Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Tentang
KONSEP TA’ABBUDI DA TA’ABBUDI GHAIRU

Disusun Oleh :

KELOMPOK VI

NAMA : 1. YUSNAH
2. SHERLI DAMAYANI
3. SOLAHUDDIN
MATA KULIAH : USHUL FIQIH
DOSEM PEMBIMBING : SAMSIAH, S.Pd.I, M.Pd

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


MANDAILING NATAL
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang KONSEP
TA’ABBUDI DA TA’ABBUDI GHAIRU dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Konsep Ta’abbudi Da Ta’abbudi Ghairu. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Panyabungan, November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 2

2.1 Pengertian Ta’abbudi .................................................................................... 2

2.2 Objek Ta’abbudi ........................................................................................... 3

2.3 Peranan Nalar dalam Bidang Ibadah Dan Bidang Sosial ............................. 4

2.4 Hukum Islam Bersifat Ta’abbudi dan Ta’aqquli .......................................... 6

BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 7

3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 7

`DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ibadah dilihat dari segi jenisnya terbagi menjadi dua, pertama adalah Ta’abbudi;
yaitu ibadah yang tidak ada alasannya kenapa dilakukan, seperti shalat mahgrib dikerjakan
dengan tiga rakaat, karena hal itu sudah ketetapan dari Allah bahwa shalat maghrib
dilaksanakan tiga rakaat.<>
Kedua adalah Ta’aqquli; yaitu ibadah yang ada sebab dan alasannya, seperti
membersihkan anggota badan dari najis, karena jika terdapat najis pada anggota badan
seseorang maka ia harus membersihkannya terlebih dahulu jika hendak menjalankan shalat.
Sebagaimana terdapat dalam Kitab Taisir Ilmi Ushulil Fiqh karya Imam Al-Anazi,
Ta’abbud adalah jenis ibadah yang tidak sebab dan alasannya, sedangkan
Ta’aqquli adalah ibadah yang ada sebab dan alasannya.
Kedua jenis ibadah ini senantiasa harus dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh syara’, semisal menjalankan shalat subuh dua rakaat, maka seseorang
tidak boleh menjalankannya menjadi tiga rakaat atau lebih karena ketentuan dua rakaat adalah
ketetapan dari Allah dan tidak perlu ada pertanyaan kenapa harus dikerjakan dua rakaat.
Terkadang kita dapati seseorang mencari sebab dan alasan kenapa ibadah ini
dikerjakan demikian, lalu ia berdalih selama tidak menemukan sebab dan alasan ia tidak
mengerjakan ibadah tersebut, maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena jenis ibadah yang
Ta’abbudi memang tidak memberi ruang gerak pada akal untuk mencari-cari kenapa dan
mengapa, tetapi kerjakan saja sebagaimana ia diperintahkan.
Demikianlah ketentuan dua jenis ibadah yang mempunyai dua pengertian berbeda
namun harus dikerjakan semuanya, jika seseorang tidak mengetahui kenapa shalat isya’
dikerjakan empat rakaat, kenapa shalat maghrib hanya tiga rakaat, kenapa shalat subuh hanya
dua rakaat, maka kita kembalikan pada asalnya bahwa shalat isya’, maghrib dan subuh adalah
wajib hukumnya, dan tidak ada dalih untuk tidak mengerjakan hanya karena tidak mengetahui
alasannya.

1. 2 Rumusan Masalah
 Menjelaskan Pengertian Ta’abbudi
 Objek Ta’abbudi
 Peranan Nalar dalam Bidang Ibadah Dan Bidang Sosial

