Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah penyebaran Islam yang paling awal keluar dari Arab, Islam telah
menjadi suatu agama dari berbagai suku, ras, dan kelompok masyarakat. Islam
dimulai dengan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad saw pada 610 M
ketika beliau berusia 40 tahun. Islam adalah suatu agama yang datang dari Allah
Swt atau disebut dengan agama samawi. Demikian pada umumnya kita dapat
menemukan Islam di sebagian besar tempat-tempat utama diantara masyarakat di
dunia. Islam merupakan suatu agama yang disebarkan dan pemeluknya disebut
dengan muslim. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim sudah sepatutnya selalu
mensyiarkan Islam kepada semua orang di muka bumi ini dan untuk menjadikan
kondisi alam semesta menjadi lebih baik.

Islam adalah “The Way Of Life” atau jalan hidup yang benar, jalan yang
membawa keselamatan dunia dan akhirat. Islam memiliki ciri-ciri Rabbaniyah
yaitu bahwa Islam bersumber dari Allah Swt bukan hasil penciptaan manusia.
Islam merupakan suatu kesatuan yang padu yang mencakup seluruh aspek
kehidupan, tak satu aspekpun terlepas dari Islam karena ajarannya yang bersifat
integral dan Islam tidak terbatas dalam waktu tertentu tetapi berlaku untuk
sepanjang masa dan di semua tempat.

Dalam Islam, ditemui kaidah-kaidah umum yang mudah dipahami, sederhana


dan mudah dipraktikan yang menjadi kemaslahatan umat manuusia, karena
sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits serta ijtihad sehingga Islam
menjadi agama Rahmatan lil ‘Alamin.

1. Pengertian Agama Islam

Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata ad-din
dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata
Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata,
a=tidak dan gam=pergi, jadi tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun.
Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Ada lagi pendapat yang
mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang
mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti
tuntunan. Memang agama mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntunan
hidup bagi penganutnya. [1]

Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama
Islam, yaitu dari sisi etimologi dan dari sisi terminologi. Kedua sisi pengertian
tentang Islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Islam berasal dari bahasa arab,
yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dari
kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri
masuk dalam kedamaian.

Dalam khazanah bahasa Indonesia , kata berislam yang merupakan terjemahan


dari kata aslama terdengar asing ketimbang kata beriman, terjemahan dari kata
amana , padahal keduanya banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Kata aslama atau
berislam mengandung makna sikap berserah diri pada Tuhan sang Pencipta dan
Pemelihara alam semesta. Karena sebuah sikap, pilihan seseorang untuk berislam
itu pada urutannya merupakan sesuatu yang immanent , sebuah pilihan hidup yang
menyatu dengan kepribadian, bukan sebuah ideologi atau ajaran yang berada di
luar diri. [2]

Makna ajarannya yang membawa pada keselamatan itu terlihat dari


karakteristik ajarannya antara lain: sesuai dengan fitrah dan kebutuhan, ajarannya
sempurna (QS. Al-Maidah:3), kebenarannya mutlak (QS. Al-Baqarah:147),
mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan (QS. Al-
Qashas:286), berlaku secara universal (QS. Al-Ahzab:40), serta menciptakan
rahmat bagi seluruh alam yang dinyatakan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:

‫َﻦﻴِﻤَﻟﺎَﻌْﻠِﻟًﺔَﻤْﺣَﺭ َّﺎﻟِﺇَﻙﺎَﻨْ َﻠﺳْﺭَﺃ َﺎﻣَﻭ‬


“Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh
alam.”( QS. Al-Anbiya:107)

Dalam memahami islam dan ajarannya, berbagai aspek yang berkenaan


dengan islam perlu dikaji secara seksama sehingga dapat dihasilkan pemahaman
yang komprehensif. Hal ini penting dilakukan karena kualitas pemahaman
keislaman seseorang dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku dalam
menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan islam .

