Anda di halaman 1dari 13

Modul 1

VISI, MISI DAN LANDASAN PENDIDIKAN PANCASILA


“Membangun Jati Diri Bangsa dengan Semangat Bhinneka Tunggal Ika”

Penyusun:
FRANS sugiyana
UNIKA Musi Charitas Palembang

A. PENGANTAR

1. Pentingnya belajar Membangun Jati Diri Bangsa

Pancasila adalah dasar Negara Indonesia dan sekaligus ciri kepribadian bangsa
Indonesia. Mahasiswa adalah warga milik dan kebanggaan bangsa dan negara yang
harus dijadikan sebagai subyek, karena usianya yang masih muda dan potensi
keilmuannya yang memungkinkan mampu memperjuangkan nilai-nilai Pancasila,
demi proses pengembangan kepribadian bangsa kita.

Seiring dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen


Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 267/DIKTI/Kep/2000 tentang Pedoman
Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa
menetapkan bahwa Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan
Kewarganegaraan (dahulu Pendidikan Kewiraan) yang meliputi Pendidikan
Pendahuluan Bela Negara (PPBN) dan wajib diberikan dalam kurikulum setiap
program studi. Dalam proses perubahan dan penyempurnaan secara bertahap disusun
GBPP dari masing-masing mata kuliah dimaksud. Penyempurnaan selanjutnya
terhadap kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) khususnya
kelompok MPK Pendidikan Pancasila dilakukan dengan SKEP Dirjen DIKTI
No.38/DIKTI/Kep/2002 tentang rambu-rambu Pelaksanaan Kuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi.

Pendidikan Nasional Indonesia telah tertuang dalam GBHN tahun 1998 yang
arah kebijaksanaannya adalah: “Pendidikan nasional yang berdasarkan pada
kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Diarahkan untuk
meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber daya manusia,
mengembangkan manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti yang luhur, memiliki
pengetahuan keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian
yang mantap dan mandiri, menumbuhkan dan mepertebal rasa cinta tanah air,
meningkatkan semangat kebangsaan, wawasan keunggulan, kesetiakawanan sosial,
kesadaran pada sejarah bangsa dan memiliki sikap menghargai jasa para pahlawan
serta berorientasi ke masa depan”.

2. Menghadapi persoalan hidup bernegara dengan sikap kebhinnekaan

Pancasila adalah dasar filsafah negara indonesia, sebagaimana tercantum dalam


pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu setiap warga negara Indonesia harus
mempelajari, mendalami, menghayati, dan mengamalkan dalam segala bidang
kehidupan. Pancasila merupakan warisan luar biasa dari pendiri bangsa yang mengacu
kepada nilai-nilai luhur. Nilai nilai luhur yang menjadi panutan hidup tersebut telah
hilang otoritasnya, sehingga manusia menjadi bingung. Kebingungan tersebut dapat
menimbulkan krisis baik itu krisis moneter yang berdampak pada bidang politik,
sekaligus krisis moral pada sikap perilaku manusia. Guna merespon kondisi tersebut,
pemerintah perlu mengantisipasi agar tidak menuju kearah keadaan yang lebih
memprihatinkan. Salah satu solusi yang dilakukan oleh pemerintah, dalam menjaga
nilai-nilai panutan dalam bangsan dan bernegara secara lebih efektif yaitu melalui
bidang pendidikan Pancasilka.

Mahasiswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan memahami landasan


dan tujuan Pendidikan Pancasila. Pancasila sebagai karya besar bangsa Indonesia yang
setingkat dengan ideologi besar dunia lainnya. Pancasila sebagai paradigma dalam
kehidupan kekaryaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan, sehingga
memperluas cakrawala pemikirannya, menumbuhkan sikap demokratis pada mereka
dalam mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Mahasiswa diarahkan untuk dapat memahami latar belakang historis kuliah


Pendidikan Pancasila, dengan memahami fakta budaya dan filsafat hidup bangsa
Indonesia yang merupakan suatu pandangan hidup. Mereka diarahkan untuk
memahami tujuan hidup bersama dalam suatu negara dengan cara mendiskusikannya
diantara mereka.

