Anda di halaman 1dari 21

PERKEMBANGAN SENI DAN PEMBELAJARAN YANG

SESUAI UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi Perkembangan Anak

Oleh
DEASY HANDAYANI 837284374
SULISTIAWATI 837284564

Dosen Pembimbing :
H. Supar, S.Pd. M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PAUD
UPBJJ-UT SAMARINDA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul
“Perkembangan Seni dan Pembelajaran yang Sesuai Untuk Anak Usia 4-6 Tahun”
ini dengan baik..
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Perkembangan Anak oleh H, Supar, S.Pd, M.Si. Penulisan makalah ini dapat
terselesaikan atas bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan demi menyempurnakan makalah ini. Penulis berharap semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat dalam kegiatan belajar mengajar
khususnya bagi mahasiswa jurusan kependidikan atau bagi para pembaca yang
akan mengamalkan ilmunya di bidang pendidikan.

Samarinda, 25 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................i


Daftar isi ................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..........................................................................1

B. Rumusan Masalah .....................................................................2

C. Tujuan ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Seni..........................................................................3

B. Pentingnya pembelajaran seni bagi anak ..................................3

C. Jenis-jenis kegiatan seni yang bisa dilakukan anak usia

4-6 tahun.................................................................................... 5

D. Peranan kegiatan seni dalam mengembangkan aspek-aspek

perkembangan anak usia 4-6 tahun ...........................................5

E. Tahapan perkembangan seni pada anak usia 4-6 tahun ............11

F. Kegiatan untuk menstimulasi seni pada anak usia 4-6 tahun....15

BAB III PENUTUP


Kesimpulan .......................................................................................... 17

Daftar Pustaka .......................................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa karena
karakter fisik maupun mentalnya berbeda. Hal ini sangat penting diperhatikan
khusunya dalam melakukan pengajaran terhadap anak didik. Fungsi seni dalam
pendidikan berbeda dengan fungsi seni dalam kerja profesiona. Seni untuk
pendidikan difungsikan sebagai media untuk memenuhi fungsi perkembangan
anak, baik fisik maupun mental. Sedang seni dalam kerja professional difungsikan
untuk meningkatkan kemampuan bidang keahliannya secara professional.
Di Taman Kanak-kanak kompetensi keterampilan lebih difokuskan pada
pengalaman eksplorasi untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik, bukan
menjadikan anak mahir atau ahli. Sedangkan kreativitas di sini meliputi ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terlihat dari produk atau hasil karya dan
proses dalam bersibuk diri secara kreatif (Semiawan, Munandar, 1990:
10).Pendidikan seni kreatif berperan mengembangkan kecerdasan intelektual (IQ),
kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan kreativitas (CQ), kecerdasan spiritual
(SQ) dan multi-intelegensi (MI). Peran guru adalah menstimulus siswa agar dapat
menuangkan serta mengembangkan ekspresi gerak yang kreatif baik secara
individual maupun kelompok. Ide atau gagasan siswa biasanya orisinal, misalnya
siswa dapat distimulus untuk memberikan contoh dan ide gerak tentang
bagaimana kelompok binatang menghisap madu, atau seekor kupu-kupu hinggap
di bunga, bagaimana gerak bebek berenang di kolam. Guru adalah sebagai
fasilitator, maka biarkan siswa membivisualisasikan semua gerakan yang
diinginkannya, selanjutnya guru dapat memilih gerakan mana yang penting dan
mana yang tidak.
Mengembangkan imajinasi yang penuh ilham merupakan oksigennya
kreativitas yang menghembuskan warna kehidupan, menambah elemen
kegembiraan. Oleh karena itu ketika menari, siswa harus dalam keadaan gembira
sehingga gerak tarian yang muncul akan terlihat luwes dan sesuai keinginan.

1
Gladys Andrews Fleming (1976) berpendapat bahwa melalui bergerak dalam
menari, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa itu sendiri.
Imajinasi setiap siswa tentu tidak akan sama dengan siswa lain bapalagi dengan
guru tarinya. Setiap penari bisa saja mengekspresikan gerakan yang ia lakukan
seperti meniru gerak binatang, kodok meloncat, burung terbang, ikan berenang,
atau ia merasa memainkan peran seorang peri dengan tongkat ajaibnya, menirukan
gerakan pohon melambai, gerak di luar dugaan, muncul berdasarkan daya
imajinasinya dan kita sebagai seorang guru harus mendorongnya agar lebih
banyak lagi yang dapat memberikan kebebasan atas pengembangan ide dan
kreativitas anak.

