Anda di halaman 1dari 12

TAX PLANNING

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi Keuangan yang
dibimbing oleh Dr. Sri Mangesti Rahayu M.Si

Disusun Oleh :

Kelompok 6

Mantias Bekti Dewanty 165030200111113

Aprilia Novita Sari 165030201111165

Miftah Qurrotul Aini 165030201111155

JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
DAFTAR ISI

Cover
Daftar Isi…………………………………………………………………………...2
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang……………………………………….………………………..3
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………………………...3
1.3. Tujuan……………………………………………………...………………….4

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Tax Planning………………………………………………………5
2.2. Manfaat Tax Planning…………………………………………………………6
2.3. Tujuan Tax Planning…………………………………………………………..6
2.4. Persyaratan Tax Planning……………………………………………………...6
2.5. Kapan Dilaksanakan Tax Planning……………………………………………7
2.6. Resistensi Pajak………………………………………………………………..7
2.7. Rambu – rambu Tax Planning…………………………………………………8
2.8. Motivasi Dilakukannya Perencanaan Pajak……………………………………8
2.9. Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak………………………………...9
2.10. Jenis – Jenis Perencanaan Pajak………………………………………………9
2.11. Implementasi tax Planning (Kasus)…………………………………………10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………..11

Daftar Pustaka………………………………………………………………………12

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dari segi ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sektor
privat (perusahaan) ke sektor publik. Bagi negara, pajak adalah salah satu sumber
penerimaan penting yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, baik
pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan. Sebaliknya bagi perusahaan,
pajak merupakan bebasn yang akan mengurangi laba bersih. Keputusan bisnis
sebagian besar di pengaruhi oleh pajak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Keputusan bisnis yang baik jika berhubungan dengan pajak bisa menjadi keputusan
bisnis yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.
Minimalisasi beban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang
masih berada dalam bingkai peraturan perpajakansampai dengan yang melanggar
peraturan perpajakan. Upaya meminimalkan pajak secara eufimisme sering disebut
dengan perencanaan pajak (tax planning) atau tax sheltering. Umumnya perencanaan
pajak merujuk pada proses merekayasa usaha dan transaksi wajib pajak supaya utang
pajak berada dalam jumlah yang minima tetapi masih dallam bingkai peraturan
perpajakan. Namun perencanaan pajak juga dapat berkonotasi positif sebagai
perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar, dan tepat
waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya.

1.2 Rumusan Masalah


a) Bagaimana pengertian Tax planning ?

b) Apa saja manfaat Tax Planning ?

c) Apakah tujuan Tax Planning ?

d) Apa saja persyaratan Tax Planning ?

e) Kapan dilaksanakan Tax Planning ?

f) Bagaimana resistensi pajak ?

3
g) Bagaimana rambu – rambu Tax planning ?

h) Bagaimana motivasi dilakukannya Perencanaan Pajak ?

i) Bagaimana tahapan dalam membuat Perencanaan Pajak ?

j) Apaja saja jenis – jenis Perencanaan Pajak ?

k) Bagaimana implementasi dari Tax Planning ?

1.3 Tujuan

a) Untuk mengetahui pengertian Tax planning

b) Untuk mengetahui manfaat Tax Planning

c) Untuk mengetahui tujuan Tax Planning

d) Untuk mengetahui persyaratan Tax Planning

e) Untuk mengetahui kapan dilaksanakan Tax Planning

f) Untuk mengetahui resistensi Pajak

g) Untuk mengetahui rambu – rambu Tax planning

h) Untuk mengetahui motivasi dilakukannya Perencanaan Pajak

i) Untuk mengetahui tahapan dalam membuat Perencanaan Pajak

j) Untuk mengetahui jenis – jenis Perencanaan Pajak

k) Untuk mengetahui implementasi dari Tax Planning

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Tax Planning

Perencanaan pajak merupakan langkah awal dari manajemen perpajakan yang


terdiri dari tax planning (perencanaan pajak), tax implementation (pelaksanaan
kewajiban perpajakan) dan tax control (pengendalian pajak). Berikut ini merupakan
beberapa definisi dari tax planning :

1. Lyons Susan M dalam bukunya International Tax Glossary, mengutarakan bahwa:

Perencanaan pajak adalah pengaturan yang dilakukan oleh barang siapa yang
melakukan usaha perorangan atau bisnis, yang tujuannya untuk minimalisir
kewajiban pajaknya.

2. DR. Mohammad Zain dalam bukunya yang berjudul Manajemen Perpajakan


mendefinisikan, bahwa:

Perencanaan pajak adalah proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau


kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga utang pajaknya, baik pajak
penghasilan maupun pajak-pajak lainnya, berada dalam posisi yang paling minimal,
sepanjang hal itu dimungkinkan baik oleh ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan maupun secara komersial.

