Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH FARMAKOLOGI

SENYAWA OBAT ANGTIFUNGI

Dosen Pengampu:
Andi Surya Amal, S.Si, M.Kes, Apt

DISUSUN OLEH:
ALIFIA RIMADHANI Y.
NIM 35.2014.7.1.0948

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
NGAWI
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hanya dengan rahmat dan karunia-Nya makalah
ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Ucapan terimakasih saya kepada seluruh pihak
yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini, khususnya kepada dosen pembimbing
mata kuliah farmakologi dan toksikologi Bpk Andi Surya Amal, S.Si, M.Kes, Apt.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah tak lain untuk memenuhi tugas mata kuliah
farmakologi dan toksikologi. Makalah ini membahas tentang “Senyawa obat antifungi”.
Dalam makalah ini dijelaskan berbagai informasi mengenai senyawa obat antifungi mulai
dari rumus kimia hingga farmakologi obat, kontra indikasi, efek samping, regimen dosis, dll.
Dengan adanya makalah ini tentunya diharapkan dapat mempermudah kami dalam
mengetahui, memahami lebih jauh mengenai farmakologi berbagai jenis obat-obatan .
Demikian makalah ini dibuat, semoga dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya
untuk media pembelajaran. Makalah ini juga tentunya masih sangat jauh dari kata sempurna.
Mohon maaf atas segala kekurangan. Segala saran tentunya akan sangat saya harapkan demi
sempurnanya makalah ini.

Mantingan, 11 November 2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu organisme yang tidak memiliki kelas tersendiri, tidak

ditempatkan sebagai kelas tumbuhan maupun kelas hewani. Sebagian besar jamur adalah

saprofilik yang berperan sebagai pengurai bahan organik, peragian makanan dan produksi

antibiotika.

Meskipun demikian, jamur juga memiliki aktivitas yang menyebabkan penyakit

infeksi yang disebut mikosis. Infeksi ini relatif jarang dibandingkan infeksi yang disebabkan

oleh bakteri atau virus. Infeksi oleh jamur biasanya baru terjadi apabila ada kondisi yang

menghambat salah satu mekanisme pertahanan.

Infeksi jamur atau mikosis dapat dikelompokkan menjadi dua: a) mikosis

superfisial yang terdiri dari infeksi dermatofit dengan bagian infeksi pada kulit, kuku, rambut,

dan infeksi mukokutan dengan bagian infeksi pada selaput lendir. Kemudian b) mikosis

sistemik yang terdapat pada jaringan dan organ yang lebih dalam.

Senyawa antifungi dapat digunakan dengan metode terapi pada mikosis

superfisial berupa preparat lokal (dermatologi), kadang dengan obat sistemik. Sedangkan

mikosis sistemik, terapi dapat dilakukan dengan obat sistemik jangka waktu panjang.

Pada makalah ini akan dibahas secara detail mengenai beberapa golongan obat

yakni golongan azol, golongan alilamin, golongan polien, golongan ekinokandin, dan

beberapa golongan lain seperti flusitosin dan griseofulvin.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah penggolongan obat antifungi?

2. Bagaimanakah karakteristik masing-masing obat dari berbagai golongan tersebut?

Ditinjau dari :
a. Rumus kimia, rumus bangun, dan sifat fisis
b. Golongan kelas terapi
c. Aktivitas anti jamur
d. Regimen dosis pemberian untuk pasien (dalam mg, mg/kg Berat badan, mg/luas
permukaan tubuh atau satuan lainnya)
e. Kontra indikasi, efek samping, interaksi obat, mekanisme kerja obat, dan
farmakokinetik obat.
f. Jenis obat atau bahan lain yang dapat menimbulkan inkompatibilitas dengan obat
tersebut.
g. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran.
1.3 Tujuan

1. Mengetahui penggolongan obat antifungi

2. Mengetahui karakteristik masing-masing obat dari berbagai golongan tersebut


BAB II
PEMBAHASAN

INFEKSI JAMUR
Infeksi jamur topikal
Infeksi sistemik

dermatofit (kulit, rambut, kuku) Mukokutan

Infeksi Dalam (internal) Infeksi Subkutan disebabkan oleh disebabkan oleh


Trichophyton Candida, sp
Kandidiasis pada mukosa
Aspergilosis kromomikosis Epidermophyton kulit dan kuku
Blastomikosis misetoma Microsporum
Koksidiodomikosis sporotrikosis
Kriptokokosis
Histoplasmosis
Mukormikosis
Parakoksidiodomikosis
Kandidiasis
PENGGOLONGAN OBAT ANTI JAMUR

GOLONGAN GOLONGAN GOLONGAN GOLONGAN


GOLONGAN AZOL
POLIEN ALILAMIN EKINOKANDIN LAIN

AMFOTERISIN B IMIDAZOL TRIAZOL THIAZOL TERBINAFIN ANIDULAFUNGIN Benzoic acid


NISTATIN AMOROLFIN CASPOFUNGIN Ciclopirox
CANDICIDIN Bifonazole Albaconazole Abafungin BUTENAFINE MICAFUNGIN Flucytosine
FILIPIN Butoconazole Efinaconazole Haloprogin
HAMYCIN Clotrimazole Epoxiconazole Griseofulvin
NATAMYCIN Econazole Fluconazole Tolnaftate
RIMOCIDIN Undecylenic
Fenticonazole Isavuconazole acid
Isoconazole Itraconazole Crystal violet
Balsam of
Ketoconazole Posaconazole Peru
Luliconazole Propiconazole
Miconazole Ravuconazole
Omoconazole Terconazole
Oxiconazole Voriconazole
Sertaconazole
Sulconazole
Tioconazole

