Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme patogenik (bakteri, virus,
parasit atau jamur) yang mana penyakit menular dapat disebarkan secara
langsung atau tidak langsung, dari satu orang ke orang yang lain. Penyakit
menular yang banyak menyerang manusia antara lain yaitu tuberkulosis,
meningitis, malaria, pneumonia, rubella, diare dan masih banyak lagi. Diare
adalah salah satu penyakit menular yang mematikan bagi manusia karena
mengakibatkan dehidrasi pada tubuh manusia (WHO, 2016).
Penyakit diare merupakan kondisi seseorang buang air besar dengan
konsistensi feses lembek ataupun cair, bahkan bisa berupa air saja dan
frekuensi buang air besarnya menjadi lebih sering (tiga kali atau lebih) dalam
satu hari. Penyakit diare dapat disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus atau
parasit), malabsorbsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab-sebab lain.
(Departemen Kesehatan RI, 2011).
Menurut data dari UNICEF (United Nations Childhren’s Fund) diare
merupakan penyebab kematian balita terbesar kedua di dunia dengan angka
kematian sebanyak 526.000 balita di tahun 2015. Sebanyak 5% dari jumlah
kematian balita akibat diare terjadi di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia
angka kematian balita akibat diare pada tahun 2015 sebanyak 8.600 balita
menempati peringkat 12 dari 15 negara dengan angka kematian balita tertinggi
di dunia dan tertinggi di Asia Tenggara. India menempati urutan pertama untuk
kasus kematian balita mencapai 117.300 balita (United Nations Children’s Fund
(UNICEF), 2016).
Menurut data dari WHO (World Health Organization) penyakit diare
merupakan penyebab kedua kematian anak dibawah 5 tahun dan menjadi
penyebab terbunuhnya 526.000 anak tiap tahunnya. Diare dapat terjadi hingga
berhari-hari dan menimbulkan tubuh kehilangan air dan garam yang dibutuhkan
untuk tubuh dapat bertahan hidup. Penyebab utama dari kematian akibat diare
yaitu dehidrasi berat atau kehilangan cairan tubuh (WHO, 2017).
Hasil dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang
dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI angka insiden diare dan period prevalence diare di
Indonesia masing-masing sebanyak 3,5% dan 7% untuk kategori semua umur,
sedangkan 10,2 % angka insiden diare untuk kategori usia balita. Hal tersebut
menunjukkan bahwa insiden diare tertinggi di Indonesia terjadi pada kategori
usia balita (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI, 2013).
Dalam profil Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2014 angka incidence
rate untuk kasus diare pada kategori semua umur kecamatan Purwokerto Timur
sebesar 21,4049/1000 penduduk (Dinas Kesehatan Banyumas, 2014). Pada
tahun 2015 meningkat menjadi 21,4139/1000 penduduk yang menunjukkan
adanya peningkatan angka kesakitan. Kecamatan Purwokerto Timur memiliki
angka incidence rate tertinggi di tahun 2015 se-Kabupaten Banyumas untuk
kategori semua umur. Maka dari itu penyakit diare menjadi salah satu penyakit
yang dipantau terus oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dan
Puskesmas. Hal ini dikarenakan penyakit diare merupakan salah satu penyakit
endemik dan dapat menyebabkan KLB yang disertai resiko kematian (Dinas
Kesehatan Banyumas, 2015).
Pusat Kesehatan Masyarakat merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
untuk menyelenggarakan upaya kesehatan upaya kesehatan masyarakat dan
perorangan tingkat pertama. Dengan mengutamakan upaya promotif, preventif,
serta layanan kuratif maupun rehabilitatif untuk tercapainya derajat kesehatan
masyarakat setinggi-tingginya (Permenkes RI, 2014). Puskesmas II Purwokerto
Timur adalah salah satu instansi kesehatan yang ada di wilayah kabupaten
Banyumas dengan cakupan wilayah kerja 3 kelurahan. Kesiapan puskesmas
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam menangani suatu
kejadian penyakit dipengaruhi oleh informasi untuk pengambilan kebijakan.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan
September 2017, ditemukan bahwa jumlah kasus diare pada balita di
Puskesmas II Purwokerto Timur dari tahun 2015 hingga 2016 meningkat. Angka
kasus diare balita pada tahun 2015 mencapai 161 kasus dan meningkat menjadi
167 kasus di tahun 2016. Melihat hasil kasus diare balita yang masih tinggi
bentuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang hanya bisa diberikan oleh
petugas pemegang program dan puskesmas yaitu berupa pemberian obat
terhadap pasien balita yang berkunjung dan penyuluhan posyandu yang
dilakukan dua kali dalam satu tahun..
Hingga saat ini, pengolahan data kasus penyakit diare masih berupa tabel
dan grafik dimana dalam pelaporannya menggunakan software Microsoft Excel
sebagai pengolah data, sehingga informasi yang didapatkan hanya berupa
angka berdasarkan umur dan jenis kelamin tanpa ada keterangan lebih lanjut..
Petugas pemegang program mencatat jumlah pasien per bulan yang diambil
melalui register penyakit harian rawat jalan, direkap ke dalam register diare dan
di sesuaikan dengan isi dari rekam medis. Petugas pemegang program.
Penyajian grafik akan dibuat jika ada presentasi program pencegahan diare
yang dilaksanakan di dinas kesehatan kabupaten Banyumas.
Ditemukan pada SIMPUS versi lama terdapat menu peta kesehatan
puskesmas namun tidak dapat digunakan, di SIMPUS beta versi terbaru menu
peta kesehatan tersebut ditiadakan oleh pihak Dinas Kesehatan Banyumas. Hal
tersebut menyebabkan puskesmas tidak dapat memanfaatkan fitur yang dapat
menjadi informasi terkait persebaran penyakit diare balita. Belum pernah
dilakukannya pemetaan persebaran penyakit berbasis Sistem Informasi
Geografis untuk menyediakan informasi yang lebih akurat dan informatif
menyebabkan sulitnya pengambilan kebijakan dalam upaya peningkatan
pelayanan kesehatan.
Keterbatasan SDM untuk pelaporan, tidak adanya perekam medis, petugas
yang mendapat pelatihan pengoperasian Sistem Informasi Geografis sudah
pensiun juga menambah kesulitan penyajian data yang lebih informatif. Entri
data sosial pasien untuk alamat dalam rekam medis juga tidak lengkap karena
tidak sesuai dengan kartu identitas pasien menambah petugas pemegang
program kesulitan untuk melaksanakan pemetaan penyakit. Maka dari itu,
dengan memanfaatkan data dari register diare dan rekam medis kedalam
bentuk peta diharapkan dapat memberikan informasi mengenai persebaran
kasus diare pada balita sebagai dasar pengambilan keputusan yang cepat dan
tepat.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 55
Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis yang
menyebutkan di dalam Pasal 13 bahwa dalam pelaksanaan pekerjaannya,
Perekam Medis dengan kualifikasi pendidikan Ahli Madya Rekam Medis dan
Informasi Kesehatan disebutkan pada ayat (a) poin (9) bahwa Perekam Medis
memiliki kewenangan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan data
surveilans. Dalam Pasal 18 ayat (c) dan (d) menyebutkan bahwa kewajiban
perekam medis yaitu memberikan data dan informasi kesehatan berdasarkan
kebutuhan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
membantu program pemerintah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
Sudah disebutkan pula dalam kode etik profesi perekam medis bab VI pasal
6 ayat (1) yang menyebutkan profesi MIK harus senantiasa meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan profesional anggota baik secara individu maupun
organisasi melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan
dengan disiplin ilmu rekam medis dan informasi kesehatan (DPD PORMIKI DKI
Jakarta, 2018). Berdasarkan dasar hukum dan kode etik profesi tersebut tersirat
bahwa Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan oleh perekam medis
untuk menyajikan data menjadi informasi di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sejalan dengan peraturan dan kode etik tersebut penelitian yang diambil akan
terpusat pada penyajian data dari rekam medis ke dalam bentuk peta dengan
memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis agar nantinya dapat
disajikan sebuah informasi yang informatif, akurat dan berkualitas.
Kasus diare pada balita dipilih peneliti karena resiko terjadinya kematian
lebih besar daripada kasus diare yang terjadi pada orang dewasa. Selain itu,
belum dilakukannya pemetaan penyakit di Puskesmas II Purwokerto Timur juga
memperkuat peneliti untuk mengambil kasus diare dan menyajikan informasi
berbentuk peta karena penyebarannya yang melalui sanitasi, makanan dan
lingkungan, agar nantinya dapat membantu pihak puskesmas dalam mengambil
pencegahan yang maksimal. Manifestasi dari penelitian ini, keakuratan isi item
data alamat pasien di rekam medis akan berbanding lurus dengan keakuratan
penyajian data dalam bentuk peta.
Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti
mengenai pemanfaatan SIG melalui tugas akhir berjudul ”Pemetaan
Persebaran Kasus Diare pada Balita dengan Pendekatan Sistem Informasi
Geografis di Puskesmas II Purwokerto Timur”. Peneliti ingin menyajikan peta
persebaran kasus diare balita pada tahun 2017 menggunakan data dari rekam
medis pasien dan register penyakit diare dengan memanfaatkan sistem
informasi geografis menjadi laporan yang berbasis kewilayahan. Sehingga,
puskesmas dan petugas pemegang program terbantu dalam pelaporan dan
penyajian data yang lebih akurat, informatif serta memudahkan pengambilan
keputusan secara cepat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana Pemetaan Persebaran
Kasus Diare Balita dengan Pendekatan Sistem Informasi Geografis di
Puskesmas II Purwokerto Timur?”.

