Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MANDIRI

Tentang
ILMU TAUHID

Disusun Oleh :

LAILA RAMADANI

SEMESTER I 6 (HES)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


MANDAILING NATAL
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaiakan makalah dengan
pembahasan “Ilmu Tauhid”. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang
penulis alami dalam proses pengerjaannya, tapi penulis berhasil
menyelesaikannya dengan baik.

Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang
telah membantu penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-
teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.

Tentunya ada hal-hal yang ingin penulis berikan kepada pembaca dari
hasil makalah ini. Karena itu, penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi
sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Panyabungan, Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i

DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Penyebab Lahirnya Ilmu Tauhid................................................... 2


B. Pembagian Tauhid dalam Al Qur’an ......................................... 6
C. Tauhid Rububiyah, Uluhiyah serta Asma Wassipat...................... 7
D. Pengertian Iman serta Dalilnya..................................................... 8
E. Sebab-Sebab Munculnya Aliran Khawarij Dan Murji’ah............ 9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan................................................................................... 13
B. Saran............................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi
kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara Rububiyah, Uluhiyah, dan
Asma’ wa sifat. Tauhid sendiri berasal dari Bahasa Arab “ wahhada-yuwahhidu-
tauhiidan”, artinya mengesakan atau menunggalkan dari sekian banyak yang ada.
Adapun ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari mengenai kepercayaan tentang
Tuhan dengan segala segi-seginya, yang berarti termasuk didalamnya soal wujud-
Nya, ke-Esaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Syeh M. Abduh mengatakan bahwa, ilmu
tauhid (ilmu kalam) adalah ilmu yang membicarakan wujud Tuhan, sifat-sifat
yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh ada pada-Nya, sifat-sifat yang
tidak mungkin ada pada-Nya; membicarakan tentang Rosul, untuk menetapkan
keutusan mereka, sifat-sifat yang boleh dipertautkankepada mereka, dan sifat-sifat
yang tidak mungkin terdapat pada mereka (Hanafi, 2003: 2).
Pada dasarnya manusia dari sejak lahir berada dalam fitrahnya yaitu,
bertauhid. Namun sesuai perkembangan lingkungan dan orang tuanyalah yang
menentukan selanjutnya. Banyak orang yang beriman namun tanpa didasari
pengetahuan yang memadai. Mereka beribadah namun ada saja yang masih
menyimpang dari ketauhidannya. Apalagi mereka yang berada di penjuru
kampung yang masih banyak mempercayai pohon-pohon yang besar, batu-batuan
yang besar, dan lain sebagainya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor penyebab lahirnya ilmu tauhid serta persamaan ilmu tauhid,
filsafat dan tasawuf?
2. Sebutkan firman Allah yang bersangkutan dengan tauhid !
3. Bagaimana pendapat tentang tauhid rububiyah, uluhiyah serta asma
wassifat?
4. Jelaskan pengertian serta dalil iman!
5. Apa penyebab munculnya aliran Khawarij dan Murji’ah

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebab Lahirnya Ilmu Tauhid


Pembahasan ilmu tauhid belum dikenal pada masa Nabi Muhammad
Saw.maupun pada masa sahabat. Tetapi baru dikenal pada masa berikutnya setelah
ilmu-ilmu keislaman yang lain satu persatu muncul dan setelah orang banyak
membicarakan tentang kepercayaan alam ghaib.
Kita tidak akan dapat memahami persoalan-persoalan ilmu tauhid secara
mendalam kalau kita tidak mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya ilmu tersebut. Mulai dari historis hingga kejadian-kejadian politis yang
menyertai pertumbuhannya. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu faktor-faktor yang datang dari dalam (intern) dan faktor-faktor yang
datang dari luar (extern) karena adanya berbagai kebudayaan lain dan agama-
agama yang bukan Islam.
a) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam, yaitu berasal dari al-
Qur’an dan al-Hadist. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi munculnya ilmu
kalam tersebut antara lain :
1. Dorongan dan pemahaman Al- Qur’an.
al- Qur’an dalam konteks ayat-ayat yang menjelaskan bahwa orang orang-
orang yang beriman kepada Allah adalah orang-orang yang berakal yang selalu
merenungi ayat-ayatNya. Dengan demikian, orang-orang yang sesat adalah
mereka yang tidak menggunakan akalnya. Harun Nasuton memberikan beberapa
contoh dari rincian ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk menggunakan
akalnya, sebagaimana berikut ini:
 Nadhara, melihat secara abstrak dalam arti berpikir dan merenungkan.Kata ini
digunakan antara lain : Surat Qaf ayat 6 dan Surat al-Thariq ayat 5.
 Tadzakkara yang berarti mengingat, memperhatikan, atau mempelajari.
Terdapat pada Surat al-Nahl ayat 17 dan surat al-Dzariyat ayar 49.
 Fahima yang artinya memahami, dalam bentuk ”fahama”. Terdapat pada
surat al- Anbiya ayat 79.