GOLONGAN POLIEN

1. AMFOTERISIN B

a. Rumus bangun:

b. NamanIUPAC:(1R,3S,5R,6R,9R,11R,15S,16R,17R,18S,19E,21E,23E,25E,27E,29E,31

E,33R,35S,36R,37S)- 33-[(3-amino- 3,6-dideoxy- β-D-mannopyranosyl)oxy]-

1,3,5,6,9,11,17,37-octahydroxy- 15,16,18-trimethyl-13-oxo- 14,39-dioxabicyclo

[33.3.1] nonatriaconta- 19,21,23,25,27,29,31-heptaene- 36-carboxylic acid.

c. Rumus kimia: C47H73NO17


d. Sifat fisika dan kimia: Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi Streptomyces

nodosus. Sembilan puluh delapan persen campuran ini terdiri amfoterisin B yang

mempunyai aktivitas antijamur. Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning

jingga, tidak berbau dan tidak berasa ini merupakan antibiotik polien yang bersifat basa

amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu diatas 370C tetapi

dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu 40C.

e. Golongan kelas terapi: Antijamur golongan polien

f. Aktivitas antijamur: Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dan sedang

matang. Aktivitas antijamur nyata pada pH 6,0-7,5. Menghambat aktivitas Histoplasma

capsulatum, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, dan beberapa spesies

Candida, Torulopsis glabrata, Rhodotorula, Blastomyces dermatitis, Paracoccidioides

braziliensis, beberapa spesies Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum

audiouini dan spesies Trychophyton.

g. Regimen dosis: Amfoterisin B konvensional atau Amfoterisin B deoksikolat untuk

injeksi dilarutkan dalam dekstrosa 5% dengan dosis kecil pada permulaan, lalu dosis

bertahap sampai pada 0,5-0,7mg/kg BB. Kemudian pada sediaan yang telah ada

dipasaran berupa formulasi baru yaitu Amfoterisin B liposomal atau Amfoterisin

formulasi lipid. Dosisnya sebanyak 3-4mg/kgBB /hari yang diberikan dalam bentuk

infus dalam 3-4 jam.

h. Indikasi: Sebagai antibiotika spektrum luas, Amfoterisin B bersifat fungisidal dapat

digunakan dalam hampir semua infeksi jamur.Obat ini digunakan untuk mengobati

infeksi jamur berupa koksidioidomikosis,parakoksidioidomikosis, aspergilosis,

kromoblastomikosis, dan kandidiosis.

i. Kontraindikasi: 1) Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif, 2) Gangguan fungsi

ginjal 3) Ibu menyusui 4) Pada pasien yang mengonsumsi obat antineoplastik.


j. Efek samping: 1) Deman dan menggigil: Keadaan ini paling sering muncul saat

pemberian pertama intravena, tapi biasanya mereda setelah pemberian ulang. 2)

gangguan ginjal: Pasien dapat memperlihatkan penurunan kecepatan penyaringan

glomerulus dan fungsi tubulus ginjal. Bersihan kreatinin dapat menurun dan kadar

kalium serta magnesium menghilang. 3) Hipotensi: Penurunan tekanan darah seperti

syok yang disertai hipokalemiadapat terjadi sehingga membutuhkan suplementasi

kalium.4) Anemia: Anemia normositik dan nomokromik akibat penekanan produksi

eritrosit yang reversibel dapat terjadi.5) Efek neurologik: Pemberian secara intratekal

dapat memicu masalah neurologik yang serius. 6)Tromboflebitis

k. Interaksi Obat: 1) Amikasin, siklosporin, Gentamisin, paromomycin, pentamidine,

Streptomycin, Vancomycin : meningkatkan risiko kerusakan ginjal 2) Dexamethasone,

Furosemide, hidroklorotiazide, Hydrocortisone, Prednisolone : Meningkatkan risiko

hipokalemia 3) Digoxin : ampulhoterisin B meningkatkan risiko keracunan digoxin 4)

Fluconazole : melawan kerja ampulhoterisin B.

l. Mekanisme kerja obat: Zat Polyen mengikat ergosterol dalam membran sel jamur dan

membentuk pori-pori yang menyebabkan bahan-bahan esensial dari sel jamur

merembas keluar. Amfoterisin memiliki toksisitas yang selektif, karena dalam sel-sel

manusia sterol utamanya adalah kolesterol dan bukannya ergosterol. Penggunaannya

semakin meluas bagi penderita infeksi jamur sistemis dengan daya tahan tubuh yang

lemah.

m. Farmakokinetik Obat: Amfoterisin B diberikan melalui infus intravena yang lambat.

Amfoterisin B deoksikolat diberikan melalui jalur intratekal yang lebih berbahaya

kadang dipilih untuk menangani meningitis akibat fungi yang sensitif terhadap obat ini.

Sedangkan Amfoterisin B pada formula liposomal memiliki keuntungan primer berupa

pengurangantoksisitas terhadap ginjal dan infus. Amfoterisin B berikatan secara


ekstensif dengan protein plasma dan didistribusikan menuju ke seluruh tubuh. Kadar

obat dan metabolitnya yang rendah muncul dalam urine pada jangka waktu yang lama.

