Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Tentang
STUDI AL QUR’AN

Disusun Oleh :

KELOMPOK V

NAMA : 1. SANGKOT SALMIAH

2. ROMALIANA

MATA KULIAH : METODOLOGI STUDI ISLAM

DOSEM PEMBIMBING : KASMAN, S.Pd.I., MA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


MANDAILING NATAL
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “STUDI
AL QUR’AN” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Studi Al Qur’an. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Panyabungan, Desember 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 1

A. Latar Belakang.............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................ 2

A. PENGERTIAN SURAH DAN AYAT............................................................ 2

B. PROSES PENGUMPULAN AL-QUR’AN................................................... 4

C. PENENTUAN NAMA, LETAK, TUJUAN................................................... 6

BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 8

Kesimpulan......................................................................................................... 8

`DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Al-qur’an merupakan salah satu kitab yang mempunyai sejarah panjang yang dimiliki
oleh umat Islam dan sampai sekarang masih terjaga keasliannya. Al-qur’an bukan hanya
sekedar menjadi bahan bacaan, akan tetapi Al-qur’an memiliki multifungsi dan selalu cocok
dengan fenomina dalam kehidupan ini, hal ini merupakan salah satu mukjizat yang dimiliki
oleh al-Qur’an.
Al-qur’an dalam pengumpulannya mempunyai dua tahap: tahap pertama yaitu tahap
pengumpulan al-qur’an dalam arti menghafal pada masa nabi, tahap kedua pengumpulan al-
quran dalam arti penulisan al-qur’an pada masa nabi, hal ini dinamakan pengahafalan dan
pembukuan tahap pertama. Setelah wafatnya Nabi proses pengumpulan al-qur’an terus
dilaksanakan oleh para khalifah sehingga terbentuklah yang namanya “mushaf usmani”
seperti yang ada pada sekarang ini.
Penyebaran islam bertambah luas membuat dan para qurra pun tersebar dan itu memiliki
latarbelakang yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan dalam tatacara membaca al-
Qur’an sejalan dengan perbedaan “huruf” yang dengannya huruf diturunkan. Hal ini
menimbulkan kecemasan dikalangan sahabat tak terkecuali khalifah pada waktu itu yaitu
Usman bin Affan, melihat kejadian hal itu khalifah Usman memerintahkah dan mengirimkan
utusan kepada Hafsah (untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah
pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman mamanggil Zaid bin
Zabit al-Ansari, Abdullah bin Zabair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam,
ketiganya adalah orang quraisy (al-Qattan; 2007:193).
Khalifah Usman bin Affan memerintahkan kepada ketiga orang Quraisy itu untuk
menyalin dan memperbanyak al-Qur’an dengan satu pedoman dalam cara-cara membacanya,
hal ini telah disepakati oleh para sahabat. Setalah itu khalifah Usman mengembalikan
lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsa, dan mengirimkannya kepada wilayah masing-
masing satu mushaf, dan ditahan satu untuk di madinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal
dengan “Mushaf Imam”. Sebagaimana diriwayatkan terdahulu ” bersatulah wahai sahabat-
sahabat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur’an pedoman).”
Ibn Jabir dalam al-Qattan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Usman: “ Ia
menyatukan umat Islam dalam satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain di sobek.
Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf yang ‘berlainan’
dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut (al-Qattan; 2007:196).

B. LATAR BELAKANG MASALAH


1. Pengertian surah dan ayat
2. Kontroversi jumlah dari ayat
3. Penentuan letak, nama, dan tujuan
Dengan makalah ini diharapkan kepada pembaca dapat dijadikan sumber pengetahuan
tentang sebagian karakteristik yang dimiliki oleh-Alqur’an, dan diharapkan kritik dan saran
untuk kesempurnaan penulisan makalah ini.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SURAH DAN AYAT