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN TA’ABBUDI


a. Secara Global
Kata ta‘abbud bersumber dari akar kata (derivat) ‘abd dan ‘ubudiyyah yang bermakna
ibadah dan penghambaan. Dalam riwayat juga disebutkan dengan makna yang sama. Para
juris dan ahli syariat menggunakan makna ta’abbud dalam beberapa makna lain.
Salah satu hal yang di dalamnya menggunakan terma ta’abbud adalah sesuatu yang
tidak memerlukan dalil.
Prinsip-prinsip agama dan akidah setiap orang harus berdasarkan dalil. Namun dalam
hal-hal cabang (furu’) telah memadai apabila disebutkan bahwa hukum tersebut bersumber
dari Allah Swt dan tidak memerlukan riset, nalar, mengetahui sebab dan falsafahnya.
Terkadang kita ditanya tentang misalnya mengapa salat Subuh itu harus dikerjakan sebanyak
dua rakaat? Dalam menjawab pertanyaan ini kita berkata bahwa masalah ini adalah masalah
ta’abbudi (harus kita terima dan tidak memerlukan penalaran).
Di kalangan ahli ilmu Ushul Fikh juga menggunakan wajib ta’abbudi sebagai lawan
dari wajib tawasshuli; artinya sebuah kewajiban supaya tepat dan benar di sisi Allah maka
disyaratkan adanya niat untuk taqarrub dan mengikhlaskan amalan semata-mata untuk Allah
Swt; misalnya salat, puasa, haji dan lain sebagianya.
Wajib tawasshuli adalah sebuah kewajiban yang datang dari sisi Allah Swt yang tidak
memerlukan syarat qurbah (niat taqarrub) dan niat ikhlas meski supaya kewajiban tersebut
diterima dan untuk memperoleh pahala, niat untuk ber-taqarrub (qurbah) tetap menjadi syarat;
misalnya menguburkan jenazah, mencuci pakaian dan lain sebagainya.

b. Secara detail
Kata ta’abbud bersumber dari akar kata (derivat) ‘abd dan ‘ubudiyyah yang bermakna
penyembahan dan penghambaan.[1] Dalam riwayat juga disebutkan dengan makna yang
sama. Para juris dan ahli syariat menggunakan makna ta’abbudi dalam beberapa makna lain.
Namun di kalangan ahli syariat dan juris, ta’abbudi disebutkan dengan makna lain
sedemikian sehingga tetap terkait dengan makna leksikalnya (lughawi).
Salah satu masalah yang di dalamnya digunakan terma ta’abbudi adalah hal-hal yang
tidak membutuhkan dalil dan penalaran.
Tugas para hamba dan mukallaf terbagi menjadi bagian keyakinan dan bagian amalan
dimana yang pertama disebut sebagai ushuluddin dan yang kedua dinamai dengan furu’uddin.
2
Dalam masalah ushuluddin, keyakinan setiap orang harus berpijak dan bersandar pada
dalil[2] namun kebanyakan dalam hal-hal yang berkaitan dengan furu’uddin cukup ditetapkan
dengan dalil bahwa sebuah hukum berasal dari sisi Allah Swt telah memadai bagi seorang
mukallaf untuk beramal. Ia tidak lagi memerlukan penelitian, penalaran dan mengetahui sebab
serta falsafah hukum tersebut. Biasanya orang-orang bertanya mengapa salat Subuh itu harus
dikerjakan dua rakaat dalam menjawab pertanyaan seperti ini dikatakan bahwa hal tersebut
adalah masalah ta’abbudi (harus kita terima dan tidak perlu beragumentasi dan menalarnya).
Karena itu disebutkan bahwa instruksi-instruksi agama yang ditentukan dari sisi Allah
Swt adalah ta’abbudi.[3]

2.2 OBJEK TA’ABBUDI


Dalam kaitan ini ulama usul fiqh telah konsensus, bahwa hukum-hukum yang
berhubungan dengan masalah ibadah maḥḍah (murni) dan hal-hal yang ḍarūriyyah
termasuk dalam objek ta’abbudi.
Umat Islam tidak dapat dan tidak boleh melakukan interpretasi terhadap nas dan
hukum-hukum yang bersifat ta’abbudi, seperti jumlah rakaat salat lima waktu, puasa
Ramadan, kewajiban zakat, dan haji. Semua ketentuan itu bersifat mutlak dan manusia hanya
melaksanakannya saja sesuai dengan naṣ (al-Qur’an, hadis).
Demikian juga hukum-hukum ḍarūriyyah yang merupakan kebutuhan primer manusia
untuk mempertahankan eksistensinya dan mengembangkan fungsinya sebagai khalifah Allah
di bumi. Dalam hal ini, ada lima aspek ḍarūriyyah yang harus dipelihara umat manusia,
yaitu agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Semua ketentuan naṣ dalam aspek ini
bersifat ta’abbudi, tidak membutuhkan interpretasi akal manusia untuk memodifikasi atau
mengubahnya.
Di samping itu, beberapa aspek dalam hukum keluarga (al-aḥwāl al- syakhṣiyyah)
juga ada yang termasuk dalam kategori ta’abbudi, di antaranya ketentuan batas talak yang
dapat dirujuk oleh suami hanyalah dua kali (QS 2: 229), ketentuan tentang batas iddah atau
masa tunggu seorang istri yang ditalak suaminya (QS 2: 228, dan 234; QS 65: 4), sanksi
kaffarat terhadap pelaku ẓihār dan ila’ (QS 2: 226; 58: 2-4). Semua ini dijelaskan Allah secara
gamblang dan teperinci. Sehingga ketentuan ini tidak membutuhkan ijtihad.
Termasuk juga dalam objek ta’abuddi adalah hal-hal yang berkaitan dengan akhlak
yang bersifat permanen, misalnya kewajiban anak berbakti kepada kedua orang tuanya.
Kewajiban tersebut tidak dapat berubah walau salah satu atau kedua orang tuanya telah
murtad sekalipun. Dalam kaitan ini, Allah menegaskan dalam QS al-Isra’ (17): 23.

