Anda di halaman 1dari 17

Laporan Pendahuluan

Disusun Oleh :

Juandy Sambuaga 17061038

Angel Korengkeng 17061073

Angelina L. Siwu 17061078

Fakultas Keperawatan

Unika De La Salle Manado

2017
ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN DIABETES MILLITUS
A. DEFINISI
Penyakit diabetes mellitus merupakan kelainan herediter dengan ciri influensi
atau absesnya insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi, dan
berkurangnya glikogenesis.
Diabetes mellitus dalan kehamilan menimbulkan banyak kesulitan ,karena
penyakit ini akan banyak menimbulkan perubahan –perubahan metabolik dan hormonal
pada penderita yang juga dipengaruhi kehamilan,sebaiknya juga diatebetes akan
mempengaruhi kehamilan dengan frekuensi 0,3 -0,7%.
Kehamilan dengan diabetes mellitus meurut pyke ada 3 pngertian yaitu:
1.Diabetes mellitus kelas 1 yaitu gestational diabetes dimana diabetes timbul pada waktu
hamil dan menghilang setelah melahirkan .
2.Diabetes kelas 2 yaitu progestational diabetes dimana sejak sebelum hamil dan
berlanjut setelah hamil.
3.Diabetes kelas 3 yaitu progestational diabetes yang di sertai komplikasi penyulit
penyakit pembuluh darah seperti retinopati dan kelainan pembuluh panggung.
B. ETILOGI DIABTES MELITUS
Penyebab dan factor risiko terjadinya diabtetes mellitus adalah
1.Umur mulai tua
2.Obesitas atau gemuk
3.Herediter
4.Riwayat dengan kelahiran BB lebih 4kg
5.Riwayat aboetus yang berulang-ulang

C. KLASIFIKASI DIABTES MELITUS


Klasifikasi menurut usia dan lama timbulnya
Kelas A : GTT abnormal, tidak ada gejala Euglikemia diatur dengan diet tanpa
pemberian insulin, tidak ada komunikasi lama dan timbulnya kapan saja
Kelas B : Timbulnya pada usia diatas 20 th, lamanya kurang dari 10 th, tidak ada
komplikasi
Kelas C : Timbulnya pada usia diantar 10-19 th, lamanya diantara 10-19 th, tidak ada
komplikasi
Kelas D : Timbul pada usia diatas 10 th, lamanya lebih dari 20 th, ditemui tanda
angiopati, retinopati, pengapuran pembuluh darah tungkai/kaki
Kelas E : lama dan usia timbulnya kapan saja, ada nefropati
Kelas H : Lama dan usia timbulnya kapan saja, adanya penyakit jantung antreriosklerotik
Kelas R : lama dan usia timbulnya kapan saja, ada retinopati berat
Kelas RF : lama dan usia timbulnya kapan saja, hamil setelah transplantasi ginjal
Klasifikasi menurut penggunaan insulin
1. Non insulin dependen diabetes melitus
Tidak memerlukan insulin dalam pengendalian glukosa darah
2. Insulin dependen diabetes melitus
Memerlukan insulin dalam pengendalian glukosa darah

D. PATOFISIOLOGI DIABETES MELITUS


Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang
menunjang pemasokan makan bagi janin serta persiapan menyusui. Glukosa dapat
berdifusi secara tepat melalui plasenta kepada janin, sehingga kadarnya dalam darah
janin hampir menyerupai pada kadar darah ibu. Insulin ibu tak dapat mencapai janin,
sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar gula pada janin, sehingga kadar gula
ibu yang mempengaruhi kadar gula darah terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping
beberapa hormone lainnya misalnya estrogen, steroid dan plasma laktogen. Akibat
lambatnya resobsi makanan maka terjadi hiperglikemia yang relative lama dan ini
menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat sehingga
sehingga mencapai 3 kali dari normal. Hal ini disebabkan tekanan diabetic dalam
kehamilan. Secara fisiologik telah terjadi resistensi insulin yaitu bila ia tambah dengan
insulin eksogen ia tak mudah menjadi hipoglikemia. Yang menjadi masalah ialah bila
seorang ibu tak mampu meningkatkan produksi insulin, sehingga ia relative hipoinsulin
yang mengakibatkan hiperglikemi. Resisten insulin juga disebabkan oleh adanya
hormone estrogen, progesterone, kortisol, prolaktin dan plasenta laktogen. Hormone
tersebut mempengaruhi diabetes melitus.