Al-qur’an didalamnya terdiri dari Surah-surah dan ayat-ayat yang pendek maupun
ayat yang panjang.
1. Surah
Sura jamaknya Suwar berasal dari bahasa Ibrani yaitu Shurah yang artinya
suatu deratan “bekas” batu bata di dinding dan bekas pepohonan anggur ada juga
pendapat lain bahwa Sura terambil dari kata Siria (Suira) yang bermakna tulisan teks
kitab suci atau bahkan kitab suci (Watt; 1995:90).
M. Hadi Ma’rifat berpendapat dalam bukunya bahwa Surah berasal dari kata
Sural Balad artinya dinding yang mengitari kota (2007:117). Istilah surah digunakan
karena setiap surah mengandung atau membatasi ayat-ayat al-Qur’an, hal ini seperti
halnya diding kota yang membatasi rumah-rumah.
Menurut Ibnu Faris berpendapat dalam Ma’rifat bahwa makna surah, adalah
ketinggian dan Sa^ra Yas^uru yang berarti marah dan bergejolak. Setiap tingkat dari
suatu bangunan juga disebut dengan nama surah. Surah bisa juga diartikan potongan
atau sisa sesuatu, sebagaimana Abu Futuh dalam Ma’rifat bahwa mahmuz, berasal
dari su’rul ma’ yaitu sisa air dalam sebuah wadah. Orang-orang berkata, As’artu fil
Ina (apabila kamu menyisakan sesuatu didalam wadah) (2007:117).
Manna-‘ Khali-l al-Qatta-n berpendapat dalam bukunya bahwa surah adalah
sejumlah ayat al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan (2007:205).
Sudah jelas sekali bahwa pengertian surah adalah potongan-potongan al-Qur’an
yang terdiri dari sejumlah ayat yang mempunyai permulaan dan kesudah.

2. Ayat
Ada sejumlah pendapat dalam mendefinisikan ayat salah satunya berpendapat
bahwa ayat adalah alamat sebagaimana firman Allah Swt:
         
 
Artinya : Dan Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu ayat-
ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan
orang-orang yang fasik ( Al-Baqorah; 99. Depag; 27).
Di ayat lain Allah Swt, berfiman mendifinisikan tentang ayat:
        
 
Artinya: Itu adalah ayat-ayat dari Allah, kami bacakan kepadamu
dengan hak (benar) dan Sesungguhnya kamu benar-benar salah
seorang di antara nabi-nabi yang diutus ( Al-Baqorah; 252.
Depag; 62).
M. Hadi Ma’rifat juga berpendapat bahwa ayat al-Qur’an adalah petunjuk
kebenaran firman Allah Swt, Atau setiap ayat mengandung hukum atau hikmah dan
nasihat yang menjelaskannya (2007:118).

2
Selain itu, ayat berati tanda, Mukjizat kata ini berkait dengan
kata ibrani yaitu O-th dan Siria atha- dan tanda jelas pengertian
dasar (Watt;1995:95).
Manna-‘ Khali-l al-Qatta-n juga berpendapat bahwa ayat adalah sejumlah kalam
Allah yang terdapat dalam surah dari al-Qur’an (2007:205).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut ayat adalah suatu
tanda-tanda kalam Allah yang menjelaskan tentang, hukum, nasehat yang terdapat
dalam sebuah surah dari al-Qur’an.

