Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN I

ESTIMASI JUMLAH LEUKOSIT PADA

PREPARAT AML DAN CML

(Kamis, 28 April 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan estimasi jumlah leukosit pada preparat AML
(Acute Myelositic Leukemia) dan CML (Cronic Myelositic Leukemia).
b. PRINSIP
Estimasi jumlah leukosit dilakukkan dengan cara pengamatan preparat
pada perbesaran 10X lensa objektif dan dihitung jumlah sel leukosit
sebanyak 10 Lapang Pandang (LP) kemudian dirata-ratakan. Rata-rata jumlah
leukosit normal adalah 20-30 sel/LP, apabila jumlah rata-rata sel leukosit <20
sel dinyatakan Leukopenia dan apabila jumlah rata-rata sel leukosit>30 sel
dinyatakan Leukositosis serta apabilah hasil jumlah estimasi jumlah leukosit
>100.000 sel maka dinyatakan Hiperleukositosis.
c. DASAR TEORI
Leukemia merupakan penyakit ganas jaringan hemopoiesis. Ciri utamanya
adalah hambatan maturasi sel darah diikuti peningkatan proliferasi. Proliferasi
tidak se-efektif sel normal, tetapi berlangsung terus menerus tanpa kendali.
Akibat proliferasi yang terus menerus tersebut, terjadi kenaikan jumlah satu
atau beberapa jenis sel darah dalam sumsum tulang, sirkulasi darah dan
jaringan-jaringan tubuh. Terjadi hambatan pembentukan sel darah lain,
gangguan metabolisme serta gangguan imunitas sumsum tulang. Sirkulasi
darah dan jaringan-jaringan tubuh.
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop, Alat Tulis
dan Alat dokumentasi.

1
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalat preparat AML
(Acute Myelositic Leukemia) dan CML (Cronic Myelositic Leukemia).
f. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersikan preparat dengan tissu kemudian amati preparat pada
mikroskop dengan perbesaran 10X lensa objektif.
3. Dicari daerah baca pada zona 4 atau zona 5
4. Dilakukkan perhitungan estimasi jumlah leukosit dengan rata-rata
pengamatan 10 LP.
5. Dicatat jumlah leukosit dan dimasukkan kedalam perhitungan.
g. RUMUS
Jumlah absolut leukosit
= Rata- rata sel leukosit yg ditemukan x nilai normal leukosit
Normal jumlah sel leukosit (rata-rata dalam 10 LP)
Nilai normal leukosit : 4.000-11.000/sel/mm3
Normal jumlah sel leukosit : 20-30 sel

a. Jika rata-rata sel leukosit yang ditemukan <20 sel


= Rata- rata sel leukosit yg ditemukan x 4.000 sel
20 sel
b. Jika rata-rata sel leukosit yang ditemukan >30 sel
= Rata- rata sel leukosit yg ditemukan x 11.000 sel
30 sel
h. HASIL
Estimasi jumlah leukosit (10X lensa objektif).
Preparat L/T
- Jumlah dalam LP 1 = 492 Sel
- Jumlah dalam LP 2 = 412 Sel
- Jumlah dalam LP 3 = 400 Sel
- Jumlah dalam LP 4 = 464 Sel

2
- Jumlah dalam LP 5 = 424 Sel
- Jumlah dalam LP 6 = 572 Sel
- Jumlah dalam LP 7 = 400 Sel
- Jumlah dalam LP 8 = 256 Sel
- Jumlah dalam LP 9 = 264 Sel
- Jumlah dalam LP 10 = 256 Sel
Maka, ∑ 10 LP = 3940 : 10 = 394 (> 30)
Jadi, Jumlah absolut leukosit
= 394 sel x 11.000 sel/mm3
30 sel
= 144.466 sel/mm3.
Maka intepretasi hasil menunjukkan keadaan Hiperleukositosis.
i. INTEPRETASI HASIL
1. 4.000-11.000 sel/mm3 : Normal
2. < 4.000 sel/mm3 : Leukopenia
3. > 11.000 sel/mm3 : Leukositosis
4. > 100.000sel/mm3 : Hiperleukositosis
j. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat L/T diperoleh hasil estimasi jumlah leukosit
adalah Hiperleukositosis atau peningkatan jumlah melebihi nilai normal,
dimana dalam 10 Lapang Pandang didapatkan rata-rata sel leukosit >394 sel
pada preparat L/T. Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi pada penelitian ini
adalah tidak mampu membedakan antara sel leukosit dengan sel eritrosit
berinti, tidak mampu menggunkan mikroskop, preparat yang tidak
dibersihkan dan jumlah sel leukosit yang terlalu banyak sehingga sulit untuk
dihitung.

