Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Tentang
MAF’UL

Disusun Oleh :

NAMA : ANWAR LUBIS


ATIKAH NAINGGOLAN
MUHAMMAD ZUHDI
RISKI MUNIATI PLG
MATA KULIAH : BAHASA ARAB
DOSEN PEMBIMBING : Syamsiah, S.Pd.I., M.Pd

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


MANDAILING NATAL
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran dalam bahasa
Arab dan telah memberikan kemudahan dalam mempelajarinya.

Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa
Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang diutus dengan membawa ajaran dan
pedoman hidup yang baik untuk manusia di dunia dan akhirat.

Sebagai umat islam, kita dituntut untuk bisa mengkaji dan mempelajari
Al-Quran dan Sunnah, sebagai dua sumber utama ajaran islam yang harus kita
pegang teguh. Tentunya kita tidak mungkin memahami kedua sumber tersebut
kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa Arab, khususnya ilmu Nahwu
dan Sharaf, karena keduanya merupakan kunci dalam mempelajari Al-Quran dan
Sunnah.

Dalam makalah ini, penulis mencoba memberikan penjelasan tentang salah


satu objek kajian ilmu Nahwu yaitu tentang Maf”ul. Semoga dengan dibuatnya
makalah ini menjadi bekal yang bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi
penulis, untuk memperoleh berbagai kemudahan dalam mempelajari Al-Quran
dan Sunnah. Amin.

Walaupun demikian, penulis menyadari masih banyak kekurangan serta


keterbatasan dalam pembahasan makalah ini. Untuk itu saran serta koreksi sangat
penulis harapkan untuk memperoleh sebuah kesempurnaan di masa depan kelak.
Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.

Panyabungan, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1

A. Latar Belakang ......................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 3

1. Maf’ul Bih................................................................................ 3
2. Maf’ul Fiih ............................................................................... 3
3. Maf’ul Li Ajlih......................................................................... 4
4. Maf’ul Al-Muthlaq .................................................................. 4
5. Maf’ul Ma’ah ........................................................................... 5
6. Al-Hal ...................................................................................... 5
7. At-Tamyiz ................................................................................ 6
8. Al-Mustatsna ............................................................................ 6
9. Khobar kana dan saudara-saudaranya...................................... 7
10. Isim Inna dan saudara-saudaranya ........................................... 7
11. Al-Munada ............................................................................... 8
12. At-tawabi’ ................................................................................ 8

BAB III PENUTUP .................................................................................... 15

KESIMPULAN ............................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
‫ ( األسماء المنصوبات‬Isim-isim yang Manshub) semuanya berjumlah dua belas,
yaitu :

1. ‫( المفعول به‬Maf’ul Bih)

2. ‫( المفعول فيه‬Maf’ul Fiih)

3. ‫( المفعول ألجله‬Maf’ul Liajlih)

4. ‫( المفعول المطلق‬Maf’ul Al-Muthlaq)

5. ‫( المفعول معه‬Maf’ul Ma’ah)

6. ‫( الحال‬Al-Hal)

7. ‫( التمييز‬At-Tamyiz)

8. ‫( المستثنى‬Al-Mustatsna)

9. ‫( خبر كان أو احدى أخواتها‬khobar kana dan saudara-saudaranya)

ّ ‫( اسم‬isim inna dan saudara-saudaranya)


10. ‫ان أو احدى أخواتها‬

11. ‫( المنادى‬Al-Munada)

12. ‫( التوابع‬At-tawabi’)

Maf’ul Bih merupakan salah satu isim yang Manshub yaitu di fathah kan akhir
hurufnya. ‫( المفعول به‬Objek Penderita) adalah isim yang akan dibahas dalam
makalah ini. Dengan alasan terkadang kita sulit menentukan‫ المفعول به‬dalam
suatu jumlah mufidah atau dalam beberapa jumlah mufidah terutama dalam
ayat-ayat Al-Quran. Maka dari itu makalah ini disusun untuk membantu kita
dalam memahami tentang ‫ المفعول به‬. Insyaallah.