Beberapa juga dieliminasi melalui empedu.

n. Inkompatibilitas: Disarankan untuk tidak mencampurkan amfoterisin B dengan obat

lain. Kebanyakan inkompatibilitas disebabkan adanya pengendapan dari amfoterisin B

yang disebabkan perubahan pH atau dikarenakan kerusakan suspense koloidalnya.

Pengendapan dapat terjadi jika amfoterisin B ditambahkan pada larutan sodium klorida

0,9% atau larutan elektrolit.

o. Bentuk dan kekuatan sediaan di pasaran:1) Amfoterisin B untuk injeksi tersedia dalam

bentuk vial berisi 50 mg bubuk liofilik untuk membuat Amfoterisin deoksikolat. 2)

Amfoterisin B formulasi dispersi koloid (ABCD), 3) Amfoterisin B formula vesikel

unilamelar (Ambisome), dan 4) Amfoterisin B kompleks lipid (ABLC).

2. NISTATIN

a. Rumus bangun:

b. NamaIUPAC:

(1S,3R,4R,7R,9R,11R,15S,16R,17R,18S,19E,21E,25E,27E,29E,31E,33R,35S,36R,37S)-

33-[(3-amino-3,6-dideoxy-β-L-mannopyranosyl)oxy]-1, 3,4,7,9,11,17,37-octahydroxy-

15,16,18-trimethyl-13-oxo-14,39dioxabicyclo[33.3.1]nonatriaconta-19, 21,25,27

,29,31-hexaene-36-carboxylic acid.

c. Rumus kimia: C47H75NO17


d. Sifat Fisika dan Kimia: Merupakan antibiotik polien yang dihasilkan dari Streptomyces

noursei. Obat yang berupa bubuk berwarna kuning kemerahan ini bersifat higroskopis,

berbau khas, sukar larut dalam kloroform dan eter. Larutannya mudah terurai dalam air

dan plasma. Nistatin tidak digunakan sebagai obat sistemik karena bersifat lebih toksik.

Nistatin juga tidak diserap melalui saluran cerna, kulit maupun vagina.

e. Golongan kelas terapi: Antijamur golongan polien

f. Aktivitas antijamur: Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi

tidak aktif terhadap bakteri, protozoa dan virus.

g. Regimen dosis: Dosis Nistatin dinyatakan dalam unit, tiap 1 mg obat ini mengandung

tidak kurang dari 200 unit nistatin. Untuk pemakaian klinik tersedia dalam bentuk krim,

bubuk, salep, suspensi dan obat tetes yang mengandung 100.000 unit nistatin per gram

atau per ml. Untuk pemakaian oral tersedia tablet 250.000 dan 500.000 unit. Tablet

vagina mengandung 100.000 unit Nistatin. Untuk kandidiasis mulut pada dewasa

diberikan dosis 500.000-1.000.000 unit, 3 atau 4 kali sehari. Obat tidak langsung

ditelan tatapi ditahan dulu dalam rongga mulut. Pemakaian pada kulit disarankan 2-3

kali sehari, sedangkan pemakaian tablet vagina 1-2 kali sehari selama 14 hari.

h. Indikasi: Nistatin digunakan terutama untuk infeksi kandida di kulit, selaput lendir, dan

saluran cerna. Paronikia, vaginitis dan kandidiasis di mulut, esofagus dan lambung

biasanya merupakan komplikasi dari penyakit darah yang ganas terutama pada pasien

yang mendapat pengobatan imunosupresif.

i. Kontraindikasi: penderita hipersensitif terhadap nistatin dan wanita hamil trimester

pertama.

j. Efek samping: Mual, muntah, diare ringan mungkin didapatkan setelah pemakaian per

oral. Pemberian Nistatin pada dosis tinggi tidak menimbulkan superinfeksi.

k. Interaksi obat: -
l. Mekanisme kerja obat: Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif.

Aktivitas antijamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran jamur

atau ragi terutama ergosterol. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotik

ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan

berbagai molekul kecil.

m. Farmakokinetik obat: Penyerapan dalam saluran pencernaan sangat kurang , kecuali

dosis yang sangat tinggi diberikan . Kedua administrasi intramuskular dan intravena

menyebabkan reaksi besar di injeksi atau efek samping beracun, sehingga

penggunaannya tidak disarankan . Tidak diserap diterapkan pada kulit atau selaput

lendir . Jumlah kecil yang dapat diserap, dan 95 persen di metabolisme dan eliminasi

pada ginjal.

n. Inkompatibilitas: -

o. Bentuk dan kekuatan sediaan di pasaran: 1) 500.000 IU /tablet, 2) 100.000 IU /ml, 3)

suspensi 100.000 IU /g cream, 4) 100.000 IU / tab. vaginal

GOLONGAN AZOL

Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang luas,

yang diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol) atau triazol (itrakonazol dan

flukonazol) bergantung kepada jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur

kimia dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama, flukonazol unik karena

ukuran molekulnya yang kecil dan lipofilisitasnya yang lebih kecil. Pada jamur yang tumbuh

aktif, azol menghambat 14-α- demetilase, enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis

ergosterol, yang merupakan sterol utama membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol

menyebabkan K+ dan komponen lain bocor keluar dari sel jamur.