B. Rumusan Masalah
Untuk mencapai tujuan pembahasan yang diinginkan, penulis merasa perlu
merumuskan masalah masalah terlebih dahulu. Merujuk pada latar belakang,
penulis merumuskan masalah pada beberapa pertanyaan berikut:
1. Apakah definisi dari seni?
2. Bagaimana peranan dan kegiatan seni dalam mengembangkan aspek-aspek
perkembangan anak?
3. Apa saja tahapan perkembangan seni pada anak?
4. Bagaimana peran guru dalam menstimulasi anak pada kegiatan seni?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini
adalah:

1. Menjelaskan definisi seni


2. Mengidentifikasi peranan dan kegiatan seni dalam mengembangkan aspek-
aspek perkembangan anak.
3. Menjelaskan tahapan perkembangan seni pada anak
4. Menjelaskan peran guru dalam menstimulasi anak pada kegiatan seni

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI SENI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009), seni diartikan
sebagai elok, indah; kecakapan membuat, membuat, menciptakan sesuatu
yang indah-indah; suatu karya yang diciptakan dengan kecakapan luar
biasa. Dodge, Colker & Heroman (2002) menyatakan bahwa seni adalah
mendesain, (designing), membuat dan menghasilkan sesuatu (creating),
serta mengeksplorasi (exploring). Dalam kegitan seni, anak mencampur-
campurkan cat; mencampur dan mebentuk dari tanah liat, membuat bentuk
dari balok-balok, kardus, lego, menari, membuat ritme dengan tangannya,
dan bernyanyi.
Apabila kita melihat dari definisi-definisi di atas kita akan melihat
bahwa di dalam seni ada sesuatu yang indah yang diproduksi, diperoleh
dari pengalaman-pengalaman melakukan eksplorasi, dan hasilnya bisa
dinikmati oleh orang banyak.
B. PENTINGNYA PEMBELAJARAN SENI BAGI ANAK
National Education Association (NEA, 1990) menyebutkan bahwa
seni merupakan dasar dari kecerdasan individu, estetika dan
perkembangan emosi. Hal senada mengenai kecerdasan juga disampaikan
oleh Gardner (1993, 1998). Ia mengatakan bahwa kecerdasan seseorang
tidak hanya dipengaruhi dari bagaimana orang tersebut bisa menyelesaikan
soal-soal tes atau berhitung. Akan tetapi ada kemampuan-kemampuan lain
yang bisa menjadi dasar untuk mengukur kecerdasan, contohnya
kecerdasan musical (yang berhubungan dengan ketepatan individu dalam
memproduksi nada, irama, memainkan alat music, membuat lagu),
kecerdasan kinestetik (yang berhubungan dengan bagaimana individu
melakukan control terhadap badannya), kecerdasan logika matematika
(bagaimana individu memecahkan permasalahan yang berhubungan