1
B. Rumusan Masalah

1. Mengetahui pengertian ‫( المفعول به‬Maf’ul Bih)

2. Mengetahui pengertian ‫( المفعول فيه‬Maf’ul Fiih)

3. Mengetahui pengertian ‫( المفعول ألجله‬Maf’ul Liajlih)

4. Mengetahui pengertian ‫( المفعول المطلق‬Maf’ul Al-Muthlaq)

5. Mengetahui pengertian ‫( المفعول معه‬Maf’ul Ma’ah)

6. Mengetahui pengertian ‫( الحال‬Al-Hal)

7. Mengetahui pengertian ‫( التمييز‬At-Tamyiz)

8. Mengetahui pengertian ‫( المستثنى‬Al-Mustatsna)

9. Mengetahui pengertian ‫( خبر كان أو احدى أخواتها‬khobar kana dan saudara-


saudaranya)

ّ ‫( اسم‬isim inna dan saudara-


10. Mengetahui pengertian ‫ان أو احدى أخواتها‬
saudaranya)

11. Mengetahui pengertian ‫( المنادى‬Al-Munada)

12. Mengetahui pengertian ‫( التوابع‬At-tawabi’)

C. Tujuan

a. Memahami pengertian maf’ul


b. Mengetahui pembagian maf’ul
c. Mengetahui pola-pola penempatan maf’ul
d. Memahami contoh-contoh maf’ul dalam salah satu ayat Al-Quran.

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. ‫( المفعول به‬Maf’ul Bih)


Yang dimaksud dengan maf’ul bih ini adalah “objek” dalam bahasa
indonesia. Jadi, objek dalam bahasa indonesia itu sama halnya dengan maf’ul
bihi dalam bahasa arab.
Sedangkan pengertian maf’ul bih dalam ilmu nahwu adalah sebagai berikut :
ْ ‫ص ْوبُ اللَّ ِذ‬
‫ى َيقَ ُع ِب ِه ال ِف ْع ُل‬ ُ ‫ه َُو ا ِال ْس ُم ال َم ْن‬
Artinya : isim manshub (dinashabkan i’rabnya) yang menjadi sasaran
perbuatan (objek).
Maka, jelas sekali, yang dimaksud maf’ul bihi menurut ahli nahwu adalah
isim manshub dimana posisinya menjadi sasaran perbuatan si pelaku.
Contoh :
‫ض َربْتُ زَ ْيدًا‬
َ = Aku telah memukul Zaid
Dalam contoh di atas, yang menjadi sasarn perbuatannya (memukul) adalah
kata “Zaid”, maka kata zaid itu menjadi maf’ul bih.
Contoh lainnya :
‫ْف‬ َّ ُ‫ = اَك َْلت‬Aku telah memakan roti.
َ ‫الر ِغي‬
Yang menjadi sasaran perbuatannya (memakan) adalah roti, maka roti itu
menjadi maf’ul bih.

2. ‫( المفعول فيه‬Maf’ul Fiih)

Maf’ul fih adalah isim manshub (isim yang difatahkan) yang disebut untuk
menjelaskan masa atau tempat terjadinya suatu perbuatan (fi’il) (artinya
sebagai jawaban dalam pertanyaan “‫(متى‬kapan)” atau “‫(أين‬dimana)”).
Maf’ul fih sering juga disebut sebagai zharaf zaman apabila dianya itu
menunjukkan kepada masa/waktu terjadinya suatu perbuatan. Dan sering juga
disebut sebagai zharaf makan apabila dianya itu menunjukkan kepada tempat
terjadinya suatu perbuatan.
Contoh:

3
)‫ ظرف زمان منصوب بالفتحة‬:‫سافرت الطائرة ليال (ليال‬
)‫ ظرف مكان منصوب بالفتحة‬:‫وقف الطالب أمام المدرس (أمام‬

3. ‫( المفعول ألجله‬Maf’ul Liajlih)

Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih menurut bahasa adalah: objek yg


menjadi faktor pekerjaan. Menurut Ilmu Nahwu adalah: Isim Masdar yang
menjelaskan tentang faktor/alasan dari penyebutan Amil sebelumnya. Dan
bersatu dalam hal waktu dan subjeknya.
Contoh Maf’ul Liajlihi / Maf’ul Lahu:
‫جئت رغبة فيك‬
JI’TU RUGHBATAN FIIKA* = aku datang karena senang kepadamu.
*Pada contoh diatas lafal “RUGHBATAN”=SENANG adalah Isim Masdar
yg difahami sebagai faktor bagi Amil/kata kerja lafal “JI’TU”=AKU
DATANG. Secara maknanya contoh diatas berbunyi seperti ini:
‫جئت للرغبة فيك‬
JI’TUKA LIR-RUGHBATI FIIKA = aku datang karena senang kepadamu.
lafal “RUGHBATAN” Isim Masdar yang menjadi Maf’ul Lah, juga
bersekutu dalam hal waktu dengan Amil lafal “JI’TU”, karena waktu aku
senang, itulah waktu aku mendatanginya. Juga bersekutu dalam satu subjek
yaitu satu Fa’il berupa Dhamir Mutakallim/aku.