2. Pengertian Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin

Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya islam merupakan agama yang
membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta termasuk hewan,
tumbuhan dan lainnya apalagi sesama manusia. Pernyataan bahwa islam adalah
agama rahmatan lil alami sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah:

‫َﻦﻴِﻤَﻟﺎَﻌْﻠِﻟًﺔَﻤْﺣَﺭ َّﺎﻟِﺇَﻙﺎَﻨْ َﻠﺳْﺭَﺃ َﺎﻣَﻭ‬


“Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh
alam.” (QS. Al-Anbiya ayat 107)

Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah,


sebagaimana Rasulullah telah bersabda yang terdapat dalam hadis riwayat al-
Imam al- Hakim yang artinya:

“Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung atau hewan lainnya


yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban
kepadanya”.

Sungguh begitu indahnya islam, dengan binatang saja tidak boleh


sewenang-wenang apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami
dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya
dunia ini. Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa ajaran Islam, maka
islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan
rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang.
Yang menjadi tantangan besar umat Islam masa kini adalah Islam belum
lagi terwujud risalahnya, ia belum lagi menjadi rahmat bagi manusia. Karenanya
kita harus mengadakan koreksi total terhadap cara-cara hidup kita, baik dalam
bidang ubudiyah maupun dalam bidang muamalah [3]

Penafsiran para ahli tafsir tentang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamain:

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Ath-Thabari

“Para ahli tafsir berpendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh
manusia yang dimaksud dalam ayat ini, adalah seluruh manusia baik mukmin dan
kafir?Apakah hanya seorang mukmin saja?. Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang
dimaksud adalah seluruh manusia baik mukmin maupun kafir. Mereka
mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas RA dalam menafsirkan ayat ini:

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir ditetapkan baginya rahmat
di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan
Rasulnya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang
menimpa umat terdahulu seperti mereka semua ditenggelamkan atau diterpa
gelombang besar”.

Pendapat ini benar. “Yaitu Allah mengutus nabi Muhammad SAW sebagai rahmat
bagi seluruh alam baik mukmin maupun kafir. Rahmat bagi orang mukmin yaitu
Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Saw. Beliau Saw.

memasukkan orang-orang beriman kedalam surga dengan iman dan amal mereka
terhadap ajaran Allah Swt. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak
disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari
ajaran Allah” (Diterjemahkan secara ringkas)

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi

Said bin Jubair berkata: dan Ibnu Abbas, beliau berkata:

“Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan
mmbenarkan ajaran beliau akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman
kepada beliau diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa
ditenggelamkan kedalam bumi atau ditenggelamkan ke dalam air”

Ibnu Zaid berkata:

“Yang dimaksud “seluruh manusia” dalam ayat ini adalah orang-orang yang
beriman”

Ali-Shabuni dalam SafwatutTafasir

“Makna ayat ini adalah “tidaklah kami mengutusmu wahai Muhammad,


melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk”. Sebagaimana dalam sebuah
hadits:

Artinya: “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)”

Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan
mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah swt. Tidak mengatakan

rahmatanlilmu’minin , namun mengatakan rahmatanlil’alamin karna Allah ta’ ala


ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin
para nabi. Muhmmad saw. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang
besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau
menjadi sebab terciptanya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau
memberi pencerahan dari kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada manusia
yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang disebuat sebagai rahmat
bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat
ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak di
kenakan azab berupa diubah menjadi binatang atau dibenamkan kebumi atau
ditenggelamkan dengan air.

