Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TUTORIAL BLOK 9

MODUL 4 SKENARIO 4

PSIKOLOGI, ETIKA DAN HUKUM KEDOKTERAN

KELOMPOK 5

TUTOR/FASILITATOR : drg. Haria Fitri

Ketua : Sri Fadillah Saragih

Sektretaris Meja : Vina Nurul Alvionita

Sektretaris Papan : Kerin Irawan

Anggota : Dinda Ratna Juwita

Kennisa Shabilla Risendy

Hanifa Denis

Yulia Asri Effendi

Fitria Andrina Vela

Imam Esa Pratama

Wiwit Pratiwi

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
MODUL 4

BIOETIKA

Skenario 4:

PERHATIAN… PERHATIAN

Drg. Primus dipanggil oleh MKDKI, hal ini sehubungan dengan adanya
laporan yang diajukan oleh keluarga Manohara. Manohara adalah pasien dari drg.
Primus. Dijelaskan oleh sekretaris MKDKI yaitu drg. Bima ada laporan bahwa
drg. Primus telah melakukan kelalaian praktek, dimana manohara mengalami
abses setelah perawatan saluran akar pada gigi 36. Hal ini berkaitan dengan
bioetika dan primafasie.

Drg. Bima menanyakan apakah sewaktu mau melakukan perawatan


saluran akar giginya telah dilakukan informed consent kepada pasien? Hal ini
sangat penting di zaman yang semakin maju dan masyarakat semakin kritis
diiringi dengan makin banyaknya pengacara yang berkeliaran di sekitarnya.

Drg. Bima mengingatkan bahwa sepengetahuannya sesuain dengan


pemantauan yang dilakukan selama ini drg. Primus tidak mempunyaib rekam
medic pasien, drg. Bima mengingatkan kembali bahwa sekarang telah ada
undang-undang perlindungan konsumen sehingga bagi para praktisi kesehatan
khususnya yang harus lebih berhati-hati dalam menjalankan profesinya serta
sesuai dengan etika.

Bagaimana saudara menanggapi masalah kasus drg. Primus ini? Jelaskan.

Langkah Seven Jumps

1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-


hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
2. Menentukan masalah .
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge.
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan
dan mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk
membuat solusi secara terintegrasi.
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran/ learning objectives.
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain.
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh.
A. TERMINOLOGI

1. Bioetika : Berasal dari bahasa Yunani yaitu Bio (hidup) dan Eros (moral/adat
istiadat) yang berarti ilmu yang mengkombinasikan pengetahuan biologi dan
pengetahuan sistem nilai manusiawi dalam praktek kedokteran yang mengacu
pada generalisasi etik.
2. MKDKI : Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, lembaga
otonom dari konsil kedokteran Indonesia (KKI) yang bertugas untuk menentukan
disiplin kedokteran.
3. Primafasie : Adalah asas dokter harus memilih satu kaidah dasar etik sesuai
dengan konteks yang terjadi

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja prinsip dasar bioetika kedokteran?


2. Apa hubungan inform consent yang dibahas dalam skenario dengan kaidah
dasar bioetika?
3. Apa hubungan kasus abses gigi 36 dengan bioetika dan primafasie?
4. Apa tujuan dan fungsi inform consent?
5. Apa saja bentuk inform consent?
6. Bagaimana penggunaan inform concent pada saat keadaan gawat-darurat?
Apakah perlu atau tidak?
7. Bagaimana hubungan yang baik antara dokter dan pasien?
8. Bagaimana penyelenggaraan praktek dokter gigi yang baik?
9. Apa peran MKDKI dalam kasus di skenario?

C. ANALISA MASALAH

1. Apa saja prinsip dasar bioetika kedokteran?


1. Principalism : berisi 4 kaidah normative :
 Beneficence : mementingkan hal yang bermanfaat. Dokter dapat
menghargai martabat, dimana pasien mendapat pengobatan terbaik dari.
 Non maleficence : Bersifat tidak merugikan dengan mengurangi resiko
dalam kegiatan berpraktik.
 Justice : semua pasien diperlakukan adil tanpa memandang agama, warna
kulit, suku, jabatan, dan ras.
 Autonomy : dokter dapat menghargai keputusan pasien.

2. After principalism : etika naratif, kasih saying, dan juga komunikasi yang
berjalan baik.
3. Etika normative (terbagi 3) :
 Deontologi : Benar atau salahnya suatu tindakan yang dilakukan tidak
tergantung pada akibat.
 Teleologi : tindakan dilakukan bergantung pada akibat.
 Virtue : tindakannya dilakukan bergantung pada norma yang berlaku.

2. Apa hubungan inform consent yang dibahas dalam skenario dengan


kaidah dasar bioetika?
Inform consent yang ada didalam skenario kasus diatas berhubungan
dengan dua kaidah dasar bioetika Non malefience dan juga Autonomy.
Dimana dalam segi non malefience, dokter melakukan hal yang
membahayakan pasien. Sementara dalam segi autonomy, dokter tidak
melakukan inform consent dan juga rekam medik.

