Anda di halaman 1dari 53

Kebijakan Kelautan Indonesia 1

Kebijakan Kelautan Indonesia 2


Kebijakan Kelautan Indonesia 3
DAFTAR ISI
BAB 1 Pendahuluan ...................................................................................................... 6
BAB 2 Kebijakan Kelautan Indonesia:
Wilayah Kedaulatan dan Hak Berdaulat,
Ekstensi Hak Berdaulat dan Hak Lain di Luar Wilayah Yurisdiksi ............ 12
BAB 3 Tantangan Pembangunan Kelautan Indonesia ............................................ 18
BAB 4 Tujuan Kebijakan Kelautan Indonesia .......................................................... 24
BAB 5 Prinsip-Prinsip Kebijakan Kelautan Indonesia ............................................ 26
5. 1 Wawasan Nusantara ......................................................................................... 26
5. 2 Pembangunan Berkelanjutan ............................................................................ 27
5. 3 Ekonomi Biru ..................................................................................................... 27
5. 4 Pengelolaan Terintegrasi dan Transparan ....................................................... 28
5. 5 Partisipasi .......................................................................................................... 28
5. 6 Kesetaraan dan Pemerataan ............................................................................ 28
BAB 6 Pilar-Pilar Strategi Kebijakan Kelautan Indonesia....................................... 30
6. 1 Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia ........................................................... 30
6.1.1. Pengelolaan Sumber Daya Kelautan ...................................................... 30
6.1.2. Pengembangan Sumber Daya Manusia ................................................. 32
6. 2 Pertahanan, Keamanan, Penegakan Hukum dan Keselamatan di Laut .......... 34
6. 3 Tata Kelola dan Kelembagaan .......................................................................... 36
6. 4 Ekonomi dan Infrastruktur Kelautan dan Peningkatan Kesejahteraan ............. 37
6.4.1. Ekonomi Kelautan ................................................................................... 37
6.4.2. Infrastruktur Kelautan .............................................................................. 38
6.4.3. Peningkatan Kesejahteraan .................................................................... 40
6. 5 Pengelolaan Ruang Laut dan Pelindungan Lingkungan Laut ........................ 42
6.5.1. Pengelolaan Ruang Laut ........................................................................ 42
6.5.2. Pelindungan Lingkungan Laut ................................................................ 44
6. 6 Budaya Bahari ................................................................................................... 45
6. 7 Diplomasi Maritim .............................................................................................. 47
BAB 7 Kaidah Pelaksanaan ....................................................................................... 50
7. 1 Kerangka Pendanaan ....................................................................................... 50
7. 2 Kerangka Regulasi ............................................................................................ 51
7. 3 Kerangka Kelembagaan.................................................................................... 51
7. 4 Kerangka Pemantauan (Monitoring), Evaluasi dan Ulasan (Review) .............. 52

Kebijakan Kelautan Indonesia 4


Kebijakan Kelautan Indonesia 5
BAB 1
PENDAHULUAN

S
oempah Pemoeda 28 Oktober 1928 yang menyatakan tumpah darah
yang satu, yaitu tanah air Indonesia menunjukkan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang sadar akan jati dirinya sebagai bangsa
daratan dan lautan, bangsa petani dan pelaut, serta bangsa penakluk gunung
dan samudera. Para pendiri bangsa menyadari sepenuhnya bahwa perairan,
selat, dan lautan di antara pulau-pulau nusantara adalah satu kesatuan yang
utuh. Perairan, selat, dan lautan adalah pemersatu dan bukan pemisah
puluhan ribu pulau-pulau Indonesia, dari Pulau Rondo hingga Merauke, dari
Pulau Miangas hingga Pulau Deli, dari Pulau Sekatung hingga Pulau Ndana.

Dengan wilayah air yang jauh lebih luas daripada daratan, serta posisi silang
yang strategis, sudah sewajarnya apabila terdapat suatu keperluan
fundamental untuk menguasai dan memanfaatkan laut, memiliki identitas dan
budaya maritim yang kuat serta memanfaatkan posisi strategis untuk
kemaslahatan bangsa dan juga menciptakan keamanan di kawasan sesuai
dengan amanat konstitusional untuk “melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Kekuatan Sriwijaya yang menguasai Selat Malaka dan menjalin hubungan


setara dengan Chola Nalanda dari India dan Dinasti Tang dari China serta
kemenangan Sultan Fatahilah mengusir Portugis di Teluk Sunda Kelapa
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga memiliki budaya strategi maritim
yang kuat.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, kesatuan


tanah air Indonesia menjadi semakin erat setelah Indonesia, dengan diplomasi

Kebijakan Kelautan Indonesia 6


ulung dan tanpa menembakkan satu butir peluru pun berhasil mengubah laut
bebas yang memisahkan pulau-pulau menjadi perairan yang berada di dalam
kedaulatan Indonesia yang pelaksanaan hak-hak dan kewajibannya dijamin
oleh hukum internasional, yaitu Konvensi Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982).
Setelah melalui proses penolakan terhadap Deklarasi Djuanda pada tanggal
13 Desember 1957 dan perundingan multilateral yang alot selama lebih dari
satu dekade, masyarakat internasional akhirnya mengakui keinginan kuat
Indonesia untuk mewujudkan kesatuan tanah air dan melakukan inovasi
hukum yang dilakukannya melalui proklamasi unilateral kepulauan menjadi
suatu prinsip hukum internasional.

Indonesia adalah satu-satunya negara yang mampu memperluas wilayah


kedaulatan dan hak berdaulatnya menjadi suatu ruang darat, laut, dan udara
serta negara kepulauan yang terbesar di dunia tanpa ekspedisi atau ekspansi
militer. Jaminan hukum internasional ini telah memperkuat cara pandang
mendasar bangsa Indonesia, wawasan nusantara, dengan tidak hanya
melalui faktor-faktor kondisi diri dan lingkungannya sebagai bangsa yang
merdeka, tetapi juga dengan keutuhan wilayah tanah air yang berbentuk
kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan” 1. Dengan modal ini, Indonesia dapat
merencanakan strategi pembangunan nasionalnya secara utuh dan
menyeluruh.

Pengakuan negara kepulauan sebagai suatu prinsip hukum internasional telah


menambah nilai strategis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena
masyarakat internasional harus berlayar melalui wilayah kedaulatan dan hak
berdaulat Indonesia untuk keperluan navigasi, komunikasi, peletakan kabel

1
Dalam dokumen resmi Lembaga Tinggi Negara pada waktu itu, terdapat perbedaan definisi Wawasan Nusantara
antara Tap MPR RI Nomor : IV/MPR/1973 dengan Tap MPR RI: II/MPR/1993 dimana faktor kesatuan wilayah dan
tanah air sebagai suatu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan tidak disebutkan sebagai
suatu cara pandang bangsa Indonesia. Hal ini baru dicantumkan pada tahun 1993.

Kebijakan Kelautan Indonesia 7


serat optik, pipa gas, dan perdagangan berbagai barang komoditas dan
manufaktur serta ekspor energi dan jasa.