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa Islam RahmatanLilalamin


adalah agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Dengan diturunkannya Q.S. Al-Anfal : 33


‫ﺴﻳْﻢُﻫَ ْﻭﻢُﻬَﺑِّﺬَ ُﻌﻣُﻪَّﻠﺍﻟَﻥﺎَﻛﺎَﻣَﻭْۚﻢِﻬ ِﻴ َﻓﺖْ َﻧﺃَﻭْﻢُﻬَﺑِّ َﺬﻌُﻴِ ُﻟﻪَّﻠﺍﻟَﻥﺎَﻛﺎَﻣَﻭ‬
َ ْ‫َﻥﻭُﺮِﻔْﻐَﺘ‬

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di
antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka
meminta ampun.” ( Q.S. Al-Anfal : 33)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan azab di dunia
bagi ummat nabi Muhammad saw., melainkan ditunggu datangnya hari kiamat.
Dan hal tersebut merupakan bentuk rahmat didunia bagi umat Nabi Muhammad
saw. Berbeda dengan umat-umat nabi terdahulu, bila ada yang kafir atau maksiat,
maka atas perintah Allah langsung diturunkan azab.

Jelaslah bahwa islam adalah Agama rahmatanLilalamin dan tidak ada pembedaan
antara muslim dan non muslim atas rahmat dunia. Karna rahmat dalam konteks
‘rahma’ adalah bersifat ammahkullasyai’ meliputi segala hal, sehingga orang-
orang non muslim pun mendapatkan kerahman-an di dunia. Islam merupakan
agama yang pluralis, karna islam mengakui keberadaan bangsa, lapisan
masyarakat, dan islam juga mengakui semua agama. Dengan adanya kesadaran
untuk menghargai adanya pluralisme merupakan bukti bahwa islam membawa
rahmat bagi seluruh alam.

Perilaku Manusia Sebelum Adanya Islam

Islam merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Keadaan
bumi sebelum masuknya islam merupakan keadaan yang amat buruk dan
mengenaskan, diamana sebagian dari manusia ada yang menyembah pohon, batu,
patung ( berhala), matahari, bulan dan bintang, bahkan ada yang menyembah
sesama manusia yang mana kesemuanya itu adalah ciptaan Allah swt. Manusia
yang hidup dimasa itu tidak lagi mempunyai rasa keadilan dan kemanusiaan.
Yang kuat akan semakin berdiri tegak dan ditakuti, sedang yang lemah akan
semakin tertindas. ‘’ therichricherandthepoorpoorer’.

Kebiasaan- kebiasaan manusia pada saat itu tidak lagi mencerminkan manusia
yang mempunyai akal seperti yang telah diberikan Allah swt. Untuk berfikir dan
merenungkan karunia dan nikmat Allah swt. Melainkan akal mereka telah
ditundukkan oleh hawa nafsu. Kedzaliman telah terjadi dimana-mana. Bahkan
mereka tega untuk mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru saja
dilahirkan oleh ibunya. Karna mereka menganggap bahwa anak perempuan itu aib
bagi mereka.

Sejarah Perkembangan Islam

Hadirnya islam membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Terutama


dalam bidang ilmu pengetahuan. Beberapa tahun penyebaran agama islam di
Arab, menjadikan peradaban dan universitas berkembang dengan pesat sehingga
timbulnya pemikiran yang baru dengan yang lama menghasilkan kemajuan dalam
medis, matematika, fisika, astronomi, geografi, sastra, dan lain-lain. Banyak
sistem yang krusial seperti ilmu pengetahuan tentang : al-jabar, angka arab dan
konsep angka nol (0) ( bilangan yang sangat diperdulikan dalam ilmu eksakta )
yang disebarkan ke eropa pada abad pertengahan yang berasal dari dunia islam.
Itulah mengapa islam disebut sebagai agama rahmatanlilalamin karna islam hadir
kedunia membawa karunia yang amat berarti bagi manusia, bukan saja bagi
ummat muslim tapi seluruh ciptaan Allah swt.. dijagat raya termasuk non muslim.
Baik muslim maupun non muslim jika mereka melakukan hal-hal yang diperlukan
kerahmatan, maka mereka akan mendapatkan hasilnya. Kendati mereka muslim
tetapi mereka tidak melakukan ikhtiar kerahmatan ,itu berlaku hukum kompetitif.
Misalnya, orang islam tidak melakukan kegiatan belajar maka tidak bisa dan tidak
akan menjadi pintar. Sementara orang yang melakukan ikhtiar kerahmatan meski
dia non muslim mereka akan mendapatkan pengetahuan.

