Anda di halaman 1dari 2

1.

Perbedaan proses pelapukan tersebut dipengaruhi oleh iklim terutama curah hujan dan
temperatur yang dapat menentukan reaksi kimia dan sifat fisik di dalam tanah. Tingginya
curah hujan di daerah tropika basah dapat mempengaruhi reaksi tanah yaitu dapat mencuci
kation basa dari top soil ke lapisan tanah yang lebih dalam. Selain itu adanya curah hujan
dan suhu yang tinggi di daerah tropika basah dapat menyebabkan proses kehilangan cepat
dengan perkembangan cepat, hal tersebut berakibat pada banyak nya tanah di daerah
topika basah mengalami pelapukan lanjut. Berbeda dengan daerah temperate yang memiliki
suhu rendah dan curah hujan yang rendah sehingga proses reaksi berlangsung lambat,
pelapukan mekanik lambat, proses kehilangan lambat dan perkembangan terhambat [1].
Sutanto, R. (2005). Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Konsep dan Kenyataan. Kanisius.
2. Horizon O merupakan horizon organik yang sebagian besar terdiri dari bahan organik, baik
masih segar maupun sudah membusuk dengan kadar bahan organik >20% pada lapisan ini
mudah berubah akibat aktivitas manusia dan sering ditemukan pada tanah hutan dan secara
umum merupakan tanah yang kering [2]. Arabia, T., Hardjowigeno, S., Sudarsono, S.,
Widiatmaka, W., & Suharta, N. (2008). Susunan Horison Tanah Sawah pada Toposekuen
Latosol Berbahan Induk Volkanik di Daerah Bogor–Jakarta. Jurnal Agrista, 12(3), 231-238.
Tidak ditemukannya horizon O pada tanah sawah disebabkan karena proses penggenangan
dengan air dan kemudian dikeringkan secara bergantian sehingga terjadi reduksi dan
oksidasi pada tanah yang mengakibatkan perubahan baik sifat mineral, kimia fisika dan
biologi tanah sawah, sehingga lapisan permukaan tanah sawah adalah Horizon A yang
merupakan horizon mineral dengan campuran bahan organik. Proses penggenangan dan
pengeringan pada tanah sawah juga menyebabkan terjadinya reduksi dan oksidasi atas
oksida besi [3]. Prasetyo, B. H., Adiningsih, J. S., Subagyono, K., & Simanungkalit, R. D. M.
(2004). Mineralogi, kimia, fisika dan biologi tanah sawah. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian
3. Horizon yang mengandung unsur hara yang lebih kaya adalah horizon B. hal tersebut
disebabkan karena horizon B merupakan zona iluviasi yang terakumulasinya mineral dan
hara yang tercuci dari horizon A atau E sehingga terdapat mineral deposit seperti besi,
aluminium oxides dan calcium carbonate yang diterima ketika mineralisasi dan bertitisan air
dari tanah di horizon atas [4]. Ichsan, I. (2015). Identifikasi Daerah Rawan Bencana Longsor
Lahan Sebagai Upaya Penanggulangan Bencana di Kabupaten Sinjai. Sainsmat, 3(2).
4. Tanah daerah basah cenderung memiliki unsur hara yang sedikit hal tersebut karena kondisi
tanah yang bersifat masam dan memiliki berbagai macam bahan induk tanah hal tersebut
berdampak pada kandungan bahan organik yang rendah, serta kandungan besi dan
aluminium tinggi yang melebihi batas toleranius tanaman sehingga produktivitasnya rendah
[5] Subardja, D. (2007). Karakteristik dan pengelolaan tanah masam dari batuan vulkanik
untuk pengembangan jagung di Sukabumi, Jawa Barat’. Jurnal Tanah dan Iklim, 25, 59-68.
selain itu pada kondisi iklim basah dengan curah hujan dan suhu udara yang tinggi, pelapulan
bahan induk berjalan sangat intensif dalam membentuk tanah berpelapukan tinggi sehingga
kondisi tersebut cenderung menurunkan kualitas lhan dan produktivitas pertanian [6]
Subardja, D. (2006). Pengaruh Kualitas Lahan terhadap Produktivitas Jagung pada Tanah
Volkanik dan Batuan Sedimen di Daerah Bogor. J Sumberdaya Lahan, 1(2), 57-65.
5. Saya setuju dengan pernyataan tersebut, bahwa pasca letusan gunung berapi yang banyak
tersebar di Pulau Jawa memiliki material hasil letusan yang banyak hampir menutupi bagian
top soil dan menyebabkan kematian tumbuhan yang ditutupi oleh abu vulkanik namun
memiliki kandungan unsur hara yang tinggi sehingga berpotensi untuk meningkatkan
kesuburan tanah disekitar gunung berapi tersebut. Hal tersebut disebabkan karena Debu
yang menutupi lapisan atas tanah lambat laun akan melapuk bercampur dengan tanah dan
dimulai proses pembentukan (genesis) tanah yang baru. Selain itu, debu dan pasir vulkanik
yang terdeposisi diatas permukaan tanah akan mengalami pelapukan kimiawi dengan
bantuan air dan asam organik yang terdapat didalam tanah sehingga mengakibatkan
penambahan kadar kation (Ca, Mg, K dan Na) di dalam tanah sebanyak ±50% dari keadaan
sebelumnya [7]. Fiantis, D. 2006. Laju Pelapukan Kimia Debu Vulkanis G. Talang Dan
Pengaruhnya Terhadap Proses Pembentukan Mineral Liat Non-Kristalin. Artikel Ilmiah.
Universitas Andalas. Padang.