LALU LINTAS NAVIGASI DUNIA DAN ASIA TENGGARA

Posisi strategis Indonesia tidak hanya dilihat dari posisi di persilangan antara
dua benua, Asia dan Australia serta dua samudera, Samudera Pasifik dan
Samudera Hindia, tetapi juga di antara Laut China Selatan dan Laut Asia
Timur dengan Samudra Hindia, antara individualisme liberal di selatan dengan
komunisme di utara, antara penghasil komoditas di selatan dengan pengguna
komoditas di utara, antara penghasil energi di selatan dengan pengguna
energi di utara, antara middle power di selatan dengan global power di utara,
antara non-nuclear power di selatan dengan nuclear power di utara, dan
antara anggota tetap Dewan Keamanan PBB di Utara dan bukan anggota
Dewan Keamanan PBB di selatan. Indonesia kini berada dalam lingkaran

Kebijakan Kelautan Indonesia 8


perebutan pengaruh antara kekuatan dominan pasca-Perang Dunia II dengan
kekuatan lama yang bangkit kembali.

Posisi strategis Indonesia, beserta faktor geografis dan kondisi sosial


ekonominya, juga menempatkan Indonesia dalam posisi penting di lingkungan
global, yaitu dalam mempengaruhi kestabilan politik, ekonomi, serta
keamanan lingkungan regional dan internasional.

Alam Indonesia sendiri memiliki nilai strategis bagi planet bumi. Indonesia
memiliki hutan tropis kedua terbesar di dunia, 20% terumbu karang di dunia,
20% hutan bakau dunia, 3 juta hektar padang lamun, serta dalam pertemuan
arus Samudera Hindia dan Samudera Pasifik yang menyebabkan sumber
makanan bagi kehidupan laut. Tidak hanya hutan tropis, hutan bakau dan
padang lamun juga mampu menyerap emisi gas rumah kaca. Kemampuan ini
harus diperhitungkan dalam menghitung emisi dan serapan emisi Indonesia
sebagai bagian dari solusi masalah pemanasan bumi dan perubahan cuaca
dunia.

Dengan sejarah budaya maritim yang panjang, tetapi juga lama terlupakan
serta berbagai perkembangan lingkungan strategis, baik yang disebabkan
oleh alam maupun kegiatan negara ataupun kegiatan non-negara, serta
keinginan kuat Indonesia untuk tetap memainkan peran kepemimpinan
regional dan global di dalam bidang kelautan serta menjadi Poros Maritim
Dunia, dirasakan suatu urgensi nasional untuk memiliki suatu Kebijakan
Kelautan Indonesia atau Indonesian Ocean Policy.

Urgensi ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun


2014 tentang Kelautan yang mengamanatkan pembentukan Kebijakan
Pembangunan Kelautan. Kebijakan Kelautan Indonesia ini akan menjadi suatu
pedoman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota serta
masyarakat madani dalam menyusun berbagai kegiatan dan program di
bidang kelautan.

Kebijakan Kelautan Indonesia 9


Terminologi “kelautan”, bukan kemaritiman atau samudera, dipergunakan
dengan memperhatikan satu dokumen global yang mengatur berbagai aspek
kelautan dan kemaritiman secara komprehensif, yaitu Konvensi Hukum Laut
1982, konstitusi kelautan dunia, yang mencakup semua aspek pengaturan
laut.

Kebijakan Kelautan Indonesia 10


Kebijakan Kelautan Indonesia 11
BAB 2
Kebijakan Kelautan Indonesia:
Wilayah Kedaulatan dan Hak Berdaulat, Ekstensi Hak Berdaulat
dan Hak Lain di Luar Wilayah Yurisdiksi

N
egara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sebuah negara
kepulauan yang bercirikan nusantara, mempunyai kedaulatan
mutlak atas wilayah serta memiliki hak-hak berdaulat di luar wilayah
kedaulatannya dan kewenangan tertentu lainnya untuk dikelola dan
dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Indonesia.

Sebagai negara pihak dari UNCLOS 1982, Indonesia memiliki kedaulatan


penuh terhadap wilayah perairan yang terdiri atas laut teritorial, perairan
kepulauan, dan perairan pedalaman. Di samping itu, kedaulatan Indonesia
juga mencakup dasar laut, dan seisinya, serta ruang udara di atas dari wilayah
perairan tersebut, bahkan sampai seluruh sumber kekayaan yang terkandung
di dalamnya.

Hak yang dijamin UNCLOS 1982 juga diimbangi dengan kewajiban


Pemerintah Indonesia untuk mengelolanya dengan baik dan
berkesinambungan yang bertujuan semata untuk kesejahteraan rakyat
Indonesia dan kepentingan nasional lainnya.

Selain memiliki kedaulatan atas wilayah perairan, dasar laut dan seisinya,
serta ruang udara sebagaimana tersebut di atas, Indonesia juga memiliki hak
berdaulat dan kewenangan tertentu lainnya di wilayah yurisdiksi. Wilayah
yurisdiksi Indonesia adalah wilayah di luar laut teritorial yang terdiri atas Zona
Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen. Laut
teritorial Indonesia adalah selebar 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal
kepulauan Indonesia. Dalam hal zona-zona maritim tersebut berbatasan
dengan negara tetangga, batas terluarnya ditetapkan melalui kesepakatan

Kebijakan Kelautan Indonesia 12


dengan negara tetangga terkait, sesuai dengan hukum internasional,
khususnya UNCLOS 1982.

Di wilayah yurisdiksi, Indonesia memiliki kewenangan tertentu sesuai dengan


zona maritimnya. Di zona tambahan, Indonesia memiliki kewenangan untuk
melakukan penegakan hukum di bidang kepabeanan, perpajakan (fiskal),
imigrasi, karantina dan kesehatan (sanitasi). Di Zona Ekonomi Eksklusif,
Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan sumber daya
kolom air. Sementara itu, di landas kontinen, Indonesia memiliki kewenangan
untuk mengatur dan mengelola dasar laut, tanah, dan kekayaan di bawahnya.
Indonesia juga memiliki hak berdaulat di landas kontinen di luar 200 mil laut
hingga maksimal 350 mil laut apabila Indonesia dapat membuktikan secara

Kebijakan Kelautan Indonesia 13


ilmiah, seperti halnya pengakuan PBB atas submisi ekstensi landas kontinen
seluas Pulau Madura di barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Berbagai zona maritim Indonesia ditetapkan sesuai dengan ketentuan hukum


laut internasional. Laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan
landas kontinen Indonesia, jika tidak berbatasan dengan negara tetangga,
Indonesia menetapkannya secara unilateral sesuai dengan ketentuan yang
ada. Dalam hal berbatasan dengan negara tetangga, akan ditetapkan dengan
negara tetangga sesuai dengan hukum laut internasional. Sementara itu,
untuk segmen-segmen batas yang belum selesai dirundingkan penetapannya
dengan negara tetangga, batasnya digambarkan sesuai dengan kepentingan
Indonesia dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip dasar hukum laut,
antara lain yang terkait dengan penetapan garis pangkal.

Pelaksanaan dari kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia di berbagai zona


maritim tersebut harus sejalan dengan hukum internasional, ketentuan
peraturan perundang-undangan dan juga kepentingan-kepentingan strategis
Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan usaha menjamin keutuhan
wilayah negara, menjaga kedaulatan negara, dan kepentingan kesejahteraan
segenap bangsa. Selain itu, aspek geostrategis dan geopolitik, baik kawasan
regional maupun internasional tentunya juga harus menjadi salah satu elemen
pertimbangan di dalam melaksanakan berbagai hal yang menjadi bagian dari
penegakan kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia di perairannya.