E. TANDA DAN GEJALA/ MANIFESTASI KLINIS DIABETES MELITUS


1. Poliuri
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya
serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak
menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
2. Polidipsi
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena
poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum
3. Polifagi
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar).
Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak
makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
4. Mual, muntah
5. Obesitas/penambahan berat badan pada klien diabetes gestasi tapi pada iddm pasien
tidak gemuk sebelum hamil
6. Hipoglikemia
7. Hiperglikemia

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG DIABETES MELITUS


1. Pemeriksaan alfa foto protein
Untuk mencari kemungkinan kelainan congenital dan neurologis
2. Pasien diberi tes beban glukosa 50 gram dan 1 jam kemudian diperiksa kadar gula
darahnya bila nilainya lebih dari 150 mg/dl maka perlu dilanjutkan tes toleransi
glukosa 3 jam
3. Tes toleransi glukosa abnormal
a. Puasanya kadarnya kurangnya dari 90 mg/dl
b. Jam 1 kadarnya kurang dari 165 mg/dl
c. Jam 2 kadarnya kurang dari 147 mg/dl
d. Jam 3 kadarnya kurang dari 125 mg/dl

G. PENATALAKSAAN DIABETES MELITUS


1. Terapi Diet Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah
untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi akut dan kronik. Jika
klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia
atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari
tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik
oral dan insulin.

Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J
(jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis).

Diet pada penderita diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain :
Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 30 %,
protein 20 %.
Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.
Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.
Diet B1 dan B2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal.
Indikasi Diet :
1. Diet A Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya.
2. Diet B Diberikan pada penderita diabetes terutama yang :
1. Kurang tahan lapan dengan dietnya.
2. Mempunyai hyperkolestonemia.
3. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler
accident (cva) penyakit jantung koroner.
4. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi
belum ada nefropati yang nyata.
5. Telah menderita diabetes dari 15 tahun
3. Diet B1 Diberikan pada penderita diabetes yang memerlukan diet protein tinggi, yaitu
penderita diabetes terutama yang :
1. Mampu atau kebiasaan makan tinggi protein tetapi normalip idemia.
2. Kurus (underweight) dengan relatif body weight kurang dari 90 %.
3. Masih muda perlu pertumbuhan.
4. Mengalami patah tulang.
5. Hamil dan menyusui.
6. Menderita hepatitis kronis atau sirosis hepatitis.
7. Menderita tuberkulosis paru.
8. Menderita penyakit graves (morbus basedou).
9. Menderita selulitis.
10. Dalam keadaan pasca bedah. Indikasi tersebut di atas selama tidak ada kontra
indikasi penggunaan protein kadar tinggi.
4. Diet B1 dan B2
Diet B2 (Diberikan pada penderita nefropati dengan gagal ginjal kronik yang klirens
kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt).

Sifat-sifat diet B2
1. Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang.
2. Komposisi sama dengan diet B, (68 % hidrat arang, 12 % protein dan 20 % lemak)
hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial.
3. Dalam praktek hanya terdapat diet B2 dengan diet 2100 – 2300 kalori / hari. Karena
bila tidak maka jumlah perhari akan berubah.

5. Diet B3 (Diberikan pada penderita nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik yang
klibers kreatininnya kurang dari 25 MI/mt)

Sifat diet B3
1. Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari).
2. Rendah protein tinggi asam amino esensial, jumlah protein 40 gram/hari.
3. Karena alasan No 2 maka hanya dapat disusun diet B3 2100 kalori dan 2300 / hari.
(bila tidak akan merubah jumlah protein). 4. Tinggi karbohidrat dan rendah lemak. 5.
Dipilih lemak yang tidak jenuh. Semua penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk
latihan ringan yang dilaksanakan secara teratur tiap hari pada saat setengah jam sesudah
makan. Juga dianjurkan untuk melakukan latihan ringan setiap hari, pagi dan sore hari
dengan maksud untuk menurunkan BB. Penyuluhan kesehatan, untuk meningkatkan
pemahaman maka dilakukan penyuluhan melalui perorangan antara dokter dengan
penderita yang datang. Selain itu juga dilakukan melalui media-media cetak dan
elektronik.

Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama
didasari atas pengelolaan gizi/diet dan pengendalian berat badan ibu.
1. Kontrol secara ketat gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan lahir lebih
dini, pertimbangkan kematangan paru janin. Dapat terjadi kematian janin mendadak.
Berikan insulin yang bekerja cepat, bila mungkin diberikan melalui drips.
2. Hindari adanya infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya. Lakukan upaya pencegahan
infeksi dengan baik.
3. Pada bayi baru lahir dapat cepat terjadi hipoglikemia sehingga perlu diberikan infus
glukosa.
4. Penanganan DMG yang terutama adalah diet, dianjurkan diberikan 25 kalori/kgBB
ideal, kecuali pada penderita yang gemuk dipertimbangkan kalori yang lebih mudah.
5. Cara yang dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal = (TB-100)-10% BB.
6. Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari:
Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
Kalori kegiatan jasmani 10-30%
Kalori untuk kehamilan 300 kalori
Perlu diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kgBB
Jika dengan terapi diet selama 2 minggu kadar glukosa darah belum mencapai normal
atau normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa di bawah 105 mg/dl dan 2 jam pp
di bawah 120 mg/dl, maka terapi insulin harus segera dimulai.
Pemantauan dapat dikerjakan dengan menggunakan alat pengukur glukosa darah
kapiler. Perhitungan menu seimbang sama dengan perhitungan pada kasus DM
umumnya, dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori per hari untuk tumbuh kembang
janin selama masa kehamilan sampai dengan masa menyusui selesai. Pengelolaan DM
dalam kehamilan bertujuan untuk :
1. Mempertahankan kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl
2. Mempertahankan kadar glukosa darah 2 jam pp < 120 mg/dl
3. Mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb Alc) < 6%
4. Mencegah episode hipoglikemia
5. Mencegah ketonuria/ketoasidosis deiabetik 6. Mengusahakan tumbuh kembang
janin yang optimal dan normal.
Dianjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu (ideal setiap hari,
jika mungkin dengan alat pemeriksaan sendiri di rumah). Dianjurkan kontrol sesuai
jadwal pemeriksaan antenatal, semakin dekat dengan perkiraan persalinan maka kontrol
semakin sering Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 6-8 minggu sekali.
Kenaikan berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg pada trimester pertama dan
selanjutnya rata-rata 0.5 kg setiap minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan berat
badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB kurang 14-20 kg, ibu BB
normal 12.5-17.5 kg dan ibu BB lebih/obesitas 7.5-12.5 kg).
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, maka insulin langsung digunakan.
Insulin yang digunakan harus preparat insulin manusia (human insulin), karena insulin
yang bukan berasal dari manusia (non-human insulin) dapat menyebabkan terbentuknya
antibodi terhadap insulin endogen dan antibodi ini dapat menembus sawar darah plasenta
(placental blood barrier) sehingga dapat mempengaruhi janin. Obat hipoglikemik oral
tidak digunakan dalam DM karena efek teratogenitasnya yang tinggi dan dapat
diekskresikan dalam jumlah besar melalui ASI.
Pada pemeriksaan antenatal dilakukan pemantauan keadaan klinis ibu dan janin,
terutama tekanan darah, pembesaran/ tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar
gula darah ibu, pemeriksaan USG dan kardiotokografi (jika memungkinkan).
Pada tingkat Polindes dilakukan pemantauan ibu dan janin dengan pengukuran tinggi
fundus uteri dan mendengarkan denyut jantung janin. Pada tingkat Puskesmas dilakukan
pemantauan ibu dan janin dengan pengukuran tinggi fundus uteri dan mendengarkan
denyut jantung janin. Pada tingkat rumah sakit, pemantauan ibu dan janin dilakukan
dengan cara :

 Pengukuran tinggi fundus uteri


NST – USG serial
Penilaian menyeluruh janin dengan skor dinamik janin plasenta (FDJP), nilai FDJP < 5
merupakan tanda gawat janin.
Penilaian ini dilakukan setiap minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya
makrosomia, pertumbuhan janin terhambat (PJT) dan gawat janin merupakan indikasi
untuk melakukan persalinan secara seksio sesarea.
Pada janin yang sehat, dengan nilai FDJP > 6, dapat dilahirkan pada usia kehamilan
cukup waktu (40-42 mg) dengan persalinan biasa. Pemantauan pergerakan janin (normal
>l0x/12 jam).
Bayi yang dilahirkan dari ibu DM memerlukan perawatan khusus.
Bila akan melakukan terminasi kehamilan harus dilakukan amniosentesis terlebih
dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan < 38 mg).
Kehamilan DM dengan komplikasi (hipertensi, preeklamsia, kelainan vaskuler dan
infeksi seperti glomerulonefritis, sistitis dan monilisasis) harus dirawat sejak usia
kehamilan 34 minggu. Penderita DM dengan komplikasi biasanya memerlukan insulin
2. Terapi Insulin
Menurut Prawirohardjo, (2002) yaitu sebagai berikut : Daya tahan terhadap insulin
meningkat dengan makin tuanya kehamilan, yang dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin
plasenta. Penderita yang sebelum kehamilan sudah memerlukan insulin diberi insulin
dosis yang sama dengan dosis diluar kehamilan sampai ada tanda-tanda bahwa dosis
perlu ditambah atau dikurangi. Perubahan-perubahan dalam kehamilan memudahkan
terjadinya hiperglikemia dan asidosis tapi juga menimbulkan reaksi hipoglikemik. Maka
dosis insulin perlu ditambah/dirubah menurut keperluan secara hati-hati dengan pedoman
pada 140 mg/dl. Pemeriksaan darah yaitu kadar post pandrial.
Selama berlangsungnya persalinan dan dalam hari-hari berikutnya cadangan hidrat arang
berkurang dan kebutuhan terhadap insulin berkurang yang mengakibatkan mudah
mengalami hipoglikemia bila diet tidak disesuaikan atau dosis insulin tidak dikurangi.
Pemberian insulin yang kurang hati-hati dapat menjadi bahaya besar karena reaksi
hipoglikemik dapat disalah
tafsirkan sebagai koma diabetikum. Dosis insulin perlu dikurangi selama wanita dalam
persalinan dan nifas dini. Dianjurkan pula supaya dalam masa persalinan diberi infus
glukosa dan insulin pada hiperglikemia berat dan keto asidosis diberi insulin secara infus
intravena dengan kecepatan 2-4 satuan/jam untuk mengatasi komplikasi yang berbahaya.
Penanggulangan Obstetri pada penderita yang penyakitnya tidak berat dan cukup dikuasi
dengan diit saja dan tidak mempunyai riwayat obstetri yang buruk, dapat diharapkan
partus spontan sampai kehamilan 40 minggu. lebih dari itu sebaiknya dilakukan induksi
persalinan karena prognosis menjadi lebih buruk. Apabila diabetesnya lebih berat dan
memerlukan pengobatan insulin, sebaiknya kehamilan diakhiri lebih dini sebaiknya
kehamilan 36-37 minggu. Lebih-lebih bila kehamilan disertai komplikasi, maka
dipertimbangkan untuk menghindari kehamilan lebih dini lagi baik dengan induksi atau
seksio sesarea dengan terlebih dahulu melakukan amniosentesis. Dalam pelaksanaan
partus pervaginam, baik yang tanpa atau dengan induksi, keadaan janin harus lebih
diawasi jika mungkin dengan pencatatan denyut jantung janin terus – menerus.
Strategi terapi diabetes mellitus pada ibu hamil meliputi manajemen diet, menjaga berat
badan ibu tetap ideal, terapi insulin untuk menormalkan kontrol glikemik dan olah raga.
3. Olahraga
Kecuali kontraindikasi, aktivitas fisik yang sesuai direkomendasikan untuk memperbaiki
sensitivitas insulin dan kemungkinan memperbaiki toleransi glukosa. Olahraga juga dapat
membantu menaikkan berat badan yang hilang dan memelihara berat badan yang ideal
ketika dikombinasi dengan pembatasan intake kalori.