3
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-
duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya,
dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.’
Kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya itu merupakan salah satu
bentuk akhlak yang bersifat permanen atau qaṭ’i sebab tidak terbuka peluang anak boleh
durhaka kepada kedua orang tuanya. Kalaupun antara anak dan orang tua berbeda keyakinan,
namun perbedaan agama itu hanya mempengaruhi hubungan perdata—seperti perwalian dan
kewarisan—namun hubungan anak dengan orang tua tidak berubah karena di antara keduanya
terdapat hubungan darah (keturunan).

2.3 Peranan Nalar dalam Bidang Ibadah Dan Bidang Sosial

Pada dasrnya ajaran Islam dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, ajaran
Islam yang bersifat absolut, universal, dan permanen, tidak berubah dan tidak dapat berubah.
Termasuk kelompok ini adaah ajaran Islam yang tercantum dalam al-qur’an dan hadis
mutawatir yang penunjukannya telah jelas (qaṭ’i al-dilālah), kedua, ajaran Islam yang bersifat
relatif, tidak universal dan tidak permanen, melainkan dapat berubah dan diubah. Termasuk
kelompok kedua ini adalah ajaran Islam yang dihasilkan melalui proses ijtihad.[17] Kerangka
berfikir ini sering muncul dikalangan ahli usul fikih dan pakar pembaharuan dalam Islam.
Dikalangan ahli usul fikih dikenal dikotomi antara dalil qath’i dan dalil dzhanni, baik
eksistensinya (wurud) maupun penunjukannya (dalalah).[18]
Para ahli hukum Islam sepakat mengenai penggunaan al-Qur’an sebagai sumber
hukum yang utama dalam menentukan dan mengambil kesimpulan hukum. Mereka tidak
meragukan eksistensi (wurud) al-qur’an dari ayat yang pertama sampai ayat yang terakhir
diturunkan. Akan tetapi, ayat al-qur’an yang langsung menunjuk pada materi hukum sangat
terbatas jumlahnya. Menurut Abdul Wahab Khallaf, bahwaayat-ayat hukum dalam
bidang mu’amalah berkisar antara 230-250 ayat saja.[19] Sedangkan jumlah ayat al-qur’an
seluruhnya lebih dari 6000 ayat. Jadi jumlah ayat hukum dalam al-qur’an sekitar 3-4 persen
saja dari seluruh ayat al-qur’an. Bahkan menurut Prof. Dr. H. Rasjidi, ayat-ayat al-qur’an
yang mengandung hukum kurang lebih 200 ayat. Yakni sekitar 3 persen dari jumlah
sluruhnya.[20]
Dari jumlah ayat hukum yang sedikit itu pun para ahli hukum Islam berbeda
pandanagn terhadap beberapa ayat yang penujukannya tidak tegas (dzhanni al-dilalah). Ayat-