Selain kedaulatan dan hak berdaulat yang dimiliki oleh Indonesia di zona-zona
maritim tersebut, Indonesia tentunya juga memiliki kepentingan-kepentingan
tertentu di luar wilayah yurisdiksi nasional dan laut bebas (high seas) serta
dasar laut di perairan internasional untuk kepentingan nasional dan juga
kepentingan umat manusia bersama. Pengelolaan perairan Indonesia tidak
boleh melupakan potensi peran besar Indonesia untuk ikut serta mengelola
laut bebas dan dasar samudera dalam. Berbagai negara, bahkan negara-
negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, telah berlomba untuk ikut serta
mengelola dasar laut di perairan internasional. Potensi sumber daya alam

Kebijakan Kelautan Indonesia 14


yang besar di dasar laut perairan internasional tentunya dapat menjadi salah
satu alternatif sumber untuk memenuhi kebutuhan Indonesia akan energi dan
mineral.

Dalam rangka kewajiban hukum dan memenuhi kewajiban hukum UNCLOS


1982, Indonesia telah menyampaikan ke Sekretariat Jenderal Perserikatan
Bangsa-Bangsa mengenai titik-titik dasar, garis pangkal, dan batas-batas
maritim dengan berbagai negara tetangga. Proses teknis lain seperti verifikasi
jumlah pulau dan panjang pantai merupakan suatu proses yang berjalan terus
mengingat kondisi alam laut dan dasar laut yang terus berubah dengan cepat
hingga saat ini. Jumlah pulau yang hilang karena abrasi atau yang muncul
pasca-tsunami perlu terus diverifikasi. Data-data dimaksud diverifikasi oleh
berbagai kementerian/lembaga yang ada, serta melalui Tim Nasional
Pembakuan Nama Rupabumi yang dibentuk oleh Presiden RI melalui
Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan
Nama Rupabumi.

Langkah verifikasi ini penting untuk mengetahui berbagai fakta geografis


kekayaan alam Indonesia. Hal ini tidak terkait dengan persepsi bahwa

Kebijakan Kelautan Indonesia 15


masalah kepemilikan pulau-pulau terancam atau hilang karena jumlah pulau
yang belum dihitung atau tidak bernama. Kedaulatan Indonesia atas pulau-
pulau Indonesia yang terletak di dalam garis pangkal negara kepulauan yang
ditarik dari titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar tidak perlu diragukan lagi
karena tidak pernah ditentang negara manapun juga sejak diproklamasikan
Deklarasi Djuanda 1957 dan UU 4 PRP 60 tentang perairan Indonesia.
Keberatan negara-negara adalah terhadap cara penarikan garis pangkal dan
penguasaan Indonesia atas perairan di belakang garis pangkal bukan
kedaulatan atas pulau-pulau.

Perlu ditegaskan bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan tidak tercantum
dalam UU 4 PRP 1960 dan sengketa kepemilikannya baru muncul pada tahun

Kebijakan Kelautan Indonesia 16


1969, 24 tahun setelah Indonesia merdeka dan 10 tahun setelah Deklarasi
Djuanda 1957. Sabah dan pulau-pulau kecilnya baru menjadi bagian Malaysia
pada tahun 1963, enam tahun sebelum sengketa Sipadan Ligitan muncul,
merupakan British North Borneo. International Court of Justice (ICJ)
menetapkan tahun 1969 sebagai “critical date” semua kegiatan Indonesia dan
Malaysia setelah 1969 dinilai tidak memiliki dampak hukum terhadap status
Sipadan Ligitan. ICJ memenangkan Malaysia bukan karena pembangunan
resort, hotel, kegiatan wisata atau klaim sejarah, tetapi karena kolonial Inggris
telah membuat perundang-undangan tentang Sipadan dan Ligitan pada tahun
1903, 42 tahun sebelum Indonesia merdeka dan Belanda sama sekali tidak
pernah mempermasalahkannya. Sipadan - Ligitan adalah pelajaran berharga
tentang perlunya pemahaman akan hukum publik internasional tentang
kewilayahan.

Kebijakan Kelautan Indonesia 17


BAB 3
Tantangan
Pembangunan Kelautan Indonesia

K
eutuhan tanah air kepulauan Indonesia sebagai suatu kesatuan
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan
membawa berkah dan sekaligus berbagai tantangan bagi bangsa
Indonesia. Puluhan ribu pulau yang membentang dari Asia Selatan, Asia
Tenggara hingga Pasifik Barat dan menjangkau tiga zona waktu memberikan
Indonesia ruang wilayah darat, laut, dan udara yang sangat masif dengan
kedaulatan dan hak berdaulat di berbagai zona maritim dan udara yang sangat
luas. Pada saat yang sama, Indonesia adalah negara “ring of fire” dengan
lebih dari 150 gunung berapi, bahkan gunung berapi di dalam laut. Wilayah
yang sangat luas ini juga dihuni oleh lebih dari 500 kelompok etnis dengan
bahasa serta agama dan kepercayaan yang berbeda, yang tinggal di
pegunungan, perbukitan, dataran rendah, dan pesisir, serta memiliki tingkat
keragaman hayati yang sangat tinggi.

Kebijakan Kelautan Indonesia 18


Kondisi geografis dan demografis Indonesia membawa konsekuensi
munculnya berbagai tantangan nyata bagi Indonesia, baik umum maupun
yang khusus di bidang maritim, yang harus dikelola secara komprehensif, yaitu
sebagai berikut.

1. Meneguhkan identitas atau jati diri bangsa yang menyatakan


bertanah air satu, Indonesia. Tidak mudah menyatakan kepada
masyarakat pegunungan bahwa mereka adalah bangsa pelaut atau
sebaliknya. Perlu dilakukan upaya-upaya inovatif dan konsisten guna
meneguhkan kembali jati diri bangsa sebagai bangsa penakluk
samudera.

2. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan posisi geostrategis yang


memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan lima wilayah
choke points (Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, Selat
Lombok, dan Selat Ombai-Wetar) yang juga harus menghormati
kebebasan berlayar memerlukan dukungan sistem pertahanan dan
keamanan yang kuat. Berbagai bentuk dan sifat ancaman dapat terjadi
di laut, seperti berbagai jalur pelayaran yang dapat dilalui kapal selam
nuklir asing, rawan terhadap tindakan kekerasan bersenjata di laut,
penyelundupan senjata, perbudakan di laut, penyelundupan manusia,
perdagangan manusia, perusakan sumber daya kelautan, pencurian
underwater cultural heritage, dan pencurian kekayaan laut. Oleh karena
itu doktrin pertahanan dan keamanan ”Minimum Essential Force” harus
dikembangkan, sehingga diperlukan suatu doktrin dan postur pertahanan
dan keamanan yang sesuai dengan luas wilayah kedaulatan dan hak
berdaulat Indonesia.

3. Peningkatan pengawasan dan tantangan pengamanan tradisional


dan non-tradisional di pulau-pulau kecil, terluar, dan terisolasi,
terutama pulau-pulau yang bertetangga dengan daerah konflik di luar
wilayah Indonesia. Aspek pengawasan dan pengamanan ini tidak hanya

Kebijakan Kelautan Indonesia 19


terkait dengan pengamanan di dalam pulau-pulau tersebut, tetapi juga
pengawasan dan pengamanan perairan dari berbagai kegiatan ilegal
yang ada di sekitar pulau-pulau tersebut.