H. KOMPLIKASI
1. Pengaruh dalam kehamilan
a. Abortus
b. Partus prematurus
Persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup
tetapi premature.
c. Preeklamasi
Sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein
didalam urin, dan pembengkakan tungkai (edema).
d. Hidramnion
Kondisi dimana jumlah air ketuban melebihi batas normal
e. Kelainan letak janin
f. Insufisiensi plasenta
Merupakan masalah pada plasenta yang mengakibatkan oksigenasi pada janin
terganggu yang menimbulkan hipoksia pada janin.
2. Pengaruh janin
a. Abortus
b. Cacat bawaan
c. Dismaturitas
Berat badan bayi saat lahir tidak sesuai dengan masa kehamilan, seperti bayi lahir
setelah sembilan bulan tidak mencapai 2500 gram.
d. Janin besar
e. Kematian dalam kandungan
f. Kematian neonatal
g. Kelainan neurologi
h. Hipokalsemia
Adalah kondisi dimana tubuh kekurangan kalsium, mineral penting yang
dibutuhkan untuk membentuk tulang dan gigi yang kuat
i. Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar bilirubin(pigmen kuning dalam darah dan tinja) serum pada
bayi (neonatus).

I. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIABETES MELITTUS


1. Pengkajian
a. Sirkulasi
Nadi pedals dan pengisian kapiler ekstremitas menurun, melambat pada DM durasi
lama, edema, peningkatan tekanan darah
b. Eliminasi
Dapat mengalami riwayat pyelonevritis, infeksi saluran perkemihan, nefropati, poliuri
c. Makanan/cairan
Polidipsi, polipagi, mual muntah, obesitas nyeri tekan abdomen hipoglikemi,
glikosuria
d. Keamanan
Integritas atau sensasi kulit lengan, paha, bokong, dan abdomen dapat berubah kerena
injeksi insulin sering, kerusakan penglihatan, riwayat gejala infeksi dan budaya positif
infeksi khusunya perkemihan
e. Seksualitas
Tinggi fundus uteri lebih tinggi atau lebih rendah dari normal terhadap usia gestasi,
riwayat neonates besar tehadap usia gestasi, hidramnion, animaly congenital, lahir
mati tidak jelas
f. Interaksi social
Masalah social ekonomi dapat meningkatkan resiko komplikasi ketidak kuatkan
system pendukung yqng bertanggung jawab mempengaruhi control diabetic
g. Penyuluhan/ pembelajaran
BB janin klien sangat mempengaruhi saat lahir kemungkinan 4 kg/lebih

2. Perencanaan
1. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan ketidakmampuan mencerna dan menggunakan nutrisi kurang tepat.