3. Apa hubungan kasus abses gigi 36 dengan bioetika dan primafasie?


Kurangnya komunikasi yang terjalin antara dokter dan pasien
menyebabkan pasien dirugikan karena ketidaktahuan akan efek samping dari
perawatan yang dilakukan. Ditambah lagi dokter tidak melakukan inform
consent dan rekam medik yang menjadi hak pasien membuat kasus diatas
melanggar kaidah dasar bioetika Non malefience dan juga autonomy. Dimana
jika melibatkan dua kaidah dasar bioetika sekaligus akan terjadi primafascie.
4. Apa tujuan dan fungsi inform consent?
Pada hakekatnya informed consent berfungsi sebagai :
a. Bagi pasien, merupakan media untuk menentukan sikap atas tindakan
medis yang mengandung risiko atau akibat ikutan.
b. Bagi dokter, merupakan sarana untuk mendapatkan legitimasi
(pembenaran, atau pengesahan) atas tindakan medis yang dilakukan terhadap
pasien, karena tanpa informed consent maka tindakan medis dapat berubah
menjadi perbuatan melawan hukum. Dengan informed consent maka dokter
terbebas dari tanggungjawab atas terjadinya risiko atau akibat ikutan, karena telah
diinformasikan didepan, sedangkan apabila tanpa informed consent maka risiko
dan akibat ikutan menjadi tanggungjawab dokter.
Tujuan Informed Consent :
a.Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang
sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya
yang dilakukan tanpasepengetahuan pasiennya.
b.Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan
dan bersifat negatif,karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada
setiap tindakan medik ada melekatsuatu resiko (Permenkes No.
290!"Menkes"Per"III"2008 Pasal 3).
5. Apa saja bentuk inform consent?
• Tidak dinyatakan (implied consent)
1.Normal
Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun
melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun
consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling
banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang
menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil
darahnya.
2.darurat

•Dinyatakan (ekpress consent)


1. Tulisan
Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari,
umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi
kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan
medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh
persetujuan tertulis.
2. Tulisan

6. Bagaimana penggunaan inform concent pada saat keadaan gawat-


darurat? Apakah perlu atau tidak?
Implied consent dalam bentuk lain adalah bila pasien dalam keadaan gawat
darurat (emergency) sedangkan dokter memerlukan tindakan segera, sementara
pasien dalam keadaan tidak bisa memberikan persetujuan dan keluarganya pun
tidak di tempat, dokter dapat melakukan tindakan medis terbaik menurut dokter.
Sesuai dengan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan No.290 Tahun 2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran, bahwa “Dalam keadaan darurat, untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan
persetujuan tindakan kedokteran”. Seperti kasus kecelakaan yang mengakibatkan
patah tulang kaki dan harus segera mendapatkan tindakan kedokteran supaya tidak
menjadi cacat permanen terjadi kelumpuhan pada pasien. Jenis persetujuan ini
disebut presumed consent, artinya bila pasien dalam keadaan sadar, dianggap akan
menyetujui yang akan dilakukan dokter.

7. Bagaimana hubungan yang baik antara dokter dan pasien?


Hubungan dokter dan pasien, secara hukum umumnya terjadi melalui suatu
perjanjian atau kontrak. Di mulai dengan tanya jawab (anarnnesis) antara dokter
dan pasien, kemudian diikuti dengan pemeriksaan fisik, akhirnya dokter
rnenegakkan suatu diagnosis. Hubungan tersebut melandasi semua aspek praktek
kedokteran baik dalam usaha menetapkan diagnosis maupun pengelolaan pasien.
Bila pasien telah menetapkan untuk memilih seorang dokter guna menangani
masalah kedokterannya, berarti pasien menyerahkan sepenuhnya pengelolaan
penyakitnya dan yakin bahwa dokter tersebut tidak akan bertindak tanpa
persetujuannya. Kepercayaan yang diberikan pasien merupakan amanah, sehingga
dalam pengelolaan pasien, dokter melaksanakan sesuai ilmu dan kemampuannya
yang terbaik, serta sesuai dengan kode etik kedokteran, moral, dan hukum yang
berlaku.
Hubungan dokter pasien yang dulu merupakan hubungan yang berfokus pada satu
subjek, yaitu dimana dokter merupakan pihak yang harus dihormati, disegani, dan
ditakuti sehingga harus dipatuhi segala perkataannya harus dihilangkan untuk
mendapatkan hubungan dokter dan pasien yang baik.

8. Bagaimana penyelenggaraan praktek dokter gigi yang baik?


Pada hakikatnya praktik kedokteran bukan hanya interaksi antara dokter atau
dokter gigi terhadap pasiennya, akan tetapi lebih luas, mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai standar profesi seorang dokter
dan dokter gigi pada saat memberikan pelayanan.Oleh karena itu, untuk mencapai
standar profesionalisme tersebut, berbagai kondisi harus dapat diantisipasi.
Beberapa kondisi yang mencolok berupa makin meningkatnya tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik serta berkurangnya
kepercayaan masyarakat terhadap praktik dokter dan dokter gigi. Dengan
melaksanakan keempat kaidah bioetika dan menuruti prosedur praktik sesuai
profesinya, dokter gigi dapat melakukan praktik dengan baik tanpa ada masalah.

9. Apa peran MKDKI dalam kasus di skenario?

1. Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan gigi dalam penerapan


disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.
2. Menetapkan sanksi disiplin.
3. Menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran
disiplin dokter dan dokter gigi yang diajukan; dan
4. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin
dokter atau dokter gigi.
D. SKEMA

Drg. Primus

Dipanggil MKDI

Manohara (pasien) abses gigi


36 pasca PSA

Tidak mendapat Inform


Consent dan Rekam medik

Melanggar bioetika

Prinsip Bioetika dan Hubungan dokter- Standar pelayanan


Primafascie pasien praktik kedokteran gigi

E. TUJUAN PEMBELAJARAN / LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prinsip bioetika dan


prima fascie.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan hubungan dokter-pasien.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan standar pelayanan praktik
kedokteran gigi.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang informed consent.
F. KUMPULAN INFORMASI

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prinsip bioetika dan


prima fascie.

Etik kedokteran merupakan ”terjemahan” dari asas-asas etika menjadi


ketentuanketentuan pragmatis yang memuat hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-
hal yang harus dihindari. Sebenarnya yang disebut sebagai etik (ethos) adalah
suatu adat kebiasaan, namun karena telah menjadi istilah umum dimana etik
diartikan sebagai adat kebiasaan yang ”baik, selayaknya, seharusnya”, maka
sampai sekarang pengertian inilah yang dipakai.
Sementara etika adalah Nilai dasar moral, Dasar dan pedoman perilaku
manusia(yang baik atau buruk) dalam kaitan hidup dengan sesama. Humaniora
medik (medical humanities) mengandung pengertian aspek kemanusiaan dari ilmu
kedokteran (Practice of Humane medicine). Karena kita ketahui bahwa antara
ilmu kedokteran, moral dan kemanusiaan tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah
yang ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya
memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga
memperhitungkan timbulnya masalah pada masa yang akan datang.