Pengembangan keamanan maritim harus dilakukan secara integratif


dengan memperkuat dan membangun sistem nasional untuk kapabilitas
pengawasan maritim yang komprehensif yang mampu mengawasi dan
menindaklanjuti secara seketika dinamika maritim, termasuk ancaman
pada seluruh wilayah kedaulatan dan yurisdiksi laut nasional.

4. Membangun konektivitas maritim untuk menghilangkan


kesenjangan sosial dan ekonomi serta untuk menjalankan berbagai
kepentingan nasional yang strategis seperti pemerintahan, keamanan,
perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan komunikasi. Konektivitas
yang baik antar-wilayah di Indonesia akan mampu memperlancar
pergerakan orang, barang, jasa, dan modal. Kesenjangan kesejahteraan
yang terjadi karena rendahnya komunikasi antarpulau dapat
menciptakan ketegangan di berbagai kawasan Indonesia dan
menghalangi terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Konektivitas menjadi tulang punggung pembangunan Indonesia-sentris,
dan tidak Jawa-sentris.

5. Rentang wilayah yang sangat luas juga menuntut Indonesia untuk


menyelesaikan batas maritim laut teritorial, ZEE, dan landas kontinen
guna mendapatkan kepastian hukum wilayah kedaulatan dan hak
berdaulat Indonesia selain penetapan perbatasan dalam konteks
kepastian dan jaminan hukum internasional atas ruang maritim yang
menjadi hak Indonesia.

6. Pengembangan wilayah dan peningkatan aktivitas ekonomi


memerlukan tata ruang laut yang komprehensif. Sebagai sebuah
negara kepulauan, keterpaduan antara wilayah darat dan laut serta

Kebijakan Kelautan Indonesia 20


udara di atasnya menjadi sangat penting. Di ruang laut, dimungkinkan
adanya lebih dari satu pemanfaatan dalam suatu ruang yang sama
sehingga kondisi ini menuntut adanya penataan ruang laut yang tertata
baik dan komprehensif sehingga laut dapat menjadi sumber kekayaan
bangsa yang dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.

7. Sumber daya alam hayati di laut kita seperti perikanan perlu dijaga
dengan baik dari praktik-praktik perikanan yang tidak lestari seperti
Illegal Unreported and Unregulated Fishing (IUUF) yang dilakukan asing
ataupun domestik. Kekayaan laut di bidang perikanan ini perlu
dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa, termasuk nelayan Indonesia
melalui kebijakan di bidang perikanan tangkap dan budidaya yang
berkesinambungan, memberikan akses dana dan modal kepada nelayan
Indonesia serta tidak memberikan izin penangkapan ikan kepada
investasi asing

8. Hasil tambang energi dan mineral dasar laut, memiliki nilai ekonomi yang
sangat tinggi bagi kemajuan dan kesejahteraan Indonesia. Oleh karena
itu, Indonesia harus terus menyediakan data, baik secara tekstual
maupun geospasial dalam bentuk peta geologi, oseanografi, hidrografi
dan keanekaragaman hayati, serta tentang kandungan isi kekayaan
tanah air dalam perairan Indonesia, terlebih lagi yang berada di laut
dalam Indonesia.

9. Indonesia juga menghadapi tantangan untuk menambah luas


yurisdiksi landas kontinen di luar 200 NM dan mampu melakukan
eksplorasi di wilayah “the Area” yang berada di luar perairan
internasional.

10. Ekonomi maritim Indonesia tidak hanya dari kekayaan sumber daya alam
hayati dan non-hayati, tetapi juga harus mengembangkan di bidang
jasa logistik pelabuhan kapal niaga dan kapal pesiar, wisata bahari,

Kebijakan Kelautan Indonesia 21


serta galangan kapal modern dan tradisional yang mencerminkan
tradisi bahari, ahli navigasi, pelaut, dan awak kapal. Pengembangan
sektor jasa ini memerlukan upaya tersendiri, baik dari sisi teknologi,
kapasitas sumber daya manusia maupun akses pendanaannya. Laut
harus dimanfaatkan secara komprehensif, dengan tetap memperhatikan
prinsip pelindungan lingkungan hidup.

11. Kegiatan jasa kemaritiman dan eksploitasi sumber daya alam hayati dan
non-hayati juga dapat membawa dampak pencemaran lingkungan
hidup dan juga perusakan keanekaragaman hayati yang berdampak
negatif secara langsung dalam jangka pendek dan jangka panjang. Luas
laut Indonesia juga membawa konsekuensi polusi dari wilayah negara
lain, baik polusi darat, polusi kapal maupun anjungan eksploitasi sumber
daya alam.

12. Untuk menilai secara objektif besaran ekonomi maritim Indonesia secara
menyeluruh dan juga kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB),
terdapat keperluan untuk melakukan suatu penghitungan ekonomi
maritim pada tingkat nasional. Hasilnya untuk menyusun kebijakan
kelautan setiap tahunnya agar tepat sasaran.

13. Gerakan desentralisasi yang berawal dari era reformasi yang


memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah Provinsi untuk
mengelola sumber daya maritim dan pulau-pulau kecil dan terluar dalam
radius 12 Mil Laut dan adanya hak dari kabupaten dan kota untuk
mendapatkan bagi hasil laut dalam wilayah 4 Mil Laut dan juga pelibatan
secara terukur pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengawasan
wilayah maritim. Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dalam
desain hubungan pemerintah pusat dan daerah dan pemerintah dengan
masyarakat dalam kaitannya dengan rancang bangun kelembagaan
pusat dan daerah.

Kebijakan Kelautan Indonesia 22


14. Perkembangan lingkungan strategis Indonesia telah mengalami
perubahan pesat yang tidak pernah terbayangkan satu dekade yang lalu.
Kondisi geopolitik dan geostrategik di Asia Timur dan Asia Tenggara
diwarnai oleh sejumlah ketegangan yang dapat berkembang menjadi
sumber konflik baru yang akan mengganggu ketahanan regional.
Indonesia harus mampu menunjukkan kepemimpinan /
(leadership) dalam bidang kelautan regional dan global, meningkatkan
kerja sama bilateral dengan negara-negara strategis, serta peran
kepemimpinan dalam menciptakan suatu arsitektur keamanan di Asia.
Politik luar negeri bebas aktif harus mewakili dimensi maritim yang kuat
yang tercermin dalam suatu sumber daya diplomasi yang memadai.

15. Kemampuan nasional dalam penguasaan dan pemanfaatan ilmu


pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kelautan mulai dari penyiapan
SDM melalui pendidikan tinggi hingga peningkatan kapasitas riset dan
pengembangan. Perwujudannya melalui penyediaan beasiswa, alokasi
dana riset, dan pengembangan kemaritiman hingga sarana-prasarana
riset kemaritiman termasuk dukungan survei data kelautan secara
terencana.

Kebijakan Kelautan Indonesia 23


BAB 4
Tujuan
Kebijakan Kelautan Indonesia

K
ebijakan Kelautan Indonesia bersandar kepada Visi Pembangunan
Indonesia yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
2005 – 2025, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan serta
doktrin poros maritim dunia. Visi Kebijakan Kelautan Indonesia adalah
mewujudkan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, yaitu menjadi sebuah
negara maritim yang maju, mandiri, kuat, serta mampu memberikan kontribusi
positif bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai dengan
kepentingan nasional.