C. Batasan Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah, maka batasan masalah yang di lampirkan
yaitu
1. Peneliti hanya memetakan persebaran kasus diare balita pada tahun
2017 di wilayah kerja Puskesmas II Purwokerto Timur berdasarkan
variabel yang sudah ditentukan.
2. Peneliti hanya menyajikan hasil analisis spasial kasus diare balita di
wilayah kerja Puskesmas II Purwokerto Timur.
D. Tujuan
1. Tujuan umum
Mendeskipsikan kasus diare balita menggunakan Sistem Informasi
Geografis di Puskesmas II Purwokerto Timur.
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan peta persebaran kasus diare balita di Puskesmas II
Purwokerto Timur pada tahun 2017 berdasarkan wilayah kelurahan
Puskesmas II Purwokerto Timur.
b. Mendeskripsikan peta persebaran kasus diare balita berdasarkan
kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas II Purwokerto Timur.
c. Mendeskripsikan peta persebaran diare balita berdasarkan kelompok
umur di Puskesmas II Purwokerto Timur.
d. Mendeskripsikan peta persebaran diare balita berdasarkan jenis
kelamin di Puskesmas II Purwokerto Timur.
e. Mendeskripsikan peta persebaran diare balita berdasarkan cakupan
imunisasi campak di Puskesmas II PurwokertoTimur.
f. Mendeskripsikan peta persebaran diare balita berdasarkan sumber air
di Puskesmas II Purwokerto Timur.
g. Mendeskripsikan peta persebaran diare balita berdasarkan waktu
kejadian diare Triwulan I-IV di Puskesmas II Purwokerto Timur.
h. Mengidentifikasi pola persebaran kasus diare balita menggunakan
analisis average nearest neighbor di Puskesmas II Purwokerto Timur.
i. Mendeskripsikan peta clustering penderita diare balita menggunakan
analisis kernel density di Puskesmas II Purwokerto Timur.
j. Mendeskripsikan peta buffer jarak Puskesmas dengan penderita diare
balita menggunakan peta dengan analisis buffer di Puskesmas II
Purwokerto Timur.
k. Mendiskripsikan peta buffer jarak sungai dengan penderita diare balita
menggunakan peta dengan analisis buffer di Puskesmas II Purwokerto
Timur.
E. Manfaat
Penelitian yang saya lakukan memiliki manfaat, baik secara teoritis maupun
praktis sebagai berikut :
1. Manfaat praktis
a. Bagi puskesmas
Hasil dari penelitian ini nantinya berupa informasi yang dapat
digunakan oleh puskesmas sebagai sumber pertimbangan
pengambilan kebijakan secara cepat, tepat dan sesuai untuk
keberlangsungan program pencegahan dan pengendalian persebaran
kasus penyakit diare balita di fasilitas pelayanan kesehatan.
b. Bagi peneliti
Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam menyajikan
informasi kesehatan sebagai perekam medis dengan memanfaatkan
teknologi dan sistem informasi geografis dalam pengendalian penyakit
diare pada balita.
2. Manfaat teoritis
a. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini nantinya dapat memberikan
manfaat yang digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu di bidang
rekam medis.
b. Bagi peneliti lain
Digunakan sebagai referensi untuk penelitian yang akan datang
terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan sistem informasi
geografis dalam mengolah informasi berupa peta di bidang kesehatan.

