Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS SINTESIS TINDAKAN MANAJEMEN TERAPI

KEJANG DEMAM DENGAN DIAZEPAM PADA Ank. “B”


DI RUANGAN IGD RSD BAGAS WARAS KLATEN

Disusun oleh
FREDIRIKUS SAFERIUS NGGADJO
NIM : SN162062

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
ANALISIS SINTESIS TINDAKAN MANAJEMEN TERAPI
KEJANG DEMAM DENGAN DIAZEPAM PADA Ank. “B”
DI RUANGAN IGD RSD BAGAS WARAS KLATEN

Nama klien : Ank “B”


Diagnose medis : KEJANG DEMAM
No register : 000XXX

A. DIAGNOSIS KEPERAWATAN DAN DAAR PEMIKIRAN


1. Diagnosa keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan penyakit (peningkatan laju
metabolisme)
DS :

 ibu pasien mengatakan anaknya demam sejak pagi hari


dan hingga mengalami kejang 1 kali dirumah
 ibu pasien mengatakan demam yang di alaminya
anaknya sejak pagi hari tidak turun turun, awalnya anak
masih bisa beraktivitas seperti biasanya namun lama
kelamaan demam yang di alami makin bertambah hingga
anak mengeluh pusing dan hanya berbaring saja

DO :

 Klien tampak lemah


 Tubuh teraba hangat
 Suhu : 40 ºC
 Mukosa bibir sedikit kering
 Klien tampak berkeringat
 Baju klien tampak basah
2. Dasar pemikiran
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada

kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38ºC) yang disebabkan

oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam dapat juga

didefinisikan sebagai kejang yang disertai demam tanpa bukti

adanya infeksi intrakranial, kelainan intrakranial, kelainan

metabolik, toksin atau endotoksin seperti neurotoksin Shigella.

Kejang demam pertama kali pada anak biasanya dihubungkan

dengan suhu yang lebih dari 38ºC, usia anak kurang dari 6 tahun,

tidak ada bukti infeksi sistem saraf pusat maupun ganguan

metabolic sistemik akut. Pada umumnya kejang demam terjadi

pada rentang waktu 24 jam dari awal mulai demam. Pada saat

kejang anak kehilangan kesadarannya dan kejang dapat bersifat

fokal atau parsial yaitu hanya melibatkan satu sisi tubuh, maupun

kejang umum di mana seluruh anggota gerak terlibat otak.

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam Tahun 2006

membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan,

aitu kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan kejang

demam kompleks. Kejang demam sederhana berlangsung singkat,

kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri,

berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal,

kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam

sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang. Sedangkan,

kejang demam kompleks (complex febrile seizure) berlangsung


lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau parsial satu sisi, berulang

atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Diazepam intravena penting sebagai profilaksis intermiten,

dimana diazepam dapat diberikan pada pasien yang suhunya

mencapai 40,20C untuk mencegah timbulnya kejang kembali.

Pemberian diazepam sebagai profilaksis intermiten merupakan

pilihan tepat dibanding obat anti kejang lain. Pemberian diazepam

ditambah antipiretik jauh lebih efektif untuk mencegah terulangnya

kejang, dibandingkan pemberian antipiretik saja.