Untuk mewujudkan VISI Kelautan Indonesia, perlu disusun sejumlah sasaran


yang merupakan misi Kebijakan Kelautan Indonesia sebagai berikut :
1. terkelolanya sumber daya kelautan secara optimal dan berkelanjutan;
2. terbangunnya kualitas sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan

Kebijakan Kelautan Indonesia 24


dan teknologi kelautan yang andal;
3. terbangunnya pertahanan dan keamanan kelautan yang tangguh;
4. terlaksananya penegakan kedaulatan, hukum dan keselamatan di laut;
5. terlaksananya tata kelola kelautan yang baik;
6. terwujudnya kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil
yang merata;
7. terwujudnya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan industri kelautan
yang berdaya saing;
8. terbangunnya infrastruktur kelautan yang andal;
9. terselesaikannya dokumen tata ruang laut;
10. terlaksananya pelindungan lingkungan laut;
11. terlaksananya diplomasi maritim; dan
12. terbentuknya wawasan bahari serta identitas dan budaya bahari.

Untuk mewujudkan visi serta melaksanakan misi yang telah dicanangkan,


dalam dokumen ini juga dijabarkan kebijakan umum dan strategi yang dapat
menjadi acuan perencanaan pembangunan sektor kelautan di berbagai
bidang oleh kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, serta rujukan berbagai aktivitas oleh pelaku usaha kecil,
menengah, besar, akademisi, LSM, dan masyarakat luas.

Kebijakan Kelautan Indonesia 25


BAB 5
Prinsip-Prinsip
Kebijakan Kelautan Indonesia

D
alam mewujudkan visi dan misi pembangunan kelautan Indonesia,
tetap harus berpegang teguh pada kepentingan nasional, serta
keadilan dan manfaat sebesar-besarnya untuk bangsa dan rakyat
Indonesia. Selain itu, untuk melaksanakan kebijakan kelautan nasional juga
harus merujuk pada enam prinsip dasar, yaitu (1) wawasan nusantara; (2)
pembangunan berkelanjutan; (3) ekonomi biru; (4) pengelolaan terintegrasi
dan transparan; (5) partisipasi; dan (6) kesetaraan dan pemerataan.

5. 1 Wawasan Nusantara

Menurut TAP MPR No. II/1993, Wawasan Nusantara adalah dasar dalam
penyelenggaraan pembangunan nasional untuk mencapai tujuan
pembangunan nasional. Wawasan Nusantara merupakan wawasan nasional
yang bersumber pada Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar
1945, adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan
lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta

Kebijakan Kelautan Indonesia 26


kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Wawasan Nusantara mencakup perwujudan
kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi,
satu kesatuan sosial dan budaya, serta satu kesatuan pertahanan dan
keamanan.

5. 2 Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan dalam berbagai kegiatan ekonomi yang dijalankan harus dapat


memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kebutuhan generasi
yang akan datang. Asas pembangunan berkelanjutan ditetapkan agar (1)
pemanfaatan sumber daya tidak melebihi kemampuan regenasi sumber daya
hayati/pulih (renewable) atau laju inovasi substitusi sumber daya non-hayati
/tidak pulih (nonrenewable) serta pemanfaatan sumber daya non-hayati tidak
menghancurkan kelestarian sumber daya hayati; (2) pemanfaatan sumber
daya saat ini tidak boleh mengorbankan (kualitas dan kuantitas) kebutuhan
generasi yang akan datang atas sumber daya; dan (3) pemanfaatan sumber
daya yang belum diketahui dampaknya harus dilakukan secara hati-hati dan
didukung oleh penelitian ilmiah yang terpercaya.

5. 3 Ekonomi Biru

Sesuai dengan amanat Undang-Undang No.32 tahun 2014 tentang Kelautan,


pada Pasal 14 tercantum bahwa pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya melakukan pengelolaan kelautan untuk sebesar-
sebesarnya kemakmuran rakyat melalui pemanfaatan dan pengusahaan
sumber daya kelautan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy). Ekonomi
Biru merupakan model pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan
pembangunan darat dan laut dengan memperhitungkan daya dukung sumber
daya dan lingkungannya karena pada prinsipnya potensi darat dan laut harus
disinergikan sehingga menjadi kekuatan Indonesia.

Kebijakan Kelautan Indonesia 27


5. 4 Pengelolaan Terintegrasi dan Transparan

Pengelolaan terintegrasi dilaksanakan secara multidisiplin, antarwilayah,


antar-aktor (stakeholders), dan lintas sektor. Terintegrasi berarti
menempatkan semua aspek pengelolaan ke dalam satu sistem dan tidak
sebagai komponen yang terpisah. Sistem pengelolaan bersifat integral dan
harus ada keterkaitan antara satu aspek dengan aspek lainnya sehingga tidak
terdapat tumpang-tindih kewenangan yang tidak perlu. Proses ini juga perlu
dilakukan sesuai dengan prinsip transparansi yang berarti menggunakan
peraturan dan perundang-undangan yang jelas, terbuka dalam penyusunan
dan penerapannya, dan terdapat informasi yang cukup dan mudah dimengerti
oleh berbagai pemangku kepentingan.

5. 5 Partisipasi

Prinsip partisipasi memiliki arti penting karena memiliki maksud (1) agar
seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) mempunyai peran dalam
perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan tahap pengawasan dan
pengendalian, sesuai dengan peran masing-masing; (2) memiliki informasi
yang terbuka untuk mengetahui kebijakan pemerintah dan mempunyai akses
yang cukup untuk memanfaatkan sumber daya; (3) menjamin adanya
representasi stakeholders dalam pengambilan keputusan dan sebagai aktor
untuk identifikasi dan evaluasi atas ancaman dan peluang-peluang; dan (4)
memanfaatkan sumber daya secara adil.

5. 6 Kesetaraan dan Pemerataan

Prinsip dasar pemerataan di dalam pembangunan kelautan Indonesia adalah


untuk memastikan individu atau kelompok individu diperlakukan secara adil,
setara, dan saling menguntungkan, tanpa memandang suku, ras, agama atau
kepercayaan, jenis kelamin dengan mengutamakan masyarakat Indonesia

Kebijakan Kelautan Indonesia 28


yang berada di kawasan terpencil atau yang belum terhubung dengan baik di
luar Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatera.

Pembangunan kelautan Indonesia masih berkonsentrasi pada daerah-daerah


tertentu, khususnya di sekitar Indonesia bagian barat di Jawa, Bali, dan
Sumatera. Pembangunan kelautan negara kepulauan Indonesia perlu
dilakukan dengan pendekatan Indonesia-sentris, bukan Jawa-sentris dan
pembangunan nyata di kawasan pulau terluar dan pinggiran serta
mengutamakan perbaikan nasib nelayan kecil dan mereka yang bekerja pada
industri perikanan.

Kemajuan tanpa kesetaraan tidak saja berseberangan dengan konstitusi,


tetapi juga tidak akan mewujudkan esensi utama pembangunan, yaitu
peningkatan kualitas hidup manusia. Terlebih lagi, ketimpangan ekonomi
justru akan mengancam keberlanjutan kemajuan itu sendiri, bahkan mengarah
pada tindakan-tindakan drastis, seperti terorisme.