3. Achmad Tjahyono dan Muhammad F Husein dalam bukunya berjudul


Perpajakan, edisi pertama (1997), mengemukakan, bahwa:

Perencanaan pajak adalah proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau


kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga hutang pajaknya baik pajak
penghasilan maupun pajak- pajak lainnya, berada dalam posisi yang minimal,
sepanjang hal ini dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundangundangan yang
berlaku.

5
Jadi, Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada
tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar
dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada
umumnya penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk
meminimumkan kewajiban pajak.

2.2. Manfaat Perencanaan Pajak

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari perencanaan pajak yang
dilakukan secara cermat antara lain :

1. penghematan kas keluar, karena beban pajak yang merupakan unsur biaya dapat
dikurangi,
2. mengatur aliran kas masuk dan keluar (cash flow), karena dengan perencanaan
pajak yang matang dapat diestimasi kebutuhan kas untuk pajak dan menentukan
saat pembayaran sehingga perusahaan dapat menyusun anggaran kas secara
lebih akurat.

2.3. Tujuan Perencanaan Pajak

Secara umum tujuan pokok yang ingin dicapai dari perencanaan pajak yang
baik adalah sebagai berikut:

1. Meminimalisir beban pajak yang terutang.

2. Memaksimumkan laba setelah pajak,

3. Meminimalkan terjadinya kejutan pajak (tax surprise) jika terjadi pemeriksaan


pajak yang dilakukan oleh fiskus,

4. Memenuhi kewajiban perpajakannya secara benar, efisien dan efektif sesuai


dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

2.4. Persyaratan Tax Planning yang Baik

Tax Planning yang baik mensyaratkan beberapa hal antara lain:

6
a. Tidak melanggar ketentuan perpajakan.
b. Secara bisnis masuk akal (reasonable).
c. Didukung oleh bukti-bukti pendukung yang memadai (misalnya: Kontrak,
Invoice, Faktur Pajak, Purchase Order, Delivery Order).

2.5. Kapan Dilaksanakan Tax Planning

Karena pajak itu melihat kepada subjeknya yang sudah terbebani sebagai
wajib pajak (WP) orang pribadi atau badan sejak awal misalnya perusahaan baru
berdiri kemudian baru berjalan tidak lama bubar. Jadi walaupun sudah bubar,
pajaknya belum selesai. Maka planningnya dilakukan sepanjang usia perusahaan.
Jadi pada saat berdiri, aktivitas manajemen sudah mulai, banyak sekali tax
management yang harus dilaksanakan. Pada saat perusahaan bubar atau pada saat
WP orang pribadi meninggal masih ada masalah pajaknya. Jadi pajak tidak habis
karena meninggal, karena warisan-warisan ini oleh fiskus masih diotak-atik.

2.6. Resistensi Pajak

Perlawanan terhadap pajak yang dilakukan oleh wajib pajak merupakan


hambatan-hambatan dalam pemungutan pajak baik yang disebabkan oleh kondisi
negara dan rakyatnya maupun disebabkan oleh usaha-usaha wajib pajak yang
disadari ataupun tidak yang mempersulit pemasukan pajak sebagai sumber
penerimaan Negara.

Menurut R. Santoso Brotodihardjo (1993), ada dua bentuk perlawanan pajak


yang dilakukan oleh Warga Negara yakni:

a) Perlawanan Pasif, yaitu hambatan-hambatan yang mempersukar pemungutan


pajak yang erat hubungannya dengan struktur ekonomi suatu Negara,
perkembangan intelektual dan moral penduduk serta sistem dan cara pemungutan
pajak itu sendiri.
b) Perlawanan Aktif yaitu meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditujukan kepada fiskus dan bertujuan untuk menghindari pajak terdiri
atas :

7
1. Tax avoidance (penghindaran pajak) adalah upaya untuk meringankan beban
pajak namun tidak melanggar Undang – undang yang ada. (Mardiasmo: 2003)
2. Tax evasion (penggelapan / penyelundupan pajak) adalah upaya wajib pajak
dengan penghindaran pajak terutang secara illegal dengan cara menyembunyikan
keadaan yang sebenarnya, namun tidak aman bagi wajib pajak, dimana metode
dan teknik yang digunakan sebenarnya tidak dalam koridor Undang-Undang dan
Peraturan Perpajakan itu sendiri. Cara yang ditempuh berisiko tinggi dan
berpotensi dikenakan sanksi pelanggaran hukum/ tindak pidana fiskal atau
kriminil.
3. Tax saving (penghematan pajak) adalah upaya wajib pajak mengelakkan utang
pajaknya dengan jalan menahan diri untuk tidak membeli produk-produk yang
ada pajak pertambahan nilainya atau dengan sengaja mengurangi jam kerja atau
pekerjaan yang dapat dilakukannya sehingga penghasilannya menjadi kecil dan
dengan demikian terhindar dari pengenaan pajak penghasilan yang besar.