3
dengan logika dan hitungan), kecerdasan linguistic, kecerdasan spasial,
kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan
naturalis. Dari 8 kecerdasan yang dikemukakan Gardner, ada 4 kecerdasan
yang berhubungan dengan seni namun tidak secara langsung.
Kegiatan seni adalah kegiatan yang menyenangkan dan juga bagi
orang dewasa seperti guru. Kita tidak membutuhkan ekstra energy untuk
mengajak anak-anak dalam bernyanyi, menggerak-gerakkan badan sesuai
dengan musik, membuat suatu bentuk dari tanah liat, atau membuat
gambar. Apabila sensitivitas dan kreativitas anak tidak diasah atau tidak
dipersepsi menyenangkan oleh anak maka kemampuan tersebut akam
memudar, dan bahkan menghilang. Hal tersebut sangat disayangkan
kreativitas melalui seni merupakan hal yang sangat penting bagi
perkembngan anak.
Melalui seni anak dapat mengekspresikan diri dan berimajinasi
dengan spontan dan sebebas-bebasnya. Ekspresi dalam hal ini
adalahpikiran maupun perasaannya. Saat anak sedang senang sekali
dengan burung ia akan memikirkan dan membayangkannya. Melalui
gambar, lukisan dan gerakan badan mengikuti gerakan burung akan
membuatnya sangat senang. Anak seringkali belum bisa mengekspresikan
perasaannya baik karena keterbatasan bahasa maupun karena tidak tahu
bgaimana cara menceritakannya kepada orang lain. Hal itu dapat digali
dengan kegiatan seni, sepeti memintanya untuk menggambar, dan
menceritakan tentang gambar itu. Selain itu dengan kegiatan seni
perkembangan bahasanya menjadi semakin baik karena pada saat anak
menampilkan suatu produk seni, anak akan bertanya, ditanya oleh
gurunya, dan menjawab pertanyaan orang lain. Anak akan menceritakan
hasil karyanya karena hal tersebut membanggakan bagi dirinya.
Seni dan kemampuan kognitif merupakan dua hal yang sulit untuk
dipisahkan. Dengan kegiatan seni, anak jadi tersah kemampuannya dalam
memecahkan masalah, berfikir secara kreatif, menggunakan symbol-
simbol yang abstrak bagi anak usia 4-6 tahun. Anak belajar strategi yang

4
tepat untuk membuat suatu bentuk dengan instuksiyang diberikan atau
mempresentasikan ide-idenya ke dalam suatu bentuk nyata.
Kegiatan seni juga sering dijadikan sarana terapi. Banyak anak
yang berperilaku negative berubah menjadi positif melalui terapi seni.
Kebebasan berekspresi menjadi dasar bagi terapi ini. Anak menjadi tidak
takut mengekspresikan isi hatinya karena tidak bercerita secara langsung
namun melalui gambar. Ia dengan aman dapat berekspresi dan dapat
diterima oleh lingkungan.
Apabila kita melihat anak-anak yang sering berkegiatan seni, pada
umumnya mereka tampil sebagai anak-anak yang kreatif, percaya pada
dirinya sendiri, berani untuk mengambil resiko, senang untuk
mengeksplorasi lingkungannya berminat dengan pertualangan dan hal-hal
baru, memiliki selera humor yang baik, memiliki kebutuhan berprestasi
yang tinggi (paling tidak di bidang seni), memiliki tujuan dan termotivasi
untuk mencapai tujuan tersebut, mandiri serta mudah bekerja sama dengan
orang lain.
C. JENIS-JENIS KEGIATAN SENI YANG BISA DILAKUKAN ANAK
USIA 4-6 TAHUN
Kegiatan seni sangat beraneka ragam. Beberapa diantaranya adalah
menggambar, melukis, menari, memainkan alat musik, bernyanyi, membuat
bentuk dari tanah liat, kertas bekas, lilin, pasir, bermain drama, membuat
balok dan masih banyak lagi.
D. PERANAN KEGIATAN SENI DALAM MENGEMBANGKAN ASPEK-
ASPEK PERKEMBANGAN ANAK
Contoh kegiatan seni untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan
anak antara lain, visual art, music dan gerak serta drama. Dari ketiga jenis
kegiatan seni tersebut akan dilihat peranannya terhadap 4 aspek
perkembangan anak yang lain yaitu perkembangan sosial emosi, fisik,
kognitif dan bahasa.
1. Visual Art
Visual art mengacu pada kegiatan menggambar, melukis, membuat
kolase, membuat suatu bentuk dari bahan-bahan tertentu. Dengan kegiatan