Kebijakan Kelautan Indonesia 29


BAB 6
Pilar-Pilar Strategi
Kebijakan Kelautan Indonesia

Kebijakan Kelautan Nasional Indonesia terdiri atas pilar-pilar strategi sebagai


berikut.

6. 1 Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Pengembangan Sumber


Daya Manusia
6.1.1 Pengelolaan Sumber Daya Kelautan

K
ebijakan sumber daya kelautan ditujukan untuk mendorong
pemanfaatan dan pengusahan sumber daya kelautan secara
optimal dan berkelanjutan melalui penerapan prinsip ekonomi biru
yaitu dengan mewujudkan pertumbuhan ekonomi di bidang kelautan melalui
pembangunan berkelanjutan yang efisien, bernilai tambah, inklusif, dan
inovatif guna menunjang seluruh aktivitas ekonomi yang meliputi perdagangan
barang, jasa, dan investasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kebijakan Kelautan Indonesia 30


Program-program utama dalam melaksanakan strategi Pengelolaan Sumber
Daya Kelautan adalah sebagai berikut:
a. pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara lestari;
b. peningkatan pengolahan, pemasaran, nilai tambah, serta standar dan
keselamatan produk kelautan dan perikanan;
c. peningkatan pelindungan terhadap kelestarian keanekaragaman hayati
laut melalui konservasi ekosistem, jenis, dan genetik;
d. pengembangan dan pemanfaatan energi dan sumber daya mineral
sesuai dengan prinsip ekonomi biru dengan memperhatikan teknologi
ramah lingkungan;
e. pemanfaatan Secara Berkelanjutan Sumber Daya Alam
Nonkonvensional Berdasarkan Prinsip Kelestarian Lingkungan;
f. pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan dengan memperhatikan
kepentingan masyarakat lokal, kearifan tradisional, kawasan konservasi
perairan, dan kelestarian lingkungan;
g. pengembangan industri bioteknologi kelautan dengan pemanfaatan
potensi keanekaragaman hayati;
h. peningkatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil secara seimbang dan berkelanjutan; dan

i. penguatan Sistem Informasi dan Data Kelautan, Inventarisasi, dan


Evaluasi Sumber Daya Kelautan

Kebijakan Kelautan Indonesia 31


6.1.2 Pengembangan Sumber Daya Manusia

K
ebijakan pengembangan sumber daya manusia bertujuan untuk
mengembangkan sumber daya manusia di bidang kelautan yang
profesional, beretika, berdedikasi dan mampu mengedepankan
kepentingan nasional dalam mendukung pembangunan kelautan secara
optimal dan terpadu.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi pengembangan


sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

a. peningkatan jasa di bidang kelautan yang diimbangi dengan


ketersediaan lapangan kerja;
b. pengembangan standar kompetensi sumber daya manusia di bidang
kelautan;
c. peningkatan dan penguatan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi,
riset dan pengembangan sistem informasi kelautan;
d. peningkatan gizi masyarakat kelautan;

Kebijakan Kelautan Indonesia 32


e. peningkatan pelindungan ketenagakerjaan;
f. penyusunan kurikulum pendidikan yang berorientasi kelautan;
g. peningkatan kualitas dan kuantitas perguruan tinggi bidang kelautan;
h. penyediaan insentif dan bantuan pendidikan bidang kelautan dan riset
strategis kelautan;
i. pengembangan kualitas dan kuantitas sekolah pelayaran dan
perikanan;
j. peningkatan kolaborasi riset kelautan dan pengembangan pusat
keunggulan kelautan; dan
k. peningkatan tatakelola IPTEK, pengembangan sarana, dan prasarana
IPTEK kelautan dan agenda riset kelautan strategis.

Kebijakan Kelautan Indonesia 33


6. 2 Pertahanan, Keamanan, Penegakan Hukum, dan Keselamatan di
Laut

K
ebijakan pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan
keselamatan di laut bertujuan untuk menegakkan kedaulatan dan
hukum, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia dari ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di
wilayah laut.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan pertahanan


dan keamanan maritim adalah sebagai berikut:

a. pembangunan pertahanan dan keamanan laut yang tangguh melalui


postur pertahanan kelautan Indonesia yang sepadan dengan luas
wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia dan mampu

Kebijakan Kelautan Indonesia 34


menanggulangi ancaman dan gannguan dari dalam dan luar negeri serta
mampu berperan dalam membangun perdamaian dan keamanan
kawasan;
b. peningkatan kemampuan dan kinerja pertahanan dan keamanan secara
terpadu di seluruh wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi serta di luar
wilayah yurisdiksi sesuai dengan hukum internasional
c. peningkatan pembangunan kawasan perbatasan di laut dan pulau-pulau
kecil terluar;
d. peningkatan peran aktif Indonesia dalam kerja sama pertahanan dan
keamanan laut baik di tingkat regional maupun internasional;
e. penegakan kedaulatan dan hukum di wilayah perairan dan wilayah
yurisdiksi;
f. optimalisasi sistem komando, kendali, komunikasi, komputerisasi,
intelijen, pengawasan dan pengintaian;
g. pembangunan karakter bangsa yang berorientasi kelautan dalam upaya
bela negara; dan
h. meningkatkan keamanan dan keselamatan pelayaran.

Kebijakan Kelautan Indonesia 35


6. 3 Tata Kelola dan Kelembagaan

K
ebijakan tata kelola dan kelembagaan laut bertujuan untuk
menciptakan sistem tata kelola kelautan nasional yang
komprehensif, terintegrasi, efektif, dan efisien.Hal ini diperlukan
untuk sinkronisasi dan implementasi efektif di berbagai aturan dan perundang-
undangan di tingkat nasional dan regional yang harus selaras dengan
aturan internasional di bidang kelautan dan kemaritiman.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan tata kelola


kelautan adalah sebagai berikut:
a. Penataan Sistem Hukum Nasional di Bidang Kelautan;
b. Implementasi Hukum Internasional di Bidang Kelautan Sesuai dengan
Kepentingan Nasional; dan
c. Pembangunan Sistem Tata Kelola Kelautan Nasional yang Baik,
Transparan dan Bertanggung Jawab.

Kebijakan Kelautan Indonesia 36


6. 4 Ekonomi dan Infrastruktur Kelautan dan Peningkatan
Kesejahteraan

6.4.1 Ekonomi Kelautan

K
ebijakan ekonomi kelautan bertujuan untuk menjadikan kelautan
sebagai basis pembangunan ekonomi. Potensi ekonomi kelautan
Indonesia, tidak hanya berada di perairan nasional, melainkan juga
di perairan yurisdiksi dan bahkan di perairan internasional yang dapat dikelola
sesuai dengan hukum internasional.