SENYAWA IMIDAZOL

1. KETOKONAZOL

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: 1-[4-(4-{[(2R,4S)-2-(2,4-Dichlorophenyl)-2-(1H-imidazol-1-ylmethyl)-

1,3-dioxolan-4-yl]methoxy}phenyl)piperazin-1-yl]ethan-1-one

c. Rumus kimia : C26H28Cl2N4O4

d. Sifat fisika dan kimia: Ketokonazol berupa serbuk putih hingga sedikit abu-abu dan
praktis tidak larut dalam air. Ketokonazol mempunyai pKa 2.9 hingga 6.5. Larut dalam
DMSO atau kloroform.
e. Golongan kelas terapi: antifungi golongan azol
f. Aktivitas antijamur: Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun
nonsistemik. Efektif terhadap Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus
neoformans, H. capsulatum, B. dermatitis, Aspergillus dan Sporothrix spp.
g. Regimen dosis: Dewasa adalah satu kali 200-400mg sehari. Pada anak-anak diberikan
3,3-6,6 mg/kgBB/hari. Lama pengobatan: 5 hari untuk kandidiasis vulvovagnitis, 2
minggu untuk kandidiasis esofagus dan 6-12 bulan untuk mikosis dalam.
h. Indikasi: Efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi, dan jaringan lemak. Efektif
pula untuk kriptokokus nonmeningeal, parakoksidioidomikosis, dermatomikosis,
kandidiasis ( mukokutan, vaginal, oral).
i. Kontra indikasi: Penggunaan ketokonazol dengan terfenadin, astemizol atau sisaprid
dikontraindikasikan karena dapat menyebabkan perpanjangan interval QT dan dapat
menyebabkan aritmia ventrikel jantung.
j. Efek samping yang sering dijumpai seperti mual dan muntah. Keadaan akan lebih
ringan apabila obat ditelan bersama makanan. Sedangkan yang jarang dijumpai adalah
sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia,pruritus, parestesia, gusi berdarah,
erupsi kulit dan trombositopenia. Hepatotoksisitas berat pada wanita berusia lebih dari
lima puluh tahun, nekrosis hati pada penggunaan jangka panjang, ginekomastia pada
pasien pria dan haid tidak teratur bagi wanita.
k. Interaksi obat: Pemberian ketokonazol bersama dengan obat yang menginduksi enzim
mikrosom hati (rifampisin, isoniazid, fenitoin) dapat menurunkan kadar ketokonazol.
Sebaliknya, ketokonazol dapat meningkatkan kadar obat yang dimetabolisme oleh
enzim CYP3A4 sitokrom P450 (siklosporin, warfarin, midazolam, indinavir ).
l. Mekanisme kerja Obat: Mengganggu sintesis ergosterol, diikuti peningkatan
permeabilitas pada membrane sel fungi (jamur) dan kebocoran komponen sel.
Mempengaruhi permeabilitas dinding sel melalui penghambatan sitokrom P450 jamur;
menghambat biosintesa trigliserida dan fosfolipid jamur; menghambat beberapa enzim
pada jamur yang mengakibatkan terbentuknya kadar toksik hidrogen peroksida; juga
menghambat sintesis androgen.
m. Farmakokinetik obat: Penyerapan melalui saluran cerna berkurang pada pasien dengan
pH lambung tinggi. Setelah pemberian per oral, obat ini ditemukan dalam urin, kelenjar
lemak, liur, juga pada kulit yang mengalami infeksi. Dalam plasma 84% ketokonazol
berikatan dengan protein plasma terutama albumin, 15% berikatan dengan eritrosit, dan
1% dalam bentuk bebas. Ketokonazol sebagian diekskresikan bersama cairan empedu
ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya
dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.
n. Inkompatibilitas: Pemberian bersama-sama dengan terfenadine dan astemizole.
o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: Tablet 200mg, krim 2% dan shampo
2%.

3. KLOTRIMAZOL

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: 1-[(2-Chlorophenyl)(diphenyl)methyl]-1H-imidazole


c. Rumus Kimia: C22H17ClN2

d. Sifat Fisika dan Kimia: Vagina Tablet putih atau hampir putih, atau hampir putih

dengan warna kekuningan, parallelepipedic, lenticular, dengan ujung bulat, dengan

permukaan yang homogen dan struktur homogen.

d. Golongan kelas terapi: Antijamur golongan Azol

e. Aktivitas antijamur: Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan

mekanisme kerja mirip mikonazol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea

pedis, kruris dan korporis yang disebabkan olehT. rubrum, T. mentagrophytes,

E.floccosum dan M. canis dan untuk tinea versikolor. Juga untuk infeksi kulit dan

vulvovaginitis yang disebabkan oleh C. albicans.

f. Regimen dosis: oleskan salep 2-3 kali/hari, digunakan pada kondisi kulit bersih dan

kering (kulit dibersihkan dulu)

g. Indikasi: Dermatomikosis yang disebabkan oleh dermatofites, ragi, cendawan & jenis

jamur lainnya, panu, eritrasma.

h. Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap klotrimazol

i. Efek samping: Eritema, rasa tersengat, lepuh, kulit mengelupas, edema, gatal, urtikaria,

rasa terbakar, dan iritasi pada kulit

j. Interaksi Obat: klotrimasol dapat meningkatkan efek dari benzodiazepine, kalsium-

channel bloker, cisapride, siklosporin, mesoridazine, mirtazapine, nateglinide,

nefazodone, pimozide.

k. Mekanisme kerja obat: Menghambat pertumbuhan jamur dengan meningkatkan

permeabilitas sel membran jamur.

l. Farmakokinetik Obat: Ketika dioleskan clotrimazole baik ke berbagai lapisan kulit,

mencapai konsentrasi terapeutik. Bila diterapkan secara topikal jumlah clotrimazole

kecil diserap ke dalam darah.