4. ‫( المفعول المطلق‬Maf’ul Al-Muthlaq)

af'ul Mutlaq adalah isim manshub yang disebutkan untuk 3 keadaan:


Untuk menegaskan suatu perbuatan
Untuk menjelaskan bilangan perbuatan
Untuk menjelaskan jenis/sifat perbuatan
Contoh sebagai penegas perbuatan
‫س ِح ْفظا‬ ْ ‫َح ِف‬
َ ‫ظتُ الد َّْر‬
“Aku telah menghafal pelajaran itu dengan sebenar-benarnya hafal”
Kata ‫ ِح ْفظا‬merupakan isim manshub dengan fathah karena isim mufrod,
sebagai maf'ul mutlaq.
Kata tersebut berfungsi untuk menegaskan perbuatan.

4
Jika dilihat dari bentuk katanya, maf’ul mutlaq merupakan isim yang berasal
dari lafad fi’ilnya, dalam ilmu shorof dinamakan isim masdar. Sehingga
untuk membuat maf’ul bih suatu fi’il, dengan cara mengubah fi’il tersebut
menjadi isim masdar.

5. ‫( المفعول معه‬Maf’ul Ma’ah)

Maf’ul Ma’ah ُ‫ َم ْف ُع ْو ُل َم َعه‬ialah isim manshub yang terletak setelah huruf Wau
(‫)و‬. Akan tetapi, wau tersebut tidak bermakna DAN (kata sambung).
Melainkan mempunayi arti bersama atau kebersamaan. Maka dari itulah
Maf'ul Ma'ah juga disebut Wau Ma'iyyah, sehingga wawu maiyah
pengertiannya sama saja dengan Maf'ul Ma'ah.Baca Juga : Cara Cepat Belajar
Menguasai Ilmu Nahwu

Contoh: ‫( ِس ْرتُ َو ْال َجبَ َل‬Aku berjalan bersama gunung). Kata ‫ ْال َجبَ َل‬dibaca
manshub dengan berharokat fathah karena sebagai maf'ul ma'ah dalam bentuk
isim mufrod.

6. ‫( الحال‬Al-Hal)

Pengertian Haal

ْ‫ب * ُم ْف ِه ُم ِفي َحا ِل َكفَ ْردا أ َ ْذهَب‬ ِ َ ‫ضلَةٌ ُم ْنت‬


ُ ‫ص‬ ْ َ‫ف ف‬ ْ ‫ْال َحا ُل َو‬
ٌ ‫ص‬

“Haal adalah washf (sifat) yang fadhlah (lebihan) lagi muntasabih


(dinasabkan) dan memberi keterangan keadaan seperi dalam contoh: ‫فَ ْردا‬
ُ‫( أَذْهَب‬aku akan pergi sendiri)”.[1]
Dengan istilah lain:

َ
ِ‫ب يُبَ ْي ُن َه ْيئَةَ اْلفَا ِع ِل أ ْو الم ْفعُ ْو ِل ِب ِه ِحيْنَ ُوقُ ْوع‬ ُ ‫ا َ ْل َحا ُل ُه َو ِإ ْس ٌم َم ْن‬
ٌ ‫ص ْو‬
.‫ب ال َحا ِل‬ ُ ‫اح‬
ِ ‫ص‬ ُ ‫ْال ِف ْع ِل َو‬
َ ‫س َّمي َك ٌّل ِم ْن ُه َما‬
“Haal adalah isim yang dibaca nasab, yang menerangkan perihal atau
perilaku Fa’il atau Maf’ul bih ketika perbuatan itu terjadi, dan masing-masing
fa’il dan maf’ul bih tersebut dinamakan Shohibul Haal”.[2]

5
7. ‫( التمييز‬At-Tamyiz)