2
 Tadabbara (merenungkan), sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat, antara
lain surat Shad, ayat 29 dan surat Muhammad ayat 24.
 Tafakkara (berpikir), Terdapat pada Surat al-Nahl ayat 69 dan surat al- Jatsiah
ayat 13.
 Faqiha (mengerti atau paham), terdapat pada Surat al-Isra’ ayat 44
Selain itu al-Qur’an pun banyak menyinggung dan membantah golongan-
golongan ateis, musyrikin, dan mereka yang tidak mengakui keputusan Nabi.
Adapun ayat-ayat yang menjelaskan masalah itu antara lain Surat At-Jatsiyah ayat
24, Surat al-An’am ayat 76-74 dan Surat al-Isra ayat 94.
2. Persoalan Politik
Perselisihan dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan
mereka mengenai soal-soal keagamaan. partai-partai politik tersebut menjadi
sebagai satu aliran keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Partai
(kelompok) Imam Ali r.a. membentuk golongan Syiah, dan mereka yang tidak
bersetuju dengan Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok
Khawarij. Dan mereka yang membenci perselisihan yang berlaku di kalangan
umat Islam telah membentuk golongan Murji'ah.

3. Pemikiran para cendekiawan


Pada masa pemerintahan bani Umaiyah, Setelah kaum muslimin
dapatmenaklukkan negeri-negeri baru di sekitar jazirah arab dan keadaan mulai
stabil serta melimpah ruah rezekinya, disinilah akal pikiran mereka mulai
memfilsafatkan agama, sehingga menyebabkan berlaku perselisihan pendapat di
kalangan mereka.

b) Faktor Eksternal
Yaitu faktor luar yang menyebabkan munculnya berbagai pembahasan ilmu
tauhid. Antara lain:
Pada daerah-daerah yang didatangi oleh kaum muslimin terutama di Irak
pada pertengahan abad hijriah terdapat bermacam-macam agama dan peradaban,
antara lain agama Zoroaster, Brahmana, Sabiah, Atheisme, peradaban Persia dan

3
India yang kemudian masuk islam, peradaban Yunani yang dibawa oleh orang-
orang Suriani dan buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan dalam bahasa
Arab, peradaban yang dibawa oleh orang-orang Masehi yang telah
memfilsafatkan agamanya dan memakai filsafat Yunani sebagai alat untuk
memperkuat kepercayaan mereka. Sebagai akibat pertemuan agama islam dengan
peradaban-peradaban tersebut, maka sebagian kaum muslimin mulai mencetuskan
fikiran-fikiran yang bercorak filsafat dalam soal-soal agama yang tidak dikenal
sebelumnya, serta mereka mulai memberikan pembuktian pembenarannya dengan
alasan-alasan logika.
 Kelompok-kelompok Islam yang pertama, khususnya Mu’tazilah, perkara
utama yang mereka tekankan ialah mempertahankan Islam dan menolak
hujjah mereka yang menentangnya. Negeri-negeri Islam tertadah dengan
semua pemikiran-pemikiran ini dan setiap kelompok berusaha untuk
membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat kelompok lain. Orang-
orang Yahudi dan Nasrani telah melengkapkan diri mereka dengan senjata
ilmu Falsafah, lalu Mu’tazilah telah mempelajarinya agar mereka dapat
mempertahankan Islam dengan senjata yang telah digunakan oleh pihak yang
menyerang.
 Kebutuhan para mutakallimin terhadap filsafat itu adalah untuk
mengalahkan atau mengimbangi musuh-musuhnya, mendebat mereka dengan
mempergunakan alasan-alasan yang sama, maka mereka terpaksa mempelajari
filsafat Yunani dalam mengambil manfaat logika terutama dari
segi ketuhanan. seperti al-Nadhami (tokohMu’tazilah) mempelajari filsafat
Aristoteles dan menolak beberapa pendapatnya.