Kriteria evaluasi :
Mempertahankan kadar gula darah puasa antara 60-100 mg/dl dan 2 jam sesudah
makan tidak lebih dari 140 mg/dl.
No. Intervensi Rasional
Mandiri Penambahan berat badan adalah kunci petunjuk
1 untuk memutuskan penyesuaian kebutuhan kalori.
Timbang berat badan setiap kunjungan
prenatal.
2 Kaji masukan kalori dan pola makan Membantu dalam mengevaluasi pemahaman
dalam 24 jam. pasien tentang aturan diet.
3 Tinjau ulang dan berikan informasiKebutuhan metabolisme dari janin dan ibu
mengenai perubahan yang diperlukanmembutuhkan perubahan besar selama gestasi
pada penatalaksanaan diabetic. memerlukan pemantauan ketat dan adaptasi
4 Tinjau ulang tentang pentingnyaMakan sedikit dan sering menghindari
makanan yang teratur bila memakaihiperglikemia , sesudah makan dan kelaparan.
insulin.
5 Perhatikan adanya mual dan muntah Mual dan muntah dapat mengakibatkan
khususnya pada trimester pertama. defisiensi karbohidrat yang dapat mengakibatkan
metabolisme lemak dan terjadinya ketosis.

6 Kaji pemahaman stress pada diabetic. Stress dapat mengakibatkan peningkatan kadar
glukosa, menciptakan fluktuasi kebutuhan insulin.

7 Ajarkan pasien tentang metode finger Kebutuhan insulin dapat dinilai berdasarkan
stick untuk memantau glukosa sendiri. temuan glukosa darah serum secara periodic
g.
8 Tinjau ulang dan diskusikan tanda Hipoglikemia dapat terjadi secara cepat dan
gejala serta kepentingan hipo atau berat pada trimester pertama karena peningkatan
hiperglikemia. penggunaan glukosa dan glikogen oleh ibu dan
perkembangan janin. Hiperglikemia berefek
terjadinya hidramnion.
9 Instruksikan untuk mengatasi Pengguanaan jumlah besar karbohidrat
hipoglikemia asimtomatik. sederhana untuk mengatasi hipoglikemi
menyebabkan nilai glukosa darah meningkat.
10 Anjurkan pemantauan keton urine. Ketidakcukupan masukan kalori ditunjukkan
dengan ketonuria, menandakan kebutuhan
terhadap peningkatan karbohidrat.

Kolaborasi
11 Diskusikan tentang dosis , jadwal dan Pembagian dosis insulin mempertimbangkan
tipe insulin. kebutuhan basal maternal dan rasio waktu
makan.
12 Sesuaikan diet dan regimen insulin Kebutuhan metabolisme prenatal berubah
untuk memenuhi kebutuhan individu. selama trimester pertama.
13 Kolaborasi dengan ahli gizi. Diet secara spesifik pada individu perlu untuk
mempertahankan normoglikemi.
14 Observasi kadar Glukosa darah. Insiden abnormalitas janin dan bayi baru lahir
menurun bila kadar glukosa darah antara 60 -
100 mg/dl, sebelum makan antara 60 -105
mg/dl, 1 jam sesudah makan dibawah 140 mg/dl
dan 2 jam sesudah makan kurang dari 200
mg/dl.
15 Tentukan hasil HbA1c setiap 2 – 4 Memberikan keakuratan gambaran rata rata
minggu. control glukosa serum selama 60 hari . Kontrol
glukosa serum memerlukan waktu 6 minggu untuk
stabil.

2. Resiko Tinggi cidera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa


maternal, perubahan pada sirkulasi.
Kriteria evaluasi :
Menunjukan reaksi Non stress test dan Oxytocin Challenge Test negative atau
Construction Stress Test secara normal.
No. Intervensi Rasional
Mandiri Pengontrolan secara ketat sebelum konsepsi
membantu menurunkan resiko mortalitas janin
1 Kaji control diabetik sebelum
konsepsi. dan abnormal konginental.

Tentukan klasifikasi white terhadap Janin kurang beresiko bila klasifikasi white adalah
2 diabetes.
A, B, C dan apabila D adalah beresiko tinggi.
Kaji gerakan janin dan denyut janin Terjadi insufisiensi plasenta dan ketosis maternal
setiap kunjungan. mungkin secara negatif mempengaruhi gerakan
3 janin dan denyut jantung janin.