Pengertian Tamyiz adalah: Isim Nakiroh yg menunjukkan makna Min,


sebagai penjelasan lafazh samar sebelumnya. contoh:
‫اشتريت رطال عسال‬
ISYTAROITU RITHLAN ‘ASALAN* = aku membeli satu Ritl madu.
* lafazh “‘ASALAN” adalah Tamyiz, karena berupa Isim dengan dalil
tanwin, dan Nakiroh yg mengandung makna MIN lil bayan, yakni
takdirannya “MINAL-‘ASALI” berfungsi untuk menjelaskan kalimah
sebelumnya yg samar. karena perkataan ISYTAROITU RITHLAN masih
mengundang kesamaran, pendengar tidak akan faham apa yg dikehendaki
dengan RITHLAN, apakah madu ataukah kurma atau beras?. oleh karena itu
perkataan Rithl sepantasnya diberi penjelasan atau Tamyiz oleh lafazh-lafazh
lain yg dimaksud, sebagaimana contoh ‘ASALAN maka hilanglah kesamaran
dan dapat difahami serta jelas apa yg dimaksud.

8. ‫( المستثنى‬Al-Mustatsna)

Mustasna’ (‫ ) مستثنى‬yaitu isim manshub yang terletak setelah salah satu huruf
istisna’ untuk menjelaskan hukum yang berbeda dengan sebelumnya. Isim
yang terletak sebelum huruf istisna’ disebut mustatsna’ minhu (‫) مستثنى منه‬.
Contoh:
.] ‫ مستثنى‬: ‫ و عليا‬، ‫ مستثنى منه‬: ‫جا َء التالميذُ إالّ عليّا [ التالميذ‬
Kata “ ّ‫ “ إال‬adalah salah satu huruf istitsna’. Kata sebelumnya yaitu
“ُ ‫ “ التالميذ‬disebut mustatsna’ minhu (‫)مستثنى منه‬, dan kata setelahnya “ ‫“ عليّا‬
disebut dengan mustatsna’ (‫)مستثنى‬.
Mustatsna’ terbagi dua;
a. Muttashil ( ‫) متصل‬
Yaitu mustatsna yang merupakan bagian dari jenis mustatsna’ minhu.
Contoh:
. ‫سافِ ُر ْونَ ِإ َّال سعيدا‬
َ ‫ جا َء ال ُم‬: para musafir telah datang kecuali Sa’id.

6
Mustatsna’ muttashil ini berfungsi sebagai takhshis (khusus) setelah ta’mim
(umum)
b. Munqathi’ ( ‫) منقطع‬
Yaitu muststsna’ yang tidak berasal dari jenis mustatsna’ minhunya.
Contoh:
َ ُ ‫الدار إالّ الكت‬
.‫ب‬ ُ ْ َ‫ احْ ت ََرق‬: Rumah itu terbakar kecuali beberapa guru .
‫ت‬
Mustatsna’ munqati’ memfaedahkan istidra’ bukan takhsis.

9. ‫( خبر كان أو احدى أخواتها‬khobar kana dan saudara-saudaranya)

Kana dan saudara-saudaranya merupakan suatu fi’il, dimana ketika ia


masuk pada jumlah ismiyyah akan menyebabkan marfunya mubtada dan
disebut sebagai isim kaana, serta manshubnya khobar yang dinamakan khobar
kaana. Kaana mempunyai 3 arti yang berbeda-beda, sesuai dengan konteks
yang diinginkan, yakni bisa berarti terus menerus (istimror), bisa berarti
menjadi, bisa berarti madhi (dulu)
Diantara saudara-saudara kaana yang mempunyai amal yang sama
dengan kaana adalah sebagai fungsi waktu, sebagai fungsi untuk
meniadakan, sebagai fungsi perubahan, sebagai fungsi terus menerus, Ssbagai
fungsi jeda waktu.

ّ ‫( اسم‬isim inna dan saudara-saudaranya)


10. ‫ان أو احدى أخواتها‬

ISIM & KHOBAR INNA HARUS TARTIB


َ ‫َو َراعِ ذَا ْالت َّ ْرتِي‬
‫ْب إالَّ فِي الَّذِي َكلَيْتَ فِ ْي َها أ َ ْو ُهنَا َغي َْر البَذِي‬
Pertimbangkanlah olehmu! akan tartib (isimnya dulu baru khobarnya) kecuali
yang seperti contoh: “LAITA FIIHAA AW HUNAA GHAIROL
BADZI” Smoga saja didalamnya atau disini tidak ada perkataan yg
kotor (khobarnya dari jar-majrur atau zhorof, maka boleh dikedepankan dari
isimnya)

11. ‫( المنادى‬Al-Munada)