2.7. Rambu-Rambu dalam Penyusunan Tax Planning

a) Tax planning harus dikaitkan dengan kondisi tax administration setempat, tax
planning yang sifatnya pajak daerah tentu juga harus paham tentang berbagai
ketentuan pajak daerah.. Bukan hanya Undang-Undang saja tetapi juga di
Peraturan Pemerintah (PI)), peraturan Menteri Keuangan, Keputusan Pengadilan
Pajak, Keputusan Dirjen, Surat Edaran dan kadang-kadang ada private ruling /
surat-surat kepada individu.

b) Mengetahui tentang Tax Treaty. Jika nasional sifatnya maka kita juga harus
paham tax treaty. Dari berbagai treaty jika diperbandingkan. Jika untuk tax
planning internasional, justru yang dicari adalah perbedaan aturan, bukan
kesamaannya. Maka tiap treaty dicari perbedaan antara suatu treaty dengan
treaty lainnya, yang dieksploitir untuk keuntungan, untuk meminimialisir beban
pajak secara regional / global.

c) Untuk menentukan legalitas tax planning yang didesain, apakah legal (tax
avoidance) atau illegal (tax evasion), maka rambu-rambu yang dapat dipakai
adalah ketentuan pidana Pasal 38, 39, 41, 41A, 41B dan 43 Undang-Undang

8
KUP No. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU KUP No.
7 Tahun 2007.

2.8. Motivasi Dilakukannya Perencanaan Pajak

Motivasi yang mendasari dilakukannya suatu perencanaan pajak umumnya


bersumber dari tiga unsur perpajakan, yaitu:
1. kebijakan perpajakan (tax policy);
2. undang-undang perpajakan (tax law);
3. administrasi perpajakan (tax administration).

Ketiga unsur tersebut terjadi menurut proses sesuai dengan urutan waktu
penyusunan sistem perpajakan.

2.9. Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak

Dalam arus globalisasi dan tingkat persaingan yang semakin tinggi, seorang
manajer dalam membuat suatu perencanaan pajak sebagaimana strategi perencanaan
perusahaan secara keseluruhan harus memperhitungkan adanya kegiatan yang
bersifat lokal maupun internasional. Agar perencanaan pajak dapat berhasil sesuai
dengan yang diharapkan, maka rencana itu seharusnya dilakukan melalui berbagai
urutan tahap-tahap berikut ini.
1. Menganalisis informasi yang ada.
2. Membuat satu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya pajak.
3. Mengevaluasi pelaksanaan rencana pajak.
4. Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana pajak.
5. Memutakhirkan rencana pajak (Barry Spitz, 1983).

2.10. Jenis- Jenis Perencanaan Pajak

a) Perencanaan Pajak Domestik


Sebelum melakukan suatu perencanaan pajak domestik (national tax Planning),
diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai maksud dan tujuan dari

9
undangundang dan peraturan perpajakan yang berlaku, teori dan praktik akuntansi
yang berlaku, serta praktik administrasi perpajakan.

b) Perencanaan Pajak Internasional

Berbicara tentang perencanaan pajak internasional (international tax planning) tidak


terlepas dari perusahaan grup multi internasional. Tujuan utama di dalam
perusahaan multi internasional sebagaimana di banyak perusahaan, selalu ingin
meminimumkan biaya-biaya dan pajak (OECD, 1987).

2.11. Implementasi Perencanaan Pajak (Kasus)

Konsep different tax planning for different purpose dalam arti bahwa dalam
penyusunan tax planning tidak bisa di generalisir karena kebutuhan untuk
manajemen pajak dari berbagai perusahaan itu berbeda-beda, dan dengan
transaksinya juga bisa berbeda-beda. Misalnya, tax planning bisa dibuat untuk
keperluan penyusunan SPT Tahunan perusahaan, bisa juga dibuat untuk keperluan
pada saat perusahaan melakukan merger, joint operation dan sebagainya

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perencanaan pajak adalah adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada
tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar
dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya
penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimumkan kewajiban
pajak.

Tax Planning yang baik mensyaratkan beberapa hal, seperti tidak melanggar
ketentuan perpajakan, secara bisnis masuk akal (reasonable), serta didukung oleh bukti-
bukti pendukung yang memadai (misalnya: Kontrak, Invoice, dan sebagainya). Oleh
sebab itu untuk meminimalisir koreksi fiskal dari pihak fiskus terhadap hal hal tersebut
di atas, maka solusinya adalah dengan membuat kontrak yang jelas dan secara transparan
mencantumkan hak dan kewajiban perpajakan dari masing-masing pihak yang terkait.

11
DAFTAR PUSTAKA

Pohan, Chairil Anwar. (2011). Optimizing Corporate Tax Management : Kajian


Perpajakan dan Tax Planning-nya Terkini. Jakarta : PT Bumi Aksara

Suandy, Erly. (2011). Perencanaan Pajak Edisi 5. Jakarta Selatan: Salemba Empat

Zain, Mohammad. (2007). Manajemen Perpajakan Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat

12