3. Kontrofersi Jumlah Ayat


Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat-ayat al-Quran, alasannya
adalah ketika mengujarkannya, terkadang Rasulullah Saw berhenti di ayat tertentu
dan tidak melanjutkan bacaannya. Seolah ayat yang dibaca Rasulullah telah selesai,
karena dalam bacaan lain seringkali beliau terus melanjutkan bacaannya tanpa
berhenti hingga selesai.
Dinukil dari Ibnu Abbas bahwa semua ayat-ayat al-Quran berjumlah 6.600
ayat. Semua hurufnya berjumlah 320.671. Ada yang berpendapat bahwa kalimat al-
Quran bejumlah 77.277, sebagian lain berpendapat 77.934, pendapat yang lain lagi
adalah 77.434 kalimat.
Menurut Kufiyyin, riwayat yang paling sahih dan pasti tentang jumlah ayat al-
Qur’an adalah 6.236. riwayat ini dinukil dari Ali bin Abi Thalib. Jumlah ini seperti
jumlah yang terdapat dalam mushaf asy-Syarif. Hitungan ini berdasarkan pendapat
bahwa Bismillahirrohmanirrohim dalam surah al-Hamdu dihitung sebagai satu ayat,
namun tidak demikian dalam surah-surah yang lain. Huruf Muqaththa’ah dalam
awal-awal surah juga dihitung satu ayat. Namun jumlah ayat-ayat yang ada dalam
setiap surah masih diperselisihkan (Hadi Ma’rifat, 2007 : 126).
Abu Abdurrahman As-Salmi, salah seorang ulama Kufah, menyebutkan bahwa
ayat-ayat Al-Qur’an berjumlah 6.236 ayat. Jalaluddin As-Suyuti, seorang ulama tafsir
dan fiqh, menyebutkan 6.000 ayat. Imam Al-Alusi menyebutkan 6.616 ayat.
Perbedaan pandangan mereka dalam hal ini tidak disebabkan karena perbedaan
mereka menyangkut ayat-ayatnya, tetapi disebabkan oleh perbedaan cara mereka
menghitungnya. Apakah basmalah dihitung pada masing-masing setiap surat atau
dihitung satu saja. Apakah setiap tempat berhenti merupakan satu ayat atau bagian
dari ayat. Apakah huruf-huruf hijaiyah pada awal surat merupakan ayat yang berdiri
sendiri atau digabung dengan ayat sesudahnya. Demikian seterusnya, sehingga
timbul perbedaan di kalangan ulama.
Menurut Az-Zarqani dan Subhi As-Salih, ayat-ayat yang terakhir turun adalah
Ayat 281 dari S. Al-Baqarah [2]. (Ahmad Thib Raya).
Perbedaan pendapat ini timbul karena perbedaan masa para sahabat
mendengarkan ayat yang disampaikan Nabi.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dari ayat pertama surat pertama (S. Al-
Fatihah) sampai dengan ayat terakhir surat terakhir (S. An-Nas) disusun secara
tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Allah dan
Rasulullah Saw, tidak berdasarkan ijtihad para sahabat.

3
Pengelompokan Al-Qur’an berdasarkan ayat-ayat mengandung beberapa
hikmah. Di antara hikmah-hikmah itu ialah:
1. Untuk memudahkan mengatur hafalan dan mengatur waqaf (berhenti)
berdasarkan batas-batas ayat; dan
2. Untuk memudahkan penghitungan jumlah ayat yang dibaca pada saat melakukan
shalat atau khutbah.
Dilihat dari periode turunnya, ayat-ayat Al-Qur’an oleh para ulama
dikelompokkan atas ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. Terdapat tiga pendapat
para ulama dalam memberikan pengertian Makkiyyah dan Madaniyyah.
Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat
Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya, walaupun sesudah
hijrah, dan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun di Madinah.
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Makkiyyah ialah
ayat-ayat yang ditujukan kepada masyarakat Mekah yang antara lain ditandai dengan
ungkapan yâ ayyuhan-nâs (‫س‬ ‫ )يآأهيَيههاَّال ننناَّ س‬dan yang Madaniyyah ialah ayat-ayat yang
turun untuk ditujukan kepada masyarakat Madinah yang sudah beriman, yang antara
lain ditandai dengan ungkapan yâ ayyuhal-ladzîna âmanû (‫)يآ أهيَيههاَّ النذذويهن آهمنسووا‬.
Pendapat ketiga, merupakan pendapat yang populer, menyatakan bahwa ayat
Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad Saw. berhijrah ke
Madinah walaupun turunnya di tempat selain Mekah, sedangkan ayat-ayat
Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun sesudah hijrah walaupun turun di Mekah.
Dilihat dari segi jumlahnya, ayat-ayat Makkiyyah lebih banyak dibandingkan
dengan ayat-ayat Madaniyyah. Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berjumlah 6.236 itu,
ayat-ayat Makkiyyah berjumlah 4.726 buah, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah
berjumlah 1.510 buah. Ini berarti bahwa tiga perempat dari jumlah ayat-ayat Al-
Qur’an adalah Makkiyyah.