7
Munada adalah isim yang posisinya terletak setelah salah satu huruf dari huruf-
huruf nida’ (untuk memanggil)

Adapun huruf- huruf nida’ adalah sebagai berikut:

untuk semua munada : ‫يا‬ 

untuk panggilan jarak dekat : ‫الهمزة‬ 

untuk panggilan jarak jauh : ‫ أي‬،‫ هيا‬،‫أيا‬ 

untuk ratapan : ‫وا‬ 

Jenis-Jenis Munada

Munada itu dua jenis : manshub (yang di fatahkan baris akhirnya) dan mabni

12. ‫( التوابع‬At-tawabi’)

Tawabi’ adalah kata keterangan dan kata yang tidak tersentuh oleh perubahan
di akhir kata (i’rab) secara langsung melainkan sebab mengikuti kata
sebelumnya, sesuai dengan bentuk i’rab empat dan dengan keberadaan kata
itu sendiri.

A. Pengertian ‫المفعول به‬

ُ‫ْب " أ َ ْي أَنَّه‬ َ ‫ِي َوقَ َع‬


ُ ‫ َو لَهُ ُح ْك ٌم إِع َْرابِ ْي َو ُه َو " اَلنَّص‬,‫علَ ْي ِه فِ ْع ُل ا ْلفَا ِع ِل‬ ْ ‫ب اَلَّذ‬ ُ ‫س ُم ا ْل َم ْن‬
ُ ‫ص ْو‬ ِ ْ ‫ا َ ْل َم ْفعُ ْو ُل بِ ِه ه َُو‬
ْ ‫اْل‬
.‫ب‬ ُ ‫دَائِ ًما َم ْن‬
ٌ ‫ص ْو‬

. ‫ص ْو َرةُ ا ْل ِف ْع ِل‬ َ ‫ع َلى َم ْن َوقَ َع‬


ُ ُ‫علَ ْي ِه ا ْل ِف ْع ُل ا ْلفَا ِع ُل َو ََلتَتَغَيِ ُر َمعَه‬ َ ‫ب يَ ُد ُّل‬
ٌ ‫ص ْو‬ ْ ِ‫ا َ ْل َم ْفعُ ْو ُل بِ ِه إ‬
ُ ‫س ٌم َم ْن‬

Artinya :

Maf’ul Bih adalah Isim manshub yang terletak pada fi’il dan fa’il, dan hukum
I’rabnya adalah Nashob. Dan Maf’ul bih adalah isim yang menunjukkan kepada
objek /penderita.

Contoh lain :

8
1. ‫س‬َ ‫ب ا ْل َولَ ُد الد َّْر‬َ َ‫ ; َكت‬Anak itu telah menulis pelajaran
2. ْ ُ ‫ب األ‬
‫ستَاذُ َولَدًا‬ َ ‫ ; ض ََر‬Ustadz itu telah memukul seorang anak
3. َ‫ ; ش َِربَتْ َم ِريَ ُم اللَّبَن‬Maryam telah meminum air susu

Maf’ul Bih adalah objek penderita, yang dikenai suatu perbuatan. Jika fi’ilnya
“memukul” berarti maf’ul bih-nya “yang dipukul”. Jika fi’ilnya “menolong” maka
maf’ul bih-nya “yang ditolong”.
Dalam contoh di atas :
1. َ َ ‫ = َكت‬fi’il,
‫ب‬ ‫ = ا ْل َو َل ُد‬fa’il,‫س‬َ ‫ = الد َّْر‬maf’ul bih
2. ‫ب‬
َ ‫ = ض ََر‬fi’il, ْ ُ ‫ = األ‬fa’il, ‫ = َو َلدًا‬maf’ul bih
ُ‫ستَاذ‬
3. ْ‫ = ش َِربَت‬fi’il, ‫ = َم ِريَ ُم‬fa’il, َ‫ = اللَّبَن‬maf’ul bih
Setiap Maf’ul bih harus senantiasa Manshub.

B. Pembagian Maf’ul Bih

Maf’ul bih terbagi kepada dua bagian, yaitu :

1. ‫ظاهر‬ : yaitu Maf’ul bih yang terdiri dari isim zhahir (bukan kata ganti).
Contoh : ‫ي كلبا‬
ٌ ‫ضرب عل‬َ : Ali memukul anjing
‫يقرأ ُ مح َّمدُ قرآنا‬ : Muhammad sedang membaca Quran