Observasi tinggi fundus uteri setiap Untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan


4 kunjungan. abnormal
5 Observasi urine terhadap keton. Benda keton dapat mengakibatkan kerusakan
susunan syaraf pusat yang tidak dapat diperbaiki.
Berikan informasi dan buatkan Penurunan mortalitas dan komplikasi morbiditas
prosedur untuk pemantauan glukosa janin bayi baru lahir dan anomali congenitial
6
dan penatalaksanaan diabetes di dihubungkan dengan kenaikan kadar glukusa
rumah. darah.
Pantauan adanya tanda tanda edema, sekitar 12% – 13% dari diabetes akan berkembang
proteinuria, peningkatan tekanan menjadi gangguan hipertensi karena perubahan
7
darah. kardiovaskuler berkenaan dengan diabetes.
Tinjau ulang prosedur dan rasional Aktifitas dan pergerakan janin merupakan petanda
8 untuk Non stress Test setiap minggu. baik dari kesehatan janin.
Diskusikan rasional atau prosedur Contraction Stress Test dapat memberikan informasi
untuk melaksanakan Oxytocin tentang perfusi oksigen dan nutrisi pada janin. Hasil
9
Challenge Test atau Contraction positif menandakan insufisiensi plasenta.
Stress Test setiap minggu mulai
minggu ke – 30 sampai dengan
minggu ke- 32.
10 Tinjau ulang prosedur dan rasional Maturasi paru janin adalah kriteria yang
untuk tindakan amniosentesis digunakan untuk menentukan kelangsungan hidup.
Kolaborasi
11 Kaji HbA1c setiap 2 – 4 minggu Insiden bayi malformasi secara kongenital meingkat
sesuai indikasi. pada wanita dengan kadar HbA1c tinggi pada awal
kehamilan atau sebelum konsepsi.
Kaji kadar albumin glikosilat pada Tes serum albumin glikosilat menunjukkan
getasi minggu ke 24 sampai ke 28 glikemia lebih dari beberapa hari.
khususnya pada ibu dengan resiko
12
tinggi.
Dapatkan kadar serum alfa fetoprotein Insiden kerusakan tuba neural lebih besar pada ibu
pada gestasi minggu ke 14 sampai diabetik dari pada non diabetik bila kontrol sebelum
13 minggu ke 16. kehamilan sudah buruk.
Siapkan untuk ultrasonografi pada Ultrasonografi bermanfaat dalam memastikan
gestasi minggu ke 8, 12, 18, 28, 36 tanggal gestasi dan membantu dalam evaluasi
14
sampai minggu ke 38. retardasi pertumbuhan intra uterin.
Lakukan non stress test dan Oxytocin Mengetahui kesehatan janin dan kedekatan perfusi
Challenge Test atau Construction plasenta.
15 Stress test dengan tepat.
Dapatkan sekuensial serum atau Penurunan kadar estriol dapat menunjukkan
specimen urine 24 jam terhadap kadar penurunan fungsi plasenta, menimbulkan retardasi
16
estriol setelah gestasi minggu ke 30. pertumbuhan intra uterin dan lahir mati.
Bantu untuk persalinan per vaginam Membantu menjamin hasil positif untuk neonatus.
atau seksio. Insiden lahir mati meningkat secara bermakna
pada gestasi lebih dari minggu ke-36. Makrosomia
sering menyebabkan distosia dengan sefalopelvis
17 disproporsi.

3. Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan


kontrol diabetik, profil darah abnormal atau anemia, hipoksia jaringan dan perubahan
respon imun.
Kriteria evaluasi :
 Tetap normotensif.
 Mempertahankan normoglikemia.
 Bebas dari komplikasi seperti infeksi, pemisahan plasenta.

No. Intervensi Rasional


Mandiri
1 Perhatikan klasifikasi white untuk Klien dengan klasifikasi D, E atau F adalah berisiko
tinggi terhadap komplikasi kehamilan.
diabetes. Kaji derajad kontrol
Kaji perdarahan pervaginam dan Perubahan vaskuler yang dihubungkan dengan
diabetik.
2 nyeri tekan abdomen. diabetes menandakan resiko abrupsi plasenta.
Pantau terhadap tanda dan gejala Distensi uterus berlebihan karena makrosomia atau
persalinan preterm. hidramnion dapat mempredisposisikan pada
3
persalinan awal.
Bantu untuk belajar memantauMemungkinkan keakuratan tes urin yang lebih besar
glukosa darah di rumah yangkarena ambang ginjal terhadap glukosa menurun
4 dilakukan 6 kali sehari. selama kehamilan.
5 Periksa keton dalam urin setiap hari. Ketonuria menandakan adanya kondisi kelaparan yang
secara negatif dapat mempengaruhi perkembangan
janin
Insiden hipoglikemia sering terjadi pada trimester
6 Identifikasi kejadian hipoglikemia ketiga karena aliran glukosa darah dan asam amino
yang kontinue pada janin dan untuk menurunkan
dan hiperglikemia. kadar insulin antagonis laktogen plasenta. Insiden
hiperglikemia memerlukan regulasi diet atau insulin
untuk normoglikemia khususnya pada trimester kedua
dan ketiga karena kebutuhan insulin sering meningkat
dua kali.
Diabetes cenderung kelebihan cairan karena
perubahan vaskuler. Insiden hidramnion sebanyak
7 Pantau adanya edema dan tentukan
tinggi fundus uteri. 6% – 25% pada kasus diabetes yang hamil
kemungkinan berhubungan dengan peningkatan
kontribusi janin pada cairan amnion dan hiperglikemia
8 Kaji adanya infeksi saluran kencing. Deteksi awal adanya
meningkatkan haluaraninfeksi saluran kencing dapat
urin janin.
mencegah pielonefritis.
9 Pantau dengan ketat bila obat Obat tokolitik dapat meningkatkan glukosa darah
tokolitik digunakan untuk dan insulin plasma.
menghentikan persalinan.
Kolaborasi
10 Pantau kadar glukosa serum setiap Mendeteksi ancaman ketoasidosis, menentukan
kunjungan. adanya ancaman hipoglikemia.