PRINSIP BIOETIKA

Kaidah dasar bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-
prinsip itu harus spesifi k. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan
dengan prinsip lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu
prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan
prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. 15 Terdapat 4
kaidah dasar moral (bioetika), meliputi:

a. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy).

Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang


memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap
manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.
Autonomy mempunyai ciri-ciri:

 Menghargai hak menentukan nasib sendiri


 Berterus terang menghargai privasi
 Menjaga rahasia pasien
 Melaksanakan Informed Consent

Seseorang yang dibatasi otonominya adalah seseorang yang dikendalikan


oleh orang lain atau seseorang yang tidak mampu bertindak sesuai dengan hasrat
dan rencananya.
Terdapat berbagai pendapat tentang penerapan prinsip otonomi. Meskipun
demikian, secara umum ada beberapa cara menerapkan prinsip otonomi,
khususnya dalam praktek kedokteran. Cara-cara tersebut antara lain:
1. Menyampaikan kebenaran atau berita yang sesungguhnya (tell the truth)
2. Menghormati hak pribadi orang lain (respect the privacy of others)
3. Melindungi informasi yang bersifat rahasia (protect confidential information)
4. Mendapat persetujuan untuk melakukan tindakan terhadap pasien (obtain
consent for interventions with patients)
5. Membantu orang lain membuat keputusan yang penting (when ask, help others
make important decision).

Hal penting dalam menerapkan prinsip otonomi adalah menilai kompetensi


pasien. Para pakar meyakini belum ada satu definisi kompetensi pasien yang dapat
diterima semua pihak, sehingga begitu banyak defnisi tentang kompetensi pasien.
Salah satu definisi kompetensi pasien yang dapat diterima adalah ”kemampuan
untuk melaksanakan atau perform suatu tugas atau perintah”.

b. Berbuat baik (benefi cence).

Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar


pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare).
Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari
sekedar memenuhi kewajiban. Ciri-ciri prinsip ini, yaitu;

 Mengutamakan Alturisme
 Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya
menguntungkan seorang dokter
 Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan
dengan suatu keburukannya
 Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
 Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
 Meenerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti
yang orang lain inginkan
 Memberi suatu resep
Prinsip ini dibatasi keseimbangan manfaat, resiko, dan biaya (sebagai hasil
dari tindakan) serta tidak menentukan pencapaian keseluruhan kewajiban. Kritik
yang sering muncul terhadap penerapan prinsip ini adalah tentang kepentingan
umum yang diletakan di atas kepentingan pribadi. Sebagai contoh, dalam
penelitian kedokteran, atas dasar kemanfaatan untuk kepentingan umum sering
prosedur penelitian yang membahayakan individu subjek penelitian diperbolehkan.
Padahal, terdapat prinsip-prinsip lain yang semestinya juga dipertimbangkan.
Prinsip beneficence harus diterapkan baik untuk kebaikan individu seorang pasien
maupun kebaikan masyarakat keseluruhan.

Karena luasnya cakupan kebaikan, maka banyak ketentuan-ketentuan


dalam praktek (kedokteran) yang baik lahir dari prinsip beneficence ini. Beberapa
contoh penerapan prinsip beneficence ini adalah:
1. Melindungi dan menjaga hak orang lain.
2. Mencegah bahaya yang dapat menimpa orang lain.
3. Meniadakan kondisi yang dapat membahayakan orang lain.
4. Membantu orang dengan berbagai keterbatasan (kecacatan).
5. Menolong orang yang dalam kondisi bahaya.

c. Tidak berbuat merugikan (non-malefi cence).

Praktik kedokteran harus memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan
paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: fi rst, do no harm, tetap berlaku dan
harus diikuti. Non-malficence mempunyai ciri-ciri:

 Menolong pasien emergensi


 Mengobati pasien yang luka
 Tidak membunuh pasien
 Tidak memandang pasien sebagai objek
 Melindungi pasien dari serangan
 Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
 Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
 Tidak melakukan White Collar Crime

Prinsip non-maleficence sering menjadi pembahasan dalam bidang


kedokteran terutama kasus kontroversial terkait dengan kasus penyakit terminal,
penyakit serius dan luka serius. Prinsip ini memegang peranan penting dalam
pengambilan keputusan untuk mempertahankan atau mengakhiri kehidupan.
Penerapannya dapat dilakukan pada pasien yang kompeten maupun tidak
kompeten. Pada dasarnya, prinsip non-maleficence memberikan peluang kepada
pasien, walinya dan para tenaga kesehatan untuk menerima atau menolak suatu
tindakan atau terapi setelah menimbang manfaat dan hambatannya dalam situasi
atau kondisi tertentu.

d. Keadilan (justice).

Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama


dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan,
serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter
terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang
menjadi perhatian utama dokter. Justice mempunyai ciri-ciri :

 Memberlakukan segala sesuatu secara universal


 Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
 Menghargai hak sehat pasien
 Menghargai hak hukum pasien

Terdapat beberapa kriteria dalam penerapan prinsip justice, antara lain:


1. Untuk setiap orang ada pembagian yang merata (equal share)
2. Untuk setiap orang berdasarkan kebutuhan (need)
3. Untuk setiap orang berdasarkan usahanya (effort)
4. Untuk setiap orang berdasarkan kontribusinya (contribution)
5. Untuk setiap orang berdasarkan manfaat atau kegunaannya (merit)
6. Untuk setiap orang berdasarkan pertukaran pasar bebas (free-market exchange)

Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama, yaitu:


1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien,
terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination),
2. Prinsip beneficience, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang
ditujukan ke kebaikan pasien;
3. Prinsip non maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere”
atau “above all do no harm”,
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan
dalam mendistribusikan sumberdaya (distributive justice).