5
ini, hubungannnya dengan aspek perkembangan lain adalah sebagai
berikut.
a. Perkembangan sosial-emosi: melalui visual art, anak dapat
mengekpresikan perasaannya melalui warna-warna, tekstur dan
media yang dipilihnya. Contoh: apabila anak dalam keadaan
senang, biasanya mereka menggunakan warna-warna yang cerah.
Saat sedang bersedih, mereka menggunakan warna yang suram
atau justru hanya menggoreskan pensil dengan cepat. Mereka juga
bisa bereksperimen dengan keunikannya masing-masing seperti
membuat jeruk dan memberi warna merah pada jeruknya,
membentuk kolase bentuk ayam dengan potongan kertas warna-
warni.
b. Perkembangan fisik: Anak melakukan kegiatan menggunting,
menempel, dan membuat garis dan bentuk dengan spidol besar
atau krayon kecil, memukul baut dengan palu, meronce. Hal
tersebut membantu anak dalam melatih koordinasi mata dan
tangannya serta motorik halusnya. Kegiatan-kegiatan tersebut
merupakan dasar dari kemampuan anak untuk menulis nantinya.
c. Perkembangan kognitif: Anak menggambar, melukis dan
membentuk sesuatu berdasarkan dari apa yang mereka pernah
lihat. Pada saat mereka menterjemahkan apa yang mereka ketahui
dalam bentuk karya seni, mereka menggunakan keterampilan
berpikir untuk merencanakan, mengoorganisasi informasi,
memilih media dan merepresentasikan idenya ke dalam suatu
bentuk. Ketika mereka menggambar, melukis dan membuat
kolase, mereka belajar dan bereksperimen dengan warna, garis,
bentuk, dan ukuran. Menggunakan material kertas, kayu, kardus,
plastik akan membuat anak memilih, membuat rencana, mencoba
ide-idenya, dan mencoba kembali saat gagal. Anak juga belajar
mengenai sebab akibat dari mencampur warna, tekstur, dan media.
Dengan menggunakan metode coba salah (trial error), anak
menjadi tahu tentang hal yang baru.

6
d. Perkembangan bahasa: anak sering menceritakan apa saja yang
telah mereka lakukan dan menjawab pertanyaan tentang hasil
karyanya. Pada saat itulah, kosa kata anak akan semakin
bertambah.
2. Musik dan gerakan
Musik adalah kombinasi suara-suara atau instrument-instrumen
yang menghasilkan bunyi serta menghasilkan harmonisasi yang enak
untuk didengar.
Musik dan gerakan merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan
untuk bagi anak. Di usia 4-6 tahun anak masih senang berlari, melompat
dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dengan musik, anak akan
terakomodir gerakannya menjadi gerakan yang mengikuti irama sehingga
gerakannya lebih bermakna. Hubungan kegiatan ini dengan aspek
perkembangan lain adalah sebagai berikut.
a. Perkembangan sosial emosi: Aktivitas musik dan gerakan membuat
anak merasa menjadi bagian dalam satu grup, misalnya bernyayi
sambil menari bersama. Berbagai jenis musik akan mempengaruhi
perasaan anak dan bagaimana mereka bergerak. Musik dapat
meningkatkan spirit anak sehingga anak yang tadinya hanya duduk
diam akhirnya bangun dan bergerak mengikuti irama. Music yang
tenang akan membuat anak menjadi tenang dan rileks juga, anak
menggunakan gerakan untuk mengekspresikan dirinya, senang, marah,
sedih, menampilkan lagu dan tarian daerahnya membuat anak merasa
bangga dengan tanah air dan budayanya.
b. Perkembangan fisik: anak akan mengembangkan aspek motoric
kasarnya melalui kegiatan olah tubuh ini dan melakukan eksplorasi
dengan badannya terhadap musik yang dimainkan. Keterampilan
motorik halus anak terasah saat anak melakukan gerakan jari-jari dan
belajar memainkan instrument musik.
c. Perkembangan kognitif: Beberapa konsep matematika atau bidang
ilmu eksakta yang lain dapat dipahami oleh anak lebih baik ketika
dijelaskan melalui musik dan pemanfaatan musik. Konsep-konsep

