Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
KELARUTAN

NAMA MAHASISWA :
ADE RAHAYU RAMDANI ( PO713241171052 )
AINELMA YANTI ( PO713241171054 )
ALFIRA ( PO713241171056 )
ANNISA USWATUN KHASANA ( PO713241171058 )
AS’AD ( PO713241171060 )
EKA IRMA JULIANTI ( PO713241171064 )
ELSA A. ( PO713241171065 )
HESTI MEYLINDA ( PO713241171068 )
HURIA ( PO713241171070 )
INDRI NOVIA NUR AMAL ( PO713241171072 )
MAYANGSARI ( PO713241171074 )
MUJADDIDATUL FIKRIYAH ( PO713241171077 )
KELOMPOK :B1
HARI PRAKTIKUM : SELASA
PEMBIMBING : MULI SUKMAWATY, S.Farm., Apt.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut di

dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Larutan

memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam

kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air, tubuh menyerap

mineral, vitamin dan makanan dalam bentuk larutan. Sejalan dengan

pesatnya perkembangan penelitian di bidang obat, saat ini tersedia

berbagai pilihan obat, sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat

dalam pemilihan obat untuk mengobati suatu penyakit, kelarutan sangat

besar pengaruhnya terhadap pembuatan obat di mana bahan-bahan dapat

dicampurkan menjadi suatu larutan sejati, larutan koloid, dan dispersi

kasar.

Dalam kelarutan suatu zat dalam air, sangat penting untuk

diketahui dalam pembuatan sediaan farmasi. Sediaan farmasi cairan seperti

sirup, eliksir, obat tetes mata, injeksi, dan lain-lain dibuat dengan

menggunakan pembawa air. Bahkan untuk sediaan obat lainnya seperti

suspensi, tablet atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap

diperlukan karena di dalam cairan cerna obat harus dapat melarut dalam

cairan saluran cerna yang komponen utamanya adalah air agar dapat

diabsorpsi.
Pada umumnya, obat baru dapat diabsorpsi dari saluran cerna

dalam keadaan terlarut, kecuali jika transport obat melalui mekanisme

pinositosis. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan

ketersediaan hayati suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat

aktifnya di dalam air.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah

pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel zat, serta

konstanta dielektrik pelarut.

Dalam bidang farmasi, kelarutan sangat penting, karena dapat

mengetahui dan dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang

paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi

kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan

farmasetis (di bidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai

standar uji kelarutan.

Oleh karena itu, percobaan kelarutan sangat penting dilakukan agar

kita dapat mengetahui usaha-usaha atau hal-hal yang dilakukan untuk

meningkatkan kelarutan suatu obat yang dapat mempermudah absorpsi

obat di dalam tubuh manusia.

B. Tujuan Percobaan

1. Menetukan kelarutan suatu zat

2. Mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

3. Mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan zat


C. Manfaat Praktikum

1. Dapat menetukan kelarutan suatu zat

2. Dapat mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

4. Dapat mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan

zat

D. Prinsip Percobaan

Reaksi netralisasi dimana basa (NaOH) sebagai larutan baku

(larutan titer) dan asam (Asam Salisilat) sebagai zat uji yang ditandai

dengan perubahan warna menjadi pink dengan menggunakan indikator PP.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang

dibutuhkan untuk menghasilkan suatu larutan jenuh dalam sejumlah

solven. Pada suatu temperatur tertentu suatu larutan jenuh yang bercampur

dengan solut yang tidak terlarut merupakan contoh lain dari keadaan

kesetimbangan dinamik (Moechtar, 1989).

Kita tahu bahwa kenaikan temperatur menyebabkan posisi

kesetimbangan bergeser ke arah yang akan mengabsorbsi panas.Karena,

kalau solut tambahan yang ingin melarut dalam larutan jenuh harus

mengabsorbsi energi, maka larutan zat tersebut akan bertambah jika

temperatur dinaikkan. Sebaliknya, jika solut tambahan yang dimasukkan

ke dalam larutan jenuh menimbulkan proses eksotermik, maka solut akan

menjadi kurang larut jika temperatur dinaikkan (Moechtar, 1989).

