telah memakai metode lain dengan benar atau
tidak bersenggama sejak haid terakhir, AKDR boleh dipasang. (Tidak hanya selama
haid, termasuk melakukan MAL dengan benar)
(sulistyowati, 2012)

3.10 Faktor-faktor pemilihan

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Seseorang dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi


IUD Faktor keputusan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD tidak
terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun faktor-
faktor yang merupakan penyebab perilaku memilih alat kontrasepsi IUD dapat
dijelaskan dengan Menurut (Candrawati, 2011) yang dibedakan dalam tiga jenisyaitu:

1. Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat yang mempermudah individu untuk berperilaku.

2. Faktor Pendukung (Enabling Factors)

10
Merupakan faktor yang memungkinkan individu untuk berperilaku memilih
AKDR. Karena tersedianya sumber daya, keterjangkauan, rujukan dan ketrampilan.
Adanya fasilitas kesehatan yang mendukung Program KB akan mempengaruhi perilaku
ibu dalam memilih metode kontrasepsi.

3. Faktor Pendorong (Reinforcing Factor)

Merupakan faktor yang menguatkan perilaku, seperti sikap dan ketrampilan


petugas kesehatan atau petugas yang lain yang merupakan kelompok referensi dari
perilaku masyarakat, (suedirman, 2011). Berdasarkan hal itu, semakin baik ketrampilan
seorang petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan dan konseling tentang KB,
maka semakin baik pula tingkat pengetahuan wanita tentang jenis-jenis kontrasepsi.

(Notoatmodjo, 3003).

3.10.1 Faktor Predisposii

1. Umur

Berdasarkan penelitian Syamsiah (2002) dalam Farahwati (2009) diperoleh


bahwa sebagian besar responden yang memakai kontrasepsi (65,7%) berumur 20-
35tahun. Hasil analisis hubungan antara umur responden dengan pemakaian
kontrasepsiIUD dan Non-IUD diperoleh bahwa responden berumur > 35 tahun (68,6%)
memakaiIUD lebih besar dibandingkan dengan non-IUD (31,4%). Dengan demikian
dapat diketahui bahwa ada hubungan antara umur dan pemilihan kontrasepsi, responden
yang berumur > 35 tahun berpeluang 3,23 kali dibandingkan dengan responden yang
berumur 20-35 tahun, hal ini disebabkan responden yang berumur > 35 tahun
menggunakan kontrasepsi dengan tujuan mengakhiri kesuburan, karena mereka sudah
mempunyai anak sesuai dengan yang diinginkan keluarga, sehingga tidak ingin
menambah anak lagi.

2. Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
orangmelakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang
daripengalaman juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain,
didapat dari buku, surat kabar, atau media massa, elektronik (Notoatmodjo,
2003).Tingkat pengetahuan sangat berpengaruh terhadap proses menerima ataumenolak
inovasi. Menurut Roger (1983) dalam Notoatmodjo (2007), prilaku yang didasari oleh

11
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada prilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Roger mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsiprilaku
baru, dalam diri seseorang tersebut terjadi proses berurutan, yaitu:

a. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan KB di Kecamatan


Selo Kabupaten Bayolali adalah pengetahuanberpengaruh terhadap pemilihan KB (OR
= 18.712) artinya jika pengetahuan ibu semakin baik maka peluang responden 18,712
kali untuk memilih kontrasepsi jika dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan
buruk.

Jumlah anak Salah satu faktor yang menentukan keikutsertaan pasangan suami istri dalam
gerakan Keluarga Berencana adalah banyaknya anak yang dimilikinya. Diharapkan pada
pasangan yang memiliki jumlah anak lebih banyak, kemungkinan untuk memulai kontrasepsi
lebih besar dibandingkan daripada pasangan yang mempunyai anak lebih sedikit.
Berdasarkan hasil wawancara, akseptor mengatakan bahwa jumlah anak yang banyak
menentukan akseptor untuk memilih alat kontrasepsi IUD. (BKKBN, 2011 ) menerangkan
bahwa yang dimaksud keluarga kecil adalah keluarga yang jumlah anaknya paling banyak
dua orang. Sedangkan keluarga besar adalah suatu keluarga dengan lebih dari dua orang anak
(sulistyowati, 2012).

3.10.2 Faktor Pendukung

1. Keamanan alat kontrasepsi IUD

Salah satu keuntungan dari alat kontrasepsi IUD adalah Meningkatkan


kenyamanan hubungan suami-istri karena rasa aman terhadap risiko kehamilan (Bari,
2006)

2. Ketersediaan alat kontrasepsi IUD

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa ketersediaan alat kontrasepsi IUD


dari pemerintah seperti adanya KB safari sangat membantu masyarakat untuk
menggunakan alat kontrasepsi IUD.

3. Tempat pelayanan KB

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa tempat pelayanan KB terdekat


akan menentukan ibu untuk memilih alat kontrasepsi IUD, akseptor menjelaskan bahwa

12
jarak antara tempat tinggal dengan tempat pelayanan KB akan memudahkanibu untuk
berkonsultasi dan kontrol ulang.