3
k. GAMABAR HASIL
Preparat AML Preparat CML

Sel Trombosit ditunjukkan oleh tanda


Sel Trombosit ditunjukkan oleh tanda
panah
panah

l. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa jumlah estimasi leukosit pada preparat L/T
(Leukositosis dan Trombositosis) adalah Hiperleukositosis

4
LAPORAN II
ESTIMASI JUMLAH TROMBOSIT PADA

PREPARAT L/T

(Sabtu, 28 April 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan estimasi jumlah trombosit pada preparat L/T
(Leukositosis / Trombositosis).
b. PRINSIP
Estimasi jumlah trombosit dilakukkan dengan cara pengamatan preparat
pada perbesaran 100X lensa objektif dan dihitung jumlah sel leukosit
sebanyak 10 Lapang Pandang (LP) kemudian dirata-ratakan. Rata-rata jumlah
trombosit normal adalah 8-20 sel/LP, apabila jumlah rata-rata sel trombosit
<8 sel dinyatakan Trombositopenia dan apabila jumlah rata-rata sel trombosit
>20 sel dinyatakan Trombositosis.
c. DASAR TEORI
Trombosit merupakan sel tidak berinti, berbentuk cakram dengan
diameter 2-5 mikron, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak
megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada keadaan normal
jumlah trombosit sekitar 150.000-350.000/mL darah dan mempunyai masa
hidup sekitar 1 sampai 2 minggu atau kira-kira 8 hari (Tarwoto, 2008). Salah
satu pemeriksaan laboratorium pada trombosit adalah hitung jumlah
trombosit. Namun trombosit sukar dihitung karena mudah sekali pecah dan
sulit dibedakan dengan kotoran kecil. Trombosit dapat dihitung dengan
beberapa cara yaitu cara langsung dengan larutan Rees Ecker atau Amonium
oxalate 1%, dan cara tidak langsung menggunakan metode Fonio, dan cara
automatik. Jumlah trombosit dapat dihitung secara tidak langsung dengan
hapusan darah tepi pada daerah baca zona IV dan V. Jumlah trombosit

5
dihitung pada 10 Lapang Pandang dengan perbesaran 100X Lensa objektif
(Gandasoebrata, 2010).
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop, Alat Tulis
dan alat dokumentasi.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalat preparat L/T
(leukositosis / Trombisitosis)
f. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersikan preparat dengan tissu kemudian amati preparat pada
mikroskop dengan perbesaran 100X lensa objektif.
3. Dicari daerah baca pada zona 4 atau zona 5
4. Dilakukkan perhitungan estimasi jumlah leukosit dengan rata-rata
pengamatan 10 LP.
5. Dicatat jumlah trombosit dan dimasukkan kedalam perhitungan.
g. RUMUS
Jumlah absolut trombosit
= Rata-rata 10 LP (Obj 100X) x 20.000
Nilai normal trombosit : 150.000-400.000/sel/mm3
Normal jumlah sel trombosit : 8-20 sel
h. HASIL
Estimasi jumlah trombosit (100X lensa objektif).
Preparat L/T
- Jumlah dalam LP 1 = 41 Sel
- Jumlah dalam LP 2 = 33 Sel
- Jumlah dalam LP 3 = 42 Sel
- Jumlah dalam LP 4 = 52 Sel
- Jumlah dalam LP 5 = 44 Sel
- Jumlah dalam LP 6 = 61 Sel
- Jumlah dalam LP 7 = 34 Sel

6
- Jumlah dalam LP 8 = 47 Sel
- Jumlah dalam LP 9 = 29 Sel
- Jumlah dalam LP 10 = 5 Sel
Maka, ∑ 10 LP = 435
Jadi, Jumlah absolut leukosit
(435:10) x 20.000 = 870.000
Maka intepretasi hasil menunjukkan keadaan Trombositosis
i. INTEPRETASI HASIL
1. 150.000-400.000 sel/mm3 : Normal
2. <150.000 sel/mm3 : Trombositopenia
3. > 400.000 sel/mm3 : Trombositosis
j. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat L/T diperoleh hasil estimasi jumlah
trombosit adalah Trombositosis, dimana rata-rata dalam sepuluh Lapang
Pandang didapatkan 44 sel pada preparat trombosit. Kesalahan-kesalahan
yang dapat terjadi pada penelitian ini adalah tidak mampu membedakan
antara sel trombositkotoran kecil, tidak mampu menggunkan mikroskop,
preparat yang tidak dibersihkan dan jumlah sel leukosit yang terlalu banyak
sehingga sulit untuk dihitung.
k. GAMABAR HASIL
Preparat CML Preparat AML

7
Sel Trombosit ditunjukkan oleh tanda Sel Trombosit ditunjukkan oleh tanda
panah panah

l. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa jumlah estimasi trombosit pada preparat L/T
(Leukositosis / Trombositosis) adalah Trombositosis

LAPORAN III

PENGAMATAN KELAINAN SEL DARAH MERAH

PADA PREPARAT THALASEMIA

(Sabtu, 28 April 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan pengamatan kelainan sel darah merah seperti
bentuk, warna, ukuran, benda inklusi dan formasi eritrosit pada preparat
Thalasemia
b. PRINSIP
Pengamatan preparat Thalasemia pada perbesaran 100X lensa objekti
dengan bantuan oil imersi dan dilakukan pengamatan kelainan eritrosit yaitu
warna, bentuk, ukuran, benda inklusi dan formasi eritrosit.