Islam Untuk Seluruh Manusia ( Islam Rahmatan Lil Alamin )

Kata islam mempunyai dua makna. Pertama, nash ( teks ) wahyu yang
menjelaskan Din ( agama ). Kedua, islam merujuk kepada amal manusia, yaitu
keimanan dan ketundukan manusia kepada nash ( teks ) wakhu yang berisi ajaran
din ( agama ) Allah swt. Berdasarkan makna pertama, islam yang dibawa satu
rasul berbeda dengan rasul yang lain, dalam hal keluasan dan keuniversalannya.
Islam yang dibawa nabi Muhammadd saw. Lebih luas lagi dari pada yang dibawa
oleh nabi-nabi sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk
kamunya sendiri. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh
karna itu islam yang dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-
Qur’an bisa menjelaskan dan menunjukan tentang segala sesuatu kepada manusia.
Allah swt. Berfirman:

‫ًﺔَﻤْﺣَﺭَﻭﻯًﺪُﻫَ ٍﻭﺀْﻲَﺷِّﻞُﻜِﻟﺎًﻧﺎَﻴْﺒِﺗَﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍَﻚْﻴَﻠَﻋﺎَﻨْﻟَّﺰَ َﻧ ۚﻭِﺀﺎَﻟُﺆَٰﻫٰﻰَﻠَﻋﺍًﺪﻴِﻬَﺷَﻚِﺑﺎَﻨْﺌِﺟَﻭْۖ ِﻢﻬِﺴُﻔْﻧَﺃْﻦِ ْﻣﻢِﻬْ َﻴﻠَﻋﺍًﺪﻴِ َﻬﺷٍﺔَّ ُﻣﺃِّﻞُﻛﻲِﻓُﺚَﻌْﺒَ َﻧﻡْﻮَﻳَﻭ‬


‫ﻯﺮْﺸُﺑَﻭ‬
َ ٰ‫َﻦﻴِﻤِ ْﻠﺴُﻤْﻠِﻟ‬

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang
saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad)
menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab
(Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar
gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q`S An-Nahl :89)

Konsep Rahmatan Lil Alamin

Agama islam adalah agama rahmatan lil alamin namun banyak orang yang salah
kaprah dalam menafsirkannya. Sehingga banyak mengalami kesalahan dalam
praktik beragama bahkan dalam hal yang fundamental yaitu aqidah. Pernyataan
bahwa islamdalah agama yang rahmatan lil alamin sebenarnya dalah kesimpulan
dari Firman Allah swt. “kami tidak mengutus engkau ( wahai Muhammad )
melaikan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta “. Tugas nabi Muhammad
adalah mebawa rahmat bagi sekalian alam, maka itu pulalah risalah agama yang
dibawanya. Tegasnya, risalah islam ialah medatangkan rahmat bagi seluruh alam.
Lawan dari pada rahmat ialah bencana dan malapetaka. Maka jika dirumuskan
dalam bentuk kalimat yang menggunakan kata peniadaan, kita lalu mendapat
penegrtian baru tetapi lebih tegas bahwa islam itu “bukan bencana alam”.