7
abstrak dari bidang ilmu lain akan lebih mudah ditangkap anak, ketika
guru mengajarkannya melalui musik. Sedangkan konsep-konsep yang
konkret lebih mudah dipahami anak, bilaguru mengajarkannya dengan
memanfaatkan gerak tubuh. Musik dan gerak terbukti telah menjadi
sebuah alat yang ideal bagi anak-anak usia dini untuk belajar dengan
cara yang menyenangkan. Belajar bagaimana mendengarkan dan
memfokuskan perhatian mereka, dan melatih kemampuan imitasi akan
membangun suatu pemahaman tentang bahasa dan konsep-konsep –
suatu keterampilan yang diperlukan untuk kesuksesan ketika mereka
sekolah.
d. Perkembangan bahasa: Aktivitas bermusik yang ditekankan pada
syair lagu, irama syair, pola- pola irama, ketukan yang tetap, dan
mendramatisasi cerita melalui gerak dan instrumen musik telah
memberikan efek yang positif pada ketrampilan berbahasa anak.
Musik akan memperluas dan memperkuat daya ingatan anak yang
selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk membantu pengembangan
kemampuan berbahasa anak.
Definisi kata-kata dalam kamus hanya menyampaikan
sepersepuluh bagian dari makna keseluruhannya. Sebagian besarnya
lagi tersirat dalam melodi berbicara (irama, lirik, dan timbre). Coba
bandingkan dua cara mengucapkan kalimat lagu ini ...”lihat kebunku
penuh dengan bunga”. Ucapkan kalimat tersebut dengan biasa saja
tanpa bahasa tubuh (mengoyang atau mengayunkan tangan). Lalu
ucapkan (sambil dengarkan baik-baik) dengan memanjangkan
beberapa suku kata, seperti ini ...”lihaaaat kebunkuuuuu, penuh dengan
bungaaaaa”, dengan sambil mengayunkan tangan atau dengan
melenggokkan tubuh. Ada rasa yang berbeda bukan, begitu pula yang
dirasakan oleh anak.
Di dalam otak letak pusat bahasa dan pusat musik adalah terpisah
namun bersebelahan, dan perkembangan keduanya masing-masing
terjadi hampir secara pararel. Ini menjadi salah satu alasan mengapa
mendengarkan musik tampaknya juga merangsang keterampilan

8
berbahasa anak. Begitu pula sebaliknya, keterampilan berbahasa
mendorong anak mendengarkan secara aktif yang selanjutnya pada
gilirannya anak memainkan musik dan bereksperimen menciptakan
lagu atau musik sendiri melalui permainan musiknya.Kemampuan
mendengarkan dengan baik akan membuka kesempatan pada
keterampilan berbahasa yang lebih baik pula, selain kerja otak menjadi
lebih efisien, dan meningkatkan kemampuan anak dalam penyelarasan
terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dengan sering anak usia dini bernyanyi, bersyair, dan berpantun
(ketiganya berirama) dan memainkan permainan-permainan berirama.
Aktivitas-aktivitas ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan
perbendaharaan kata pada anak-anak. Tentu saja selain itu juga akan
meningkatkan keterampilan motoriknya. Dalam lagu kanak-kanak
biasanya penekanannya ada pada bunyi dan bangunan kata-kata yang
terdengar menyenangkan anak yakni lagu-lagu yang secara fonetik
jelas dan juga jenaka. Lagu-lagu yang seperti apa yang dimaksudkan
itu? Yakni lagu-lagu yang sederhana baik syair maupun melodinya,
berdurasi pendek, berulang-ulang melodi dan syairnya, memiliki
wilayah nada yang sesuai dengan pitch suara anak yang cenderung
tinggi, dengan namun wilayah nada yang terbatas. Biasanya lagu-lagu
kanak- kanak dapat dinyanyikan sambil bermain atau beraktivitas
lainnya. Karena dianggap sebagai permainan, maka anak akan
termotivasi untuk mendengarkan, mempelajari, dan mengucapkannya.
Lagu kanak-kanak mampu berfungsi sebagai sebuah katalisator transisi
penting dari dunia nonverbal seorang kanak-kanak menuju ke dunia
manusia dewasa dengan komunikasi lisan. Lagu kanak-kanak
merupakan alat peraga yang paling baik untuk mengajarkan bahasa
kepada anak usia dini.
3. Drama/Bermain Peran
Drama yang dimaksud di sini bukanlah adegan-adegan yang banyak
membutuhkan dialog-dialog percakapan panjang yang sering kita lihat di
televisi. Drama yang ditujukan pada anak-anak usia dini lebih pada anak

