Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ali Imron

Npm : 1515051052

TUGAS EKSPLORASI ELEKTROMAGNETIK

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan metode AMT,CSAMT, dan MT ?


2. Jelaskan yang dimaksud dengan metode GPR dan VLF?
3. Jelaskan perbedaan antara metode CSAMT dengan AMT ?
4. Jelaskan perbedaan antara metode MT dengan CSMAT ?
5. Uraikan penurunan rumus yang mendasari metode CSAMT dan MT ?
6. Jelaskan beberapa efek yang nantinya akan mengakibatkan penyimpangan
dan berakibat pada data yang diperoleh pada metode CSMAT ?
7. Jelaskan persamaan yang mendasari metode GPR ?
8. Jelaskan persamaan metode elektromagnetik secara umum ?
9. Sebutkan aplikasi metode CSAMT pada pengukuran geofisika ?
10. Apa yang dimaksud dengan skin depth ?

Jawaban

1. A). Audio Magnetotelluric (AMT) adalah metode pasif yang mengukur


arus listrik alami dalam bumi, yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari
arus listrik di ionosfer. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan
sifat listrik bahan pada kedalaman yang relatif besar (termasuk mantel) di
dalam bumi. Dengan teknik ini, variasi waktu pada potensi listrik diukur
pada stasiun pangkalan dan stasiun survei. Perbedaan pada sinyal tercatat
digunakan untuk memperkirakan distribusi resistivitas listrik bawah
permukaan. Penggunaan metode ini secara umum adalah untuk penelitian
panas bumi, minyak dan gas bumi, geohidrologi, geologi regional,batas-
batas cekungan dan penelitian-penelitian dalam lainnya yang berkaitan
dengan sub-surface.
B. Metode MT adalah Metode dengan mengukur fluktuasi medan
magnetik dan merekam fluktuasi medan listrik di permukaan bumi pada
cakupan frekuensi yang ditangkap, dimana semakin kecil frekuensi yang
dihasilkan maka semakin dalam penyelidikan yang diperoleh. Metode MT
memperoleh data dari frekuensi sekitar 400 Hz sampai 0.0000129 Hz
(perioda sekitar 21.5 jam)
C. Metode Controlled Source Audio-frequency Magnetotelluric (CSAMT)
merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika dengan menggunakan
sistem induksi elektromagnetik untuk mengetahui nilai resistivitas batuan
bawah permukaan bumi. Pengambilan data dengan metode CSAMT
mampu menembus kedalaman >1 km dibawah permukaan bumi. Oleh
sebab itu metode ini banyak digunakan untuk analisa geologi bawah
permukaan, terutama dalam eksplorasi bahan tambang. Untuk keperluan
studi stratigrafi bawah permukaan, metode CSAMT belum banyak
dilakukan.

2. A. Ground Penetrating Radar bangunan dan kondisi bawah permukaan


hingga kedalaman 60 meter refleksi/pantulan dari gelombang
elektromagnetik yang dihasilkan akibat dari perbedaan sifat /konstanta
dielektrik benda-benda di bawah permukaan.

B. Metode yang memanfaatkan medan elektromagnetik yang dipancarkan


oleh gelombang radio VLF berdaya besar. Medan primer membangkitkan
medan sekunder akibat adanya arus induksi dalam benda konduktor di
dalam tanah dan digunakan dalam penyelidikan dangkal.

3. perbedaan dari metode CSAMT dengan metode AMT adalah pada resolusi
kedalaman dan juga pada frekuensi yang digunakan. Pada metode CSAMT
resolusi kedalaman yang dapat dicapai >1 km sedangkan pada metode AMT
bisa menembus hingga mantel bumi. Untuk frekuensi yang digunakan pada
metode CSAMT adalah 0,1 – 10 KHz, sedangkan pada metode AMT adalah
10 kHz sampai 0.1 Hz

4. Metode pengukuran MT (magnetotelluric) dan AMT (audio magnetotelluric)


secara umum adalah sama, perbedaanya hanya pada cakupan frekuensi yang
ditangkap, dimana semakin kecil frekuensi yang dihasilkan maka semakin
dalam penyelidikan yang diperoleh. Metode MT memperoleh data dari
frekuensi sekitar 400 Hz sampai 0.0000129 Hz (perioda sekitar 21.5 jam)
sedangkan metode AMT memperoleh data dari frekuensi 10 kHz sampai 0.1
Hz, dimana sumbernya berasal dari alam (arus telurik yang terjadi di sekitar
ionosfer bumi).

5. Penurunan persamaan untuk metode MT maupun CSAMT dikembangkan


mengikuti pendekatan Cagniard. Asumsi dasar yang digunakan adalah bumi
dianggap lapisan horizontal dimana masing-masing lapisan mempunyai sifat
homogen isotropis dan, gelombang elektromagneik alam yang berinteraksi
dengan bumi merupakan gelombang bidang. Dengan menganggap bahwa
bumi bersifat homogen isotropis, sifat fisik medium tidak bervariasi
terhadap waktu dan tidak ada suatu sumber muatan dalam medium yang
ditinjau, sehingga diperoleh persamaan Maxwell dalam bentuk:

∇× E = μ H (1)

∇×H =σE +ε E (2)

∇•E = 0 (3)

∇ •H = 0 (4)
Apabila variasi terhadap waktu dinyatakan sebagai fungsi sinusoidal, maka
akan diperoleh persamaan:

E(r,t) = ReE~(r,ω )eiωt

H(r,t) = ReH~ (r,ω)eiωt

6. – Efek Statik, Penyimpangan data CSAMT karena adanya heterogenitas


local dekat permukaan dan factor topografi. Melakukan perhitungan secara
teoritis, Menggunakan teknik processing seperti pemfilteran spatial, dan
Menggunakan pegukuran yang bebas dari pengaruh efek static

- Efek Topografi, Penyimpangan data CSAMT karena adanya factor


toprogafi Melakukan perhitungan untuk menghilangkan dari data.