Membangun ekonomi berbasis sumber daya kelautan guna meningkatkan


kesejahteraan rakyat menuntut kemampuan untuk memobilisasi sumberdaya
nasional melalui formulasi desain program kelautan nasional yang disertai
dengan berbagai kelengkapan instrumen fiskal, moneter, keuangan, serta
mobilisasi lintas sektor untuk mendukung bidang kelautan tersebut.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan ekonomi


kelautan adalah sebagai berikut:

Kebijakan Kelautan Indonesia 37


a. penyusunan dan pengembangan basis data ekonomi kelautan;
b. penciptaan iklim investasi usaha di bidang kelautan yang kondusif dan
efisien;
c. penciptaan sistem fiskal dan moneter yang mendukung pengembangan
usaha bidang kelautan;
d. pembangunan kawasan ekonomi kelautan secara terpadu dengan
menggunakan prinsip-prinsip ekonomi biru di wilayah pesisir dan
perairan laut Indonesia secara realistis;
e. optimalisasi penyediaan fasilitas infrastruktur yang dibutuhkan dunia
usaha dan pelaku usaha kelautan terutama nelayan;
f. intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi, dan penguatan mutu produk
perikanan mulai dari proses praproduksi sampai dengan pemasaran;
g. pengembangan dunia usaha di bidang kelautan nasional yang berdaya
saing internasional;
h. pengembangan kemitraan usaha di bidang kelautan yang saling
menguntungkan antara usaha kecil dan menengah dengan usaha besar;
i. pengembangan kota bandar dunia;
j. pengembangan kerja sama ekonomi berkelanjutan dengan negara
mitra strategis bidang kelautan;dan
k. peningkatan pengelolaan aset negara di bidang kelautan.

6.4.2 Infrastruktur Kelautan

Dalam rangka menumbuhkan ekonomi kelautan, pemerintah membangun dan


mengembangkan infrastruktur kelautan untuk peningkatan konektivitas dan
pembangunan dengan pendekatan Indonesia-sentris dan bukan Jawa-sentris.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan infrastruktur


kelautan adalah sebagai berikut :

Kebijakan Kelautan Indonesia 38


a. sinergi kepentingan nasional strategis dalam menentukan kawasan
pengembangan infrastruktur kelautan;
b. pengembangan sistem konektivitas transportasi laut nasional;
c. pengembangan kemampuan dan kapasitas badan usaha nasional di
bidang pembangunan dan pengelolaan infrastruktur kelautan yang
berdaya saing dan bertaraf internasional;
d. peningkatan kemampuan sumber pendanaan nasional untuk
pembangunan infrastruktur kelautan;
e. penciptaan iklim investasi yang baik untuk pembangunan dan
pengelolaan infrastruktur maritim; dan
f. peningkatan kerja sama investasi pembangunan infrastruktur dengan
negara-negara mitra.

Kebijakan Kelautan Indonesia 39


6.4.3 Peningkatan Kesejahteraan

K
ebijakan peningkatan kesejahteraan masyarakat bertujuan untuk
mewujudkan pembangunan kelautan yang bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pesisir dan pulau-
pulau kecil.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan pendidikan


kemaritiman adalah sebagai berikut:
a. pembangunan prasarana dan sarana yang dibutuhkan dalam
mengembangkan usaha bagi nelayan, pembudi daya ikan, dan
petambak garam;
b. peningkatan kemampuan dan kapasitas bagi nelayan, pembudi daya
ikan, dan petambak garam;

Kebijakan Kelautan Indonesia 40


c. penyediaan kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi,
informasi, lahan, dan pembiayaan untuk kepentingan pengembangan
usaha bagi nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam;
d. perluasan kesempatan kerja dan berusaha bagi sumber masyarakat di
bidang kelautan, khususnya pada sektor perikanan, energi, dan
pariwisata bahari; dan
e. peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan untuk pariwisata bahari
secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kebijakan Kelautan Indonesia 41


6. 5 Pengelolaan Ruang Laut dan Pelindungan Lingkungan Laut

6.5.1 Pengelolaan Ruang Laut

K
ebijakan pengelolaan ruang laut bertujuan untuk melindungi sumber
daya dan lingkungan dengan berdasar pada daya dukung
lingkungan dan kearifan local, memanfaatkan potensi sumber daya
dan/atau kegiatan di wilayah laut yang berskala nasional dan internasional,
serta mengembangkan kawasan potensial menjadi pusat kegiatan produksi,
distribusi, dan jasa.

Pemangku kepentingan terhadap pengelolaan dan penggunaan laut


Indonesia yang begitu beragam memerlukan suatu rujukan bersama
mengenai pembagian penggunaan ruang laut yang ada, yang terintegrasi
dengan penataan ruang di daratan. Hal ini dibutuhkan untuk dapat
mengakomodasi berbagai kepentingan dan kebutuhan yang ada tanpa
menimbulkan risiko konflik dan imbas negatif lainnya.

Kebijakan Kelautan Indonesia 42


Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan pengelolaan
ruang laut adalah sebagai berikut:

a. penciptaan keterpaduan lintas program antarsektor di wilayah laut;


b. percepatan penetapan rencana tata ruang laut nasional;
c. percepatan penetapan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
d. percepatan penyelesaian rencana zonasi kawasan strategis nasional,
rencana zonasi kawasan strategis nasional tertentu, dan rencana zonasi
kawasan antar wilayah;
e. penyediaan data informasi geospasial dasar dan informasi geospasial
tematik terpadu dalam kerangka kebijakan satu peta untuk penyusunan
tata ruang laut; dan
f. penyederhanaan perizinan pemanfaatan ruang laut.

Kebijakan Kelautan Indonesia 43


6.5.2 Pelindungan Lingkungan Laut
Kebijakan pelindungan lingkungan laut bertujuan untuk melestarikan sumber
daya kelautan dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan di laut. Indonesia juga perlu melihat kemampuan serap emisi gas
rumah kaca ekosistem pesisir sehingga emisi yang dihasilkan kegiatan di
darat, khususnya perkebunan dan industri dapat dikurangi oleh kemampuan
“blue carbon” Indonesia.

Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan pelindungan


lingkungan laut adalah sebagai berikut:
a. penguatan pengelolaan wilayah daerah aliran sungai (das), pesisir, laut,
dan pulau-pulau kecil melalui manajemen terpadu dan berkelanjutan;
b. penguatan konservasi laut;
c. pencegahan, penanggulangan dan pemulihan dampak pencemaran dan
kerusakan lingkungan laut;
d. penanggulangan bencana kelautan;
e. pengembangan tata guna dan infrastruktur pesisir dan laut yang
berkelanjutan; dan
f. pengembangan kerja sama bilateral, regional dan global di bidang
pengelolaan lingkungan laut.

Kebijakan Kelautan Indonesia 44


6. 6 Budaya Bahari

K
ebijakan budaya bahari bertujuan untuk memberikan pemahaman
menyeluruh terhadap wawasan bahari di seluruh lapisan
masyarakat guna mengoptimalkan pembangunan kelautan nasional
yang berkesinambungan dan lestari.

Budaya bahari memiliki peran penting dalam membangun bangsa yang


memiliki orientasi kelautan. Dengan budaya bahari, masyarakat Indonesia
akan meneladani keuletan, kerja keras, enterpreunership, gotong royong,
menghargai perbedaan, dan cinta akan lingkungan. Budaya bahari yang kuat
akan menjadikan laut sebagai ruang hidup dan ruang juang, tempat belajar,
berkarya, bekerja, berolah raga, dan berekreasi, serta mendidik masyarakat.