8
c. DASAR TEORI
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh
faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah
(hemoglobin) tidak berfungsi secara normal.Terdapat 2 jenis thalasemia yang
terjadi, yaitu alfa dan beta, dimana kedua jenis ini memiliki kaitan gen yang
menentukan kadar keparahan dari penyakit yang diturunkan ini. Thalasemia
beta merupakan jenis yang lebih sering terjadi.
Thalasemia terkadang dapat mengganggu aktivitas yang dijalani
penderita dikarenakan kadar oksigen yang lemah dalam tubuh. Beberapa hal
yang dapat dialami penderita adalah letih, mudah mengantuk, pingsan, hingga
kesulitan bernapas. Selain itu, thalasemia yang tidak ditangani dengan tepat
juga dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal jantung, pertumbuhan yang
terhambat, kerusakan pada organ tubuh, gangguan hati, hingga kematian.
Tes darah dapat dilakukan untuk mendiagnosis thalasemia. Namun untuk
mengetahui tipe thalasemia yang diderita, penderita harus melakukan tes
DNA.Tes darah dapat digunakan untuk mengevaluasi hemoglobin dan
mengukur jumlah zat besi yang terkandung di dalam darah. Selain itu, metode
ini juga bisa dilakukan untuk menganalisis DNA guna mengetahui apakah
seseorang memiliki gen hemoglobin yang mengalami mutasi.
Pemeriksaan pada bayi yang dilakukan saat hamil (pemeriksaan antenatal)
berguna untuk memberikan informasi yang diperlukan orang tua untuk
mempersiapkan diri. Selain itu, pemeriksaan dini juga bertujuan untuk
mengetahui keberadaan penyakit genetika lainnya (misalnya anemia sel
sabit).
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop, Alat Tulis
dan alat dokumentasi.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalat preparat Thalasemia.
f. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan

9
2. Dibersikan preparat dengan tissu kemudian amati preparat pada
mikroskop dengan perbesaran 100X lensa objektif.
3. Dicari daerah baca pada zona 4 atau zona 5
4. Diamati kelainan sel-sel eritrosit
g. HASIL
Ditemukan beberapa kelainan sel-sel eritrosit seperti kelainan ukuran, bentuk,
warna dan adanya inklusi.
h. GAMBAR

i. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat thalasemia diperoleh hasil kelainan sel-sel
eritrosit seperti makrositik, mikrositik, Lakrimosit, Pear Shaped cell,
Hipokromoik, polikromasi,

10
j. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa pada preparat Thalasemia ditemukan
kelainan-kelainan pada ukuran, warna, bentuk dan inklusi pada sel eritrosit

LAPORAN IV
PENGAMATAN SEL LEUKOSIT PADA PREPARAT

AML DAN CML

(Sabtu, 6 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan pengamatan sel leukosit dari jajaran/seri
granulosit (sel blast sampai sel tua)pada preparat AML (Acute Myelositic
Leukemia) dan CML (Cronic Myelositic Leukemia).
b. PRINSIP
Pengamatan preparat AML danCML pada perbesaran 100X lensa
objekti dengan bantuan oil imersi dan dilakukan pengamatan sel leukosit dari
jajaran/seri granulosit (sel blast sampai sel tua).
c. DASAR TEORI

11
Leukemia mielositik kronik (LMK) merupakan gangguan
meiloproliferatif klonal yang terjadi akibat transformasi neoplastik sel induk
hemopoietik primitif. Asal penyakit ini monoklonal, yang mengenai mieloid,
monositik, eritroid, megakariosit, sel B, dan kadang-kadang sel T. Sel stroma
sumsum tulang tidak terlibat.
Leukemia mieloid akut (AML) merupakan keganasan yang berasal dari
sel-sel mieloid imatur yang dapat fatal dalam beberapa bulan. Usia rata- rata
pasien saat diagnosis AML adalah sekitar 67 tahun. Penyakit ini tidak
memiliki tanda dan gejala klinis spesifik. Terapi “3 + 7” masih menjadi terapi
standar untuk menginduksi remisi dilanjutkan dengan terapi konsolidasi
untuk mencegah kekambuhan dan eradikasi residu. Walaupun pemahaman
dan molekuler AML telah berkembang, terapinya masih menjadi tantangan
mengingat masih ada kekambuhan. Terapi-terapi baru sedang dikembangkan
(Yuliana, 2017).