Pada umumnya, kelarutan kebanyakan zat padat dan zat cair dalam

solven cair bertambah dengan naiknya temperatur. Untuk gas dalam zat

cair, kelakuan yang sebaliknya terjadi. Proses larut untuk gas dalam zat

cair hampir selalu bersifat eksotermik, sebab partikel-partikel solut telah

terpisah satu sama lain dan efek panas yang dominan akan timbul akibat

solvasi yang terjadi bilamana gas larut. Kaidah Le Chatelier meramalkan

bahwa kenaikan temperatur akan mengakibatkan perubahan endotermik,

yang untuk gas terjadi bilamana ia meninggalkan larutan. Oleh karen aitu,
gas-gas menjadi kurang larut jika temperatur zat cair di mana gas

dilarutkan menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, mendidihkan air.

Gelembung-gelembung kecil tampak pada permukaan panci sebelum

pendidihan terjadi. Gelembung-gelembung tersebut mengandung udara

yang diusir dari larutan jika air menjadi panas.Kita juga menggunakan

kelakukan kelarutan gas yang umum bilamana kita menyimpan botol yang

berisi minuman yang diberi CO2 dalam almari es dalam keadaan

terbuka. Cairan tersebut akan menahan CO2 yang terlarut lebih lama

bilamana ia dijaga tetap dingin, sebab CO2 lebih larut pada temperatur-

temperatur rendah. Lain contoh dari phenomenon ini adalah gas-gas yang

terlarut dalam air mengalir dalam telaga-telaga dan dalam sungai-sungai.

Kadar oksigen yang terlarut, yang merupakan keharusan bagi kehidupan

marine, berkurang dalam bulan-bulan dimusim panas, dibanding dengan

kadar oksigen selama musim dingin (Moechtar, 1989).

Secara kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai

konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan

tertentu. Kelarutan dinyatakan dalam satuan mililiter pelarut yang dapat

melarutkan satu gram zat. Misalnya 1 gram asam salisilat akan larut dalam

500 ml air. Kelarutan juga dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas

dan persen (Penuntun Praktikum Farmasi Fisika DIII, 2018: 7).

Aksi pelarut dari cairan nonpolar, seperti hidrokarbon berbeda

denga zat polar. Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik-

menarik antara ion-ion elektrolit lemah dan kuat, karena tetapan dilektrtik
pelarut yang rendah.Sedangkan pelarut polar dapat melarutkan zat terlarut

nonpolar dengan tekanan yang sama melalui inter aski dipole induksi

(Martin, 1993).

Kelarutan suatu bahan dalam suatu pelarut tertentu menunjukkan

konsentrasi maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan dan pelarut

tersebut.Bila suatu pelarut pada suhu tertentu melarutkan semua zat

terlarut sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut larutan

jenuh. Agar supaya diperhatikan berbagai akan kemungkinan kelarutan

diantara dua macam bahan kimia yang menentukan jumlah masing-masing

yang diperlukan untuk m embuat larutan jenuh, disebutkan dua contoh

bahan sediaan resmi larutan jenuh dalam air, yaitu larutan Tropikal

Kalsium Hidroksida, USP (Calcium Hydroxide Tropical Solution, USP),

dan larutan Oral Kalium Iodida, USP (Potasium Iodide Solution, USP)

(Howard, 1990).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara

lain adalah: (Penuntun Praktikum Farmasi Fisika DIII, 2018:7)

- pH

- temperatur

- jenis pelarut

- bentuk dan ukuran partikel zat

- konstanta dielektrik pelarut

Kelarutan dalam Farmakope Indonesia, diartikan dengan kelarutan

pada suhu 20°C (FI III) atau 25°C (FI IV) dinyatakan dalam satu bagian
bobot zat padat atau satu bagian volume zat cair dalam bagian volume

tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain (Penuntun Praktikum Farmasi

Fisika DIII, 2018:7).

Kelarutan yang tanpa tanpa angka adalah kelarutan pada suhu

kamar (25°C) pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 gram zat

padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah ml pelarut (Penuntun Praktikum

Farmasi Fisika DIII, 2018:7).

Jumlah bagian pelarut yang

Istilah Kelarutan dipergunakan untuk melarutkan 1

bagian zat

Sangat mudah larut Kurang dari 1

Mudah larut 1 – 10

Larut 10 – 30

Agak sukar larut 30 – 100

Sukar larut 100 – 1000

Sangat sukar larut 1000 – 10000

Praktis tidak larut Lebih dari 10000

(Penuntun Praktikum Farmasi Fisika DIII, 2018:7).

Larutan yang mengandung zat terlarut dengan konsentrasi

maksimum sama dengan kelarutan yang disebut larutan jenuh. Pada suatu

larutan jenuh, zat terlarut berada dalam kesetimbangan antara fase padat

dengan ion-ionnya (Penuntun Praktikum Farmasi Fisika DIII, 2018:8).