4. Pembagian surah-surah dan ayat


Al-qur’an yang terdiri dari surah-surah dan ayat-ayat yang bermacam-macam
jenisnya ada yang pendek ataupun yang panjang ini masih diklasifikasikan menjadi 4
bagian: At-Tiwal, Al-Mi’un, al-Masani, dan al-Mufassal (al-Qatta-n; 2007: 49)
Di buku lain juga diterangkan bahwa surah-surah dan ayat-ayat dalam mushaf
al-Qur’an itu di bagi enam bagian: Sab’un Tiwal, Miin, Matsani, Hawamin,
Mumtahat, dan Mufasshalat (Ma’rifat; 2007: 124).

B. PROSES PENGUMPULAN AL-QUR’AN


Qur’an merupakan kitab suci bagi seluruh umat Islam yang terdiri dari suku-suku,
bangsa-bangsa, dan berbagai macam latar kebudayaan tidak dapat dirubah sesuai dengan
kondisi al-Qur’an berada, akan tetapi al-Qur’an tetap pada ke-khasannya yang bercirikhas
yaitu berbahsa arab dalam bentuk penulisannya. Hal ini merupakan salah satu mukjizat
yang dimiliki oleh al-Qur’an.

AI-Qur'an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( ), maka ajarkanlah


menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.

4
         
       
   
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran
Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.Sesungguhnya atas
tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya.Apabila kami Telah selesai
membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.

Dalam hakekatnya pengumpulan al-Qur’an telah dilakukan sejak zaman Rasullah


akan tetapi proses pengumpulannya tidak sama, pengumpulan al-Qur’an pada zaman Nabi
Muhammad Saw, pengumpulan al-Qur’an pada zaman Khalifah Abu Bakar As-siddiq, dan
yang terakhir pengumpulan al-Qur’an pada zaman Khalifah Ustman bin Affan. Akan
tetapi proses dari ketiga proses ini tidak sama.
Pada masa Nabi pengumpulan al-Qur’an dimaknai penghafalan dan pembukuan
yang pertama. Al-qura’an pada waktu itu dalam proses pewahyuan sehingga Rasulullah
tidak memerintahkan untuk membentuk menjadi satu mushaf, karena pada waktu itu
terkadang masih ada ayat me-nasihk (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.
Pengumpulan al-Qur’an yang dilakukan dengan penghafalan hanya ada 7 orang
sahabat yang memenuhi kriteria penghafalan, sebagaimana sabda Nabi:

Artinya: Aku telah bertanya kepada Anas bin Malik: siapakah orang yang
hafal al-Qur’an di masa Rasulullah? Dia menjawab: semuanya dari
kaum Ansar; Ubai bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin sabit dan Abu
Zaid.’ Aku bertanya kepadanya: ‘siapakah Abu Zaid itu?’ ia
manjawab: salah seorang pamanku’ (Shahih Bukhari dalam al-Qatta-
n; 2007:180)
Di lain hadits juga ditertangkan yang diriwayatkan melalui sabit, dari anas yang
mengatakan:

Artinya: Rasulullah wafat sedang al-Qur’an belum dihafal kecuali oleh empat
orang: Abu Darda’, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Sabit dan Abu Zaid
(Shahih Bukhari dalam al-Qatta-n ; 2007:180).
Dalam hal lain, Nabi juga mengangkat para penulis wahyu Qur’an dari sahabat-
sahabat terkemuka seperti Ali, Muawiyah, Ubai bin Ka’b dan zaid bin Sabit (al-Qatta -n ;
2007:185186). Disamping itu para sahabat juga menulis dengan kemauan sendiri tanpa
diperintah oleh Nabi, dan menulisnya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar,
kulit dan daun kayu, pelana, dan potongan tulang belulang binatang. Zain bin Sabit
berkata: “kami menyusun al-Qur’an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang (al-Hakim
dalam al-Qatta-n ; 2007:186).