PRINSIP BIOETIKA KEDOKTERAN DALAM ISLAM

Prinsip Bioetik Islam Bioetik islam didasarkan pada prinsip persamaan (selain
takwa), persaudaraan manusia (dalam tauhid), kebebasan untuk memilih tanpa ada
paksaan (prinsip selektifitas dan kreativitas) sehingga adanya pilihan membatasi
kebebasan, tujuan akhir dan cara harus konsisten untuk kebenaran, kebaikan
hanya dari Allah dan keadilan antara hak dengan kewajiban yang menghargai
kontribusi dan usaha atau pilihan individu.
Bioetik islam memiliki prinsip antara lain ;

1) Prinsip Tabligh,
2) Prinsip Amanah, Dokter harus dapat menjaga amanah dan kepercayaan, dan
selalu menjaga rahasia pasien bahkan sampai pasien tersebut meninggal dunia
3) Prinsip Ukhuwah, Ukhuwah berarti persaudaraan atau Cooperative,
Communicative, dokter harus mampu bekerjasama dengan siapa saja, harus selalu
menjaga hubungan baik dengan sesama.
4) Prinsip Fathonah, dokter harus terus belajar sepanjang hayatnya, menimba
ilmu dan mengasah kemampuannya secara berkesinambungan
5) Prinsip Ikhlas, Dalam melakukan tindakan medis selalu didasari niat karena
pengabdian atau altruisme semata-mata karena Allah pada saat sebelum mulai,
sewaktu bekerja dan sesudah bekerja.
6) Prinsip Kaffah, Dokter harus berbuat yang terbaik untuk pasien, mengerahkan
kemampuan dan daya upaya untuk keselamatan pasien
7) Prinsip Shiddiq, Sidq atau jujur meliputi jujur perkataan, jujur dalm janji, jujur
perbuatan, jujur dalam pergaualan dan jujur dalam hati.
8) Prinsip Uswatun hasanah, Prinsip ini adalah gabungan dari prinsip beneficence
dan non-maleficence seperti pada bioetik baratn. Prinsip tauhid berarti meyakini
dan menyandarkan segala sesuatu berasal dari Allah dan atas ijin dari Allah
sebagai causa prima.
9) Prinsip Rahmatan lil’alamin, Prinsip ini menekankan akan pentingnya nilai
pragmatisme dalam setiap tindakan dokter. Suatu tindakan akan sesuai dengan
prinsip ini jika mampu memberikan manfaat kepada pasien tanpa pandang bulu
10) Prinsip Yaqin, Prinsip ini merupakan konsekwensi logis prinsip kebebasan.
Setelah pilihan dibuat maka pasien harus terikat dan sudah dibatasi dengan
pilihannya tersebut yang dibuat atas kesadaran dan hak menentukan nasib sendiri.
11) Prinsip Adil, Prinsip ini menekankan pentingnya berbagi dalam masalah
kebenaran, maslahah, dan kebaikan secara proposional, tidak memihak salah satu
pihak, memenuhi prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban, dan memenuhi
prinsip derajat kebutuhan
12) Prinsip Daulah , Daulat = Autonomy, dokter harus senantiasa menghormati
hak-hak pasien, menghormati hak aassi manusia dan harkat martabatnya sebagai
makhluk biopsikososiokultural yang utuh.
13) Prinsip Istiqomah, Istiqomah = Excellence, dokter harus selalu melakukan
pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan berniat terus menerus untuk
memperbaiki diri menuju kesempurnaan.
PRIMAFASCIE

Primafascie adalah asas dokter yang harus memiliki satu kaidah dasar etik
sesuai dengan konteks yang terjadi. Primafascie pada (berubah menjadi atau
dalam keadaan) konteks membahas hak orang lain selain diri pasien itu sendiri.
Hak orang lain ini khususnya mereka yang sama atau setara dalam mengalami
gangguan kesehatan diluar diri pasien, serta membahas hak-hak sosial masyarakat
atau komunitas sekitar pasien. Konsep primafascie ini adalah saat didalam suatu
kasus, terdapat dua asas prinsip bioetika dan harus mendahulukan yang lebih
mengorbankan salah satu serta memilih salah satu asas.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan hubungan dokter-


pasien.
Hubungan antara pemberi jasa layanan kesehatan (dokter) dengan penerima
jasa kesehatan (pasien) berawal dari hubungan vertikal yang bertolak pada hubungan
paternalisme (father knows best). Hubungan vertikal tersebut adalah hubungan antara
dokter dan pasien tidak lagi sederajat. Hubungan ini melahirkan aspek hukum
inspaning verbintenis antara dua subyek hukum (dokter dan pasien), hubungan
hukum ini tidak menjanjikan suatu kesembuhan / kematian, karena obyek dari
hubungan hukum itu adalah berupaya secara maksimal yang dilakukan secara hati-
hati dan cermat sesuai dengan standar pelayanan medis berdasarkan ilmu
pengetahuan dan pengalamannya dalam menangani penyakit tersebut. Tanpa disadari
keadaan seperti diatas membawa perubahan pola pikir sebelumnya hubungan layanan
kesehatan yaitu hubungan vertikal menuju kearah pola hubungan horizontal, termasuk
konsekuensinya, dimana kedudukan antara dokter dan pasien sama dan sederajat
walau peranan dokter lebih penting daripada pasien.