m. Inkompatibilitas: -

n. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: 1) Cream 1% /5g, 2) 10g Solutio 1%

/10ml, 3) 100mg / tablet vaginal, 4) 500mg / tablet vaginal

4. MIKONAZOL

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: (RS)-1-(2-(2,4-Dichlorobenzyloxy)-2-(2,4-dichlorophenyl)ethyl)-1H-

imidazole

c. Rumus kimia: C18H14Cl4N2O

d. Sifat Fisika dan Kimia: Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang rlatif

stabil, mempunyai spektrum antijamur yang lebar terhadap jamur dermatofit. Obat ini

berbentuk kristal putih, tidak berwarna dan tidak berbau, sebagian kecil larut dalam air

tapi lebih larut dalam pelarut organik.

e. Golongan kelas terapi: Antijamur golongan azol

f. Aktivitas antijamur: Mikonazol menghambat aktifitas jamur Trycophyton,

Epidermophyton, Microsporum, Candida dan Malassezia furfur. Mikonazol in vitro

efektif terhadapa bakteri gram positif.


g. Regimen dosis: infeksi kulit 1-2 dd salep 2% (gram nitrat) selama 3-5 minggu, infeksi

kuku: 1-2 dd tingtur 2% selama 8 bulan atau lebih. Krem vaginal 2% (gyno-daktarin)

malam hari selama 2 minggu.

h. Indikasi: Infeksi topikal dermatofit dan jamur lain seperti kandida, tinea, dan Pityaris

versicolor. Kandidiasis vagina

i. Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap mikonazol dan komponen lain dalam sediaan

j. Efek samping: : Iritasi lokal, sensitasi dan kontak dermatitis, eritema, rasa terbakar

lemah.

k. Interaksi Obat: : Inhibitor lemah dari CYP2C9. Obat Dimetabolisme oleh Enzim
mikrosomal hepatik . Obat dimetabolisme oleh CYP2C9: mungkin meningkat
konsentrasi plasma.
l. Mekanisme kerja obat: Inhibisi biosintesis ergosterol, merusak membran dinding sel

jamur yang selanjutnya akan meningkatkan permeabilitas, sehingga menyebabkan

hilangnya nutrisi sel

m. Farmakokinetik Obat: Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..

Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam CSF tidak

begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam peritoneal dan

cairan persendian. Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan

komposisi yang tidak berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui

kotoran dengan komposisi yang tidak berubah pula. Miconazole dimetabolisme oleh

liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus dan urin. Tidak satupun dari metabolit

yang dihasilkan bersifat aktif

n. Inkompatibilitas: -

o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: 1) Cream 2%, 2) Bedak 2%, 3)

Sabun Liquid, 4) 2% Cream 2 %


DERIVAT TRIAZOL

1. FLUKONAZOL

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: 2-(2,4-Difluorophenyl)-1,3-bis(1H-1,2,4-triazol-1-yl)propan-2-ol

c. Rumus kimia: C13H12F2N6O

d. Sifat Fisika dan Kimia: Flukonazol merupakan serbuk kristal putih, dan sedikit larut
dalam air dengan kelarutan 8 mg/ml pada suhu 37°C. Obat mempunyai kelarutan 25
mg/ml dalam alkohol pada temperatur kamar. Obat ini larut dalam metanol dan
kloroform. Flukonazol mempunyai pKa 1.76 pada suhu 24°C dalam 0.1 M NaCl.

e. Golongan kelas terapi: antijamur golongan azol

f. Aktivitas antijamur: FDA flukonazol efektif untuk mengatasi kandidiasis oral atau
esophageal, criptococcal meningitis dan pada penelitian lain dinyatakan efektif pada
sporotrikosis (limfokutaneus dan visceral).

g. Regimen dosis: Dosis kandidiasis mulut 1 dd 50-100 mg selama 1-2 minggu,


candidiasis vaginal 150 mg sebagai dosis tungga. Pada candidiasis sistemis , permulaan
400 mg , lalu 1 dd 200-400mg.

h. Indikasi: candidiasis mulut, kerongkongan, dan vagina

i. Kontraindikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap Fluconazole atau golongan azole

lainnya.
j. Efek samping: masalah gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, nyeri abdomen dan

juga sakit kepala. Selain itu hipersensitivitas, agranulositosis, sindroma Stevens

Johnsons, hepatotoksik, trombositopenia dan efek pada sistem saraf pusat.

k. Interaksi Obat: Kadar plasma fenitoin dan sulfonilurea akan meningkat pada pemakaian

bersama flukonazol, sebaliknya akan terjadi penurunan kadar plasma warfarin dan

siklosporin. Flukonazol berguna untuk mencegah relaps meningitis yang disebabkan

Cryptococcus pada pasien AIDS setelah pengobatan dengan amfoterisin B.

l. Mekanisme kerja obat: Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14
alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif. Pengurangan
ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel
jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase menyebabkan terjadinya
perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro
flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans
dan Candida spp.
m. Farmakokinetik obat: Flukonazol larut air dan cepat diabsorpsi sesudah pemberian oral,

dengan 90% bioavailabilitas, 12% terikat pada protein. Obat ini mencapai konsentrasi

tinggi dalam LCS, paru dan humor aquosus, dan menjadi obat pilihan pertama untuk

meningitis karena jamur. Konsentrasi fungisidanya juga meningkat dalam vagina,

saliva, kulit dan kuku. Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa

dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman lambung.