Dengan demikin kehadiran islam dialam dunia ini bukan untuk bencana dan
malapetaka, tetapi untuk keselamatan, untuk kesejahtraan dan untuk kebahagiaan
manusia lahir dan batin, baik secara perseorangan maupun secara bersama- sama
dalam masyarakat. Islam itu ibarat ratu adil yang menjadi tumpuan harapan
manusia. Ia harus mengangkat manusia dari kehinaan menjadi mulia, menunjuki
manusia yang tersesat jalan. Membebaskan manusia dari segala macam
kedzaliman, melepaskan manusia dari rantai perbudakan, memerdekan manusia
dari kemiskinan rohani dan materi, dan sebaginya. Tugas islam memberikan dunia
hari depan yang cerah dan penuh rahmat. Manusia akhirnya merasakan nikmat
dan bahagia karna islam. Kebenaran risalah islam sebagai rahmat bagi manusia,
terletak pada kesempurnaan itu sendiri. Islam adalah dalam satu kesatuan ajaran,
ajaran yang satu dan yang lainnya mempunyai nisbat dan hubungan yang saling
berkaitan. Maka islam dapat kita lihat serempak dalam 3 segi yaitu, aqidah,
syariah dan nizam.

Umat islam dilarang menjadi umat pengekor, tetapi sebagai pengendali. Tidak
pula boleh menjadi gerobag yang ditarik kemana-mana, tetapi menjadi lokomotif
yang menarik

dan bertenaga besar. Islam tidak condong kebarat dan tidak pula miring ke timur,
tetapi islam hadir ketengah-tenagh benua , ras bangsa untuk berkiblat kepadanya.
Islam lah yang harus memimpin jalannya sejarah menuju kepada hidup dan
kehidupan yang bahagia ( hayatuntoyyibatun ) dalam rangka masyarakat yang
sejahtera dan bahagia dibawah naungan ampunan Allah swt. (
baldatuntoyyibatunwarabbaunghafur ) betapa tinggi fungsi umat islam ditengah-
tengah kancah kehidupan manusia. Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat
110

‫ﺧﻢُﺘْﻨُﻛ‬
ْ ‫ﺟﺮْﺧُ ٍﺃﺔَّﻣُﺃَﺮْ َﻴ‬
ِ َ‫ﻋﻥْﻮَﻬْ َﻨﺗَﻭِﻑﻭُ ْﺮﻌَﻤْﻟﺎِﺑَﻥﻭُﺮُﻣْﺄَﺗِﺱﺎَّﻨﻠِ ْﻟﺖ‬
َ َ‫ ِﻪَّﻠﺎ ِﻟﺑَﻥﻮُ ِﻨﻣْﺆُﺗَﻭِ َﺮﻜْﻨُﻤْﻟﺍِﻦ‬...

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah...” (Q.S. Ali-Imran:110)

. Pandangan Islam Atas Berbagai Ras dan Agama

Untuk lebih memahami perbedaan, kita perlu melihat agama dengan seperangkat
ajarannya, di satu sisi, dengan para penganut yang mengamalkan ajaran
agamanya.
Dari aspek keberagaman dan perbedaan ini, persoalan hubungan antar umat
beragama agaknya senantiasa menjadi tema yang menarik. Hal ini setidaknya
dikarenakan dua hal.

Pertama, agama dianggap sesuatu yang vital dan berhubungan dengan sesuatu
yang diyakini kebenarannya secara final, sementara dalam realitasnya, tidak hanya
ada satu agama yang dipercaya manusia, tetapi banyak (fenomena pluralisme
agama).

Kedua, pola hubungan antaragama sering memunculkan konflik dan ketegangan,


baik dalam dimensi teologis-doktrinal maupun dalam wilayah politik dan sosial.

Dengan kenyataan itu, pluralisme dapat muncul pada masyarakat dimana pun ia
berada. Ia selalu mengikuti perkembangan masyarakat yang semakin cerdas dan
tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat sektarianisme. Pluralisme harus dimaknai
sebagai konsekuensi logis dari keadilan Ilahi—bahwa keyakinan seseorang tidak
dapat diklaim benar-salah tanpa mengetahui dan memahami terlebih dahulu latar
belakang pembentukannya, seperti lingkungan sosial budaya, referensi, atau
informasi yang diterima, tingkat hubungan komunikasi, dan klaim-klaim
kebenaran yang dibawa olehkendaraan ekonomi-politik kemudian direkayasa
sedemikian rupa demi kepentingan sesaat, tidak akan diterima oleh seluruh
komunitas manusia mana pun. [4]

