Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Tentang
QAUL SHAHABI

DISUSUN OLEH :

Nama : 1. Muhammad Anwar


2. Muhammad Fadli
3. Sutan Komaruddin

Dosen Pembimbing : H. Matua Nasution, Lc.MA

STAIN MANDAILING NATAL


T.A. 2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat
dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam atas nikmat dan karunia yang tercurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pembimbing.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing, yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengerjakan tugas tentang
Qaul Shahabi.
Penulis mengakui bahwa masih kurangnya isi dari makalah kami ini
mungkin dengan adanya kritik dan saran dari pembaca kami sangat
berterimakasih dan berlapang dada untuk menerima masukannya.
Tiada gading yang tak retak, pepatah ini mewakili penulis untuk meminta
kritik dan saran bagi kesempurnaan makalah ini apabila terdapat banyak
kesalahan untuk menambah wawasan keilmuan penulis.

Panyabungan, Oktober 2018


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A. Latar Belakang............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 2
A. Pengertian mazhab (qaul) al-Shahabi............................................ 2
B. Macam-macam mazhab (qaul) al-Shahabi.................................... 3
C. Kehujjahan mazhab (qaul) al-Shahabi.......................................... 4
D. Penggunaan mazhab (qaul) al-Shahabi oleh para Imam mazhab.. 7
BAB III PENUTUP......................................................................................... 10
A. Kesimpulan.................................................................................... 10
B. Saran.............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Berdasarkan telah ditetapkan bahwa dalil syar’i yang dijadikan dasar
pengambilan hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia itu ada
empat: al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijma’, dan al-Qiyas, jumhur ulama telah sepakat
bahwa empat hal itu dapat digunakan sebagai dalil, juga sepakat bahwa urutan
penggunaan dalil tersebut adalah sebagai berikut: pertama al-Qur’an, kedua al-
Sunnah, ketiga al-Ijma’ dan keempat al-Qiyas.1
Akan tetapi, ada dalil lain selain dari yang empat di atas, yang mana mayoritas
ulama Islam tidak sepakat atas penggunaan dalil-dalil tersebut. Sebagian di antara
mereka ada yang menggunakan dalil-dalil ini sebagai alasan penetapan
hukum syara’ dan sebagian yang lain mengingkarinya. Dalil-dalil yang
diperselisihkan penggunaannya sebagai hujjah dalam menetapkan suatu hukum
salah satunya adalah mazhab (qaul) al-Shahabi. Sehingga, dalam makalah ini
kami akan membahas tentang fatwa sahabat ini.

B. Rumsusan masalah
1. Apa pengertian dari mazhab (qaul) al-Shahabi?
2. Bagaimana pandangan ulama terhadap kehujjahan mazhab (qaul) al-
Shahabi?
3. Bagimana penggunaan mazhab (qaul) al-Shahabi oleh para Imam
mazhab?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui pengertian dari mazhab (qaul) al-Shahabi.
2. Memperoleh pengetahuan tentang pandangan ulama terhadap kehujjahan
mazhab (qaul) al-Shahabi.
3. Mengetahui tentang penggunaan mazhab (qaul) al-Shahabi oleh para
Imam mazhab.

1 Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Kuwait: An-Nasyr Wattawzi’, 1978), hal. 21.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian mazhab (qaul) al-Shahabi