5
Pengumpulan pada masa Khalifah Abu Bakar As-siddiq dilatarbelakangi oleh
ketakutan Abu Bakar yang semakin sedikitnya para sahabat yang hafal al-Qur’an yang
banyak menjadi korban perang Yamamah, sekitar tujuh puluh qori’ dari para sahabat
gugur (al-Qatta-n ; 2007:188). Dari kekawatiran tersebut Umar bin Khattab menghadap
khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an dan membukukannya.
Setelah itu, pada tahap pengumpulan yang ketiga pada yaitu pada masa
pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya
perbedaan dalam membaca sejalan dengan perbedaan “huruf” yang dengannya al-Qur’an
diturunkan. Ketika terjadi peperangan Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Irak,
diantara yang menyerbu kedua tempat itu Huzaifah bin al-Yaman, diceritakan bahwa
banyak sekali perbedaan dalam cara-cara membaca dan itupun bercampur dengan
kesalahannya dan diantara mereka saling mempertahankanya sampai saling mengkafirkan
(al-Qatta-n ; 2007:192).
Hal inilah yang mendorong Khalifah Ustman bin Affan untuk membuat satu mushaf
yang sampai sekarang disebut dengan mushaf Usman.

C. PENENTUAN NAMA, LETAK, TUJUAN


Al-qur’an terdiri atas surah-surah dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang
panjang. Manna-‘ Khalili-l Al-Qatta-n dalam bukunya berpendapat bahwa urutan surah-
surah dan ayat-ayat al-Qur’an adalah ketentuan dari Rasululah (Tauqifi). Dan hal ini
Rasulullah tidaklah akan sembarangan karena al-Qur’an adalah firman Allah dan menjadi
ruh bagi agama islam, sebagaiman firman Allah Swt, dalam surah Al-Qiyamah.
       
     
Artinya : Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah
selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya (Depag: Al-
Qiyamah;998:1719).
Al-Kirmani dalam al-Burhan yang dikutip oleh al-Qatta-n mengatakan:
“ Terrtib surah yang kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada
Lauhul Mahfudz, Qur’an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini
pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun apa yang
dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan di hadapan Jibril
menurut tertib ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali. Dan
ayat yang terakhir laki turun ialah: dan periharalah dirimu dari (azab
yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan
kepada Allah (al-Baqorah:281). Lalu Jibril memerintahkan kepadanya
untuk meletakkan ayat ini di antara ayat riba dan ayat tentang utang-
piutang” (2007:49)
Dalam penamaan, peletakan, dan tujuan dari penyusunan al-
Qur’an menjadi mushaf yang seperti yang kita lihat dan dibaca pada
sekarang ini tidak ada pendapat dari ulama atau pendapat para ahli al-
Qur’an menyebutkan alasan yang secara spesifik memberikan alasan

6
dalam penamaan, tujuan, serta letaknya dari surah-surah dan ayat-
ayat. Hal itu semua sudah ditentukan oleh Nabi sebagimana wahyu
yang diterima dari Allah, dan juga dari surah-surah itu kebanyakan
memiliki satu nama, ada sebagian surah yang memiliki dua atau
beberapa nama seperti:
1. Surah al-Hamdu memiliki nama lain Fatihatul Kitab,Ummul Kitab
dan Sab’ul Matsani. Jalaluddin Suyuthi menyebutkan lebih dari dua
puluh nama surah ini (dalam Ma’rifat;2007:123)
2. Ummul Kitab
3. At-taubah nama lainnya al-Bara’ah
4. Al-Isra’ nama lainnya Subhan, Bani Israel
5. An-Naml nama lainnya Sulaiman
6. Al-Ghafir nama lainnya al-Mu’min
7. Fushilat nama lainnya as-sajdah
8. Muhammad nama lainnya al-Qital
9. Al-Mulk nama lainnya Tabarak
10. At-Tauhid nama lainnya al-Ikhlash (Ma’rifat;2007:123).