3. Menumbuhkan semangat kebangsaan dengan landasan nilai-nilai Pancasila


Melalui pendidikan Pancasila, mahasiswa diharapkan mampu memahami,
menganalisis, dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat
bangsanya secara berkesinabungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional,
seperti yang digariskan dalam pembukaan UUD 1945, sehingga dapat menghayati
filsafat dan ideologi Pancasila, serta menjiwai tingkah lakunya selaku warga negara
Republik Indonesia dalam melaksanakan profesinya.

Selanjutnya disebutkan bahwa Pendidikan Pancasila tersebut perlu terus-


menerus ditingkatkan agar mampu membentuk watak bangsa (mahasiswa) yang
kokoh, karena bangsa Indonesia yang identik dengan pluralitas, wilayah kepulauan,
istilah bersinggungan mayoritas-minoritas, akan selalu menghadapi banyak tantangan
sepanjang zaman. Pemahaman demikianlah yang hendaknya menyadarkan semua
pihak bahwa di perguruan tinggi perlu mempelajari visi, misi dan landasan Pendidikan
Pancasila.

B. KOMPETENSI DASAR:

Kompentensi Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menguasai kemampuan


berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia intelektual
serta mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk :

1. Menyadari sebagai warga negara yang berinteraksi dengan pluratitas kehidupan

2. Mengambil sikap bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya.

3. Mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya dalam


semangat keadilan sosial

4. Mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dilandasi


dengan sikap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5. Memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa guna menggalang persatuan
Indonesia.

C. POKOK BAHASAN:

1. Visi, Misi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

2. Landasan (Historis, Kultural, Yuridis dan filosofis) Pendidikan Pancasila di Perguruan


Tinggi

D. PERLENGKAPAN:
1. Laptop dan LCD
2. Sebuah Cerita (berjudul: Eksklusif – Diskriminatif)
3. Kertas kerja.

E. DURASI:

Satu kali pertemuan (1 x 100 menit)

F. METODE:
1. Naratif
2. Tanyajawab

G. LANGKAH PEMBELAJARAN

1. Pada 10 menit pertama, dosen menyampaikan:

a. Kompetensi yang harus dicapai dan materi pokok yang akan dipelajari dalam
Pendidikan Pancasila.

b. Metode pembelajaran yang akan dipakai, tentang penilaian, tugas-tugas, ujian, tata
tertib belajar

c. Refleksi pengalaman berdasarkan sebuah cerita

d. Panduan ringkas tentang visi – misi dan landasan pendidikan Pancasila di Perguruan
Tinggi.

2. Pada 20 menit kedua, setiap mahasiswa memperkenalkan dirinya secara singkat dengan
menyebutkan: nama, agama, suku, tantangan hidup yan dihadapi dalam masyarakart.
Jika jumlah mahasiswa diatas 50 orang, bisa digunakan dengan cara dosen yang
memanggil mahasiswa sesuai daftar absensi.

Tujuan perkenalan: Agar mahasiswa menyadari bahwa mereka hidup dalam kenyataan
yang memiliki banyak perbedaan, ibarat di masyarakat yang pluralitas.

3. Pada 15 menit ketiga, Dosen mengajak mahasiswa untuk membahas sebuah cerita
berjudul: “Eksklusif – Diskriminatif”. Cerita ini mempunyai pesan agar semua orang
dapat hidup dengan cara pandang tidak eksklusif dan diskriminatif.

Tujuan pembahasan cerita: Agar mahasiswa menyadari diri dan mampu memahami
orang lain, bahwa perbedaan kadang secara tidak disadari sudah tertanam dalam
pendidikan keluarga, maka harus ada sikap baru yang bisa merubah cara memandang
orang lain yang berbeda, apalagi orang yang dianggap lebih lemah.

4. Pada 15 menit berikutnya, Dosen menyimpulkan hasil pembahasan sebuah cerita


dengan inti: setiap warga negara Indonesia wajib untuk menghormati adanya pluralitas.
Satu semboyan yang digunakan sebagai perekat bangsa, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

5. Pada 30 menit berikutnya, dosen menjelaskan tentang visi – misi Pendidikan Pancasila
dan membahas tentang: landasan pendidikan Pancasila: Historis, Kultural, Yuridis,
Filosofis.