B. Uraian Bahan

a. Aquadest (FI Edisi III: 96)

Nama Resmi : AQUA DESTILLATA

Nama Lain : Air suling, air baterig, distilled water, aqua

depurata

Rumus Molekul : H₂O

Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak

mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Zat tambahan

b. Etanol (FI Edisi III: 65)

Nama Resmi : AETHANOLUM

Nama Lain :Alkohol, Etanol, Ethanol, Ehl alkohol, Etil

alkohol, Spiritus fortior

Rumus Molekul : C₆H₂O

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap,

dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah

terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak

berasap

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P

dan dalam eter P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api


Penggunaan : Zat tambahan

c. Propilenglikol (FI Edisi III: 534)

Nama Resmi : PROPYLENGLYCOLUM

Nama Lain : P.P.G; Propana-1,2-diol; Propilenglikol; Propylene

glycol

Rumus Molekul : C₃H₈O₂

Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau;

rasa agak manis; higroskopik

Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P

dan dengan kloroform; larut dalam 6 bagian eter P;

tidak dapat campur dengan eter minyaktanah P dan

dengan minyak lemak

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Zat tambahan; pelarut

d. NaOH (FI Edisi III: 412)

Nama Resmi : NATRII HYDROXIDUM

Nama Lain : Natrium hidroksida; Soda api; Sodium hydroxide;

Bijtende natron; Caustic soda; Natrium causticum;

Hydras natricus

Rumus Molekul : NaOH

Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping,

keping, keras, rapuh dan menunjukkan susunan


hablur; putih, mudah meleleh basa. Sangat alkalis

dan korosif. Segera menyerap karbondioksida

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etano

(95%) P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Zat tambahan

e. Kalium Hidrogenftalat (FI Edisi III: 686)

Nama Resmi : KALII HIDROGENFTALAT

Nama Lain : Kalium Biftalat; KHF

Rumus Molekul : CO₂H.C6H4.CO2K

Pemerian : Serbuk hablur, putih

Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air, larutan jernih,

tidak berwarna

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Baku primer

f. Tween 80 (FI Edisi III: 509)

Nama Resmi : POLYSORBATUM 80

Nama Lain : Tween 80; Polisorbat 80; Polysorbate 80

Pemerian : Cairan kental seperti minyak; jernih, kuning; bau

asam lemak; khas

Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P,

dalam etil asetat P dan dalam metanol P; sukar larut

dalam parafin cair P dan dalam minyak biji kelapa P


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Zat tambahan

g. Asam Salisilat (FI Edisi III: 56)

Nama Resmi : ACIDIUM SALICYLICUM

Nama Lain : Asam salisilat; Salicylic acid; Slicylzuur

Rumus Molekul : C7H6O3

Pemerian : Hablur ringan tidak berwarn atau serbukberwarna

putih: hampir tidak berbau: rasa agak manis dan

tajam

Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4

bagian etanol (95 %) P; mudah larut dalam

kloroform P dan dalam eter P; larut dalam

ammonium asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P,

kalium sitrat P dan natrium sitrat P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Antifungi; keratolitik

h. Indikator PP (FI Edisi III: 675)

Nama Resmi : FENOLFTALEIN

Nama Lain : Fenolftalein, Indikator PP

Rumus Molekul : C20H14O4

Pemerian : Serbuk hablur putih atau putih kekuningan

lemah, tidak berbau, stabil di udara

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Penggunaa : Zat tambahan; indikator


BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat

- Erlenmeyer

- Buret

- Pipet volume

- Gelas ukur

2. Bahan

- Aquadest

- Asam benzoat / Asam salisilat

- Alkohol

- Tween

- Propilenglikol

- Larutan NaOH 0,1 N

- Indikator Phenolptalein (PP)

B. Cara Kerja

a. Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

1. Dibuat dan dibakukan larutan baku NaOH 0,1 N

2. Dibuat campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada tabel

berikut:
Air (% v/v) Etanol (%v/v) Propilenglikol (% v/v)