Kebijakan Kelautan Indonesia 45


Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan budaya
bahari adalah sebagai berikut:
a. meningkatkan pendidikan dan penyadaran masyarakat tentang
kelautan yang diwujudkan melalui semua jalur, jenis, dan jenjang
pendidikan;
b. identifikasi dan inventarisasi nilai budaya dan sistem sosial kelautan di
wilayah negara kesatuan republik indonesia sebagai bagian dari sistem
kebudayaan nasional;
c. mengembangkan teknologi dengan tetap mempertimbangkan kearifan
lokal;
d. membangkitkan pemahaman wawasan dan budaya bahari;
e. melakukan harmonisasi dan pengembangan unsur kearifan lokal ke
dalam sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan;
dan
f. mempertahankan, mengembangkan, dan meningkatkan peran kota-
kota pelabuhan bersejarah.

Kebijakan Kelautan Indonesia 46


6. 7 Diplomasi Maritim

D
iplomasi maritim merupakan pelaksanaan politik luar negeri yang
bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kelautan guna memenuhi
kepentingan nasional sesuai dengan ketentuan nasional dan
hukum internasional.

Diplomasi maritim Indonesia tidak dapat hanya diartikan secara sempit dalam
bentuk perundingan internasional di bidang kelautan, penetapan perbatasan
atau diplomasi angkatan laut. Diplomasi maritim Indonesia adalah
pelaksanaan politik luar negeri yang tidak hanya terkait dengan berbagai
aspek kelautan dan kelautan pada tingkat bilateral, regional, dan global tetapi
juga yang menggunakan aset kelautan dan kelautan baik sipil maupun militer
untuk memenuhi kepentingan nasional Indonesia sesuai dengan ketentuan
nasional dan hukum internasional.

Kebijakan Kelautan Indonesia 47


Program-program utama dalam melaksanakan strategi kebijakan diplomasi
maritim adalah sebagai berikut:
a. peningkatan kepemimpinan di dalam berbagai kerja sama di bidang
kelautan pada tingkat bilateral, regional dan multilateral;
b. peningkatan peran aktif dalam upaya menciptakan dan menjaga
perdamaian dan keamanan dunia melalui bidang kelautan;
c. kepemimpinan atau peran aktif dalam penyusunan berbagai norma
internasional bidang kelautan;
d. percepatan penyelesaian penetapan batas maritim Indonesia dengan
negara tetangga;
e. percepatan submisi penetapan ekstensi landas kontinen sesuai dengan
hukum internasional; dan
f. peningkatan penempatan wni di dalam berbagai organisasi
internasional bidang kelautan.

Kebijakan Kelautan Indonesia 48


Kebijakan Kelautan Indonesia 49
BAB 7
Kaidah Pelaksanaan

Pelaksanaan pembangunan kelautan sesuai dengan Kebijakan Kelautan


Indonesia perlu berpedoman pada hal sebagai berikut.

7. 1 Kerangka Pendanaan

P
endanaan bagi program-program spesifik yang disusun oleh
pemerintah pusat dan daerah serta lembaga negara yang lain dalam
rangka melaksanakan kebijakan kelautan Indonesia tetap mengacu
kepada peraturan dan perundangan yang berlaku. Optimalisasi terhadap
sumber-sumber pembiayaan pembangunan kelautan yang ada antara lain
APBN, kontribusi swasta, perbankan dan lembaga keuangan non-bank,
dengan meningkatkan kualitas dan efisiensi pemanfaatan pembiayaan
pembangunan kelautan, melalui penyempurnaan peraturan perundang-
undangan, peningkatan persiapan perencanaan kegiatan, serta penguatan
pemantauan dan evaluasi.

Pengembangan potensi pembiayaan pembangunan kelautan dapat dilakukan


dengan meningkatkan pemanfaatan skema PPP (Public Private Partnership)
atau kerjasama pemerintah dan swasta/organisasi non-pemerintah, CSR
(Corporate Social Responsibilty), pinjaman langsung (direct lending) dari mitra
pembangunan kepada BUMN dan Municipal Development Fund (MDF).

Kerjasama dimaksud dilaksanakan dalam rangka mempercepat pencapaian


sasaran pembangunan kelautan nasional dengan melibatkan swasta dalam
penyediaan infrastruktur publik. Selain itu, dari kerjasama tersebut diharapkan
agar keahlian dan aset (sumber daya) setiap pihak (pemerintah dan swasta
dapat digunakan secara bersama untuk menyediakan jasa dan/atau fasilitas
yang dibutuhkan oleh masyarakat umum.

Kebijakan Kelautan Indonesia 50


7. 2 Kerangka Regulasi

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJP,


amanat Undang-Undang 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan, khususnya Pasal
13 ayat (4), Pasal 15 ayat (1), Pasal 36 ayat (1) dan ayat (4), dan Pasal 69
ayat (4), serta doktrin Poros Maritim Dunia, maka Kebijakan Kelautan diatur
dalam Peraturan Pemerintah. Peraturan pemerintah tentang Kebijakan
Kelautan menjadi payung hukum yang mengatur arah kebijakan
pembangunan kelautan yang terintegrasi.

Dokumen kebijakan kelautan Indonesia dijabarkan lebih lanjut secara


terperinci dalam Rencana Aksi Pembangunan Kelautan Nasional dalam
bentuk hukum Peraturan Presiden. Rencana aksi tersebut merupakan
implementasi dari kebijakan kelautan Indonesia untuk dapat mengembangkan
pengetahuan, kemampuan, dan berbagai instrumen manajemen yang
melibatkan semua aktor. Rencana aksi akan dikembangkan selaras dengan
kerangka Rencana Pembangunan Nasional yang bersifat lintas sektor dalam
suatu proses manajemen yang dinamis. Pengelolaan perumusan kebijakan
dan pembentukan Rencana Aksi Pembangunan Kelautan dilaksanakan
secara bertahap dalam kerangka 5 tahunan.

7. 3 Kerangka Kelembagaan

Pelaksanaan Kebijakan Kelautan Indonesia akan dikoordinasikan oleh


Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang mempunyai tugas
menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan
Kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang kemaritiman.
Kementerian koordinator kemaritiman menggordinasikan 4 kementerian, yakni
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perhubungan,
Kemeterian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Pariwisata, serta
kementerian dan lembaga yang lain yang relevan dalam pelaksanaan
kemaritiman.

Kebijakan Kelautan Indonesia 51


Namun, Kementerian Koordinator (Kemenko) yang lain yaitu Kemenko
Polhukam, Kemenko Perekonomian dan Kemenko Pembangunan Manusia
dan Kebudayaan (PMK) juga perlu mengambil peran koordinasi pelaksanaan
Kebijakan Kelautan Indonesia dengan mengikutsertakan Kemenko
Kemaritiman dalam hal-hal yang menjadi tupoksi utama, misalnya
penyusunan Kebijakan Pertahanan yang menjadi tupoksi utama Kemenko
Polhukam.

7. 4 Kerangka Pemantauan (Monitoring), Evaluasi, dan Ulasan (Review)

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan kementerian/lembaga terkait harus


memastikan pemantauan yang memadai di berbagai tingkat aktivitas, aspek,
dan sektor serta mengusulkan perubahan apapun yang dianggap perlu untuk
penataan/perbaikan kembali kebijakan kelautan Indonesia. Kajian menyeluruh
akan dilakukan setiap 5 tahun dan dimulai dari akhir tahun 2016.

Kebijakan Kelautan Indonesia 52