9
berpura-pura menjadi sesuatu atau seseorang, role play, atau membuat
karakter. Anak dapt melakukannya secara spontan tanpa harus dilatih.
Dalam bermain peran anak dapat mengekspresikan diri sebebas-
bebasnya. Mereka bisa juga menjadi siapapun yang mereka inginkan.
Dalam kegiatan ini, hubungannya dengan aspek perkembangan lain adalah
sebagai berikut.
a. Perkembangan sosial emosi: untuk bermain peran dengan anak lain anak
harus belajar bernegosiasi mengenai peran yang akan mereka mainkan,
situasinya, dan alat-alat apa yang bisa mereka pakai. Mereka melakukan
kreasi terhadap perannya dan bisa masuk dalam situasi yang sebenarnya
tidak menyenangkan bagi mereka. Penelitian menemukan bahwa anak
yang biasa bermain peran mengembangkan empatinya karena mereka
terbiasa berada pada situasi orang lain untuk sekejap. Mereka mampu
bekerja sama dengan temannya, dan lebih sedikit menampilkan perilaku
agresivitas dibandingkan anak-anak yang tidak biasa bermain peran.
b. Perkembangan fisik: anak mengembangkan keterampilan motorik halus
saat mengancingkan baju bermain perannya dan melepaskan bajunya. Hal
tersebut juga terjadi pada saat anak memakaikan dan melepaskan pakaian
bonekanya.
c. Perkembangan kognitif: saat mereka berpura-pura, mereka membuat
gambaran di benaknya mengenai pengalaman masa lalu dan
menghubungkannya dengan situasi yang ia imajinasikan. Hal tersebut
merupakan hal yang abstrak. Pada saat mereka menyiapkan meja untk 2
orang dan bermain jual beli, konsep matematika berkembang.
d. Perkembangan bahasa: untuk membuat situasi bermain perannya
terlaksana, anak harus menjelaskan kepada teman-temannya,
bertukarpikiran dan beragumentasi dengan kata-kata yang bisa dipahami
oleh temannya. Terkadang mereka menggunakan alat-alat tulis sebagai
media bermain peran dan menuliskan huruf atau angka sebagai bagian dari
kegiatan bermain peran.

10
E. TAHAPAN PERKEMBANGAN SENI PADA ANAK USIA 4-6 TAHUN
1. Tahapan perkembangan visual art
Tahapan gambar anak secara umum dibagi menjadi 3, menurut Lowenfeld
& Brittain dalam Brewer (1992) dan Lowenfeld dalam Donley (1985,
1987) yaitu:
a. Scribbling. Biasanya dimulai pada saat anak berusia 2 tahun.
Sebelumnya, anak akan memasukkan alat tulis ke mulut saat diberikan.
Gambar pada tahap ini berupa coretan-coretan acak yang diciptakan
dari garis hasil gerakan sederhana tangan berbentuk garis maupun
bulatan. Biasanya coretan yang dihasilkan berupa zig zag dan tidak
beraturan.

Gambar 1. Gambar tahap scribbling

b. Preschematic. Biasanya ditampilkan anak di usia 3-4 tahun. Pada


tahap ini, anak menggambar apa yang pernah mereka lihat dan mulai
bisa terlihat apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan.
Representasi pertama tentang gambar orang biasanya terdiri dari
lingkaran kepala dan 2 garis kaki. Semakin besar usia, gambar akan
semakin jelas dan lebih komplek. Anak juga senang menggambar hal
yang terdekat dalam hidupnya seperti binatang peliharaannya. Warna
yang digunakan pada gambar tidak realistik dan figur diletakkan tidak
beraturan di dalam kertas.

11
Gambar 2. Tahap menggambar preschematic

c. Schematic. Gambar skematik muncul di usia 6 atau 7 tahun. Pada


tahap menggambar ini anak menggambar lebih detail sebagai hasil
observasi dan perencanaan terhadap objek yang dilihatnya. Gambar
mulai digambar di tempat tertentu, dan biasanya di bawah. Gambar
biasanya tembus pandang (x-ray) sehingga yang melihat gambarnya
bisa melihat apa yang ada di dalam bentuk dari gambar.

