Anda di halaman 1dari 23

REFLEKSI KASUS

Seorang Anak Laki-Laki 3 Tahun dengan Kejang Demam


Komplek

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Di RSUD Loekmonohadi Kudus

Disusun oleh:
Adita Ayu Aprilia
3010147112

Pembimbing :
dr. Abdul Hakam, M. Si. Med., Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD LOEKMONOHADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2019
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. M
Umur : 3 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Klumpit 04/06 Gebog Kudus

Nama Ayah : Tn. A


Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Wirawasta
Pendidikan : SMA

Nama Ibu : Ny. S


Umur : 28 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA

Bangsal : Bougenville 2
No. CM : 798713
Masuk RS : 29-01-2019

II. DATA DASAR

1. ANAMNESIS :
Alloanamnesis dengan ibu kandung penderita pada tanggal 29 Januari
2019 di ruang Bougenville 2 dan didukung dengan catatan medis.
a. Keluhan Utama
Kejang

2
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang ibu datang bersama anaknya ke IGD RSUD Loemonohadi
Kudus tanggal 29 Januari 2019 pukul 11.30 dengan keluhan kejang 2x
dirumah tadi siang. Secara tidak sadar tiba-tiba lengan dan kakinya
berkelojotan dan matanya melirik-lirik keatas dengan durasi kejang
masing-masing sekitar 5 menit, ketika dipanggil anak tidak menyahut
dan setelah kejang anaknya menangis. Pada saat kejang lidah tidak
tergigit dan tidak mengeluarkan busa. Awalnya sehari sebelum kejang,
pasien mengalami demam yang bersifat menetap disertai batuk pilek.
Kemudian keesokan harinya demamnya jadi naik dan disusul dengan
pasien mengalami kejang, lalu pasien langsung dibawa ke IGD RSUD
Loekmonohadi Kudus. Ibu pasien mengatakan sebelumnya anaknya
tidak pernah mengalami demam dan kejang seperti ini.

c. Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat kejang dengan demam disangkal
- Riwayat kejang tanpa demam disangkal.
- Riwayat alergi disangkal.
- Riwayat trauma kepala disangkal.

d. Riwayat Penyakit Keluarga :


- Riwayat keluhan serupa disangkal.
- Riwayat alergi disangkal.

e. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien tinggal bersama kedua orang tua. Ayah seorang wiraswasta
dan ibu seorang ibu rumah tangga. Sehari-hari pasien diasuh oleh ibu.
Keadaan rumah pasien cukup luas, bersih dan memiliki ventilasi yang
cukup. Biaya pengobatan ditanggung BPJS.
Kesan : Sosial ekonomi cukup

3
f. Riwayat Persalinan dan Kehamilan :
Saat hamil, ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya ke bidan.
Pasien merupakan anak laki-laki yang lahir dari ibu P1A0, Usia 28 tahun,
hamil 39 minggu, lahir spontan di rumah sakit, ketuban pecah saat
persalinan, warna ketuban jernih, tidak terdapat masalah waktu
persalinan, lahir langsung menangis, berat badan lahir 3500 gram,
panjang badan 49 cm, lingkar kepala dan lingkar dada saat lahir ibu tidak
ingat, tidak ada kelainan bawaan.
Kesan : neonatus aterm, lahir spontan pervaginam

g. Riwayat Pemeliharaan Prenatal :


Ibu memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat.
Mulai saat mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 7 minggu
pemeriksaan dilakukan 1x/bulan. Saat usia kehamilan memasuki usia
kandungan ke-8 bulan, pemeriksaan rutin dilakukan 2x/bulan hingga
lahir. Selama hamil ibu telah mendapat suntikan TT 2x Ibu mengaku
tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan. Riwayat perdarahan
dan trauma saat hamil disangkal. Riwayat minum obat tanpa resep dokter
ataupun minum jamu disangkal.
Kesan : riwayat pemeliharaan prenatal baik

h. Riwayat Pemeliharaan Postnatal :


Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan dan anak dalam keadaan
sehat.
Kesan : riwayat pemeliharaan postnatal baik

i. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak :


Pertumbuhan :
Pasien sering dibawa kontrol ke puskesmas untuk mengisi
KMS dan selalu di garis hijau.
Perkembangan :
- Senyum : 1 bulan