Kadar puncak 4-8 µg dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.

Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90%

bersihan ginjal.

n. Inkompatibilitas: -

o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: Flukonazol tersedia untuk pemakaian

sistemik (IV) dalam formula yang mengandung 2mg/ml dan untuk pemakaian per oral
dalam kapsul di Indonesia mengandung 50,100,150,200 mg. Di Indonesia yang tersedia

adalah sediaan 50 dan 150 mg.

GOLONGAN ALILAMIN

1. TERBINAFIN

a. Rumus bangun

b. Nama IUPAC: [(2E)-6,6-dimethylhept-2-en-4-yn-1-yl](methyl)(naphthalen-1-

ylmethyl)amine

c. Rumus kimia: C21H25N

d. Sifat Fisika dan Kimia: Chemically, Terbinafine hydrochloride is (E)-N-(6, 6-

dimethyl-2-hepten-4-ynyl)-N-methyl-1-naphthalenemethanamine hydrochloride. The

empirical formula C21H26CIN with a molecular weight of 327.90, and the following

structural formula: Terbinafine hydrochloride, USP is a white to off-white fine

crystalline powder. It is freely soluble in methanol and methylene chloride, soluble in

ethanol, and slightly soluble in water. Each tablet contains: Active Ingredients:

Terbinafine hydrochloride, USP (equivalent to 250 mg base) Inactive Ingredients:

colloidal silicon dioxide NF, hypromellose USP, magnesium stearate NF,

microcrystalline cellulose NF, and sodium starch glycolate NF.

e. Golongan kelas terapi: antijamur golongan alilamin

f. Aktivitas antijamur: Terbinafin merupakan anti jamur yang berspektrum luas. Efektif

terhadap dermatofit yang bersifat fungisidal dan fungistatik untuk Candida albican, s
tetapi bersifat fungisidal terhadap Candida parapsilosis. Terbinafin juga efektif

terhadap Aspergillosis sp., Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum,

Sporothrix schenxkii dan beberapa dermatiaceous moulds.

g. Regimen dosis:

Dewasa Anak-anak
Onikomikosis Kuku tangan : 250 mg/hr x 6 3-6 mg/khg/hr x 6-12
minggu minggua
Kuku kaki : 250 mg/hr x 12
minggu
Tinea kapitis 250 mg/hr x 2-8 minggu Infeksi Trichophyton : 3-6
mg/kg/hr x 2-4 minggua
Infeksi Microsporum : 3-6
mg/kg/hr x 6-8 minggua
Tinea korporis, tinea kruris 250 mg/hr x 1-2 minggu 3-6 mg/kg/hr x 1-2 minggu
b
Tinea pedis (mokasin) 250 mg/hr x 2 minggu
b
Dermatitis seboroik 250 mg/hr x 4-6 minggu

h. Indikasi: bekerja terhadap Malassezia furfur, penyebab panu, juga bekerja pada

kandidiasis, lebih banyak terhadap kuku kapur, Tinea capitis pada anak-anak.

i. Kontraindikasi: Penderita hipersensitif terhadap terbinafine dan zat tambahan yang

terkandung dalam tablet atau krim

j. Efek samping: gastrointestinal seperti diare, dispepsia, dan nyeri abdomen. Terbinafin
tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar kronik atau aktif
k. Interaksi Obat: Konsentrasi terbinafin akan menurun jika diberikan bersama rifampisin.
Namun kadar dalam darah dapat meningkat apabila diberikan bersama simetidin yang
merupakan suatu inhibitor sitokrim P-450.
l. Mekanisme kerja obat: Terbinafin menghambat kerja enzim squalene epoxidase (enzim

yang berfungsi sebagai katalis untuk merubah squalene-2,3 epoxide) pada membran sel

jamur sehingga menghambat sintesis ergosterol (merupakan komponen sterol yang

utama pada membran plasma sel jamur). Terbinafin menyebabkan Hal ini

mengakibatkan berkurangnya ergosterol yang berfungsi untuk mempertahankan

pertumbuhan membran sel jamur sehingga pertumbuhan akan berhenti (efek


fungistatik) dan dengan adanya penumpukan squalene yang banyak di dalam sel jamur

dalam bentuk endapan lemak sehingga menimbulkan kerusakan pada membran sel

jamur (efek fungisidal).

m. Farmakokinetik Obat: Dosis oral 250 mg secara tunggal menghasilkan kadar puncak

plasma 0,8 mg/l 2 jam setelah pemberian. Total klirens plasma terbinafine sekitar 1250

ml/menit dan paruh eliminasi plasma sampai 16 jam. Bioavailabilitas terbinafine tidak

dipengaruhi oleh makanan.Terbinafine terikat kuat pada protein plasma (99%). Obat ini

secara cepat berdifusi melalui jaringan dermis dan tertumpuk di dalam lapisan lipofilik

stratum korneum.

n. Inkompatibilitas: -

o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: tablet 250mg

GOLONGAN EKINOKANDIN

1. ANIDULAFUNGIN

a. Rumus bangun:
b. Nama IUPAC: N-[(3S,6S,9S,11R,15S,18S,20R,21R,24S,25S,26S)-6-[(1S,2R)-1,2-

dihydroxy-2-(4-hydroxyphenyl)ethyl]-11,20,21,25-tetrahydroxy-3,15-bis[(1R)-1

hydroxyethyl]-26-methyl-2,5,8,14,17,23-hexaoxo-1,4,7,13,16,22-hexaazatricyclo

[22.3.0.09,13]heptacosan-18-yl]- 4-{4-[4-(pentyloxy)phenyl]phenyl}benzamide

c. Rumus kimia: C58H73N7O17

d. Sifat Fisika dan Kimia:

e. Golongan kelas terapi: antijamur golongan ekinokandin

f. Aktivitas antijamur: Anindulafungin merupakan kelompok ekinokandin yang telah

disetujui FDA tahun 2006 untuk penatalaksanaan kandidiasis esophagus, peritonitis dan

abses intraabdomen disebabkan kandida.