Tujuan penjelasan: Agar mahasiswa semakin memahami visi – misi dan landasan
belajar Pancasila, sehingga mereka merasa bangga dan semakin bersemangat untuk
mempelajari Pancasila. Dan diharapkan mahasiswa semakin kritis terhadap cara hidup
masyarakat dengan membandingkannya berdasarkan falsafah Pancasila.

6. Pada 10 menit terakhir, mahasiswa diberi kesempatan untuk membuat rumusan singkat
dengan pertanyaan: “Mengapa Anda belajar Pancasila?”. Rumusan yang dibuat ini
sekaligus merupakan sebuah refleksi visi belajar Pancasila di Perguruan Tinggi.

Tujuan refleksi: Agar mahasiswa mempunyai komitmen terhadap Pancasila, yang harus
dibanggakan dan harus dipelajari dalam kehidupan.

H. REFLEKSI:
1. Seperti telah ditetapkan pada bagian depan, refleksi dilakukan secara tertulis, satu paket
dengan pembuatan kesimpulan.
2. Refleksi pada pertemuan ini berkenaan dengan kesadaran dan kesanggupan untuk
mencintai kenyataan bahwa “semua orang adalah sesamanya dalam pluralitas”,
sedangkan refleksi kedua merupakan penyadaran akan pentingnya mempelajari
Pancasila secara benar dan dalam semangat kebhinnekaan. Sehingga mampu mencapai
pemaknaan terhadap “Jati Diri sebagai bangsa Indonesia yaitu manusia yang
Pancasilais, yang siap hidup dan berkembang kepribadiannya dalam keberagaman di
tengah masyarakatnya”.
3. Refleksi yang kemudian diikuti dengan perumusan rencana aksi (ketetapan diri)
memiliki dua manfaat.

a. Pertama, untuk mengetahui tingkat kesungguhan dan kemampuan melakukan


refleksi. Hal ini akan tampak dari koneksitasnya dengan rumusan rencana aksi.
b. Kedua, untuk menstimulus mahasiswa dalam mengembangkan komitmen dan sikap
peduli terhadap kehidupan bersama, yakni kesediaan untuk bermasyarakat,
membangsa, dan menegara (dalam pengertian perjuangan terus menerus untuk
menjelmakan nilai = melawan sikap dan tindakan anti pluralitas).

I. BACAAN:

Bacaan 1:

Cerita untuk menggali pengalaman pluralitas

Judul:

“Eksklusif – Diskriminatif”

Ada sebuah kisah lawas yang sangat menyentuh hati. Secara ringkas kisah itu
bercerita tentang seorang pemuda yang pergi berperang untuk waktu yang sangat panjang.
Tahuan berganti tahun perang punusai dan meninggalkan amat banyak korban. Ia hendak
pulang ke tengah keluarga di kampong halamannya dan menyempatkan diri untuk
menelpon kedua orang tuanya.

Betapa senang hati kedua orang tuanya mendengar kabar gembira ini. Tetapi si
anak bercerita bahwa ia akan membawa rekannya yang wajahnya rusak, kehilangan satu
mata, telinga dan salah satu kaki dan tangannya terkena serangan mortar di peperangan.
Diluar dugaan kedua orang tuanya menolak kalau ia mau membawa orang cacat yang
dalam bayangan mereka sangat mengerika itu.

Waktu pun berlalu dan pada suatu hari kedua orang tua itu mendapat pesan agar
mengontak kantor polisi setempat. Mereka pun segera mengontaknya dan polisi
memberitakan bahwa ada seorang pemuda cacat dengan ciri-ciri yang persis dijelaskan
oleh anaknya tentang temannya. Pemuda tadi ditemukan telah bunuh diri dan didapati
dalam kartu identitas bahwa pemuda itu adalah anak mereka. Keduanya meratap saat
mengetahui ternyata yang diceritakan anaknya tentang temannya yang cacat itu adalah
dirinya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan sama sekali tiada gunanya.