4
- Miring : 3 bulan
- Tengkurap : 5 bulan
- Duduk : 8 bulan
- Berdiri : 10 bulan
- Berjalan : 12 bulan
- Berbicara 1 kata : 12 bulan
- Berbicara beberapa kata: 1,5 tahun
- Melepas dan memakai pakaian: 2 tahun
- Melompat: 2,5 tahun
Kesan : pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur.

j. Riwayat Imunisasi :
Hepatitis B : 4 kali, usia 0,2,3,4 bulan
Polio : 4 kali, usia 0,2,3,4 bulan
BCG : 1 kali, usia 0 bulan
DPT : 3 kali, usia 2,3,4 bulan
Campak : 1 kali, usia 9 bulan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap, hanya berdasarkan aloanamnesa
dengan ibu pasien. Buku KMS tidak dibawa.

k. Riwayat Makan dan Minum Anak :


ASI diberikan sejak lahir sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan,
selain ASI anak juga mendapat diberikan makanan pendamping ASI
berupa bubur susu, nasi tim, dan buah yang diahaluskan. Mulai usia 1
tahun sampai sekarang, anak diberikan makanan padat seperti anggota
keluarga yang lain. Sebelum sakit anak mengkonsumsi nasi, tahu,
tempe, telur, sayur dengan frekuensi makan 3 kali sehari.
Kesan : kualitas dan kuantitas makanan cukup.

2. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis

5
- Tanda Vital
i. Nadi : 150 x/menit, reguler, isi tegangan cukup
ii. Pernapasan : 28 x/menit
iii. Suhu : 39,4 0C (Axilla)

- Status Gizi
Anak laki-laki, usia 3 tahun
Berat Badan : 15 kg
Panjang Badan : 100 cm

Pemeriksaan status gizi ( Z-score )

WAZ = SD 0 - SD+2 (Gizi baik)


HAZ = SD 0 – SD+2 (perawakan normal)
WHZ = SD 0 – SD+1 (normal)

Kesan : berat badan cukup, perawakan tubuh normal, status gizi baik

- Status Internus
- Kepala : mesocephal , lingkar kepala 49 cm
- Kulit : Tidak sianosis, turgor normal, petechie (-)
- Mata : Pupil bulat, isokor, Ø 3mm/ 3mm, refleks cahaya (+/+)
normal, konjungtiva anemis (-/-)
- Hidung : Bentuk normal, sekret (-/-), nafas cuping hidung (-)
- Telinga : Bentuk normal, serumen (-/-), discharge (-/-), nyeri (-/-
)
- Mulut : sianosis (-), lidah kotor (-).
- Tenggorok: tonsil ukuran T0-T0, hiperemis (-)
- Leher : simetris, pembesaran kelenjar limfe (-).
- Thorax
1. Paru
 Inspeksi : Hemithoraks dextra et sinistra simetris
dalam keadaan statis maupun dinamis, retraksi
suprasternal, intercostal dan epigastrial (-).
 Palpasi : sterm fremitus dextra et sinistra simetris
 Perkusi : sonor di seluruh lapang paru

6
 Auskultasi : suara dasar : vesikuler suara tambahan
: ronki (-/-), wheezing (-/-)
2. Jantung
 Inspeksi : pulsasi Ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V, 2 cm medial
linea mid clavicula sinistra, tidak melebar, tidak kuat
angkat
 Perkusi batas jantung: Tidak dilakukan pemeriksaan
 Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-),
bising (-)
3. Abdomen :
 Inspeksi : datar
 Auskultasi : BU (+) normal
 Perkusi : timpani (+)
 Palpasi :supel, defense muscular (-), nyeri
tekan (-)
4. Genitalia : perempuan, tidak ada kelainan
- Ekstremitas :
Superior Inferior
Akral Dingin -/- -/-
Akral Sianosis -/- -/-
Petechie -/- -/-
Capillary Refill Time <2" <2"

- Status Neurologis :
Rangsang meningeal :
1. Kaku Kuduk : negatif
2. Brudzinsky I-IV
a. Neck Sign : negatif
b. Cheek Sign : negatif
c. Symphisis Sign : negatif
d. Leg Sign : negatif

7
3. Kernig Sign : negatif

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan hematologi, kimia klinik tanggal 29 Januari 2019
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal

Hematologi
- Hemoglobin 11,5 g/dL 11,5-13,5
- Hematokrit 34,5 % 34-40
- Jumlah Leukosit 13,6 10^3/uL 6-17
- Jumlah trombosit 260 10^3/uL 150-400
- MCH 29,3 pg 27,0-31,0
- MCHC 33,5 g/dl 33,0-37,0
- MCV 85,1 fl 79,0-99,0
Kimia Klinik
- Na 135 mmol/L 135-155
- K 3.8 mmol/L 3.6-5.5
- Ca 2,43 mmol/L 2.02-2.60
- Cl 105 mmol/L 75-108

5. RESUME
Seorang ibu datang bersama anaknya ke IGD RSUD Loemonohadi Kudus
tanggal 29 Januari 2019 pukul 11.30 dengan keluhan kejang 2x dirumah tadi
siang. Secara tidak sadar tiba-tiba lengan dan kakinya berkelojotan dan
matanya melirik-lirik keatas dengan durasi kejang masing-masing sekitar 5
menit, ketika dipanggil anak tidak menyahut dan setelah kejang anaknya
menangis. Pada saat kejang lidah tidak tergigit dan tidak mengeluarkan
busa. Awalnya sehari sebelum kejang, pasien mengalami demam yang
bersifat menetap disertai batuk pilek. Kemudian keesokan harinya
demamnya jadi naik dan disusul dengan pasien mengalami kejang, lalu
pasien langsung dibawa ke IGD RSUD Loekmonohadi Kudus. Ibu pasien
mengatakan sebelumnya anaknya tidak pernah mengalami demam dan
kejang seperti ini.

8
Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi 150 x/menit, pernapasan 28
x/menit, dan suhu 39,4 0C (Axilla). Pada pemeriksaan status internus anak
tampak sedikit lemas.
Pada pemeriksaan hematologi tidak ditemukan kelainan. Pada
pemerikaan kimia klinik juga tidak ditemukan kelainan.

6. DIAGNOSIS BANDING
1. Observasi kejang
- Cerebral
a. Akut sesaat
i. Infeksi
1. Ekstrakranial
a. Kejang Demam Simpleks
b. Kejang Demam Kompleks
2. Intrakranial
a. Meningitis
b. Ensefalitis
c. Mengioensefalitis
ii. Gangguan elektrolit
iii. Gangguan metabolik
iv. Gangguan kardiovaskular
v. Keracunan
b. Kronik Berulang
i. Epilepsi
- Non-cerebral
o Tetanus
2. Status Gizi
 Gizi Lebih
 Gizi Normal
 Gizi Buruk

7. DIAGNOSIS KERJA
1. Diagnosis utama : Kejang Demam Komplek
2. Diagnosis gizi : Gizi Normal

8. PENATALAKSANAAN
Non Medikametosa

9
• Diet: makan minum biasa seperti sebelum anak sakit
• Awasi Keadaan umum dan tanda tanda vital
• Observasi kejang

Medikametosa

• Diazepam per-rektal 10 mg (jika kejang lagi)


• Paracetamol syr 3 x 1Cth
• Inf RL 12 tpm
• Inj Cefotaxim 2x300 mg

Edukasi

• Memberitahukan pada keluarga pasien tentang penyakit kejang demam


• Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik
• Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
• Memberitahukan cara penanganan bila terjadi kejang kembali yaitu :
a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
d. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
e. Jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut meski lidah tergigit
f. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
g. Tetap bersama pasien selama kejang.
h. Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
9. FOLLOW UP
Tanggal SOAP
29/01/19 S: kejang tadi siang(+) demam (+), pilek (+)
O: composmentis Nadi: 150x/menit, Suhu: 39,4 0C
A: KDK
P: Inf RL 12 tpm

10
Diazepam supp 10 mg bila kejang
Paracetamol syr 3x1 cth
Cefotaxim 2x300 mg
30/01/19 S: kejang (-) demam (-), pilek (+)
O: composmentis Nadi: 120, Suhu: 36,4 0C
A: KDK
P: Inf RL 12 tpm
Diazepam supp 10 mg bila kejang
Paracetamol syr 3x1 cth
Cefotaxim 2x300 mg
31/01/19 S: kejang (-) demam (-), pilek (+)
O: composmentis Nadi: 110, Suhu: 36.3 0C
A: KDK
P: Inf RL 12 tpm
Diazepam supp 10 mg bila kejang
Paracetamol syr 3x1 cth
Cefotaxim 2x300 mg
01/02/19 S: kejang (-) demam (-)
O: composmentis Nadi: 100, Suhu: 37,0 0C
A: KDK
P: Paracetamol syr 3x1 cth