Dengan berkembangnya bioetika kedokteran maka mau tidak mau konsep


dasar ”Hubungan dokter-pasien (HDP)” juga harus ikut berubah. Selama berabad-
abad hubungan dokter-pasien tidak setara, jarak sosial dan pendidikannya sangat jauh.
Dokter sangat paternalistik dan dominan, layaknya seorang ayah yang ”serba tahu”
(father knows best), atau bahkan ”sok tahu” terhadap anaknya yang dalam posisi
tergantung, yang ”tak tahu apa-apa” atau dianggap ”tak perlu tahu apa-apa” mengenai
dirinya.
Demikian pula posisi pasien diwaktu lampau, dimana pasien hampir tidak
mempunyai hak apapun, tidak jarang bertanyapun ia tidak boleh. Ia tinggal menerima
saja apa yang dikatakan oleh dokter. Bahkan sering kali pasien ”dimarahi” jika
dinilai ”sok mau tahu”. Paternalisme ini dalam arti tradisional adalah proteksi oleh
dokter yang serba ”perkasa” terhadap pasien yang serba ”lemah”. Akar tradisi ini
adalah ajaran Hipokrates yang menyatakan bahwa dokter melakukan tindakan yang
dianggap baik untuk pasien dan tidak akan merugikannya. Lalu secara moral dokter
bertanggung jawab terhadap tindakannya itu. Begitu agungnya persepsi orang
terhadap ajaran Hipokrates dan nilai-nilai etis dalam sumpah dokter yang juga berasal
darinya, sehingga tidak ada yang berani atau dianggap berhak dan
mampu ”mencampuri” dan mengatur pekerjaan dokter.
Asas-asas etika tradisional yang paling pokok dan masih berlaku sampai
sekarang adalah asas beneficence, dokter akan berbuat kebaikan atau kebajikan
terhadap pasien, dan asas non maleficence yaitu dokter tidak akan menimbulkan
mudharat kepada pasien. Asas-asas yang lain adalah ”turunan” atau terkait dengan
salah satu asas atau kaidah dasar moral diatas. Namun demikian, ”dokter juga
manusia”, yang tidak luput dari segala kelemahan dan godaan. Dari pengalaman
diketahui bahwa banyak juga kasus-kasus pelanggaran moral dan etika dalam
hubungan dokter-pasien tersebut.

Ada 3 situasi yang menyebabkan dokter memainkan peran kunci dan berperan
secara ”powerful” dan mengarahkan interaksi dengan pasien yaitu :

1. Professional Prestige ; Didasarkan pada pengalaman atau keahlian medik;


Lama mendapatkan pelatihan Legitimasi sosial terhadap dokter sebagai pihak
yang memiliki kewenangan dalam bidang medis.
2. Situational Authority; Dokter memiliki praktek medis dan menawarkan
pelayanan kesehatan terhadap pasien dan segala anjuran dokter hendaknya
dilakukan.
3. Situational dependence; Pasien sangat tergantung pada dokter , Mendapatkan
pelayanan , Memperbolehkan dokter memeriksa dan sebagainya. Jadi melalui
interaksi ada “Competency Gap” antara dokter dan pasien.

Selanjutnya, hal lain yang menyebabkan timbulnya hubungan asimetris antara


pasien dengan dokter adalah karena keadaan pasien yang sangat mendesak untuk
segera mendapatkan pertolongan dari dokter, misalnya karena terjadi kecelakaan
lalu lintas, terjadi bencana alam, maupun karena situasi lain yang menyebabkan
keadaan pasien sudah gawat, sehingga sangat sulit bagi dokter yang menangani
untuk mengetahui dengan pasti kehendak pasien.
Dalam keadaan seperti ini dokter langsung melakukan apa yang disebut dengan
Zaakwaarneming, sebagai mana diatur dalam pasal 1354 KUHPerdata, yaitu suatu
bentuk hubungan hukum yang timbul karena adanya “persetujuan
tindakan medis” terlebih dahulu, melainkan karena keadaan yang memaksa atau
keadaan darurat.

bahwa hubungan dokter dan pasien bersifat asimetris yang disebabkan oleh :
1. Rasa percaya yang tinggi pasien terhadap dokter karena memiliki kewenangan
sebagai pihak yang memiliki pengalaman atau keahlian medik.
2. Pasien sendiri yang datang atas kehendaknya kepada dokter untuk memperoleh
pertolongan.
3. Dokter atas ilmu pengetahuannya mengetahui tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan penyakit dan penyembuhannya. Sedangkan pasien tidak tahu
apa-apa tentang hal itu sehingga pasien menyerahkan nasibnya sepenuhnya
ditangan dokter.
4. Keadaan pasien yang sangat mendesak atau darurat untuk segera mendapatkan
pertolongan dari dokter.

Pada dasarnya dewasa ini perubahan pola hubungan antara dokter dan pasien
disebabkan tiga faktor dominan, yaitu :
1. Meningkatnya jumlah permintaan atas layanan kesehatan;
2. Berubahnya pola penyakit;
3. Teknologi medik.
Hak-hak yang dimiliki pasien sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang dalam Pasal 52 adalah :

a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis;


b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. Menolak tindakan medis; dan
e. Mendapatkan isi rekam medis.

Kewajiban pasien yang diatur dalam Pasal 53 Undang Undang Praktik


Kedokteran ini adalah :
a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya;
b. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku disarana pelayanan kesehatan;
d. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Demikian pula bagi dokter, sebagai pengemban profesi, maka ia memiliki hak dan
kewajiban yang melekat pada profesinya tersebut. Dalam menjalankan profesinya,
seorang dokter memiliki hak dan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 53
Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan :
1) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2) Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi
standar profesi dan menghormati hak pasien.
3) Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Sacara khusus hak-hak dokter dalam menjalankan praktik kedokteran diatur
dalam Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal
50 yang mengatur bahwa seorang dokter mempunyai hak :
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
b. Memberikan pelayanan medis menurut standar professional dan standar
prosedur operasional;
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya;
d. Menerima imbalan jasa.

Hubungan timpang antara dokter dan pasien yang disebabkan karena rasa takut
pasien terhadap dokter bisa diatasi dengan komunikasi terapeutik yang dilakukan
tenaga kesehatan.
Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional seorang tenaga
kesehatan (dokter). Tujuan komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban parasaan dan
pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada
bila pasien percaya pada hal yang diperlukan;
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang
efektif;
4. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan standar pelayanan


praktik kedokteran gigi.