Hampir semua kitab ushul fiqh membahas tentang madzhab shahabi,
meskipun mereka berbeda dalam keluasan beritanya, juga berbeda dalam
penamaannya. Ada yang menamakannya dengan qaul shahabi, ada juga yang
menamakannya dengan fatwa shahabi. Hampir semua literatur yang
membahas madzhab shahabi menempatkan pada pembahasan tentang
dalil syara’ yang diperselisihkan. Bahkan ada yang menempatkannya pada
pembahasan tentang dalil syara’ yang ditolak seperti yang dilakukan Asnawi
dalam kitabnya Syarh Minbaj al-Ushul. Hal ini menunjuukkan bahwa madzhab
shahabi itu berbeda dengan ijma’ shahabi yang menempati kedudukan yang tinggi
dalam dalil syara’ karena kehujjahannya diterima semua pihak, meskipun di
kalangan sebagian kecil ulama ada yang menolak kehujjahan ijma’ secara umum.2
Yang dimaksud dengan madzhab shahabi ialah pendapat sahabat Rasulullah
SAW tentang suatu kasus dimana hukumnya tidak dijelaskan secara tegas dalam
Alquran dansunnah Rasulullah.
Sedangkan yang dimaksud dengan sahabat Rasulullah, seperti dikemukakan
oleh Muhammad Ajjaj al-Khatib ahli hadis berkebangsaan Syiria, dalam
karyanya Ushul al-Hadist mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat
adalah setiap orang muslim yang hidup bergaul dengan Rasulullah dalam waktu
yang cukup lama serta menimba ilmu dari Rasulullah. Seperti Umar ibn Khattab,
‘Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar bin Khattab, Aisyah,
dan ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka ini adalah di antara para sahabat yang banyak
berfatwa tentang hukum islam.3

2 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, jalid 2, cet. 4 (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 378.
3 Satria Effendi M. Zein, Ushul Fiqh, ed. 1, cet. 2, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 169.

2
B. Macam-macam mazhab (qaul) al-Shahabi
Para ulama membagi qaul al-Shahabi ke dalam beberapa macam, di
antaranya:4
1. Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad. Dalam
hal ini para ulama semuanya sepakat bahwa perkataan sahabat bisa
dijadikan hujjah. Karena kemungkinan sima’ dari Nabi SAW sangat besar,
sehingga perkataan sahabat dalam hal ini bisa termasuk dalam kategori al-
Sunnah, meskipun perkataan ini adalah hadits mauquf. Pendapat ini dikuatkan
oleh Imam as-Sarkhasi dan beliau memberikan contoh perkataan sahabat
dalam hal-hal yang tidak bisa dijadikan objek ijtihad seperti, perkataan Ali
bahwa jumlah mahar yang terkecil adalah sepuluh dirham, perkataan Anas
bahwa paling sedikit haid seorang wanita adalah tiga hari sedangkan paling
banyak adalah sepuluh hari.
2. Namun contoh-contoh tesebut ditolak oleh beberapa ulama Syafi’iyah, bahwa
hal-hal tersebut adalah permasalahan-permasalahan yang bisa dijadikan
objek ijtihad. Dan pada kenyataannya baik jumlah mahar dan haid wanita
berbeda-beda dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing.
3. Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain. Dalam hal ini
perkataan sahabat adalah hujjah karena masuk dalam kategori ijma’.
4. Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak
diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya. Dalam hal
inipun bisa dijadikan hujjah, karena ini merupakan ijma’ sukuti, bagi mereka
yang berpandapat bahwa ijma’ sukuti bisa dijadikan hujjah.
5. Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri. Qaul
al-Shahabiyang seperti inilah yang menjadi perselisihan di antara para ulama
mengenai keabsahannya sebagai hujjah dalam fiqh Islam.

Adapun Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar menambahkan


beberapa poin mengenai macam-macam qaul al-Shahabi ini, di antaranya:
1. Perkataan Khulafa ar-Rasyidin dalam sebuah permasalahan. Dalam hal ini
para ulama sepakat untuk menjadikannya hujjah. Sebagaimana diterangkan

4 Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1996), hal. 260-
261.

3
dalam sebuah hadits, ”Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah
para Khulafa ar-Rasyidin setelahku”
2. Perkataan seorang sahabat yang berlandaskan pemikirannya dan ditentang
oleh sahabat yang lainnya. Dalam hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa
perkataan sahabat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi sebagian ulama
lainnya dari kalangan Ushuliyyin dan fuqahamengharuskan untuk mengambil
perkataan satu sahabat.