2. ‫ضمير‬
ٌ : yaitu Maf’ul bih yang terdiri dari isim dhamir (kata ganti).
Maf’ul bih dhamir terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Dhamir Muttashil (bersambung)
Maf’ul bih dhamir muttashil ada dua belas,yaitu :
,‫ وضربه َما‬,‫ وضربهَا‬,ُ‫ وضربَه‬, َّ‫ وضربكن‬,‫ وضرب ُك ْم‬,‫ وضربك َما‬,‫وضربك‬
ِ , َ‫ وضربك‬,‫ وضربنا‬,‫ضربني‬
. َّ‫ وضربهن‬,‫وضرب ُه ْم‬
2. Dhamir Munfashil (terpisah)
Maf’ul bih dhamir Munfashil ada dua belas, yaitu :
ِ ‫ وا َّي‬, َ‫ وايَّاك‬,‫ وايَّا َنا‬,‫اي‬
. َّ‫ وايَّاهُن‬,‫ وايَّا ُه ْم‬,‫ وايَّاهما‬,‫ وايَّاها‬,ُ‫ وايَّاه‬, َّ‫ وايَّاكُن‬,‫ وايَّا ُك ْم‬,‫ وايَّاك َما‬,‫اك‬ َ ‫اي‬

9
C. Pola-pola Penempatan Maf’ul Bih

َ‫ القُ ْرآن‬- ‫ مفعول به = قَ َرأ َ – ُم َح َّم ُد‬- ‫ فاعل‬- ‫ فعل‬-1


‫ َر ُج ٌل‬- ‫سأ َل – النَّ ِب َّي‬
َ = ‫ فاعل‬- ‫مفعول به‬- ‫ فعل‬-2
ِ‫ مفعول به = سأَلتُ – رسو َل للا‬- )‫ فاعل‬- ‫ (فعل‬-3
َ‫ مفعول به) = أَ َم ْرت ُك‬- ‫ فاعل‬- ‫ (فعل‬-4
ُ ‫ َر‬- ‫ فاعل = أ َ َم َرنِى‬- (‫ )فعل – مفعول به‬-5
ِ‫س ْو َُللل‬
‫ نَ ْعبُ ُد‬- َ‫ (فعل فاعل) = اِياك‬- ‫ مفعول به‬-6

D. Pembagian ‫ المفعول به‬berdasarkan tanda nasahabnya

1. Tanda Nashob Fathah


a. Isim Mufrad

َ ‫يُذَا ِك ُر ُم َح َّمدُ اَلد َّْر‬


‫س‬
( Muhammad sedang mengulangi pelajaran )
َّ ‫ت َ ْق َرأ ُ ال‬
َ‫طا ِل َباتُ ْال َج ِر ْيدَة‬
( Para mahasiswi sedang membaca koran )
َ ‫َب ْال َولَدُ الد َّْر‬
‫س‬ َ ‫َكت‬
( Anak itu telah menulis pelajaran )
‫ب ْاأل ُ ْستَاذُ َولَدا‬
َ ‫ض َر‬
َ
( Guru itu telah memukul anak )
َ‫ت َم ْر َي ُم اللَّبْن‬
ْ ‫ش َِر َب‬
( Maryam telah minum susu )
َ ‫أ َ َك َل ُم َح َّمدٌ ْال ُخب‬
‫ْس‬
( Muhammad telah makan roti )
‫ي ك َْلبا‬
ٌّ ‫ب َع ِل‬
َ ‫ض َر‬
َ
( Ali telah memukul anjing )
‫َي ْق َرأ ُ ُم َح َّمدٌ قُ ْرآنا‬
( Muhammad sedang membaca al-Qur’an )
َ َ‫يَ ْفت َ ُح أَحْ َمد ُ ْالب‬
‫اب‬

10
( Ahmad sedang membuka pintu )
‫اط َمةُ ْالقَلَ َم‬
ِ َ‫تَحْ ِم ُل ف‬
( Fatimah sedang membawa polpen )

b. Jama’ Taksir

ُّ ‫يُعَ ِلّ ُم ْاأل ُ ْستَاذُ ال‬


َ ‫ط َّال‬
‫ب‬
( Guru itu sedang mengajar para mahasiswa )
َ‫يَحْ ِم ُل ْال ُجنُ ْود ُ اَ ْأل َ ْس ِل َحة‬
( Para tentara sedang membawa senjata )
َ‫ب ْاأل ُ ْست َاذ ُ ْاأل َ ْو َالد‬
َ ‫ض َر‬
َ
( Ustads telah memukul para anak )
‫اط َمةُ ْاأل َ ْق َال َم‬
ِ َ‫تَحْ ِم ُل ف‬
( Fatimah sedang membawa polpen-polpen )
َ ‫يَ ْفت َ ُح أَحْ َمد ُ ْاألَب َْو‬
‫اب‬
( Ahmad sedang membuka pintu )