Begitu juga M. Hadi Ma’rifat menjelaskan bahwa alasan penamaan


sebagian dari surah-surah itu antara lain:

Nama Surah Alasan Penamaan


Penggunaan lafadzh baqarah (sapi betina) dan pembahasan
tentangnya hanya ada dalam surah ini. Meskipun lafazh al-baqarah
Al-baqarah tercantum dalam surah al-An’am ayat 144 dan 146, dan lafazh
baqarat tercantum dalam surah Yusuf ayat 42 dan 46, namun tidak
sedetail di surah al-Baqarah.
Lafadz Ali Imran hanya disebutkan sebanyak dua kali dalam surah
Ali Imran
ini (ayat 33 dan 35) dan tidak disebutkan di surah lain
Surat ini menjelaskan hukum-hukum tentang wanita dalam tujuh
An-Nisa
belas ayatnya.
Lafadz Maidah hanya disebut dalam surah ini saja, yaitu ayat 112
Al-Maidah
dan 114 dan tidak disebutkan di surah lainnya.
Satu-satunya surah dalam al-Qur’an yang membahas tentang Nabi
Yunus
Yunus.
Al-isra’ Satu-satunya surah yang membahas tentang isra’
An- Nahl Satu-satunya surah yang membahas tentang lebah.

Dari table diatas sedikit kita pahami bahwa penamaan dan tujuan
dari surah-surah itu kalau kita analogikan dengan tata cara penulisan
dari kaidah bahasa Indonesia bisa kita simpulkan bahwa nama-nama
surah itu adalah tema, ataupun ide pokok dari suatu karangan.

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Secara umum al-Quran merupakan kitab suci berisi firman Allah yang
diturunkan kepada nabi besar kita” Nabi Muhammad S.A.W” dan didalamnya tidak
pernah ada keraguan sedikitpun. Oleh karena itu kita sebagai umat muslim, seharusnya
lebih memahami dan mengerti akan isi kandungan dari al-Quran. Ada banyak versi
tentang bagaimana turunannya al-Quran tapi yang paling diketahui oleh banyak
masyarakat adalah penurunannya al-Quran kepada Nabi Muhammad diperantarai oleh
Malaikat Jibril.

Al-Quran memiliki beberapa fungsi antara lain : sebagai sumber utama,


penerang, penunjuk, nasehat, sumber informasi, pembeda antara benar dan salah,
penyembuh penyakit hati, serta sebagai peringatan. Selain memiliki fungsi, al-Quran
juga memiliki kedudukan yakni sebagai mukjizat dan sumber utama sejarah. Al-Quran
juga menceritakan kisah islamnya Umar bin Khattab sampai kepemimpinan Usman
bin affan.
Setelah nabi Muhammad SAW wafat, al-Quran pertama kali dikumpulkan oleh Ali bin
Abi Thalib lalu disimpan oleh Abu Bakar lalu diwariskan kepada Umar bin Khatab
kemudian Hafshah binti Umar.
Pada masa kepemimpinan Usman bin Affan, mushaf yang ditulis pada masa Abu
Bakar disalin kembali menjadi beberapa mushaf lalu dikirimkan ke berbagai kota dan
daerah. Mushaf ini diberi nama mushaf usmani yang masih kita gunakan hingga saat
ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

Ahnan Maftuh, Balkiah, Kamus Al-Munir CV.Anugerah Surabaya. 1991

al-Qatta-n Khali-l Manna-‘, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Trj. Mudzakir, Litera Antar Nusa. Halim

Jaya, Bogor,2007

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 1971.

Ma’rifat Hadi, Sejarah Al-Qur’an, Al-Huda, Jakarta, 2007.

Watt Montgomery, Pengantar Studi Al-Quran, RajaGrafindo, Jakarta, 1995

Syadali Ahmad, Rofi’i, Ulumul Qur’an I, CV. Pustaka Setia Bandung. 1997