- Persamaan dan Hubungan ilmu Tauhid, filsafat, dan tasawuf


Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai
pemberi wawasan spritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang
mendalam melalui hati (dzauq dan widan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam
menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan
demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari

4
sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu
tauhid. Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata
telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan
kajian tasawuf dalam dunia Islam.
Pemahaman tentang jiwa dan roh itu sendiri menjadi hal yang esensial
dalam tasawuf. Kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak
dikembangkan dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih
banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini
memang lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa
istilah qalb tidak berpengaruh dengan roh dan jiwa. Ilmu kalam pun berfungsi
sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang
bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan
dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau
penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-
Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh para ulama salaf, hal
itu harus ditolak.
Dr. Fuad Al-Ahwani di dalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau
filsafat sama dengan ilmu kalam. Dengan alasan-alasan sebagai berikut: Karena
ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat
merupakan pembuktian intelektual.Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam
berdasar pada Allah SWT.dan sifat-sifat-Nya serta hubungan-Nya dengan alam
dan manusia yang berada di bawah syariat-Nya. Objek filsafat adalah alam dan
manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya.
Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama
yaitu Allah.Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah
SWT.sebagaimana aliran materialisme. Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai
fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebaan-perdebatan kalam.
Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi
sebuah ilmu yang mengandung muatan nasional, di samping muatan naqliah. Jika
tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak ke arah
yang lebih liberal dan bebas.

5
Adapun titik persamaan dan titik perbedaan antara ilmu kalam, filsafat, dan
tasawuf
- Titik persamaan
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian.
Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan
dengannya, objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah
alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf
adalah tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya.Jadi, dilihat dari aspek
objeknya ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.

B. Pembagian Tauhid dalam Al Qur’an


Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid
menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian
ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an:
‫طبمعر لممعسباسدتممه هسعل تسععلسهم لسهه سسممييا ا‬
‫ص س‬ ‫ت سواَعلسعر م‬
‫ض سوسما بسعينسههسما سفاععبهعدهه سواَ ع‬ ‫ب اَلسسسماسواَ م‬
َ‫سر ب‬
“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di
antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah
kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia
(yang patut disembah)?” (Maryam: 65).
Perhatikan ayat di atas:
‫ت لواَرللرر ض‬
(1). Dalam firman-Nya (‫ض‬ ‫سلماَلواَ ض‬
‫( )لربب اَل س‬Rabb (yang menguasai) langit dan
bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.
‫( )لفاَرعبهردهه لواَ ر‬maka sembahlah Dia dan berteguh
(2). Dalam firman-Nya (‫صطلبضرر لضضعلباَلدتضضه‬
hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.
‫( )لهسسرل تلرعللسسهم للسسهه ل‬Apakah kamu mengetahui ada
(3). Dan dalam firman-Nya ( ‫سسسضميياَ ا‬
seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

6
C. Tauhid Rububiyah, Uluhiyah serta Asma Wassipat
1. Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal
penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan
hal ini adalah firman Allah:
‫ب اَعلسعالسمميسن‬ ‫ق سوعاَلسعمهر تسسباسر س‬
َ‫ك اه سر ب‬ ‫أسلسلسهه اَعلسخعل ه‬
“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al-
A’raf: 54).
2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena
penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya
kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam
ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi.
Allah Ta’ala berfirman:
‫ق سوأسسن سمايسعدهعوُسن ممن هدونممه اَعلسبامطهل‬
َ‫ك بمأ سسن اس ههسوُ اَعلسح ب‬
‫سذلم س‬
”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan
sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman:
30).
3. Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa
Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini
mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus
menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia
tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak
menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya.
Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh
melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah
dalam firman-Nya:
‫س سكممعثلممه سشعيءء سوههسوُ اَلسسمميهع اَلبس م‬
‫صيهر‬ ‫لسعي س‬
”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul
Mufiiid I/7-10).
Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja yaitu tauhid
dalam ma’rifat wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal

7
qasd (tauhid dalam tujuan ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka
tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat termasuk golongan yang pertama
sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang kedua (Lihat Fathul
Majid 18).
Pembagian tauhid dengan pembagian seperti di atas merupakan hasil penelitian
para ulama terhadap seluruh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga
pembagian tersebut bukan termasuk bid’ah karena memiliki landasan dalil dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah.