2. Tanda Nashob Kasrah


a. Jama’ Muannats Salim

ِ ‫طا ِلبَاتُ ْالم َج َّال‬


‫ت‬ َّ ‫ي ال‬
ْ ‫تَ ْشت َِر‬
( Para mahasiswi sedang membeli majalah )
‫ت‬ َ ‫ط َّالبُ ْال ُك َّرا‬
ِ ‫سا‬ ُّ ‫َيجْ َم ُع ال‬
( Para mahasiswa sedang mengumpulkan buku catatan )
‫ت‬
ِ ‫َّارا‬
َ ‫سي‬ َّ ‫يَ ْغ ِس ُل أَحْ َمدُ ال‬
( Ahmad sedang mencuci banyak mobil )

3. Tanda Nashob Ya’


a. Mutsanna

‫يَحْ ِم ُل ال ِت ّ ْل ِم ْيذُ ْال ِكتَ َبي ِْن‬


( Siswa sedang membawa dua buku)

11
َ ‫ت َ ْق َرأ ُ ْال ُمدَ ِ ّر‬
‫سةُ ْال َمقَالَتَي ِْن‬
( Guru itu sedang membaca dua makalah )
َ‫ْس ْال ُمجْ ِر َميْن‬
ُ ‫ض ْالب ُْو ِلي‬
ُ ِ‫يَ ْقب‬
(Polisi sedang menangkap dua penjahat )
ِ ‫ط َّالبُ ْال َح‬
َ‫اض َريْن‬ ُّ ‫يَ ْنت َِظي ُْر ال‬
( Para siswa itu sedang menunggu dua hadirin )

b. Jama’ Mudsakkar salim

َ‫ْس ْال ُمجْ ِر ِميْن‬


ُ ‫ض ْالب ُْو ِلي‬
ُ ‫يَ ْق ِب‬
(Polisi sedang menangkap para penjahat )
ِ ‫ط َّالبُ ْال َح‬
َ‫اض ِريْن‬ ُّ ‫َي ْنت َِظي ُْر ال‬
( Para siswa itu sedang menunggu para hadirin )
َّ ‫يُ َك ِلّ ُم ْال ُم ِدي ُْر ْال ُم َو‬
َ‫ظ ِفيْن‬
( Direktur itu sedang berbicara dengan para pegawai )

E. Contoh Maf’ul Bih dalam Al-Quran (Surat At-Takasur)

‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

1. ‫ا َ ْله ُك ُم الت َّ َكاث ُ ُر‬ Bermegah- ‫( ْال َهـ‬melalaikan : fi’il (predikat))


megahan telah
‫( ُك ُم‬kepadamu : maf’ul bih
melalaikan
(objek)
kamu,
‫( التَكَاث ُ ُر‬bermegah-megahan : fa’il
(subjek)

Jenis maf’ul bih pada ayat ini


dibuat dari isim dhomir yaitu
lafadz ‫( ُك ْم‬kamu)

2. ‫َحتَّى ُز ْرت ُ ُم ْال َمقَا ِب َر‬ Sampai kamu ‫( ُز ْر‬masuk “ fi’il : predikat)
masuk ke dalam
‫( ت ُ ُم‬kamu : fa’il : subjek)

12
kubur, ‫( ْال َمقَابِ َر‬kubur : maf’ul bih : objek)