Harus diakui bahwa sejak kecil kita diajari agar berhati-hati dalam pergaulan.
Karena itu tanpa sadar kita teramat biasa membangun pola hidup pergaulan yang selektif,
membatasi diri pada mereka-mereka yang kita anggap nyaman untuk hidup kita. Tanpa
tersadari juga pola pergaulan dan hidup yang diskriminatif. Kita tidak suka dan cenderung
menjalin relasi yang hanya akan merepotkan bahkan mengganggu hidup kita. Wajar dan
manusiawi bila hal itu terjadi dan kita lakoni.

Mungkin tidak seekstrim dalam kisah tersebut pola kita berelasi dengan sesame.
Namun apabila anak-anak kita sejak dini dibiasakan hidup secara eksklusif, tidaklah
mustahil ia akan bertumbuh menjadi pribadi yang diskriminatif dalam pergaulan hidupnya.

Padahal kita semua sangat tahu bahwa Tuhan menghendaki semua manusia hidup
dalam harmoni justru di tengah pelbagai perbedaan sebagai kekayaan hidup.

Semoga kita semua dimampukan menjadi pribadi yang inklusif, terbuka dan tidak
alergi terhadap pelbagai macam perbedaan. Semoga kita dijauhkan dari sikap hidup dan
pola membangun relasi yang eksklusif dan diskriminatif.
Dikutip dari:
Buku: Setetes Embun Surgawi
Oleh: RP. R Agung Suryanto, OFM
Bacaan 2:

1. Visi, Misi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi


a. Visi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi menjadi sumber nilai dan pedoman
penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa
mengembangkan kepribadiannya selaku warga negara yang Pancasilais.
b. Misi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi membantu mahasiswa agar
mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila serta kesadaran berbangsa,
bernegara dalam menerapkan ilmunya secara bertanggung jawab terhadap
kemanusiaan.
2. Landasan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

Sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, dalam perjalanan


sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, pancasila telah mengalami persepsi dan
interprestasi sesuai dengan kepentingan rezim yang berkuasa. Pancasila telah
digunakan sebagai alat untuk memaksa rakyat setia kepada pemerintah yang berkuasa,
dengan menempatkan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masyarakat tidak dibolehkan menggunakan
asas lain, sekalipun tidak bertentangan dengan pancasila. Nampak pemerintahan orde
baru berupaya menseragamkan paham dan ideologi bermasyarakat dan bernegara
dalam kehidupan masyarakat dan bernegara dalam kehidupan masyarakat Indonesia
yang bersifat pluralistik. Oleh karena itu, MPR melalui sidang istimewa tahhun 1998
dengan Tap. No. XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P4), menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila
sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 1945 adalah dasar negara dari negara
kesatuan Republik Indonesia yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam
kehidupan bernegara.

a. Landasan Historis

Suatu bangsa memiliki ideologi dan pandangan hidupnya sendiri yang


diambil dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam bangsa itu sendiri.
Pancasila digali dari bangsa Indonesia sendiri yang telah tumbuh dan berkembang
semenjak lahirnya bangsa Indonesia. Masa yang dapat dipersamakan dengan
lahirnya bangsa Indonesia yang memiliki wilayah seperti Indonesia merdeka saat
ini, adalah masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa itu, nilai-nilai
ketuhanan seperti kepercayaan pada tuhan telah berkembang dan sikap toleransi
juga telah lahir, begitu pula nilai kemanusian yang adil dan beradab, serta nilai-
nilai yang lainnya

Setelah melalui proses sejarah yang cukup panjang, nilai-nilai Pancasila


itu telah melalui pematangan, sehingga tokoh-tokoh bangsa Indonesia saat akan
mendirikan negara Republik Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar
negara. Dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia, telah terjadi perubahan dan
pergantian undang-undang dasar, seperti UUD 1945 digantikan kedudukan oleh
Konstitusi RIS, kemudian berubah menjadi UUD sementara dan kembali lagi
menjadi UUD 1945. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar itu, tetap
tercantum nilai-nilai Pancasila. Hal ini menunjukan, bahwa Pancasila telah
disepakati sebagai nilai yang dianggap paling tinggi kebenarannya. Oleh karena
itu, secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan
nilai-nilai Pancasila.