D. Pengertian Iman serta Dalilnya


Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya.
Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati,
diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan
demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa
Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya,
kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal
perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman)
sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang
mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan
lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut
merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Dalil pengertian dari iman
Syaikh Al-Utsaimin mengatakan :

‫ القإرار بالشيء عن تصديق به‬:‫اليإان ف اللغة‬


Iman secara bahasa adalah : pengakuan/penetapan terhadap sesuatu dari apa
yang ia benarkan.(Syarah Aqidah Wasithiyah lil Ustaimin : 1/54)

8
a. Kufur
Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur
adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya
atau tidak mendustakannya.
b. Nifaq

‫ )ساَلننسفا ه‬berasal dari kata ‫نمسفاقا ا وهمسنافسقسةا‬-‫ق‬


Nifaq (‫ق‬ ‫ سنافس س‬yang diambil dari kata
‫يهسنافم ه‬-‫ق‬
‫( اَلسنافمقسققاهء‬naafiqaa’). Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang
tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia
dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan
‫( اَلنسفس ه‬nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.
pula, ia berasal dari kata ‫ق‬
Nifaq menurut syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan
kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian
karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.
Karena itu Allah memperingatkan dengan firman-Nya:
‫إمسن اَعلهمسنافممقيسن هههم اَعلسفامسهقوُسن‬
“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu mereka adalah orang-orang yang fasiq.”
[At-Taubah: 67]

c. Syirik
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah serta Asma dan Sifat-Nya. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Syirik ada dua macam; pertama syirik dalam
Rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta,
sebagaimana firman-Nya:

‫ت سوسل مفي اَعلسعر م‬


‫ض سوسما لسههعم‬ ‫ام ِهَّلل سل يسعملمهكوُسن ممعثسقاسل سذسرةة مفي اَلسسسماسواَ م‬
‫قهمل اَعدهعوُاَ اَلسمذيسن سزسععمتهعم ممعن هدومن س‬
‫ك سوسما لسهه ممعنههعم ممعن س‬
‫ظمهيةر‬ ‫مفيمهسما ممعن مشعر ة‬
“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah,
mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan
mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi

9
dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’”
[Saba’: 22]
E. Sebab-Sebab Munculnya Aliran Khawarij Dan Murji’ah
a. Aliran Khawarij
Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah
bin Abbas sebagai delegasi juru damai (hakam) nya, tetapi orang-
orangKhawari’j menolaknya. Mereka beralasan bahwa Abdullah bin Abbas
berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali
mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara
berdasarkan kitab Allah. Keputusan tahkim, yakni Ali diturunkan dari jabatannya
sebagai khalifah oleh utusannya, dan mengangkat Mu’awiyahmenjadi khalifah
pengganti Ali. Mereka membelot dengan mengatakan,”Mengapa kalian
berhukum pada manusia. Tidak ada hukum selain hukum yang ada disisi Allah.
“Imam Ali menjawab, “Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan
dengan keliru. “Pada saat itu juga orang-orang khawari’j keluar dari pasukan Ali
dan langsung menuju Hurura. Itulah sebabnya Khawari’j disebut juga dengan
nama Hururiah.Kadang-kadang mereka disebut dengan Syurah dan Al-Mariqah.
Di Harura, kelompok Khawarij ini melanjutkan perlawanan
kepada Muawiyah dan juga kepada Ali.

Doktrin-Doktrin Pokok Khawarij


Doktrin-doktrin pokoknya antara lain:
a. Doktrin politik
1) Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam
2) Khalifah tidak harus berasal dari keturunan arab. Dengan demikian setiap
orang muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat.
3) Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil
dan menjalankan syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau
melakukan kezaliman.

10
4) Khalifah sebelum Ali (Abu Bkar, Umar, dan Utsman) adalah sah. Tetapi
setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman r.a. dianggap telah
meyeleweng.
5) Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim), ia dianggap
telah menyeleweng.
6) Muawiyah dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap
menyeleweng dan telah menjadi kafir
7) Pasukan Perang Jamal yang melawan Ali juga kafir
b. Doktrin Teologi dan Sosial
1) Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim, sehingga harus
dibunuh. Mereka juga menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi
kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir
dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula
2) Adanya Wa’ad dan Wa’id (orang yang baik harus masuk surge, sedangkan
orang yang jelek harus masuk neraka)
3) Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka
4) Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng
5) Amar ma’ruf nahi munkar
6) Memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak mutasabihat (samar)
7) Qur’an adalah makhluk
8) Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.

b. Aliran Murji’ah
1. Pengertian dan Latar Belakang Kemunculan Murji’ah
Nama Murji’ah diambil dari Al-Irjo’ atau arja’a yang bermakna
penundaan, penanggungan dan pengharapan. Dengan demikian, mereka berdiri di
seberang yang berlawanan dengan Khawarij dan aqidah mereka kebalikan yang
sempurna dari aqidah Khawarij, Mazhab mereka ini dapat diungkapkan dengan
bahasa kekinian sebagai Mazhab Tasamu (toleransi), yakni toleransi agama antara
kelompok orang mukmin dalam batas-batas Islam. Tidak ada saling mengkafirkan
dan tidak ada pula saling mengutuk.