3. َ‫ف تَ ْعلَ ُم ْون‬ َ َّ‫َكال‬


َ ‫س ْو‬ Sekali-kali tidak! َ‫( تَ ْعلَ ُم ْون‬mengetahui : fi’il)
Kelak kamu akan ‫( و‬kamu (dhomir mustatir pada
mengetahui kalimat َ‫ )تَ ْعلَ ُم ْون‬: fa’il)
(akibat perbuatan
kamu itu),
4. َ‫ف تَ ْعلَ ُم ْون‬ َ َّ‫ث ُ َّم َكال‬
َ ‫س ْو‬ Kemudian sekali- َ‫( ت ْعلَ ُم ْون‬mengetahui : fi’il)
kali tidak! Kelak ‫( و‬kamu (dhomir mustatir pada
kamu akan kalimat َ‫ )تَ ْعلَ ُم ْون‬: fa’il)
mengetahui.
5. ‫َكالَّ لَ ْو تَ ْعلَ ُم ْونَ ِع ْل َم‬ Sekali-kali tidak! َ‫( تَ ْعلَ ُم ْون‬mengetahui : fi’il)
Kelak kamu َ‫( ت‬dhomir mustatir : fa’il)
‫ْال َي ِقي ِْن‬
mengetahui ‫( ِع ْل َم ْاليَ ِقي ِْن‬dengan pasti : maf’ul
dengan pasti, bih)
6. ‫لَت َ َر ُو َّن ْال َج ِحي َْم‬ Niscaya kamu ‫( لت ََر ُو َّن‬melihat: fi’il)
benar-benar akan َ‫( ت‬kamu (dhomir mustatir) :
melihat neraka fa’il )
jahim, ‫( ْال َج ِحي َْم‬neraka jahim : maf’ul bih.

7. ‫ث ُ َّم لَت َ َر ُونَّ َها َعيْنَ ْاليَ ِقي ِْن‬ Kemudian kamu َ‫( ت‬kamu (dhomir mustatir) :
benar-benar akan fa’il)
melihatnya ‫لتر ُو َّن‬
َ (melihat: fi’il)
dengan mata ‫( هَا‬melihat-nya : maf’ul bih
kepala sendiri, (menunjukkan kepada ‫ْال َج ِحي َْم‬
(neraka jahim)
‫( َعيْنَ ْال َي ِقي ِْن‬hal)
8. َ ‫ث ُ َّم لَت ُ ْسئَلُ َّن َي ْو َم ِئ ٍذ‬
‫ع ِن‬ Kemudian kamu ‫ ( لَت ُ ْسئَلُ َّن‬akan ditanya : fi’il)
benar-benar akan ‫( يَ ْو َمئِ ٍذ‬pada hari itu : maf’ul fih)
‫النَّ ِعي ِْم‬
ditanya pada hari
itu tentang

13
kenikmatan
(yang megah di
dunia itu).

Contoh dalam ayat lain (Qs. An-Nasr : 2)


َ ‫َو َراَي‬
‫ْت‬ Dan Engkau ْ َ ‫( َرا‬melihat : fiil (predikat)
‫ي‬

‫َاس يَ ْد ُخلُ ْونَ فِ ْي‬


َ ‫الن‬ melihat Manusia
َ‫( ت‬engkau : fail (subjek))
masuk islam
‫ِدي ِْن هللاِ ا َ ْف َواجا‬ ‫َاس‬
َ ‫( الن‬manusia : maf’ul bih
dengan
(objek)) maf’ul bih nya dzohir.
berbondong
bondong

14
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Maf’ul Bih adalah Isim manshub yang terletak pada fi’il dan fa’il, dan hukum
I’rabnya adalah Nashob. Dan Maf’ul bih adalah isim yang menunjukkan kepada
objek /penderita.

Contoh :

‫َب ْال َولَدُ الد َّْرس‬


َ ‫ ; َكت‬Anak itu telah menulis pelajaran

Maf’ul Bih adalah objek penderita, yang dikenai suatu perbuatan. Jika fi’ilnya
“memukul” berarti maf’ul bih-nya “yang dipukul”. Jika fi’ilnya “menolong” maka
maf’ul bih-nya “yang ditolong”.
َ ‫ب ا ْل َولَ ُد الد َّْر‬
Lihat contoh ‫س‬ َ َ‫ َكت‬:
َ َ‫ = َكت‬fi’il, ‫ = ا ْل َو َل ُد‬fa’il, ‫س‬
‫ب‬ َ ‫ = الد َّْر‬maf’ul bih

Maf’ul bih terbagi menjadi dua bagian, yang terdiri dari :

1. Maf’ul bih Zhahir (bukan kata ganti)


2. Maf’ul bih Dhamir (kata ganti)

Maf’ul bih memili pola-pola dalam pembentukan kalimatnya, atau dalam kata lain
dapat tukar posisi. Terkadang maf’ul bih mendahului fi’il dan fa’il atau setelah
fi’il dan fa’il.

15
DAFTAR PUSTAKA

Zakaria Aceng, 2004, “ILMU NAHWU PRAKTIS SISTEM BELAJAR 40


JAM”. Garut : ibn azka.
Nurhasanah, 2013, “makalah isim dan fa’il”. Book in “Anwar, Moch. 2009. Ilmu
Nahwu. Bandung. Sinar Baru Algensindo.” Ciamis : Blogger.

16