Dalam menjalankan profesinya, seorang dokter terikat dengan Standar


Profesi Kedokteran yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
( IDI ) yaitu :
1. Standar keterampilan
a. Keterampilan kedaruratan medik;
Merupakan sikap yang diambil oleh seorang dokter dalam menjalankan
profesinya dengan sarana yang sesuai dengan standar ditempat prakteknya.
Bilamana tindakan yang dilakukan tidak berhasil, penderitan perlu dirujuk ke
fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.

b. Keterampilan umum;
Meliputi penanggulangan terhadap berbagai penyakit yang tercantum dalam
kurikulum inti pendidikan dokter Indonesia.
2. Standar sarana
Meliputi segala sarana yang diperlukan untuk berhasilnya profesi dokter
dalam melayani penderita dan pada dasarnya dibagi 2 bagian, yakni :
a. Sarana Medis; meliputi sarana alat-alat medis dan obat-obatan.
b. Sarana Non Medis; meliputi tempat dan peralatan lainnya yang
diperlukan oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya.

3. Standar perilaku;
Yang didasarkan pada sumpah dokter dan pedoman Kode Etik Kedokteran
Indonesia, meliputi perilaku dokter dalam hubungannya dengan penderita dan
hubungannya dengan dokter lainnya, yaitu :
a. Pasien harus diperlakukan secara manusiawi.
b. Semua pasien diperlakukan sama.
c. Semua keluhan pasien diusahakan agar dapat diperiksa secara menyeluruh.
d. Pada pemeriksaan pertama diusahakan untuk memeriksa secara menyeluruh.
e. Pada pemeriksaan ulangan diperiksa menurut indikasinya.
f. Penentuan uang jasa dokter diusahakan agar tidak memberatkan pasien.
g. Dalam ruang praktek tidak boleh ditulis tarif dokter.
h. Untuk pemeriksaan pasien wanita sebaiknya agar keluarganya disuruh masuk
kedalam ruang praktek atau disaksikan oleh perawat, kecuali bila dokternya
wanita.
i. Dokter tidak boleh melakukan perzinahan didalam ruang praktek, melakukan
abortus, kecanduan dan alkoholisme.

4. Standar catatan medik.


Pada semua penderita sebaiknya dibuat catatan medik
yang didalamnya dicantumkan identitas penderita, alamat, anamnesis,
pemeriksaan, diagnosis, terapi dan obat yang menimbulkan alergi terhadap
pasien.

KOMPETENSI UTAMA DOKTER GIGI INDONESIA

DOMAIN I : PROFESIONALISME
Mampu melakukan praktik di bidang Kedokteran Gigi & mulut sesuai dengan
keahlian, tanggung jawab, kesejawatan, etika dan hukum yang relevan
Kompetensi utama :

1. Etik & Jurisprudensi (C3,P5,A4)


1.1 Menerapkan etika KG serta hukum yang berkaitan dengan praktek KG
secara profesional.
1.2 Melakukan pelayanan kesehatan gigi & mulut sesuai dengan kode etik.
1.3 Memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum yang
berkaitan dengan praktik KG.
2. Analisis informasi kesehatan secara kritis, ilmiah dan efektif (C4, P3, A3)
2.1 Menganalisis secara kritis kesahihan informasi
2.2 Mengelola informasi kesehatan secara ilmiah, efektif, sistematis &
komprehensif
2.3 Berfikir kritis & alternatif dlm mengambil keputusan.
2.4 Menggunakan pendekatan evidence based dentistry dalam pengelolaan
kesehatan gigi dan mulut.

3. Komunikasi (C3, P3, A3)


Mampu melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) secara efektif
& bertanggung jawab baik secara lisan maupun tertulis dengan pasien, keluarga
atau pendamping pasien serta masyarakat, teman sejawat dan profesi kesehatan
lain yang terkait.

4. Hubungan sosio kultural dalam bidang kesehatan gigi dan mulut (C3,
P3, A3)
Seorang dokter gigi harus mampu mengelola dan menghargai pasien dengan
keanekaragaman sosial, ekonomi, budaya, agama dan ras melalui kerjasama
dengan pasien dan berbagai fihak terkait untuk menunjang pelayanan kesehatan
gigI & mulut yang bermutu.

DOMAIN II : PENGUASAAN ILMU PENGETAHUAN KEDOKTERAN DAN


KEDOKTERAN GIGI

Mampu memahami Ilmu kedokteran dasar dan Klinik, kedokteran Gigi dasar
dan kedokteran gigi klinik yang relevan sebagai dasar profesionalisme serta
pengembangan ilmu kedokteran gigi Kompetensi utama:

5. Ilmu Kedokteran Dasar (C3, P4, A4)


Seorang dokter gigi harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan biomedik
yang relevan sebagai sumber keilmuan dan berbagai data penunjang untuk diagnosis dan
tindakan medik KG.

6. Ilmu kedokteran Klinik (C3, P2, A2)


Seorang dokter gigi harus memahami ilmu kedokteran klinik yang relevan sebagai
pertimbangan dalam melakukan perawatan gigi dan mulut pada pasien medik kompromis.

7. Ilmu kedokteran gigi dasar (C3, P4, A4)


Seorang dokter gigi harus mampu memahami prinsip ilmu kedokteran gigi
dasar yg mencakup : Biologi Oral, Material & teknologi kedokteran gigi untuk
menunjang keterampilan preklinik & klinik, serta penelitian bidang Kedokteran
Gigi.

8. Ilmu kedokteran Gigi klinik (C3, P3, A4)


Seorang dokter gigi harus memahami prinsip ilmu kedokteran gigi klinik
sebagai dasar untuk melakukan pelayanan klinis kesehatan gigi dan mulut yg
efektif dan efisien

DOMAIN III : PEMERIKSAAN FISIK SECARA UMUM DAN SISTEM


STOMATOGNATIK

Mampu memeriksa, mendiagnosis dan menyusun rencana perawatan untuk


mencapai kesehatan gigi dan mulut yang prima melalui tindakan promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kompetensi utama :
9. Pemeriksaan Pasien (C3, P3, A4) Seorang dokter gigi harus mampu
9.1 Melakukan pemeriksaan fisik secara umum dan sistem stomatognatik
dengan mencatat informasi klinis, laboratoris, radiologis, psikologis dan sosial
guna mengevaluasi kondisi medis pasien
9.2 Mengenal dan mengelola perilaku pasien secara profesional
9.3 Menggunakan rekam medik sebagai acuan dasar dalam melaksanakan
perawatan gigi & mulut

10.Diagnosis (C4, P4, A4)


Seorang dokter gigi harus mampu menegakkan diagnosis penyakit-penyakit
gigi dan mulut melalui interpretasi, analisis dan sintesis hasil pemeriksaan pasien.