g. Regimen dosis: infus intravena, dosis awal 200 mg sebagai dosis tunggal, diikuti 100

mg/hari. Terapi dilanjutkan selama minimal 14 hari sesudah hasil positif terakhir pada

kultur.

h. Indikasi: kandidemia pada pasien dewasa non-neutropenia.

i. Kontraindikasi: hipersensitif terhadap anidulafungin

j. Efek samping: trombositopenia, koagulapati, hiperkalemia, hipokalemia,

hipomagnesemia, kejang, sakit kepala, kemerahan, diare, peningkatan gama-

glutamiltransferase, peningkatan alkalin fosfatase dalam darah, peningkatan alanin

aminotransferase, ruam, pruritus.

k. Interaksi Obat: Saccharomyces boulardii : Agen antijamur ( sistemik , oral ) dapat

mengurangi efek terapi dari Saccharomyces boulardii . Hindari kombinasi

l. Mekanisme kerja obat: Inhibitor nonkompetitif dari synthase 1,3- beta - D - glucan

menghasilkan pembentukan berkurang dari 1,3- beta - glukan - D , sebuah polisakarida

penting yang terdiri dari 30 % sampai 60 % dari dinding sel Candida ( absen dalam sel
mamalia ) ; menurun konten glukan mengarah ke ketidakstabilan osmotik dan lisis

seluler

m. Farmakokinetik Obat: Distribusi: 30-50 L. Metabolisme: Tidak metabolisme hati di ;


mengalami hidrolisis kimia lambat untuk membuka - cincin peptida mengurangi
aktivitas antijamur. Pengeluaran: Tinja ( 30 % , 10 % sebagai obat tidak berubah ) ;
urin ( < 1 % ) Eliminasi Terminal : 40-50 jam.
n. Inkompatibilitas: ertapenem, sodium bicarbonate.
o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: intravena 50 mg dan 100mg

GOLONGAN LAIN

1. FLUSITOSIN

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: 4-amino-5-fluoro-1,2-dihydropyrimidin-2-one

c. Rumus kimia: C4H4FN3O

d. Sifat Fisika dan Kimia: Flusitosin (5-fluorositosin; 5FC) merupakan antijamur sintetik

yang berasal dari fluorinasi pirimidin, dan mempunyai persamaan struktur dengan

fluorourasil dan floksuridin. Obat ini berbentuk kristal putih tidak berbau, sedikit larut

dalam air tapi mudah larut dalam alkohol.

e. Golongan kelas terapi: Antijamur

f. Aktivitas antijamur: Flusitosin efektif terhadap Candida sp., Cryptococcus neoformans,

Cladophialophora carrionii, Fonsecaea sp., Phialophora verrucosa.


g. Regimen dosis: Flusitosin tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan 500 mg. Dosis yang

biasanya digunakan ialah 50-150 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.

Indikasi: infeksi sistemik, karena selain kurang toksik obat ini dapat diberikan per oral.

Penggunaannya sebagai obat tunggal hanya diindikasikan pada kromoblastomikosis

h. Kontraindikasi: hipersensitif terhadap flusitosin

i. Efek samping: mual,muntah dan diare. Dapat menimbulkan anemia, leukopenia, dan

trombositopenia, terutama pada penderita dengan kelainan hematologik, yang sedang

mendapat pengobatan radiasi atau obat yang menekan fungsi tulang, dan penderita

dengan riwayat pemakaian obat tersebut. Mual,muntah, diare dan enterokolitis yang

hebat. Kira-kira 5% penderita mengalami peninggian enzim SGPT dan SGOT,

hepatomegali. Terjadi sakit kepala, kebingungan, pusing, mengantuk dan halusinasi.

j. Interaksi Obat:

k. Mekanisme kerja obat: Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin

deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami

deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur terganggu

akibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. Keadaan ini

tidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubah

menjadi fluorourasil.

l. Farmakokinetik Obat: Absorbsi : diserap dengan cepat dan baik melalui saluran

cerna.Pemberian bersama makanan memperlambat penyerapan tapi jumlah yang

diserap tidak berkurang. Penyerapan juga diperlambat pada pemberian bersama

suspensi alumunium hidroksida/magnesium hidroksida dan dengan neomisin.

Distribusi :didistribusikan dengan baik ke seluruh jaringan dengan volume distribusi

mendekati total cairan tubuh. Ekskresi : 90% flusitosin akan dikeluarkan bersama

melalui filtrasi glomerulu dalam bentuk utuh, kadar dalam urin berkisar antara 200-
500µg/ml. Kadar puncak dalam darah setelah pemberian per-oral dicapai 1-2 jam.