4
ayat seperti ini jumlahnya lebih banyak bila dibandingkan dengan ayat-ayat yang sudah tegas
penunjukannya (qath’i al-dilalah). Melalui ayat-ayat dalam bentuk pertama, mereka mencoba
membuat kesimpulan hukum atau penafsiran sesuai dengan pengetahuan kondisi dimana
mereka hidup. Selama tidak keluar dari arti lafal. Sementara itu, kecenderungan mereka
terhadap penggunaan hadis, sebagai sumber kedua hukum Islam, ternyata berbeda. Di antara
mereka ada yang berpegang kepada teks hadis dan adapula yang lebih banyak menggunakan
nalar ketimbang merujuk kepada hadis yang dianggapnya kurang kuat. Dalam sejarah hukum
Islam kelompok pertama dikenaldengan ahlu al-hadis sedangkan kelompok yang kedua
dikenal dengan sebutan ahlu al-ra’yi.[21]Oleh karena itu tidak heran kalau hasil ijtihad
mereka berbeda.
Berbeda dengan al-Qur’an, keberadaan hadis seringkali dipermasalahkan. Hanya hadis
yang sampaipada tingkat mutawatir sajalah yang eksistensinya sama dengan al-qur’an, karena
itu tidak dipermasalahkan lagi. Sedangkan hadis yang di bawah peringkat mutawatir
termasuk zhanni al-wurud, yang masih dapat dipertanyakan keberadaannya. Jumlah hadis
yang termasuk kelompok terakhir ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan hadis yang
masuk kelompok pertama. Mengenai penunjukannya, keadaan hadis pun sama dengan al-
qur’an. Adakalanya tegas penunjukannya dan adakalanya tidak tegas penujukannya.
Melalui celah-celah dari dalil yang zhanni baikwurud maupun dalalah-nya, para ahli
hukum Islam berupaya untuk menemukan kesimpulan hukum. Oleh karena bersumber dari
dalil zhanni, sudah dapat diduga bahwa kesimpulan hukumnya akan bersifa zhanni, dengan
demikian, hasil ijtihad seseorang atau sekelompok orang lebih banyak yang bersifat relatif,
tidak mutlak benar. Tidakada alasan bagi umat Islam untuk menjadikan hasil ijtihad seseorang
atau sekelompok orang sebagai kebenaran mutlak. Perbedaan pendapat dikalangan mereka
justru mencerminkan kerelatifan pendapat tersebut, sejauh berupa hasil pemahaman ahli fikih,
bisa jadi satu pendapat berbeda sama sekali dengan pendapat ahli fikih lainnya.[22]
Ajaran Islam yang termasuk kelompok yang kedua, yang dzhanni al-dilalah yang
relatif dan temporer itu telah memenuhi khazanah intelektual muslim dalam berbagai bidang,
mulai dari bidang tafsir dan hadis sampai bidang filsafat, teologi dan hukum Islam. Dalam
hubungan ini Harun Nasution secara ilustratif menyatakan,”kelompok ajaran Islam itu kecil di
zaman nabi, lebih besar di khulafaur rasyidin, lebih banyak di zaman bani umayyah, lebih
banyak lagi di zaman bani abbas, lebih banyak lagi di zaman bani utsman, begitulah
selanjutnya berkembang. Akan tatapi al-qur’annya itu-itu juga”[23]Pernyataan ini
menunjukkan bahwa kemungkinan mengadakan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam
yang bersifat relatif, termasuk dalam bidang hukumnya, sangat besar. Atas dasar itu pula
dapat dikatakan bahwa Islam sudah siap menghadapi persoalan modern.
5
Ada anggapan bahwa fikih Islam sebagai hasil ijtihad dari mujtahid terdahulu harus
diterima sebagai kebenaran yang mutlak. Mempertahankan fikih Islam berarti sama dengan
mempertahankan agama Islam secara keseluruhan.[24] Padahal, sesuai dengan pengertian
fikih itu sendiri, ilmu fikih bukanlah kebenaran yang mutlak, tidak semutlak ajaran
transendental yang murni (wahyu). Belum lagi kalau persoalan yang dikaji merupakan
persoalan yang sama sekali baru. Dalam hal ini kita tidak dapat bertumpu sepenuhnya pada
pendapat ahli fikih terdahulu, tetapi harus mencoba menyelesaikannya sesuai dengan keadaan
kita sekarang dengan tetap merujuk pada al-qur’an dan hadist.
Dalam bidang ibadah terkandung nilai-nilai ta’abbudi/ ghairu ma’qulati al-
ma’na irasional. Artinya manusia tidak boleh beribadah kecuali dengan apa yang
dishari’ahkan. Dalam bidang ini tidak ada pintu ijtihad bagi manusia. Sedangkan bidang
mu’amalah bersifat ta’aquly/ ma’qulati al-ma’na rasional. Artinya, umat Islam dituntut untuk
berijtihad guna membumikan ketentuan-ketentuan syari’ah tersebut.
Mencium Hajar Aswad ketika thawaf mengelilingi ka’bah merupakan ibadah yang
irrasional, sampai Umar bin Khatab sendiri mengatakan, “kamu adalah batu biasa, kalaulah
Rasul tidak menciummu, maka aku juga tidak akan mencimummu.” Meski ada usaha untuk
merasionalisasikannya, namun usaha tersebut sifatnya temporer, karena ia merupakan ijtihad
manusia yang akan selalu berubah dengan perubahan masa. Aspek irrasional dalam bidang
ibadah ini sebagian dari tujuannya adalah menunjukkan keterbatasan manusia.[25]