d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop, Alat Tulis
dan alat dokumentasi.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalat adalat preparat AML
(Acute Myelositic Leukemia) dan CML (Cronic Myelositic Leukemia).
f. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersikan preparat dengan tissu kemudian amati preparat pada
mikroskop dengan perbesaran 100X lensa objektif.
3. Dicari daerah baca pada zona 4 atau zona 5
4. Diamati sel-sel leukosit dari seri granulosit
g. HASIL
Ditemukan beberapa sel-sel leukosit dari jajaran seri granulosit yaitu blast,
promielosit, mielosit, metamielosit, batang, dan segmen.

12
Mieloblas Neutrofil segmen
Promielosit Neutrofil batang
Mielosit Neutrofil
Mielosit Eosinofil
Metamielosit Eosinofil
Segmen Eosinofil
Metamielosit Neutrofil

h. GAMBAR

13
i. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat AML (Acute Myelositic Leukemia) dan CML
(Cronic Myelositic Leukemia) diperoleh hasil beberapa sel-sel leukosit dari
jajaran seri granulosit yaitu blast, promielosit, mielosit, metamielosit, batang,
dan segmen. Kesalahan yang dapat terjadi pada praktikum ini adalah tidak
mampu membedakan sel dari jajaran granulosit dengan sel leukosit lainnya
terutama pada seri Blast, keadaan preparat yang kotor, tidak mampu
menggunakan mikroskop dengan baik dan kesalahan zona atau daerah baca
yaitu pada zona 4 atau 5
j. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa pada preparat Thalasemia ditemukan
kelainan-kelainan pada ukuran, warna, bentuk dan inklusi pada sel eritrosit

14
LAPORAN V

PENGAMATAN SEL LEUKOSIT PADA PREPARAT

ALL DAN CLL

(Minggu, 6 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan pengamatan sel leukosit dari jajaran/seri
limposit (sel blast sampai sel tua) pada preparat ALL (Acute
LymphositicLeukemia) dan CLL (Cronic Lymphositic Leukemia).
b. PRINSIP

15
Pengamatan preparat ALL dan CLL pada perbesaran 100X lensa
objekti dengan bantuan oil imersi dan dilakukan pengamatan sel leukosit dari
jajaran/seri limposit (sel blast sampai sel tua).
c. DASAR TEORI
Leukemia Limfositik Akut (LLA) adalah suatu penyakit yang berakibat
fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi
limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel
normal di dalam sumsum tulang. LLA merupakan leukemia yang paling
sering terjadi pada anak-anak. Leukemia jenis ini merupakan 25% dari semua
jenis kanker yang mengenai anak-anak di bawah umur 15 tahun. Paling sering
terjadi pada anak usia antara 3-5 tahun, tetapi kadang terjadi pada usia remaja
dan dewasa. Sel-sel yang belum matang, yang dalam keadaan normal
berkembang menjadi limfosit, berubah menjadi ganas.
CLL umumnya merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan-
lahan. Biasanya penyaki ini diderita oleh pasien berusia lanjut. Tindakan
pengobatan biasanya tergantung pada usia pasien, adanya gejala penyakit,
fase penyakit, dan kesehatan pasien secara umum. Sebagian besar pasien,
terutama mereka yang telah didiagnosis dengan penyakit stadium awal, tidak
menunjukkan gejala apa pun pada saat diagnosis dan tidak membutuhkan
terapi. Dokter mungkin akan merekomendasikan observasi (menunggu sambil
memperhatikan) dengan pemeriksaan rutin, untuk memantau kondisi
kesehatan dan kemajuan penyakit pasien dengan saksama. Tindakan
pengobatan biasanya dimulai ketika penyakit tersebut telah berkembang atau
mulai menunjukkan gejala penyakit. Pada tahap ini, pengobatan bisa
dilakukan dengan kemoterapi atau penggunaan antibodi monoklonal. Pasien
juga mungkin akan memerlukan transfusi darah atau tindakan pengobatan
pendukung apabila terjadi komplikasi seperti infeksi atau anemia (Baldy,
2005).
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop, Alat Tulis
dan alat dokumentasi.