F. Keaslian
Nama Peneliti & Persamaan
No Perbedaan Penelitian
Judul Penelitian Penelitian
1 Tria Saras Persamaan Perbedaan penelitian yaitu
Pertiwi (2017) penelitian yaitu metode yang digunakan oleh
dengan judul adalah sama- peneliti menggunakan metode
penelitian sama memetakan kuantitatif deskriptif dengan
“Penggunaan persebaran pendekatan cross sectional
Sistem penyakit diare sedangkan Pertiwi (2017)
Informasi pada balita. menggunakan metode
Geografis Untuk oservational analitik untuk
Pemetaan menganalisis faktor risiko
Kerentanan kejadian diare dan kerentanan
Wilayah wilayah yang menggunakan
Berdasarkan analisis multivariat serta analisis
Faktor Risiko spasial menggunakan teknik
Kejadian Diare overlay di Kota Kendari
Pada Balita”
2 Robiatul Persamaan Perbedaan penelitian yaitu
Adawiyah penelitian yaitu metode yang digunakan oleh
(2012) dengan adalah sama- peneliti menggunakan metode
judul penelitian sama memetakan kuantitatif deskriptif dengan
“Analisis Spasial persebaran pendekatan cross sectional
Pemanfaatan penyakit diare sedangkan Adawiyah (2012)
Sumber Air pada balita. menggunakan metode
Minum, Sanitasi oservational analitik dengan
Dasar dan rancangan case control untuk
Aksesibilitas menganalisis hubungan faktor
Fisik Kejadian risiko dengan kejadian diare dan
Diare pada mengetahu persebaran kejadian
Balita di diare dengan clustering di
Kecamatan Kecamatan Gandus Kota
Gandus Kota Palembang.
Palembang”