2.4 Hukum Islam Bersifat Ta’abbudi dan Ta’aqquli


Al-Syatibi menyatakan bahwa ta’abbudi adalah sesuatu di mana tujuan hukum dalam
melembagakan hukum untuk membebaskanMukallaf dari perintah-perintah hawa nafsunya
(hawa) agar dia menjadi hamba Tuhan dengan suka rela (ikhtiyaran)sebagaimana dia juga
hamba Tuhan secara alamiah (idhtiraran secara terpaksa).[8] Sedangkan ta’aqqul adalah
sebaliknya. Lebih jelasnya ta’abuddi adalah suatu bentuk ibadah yang tujuan utamanya untuk
mendekati diri kepada Allah, yakni beriman kepada-Nya dan segala konsekuensinya berupa
ibadah yang mengandung sifat ta’abbudi murni, artinya makan (ide dan konsep) yang
terkandung didalamnya tidak dapat dinalar (ghairu ma’qulah al-ma’na) atau supra-
rasional.[9] Manusia harus menerima apa saja yang telah diterapkan oleh syariat.
Kedua (yakni ta’aqquli) yang berbentuk dalam bidang muamalah.Ta’aqquli ini
bersifat duniawi yang maknannya dapat dipahami oleh nalar (ma’qulah al-ma’na) atau
rasional, maka manusia dapat melakukannya dengan bantuan nalar dan pemikiran manusia.
Sifat dari yang satu ini tidak memberatkan manusia untuk memahami suatu hokum yang
berlaku.
6
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Hukum islam adalah seperangkat aturan berdasarkan wahyu Allah dan
sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini
berlaku dan mengikat untuk semua ummat yang beragama islam, artinya
karakteristik dari hukum islam ada lah mutlak berdasarkan dari Wahyu Allah dan
Rasul-Nya berbeda dengan karakteristik hukum yang lain yang kadang
berdasarkan pada hawa nafsu belaka.
Untuk membedakan antara hukum Islam dengan hukum umum, maka
hukum Islam memiliki beberapa karakteristik terte ntu.Diantaranya: Sempurna,
Elastis, Universal, Dinamis, Sistematis, Hukum yang ditetapkan oleh al -Qur’an
tidak memberatkan, Menetapkan hukum bersifat realistis, Menetapkan hukum
berdasarkan musyawarah sebagai bahan pertimbangan, Sanksi didapatkan di
dunia dan di akhirat, Ta’abbudi dan Ta’aqqudi
Al-Syatibi menyatakan bahwa ta’abbudu adalah: dimana tujuan hukum
dalam melambangkan hukum untuk membebaskan mukallf dari perintah -perintah
hawa nafsunya (hawa) agar dia menjadi hamba tuhan dengan suka rela
(Ihtiyarran) sebagaimana dia juga hamba tuhan secara alamiah(idhthiraran, secara
terpaksa). Sedangkan ta’aqqul adalah sebaliknya.
Lebih jelasnya ta’abbudi adalah suatu bentuk ibadah yang tujuannya utama
untuk mendekati diri kepada Allah, yakni beriman kepada -Nya dan segala
konsekwensinya berup[a ibadah yang mengandung sifat ta’abbudi murni, artinya
makan (ide dan konsep) yang terkandung didalamnya tidak dapat dinalar( ghairu
ma’qulah al-ma’na) atau supra-rasional. Manusia harus menerima apa saja yang
telah ditetapkan oleh syariat.

7
DAFTAR PUSTAKA

http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa7625
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: PT. Karya Toha Putra. 2011).
http://halakmandailing.blogspot.com/
http://www.nu.or.id/post/read/58821/teks-dan-karakter-islam-nusantara
Poeponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Ed), Sejarah Nasional
IndonesiaII, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984).
Mochammad Achyat Ahmad.,dkk, Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj, (Sidogiri)
Azyumardi Azra, Islam Nusantara, (Jakarta : 2002)