Kadar ini lebih tinggi pada penderita infusiensi ginjal. Masa paruh obat ini dalam serum

pada orang normal antara 2,4-4.8 jam dan sedikit memanjang pada bayi prematur tetapi

dapat sangat memanjang pada penderita insufisiensi ginjal

m. Inkompatibilitas: -

n. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran

1. GRISEOFULVIN

a. Rumus bangun:

b. Nama IUPAC: (2S,6'R)- 7-chloro- 2',4,6-trimethoxy- 6'-methyl- 3H,4'H-spiro [1-

benzofuran- 2,1'-cyclohex[2]ene]- 3,4'-dione

c. Rumus kimia: C17H17ClO6

d. Sifat Fisika dan Kimia: Griseofulvin berwarna putih atau putih krem, rasa pahit,

termostabil. Dalam perdagangan obat ini tersedia untuk penggunaan secara oral sebagai

Griseofulvin Microsize dan Griseofulvin Ultramicrosize. Griseofulvin Microsize

mengandung partikel berukuran diameter 4 μm dan Griseofulvin Ultramicrosize

mengandung partikel berukuran diameter < 1 μm

Kelarutan: Larut dalam etanol, metanol, aseton, benzen, kloroform,etil asetat dan asam

asetat; Praktis tidak larut dalam air, petroleum eter.

e. Golongan kelas terapi: Antijamur

f. Aktivitas antijamur: Griseofulvin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas hanya

untuk spesies Epidermophyton flocossum, Microsporum sp., dan Trichophyton sp.,


yang merupakan penyebab infeksi jamur pada kulit, rambut kuku. Griseofulvin tidak

efektif terhadap kandidiasis kutaneus dan pitiriasis versikolor.

g. Regimen dosis: Dewasa :500 mg sehari dalam dosis terbagi atau dosis tunggal, pada

infeksi berat dosis dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat , kemudian dosis diturunkan

jika telah ada respon; Anak-anak : 10 mg/kg sehari dalam dosis terbagi atau dosis

tunggal.

h. Indikasi: Infeksi dermatofit pada kulit, kulit kepala, rambut dan kuku jika terapi topikal

tidak berhasil atau tidak cocok.

i. Kontraindikasi: Penyakit hati yang berat, lupus erytematosus sistemik (risiko serangan);

porfiria; kehamilan (hindari kehamilan selama penggunaan obat dan hingga 1 bulan

setelah pengobatan; menyusui; pria sebaiknya tidak merencanakan mempunyai anak

selama 6 bulan dalam pengobatan.

j. Efek samping: Mual, muntah, diare ; sakit kepala; tidak banyak terjadi hepatotoksisitas,

pusing, kebingungan, rasa lelah, gangguan tidur, gangguan koordinasi, neuropati

perifer, leukopenia, ruam termasuk yang jarang terjadi erithema multiform, necrolysis

epidermal toksik, dan fotosensitivitas.

k. Interaksi Obat: - Dengan Obat Lain : Efek sitokrom P450: induksi CYP1A2 (lemah),

2C8/9 (lemah), 3A4 (lemah); Meningkatkan efek/toksisitas : Toksisitas ditingkatkan

dengan etanol, dapat menyebabkan takikardi dan flushing (kemerahan); Menurunkan

efek : barbiturat dapat menurunkan kadar griseofulvin. Menurunkan aktivitas warfarin.

Menurunkan efektivitas kontrasepsi oral. Dengan Makanan : Konsentrasi griseofulvin

dapat meningkat jika digunakan bersama makanan , terutama makanan yang

mengandung lemak tinggi. Etanol : hindari etanol (dapat meningkatkan depresi SSP),

Etanol akan menyebabkan reaksi type ’’disulfiram’’ seperti kemerahan, sakit kepala,

mual dan pada beberapa pasien mengalami muntah dan nyeri dada dan/atau abdominal.
l. Mekanisme kerja obat: Menghambat mitosis sel jamur pada metafase; berikatan dengan

keratin manusia menyebabkan resistensi terhadap invasi jamur.

m. Farmakokinetik Obat: Absorpsi : absorpsi Griseofulvin ultramicrosize hampir

sempurna;Distribusi : menembus plasenta; Metabolisme : sebagian besar di hati; T½

eliminasi : 9-22 jam; Ekskresi : urine (< 1% dalam bentuk obat tidak berubah); feses

dan keringat

n. Inkompatibilitas:-

o. Bentuk dan kekuatan sediaan yang ada dipasaran: 125mg(500mg)/tablet(forte)250mg /

tablet.
BAB III

3.1 KESIMPULAN

Jamur merupakan makhluk hidup yang memiliki banyak jenis, itulah yang

menyebabkan masing-masing infeksi yang ditimbulkan juga berbeda-beda. Golongan –

golongan obat antijamur sudah cukup dapat menangani infeksi akibat jamur. Tempat infeksi

jamur pada tubuh manusia juga menjadi tolak ukur jenis infeksi.

3.2 SARAN

 Menjelaskan lebih detil jenis infeksi yang disebabkan fungi

 Menjelaskan keterkaitan antara jenis penyakit dan pengobatan yang diambil

 Menjelaskan lebih detil macam-macam jenis jamur yang menyebabkan infeksi


DAFTAR PUSTAKA

Hoan Tjay, T . 2013. Obat-Obat Penting. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Harvey, Richard, dkk. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta: EGC.

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Universitas Indonesia. Farmakologi dan Terapi.

Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Hardman, Joel. 2012. Goodman&Gilman Dasar Farmakologi dan Terapi vol.3. Jakarta:

EGC.

Hardman, Joel. 2008. Goodman&Gilman Dasar Farmakologi dan Terapi vol.2. Jakarta:

EGC.

pionas.pom.go.id

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/

https://id.wikipedia.org