Dalam agama islam memandang agama- agama lain dan berbagai ras manapun
mempunyai konsep yang baik. Islam sebagai konstitusinya, juga mewajibkan
perdamaian antar manusia. Ia menyatakan mengapa manusia dijadikan berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku tiada lain untuk memudahkan saling berkenalan dan
saling berdekatan antara sesama manusia, bukan menjadikan jalan agar sebagian
manusia itu lebih tinggi dari yang lainnya, dan agar sebagian manusia itu dapat
menjadikan dirinya Tuhan. Orang mukmin mencintai segenap manusia, karena
mereka adalah saudaranya, sama-sama keturunan Adam dan teman karibnya
dalam
mengabdikan diri kepada Allah. Antara dia dengan mereka diikat oleh pertalian
darah, tujuannya sama dan musuhnya pun sama.

Allah SWT menegaskan dalam quran surat An-Nisa ayat:1:

‫ﻱﺬَّﻟ ُﺍﻢُﻜَّﺑَﺭﻮﺍُﻘَّﺗﺍُﺱﺎَّﻨﺎﺍ َﻟﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ‬


ِ ‫ﺲﻔَﻧْﻦِ ْﻣﻢُﻜَﻘَﻠَﺧ‬
ْ ٍ‫ﻖﻠَﺧَﻭٍ َﺓﺪِﺣﺍَﻭ‬
َ َ‫ﻮُﻟَﺀ َﺎﺴَﺗﻱِﺬَّﻟﺍَﻪَّﻠﻮﺍﺍﻟُﻘَّﺗﺍَ ۚﻭًﺀﺎَﺴِﻧَﻭﺍًﺮﻴِﺜَﻛﺎًﻟﺎَﺟِﺭﺎَ ُﻤﻬْﻨِﻣَّﺚَﺑَﻭﺎَﻬَﺟْﻭَﺯﺎَﻬْﻨِﻣ‬
‫ﺣﺭَﺄْﻟ َﺍﻭِﻪِﺑَﻥ‬
ْ َ‫ﻥﺇَۚﻡﺎ‬
ِ َّ‫ﺎًﺒﻴِﻗَﺭْ ُﻢﻜْ َﻴ َﻠﻋَﻥ َﺎﻛَﻪَّﻠﺍﻟ‬

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan


kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari
pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya
kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa:1)

Akidah Islam tidak membenarkan perbedaan darah dan perbedaan suku, ras,
bangsa dijadikan alasan untuk saling berpecah belah. Seorang muslim
mempercayai, bahwa seluruh umat manusia adalah keturunan Adam. Dan Adam
diciptakan dari tanah. Perbedaan suku, bangsa, dan warna kulit, adalah bagian dari
tanda-tanda kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, dalam menciptakan dan
mengatur makhluk-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Ar-Rum
ayat 22:

‫َﻦﻴِﻤِﻟﺎَﻌْﻠِﻟٍﺕﺎَﻳﺂَﻟَﻚِﻟَٰﺫﻲِﻓَّﻥِﺇْۚﻢُﻜِﻧﺍَﻮْﻟَ َﺃﻭْﻢُﻜِﺘَ ِﻨﺴْﻟَﺃُﻑ َﺎﻠِﺘْﺧﺍَ ِﻭﺽْ َﺭﺄْﻟﺍَﻭِﺕﺍَﻭﺎَ َﻤّﺴﺍ ُﻟﻖْﻠَﺧِﻪِﺗﺎَﻳ ْﺁﻦِﻣَﻭ‬

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan
berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S.
Ar-Rum:22)

Bagaimana mungkin seorang muslim akan merendahkan suatu bangsa dari


bangsa-bangsa manusia, sedangkan al-Qur’an mengajarkan supaya menghormati
segenap makhluk, baik bangsa, manusia, binatang ataupun yang lainnya. “Dan
tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan (umat-umat) juga seperti kalian. Tiadalah
kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpun.”