- Efek Sumber

- Efek nonplane – wave

Merupakan penyimpangan dari apparent resistivity dan beda fase yang dekat
dengan sumber.

- Efek Source Overprintu, Merupakan pembacaan data yang bergeser.


Jika terjadi ini kita harus melakukan normalisasi agar meminimalisir
terjadinya overprint.
- Efek Bayangan ( shadow) Merupakan efek yang timbul dari filtur
geologi lokal antara sumber dan sounding.

Efek yang didapat karena pengaruh noise. Noise merupakan suatu gangguan
saat pengambilan data CSAMT sehingga mengakibatkan data yang
diperoleh pada CSAMT mengalami sedikit penyimpangan.

- Operator error, Ini merupakan kesalahan dari si operator saat proses


akusisi data. Kesalahan ini dapat disebabkan oleh si pengguna alat, di
mana si operator tersebut salah memasang kabel – kabel serta salah
memasnag kofigurasi medan magnet dan medan listrik.
- Instrumentation noise Kesalahan yang disebabkan oleh instrument yang
digunakan, missal : impedansi rendah di receiver serta pemasangan
sambungan kabel yang kurang sempurna.
- Cultural noise, Kesalahan yang disebabkan oleh lingkungan sekitar.
Contoh : adanya logam besar dan stasiun radio yang membawa sinyal
tersebut sehingga berpengaruhterhadap kualitas data medan magnet dan
medan listrik yang terukur. Cara menghindari gangguan ini adalah
dengan mendesain pengukuran yang baik.
- Atmospheric / telluric noise, Kesalahan yang disebabkan oleh aktivitas
atmosfer dan arus telluric di dalam bumi. Kasus noise yang bersumber
dari atmosfer dapat berupa petir yang memiliki freikuensi tinggi dan
tidak dapat diprediksi kapan akan terjadinya, untuk menghindarinya
digunakanlow pass filter.
- Wind noise, Kesalahan yang diakibatkan karena adanya pergerakan
angin, angin ini akan menggerakkan antenna medan magnet sehingga
sinyal pengukuran yang dihasilkan akan kurang baik. Untuk
menghindarinya antenna medan magnet harus dikubur dalam tanah agar
terhindar dari getaran atau goncangan angin tersebut.

7. Persamaan yang menghubungkan sifat fisik medium dengan medan yang


timbul pada medium tersebut dapat dinyatakan dengan (Vasco, 1997):

Jejak yang terdapat pada rekaman GPR merupakan konvolusi dari


koefisien refleksi dan impulse GPR ditunjukkan oleh persamaan
(Kunz dan Luebbers,1993):

φH d
A (t) = r(t)*F(t)*n(t)
Dimana r(t) adalah koefisien refleksi, A(t) yaitu amplitudo rekaman
GPR, F(t) adalah impulse radar, dan n(t) merupakan noise radar.
.da
nI+
tD

8. persamaan umum yang digunakan dalam metode elektromagnetik adalah


sebagai berikut.

- Hukum Amphere

- Hukum Induksi

- Hukum Gauss
- Hukum Kekekalan Muatan

9. Metode CSAMT dikembangkan di atas metode Audio Magnetotelurik


(AMT) dan Magnetotelurik (MT). Aplikasi utamanya adalah untuk mineral /
minyak / eksplorasi panas bumi, pemetaan geologi dan pengamatan air
tanah. Metode ini memindai rentang frekuensi sehingga bagian model
resistivitas kedalamam tanah dapat dihasilkan dengan melakukan
pengolahan post-data. Manfaat utama dari metode ini adalah penetrasi
kedalaman yang cukup signifikan.

Aplikasi:

- Eksplorasi tambang
- Eksplorasi migas
- Eksplorasi geothermal
- Investigasi tanah
- Proyek geoteknik
- Pemetaan struktur geologi dan litologi

10 . Skin depth merupakan jarak mksimum yang dapat dicapai oleh medan
elektromagnetik saat menembus lapisan konduktif ( Arif, 2007 ). Nilai ini
dipengaruhi oleh reistivitas bahan dan frekuensi yang digunakan.

Skin depth adalah jarak pelemahan gelombang elektromagnetik dalam


medium homogeny sehingga menjadi 1/e (~37%) dari amplitudo di
permukaan. Dengan menggunakan pendekatan quasi-static dan
mengasumsikan nilai permeabilitas μ = μ0 = 1,256 x 10-6 H/m, dan
memasukkan frekuensi (ω = 2πf), maka diperoleh :

δ= 503

dengan δ = skin depth (m), ρ = resistivitas medium homogen (Ωm), dan f =


frekuensi gelombang elektromagnetik (Hz). Untuk mendapatkan resistivitas
yang sebenarnya dimana bumi mempunyai resistivitas yang heterogen
diperoleh dengan cara membuat model dan diturunkan hubungan antara
resistivitas semu dan resistivitas sebenarnya (metode inversi). Adapun
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lithologi batuan yang
berhubungan dengan struktur perlapisan batuan bawah permukaan
berdasarkan kontras resistivitas medium dan menginterpretasi sebaran
resistivitasnya.