C. Kehujjahan mazhab (qaul) al-Shahabi


Pendapat sahabat tidak menjadi hujjah atas sahabat lainnya. Hal ini telah
disepakati. Namun yang masih diperselisihkan ialah, apakah pendapat sahabat
bisa menjadi hujjah atastabi’n dan orang-orng setelah tabi’in. Ulama ushul
memiliki tiga pendapat, di antaranya adalah:5
1. Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab Sahabat (qaulussshahabi) dapat
menjadihujjah. Pendapat ini berasal dari Imam Maliki, Abu bakar ar-Razi,
Abu Said shahabat Imam Abu Hanifah, begitu juga Imam Syafi’i dalam
madzhab qadimnya, termasuk juga Imam Ahmad Bin Hanbal dalam satu
riwayat.
Alasan pendapat ini adalah firman Allah SWT.
      
. . .   
Artinya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar”.
(QS. Ali-Imran: 110)
Ayat ini merupakan kitab dari Allah untuk sahabat-sahabat agar mereka
menganjurkanma’ruf, sedangkan perbuatan ma’ruf adalah wajib, karena itu
pendapat para sahabat wajib diterima.
Alasan yang kedua adalah hadis Rasul:
“Sahabatku bagaikan bintang-bintang siapa saja di antara mereka yang kamu
ikuti pasti engkau mendapat petunjuk”.

5 Khairul Umam, dkk, Ushul Fiqih I, cet. 2, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal. 182.

4
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjadikan ikutan kepada
siapa saja dari sahabatnya sebagai dasar memperoleh petunjuk (hidayah). Hal ini
menunjukkan bahwa tiap-tiap pendapat dari mereka itu adalah hujjah dan wajib
kita terima/amalkan.
2. Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab sahabat (qaulussshahabi) secara
mutlak tidak dapat menjadi hujjah/dasar hukum. Pendapat ini berasal dari
jumhur Asya’iyahdan Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam mazhabnya
yang jadid (baru) juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah.6
Alasan mereka antara lain adalah firma Allah:
  
Artinya:
“. . . Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang
yang mempunyai pandangan”.
(QS. al-Hasyr: 2)
Maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah SWT menganjurkan kepada orang-
orang yang mempunyai pandangan/pikiran untuk mengambil i’tibar (pelajaran).
Yang dimaksudi’tibar dalam ayat tersebut ialah qiyas dan ijtihad, sedangkan
dalam hal mujtahid sama saja apakah mujtahid itu sahabat atau bukan sahabat.
3. Ulama Hanafiyah, Imam Malik, qaul qadim Imam Syafi’i dan pendapat
terkuat dari Imam Ahmad bin Hanbal, menyatakan bahwa pendapat sahabat itu
menjadi hujjah dan apabila pendapat sahabat bertentangan dengan qiyas maka
pendapat sahabat didahulukan.
Alasan yang mereka kemukakan antara lain adalah firman Allah dalam
surat at-Taubahayat 100:
     
    
Artinya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka”
(QS. at-Taubah: 100)
6 Ibid, hal. 183.

5
Dalam ayat ini menurut mereka, Allah secara jelas memuji para sahabat
karena merekalah yang pertama kali masuk Islam.7
Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Imran bin Hushain
yangberbunyi: “sebaik-baik kamu (adalah yang hidup pada) masaku, kemudian
generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya”.8
Dari segi alasan logika, pendapat sahabat dijadikan hujjah karena terdapat
kemungkinan bahwa pendapat meraka itu berasal dari Rasulullah. Disamping itu
karena mereka sangat dekat dengan Rasulullah dalam rentang waktu yang lama,
hal ini memberikan pengalaman yang sangat luas kepada mereka dalam
memahami ruh syari’at dan tujuan-tujuan persyari’atan hukum syara’. Dengan
bergaul dengan Rasulullah berarti mereka merupakan murid-murid langsung dari
beliau dalam menetapkan hukum, sehingga diyakini pendapat mereka lebih
mendekati kebenaran. Oleh karena itu, jika pendapat mereka bertentangan
dengan al-Qiyas, maka sangat mungkin ada landasan hadis yang mereka gunakan
untuk itu. Sebagaimana diketahui, mereka adalah generasi terbaik (memiliki
sifatal-‘Adalah), yang sangat sulit diterima menurut kebiasaan jika melahirkan
pendapat syara’tanpa alasan, sebab hal itu terlarang menurut syara’.9
Kemudian Imam Ibnu Qayyim di dalam kitabnya I’lamul
Muwaqqi’in berkata bahwa fatwa sahabat tidak keluar dari enam bentuk:10
1) Fatwa yang didengar sahabat dari Nabi
2) Fatwa yang didasarkan dari orang yang mendengar dari Nabi
3) Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alquran yang agak
kabur pemahaman ayatnya bagi kita.
4) Fatwa yang disepakati oleh tokoh sahabat sampai kepada kita melalui salah
seorang sahabat.
5) Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun
tingkah lakunya, kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi dan maksud-
maksudnya. Kelima hal inilahhujjah yang wajib diikuti