11
Kelahiran Firqah Murji’ah tidak begitu jelas,tetapi dapat dibatasi
waktu munculnya yaitu pada dekade-dekade terakhir dari abad
pertama. Firqah ini lahir ini sebagai efek antitesis atau reaksi terhadap
kehiperbolisan khawarij dalam aqidah mereka dari segi pengafiran dan
keberkerasan bahwa amal adalah bagian yang tidak terpisahkan dari iman.
Menurut Khawarij pelaku dosa besar bukanlah seorang mukmin. Orang-
orang Murji’ah mengatakan pendapat yang sebaliknya, iman adalahma’rifatullah
(mengenal Allah) tunduk, dan cinta kepada-Nya dengan hati. Adapun ketaaatan-
ketaaatan lain selain itu bukanlah dari iman dan meninggalkannya tidak merusak
hakikat iman,tidak disiksa apabila iman tersebut murni dan keyakinan
benar.Pendapat ini diriwayatkan dari Yunus bin Aun an Numairi, yaitu salah
seorang pelopor pendiri mazhab ini dan kepadanya dinisbatkan Firqah Yunusiyah
dari Murji’ah.
Diantara pendapat-pendapat mereka yang mahsyur sebagai peribahasa
dari mereka adalah maksiat atau kedurhakaan tidak merusak selama beriman,
sebagaimana ketaatan tidak berguna selama beriman, sebagaimana ketaatan tidak
berguna bersama kekafiran. Muqatil bin Sulaiman berkata, dia termasuk
golongan ini, “Bahwasanya kemaksiatan tidak akan merusak neraka, “Ghassan al
Kufi mengatakan, “Iman itu bertambah dan tidak berkurang”
2. Doktrin-doktrin Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau
doktrin irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik
persoalan politik maupun teologis. Di bidang politik,
doktrin irjadiimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang
hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam. Adapun di bidang teologi,
doktrin irja dikembangkan Murji’ah ketika menanggapi persoalan-persoalan
teologis yang muncul saat itu. Pada perkembangan berikutnya, persoalan-
persoalan yang ditanggapinya menjadi semakin kompleks sehingga mencakup
iman, kufur, dosa besar dan ringan (mortal and venial sains), tauhid, tafsir Al-
Qur’an, ekskatologi, pengampunan atas dosa besar, kemaksuman nabi (the
impeccability of the profhet), hukuman atas dosa (punishment of sins), ada yang

12
kafir hakikat Al-Qur’an, nama dan sifat Allah, serta ketentuan Tuhan
(predestination).

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah membaca dan menganalisis makna tauhid, pembagian tauhid, arti
pentingnya mempelajari tauhid, dan kewajiban tauhid, penulis dapat menarik
kesimpulan:
Kewajiban kita layaknya manusia hanya menyembah kepada Allah SWT
saja. Allah swt telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam
semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepada-Nya. Allah juga
membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan
rizki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-
Nya.
Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun
asal fitroh ini dirusak oleh bujuk rayu setan yang memalingkan dari tauhid dan
menjerumuskan ke dalam syirik. Para setan baik dari kalangan jin dan manusia
bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.
Sehingga dari hal tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa makna tauhid
adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Aplikasi Tauhid
bahwasanya berilmu dan mengetahui serta mengenal tauhid itu adalah kewajiban
yang paling pokok & utama sebelum mengenal yang lainya serta beramal (karena
suatu amalan itu akan di terima jika tauhidnya benar).

B. Saran

13
DAFTAR PUSTAKA

http://hamkaqolbu.blogspot.com/2013/03/makalah-ilmu-tauhid.html
https://hurie85.wordpress.com/2014/07/16/makalah-ilmu-kalam-khawarij-dan-
murjiah/
https://almanhaj.or.id/3262-syirik-dan-macam-macamnya.html
https://almanhaj.or.id/3164-nifaq-definisi-dan-jenisnya.html
http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-kufur-nikmat-dan-contohnya/

14