30 0 20

30 2,5 17,5

30 5 15

30 7,5 12,5

30 10 10

30 15 5

30 17,5 2,5

30 20 0

3. Dilarutkan azam benzoat sedikit demi sedikit dalam masing-

masing campuran pelarut sampai diperoleh larutan yang jenuh

4. Dikocok larutan dengan orbital shaker selama 2 jam, jika ada

endapan yang larut selama pengocokan ditambahkan lagi asam

benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali

5. Disaring larutan

6. Dipipet 10 ml larutan asam benzoat untuk menentukan kadar asam

benzoat dengan cara titrasi alkalimetri

7. Dibuat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan % pelarut

yang ditambahkan

b. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan zat

1. Dibuat dan dibakukan larutan baku NaOH 0,1 N


2. Dibuat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,5; 1,0;

5,0; 10,0; 50,0; dan 100 mg/ml air

3. Dilarutkan asam salisilat sedikit demi sedikit di dalam masing-

masing campuran pelarut sampai diperoleh larutan yang jenuh

4. Dikocok larutan dengan orbital shaker selama 2 jam, jika ada

endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi asam

salisilat sampai didapat larutan yang jenuh kembali

5. Disaring larutan

6. Dipipet 10 ml larutan asam salisilat untuk menentukan kadar asam

salisilat dengan cara titrasi alkalimetri


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Pengamatan

a. Pengaruh pelarut campur

Konsentrasi Pelarut Volume


N NaOH Kadar
Air Etanol PG Titrasi

30 0 20 0,0718 N 12,3 ml 0,1220 g

30 2,5 17,5 0,0718 N 12,7 ml 0,1259 g

30 5 15 0,0718 N 10,4 ml 0,1031 g

30 7,5 12,5 0,0718 N 12,3 ml 0,1220 g

30 10 10 0,0718 N 11,1 ml 0,1101 g

30 15 5 0,0718 N 11,2 ml 0,1111 g

30 17,5 2,5 0,0718 N 13 ml 0,1289 g

30 20 0 0,0718 N 12 ml 0,1190 g
GRAFIK

14%
Hundreds

12%
Kadar % Asam Salisilat

10%
8%
6%
4%
2%
0%
30; 0; 20 30; 2,5; 30; 5; 15 30; 7,5; 30; 10; 10 30; 15; 5 30; 17,5; 30; 20; 0
17,5 12,5 2,5

Konsentrasi Air; Etanol; Propilenglikol

b. Pengaruh penambahan surfaktan

Konsentrasi
Volume
No. Larutan Tween N NaOH Kadar
Titrasi
80

1. 0 0,0718 N 2,8 ml 0,0277 g

2. 0,1 0,0718 N 3,0 ml 0,0298

3. 0,5 0,0718 N 4,1 ml 0,0466 g

4. 1,0 0,0718 N 4,3 ml 0,0426 g

5. 5,0 0,0718 N 3,3 ml 0,0327 g

6. 10,0 0,0718 N 4,5 ml 0,0446 g

7. 50,0 0,0718 N 12,0 ml 0,1190 g

8. 100 0,0718 N 9,6 ml 0,0952 g


GRAFIK

14%
Hundreds

12%

10%
Kadar % Asam Salisilat

8%

6%

4%

2%

0%
0 0.1 0.5 1 5 10 50 100

Konsentrasi Tween 80

B. Pembahasan

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat

kimia terlarut. Kelarutan adalah kemampuan suatu zat melarut dalam

pelarut tertentu.

Praktikum kali ini kita mengujikan 2 macam percobaan yaitu,

pengaruh pelarut campur dan pengaruh penambahan surfaktan.

Sebelum melakukan percobaan penentuan kadar asam salisilat,

terlebih dahulu dilakukan NaOH dengan menggunakan Kalium Biftalat.

Kalium biftalat ditimbang di timbangan analitik lalu dilarutkan dengan air

panas, kemudian ditambahkan indikator pp sebanyak 6 – 7 tetes, lalu

dilakukanlah penitrasian.
Pada percobaan pengaruh pelarut campur, dilakukan dengan

mengambil pelarut air, etanol, dan propilenglikol dalam konsentrasi yang

telah ditentukan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan asam

salisilat yang disertai pengocokan sampai terbentuk larutan yang jenuh.

Setelah jenuh, masing-masing larutan dengan konsentrasi berbeda disaring

kemudian dipipet sebanyak 10 ml ke dalam erlenmeyer, disertai

penambahan indikator pp sebanyak 6 tetes lalu dilakukan titrasi alkalimetri

dengan larutan baku NaOH. Berdasarkan hasil titrasi diperoleh volume

titrasi yang berbeda untuk masing-masing konsentrasi pelarut yang juga

berbeda.