7 Ibid, hal. 184-185.


8 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh, cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2010), hal. 225.
9 Ibid, hal. 228.
10 Jazuli, dkk, Ushul Fiqh Metodologi Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),
212-213.

6
6) Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan ternyata
pemahamannya salah. Maka hal ini tidak jadi hujjah.

D. Penggunaan mazhab (qaul) al-Shahabi oleh para Imam mazhab.


Para Imam mazhab yang empat sepakat menjadikan qaul al-Shahabi sebagai
rujukan terhadap masalah-masalah yang bukan merupakan wilayah ijtihad.
Sebab dalam masalah-masalah yang bukan merupakan wilayah ijtihad, qaul al-
Shahabi dipandang berkedudukan sebagai al khabar at-tawqifi (informasi
keagamaan yang diterima tanpa reserve) yang bersumber dari Rasulullah.11

Imam Abu Hanifah


Adapun sumber hukum ijtihad yang pokok Abu Hanifah yaitu apabila tidak
terdapat dalam Alquran, ia merujuk pada sunnah Rasul dan atsar yang shahih yang
diriwayatkan oleh orang orang yang tsiqah. Dan bila tidak mendapatkan pada
keduanya, maka ia akan merujuk pada qaul sahabat, dan apabila sahabat ikhtilaf,
maka ia akan mengambil pendapat dari sahabat manapun yang
ia kehendaki. Dalam hal ini, Abu Hanifah telah berkata: “Jika kami tidak
menjumpai dasar-dasar hukum dari al-Qur’an dan hadist, maka kami
mempergunakan fatwa-fatwa sahabat. Pendapat para sahabat tersebut, ada yang
diambil, ada pula yang kami tinggalkan. Akan tetapi kami tidak akan beralih dari
pendapat mereka kepada selain mereka.”

Imam Syafi’i
Diriwayatkan oleh ar-Rabi’, bahwa Imam Syafi’i berkata dalam kitab al-
Risalahnya sebagai berikut:
“Suatu ketika kami menjumpai para ulama mengambil pendapat seorang
sahabat, sementara pada waktu yang lain mereka meninggalkannya. Mereka
berselisih terhadap sebagian pendapat yang diambil dari para sahabat.”
Kemudian seorang teman diskusinya bertanya: “Bagaimanakah sikap anda
terhadap hal ini?”. Dia menjawab:“Jika kami tidak menemukan dasar-dasar
hukum dari al-Qur’an, sunah, ijma’, dan sesamanya, maka kami mengikuti
pendapat salah seorang sahabat”.

11 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh. . . , hal. 226.