Demikianlah pandangan orang mukmin terhadap umat manusia. Tiada perasaan


kebanggaan tentang nasab, tempat kelahiran, tidak ada perasaan dengki antara
kelompok satu dengan yang lain, antara individu satu dengan yang lain. Yang ada
hanyalah perasaan cinta kasih, persamaan dan persaudaraan.

Pengaruh RahmatanLil’alamin Bagi Non Muslim

Dalam memperlakukan non muslim (Ahli Dzimmah) mereka mendapatkan hak


seperti yang didapatkan oleh kaum Muslimin, kecuali pada perkara-perkara yang
terbatas dan perkecualian. Sebagaimana halnya juga mereka dikenakan kewajiban
seperti yang dikenakan terhadap kaum Muslimin. Kecuali pada apa-apa yang
diperkecualikan. Ialah hak memperoleh perlindungan yaitu melindungi mereka
dari segala permusuhan eksternal. Ijma’ ulama umat Islam terjadi dalam hal ini
seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan Al-Baihaqi “Siapa-siapa yang
menzhalimi kafir mu’ahad atau mengurangi haknya, atau membebaninya di luar
kesanggupannya, atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa kerelaan, maka
akulah yang menjadi seterunya pada hari kiamat (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi).
Kemudian melindungi darah dan badan mereka, melindungi harta mereka,
menjaga kehormatan mereka, memberikan jaminan sosial ketika dalam keadaan
lemah, kebebasan beragama, kebebasan bekerja, berusaha dan menjadi pejabat,
inilah beberapa contoh dan saksi-saksi yang dicatat sejarah mengenai sikap kaum
Muslimin dan pengaruhnya terhadap Ahli Dzimmah.

Islam Bukan Agama Teroris

Islam memang agama yang menyebarkan benih-benih kasih sayang, cinta dan
damai. Islam secara eksklusif bukan berarti terorisme, tetapi eksklusif dalam
pengertian akidah. Yaitu mempercayai dan meyakini bahwa Islam adalah agama
yang benar. Dan itu harga mati di dalam akidah setiap Muslim. Dan bukan berarti
terorisme. Nah, secara inklusifnya Islam sendiri mewajibkan umatnya untuk
bertoleran sesama manusia.
Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an mendorong kita untuk mengorbankan harta dan
jiwa di jalan Allah Swt. Mengorbankan harta dan jiwa tidak harus selalu dengan
berperang mengangkat senjata, Banyak perintah, baik secara eksplisit maupun
implisit, dalam Al-Qur’an bertujuan menata kehidupan pribadi kita dan kehidupan
keluarga dalam tatanan Islam serta menjamin terwujudnya kehidupan islami
dalam masyarakat dan berkembangnya iklim islami dalam negara. [5]

Yusuf Qardhawi menyatakan bahwasanya tujuan Islam adalah membangun


manusia yang shalih. Tidak mungkin Islam menyebarkan benih-benih terorisme.
Dan bila “jihad” dalam pengertian islam adalah menyeru kepada agama yang
benar , berusaha semaksimal mungkin baik dengan perkataan ataupun perbuatan
dalam berbagai lapangan kehidupan dimana agama yang benar ini diperjuangkan
dan dengannya ia memperoleh kemenangan, maka ia tentunya lebih luas
ketimbang “perang” bahkan terorisme.

[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid I, UI Press,
Jakarta, 1985, hlm. 1

[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, Hikmah, Jakarta, 2010, hlm. 109.

[3] Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1986, hlm. 84.

[4] Drs. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag, Ilmu Studi Agama, Pustaka Setia,
Bandung, 2005, hlm. 21.

[5] Muhammad FethullahGulen, Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Republika, Jakarta,


2011, hlm. 393