16
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalat adalat preparat ALL
(Acute LymphositicLeukemia) dan CLL (Cronic Lymphositic Leukemia).
f. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersikan preparat dengan tissu kemudian amati preparat pada
mikroskop dengan perbesaran 100X lensa objektif.
3. Dicari daerah baca pada zona 4 atau zona 5
4. Diamati sel-sel leukosit dari seri limposit
g. HASIL
Ditemukan beberapa sel-sel leukosit dari jajaran seri limposit yaitu limpoblas
dan limposit tua.
h. GAMBAR

Limpoblas

17
Prolimposit Limposit

i. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat ALL (Acute LymphositicLeukemia) dan CLL
(Cronic Lymphositic Leukemia) diperoleh hasil beberapa sel-sel leukosit dari
jajaran seri limposit yaitu limpoblas dan limposit tua. Kesalahan yang dapat
terjadi pada praktikum ini adalah tidak mampu membedakan sel dari jajaran
granulosit dengan sel leukosit lainnya terutama pada seri Blast, keadaan
preparat yang kotor, tidak mampu menggunakan mikroskop dengan baik dan
kesalahan zona atau daerah baca yaitu pada zona 4 atau 5.
j. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa pada preparat ALL (Acute
LymphositicLeukemia) dan CLL (Cronic Lymphositic Leukemia) ditemukan
beberapa sel-sel leukosit dari jajaran seri limposit yaitu limpoblas dan
limposit tua

18
LAPORAN VI

PEMBUATAN PREPARAT SUMSUM TULANG

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat membuat preparat spread dan squash sumsum tulang serta
mengetahui bentuk fisik fragmen sumsum tulang pada sampel sumsum
tulang.
b. PRINSIP
1. Pembuatan Preparat Spread (tebar)
Preparat yang dibuat dengan cara meletakkan hasil aspirasi berupa
fragmen sumsum tulang diatas kaca objek dan kemudian digeser
menggunakan kaca penebar (spreader). Pembuatannya mirip dengan
pembuatan sediaan hapusan darah tepi atau blood film, tetapi disini
menggunakan bahan utama fragmen sumsum tulang.

19
2. Pembuatan Preparat Squash (tekan)
Preparat yang dibuat dengan cara meletakkan fragmen sumsum
tulang hasil aspirasi diatas objek, kemudian dengan kaca objek yang lain
ditekan sambil menggeser sehingga tampak gambaran inti ditengah (care)
dan daerah pinggir dari fragmen sumsum tulang
c. DASAR TEORI
BMP adalah sebuah proses pemeriksaan sumsum tulang belakang
dengan cara mengambil sedikit sampel massa dari sumsum tulang belakang
seorang pasien yang terindikasi menderita LEUKEMIA, untuk diperiksa
apakah dalam sumsum tulang tersebut terdapat sel sel kanker atau tidak. Tak
hanya sampai disitu, pemeriksaan sampel sumsum tulang juga memeriksa
secara teliti baik jumlah maupun komponen komponen yang terdapat
didalamnya hingga dapat diketahui dengan lebih akurat jika terdapat kelainan
sedikit saja pada struktur penyusun sumsum tulang belakang yang cara
pengambilannya cukup membuat takut itu.

d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah objek glass, alkohol
70%, kapas, duk, sarung tangan, kain kasa, jarum punksi, spuit 10 cc, spuit
gentle dan APD.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah hasil aspirasi
ataupun biopsi
f. CARA KERJA
1. Daerah tusukan dan sekitarnya dibersihkan dengan alkohol 70%
2. Pasang duk berlubang diaerah tususkan
3. Operator mengenakan sarung tangan steril
4. Dilakukan anastesi lokal dengan menyuntikkan Lidokain 2% subkutan
sampai periosteum di daerah tusukan sebanyak 2-5 cc
5. Jarum punksi ditusukkan sampai terasa masuk ke dalam rongga tulang
6. Stilette dikeluarkan dari jarum punksi

20
7. Dipasang spuit 10 cc pada jarum punksi, kemudian dilakukan aspirasi
sumsum tulang
8. Gerakkan sumsum tulang dalam spuit gentle
9. Kemudian alirkan di kaca objek perlahan
10. Ambil fragmen sumsum tulang
11. Buat apusan sumsum tulang di kaca obyek
12. Setelah jarum punksi dicabut, tutup bekkas tusukan dengan kain kasa
g. HASIL
Diperoleh 7 hasil pembuatan preparan Spread dan Squash.

h. GAMBAR

Squash
Spread

i. PEMBAHASAN
Pada pembuatan preparat sumsum tulang dilakukan dengan membuat 2
macam preparat sumsum tulang yaitu Sread dan Squash.Kegagalan dapat
terjadi yaitu
a. Dry tap : penghisapan kering/kososng
b. Blood tap : tidak didapat fragmen, hanya darah perifer
c. Blood dilution : didapat fragmen jumlah minim, volume darah
banyak = fragmen sumsum tulang terencerkan
darah
j. KESIMPULAN

21
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu membuat preparat
sumsum tulang yaitu preparat Squash dan Spread.