Gambar 3. Tahap menggambar schematic


Secara khusus, Cox ( 1977) meneliti gambar orang yang dibuat anak-anak.
Perkembangan gambar orang oleh anak dibagi menjadi 4 tahapan sebagai berikut.
a. Scribbling. Pada umumnya dimulai usia 2 tahun. Banyak orag dewasa
yang mengatakan bahwa anaknya di usia ini “hanya bias mencoret-coret”.
Coretan yang dihasilkan anak ini merupakan hal yang menyenangkan bagi
anak dan merupakan tahapan kematangan kognitif serta motorik halus

12
yang sangat wajar di usianya. Dengan mencoret-coret, aspek
perkembangan lainnya menjadi berkembang.
b. Teadpole Figure. Terdiri dari lingkaran yang belum sempurna bentuknya
(kepala) dan dua garis di bawah lingkaran (kaki) dan biasanya digambar
oleh anak prasekolah. Semakin bertambah usia, biasanya anak
menggambar lebih detail, seperti menambahkan mata dan mulut di kepala.
Anak-anak prasekolah ini paham bahwa setiap manusia memiliki badan.
Mereka juga paham bahwa tidak ada tangan yang keluar dari kepala. Akan
tetapi mereka masih memiliki keterbatasan dalam menggambar. Dalam
menggambar mereka harus memutuskan bagian mana dari manusia yang
harus digambar, bagaimana setiap tubuh harus dihubungkan dengan
bagian tubuh yang lain dengan gambar.
c. Transitional figure. Pada tahap ini anak sudah mulai memasukkan tubuh
dari manusia walaupun belum jelas. Misalnya tangan diletakkan di garis
vertical di bawah kepala, ada pusarnya.
d. Drawing the body/conventional stage. Pada tahap ini tubuh semakin jelas,
terdapat garis horizontal pada garis vertical untuk menegaskan tubuh.
2. Tahap perkembangan musik dan gerakan

Kemampuan mendengar dan bergerak


Usia
apabila mendengar musik
0-4 bulan Sadar terhadap musik namun pasif
4-8 bulan Sadar terhadap musik dan mulai menikmati dengan
menengok ke arah munculnya suara
10-18 bulan Mulai menampilkan ekspresi terhadap music dengan
bergerak dan bertepuk tangan pada musik yang dia suka
18 bulan – 2 tahun Meningkatnya eksplorasi terhadap musik dengan bergerak
dan bertepuk tangan pada musik yang dia suka
2-3 tahun Mulai menari mengikuti irama
3.5 - 4 tahun Meningkatkan ekspresi diri terhadap musik
4-5 tahun Memiliki kemampuan untuk mendiskusikan musik. Saat ini
anak mulai bias mendiskusikan musik yang akan dimainkan

13
dan menceritakan detail dari musik yang ia dengar. Ini
adalah tahap di mana anak menjadi pendengar aktif. Dengan
bimbingan, anak akan bias mendengarkan musik dengan
lebih seksama.
5-6 tahun Koordinasi gerakan dan musik meningkat. Pada usia ini
biasanya anak sudh dengan tepat melakukan gerakan yang
sesuai dengan ritme. Mereka bisa lomapt dengan 2 kaki
mamupun 1 kaki, membuat gerakan mandiri. Pada masa ini
adalah tepat bagi anak untuk belajar menari.

Apabila kita lihat dari tabel di atas, di bawah usia 4 tahun anak masih
menjadi penikmat music. Anak masih megumpulkan informasi tentang suara,
ritme, tempo nada. Pada usia 4-6 tahun, anak mulai menjadi penikmat musik yang
aktif. Mereka sudah bisa memutuskan jenis musik apa yang mereka suka, diajak
untuk berdiskusi mengenai musik dan dengan kemampuan motorik kasar serta
halusnya, anak mulai secara aktif menari dengan ketukan yang tepat.
Dalam mengajarkan musik pada anak, ada beberapa elemen yang perlu dipahami
dan dikuasai guru (feeney et al, 2006), yaitu:

Elemen musik Aspek-aspek untuk membantu anak memahaminya

Ritme (karakteristik Beat : ketukan dalam musik


musik yang Melodic rhytim : ritme dari melodi atau kata
berhubungan dengan Tempo : kecepatan dalam musik
gerakan dan waktu) Rests : Hening dalam musik
Pitch : tinggi rendah nada
Tone (karakteristik Melody atau : kumpulan dari nada-nada dalam
musik yang tune urutan tertentu (sikuensial)
berhubungan dengan Tune color atau : karakteristik bunyi dari alat music
nada) timbre
dynamics : keras lembutnya nada
Form/bentuk Phrase : ide musik yang singkat tapi komplit
(struktur dari musik) dalam satu alunan music