3 Prastiwi (2014) Persamaan Perbedaan penelitian terletak


dengan judul penelitian yaitu pada jenis penyakit yang diambil
penelitian membahas dengan peneliti mengambil
“Penyajian Data tentang penyajian kasus diare pada balita. Selain
Spasial persebaran itu analisis spasial yang
Distribusi Kasus penyakit dengan digunakan berbeda Prastiwi
Tuberkulosis di sumber data (2014) menggunakan analisis
Puskesmas primer buffer sedangkan peneliti
Gedongtengen menggunakan menggunakan analisis average
Yogyakarta” titik koordinat nearest neighbor dan kernel
lokasi dari density untuk mengetahui pola
penderita. persebaran penyakit, analisis
buffer untuk gambaran
jangkauan puskesmas ke
penderita, dan analisis buffer
sungai dengan penderita diare
balita di Puskesmas II
Purwokerto Timur.

G. Gambaran umum Lokasi Penelitian


1. Keadaan geografis
Puskesmas II Purwokerto Timur merupakan salah satu puskesmas
yang berada di tengah kota Purwokerto dan terletak di Jl. Adyaksa No.9,
Kranji, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
Luas wilayah kerja Puskesmas II Purwokerto Timur sebesar 450,42 Ha (4,51
km2) dengan rincian sebagai berikut kelurahan Kranji sebesar 182,26 Ha
(1,82 km2), kelurahan Sokanegara sebesar 118,16 Ha (1,18 km2),
kelurahan Purwokerto Lor sebesar 150 Ha (1,50 km2) Adapun batas-batas
wilayah Puskesmas II Purwokerto Timur adalah (Puskesmas II Purwokerto
Timur, 2016) :
a. Sebelah Utara : Kecamatan Purwokerto Utara
b. Sebelah Selatan : Kecamatan Purwokerto Selatam
c. Sebelah Barat : Kecamatan Purwokerto Barat
d. Sebelah Timur : Kelurahan Purwokerto Wetan
2. Keadaan demografi
Berdasarkan data Desa, tahun 2016 jumlah penduduk wilayah kerja
Puskesmas II Purwokerto Timur pada tahun 2016 sebanyak 30.091 jiwa
terdiri dari :
Tabel 1. Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas II Purwokerto Timur

Laki- Jumlah Kepadatan


Perempuan
No. Kelurahan laki Penduduk penduduk
(jiwa)
(jiwa) (jiwa) (jiwa/km2))
1 Sokanegara 3.872 3.933 7.805 6.614,4
2 Kranji 4.675 5.113 9.788 5.378,02
Purwokerto
3 5.860 6.539 12.399 8.211,26
Lor
3. Visi dan Misi puskesmas
a. Visi
Menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan dengan Pelayanan Prima Untuk
Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri
b. Misi
1) Memberikan pelayanan kesahatan yang bermutu dan komprehensif
2) Meningkatkan profesionalisme, kinerja, dan mutu pelayanan
kesehatan
3) Mendorong kemandirian masyarakat untuk melaksanakan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
4) Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral
5) Mengembangkan Sistem Manajemen yang akuntabel