LAPORAN VII

PEWARNAAN SITOKIMIA PREPARAT SUMSUM TULANG

PENGECATAN GIEMZA

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan pengecatan giemza pada preparat sumsum
tulang dan mampu melakukan pemeriksaan preparat sumsum tulang pada
pengecatan giemza dengan menilai selulalitas, ada tidaknya megakariosit dan
melihat sel dominan.
b. PRINSIP
Pada pengecatan Giemza dilakukan penegelompokan yang bersifat
asam yang akan mengikat zat warna dasar azure methylen blue seperti asam
nukleat, protein dari inti sel dan sitoplasma primitif. Dan pengelompokan
yang bersifat basa dari molekul Hb yang akan mengikat zat warna yang
bersifat asam dan terwarnai oleh eosin. Granula dari neutrofil tecat secara

22
lemah dengan kelompok azure, Granula eosinofil mengandung derivate
spermin termasuk kelompok alkalis yang akan terwarnai kuat oleh komponen
asam. Sedangkan Granula basofil mengandung heparin yang bersifat asam
sehingga akan mengikat komponen basa dari zat warna.
c. DASAR TEORI
Pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar
sediaan terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan
Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari
morfologi darah, sel-sel sumsum dan juga untuk identifikasi parasit-parasit
darah misalnya dari jenis protozoa. Zat ini tersedia dalam bentuk serbuk atau
larutan yang disimpan di dalam botol yang gelap(Widoyo, 2005).
Zat warna yang digunakan dalam metode Romanovsky adalah Giemsa
yang sebelumnya telah diencerkan dengan aquades. Semakin lama pewarnaan
yang dilakukan maka intensitasnya menjadi semakin tua. Preparat apus yang
telah selesai dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran
100x. Gambar yang didapat dalam hasil menunjukan sel-sel butir darah baik
eritrosit, leukosit, trombosit, atau jenis parasit yang lain (Ndaru, 2012)
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Pelindung Diri,
Gelas ukur, pipet tetes, bak pengecatan, stopwatch.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah preparat Spread
sumsum tulang
f. REAGEN
Reagen yang digunakan pada praktikum ini adalah Giemza pekat, Buffer dan
Methanol.
g. CARA KERJA
1. Cara Pembuatan Giemza
Giemza Powder : 10 gram
Methanol : 660 ml
Glyserin : 660 ml

23
2. Buffer
Buffer A (KH2PO4) : 9,1 gr/L (bersifat asam)
Buffer B (Na2HPO4.2H20) : 11,9 gr/L (bersifat basa)
pH Buffer A Buffer B
6,4 73 ml 27 ml
6,6 63 ml 37 ml
6,8 50,8 ml 49,2 ml
7,0 38,9 ml 61,1 ml
7,2 28 ml 72 ml
Note : pada pengecatan Giemza preparat sumsum tulang buffer yang
digunakan adalah 6,8
3. Larutan Kerja Giemza
a. Siapkan campuran Buffer A + B (1:1) campuran ini tahan 3 hari
b. Tambahkan kedalam Buffer, Giemza pekat dengan perbandingan
Giemza pekat 1 bagian : 7 bagian Buffer. Campurkan hanya tahan 1
hari.
4. Cara Pengecatan
a. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan methanol 5-10 menit
b. Genangi dengan larutan kerja selama 20-30 menit
c. Sisa cat dibuang, cuci dengan air mengalir hingga betul-betul bersih
d. Keringkanlah udara, lalu mounting dengan EZ mount dan ditutup
deck glass.
5. Pembacaan Preparat Sumsum Tulang
a. Menilai Selulalitas
1. Letakkan preparat pada mikroskop
2. Dilihat preparat pada perbesaran 10X lensa objektif
3. Diamati fragmen pada preparat (bandingkan antara rasio sel
hemopoetik dengan lemak)
b. Melihat Ada Tidaknya Megakariosit
1. Letakkan preparat pada mikroskop
2. Dilihat preparat pada perbesaran 10X lensa objektif

24
3. Diamati preparat pada daerah baca yaitu tile
4. Kemudian pertegas sel megakariosit dengan perbesaran 100X
lensa objektif
c. Melihat Sel Dominan
1. Letakkan preparat pada mikroskop
2. Dilihat preparat pada perbesaran 10X lensa objektif
3. Diamati preparat pada daerah baca yaitu tile
4. Kemudian pertegas sel dengan perbesaran 100X lensa objektif
h. HASIL
Diperoleh hasil yaitu
a. Selulalitas :Hiperselular
b. Megakariosit : ditemukan sel Megakariosit
c. Sel dominan : ditemukan sel yang dominan adalah Sel Plasma
i. GAMBAR