11 Dapatkan urinalisa dan kultur urin, Membantu mencegah atau mengatasi pielonefritis.
kultur rabas vagina, berikan Monilial vulvovaginitis dapat menyebabkan sariawan
antibiotika sesuai indikasi. oral pada bayi baru lahir.
12 Kumpulkan spesimen untuk ekskresi Kemajuan perubahan vaskuler dapat merusak fungsi
protein total, klirens kreatinin ginjal dengan diabetes jangka panjang atau berat.
nitrogen urea darah dan kadar asam
urat.
13 Jadwalkan pemeriksaan oftalmologi Latar belakang retinopati dapat berlanjut selama
selama trimester pertama, trimester kehamilan karena keterlibatan vaskuler berat.
kedua dan ketiga bila berada dalam Terapi koagulasi laser dapat memperbaiki dan
diabetes klasifikasi kelas D atau menurunkan fibrosis optik.
diatasnya.
14 Siapkan untuk ultrasonografi pada Mengetahui adanya tanda makrosomia dan
gestesi ke-8, 12, 26, 36 dan 38 untuk diproporsi cephalopelvis.
menentukan ukuran janin dengan
menggunakan diameter biparietal,
panjang femur dan perkiraan berat
badan janin.
15 Mulai terapi intra vena dengan Glukagon adalah substansi alamiah yang bekerja pada
dekstrose 5%, berikan glukogon sub glikogen hepar dan mengubahnya menjadi glukosa
cutan bila dirawat di rumah sakit yang memperbaiki status hipoglikemik.
dengan shock insulin dan tidak
sadar. Ikuti dengan pemberian susu
skim 8 oz bila mampu menelan
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi diabetes dan kebutuhan tindakan
berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan informasi dan tidak mengenal
sumber informasi.
Kriteria evaluasi :
 Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diabetes selama kehamilan.
 Mendemonstrasikan kemahiran memantau sendiri dan pemberian insulin

No Intervensi Rasional
Mandiri Rasional: Diabetes mellitus gestasional besisiko
terhadap ambilan glukosa yang tidak efektif
Kaji pengetahuan tentang proses dan dalam sel, penggunaan lemak dan protein untuk
tindakan terhadap penyakit termasuk energi secara berlebihan dan dehidrasi seluler saat
1 hubungan dengan diet, latihan, stres air dialirkan dari sel oleh konsentrasi hipertonik
dan kebutuhan insulin. glukosa dalam serum.

2 Berikan informasi tentang cara kerja Rasional: Perubahan metabolik prenatal


dan efek merugikan insulin dan tinjau menyebabkan kebutuhan insulin berubah. Trimester
ulang alasan menghindari obat pertama kebutuhan insulin rendah tetapi menjadi dua
hipoglikemi oral. kali dan empat kali selama trimester kedua dan
ketiga. Meskipun insulin tidak melewati plasenta,
agen hipoglikemi oral dapat dan potensial
membahayakan janin.

3 Jelaskan penambahan berat Rasional: Pembatasan kalori dengan akibat


badan normal. ketonemia dapat menyebabkan kerusakan janin dan
menghambat penggunaan protein optimal.
4 Berikan informasi tentang Rasional: Latihan setelah makan dapat membantu
kebutuhan program latihan ringan. mencegah hipoglikemia dan menstabilkan
penyimpangan glukosa, kecuali terjadi peningkatan
glukosa berlebihan, dimana latihan dapat
meningkatkan ketoasidosis.
5 Berikan informasi mengenai dampak Rasional: Peningkatan pengetahuan dapat
kehamilan pada kondisi diabetes dan menurunkan rasa takut, meningkatkan kerja sama
harapan masa depan. dan membantu menurunkan komplikasi janin.