Keyakinan bangsa Indonesia telah begitu tinggi terhadap kebenaran nilai-


nilai Pancasila dalam sejarah ketatanegaraan negara Indonesia. Pancasila
mendapat tempat yang berbeda-beda dalam pandangan rezim pemerintahan yang
berkuasa. Penafsiran Pancasila didominasi oleh pemikiran-pemikiran dari rezim
untuk melanggengkan kekuasaannya. Pada masa orde lama, Pancasila ditafsirkan
dengan nasionalis, agama dan komunis (Nasakom) yang disebut dengan Tri Sila,
kemudian diperas lagi menjadi Eka Sila (gotong royong). Pada masa orde baru,
Pancasila harus dihayati dan diamalkan dengan berpedoman kepada butir- butir
(P4). Namun penafsiran rezim itu membuat kenyataan dalam masyarakat dan
bangsa berbeda dengan nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya. Oleh karena itu,
timbulah tuntutan reformasi dalam segala bidang. Dalam kenyataan ini, MPR
melalui Tap. MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang penegasan Pancasila sebagai
Dasar negara, yang mengandung makna ideologi nasional sebagai cita-cita dan
tujuan bangsa.

b. Landasan Kultural

Pandangan hidup bagi suatu bangsa adalah sesuatu hal yang tidak dapat
dipisahkan dengan kehidupan bangsa itu sendiri. Bangsa yang tidak memiliki
pandangan hidup, adalah bangsa yang tidak memiliki kepribadian dan jati diri
sehingga bangsa itu mudah terombang-ambing dari pengaruh yang berkembang dari
luar negerinya. Kepribadian yang lahir pada dirinya sendiri akan lebih mudah
menyaring masuknya nilai-nilai yang datang dari luar, sehingga dapat memperkukuh
nilai-nilai yang sudah tertanam dalam diri bangsa itu sendiri. Sebaliknya, apabila
bangsa itu menerima kepribadian dari bangsa luar, tentu akan mudah terpengaruh dari
nilai-niali yang belum teruji kebenarannya sehingga dapat menghilangkan jati diri
dari bangsa itu sendiri.

Pancasila sebagai kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia merupakan


pencerminan nilai-nilai yang telah lama tumbuh dalam kehidupan bangsa
Indonesia. Nilai-nilai yang dirumuskan dalam Pancasila bukanlah pemikiran satu
orang, seperti halnya ideologi komunis yang merupakan pemikiran dari Karl
Marx, melainkan pemikiran konseptual dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia, seperti
Soekarno, Drs. M. Hatta, Mr. M. Yamin, Prof. Mr Dr. Soepomo, dan tokoh-tokoh
lainnya.

Sebagai hasil pemikiran dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang digali


dari budaya bangsa sendiri, Pancasila tidak mengandung nilai-nilai yang kaku dan
tertutup. Pancasila mengandung nilai-nilai yang terbuka terhadap masuknya nilai-
nilai baru yang positif, baik yang datang dari dalam negeri maupun yang datang
dari luar negeri. Dengan demikian, generasi penerus bangsa dapat memperkaya
nilai-nilai Pancasila sesuai dengan perkembangan jaman.

c. Landasan Yuridis

Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional,


digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi. Pasal 39 ayat (2)
menyebutkan, bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan
wajib memuat: (a) Pendidikan Pancasila, (b) Pendidikan Agama, (c) Pendidikan
Kewarganegaraan. Didalam operasionalnya, ketiga mata kuliah wajib dari
kurikulum tersebut, dijadikan bagian dari kurikulum berlaku secara nasional.