11.Rencana perawatan (C4, P3, A3)


11.1 Menganalisis rencana perawatan yang didasarkan pada kondisi,
kepentingan dan kemampuan pasien
11.2 Menentukan rujukan yang sesuai

DOMAIN IV : PEMULIHAN FUNGSI SISTEM STOMATOGNATIK


Mampu melakukan tindakan pemulihan fungsi sistem stomatognatik melalui
penatalaksanaan klinik Kompetensi utama :

12. Pengelolaan Sakit dan Kecemasan (C3, P4, A3)


Seorang dokter gigi harus mampu mengendalikan rasa sakit dan kecemasan
pasien disertai sikap empati.
13. Tindakan Medik Kedokteran Gigi (C5, P5, A4)
13.1 Melakukan Konservasi dan restorasi gigi sulung dan permanen
13.2 Melakukan perawatan penyakit / kelainan periodontal
13.3 Melakukan perawatan Ortodonsia pada pasien anak-anak dan dewasa
13.4 Melakukan perawatan Bedah sederhana pd jaringan keras & lunak
mulut
13.5 Melakukan perawatan Non-bedah pd lesi jaringan lunak mulut

DOMAIN V : KESEHATAN GIGI DAN MULUT MASYARAKAT

Mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masya rakat menuju kesehatan


gigi dan mulut yang prima Kompetensi utama :
14. Melakukan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat (C4, P3,
A4)
14.1 Mendiagnosis masalah kesehatan Gigi & Mulut Masyarakat
14.2 Melakukan upaya promotif dan Preventif pada Masyarakat
14.3 Mengupayakan Teknologi Informasi untuk Kepentingan Pelayanan
Kesehatan Masyarakat
14.4 Bekerja dalam tim serta membuat jejaring kerja (networking) yang
efektif dan efisien dalam usaha menuju kesehatan gigi dan mulut yang optimal.

15. Manajemen Perilaku (C3, P4, A3)


Seorang Dokter Gigi harus mampu memahami konsep perilaku kesehatan
individu dan masyarakat di Bidang Kedokteran Gigi.

DOMAIN VI : MANAJEMEN PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI

Mampu menerapkan fungsi manajemen dalam menjalankan praktik


Kedokteran Gigi Kompetensi utama :

16. Manajemen Praktik dan Lingkungan Kerja (C3, P3, A3)


16.1 Menata manajemen praktik serta tatalaksana lingkungan kerja praktik
kedokteran gigi.
16.2 Menata lingkungan kerja KG secara ergonomik dan prinsip
keselamatan kerja.
16.3 Menerapkan prinsip dasar pengelolaan praktik dan hubungan-nya
dengan aspek sosial.
4.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang informed consent.
Secara harfiah Consent artinya persetujuan, atau lebih ‘tajam’ lagi, ”izin”.
Jadi Informed consent adalah persetujuan atau izin oleh pasien atau keluarga yang
berhak kepada dokter untuk melakukan tindakan medis pada pasien, seperti
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lain-lain untuk menegakkan diagnosis,
memberi obat, melakukan suntikan, menolong bersalin, melakukan pembiusan,
melakukan pembedahan, melakukan tindak-lanjut jika terjadi kesulitan, dan
sebagainya. Selanjutnya kata Informed terkait dengan informasi atau penjelasan.
Dapat disimpulkan bahwa Informed Consent adalah persetujuan atau izin
oleh pasien (atau keluarga yang berhak) kepada dokter untuk melakukan tindakan
medis atas dirinya, setelah kepadanya oleh dokter yang bersangkutan diberikan
informasi atau penjelasan yang lengkap tentang tindakan itu. Mendapat penjelasan
lengkap itu adalah salah satu hak pasien yang diakui oleh undang-undang
sehingga dengan kata lain Informed consent adalah Persetujuan Setelah
Penjelasan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585 Tahun
1989, Persetujuan Tindakan Medik adalah Persetujuan yang diberikan oleh pasien
atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut.

Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur dalam :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.


2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran dan Penjelasannya.
3. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI).
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medis.
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1419/Men.Kes/Per/X/2005 tentang
Penyelanggaraan Praktik Kedokteran.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan.
7. Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88.

Bentuk Informed Consent

Ada 2 bentuk Persetujuan Tindakan Medis, yaitu :


1. Implied Consent (dianggap diberikan)
Umumnya implied consent diberikan dalam keadaan normal, artinya
dokter dapat menangkap persetujuan tindakan medis tersebut dari isyarat yang
diberikan/dilakukan pasien. Demikian pula pada kasus emergency sedangkan
dokter memerlukan tindakan segera sementara pasien dalam keadaan tidak bisa
memberikan persetujuan dan keluarganya tidak ada ditempat, maka dokter dapat
melakukan tindakan medik terbaik menurut dokter.
2. Expressed Consent (dinyatakan)
Dapat dinyatakan secara lisan maupun tertulis. Dalam tindakan medis yang
bersifat invasive dan mengandung resiko, dokter sebaiknya mendapatkan
persetujuan secara tertulis, atau yang secara umum dikenal di rumah sakit sebagai
surat izin operasi.

Persetujuan tertulis dalam suatu tindakan medis dibutuhkan saat :


1. Bila tindakan terapeutik bersifat kompleks atau menyangkut resiko atau efek
samping yang bermakna.
2. Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi.
3. Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak yang bermakna bagi
kedudukan kepegawaian atau kehidupan pribadi dan sosial pasien.
4. Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian.