6 Diskusikan mengenali tanda infeksi. Rasional: Penting untuk mencari pertolongan


medis awal untuk menghindari komplikasi.
7 Anjurkan mempertahankan pengkajian Rasional: Bila ditinjau ulang oleh praktisi pemberi
di rumah terhadap kadar glukosa perawatan, catatan harian dapat membantu bagi
serum, dosis insulin, diet dan latihan. evaluasi dan perubahan terapi
8 Bantu untuk mempelajari pemberian Rasional: Adanya gejala hipoglikemia seperti
glukosa, instruksikan untuk diaforesis, sensasi kesemutan dan palpitasi dengan
menyertainya dengan susu 8 oz dan kadar glukosa dibawah 70 mg/di memerlukan
periksa ulang kadar glukosa dalam 15 tindakan dengan segera. Penggunaan glukagon
menit. sebagai kombinasi susu dapat meningkatkan kadar
glukosa serum tanpa resiko berbalik menjadi
hiperglikemia.
5. Resiko tinggi terhadap trauma, gangguan pertukaran gas pada janin
berhubungan dengan ketidakadekuatan kontrol diabetik maternal, makrosomnia atau
retardasi pertumbuhan intra uterin.

Kriteria evaluasi :
 Kehamilan cukup bulan.
 Meningkatkan keberhasilan kelahiran dari bayi usia gestasi yang tepat.
 Bebas cedera.
 Menunjukkan kadar glukosa normal, bebas tanda hipoglikemia

No. Intervensi Rasional


Mandiri Hiperglikemia maternal pada periode pranatal
1 Tinjau ulang riwayat pranatal dan meningkatkan makrosomia, membuat janin
berisiko terhadap cedera kelahiran karena
kontrol maternal. distosia atau disporsia sefalopelvis. Kadar
glukosa maternal yang tinggi pada kelahiran
meransang pankreas janin, mengakibatkan
hiperinsulinemia.
Periksa adanya glukosa atau keton danRasional: Peningkatan glukosa dan kadar keton
albumin dalam urin ibu dan pantaumenandakan ketoasidosis yang dapat
2
tekanan darah. mengakibatkan asidosis janin dan potensial
cedera susunan syaeaf pusat.

3 Observasi tanda vital. Rasional: Peningkatan infeksi asenden, dapat


mengakibatkan sepsis neonatal.
Anjurkan posisi rekumben lateral Rasional: Meningkatkan perfusi plasenta dan
4 selama persalinan. meningkatkan kesediaan oksigen untuk janin.
Lakukan dan bantu dengan Rasional: Persalinan yang lama dapat
pemeriksaan vagina untuk menentukan meningkatkan resiko distres janin.
5 kemajuan persalinan.
Kolaborasi
6 Tinjau hasil tes pranatal seperti profilRasional: Memberikan informasi tentang cadangan
biofisikal, tes nonstres dan tes strespada plasenta untuk oksigenasi janin selama
kontraksi. periode intrapartal.
Dapatkan atau tinjau ulang hasil dari Rasional: Memberikan informasi tentang
7 amniosentesis dan ultrasonografi. maturasi paru janin.
Pantai kadar glukosa serum maternal Rasional: Peningkatan kebutuhan energi,
8 dengan finger stick setiap jam, penurunan kadar glikogen.
kemudian setiap 2-4 jam sesuai
indikasi.
9 Observasi frekuensi denyut jantung Rasional: Tacikardi, bradikardi atau deselerasi
janin. lambat pada penurunan variabilitas menandakan
kemungkinan hipoksia janin.
Lakukan pemberian cairan dekstrose Rasional: Mempertahankan normoglikemia tanpa
pemberian glukosa sampai persalinan aktif
10 5% per parenteral. mulai.
Siapkan untuk induksi persalinan Rasional: Mendapatkan kelahiran dari bayi
11 dengan oksitosin atau seksio saesar. sesuai usia gestasi yang tepat.
6. Gangguan psikologis: ansietas berhubungan dengan situasi krisis atau mengancam
pada status kesehatan (maternal atau janin).
Kriteria evaluasi :
 Mengungkapkan kesadaran tentang perasaan mengenai diabetes dan persalinan.
 Menggunakan strategi koping yang tepat.

No. Intervensi Rasional


Mandiri Rasional: Meningkatkan kontinuitas asuhan. Pasien
1 Atur keberadaan perawat dan keluarga perlu mengetahui bahwa mereka tidak
secara kontinu selama persalinan. sendiri dan tersedianya tenaga bantuan dengan segera.

2 Pastikan respon yang ada pada Memberikan pengkajian dasar untuk perbandingan
pesalinan dan penatalaksanaan selanjutnya, mengidentifikasi kekuatan dan masalah
medis. Kaji keefektifan sistem yang potensial.
pendukung.
3 Ajarkan tehnik relaksasi Memberikan perasaan kontrol terhadap situasi.
dan distraksi.
4 Jelaskan semua prosedur tindakan Pengetahuan tentang apa yang terjadi membantu
perawatan. menurunkan rasa takut.
5 Fasilitasi semua keluhan atas Suasana terbuka dan mendukung menurunkan
ungkapan perasaan. intimidasi karena prosedur atau peralatan.
6 Informasikan kepada keluarga Membantu untuk menghilangkan atau meminimalkan
tentang kemajuan persalinan dan rasa khawatir dan mengembangkan rasa percaya.
keadaan janin.