14
repetition : pengulangan
Variation : ide musik yang mirip namun sedikit
berbeda
contrast : ide musik yang bertolak belakang
dalam satu alunan music

F. TAHAP PERKEMBANGAN KEGIATAN DRAMA


Kegiatan drama biasanya dibahas berdasarkan perkembangan kognitif dari
anak. Menurut Piaget, anak usia 5-6 tahun mulai mampu membedakan “apa
yang terlihat” dan “apa yang sebenarnya”. Akan tetapi beberapa peneliti
(Friend & Davis, 1993; Rice, Koinis, Sullivan, Tager-Flushberg, & Winner,
1997) mengatakan bahwa kemampuan tersebut sudah mulai muncul sebelum
anak berusia 4 tahun. Sebelumnya anak masih mengira bahwa apapun yang
dilihatnya itu sama dengan yang ada. Contoh: pada anak usia 3 tahun, pada saat
dipakaikan kacamata berwarna hijau dan diminta untuk melihat orang, dia akan
berpikir bahwa orang itu memang berkulit hijau. Tidak demikian dengan anak-
anak di atas 4 tahun.
Flavell et al, 1995 menyatakan bahwa mulai di usia 3 tahun, anak mulai
belajar bahwa fantasi dan realitas dan realitas itu berbeda. Anak membedakan
anjing yang sesungguhnya, anjing di dalam mimpi. Mereka mulai mampu
bermain peran dan tahu apabila orang lain bermain peran. Akan tetapi batasan
antara fantasi dan realitas ini masih samar. Semakin usia anak bertambah,
batasan itu semakin hilang.
Dengan kemampuan kognitifnya yang semakin berkembang, maka
permainan drama atau bermain berpura-pura semakin baik ditampilkan,
terutama pada usia 4-6 tahun.
G. KEGIATAN UNTUK MENSTIMULASI SENI PADA ANAK USIA 4-6
TAHUN
1. Peran Guru Dalam Menstimulasi Anak Pada Kegiatan Seni
Stimulasi kegiatan seni pada anak di sekolah harus dilakukan oleh guru.
Banyak guru yang merasa bahwa mereka tidak memiliki bakat seni
sehingga mereka tidak antusias atau merasa tidak mampu dan menolak

15
untuk memberikan stimulasi seni pada anak. Anak bukan ingin melihat
hasil karya guru yang sempurna, seni sendiri sudah merupakan kegiatan
yang menyenangkan bagi anak. Mereka sangat menimati prosesnya dan
tidak punya waktu untuk mengkritisi guru. Hal yang penting dilakukan
guru dalam menstimulasi seni pada anak adalah memahami seni itu sendiri,
memahami perkembangan anak di usia 4-6 tahun, dan menyediakan sarana
untuk memulainya. Kemudian lakukan dengan semangat dan antusias.
Anak akan melakukan kegiatan dengan antusias apabila gurunya juga
melakukan hal yang sama.
Walaupun tidak bisa bernyanyi, guru tetap bisa mengajarkan
bernyanyi pada anak anak. Caranya putarkan lagu yang ingin diajarkan,
kemudian bernyanyi dengan suara lembut namun tetap berekspresi dan
menggerakkan tubuh sesuai lirik.

16
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
a. Seni adalah suatu kegiatan yang merefleksikan keindahan yang dihasilkan
dari kegiatan eksplorasi terhadap lingkungan dan hasilnya dapat dinikmati
semua orang.
b. Kegiatan seni merupakan kegiatan yang penting dipelajari oleh anak sedini
mungkin karena beberapa alas an seperti meningkatkan kreativitas dan
sensitivitas.
c. Pada dasarnya guru harus menampilkan sikap yang antusias dan berenergi
dalam mengajak anak berkegiatan seni. Guru bisa mencari ide dari
lingkungan sekitar, berdiskusi dengan orang lain atau membaca buku dan
browsing di internet mengenai kegiatan seni yang menyenangkan

17
DAFTAR PUSTAKA

Hildayani, Rini dkk. 2014. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Universitas


Terbuka.

Adila, Laraskhairia. 2013. Pendidikan Seni Tari Untuk Anak Usia Dini.
https://www.academia.edu/29099918/Pendidikan_Seni_Tari_Untuk_An
ak_Usia_Dini diakses tanggal 24 Maret 2018

18