Pewarnaan
Giemza

25
j. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat Spread sumsum tulang pada pengecatan
Giemza diperoleh hasil selulalitas adalah Hyperselular karena rasio sel
hemopoetik lebih banyak dibandingkan sel lemak, ini mengindikasikan
aktivitas hemopoetik di dalam sumsum tulang meningkat. Diperoleh juga
hasil ditemukannya sel Megakariosit serta ditemukan sel dominan pada
preparat sumsum tulang yaitu sel Plasma. Ditemukkan banyak sel plasma
dengan diperkuan ditemukannya sel plasma binukleoted, trinukleated dan
tetranukleated mengindikasikan pasien mengalami penyakit Multiple
Myeloma. Kesalahan-kesalahn pada pengamatan dapat disebabkan karena
pembuatan preparat yang salah, pembuatan buffer maupun larutan kerja
giemza yang tidak tepat, tidak mampu membedakan antara sel hemopoetik
dengan sel lemak, kesalahan zona/daerah baca.
k. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan pewarnaan
giemza serta mampu mengamati preparat sumsum tulang hasil pewarnaan
giemza dengan hasil yang ditemukan adalah Hiperselular, ditemukannya sel
Megakariosit dan sel dominan berupa sel Plasma.

26
LAPORAN VIII

PEWARNAAN SITOKIMIA PREPARAT SUMSUM TULANG

PENGECATAN SUDAN BLACK B (SBB)

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Untuk mewarnai sel-sel dari jajaran/seri granulosit serta mahasiswa
mampu mengetahui cara pewarnaan Sudan Black B.
b. PRINSIP
Sudan Black B dalam ethanol akan mengecat phospholipid yang
terdapat dalam leukosit berwarna coklat kehitaman.
c. DASAR TEORI
Dasar pewarnaan sudan black B adalah pewarnaan lemak. Pewarnaan
ini dipakai untuk mewarnai granula netrofil karena membran granula
neutrofil mengandung fosfolipid. Ada korelasi antara sudanfilia dengan
aktivitas mieloperoksidase, mungkin hal ini disebabkan oleh pewarnaan
lemak pada granula oleh sudan black B sedangkan mieloperoksidase terdapat
didalam granula atau zat warna itu bereaksi melalui ativitas enzim
(Reiteret al, 1992).
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Pelindung Diri,
Gelas ukur, pipet tetes, bak pengecatan, stopwatch.
e. BAHAN

27
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah preparat Spread
sumsum tulang.
f. REAGEN
1. Larutan A
Phenol : 12 gr
Ethanol 70% : 25 ml
2. Larutan B
Na2HPO4.2H2O : 0,225 gr
Aquadest : 75 ml
3. Larutan C
Sudan Black B : 0,24 gr
Ethanol 70% : 150 ml
g. CARA KERJA
1. Larutan Kerja
a. Campurkan larutan A + B (1:1) lalu tambahkan larutan C, 3 bagian
b. Campuran ini harus netral atau sedikit alkalis
2. Cara Pengecatan
a. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan uap formalin dalam
staning jar selama 5-10 menit
b. Rendam preparat dengan larutan kerja dalam petri tertutup selama 30
menit.
c. Buang sisa cat, rendam dengan alkohol 70% selama 2 menit sambil
digoyang-goyang
d. Cuci dengan air mengalir, lakukan counter stain dengan safranin 1%
selama 10-30 detik
e. Cuci dengan air mengalir, keringkan (jangan di mounting)
3. Pembacaan Preparat Sumsum Tulang
a. Preparat yang sudah kering diletakkan diatas meja preparat
b. Ditetesi oil imersi kemudian diamati pada perbesaran 100X lensa
objektif

28
c. Sel granulosit yang bereaksi positif dengan Sudan Black B akan
menunjukkan sel dengan dasar sel berwarna merah dengan granula
hitam sedangkan sel non granula akan berwarna merah.
h. HASIL
Diperoleh hasil yaitu predominan Sudan Black B negatif
i. INTEPRETASI
1. Seri granulosit : blas positif setempt, makin tua makin banyak
2. Seri monosit : seperti seri granulosit, tetapi dengan granula yang
lebih besar sehingga sulit dibedakan dengan promielosit
3. Seri limposit : negatif
4. Seri eritrosit : negatif
5. Seri plasmosit : negatif
j. GAMBAR

Pewarnaan SBB

29
Keterangan :

a. Sel yang bereaksi positif terhadap SBB


b. Sel yang bereaksi negatif terhadap SBB

k. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat Spread sumsum tulang pada pengecatan
Sudan Black B diperoleh hasil predominan negatif karena setiap Lapang
Pandang diperoleh dominan sel yang bereaksi negatif terhadap SBB
dibandingkan sel yang bereaksi posistif terhadap SBB. Kesalahan-kesalahn
pada pengamatan dapat disebabkan karena pembuatan preparat yang salah,
pembuatan larutan kerja SBB yang tidak tepat, tidak mampu membedakan
antara sel yang bereaksi positif dengan negatif terhadap Sudan Black B,
kesalahan zona/daerah baca.
l. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan pewarnaan
SBB serta mampu mengamati preparat sumsum tulang hasil pewarnaan SBB
dengan hasil predominan negatif