B. TINDAKAN KEPERAWATAN YANG DILAKUKAN


Memberikan terapi injeksi diazepam 3,6 mg bila kejang
C. PRINSIP-PRINSIP TINDAKAN
Defenisi : Diazepam adalah salah satu jenis obat benzodiazepam
yang dapat mempengaruhi sistem saraf otak dan
memberikan efek penenang
Tujuan : Mengatasi kejang berulang
Prosedur : 1) Menyiapkan obat sesuai advis dokter
2) Memberi salam
3) Memperkenalkan diri
4) Menjelaskan tujuan dan langkah prosedur
5) Mencuci tangan dan mengenakan handscoen
6) Memberikan obat kepada pasien melalui injeksi
7) Membereskan peralatan
8) Mencuci tangan
9) Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan
10) Menyampaikan rencana tindak lanjut
D. ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diazepam intravena penting sebagai profilaksis intermiten, dimana
diazepam dapat diberikan pada pasien yang suhunya mencapai 40,20C
untuk mencegah timbulnya kejang kembali. Pemberian diazepam sebagai
profilaksis intermiten merupakan pilihan tepat dibanding obat anti kejang
lain.
Pemberian diazepam ditambah antipiretik jauh lebih efektif untuk
mencegah terulangnya kejang, dibandingkan pemberian antipiretik saja.
Pada pasien ini sebaiknya diberikan diazepam oral, karena melihat kondisi
pasien yang sadar dan masih dapat makan dan minum. Pemberian
diazepam rectal dapat diberikan bila pasien mengalami penurunan
kesadaraan atau saat pasien sedang kejang. Selain dengan
pengobatanmedikamentosa diperlukan pengobatansuportif pada pasien
dengan kejang demam, yaitu dengan menjaga keseimbangan cairan dan
elektrolit, membebaskan jalan nafas dan terapi oksigen terutama untuk
kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai
terjadinya apnea, meningkatkan kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hiposekmia, hiperkapnia,
asidosis laktat, disebabkan metabolisme anaerobik. Menggunakan pakaian
tipis dalam ruangan yang baik ventilasi udaranya. Anak tidak harus terus
berbaring di tempat tidur, tetapi dijaga agar tidak melakukan aktivitas
berlebihan. Anak dapat dikompres untuk mencegah demam yang akan
memicu kejang. Umumnya mengkompres anak akan menurunkan
demamnya dalam 30-45 menit.
E. BAHAYA YANG MUNGKIN MUNCUL
Tidak ada bahaya dilakukannya pemberian obat diazepam dalam

mengatasi kejang namun yang perlu diperhatikan adalah dosis yang sesuai

dengan umur dan berat badan selain itu juga perlu hati-hati dalam selama

proses pemberian obat saat terjadi kejang karena ada peningkatan aktivitas

dari klien yang bisa menyebabkan resiko cedera. Hal ini seperti yang
diungkapkan oleh Asticaliana Erwika dalam hasil penelitiannya mengenai

“MANAJEMEN TERAPI KEJANG DEMAM SEDERHANA DENGAN

HIPERPIREKSIA PADA ANAK USIA TIGA TAHUN” yakni Terdapat

tiga hal penting dalam tatalaksana kejang demam sederhana, yaitu

pengobatan pada fase akut, mencari dan mengobati penyebab, pengobatan

profilaksis terhadap berulangnya kejang demam. Prognosis kejang demam

sederhana adalah baik. Rekurensi kejang demam bergantung pada ambang

kejang anak.

F. HASIL YANG DIDAPATKAN DAN MAKNANYA


S:
 Ibu pasien mengatakan anaknya sudah tidak kejang lagi
O:
 Keadaan umum masih lemah
 Tidak tampak kejang
 Tubuh teraba hangat
 Suhu : 38 ºC
A : masalah hipertermia belum teratasi
P :intervensi di pertahankan di ruangan perawatan :
 Memberikan kompres dingin pada axial,kening dan lipatan paha
 Mengobservasi TTV
 Anjurkan keluarga selalu ada untuk klien
 Libatkan keluarga dalam mengobservais suhu tubuh klien
 Melaksanakan advis dokter dalam hal pemberian obat antipiretik
G. TINDAKAN LAIN YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK
MENGATASI DIAGNOSA KEPERAWATAN DI ATAS
 Memberikan kompres dingin pada axial,kening dan lipatan paha
 Mengobservasi TTV
 Anjurkan keluarga selalu ada untuk klien
 Libatkan keluarga dalam mengobservais suhu tubuh klien
 Melaksanakan advis dokter dalam hal pemberian obat antipiretik
H. EVALUASI DIRI
Dalam memberikan terapi obat diazepam didasarkan pada prosedur yang
ada, dimulai dari kesiapan pasien, perawat dan alat yang akan digunakan,
selama pelaksanaan keluarga sangat kooperatif dan menunujkan sikap
mau diberi obat, karena keluarga meninginkan agar anaknya cepat
sembuh.
I. KEPUSTAKAAN
Behrman, RE. Kliegman, RM. Arvio. Nelson Ilmu Kesehatan anak,
Volume 3, Edisi 15. Jakarta: EGC. 2005.

Bahtera, Tjipta. Kejang Demam dalam Pedoman Pelayanan Medik Anak


Edisi ke 2. Semarang: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP. 2009.

Deliana, Melda. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak. IDAI Sari


Pediatri. 2012; 14(1):57-61.

Lumbantobing SM. Kejang Demam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.

Mengetahui,
Mahasiswa praktikan

( FREDIRIKUS SAFERIUS NGGADJO )