10. PROGNOSIS
Qua ad vitam = dubia ad bonam
Qua ad sanam = dubia ad bonam
Qua ad fungsional = dubia ad bonam

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KEJANG DEMAM
1. DEFINISI
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium.1
Kejang demam adalah kejang yang berhubungan dengan demam
(suhu diatas 39oC per rektal) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau
gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak berusia 1 bulan dan tidak ada
riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.2
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980), kejang
demam adalah suatu kejadian pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara
umur 6 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak
pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.3 Anak
yang pernah kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak
termasuk dalam kejang demam.1,3 Kejang demam harus dibedakan dengan
epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.2 Bila anak
berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun menaglami kejang
didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP atau
epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.2
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia 3 bulan
sampai dengan 5 tahun dan berhubungan dengan demam serta tidak
didapatkan adanya infeksi ataupun kelainan lain yang jelas di intrakranial.
Kejang demam dibagi menjadi dua kelompok yaitu kejang demam
sederhana Aan kejang demam kompleks.
Tabel perbedaan kejang demam simpleks dan kejang demam
kompleks :

12
2. EPIDEMIOLOGI
Kejadian kejang demam di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira
20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Umumnya kejang
demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan). Kejang
demam sedikit lebih sering pada laki-laki.3 Kejang demam terjadi pada
2-4% anak berumur 6 bulan samapi 5 tahun.1Menurut The American of
pediatrics (AAP) usia termuda bangkitan kejang demam 6 bulan .
Menurut IDAI, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai
5 tahun hampir 2 - 5%.2,10 Kejang demam merupakan salah satu kelainan
saraf tersering pada anak. Berkisar 2 % - 5 % anak di bawah 5 tahun
pernah mengalami bangkitan kejang demam. Lebih dari 90 % penderita
kejang demam terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun.

3. KLASIFIKASI
Kejang demam diklasifikasikan menjadi dua :
a. Kejang Demam Sederhana ( Simple Febrile Seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit
dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik
dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam
24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80 % diantara seluruh
kejang demam.
b. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)
Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini :
1.) Kejang lama > 15 menit
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15
menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara

13
bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada
8% kejang demam.

2.) Kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului
kejang parsial
3.) Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.5

4. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam.
Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau
saudara kandung, perkembangan terlambat, problem masa neonatus,
anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang
demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi
atau lebih dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih,
resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, usia dibawah 15 bulan,
cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang
rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam dan riwayat keluarga
epilepsi. 5,6
Faktor risiko terjadinya epilepsi dikemudian hari ialah adanya
gangguan neurodevelopmental, kejang demam kompleks, riwayat
epilepsi dalam keluarga,. 5,6

5. PATOFISIOLOGI
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan
kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan
meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa
yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu
singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui
membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh

14
sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang
disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung
dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang
pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang
rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan
ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 oC atau
lebih.

6. MANIFESTASI KLINIS

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan


bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang
disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis,

15
otitis media akut, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan kejang
biasanya terjadi dalam 24 - 48 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik – klonik, tonik,
klonik, fokal atau akinetik. Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot
menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan
klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau
rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau
tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas),
dan kulitnya kebiruan.1,9,10
Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak
tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit
kemudian anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf.
Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan
tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (>
15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen
dari otak.4

7. DIAGNOSIS
a. Anamnesis
1.) Adanya kejang , jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu
sebelum/saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab
demam diluar susunan saraf pusat.
2.) Riwayat perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi
dalam keluarga.
3.) Singkirkan penyebab kejang lainnya.
b. Pemeriksaan fisik : kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsal meningeal,
pemeriksaan nervus kranial, tanda peningkatan tekanan intrakranial,
tanda infeksi di luar SSP dan pemeriksaan neurologis.6
c. Pemeriksaan Penunjang
1.) Pemeriksaan laboratorium

16
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada
kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi
sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya
gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer,
elektrolit dan gula darah, urinalisis, dan feses rutin.
2. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan
atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya
meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Pada bayi kecil
seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis
meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena
itu pungsi lumbal dianjurkan pada ; bayi kurng dari 12 bulan
sangat dianjurkan dilakukan, bayi antara 12-18 bulan dianjurkan,
bayi > 19 bulan tidak rutin. Bila yakin bukan meningitis secara
klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. 5
3. Elektroensefalografi (EEG)
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat
memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan
kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih
dapat dilakukan pada keadaan kejang demam tidak khas misalnya
kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau
kejang demam fokal.5
4.) Pencitraan
Foto X- ray kepala dan pencitraan seperti computed
tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging
(MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas
indikasi seperti ; kelainan neurologik fokal yang menetap
(hemiparesis), paresis nervus VI, papil edema.5