Fungsi dari Informed Consent adalah :


1. Promosi dari hak otonomi perorangan;
2. Proteksi dari pasien dan subyek;
3. Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan;
4. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk mengadakan introspeksi
terhadap diri sendiri;
5. Promosi dari keputusan-keputusan rasional;
6. Keterlibatan masyarakat (dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai
social dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan biomedik.

Informed Consent itu sendiri menurut jenis tindakan/ tujuannya dibagi tiga, yaitu:
a. Yang bertujuan untuk penelitian (pasien diminta untuk menjadi subyek
penelitian).
b. Yang bertujuan untuk mencari diagnosis.
c. Yang bertujuan untuk terapi.

Dalam keadaan gawat darurat Informed consent tetap merupakan hal yang
paling penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah. Prioritas yang paling
utama adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Walaupun tetap penting, namun
Informed consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi
pelaksanaan emergency care sebab dalam keadaan kritis dimana dokter berpacu
dengan maut, ia tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan sampai pasien
benar-benar menyadari kondisi dan kebutuhannya serta memberikan
keputusannya.

Ketiadaan informed consent dapat menyebabkan tindakan malpraktek


dokter, khususnya bila terjadi kerugian atau intervensi terhadap tubuh pasiennya.
Hukum yang umum diberbagai Negara menyatakan bahwa akibat dari ketiadaan
informed consent setara dengan kelalaian/keteledoran.

Unsur-unsur yang harus terdapat dalam Lembar Informasi (Informed


consent/Persetujuan Setelah Penjelasan) adalah:
1. Adanya tindakan
Persetujuan tindakan medis harus memuat jenis operasi yang akan
dikerjakan. Jenis operasi ini haruslah dimengerti oleh pasien. Penjelasan ini kalau
perlu dilakukan dengan gambar,misalnya operasi usus buntu. Tindakan ini
dijelaskan dengan menggambarkan apendinya dan cara operasinya
2. Adanya resiko
Setiap tindakan medik mengandung resiko. Ada resiko yang dapat diduga
dan ada juga yang tidak terduga. Resiko ini harus dijelaskan kepada pasien. Untuk
resiko yang dapat diduga harus diberitahu pula cara pengamanannya. Resiko yang
tidak terduga harus diberitahukan dengan bijaksana dan bukan menakuti.
Maksudnya jangan sampai pasien tidak menyetujui operasi karena suatu resiko
yang sangat kecil. Misalnnya: “Wah kalau operasi ini bisa hilang suara.”
3. Adanya tujuan yang ingin dicapai
Setiap tindakan, operasi atau tidak, mempunyai alasan, tujuan, keuntungan
dan kerugian. Untuk operasi usus buntu : alasannya adalah untuk membuang
sumber infeksi. Tujuannya adalah sembuh; atau tidak ada lagi keluhan sakit perut.
Keuntungannya adalah resiko operasi yang sangat kecil. Kerugian bila tidak
dioperasi, usus buntu itu akan pecah atau menahun.
4. Adanya batasan hukum yang etik
Batasan hukum dan etik perlu diinformasikan pada pasien. Aborsi tanpa
alasan yang kuat dilarang di Indonesia. Demikian juga dengan euthanasia. Hal-hal
yang menyangkut operasi perubahan identitas, Perlu mendapat informasi yang
sempurna
5. Adanya opsi pilihan
Opsi lain perlu diinformasikan juga. Dalam hal usus buntu memang tidak
ada opsi lain selain operasi. Berbeda dengan batu ginjal yang masih mungkin
“ditembak” . Opsi yang juga harus ditawarkan adalah pendapat banding atau
dokter lain.

Hal yang perlu diinformasikan dalam informed consent :


 Hasil Pemeriksaan
Pasien memiliki hak untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan. Apabila informasi sudah diberikan maka keputusan selanjutnya berada
di tangan pasien.
 Resiko
Resiko yang mungkin terjadi dalam terapi harus diungkapkan disertai
upaya antisipasi yang dilakukan oleh dokter untuk terjadinya hal tersebut. Jika
seorang dokter mengetahui bahwa tindakan pengobatannya beresiko dan terdapat
alternatif pengobatan lain yang lebih aman, ia harus memberitahukannya pada
pasien.
 Alternatif
Dokter harus mengungkapkan beberapa alternatif dalam proses diagnosis
dan terapi. Ia harus dapat menjelaskan prosedur, manfaat/keberhasilan,
bahaya/kerugian serta komplikasi yang mungkin timbul dari pilihan tersebut.
 Rujukan/Konsultasi
Dokter berkewajiban melakukan rujukan apabila ia menyadari bahwa
kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki kurang untuk melaksanakan terapi
pada pasien-pasien tertentu dan ia mengetahui adanya dokter lain yang dapat
menangani pasien lebih baik darinya.
 Prognosis
Pasien berhak mengetahui semua prognosis, komplikasi, sekuele,
ketidaknyamanan, biaya, kesulitan dan resiko dari setiap pilihan termasuk tidak
mendapat pengobatan atau tidak mendapat tindakan apapun. Pasien juga berhak
mengetahui apa yang diharapkan dari dan apa yang terjadi dengan mereka.
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.undip.ac.id/18836/jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/ar
ticle/view/42/36
www.rp2u.unsyiah.ac.id/index.php/welcome/prosesDownload/1098/1

http://www.kalbemed.com/Portals/6/25_206OpiniPola%20Pikir%20Etika%20dalam%20
Praktik%20Kedokteran.pdf

http://digilib.unila.ac.id/13281/14/BAB%20II.pdf

https://www.scribd.com/document/354414965/Standar-Operasional-Prosedur-
Baru-Gigi

http://www.kki.go.id/assets/data/arsip/SPPDGI_20128.pdf

http://research.fkg.ui.ac.id/panduan-pembuatan-lembar-informasi-informed-
consentpersetujuan-setelah-penjelasan/

Anda mungkin juga menyukai