7
Diriwayatkan juga oleh ar-Rabi’, bahwa Imam Syafi’i di dalam kitab al-Umm
(kitab yang baru) berkata: “Jika kami tidak menjumpai dasar-dasar hukum dalam
al-Qur’an dan sunnah, maka kami kembali kepada pendapat para sahabat atau
salah seorang dari mereka. Kemudian jika kami harus bertaqlid, maka kami lebih
senang kembali (mengikuti) pendapat Abu Bakar, Umar atau Usman. Karena jika
kami tidak menjumpai dilalah dalam ikhtilaf yang menunjukan pada ikhtilaf yang
lebih dekat kepada al-Qur’an dan sunnah, niscaya kami mengikuti pendapat yang
mempunyai dilalah”.(al-Umm, juz 7, hal. 247 )12
Keterangan di atas menunjukkan, bahwa dalam menetapkan hukum, pertama-
tama Imam Syafi’i mengambil dasar dari Alquran dan Sunnah, kemudian
pendapat yang telah disepakati oleh para sahabat. Setelah itu, pendapat-pendapat
yang diperselisihkan tersebut tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan
Alquran dan Hadist, maka dia mengikuti apa yang dikerjakan oleh al-Khulafa ar-
Rasyidin, karena pendapat mereka telah masyhur, dan pada umumnya sangat
teliti.
Demikian juga Imam Malik RA dalam kitabnya al-Muwaththa’ banyak sekali
hukum-hukum yang didasarkan pada fatwa-fatwa sahabat.

Imam Ahmad bin Hanbal


Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan metode al-hadits dalam beristinbath.
Adapun sumber hukum yang dijadikannya sebagai landasan yaitu
Alquran, sunnah, qaul shahabiyang tidak bertentangan, hadis mursal,
hadis dhaif, qiyas dan sadz al dzar’i.
Imam Hanbal lebih mengutamakan hadis mursal atau hadis dhaif daripada
qiyas. Sebab, beliau tidak akan menggunakan qiyas kecuali dalam keadaan sangat
terpaksa. Demikian juga halnya dengan qaul shahabi, beliau tidak menyukai
fatwa bila tanpa didasarkan pada atsar.
Apabila dalam Alquran dan sunnah tidak didapati dalil yang dicari maka
beliau menggunakan fatwa para sahabat Nabi yang tidak ada perselisihan di antara
mereka. Namun jika tidak ditemui dalam fatwa tersebut, maka beliau mengunakan
hadis mursal dan dhaif. Bila masih tidak ditemukan juga, maka barulah beliau
mengqiyaskannya.

12 Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, cet. 12, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hal. 332-334.

8
9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mazhab Sahabat yang lazimnya juga disebut qaul al-Shahabi maksudnya
adalah pendapat-pendapat sahabat dalam masalah-masalah ijtihad. Dengan kata
lain qaul al-Shahabi adalah pendapat para sahabat tentang suatu kasus yang
dinukil oleh para ulama, baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum, yang tidak
dijelaskan dalam ayat atau hadits.
Tidak semua qaul al-Shahabi yang diperselisihkan keabsahannya
sebagai hujjah di antara para ulama. Tetapi qaul al-Shahabi yang diperselisihkan
adalah berupa perkataan sahabat tentang suatu permasalahan ijtihad yang tidak
tersebar di kalangan para sahabat yang lainnya dan tidak ada nash sharih yang
menjelaskan permasalahan tersebut.
Tidak semua ulama sepakat untuk mengambil dan mengikkuti mazhab
sahabat sebagihujjah dalam menetapkan suatu hukum. Akan tetapi sebagaimana
dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Abu Zahrah jumhur ulama mengikuti dan
mengambil madzhab Sahabat sebagihujjah dalam istimbath hukum, terutama
Imam mazhab yang empat (Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam
Hanbali).

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga penulis mengharapkan adanya kritikan dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Diharapkan penulis selanjutnya lebih kreatif dan
inovatif dalam mengembangkan daya pikirnya kedepan untuk
memajukan syari’at Islam.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Muhammad, Ushul Fiqh, cet. 12, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008.
Dahlan, Abd. Rahman, Ushul Fiqh, cet. 1, Jakarta: Amzah, 2010.
Jazuli, dkk, Ushul Fiqh Metodologi Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2000.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, Kuwait: An-Nasyr Wattawzi’, 1978.
M. Zein, Satria Effendi, Ushul Fiqh, ed. 1, cet. 2, Jakarta: Kencana, 2008.
Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh, jalid 2, cet. 4, Jakarta: Kencana, 2008.
Umam, Khairul, dkk, Ushul Fiqih I, cet. 2, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Zaedan, Abdul Karim, Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh, Beirut: Muassasah Ar-Risalah,
1996.

11