Untuk percobaan pengaruh penambahan surfaktan, pembuatan

larutan jenuh asam salisilat dengan pelarut tween 80. Kemudian dititrasi

dengan larutan baku NaOH, tak lupa pula ditambahkan indikator pp. Hasil

titrasi, diperoleh volume titrasi yang berbeda.

Pada Farmakope, asam salisil memiliki kelarutan larut dalam 550

bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam

kloroform P dan dalam eter P; larut dalam larutan amonium asetat P,

dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P dan natrium sitrat P. Ditinjau

dari literatur tersebut, asam salisil yang dilarutkan hanya dengan aquadest

tentunya akan lebih sukar larut jika dibandingkan dengan menggunakan

pelarut etanol.
Berdasarkan hasil titrasi, asam salisil yang hanya dilarutkan

dengan aquadest hanya membutuhkan sedikit jumlah volume larutan baku

NaOH sampai diperoleh titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan

warna menjadi ungu.

Untuk pengaruh pelarut campur jumlah volume NaOH baku yang

dibutuhkan tidak stabil berdasarkan urutan-urutan jumlah konsentrasi

pelarut campurnya. Hal ini menyulitkan kami dalam mengetahui

bagaimana kelarutan asam salisil terhadap etanol dan propilenglikol. Sama

halnya dengan pengaruh pelarut surfaktan, namun pada hasil titrasi ini,

masih dapat dilihat bagaimana kelarutan asam salisil terhadap penambahan

tween 80. Semakin banyak jumlah konsentrasi tween 80 maka akan

semakin banyak pula larutan NaOH baku yang dibutuhkan sampai

diperoleh titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna menjadi

ungu.

Pada praktikum ini terjadi banyak kesalahan pada hasil praktikum,

salah satu faktornya yaitu kurang telitinya praktikan pada saat membuat

larutan yang lewat jenuh, dan juga kesalahan dalam melakukan titrasi yang

terkadang terlalu berlebih atau cenderung tidak stabil. Sehingga kadar

yang diperoleh pun tidak stabil.

Percobaan ini sangat penting dalam bidang farmasi, sebab dapat

membantunya memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau

kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang


timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di bidang farmasi) dan

lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan

bahwa:

1. Uji kelarutan asam salisilat secara kuantitatif menunjukan asam

salisilat sukar larut dalam air, hal ini sesuai literatur bahwa asam

salisilat sukar larut dalam air.

2. Semakin tinggi konsentrasi tween 80 yang ditambahkan maka semakin

banyak pula volume NaOH yang dibutuhkan. Hal ini menunjukkan

bahwa semakin besar konsentrasi tween 80 maka akan semakin tinggi

pula kelarutan asam salisilat terhadap tween 80.

B. Saran

Ketika melakukan praktikum, hendaknya praktikan lebih teliti

dalam melakukan titrasi serta lebih telaten dalam pembuatan larutan jenuh.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia

Edisi III. Jakarta.

Raymond Arief, Nurul Hidayah Base. 2009. Praktis Farmasi. Makassar:

EGC.

Arisanty, dkk. 2018. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makassar.

Hardianti, Dianeti. 2015. Laporan Farmasi Fisika. Tasikmalaya.

Moechtar, 1989, Farmasi Fisika, Yogyakarta : Gadjah Mada University

Press.

Ansel C. Howard, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Jakarta :

Universitas Indonesia Press.

Taufiq, S.Si., M.Kes., Apt. 2012. Ilmu Resep Teori. Makassar: SMK

Farmasi Yamasi Makassar


LAMPIRAN

A. Pembakuan

Kalium Biftalat ~ NaOH 0,1 N sebanyak 10 ml (BM Kalium Biftalat =

204,22)

W = V × N × BE

= 10 ml × 0,1 N × 204,22

= 204,22 mg

= 0,2042 gram

B. Pembakuan NaOH

KHF yang ditimbang Data Titrasi Volume Titrasi

Titik Awal Titik Akhir

0,2009 g (200,9 mg) 0 ml 13,7 ml 13,7 ml

0,2021 g (202,1 mg) 13,7 ml 27,5 ml 13, 8 ml

1) Mgrek NaOH = mgrek KHF

V×N = mg / BE

13,7 × N = 200,9 / 204,22

N = 0,98367 / 13,7

N = 0,0718 N

2) Mgrek NaOH = mgrek KHF

V×N = mg / BE

13,8 × N = 202,1 / 204,22


N = 0,9896 / 13,8

N = 0,0717 N
0,0718 𝑁+0,0717 𝑁
N Rata-rata = 2

= 0,0718 N

C. Penetapan Kadar Asam Salisilat

a) Dengan pelarut campur (Air, Etanol, dan Propilenglikol)