8. DIAGNOSIS BANDING

17
Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan,
khususnya meningitis atau ensefalitis. Pungsi Lumbal teriondikasi bila
ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber infeksi seperti ototis
media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah
mendapatkan antibiotika maka perlu pertimbangan pungsi lumbal. 2

9. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan saat kejang
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu
pasien datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan
kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah
diazepam intravena adalah 0,3 -0,5 mg/kg perlahan –lahan dengan
kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis
maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang
tua atau dirumah adalah diazepam rektal. Diazepam rektal adalah
0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat
badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10
kg. Atau Diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah
usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun.5
Bila setelah pemberian Diazepam rektal kejang belum berhenti,
dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval
waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian Diazepam rektal masih
tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat
diberikan Diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila
kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena
dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1
mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti
dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah
dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien
harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang berhenti,
pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam

18
apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor
resikonya.5
b. Pemberian obat pada saat demam
1. Antipiretik
Dosis Paracetamol yang digunakan adalah 10-15
mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali.
Dosis Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.

2. Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 – 0,5 mg/kg setiap 8 jam
pada saat demam menurunkan resiko berulangnya kejang pada
30% -60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5
mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5oC.
Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia,
iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam.
c. Pemberian Obat Rumat
1. Indikasi Pemberian obat Rumat
Pengobatan rumat diberikan bila kejang demam
menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu) ;
- Kejang lama > 15 menit
- Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau
sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd,
cerebral palsy, retardasi mental, hidrocephalus.
- Kejang fokal
Pengobatan rumat dipertimbangkan bila ; kejang berulang dua
kali atau lebih dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi
kurang dari 12 bulan, kejang demam ≥ 4 kali per tahun.5

2. Jenis Antikonvulsan untuk Pengobatan Rumat

19
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari
efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang.
Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya
dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka
pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan
dalam jangka pendek. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat
menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-
50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada
sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2
tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati.
Dosis asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan
fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan
rumat diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian
dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.5

10. EDUKASI PADA ORANG TUA


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua.
Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya
telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang
diantaranya :

a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai


prognosis baik
b. Memberitahukan cara penanganan kejang
c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi
harus diingat adanya efek samping obat.4,5
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang
a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun

20
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam
mulut.
a. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
b. Tetap bersama pasien selama kejang.
c. Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah
berhenti.
d. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit
atau lebih .5

11. PROGNOSIS
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan.8 Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap
normal pada pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara
retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus,
dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau
kejang berulang baik umum atau fokal. Kematian karena kejang demam
tidak pernah dilaporkan.5,9

BAGAN PENGHENTIAN KEJANG DEMAM

21
KEJANG
1. Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB atau

BB < 10 kg = 5 mg, BB > 10 kg = 10 mg

2. Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB

KEJANG

Diazepam rektal
( 5menit )

Di Rumah Sakit

KEJANG

Diazepam IV, Kecepatan 0,3-0,5 mg/kg (3-5 menit)

KEJANG

Fenitoin bolus IV 10-20 mg/kgBB

KEJANG

Transfer ke Ruang Rawat Intensif

KETERANGAN :
1. Bila kejang berhenti terapi profilaksis intermitten atau rumatan diberikan
berdasarkan kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.
2. Pemberian fenitoin bolus sebaiknya secara drip intravena dicampur dengan
cairan NaCl fisiologis, untuk mengurangi efek samping aritmia dan hipotensi.6

22
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

1. Arif Mansjoer., d.k.k,. 2000. Kejang Demam di Kapita Selekta Kedokteran.


Media Aesculapius FKUI. Jakarta.
2. Behrem RE, Kliegman RM,. 1992. Nelson Texbook of Pediatrics. WB
Sauders.Philadelpia.
3. Hardiono D. Pusponegoro, DwiPutro Widodo danSofwan Ismail. 2006.
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. BadanPenerbit IDAI. Jakarta
4. Hardiono D. Pusponegoro, dkk,.2005. KejangDemam di Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak.Badan penerbit IDAI. Jakarta
5. Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. Kejang Demam di Ilmu Kesehatan Anak 2.
FKUI. Jakarta.

23