Sebelum dikeluarkan PP No. 60 tahun 1999, Keputusan Menteri


Pendidikan dan Kebudayaan No. 30 tahun 1990 menetapkan status pendidikan
Pancasila dalam kurikulum pendidikan tinggi sebagai mata kuliah wajib untuk
setiap program studi dan bersifat nasional. Silabus pendidikan pancasila semenjak
tahun 1983 sampai tahun 1999, telah banyak mengalami perubahan untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan yang berlaku dalam masyarakat, bangsa, dan
negara yang berlangsung cepat, serta kebutuhan untuk mengantisipasi tuntunan
perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat disertai dengan pola
kehidupan mengglobal. Perubahan dari silabus pancasila adalah dengan keluarnya
keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Nomor: 265/Dikti/Kep/2000
tentang penyempurnaan kurikulum inti mata kuliah pengembangan kepribadian
pendidikan pancasila pada perguruan tinggi Indonesia. Dalam kepurusan ini
dinyatakan, bahwa mata kuliah pendidikan pancasila yang mencakup unsur
filsafat pancasila, merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan
dari kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian (MKPK) pada susunan
kurikulum inti perguruan tinggi di Indonesia mata kuliah pendidikan pancasila
adalah mata kuliah wajib untuk diambil oleh setiap mahasiswa pada perguruan
tinggi untuk program diploma/politeknik dan program sarjana. Pendidikan
pancasila dirancang dengan maksud untuk memberikan pengertian kepada
mahasiswa tentang pancasila sebagai filsafat/tata nilai bangsa, dasar negara, dan
ideologi nasional dengan segala implikasinya.

Selanjutnya, berdasarkan keputusan Mendiknas No. 22/UU/2000 tentang


Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi, dan penilaian hasil belajar
mahasiswa, telah ditetapkan bahwa pendidikan agama, pendidikan pancasila, dan
kepribadian yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program
studi/kelompok program studi. Oleh karena itu, untuk melaksanakan ketentuan di
atas, maka Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas mengeluarkan Surat
Keputusan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di perguruan tinggi.
Berdasarkan UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan, maka, Direktur Jendral
Pendidikan Tinggi mengeluarkan surat keputusan No. 43/ Dikti/Kep./2006 tentang
kampus-kampus pelaksanaan kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian di
perguruan tinggi, SK ini adalah penyempurnaan dari SK yang lalu.

d. Landasan Filosofis

Secara filosofis dan objektif, nilai-nilai yang tertuang dalam sila-sila


pancasila merupakan filosofi bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara
Republik Indonesia. Sebelum berdirinya negara Indonesia, bangsa Indonesia
adalah bangsa yang berketuhanan, bangsa yang berkemanusiaan yang adil dan
beradab, dan bangsa yang selalu berusaha mempertahankan persatuan bagi
seluruh rakyat untuk mewujudkan keadilan. Oleh karena itu, sudah merupakan
kewajiban moral untuk merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam segala bidang
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai dasar filsafat negara harus menjadi sumber bagi segala
tindakan para penyelenggara negara, menjadi jiwa dari perundang-undangan yang
berlaku dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan
kehidupan bangsa yang memasuki globalisasi, bangsa Indonesia harus tetap memiliki
nilai-nilai, yaitu Pancasila sebagai sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan yang
menjiwai pembangunan nasional dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan
pertahanan keamanan.

e. Tujuan Pendidikan Pancasila

Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan, bahwa


pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan
berdasarkan kebudayaa bangsa Indonesia, diarahkan untuk meningkatkan
kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta
masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, berkualitas, dan mandiri, sehingga mampu membangun dirinya dan
masyarakat sekelilingnya, serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan
nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Pendidikan Pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan


diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman
dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas
berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan
beradab, perilaku kebudayaan, dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang
mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan perorangan dan golongan. Dengan demikian, perbedaan pemikiran,
pendapat, atau kepentingan diatasi melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

J. Bacaan anjuran:

Kaelan. 2003. Pendidikan Pancasila, Yogyakarta: Penerbit Paradigma.

Magnis Suseno. 1997. Etka Politik, Jakarta: Gramedia.


Pandji Setijo, 2006. Pendidikan Pancasila, Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa –
Delengkapi dengan UUD 1945 Hasil Amandemen, Jakarta: Grasindo, Penerbit PT
Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pusat Studi Pancasila Universitas Katolik Parahyangan, Pancasila: Kekuatan Pembebas,


Yogyakarta, Penerbit PT Kanisius, 2012.

Anda mungkin juga menyukai