3.10.3 Faktor Pendorong

1. Petugas kesehatan

Hasil penelitian (Wiadnyana 1995 dalam Notoatmojo 2007), menemukan adanya


hubungan antara sikap petugas dengan pemanfaatan pelayanan kontrasepsi IUD.
Wiadnyana menyarankan agar petugas kesehatan perlu lebih interest terhadap upaya
pemberian pelayanan kontrasepsi IUD dalam upaya memberikan pelayanan yang
terbaik pada masyarakat.

2. Media informasi

Media informasi merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk


menyalurkan pesan informasi dari pengirim ke penerima sehingga dapat
merangsangpikiran, perasaan, perhatian dan minat dari si penerima. Berdasarkan hasil
wawancarabahwa dengan media informasi baik dari televisi, majalah, radio maupun
daripenyuluhan merangsang ibu untuk memilih alat kontrasepsi IUD (UNSU, 2013).

3. Biaya pemasangan

Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan


karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus
menyediakan dana yang diperlukan. Walaupun jika dihitung dari
segikeekonomisannya, kontrasepsi IUD lebih murah dari KB suntik atau pil,
tetapikadang orang melihatnya dari berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekalim
pasang. Kalau patokannya adalah biaya setiap kali pasang, mungkin IUD terlihat
jauhlebih mahal. Tetapi kalau dilihat masa/jangka waktu penggunaannya, tentu
biayayang harus dikeluarkan untuk pemasangan IUD akan lebih murah dibandingkan
KBsuntik ataupun pil. Untuk sekali pasang, IUD bisa aktif selama 3 - 5 tahun,
bahkanseumur hidup/sampai menopause. Sedangkan KB Suntik atau Pil hanya
mempunyaimasa aktif 1-3 bulan saja, yang artinya untuk mendapatkan efek yang sama
dengan IUD, seseorang harus melakukan 12-36 kali suntikan bahkan berpuluh-puluh
kali lipat (UNSU, 2014).

4. Dukungan suami

13
Keputusan mencari pelayanan kesehatan merupakan hasil jaringan interaksi yang
kompleks. Menemukan proses pengambilan keputusan dan pola komunikasi yang
relevan bukanlah masalah yang sederhana. Keputusan mencari pelayanan kesehatan
dapat dibuat oleh wanita itu sendiri, atau oleh suaminya, tokoh masyarakat desa,
dan/atau anggota keluarga atau masyarakat lainnya. Di Papua New Guinea, wanita
tidak dapat membeli kontrasepsi tanpa persetujuan suami. Di Turki, hukum
mensyarakatkan persetujuan pasangan bila ingin melaksanakan kontrasepsi bedah, dan
persetujuan suami diperlukan bila istri menginginkan aborsi. Di Nigeria sudah lazim
apabila wanita tidak dapat menerima kontrasepsi tanpa ijin suami. Di Ethipia, Asosiasi
Bimbingan Keluarga mensyarakatkan suami untuk menandatangani formulir
persetujuan agar istri dapat memperoleh kontrasepsi. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa suami mempunyai pengaruh yang kuat dalam penerimaan kontrasepsi oleh istri
dan keterbatasan metode menimbulkan hambatan bagi wanita untuk berkontrasepsi
(UNSU, 2013).

3.11 Keuntungan menggunakan IUD/AKDR

Penggunaan IUD mempunyai beberapa keuntungan yaitu:

1. Sebagai kontrasepsi yang efektifitasnya tinggi yaitu sangat efektif —> 0,6 -
0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170
kehamilan).
2. IUD/AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
3. Metode jangka panjang (sampai 10 tahun dan tidak perlu diganti).
4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil.
7. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (Cu T380A).
8. Tidak mempengaruhi produksi ASI
9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak
terjadiinfeksi).( 48 JAM sesudah melahirkan,lebih dari itu tidak boleh pasca salin,nanti
bisa dipasang kembali setelah 4 minggu ). pemasangan IUD pada Abortus sampai hari
ke-7 lebih dari itu tidak boleh.
10.Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
11.Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.

14
12.Membantu mencegah kehamilan ektopik.
(Archive, 2016)
3.12 Kerugian Menggunakan IUD/AKDR
1. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
2. Tidak baik digunakan pada wanita yang mempunyai penyakit IMS atau pada
perempuan yang sering berganti pasangan.
3. Penyakit radang panggul.atau PID ( hal ini karena pada pasien PID dapat
memacu infertilisasi)
4. Klien tidak dapat melepas sendiri IUD nya.
5. Perempuan juga harus rajin memeriksa benang IUD dari waktu kewaktu
dengan cara memasukkan jarinya kedalam vagina.(maksimal 1 bulan sekali)
6. Mahal
(UNSU, 2013)
3.13 Kontraindikasi
Ada beberapa ibu yang dianggap tidak cocok memakai kontrasepsi jenis IUD ini.
Ibu-ibu yang tidak cocok itu adalah mereka yang menderita atau mengalami beberapa
keadaan berikut ini:
1. Kehamilan.
2. Penyakit kelamin (gonorrhoe, sipilis, AIDS, dsb).
3. Perdarahan dari kemaluan yang tidak diketahui penyebabnya.
4. Tumor jinak atau ganas dalam rahim.
5. Kelainan bawaan rahim.
6. Penyakit gula (diabetes militus).
7. Penyakit kurang darah.
8. Belum pernah melahirkan.
9. Adanya perkiraan hamil.
10.Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal
dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.
11.Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.
(UNSU, 2014)