Konsentrasi Pelarut Data Titrasi Volume

Air Etanol PG Titik Awal Titik Akhir Titrasi

30 0 20 0 ml 12,3 ml 12,3 ml

30 2,5 17,5 12,3 ml 25 ml 12,7 ml

30 5 15 25 ml 35,4 ml 10,4 ml

30 7,5 12,5 0 ml 12,3 ml 12,3 ml

30 10 10 17 ml 28,1 ml 11,1 ml

30 15 5 25,3 ml 36,5 ml 11,2 ml

30 17,5 2,5 12,3 ml 25,3 ml 13 ml

30 20 0 5 ml 17 ml 12 ml

BM Asam Salisilat = 138,12

BE = BM

1) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 12,3 × 0,0718

mg = 12,3 × 0,0718 × 138,12

mg = 121,9793 mg
= 0,1220 g (dalam 10 ml)

2) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 12,7 × 0,0718

mg = 12,7 × 0,0718 × 138,12

mg = 125,9461 mg

= 0,1259 g (dalam 10 ml)

3) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 10,4 × 0,0718

mg = 10,4 × 0,0718 × 138,12

mg = 103,1370 mg

= 0,1031 g (dalam 10 ml)

4) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 12,3 × 0,0718

mg = 12,3 × 0,0718 × 138,12

mg = 121,9793 mg

= 0,1220 g (dalam 10 ml)

5) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 11,1 × 0,0718

mg = 11,1 × 0,0718 × 138,12


mg = 110,0788 mg

= 0,1101 g (dalam 10 ml)

6) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 11,2 × 0,0718

mg = 11,2 × 0,0718 × 138,12

mg = 111,0705 mg

= 0,1111 g (dalam 10 ml)

7) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 13 × 0,0718

mg = 13 × 0,0718 × 138,12

mg = 128,9212 mg

= 0,1289 g (dalam 10 ml)

8) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,12 = 12 × 0,0718

mg = 12 × 0,0718 × 138,12

mg = 119,0041 mg

= 0,1190 g (dalam 10 ml)

b) Dengan pelarut tween 80

No Konsentrasi N NaoH Volume Titrasi (mL) Volume


Larutan Tween Titik Awal Titik Akhir Titrasi

80

1. 0 0,0718 N 0,0 2,8 2,8 ml

2. 0,1 0,0718 N 2,8 5,8 3,0 ml

3. 0,5 0,0718 N 5,8 9,9 4,1 ml

4. 1,0 0,0718 N 9,9 14,2 4,3 ml

5. 5,0 0,0718 N 14,2 17,5 3,3 ml

6. 10,0 0,0718 N 17,5 22,0 4,5 ml

7. 50,0 0,0718 N 22,0 34,0 12 ml

8. 100 0,0718 N 34,0 43,6 9,6

1) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 2,8 × 0,0718

mg = 2,8 × 0,0718 × 138,32

mg = 27,7678 mg

= 0,0277 g (dalam 10 ml)

2) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 3 × 0,0718
mg = 3 × 0,0718 × 138,32

mg = 29,7510 mg

= 0,0298 g (dalam 10 ml)

3) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 4,1 × 0,0718

mg = 4,1 × 0,0718 × 138,32

mg = 40,6598 mg

= 0,0466 g (dalam 10 ml)

4) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 4,3 × 0,0718

mg = 4,3 × 0,0718 × 138,32

mg = 42,6432 mg

= 0,0426 g (dalam 10 ml)

5) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 3,3 × 0,0718

mg = 3,3 × 0,0718 × 138,32

mg = 32,7262 mg

= 0,0327 g (dalam 10 ml)

6) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N
mg / 138,32 = 4,5 × 0,0718

mg = 4,5 × 0,0718 × 138,32

mg = 44,6266 mg

= 0,0446 g (dalam 10 ml)

7) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 12 × 0,0718

mg = 12 × 0,0718 × 138,32

mg = 119,0042 mg

= 0,1190 g (dalam 10 ml)

8) Mgrek Asam Salisil = mgrek NaOH

mg / BE = V×N

mg / 138,32 = 9,6 × 0,0718

mg = 9,6 × 0,0718 × 138,32

mg = 95,2023 mg

= 0,0952 g (dalam 10 ml)

Anda mungkin juga menyukai