3.14 Komplikasi
Efek samping yang umum terjadi:

15
1. Perubahan siklus haid (umumnya terjadi pada 3 bulan pertama pemasangan
dan akan berkurang setelah 3 bulan).
2. Haid lebih lama dan banyak.
3. Perdarahan (spotting)
4. Saat haid lebih sakit.
5. Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.
6. Perdarahan berat pada waktu haid.
(UNSU, 2013)

16
BAB II

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khuusnya diindonesia


pemerintah telah merencanakan dan mencanangkan program keluarga berencana. Yang
diadakan untuk membina akseptor sekaligus mencapai sarana atau fungsi yang telah
ditetapkan untuk memberi kontribusi bagi terciptanya upaya mewujudkan keluarga
berkualitas
2. Adapun pengertian dari KB yaitu tindakan untuk membantu individu atau
pasangan untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval
kelahiran, mengontrol kartu keturunan dalam hubungan dengan umur pasangan suami
istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
3. Pengertian dari kontrasepsi adaalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi
yaitu bertemunya sel sperma dan ovum. dalam pelayanan KB ada berbagai macam cara
untuk mencegah konsepsi salah satunya dengan menggunakan AKDR.
4. AKDR atau IUD atau SPIRAL adalah suatu benda kecil yang terbuat dari
plastik yang lentur mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan
dimasukkan kedalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang.
5. Dalam penggunaan AKDR juga terdapat manfaat, keuntungan serta kerugian
dari penggunaan AKDR tersebut. Masalah yang timbul dari penggunaan AKDR
tersebut juga diharapkan bisa teratasi dengan beberapa cara antara lain : dengan
memperhatikan pemakaian dengan benar, efek samping serta konseling bagi pengguna
oleh tenaga kesehatan.
6. Adapun berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akseptor KB
agar tidak terjadi salah presepsi setelah pemasangan yaitu pengetahuan akseptor KB
tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi, status kesehatan klien sebelum
berKB, tau efek samping, konsekwensi kegagalan atau kehamilan yang tidak
diinginkan, besarnya keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan bahkan norma
budaya lingkungan dorongan lain.

B.SARAN

17
1. Untuk penyelenggara pelayanan KB, diharapkan tetap mempertahankan
kualitas dari pelayanan yang telah diberikan dan akan lebih baik bila meningkatkan
profesionalisme dengan menupdate ilmu-ilmu yang lebih baru.
2. Untuk akseptor KB IUD, agar dapat lebih kritis dalam menerima pelayanan
dalam pemasangan IUD dapat dengan bertanya mengenai hal-hal yang memang belum
dimengerti, sehingga akan ada interaksi dua arah yang dapat meningkatkan kualitas
pelayanan,

18
DAFTAR PUSTAKA
Archive.2016. Pelaksanaan KB, http://bataviase.co.id.2011 Diakses 5 Oktober 2011,
15.00 WIB.
Candrawati , Susiana. 2011. Keterampilan Pemasangan Iud (Intra-Uterine Device) -
keterampilan pemasangan IUD.pdf 2011 Diakses pada 7 oktober 2016.
FK Universitas jendral suedirman. 2011.
http://fk.unsoed.ac.id/sites/default/files/img/modul%20labskill/modul%20A
3/Modul%20A3-%20Keterampilan%20pemasangan%20IUD.pdf. diakses
pada tanggal 8 Oktober 2016, 10.00 WIB
sulistyowati, ari. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika
UNSU. 2013. Kesehatan Reproduksi chapter I
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48714/5/Chapter%20I.pdf
UNSU. 2014. PP No.61 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48714/5/Chapter%20I.pdf
UNSU. 2013. Kesehatan Reproduksi chapter II.pdf.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23764/4/Chapter%20II.pdf,
diakses pada tanggal 8 Oktober 2016, 13.30 WIB
Unimus. 2011. BAB II tinjauan pustaka kontrasepsi.pdf
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/121/jtptunimus-gdl-enggarross-6021-
2-babii.pdf, diakses pada tanggal 6 Oktober 2016, 16.00 WIB
BKKBN. 2011. Profil hasil pendataan keluarga.
file:///C:/Users/pc/Downloads/Profil%20Hasil%20Pendataan%20Keluarga
%20Tahun%202011.pdf Diakses pada 4 november 2016, 15.00 WIB.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta

19