30
LAPORAN IX
PEWARNAAN SITOKIMIA PREPARAT SUMSUM TULANG

PENGECATAN Fe/ PERL’S STAIN

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa mampu mengetahui cara pewarnaan Fe serta untuk
mengetahui produksi atau kandungan Fe pada fragmen sumsum tulang.
b. PRINSIP
Ion Ferri dalam hemosiderin mengubah Ferrocyanida yang berwarna
kuning dan mudah larut dalam larutan asam menjadi suatu endapan
(presipitat) Ferri Ferrocyanida yang berwarna biru (Reaksi Perl).
c. DASAR TEORI
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi
mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai

31
ekonomis yang tinggi. Besi telah ditemukan sejak zaman dahulu dan tidak
diketahui siapa penemu sebenarnyadari unsur ini. Pengecatan sitokimia untuk
eritrosit dipakai untuk mendeteksi adanya free iron, derivet hemaglobin dan
enzime metabolik sitoplasmik tertentu didalam eritrosit, sedangkan terhadap
trombosit pengecatan sitokimia dipakai untuk mendeteksi platelet peroxidase
reaction yang terdapat didalam retikulum endoplasmik dan membran inti
megakariosit muda atau yang sudah matur .
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Pelindung Diri,
Gelas ukur, pipet tetes, bak pengecatan, stopwatch.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah preparat Spread
sumsum tulang
f. REAGEN
Reagen yang digunakan pada praktikum ini adalah HCl 1 N, K Ferrocyanida
4%, Methanol, HCl 20%
g. CARA KERJA
1. Cara Pengecatan
a. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan methanol 5-10 menit
b. Tuangkan ½ bagian Hcl 1N ke dalam staining jar dan masukkan
kedalam water bath 56°C selama 10 menit.
c. Tambahkan ½ bagian K Ferrocyanida 4% ke dalam staining jar
d. Masukkan preparat yang sudah difiksasi hingga terendam semua
e. Biarkan selama 10-20 menit dalam water bath 56°C
f. Bilas dengan air mengalir ½ - 1 menit
g. Lakukan counter stain dengan safranin 1% 10-30 detik
h. Cuci dengan air mengalir dan keringkan
2. Pembacaan Preparat Sumsum Tulang
a. Preparat yang sudah kering diletakkan diatas meja preparat
b. Dilihat fragmen pada perbesaran 10X lensa objektif

32
c. Ditetesi oil imersi kemudian diamati pada perbesaran 100X lensa
objektif
d. Diamati pecahan fragmen apkah terdapat warna biru keunguan.
h. HASIL
Diperoleh hasil yaitu penyimpanan besi pada sumsum tulang adalah positif 1.
i. INTEPRETASI
1. 0 : tidak ada besi/ negatif
2. 1+ : partikel besi terlihat kecil dengan objektif 100X
3. 2+ : partikel besi terlihat kecil dengan perbesaran kecil
4. 3+ : partikel besi kecil-kecil dengan jumlah banyak
5. 4+ : partikel besi lebih besar sampai membentuk agregat
6. 5+ : agregat bergerombol dari besi
7. 6+ : agregat bergerombol besar menutupi gambaran selularitas

j. GAMBAR

k. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat Spread sumsum tulang pada pengecatan Fe
diperoleh hasil positif 1 dimana partikel besi terlihat keci dengan objektif
100X lensa objektif. Kesalahan-kesalahn pada pengamatan dapat disebabkan
karena pembuatan preparat yang salah, pembuatan larutan kerja yang tidak
tepat, tidak mampu membedakan antara sel yang bereaksi positif , kesalahan
zona/daerah baca.
l. KESIMPULAN

33
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan pewarnaan Fe
serta mampu mengamati preparat sumsum tulang dengan hasil pengecatan Fe
positif 1

LAPORAN X

PEWARNAAN SITOKIMIA PREPARAT SUMSUM TULANG

PENGECATAN LEPEHNE

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa mampu mengetahui cara pewarnaan Lepehne serta untuk
mengetahui melihat sel-sel dari seri atau jajaran eritrosit.
b. PRINSIP
Pengecatan Lepehne menggunakan 2 tingkat cat dimana reagent
Lepehne akan mewarnai sitoplasma dari sel eritrosit yang akan berwarna biru
dan Giemza akan mewarnai inti dari sel eritrosit yang akan berwarna
ungu/biru dan akan mewarnai semua sel-sel darah dari semua seri/jajaran sel.
Kontrol pembanding yang digunakan adalah sel eritrosit tua.
c. DASAR TEORI

34
Sebuah pewarnaan selektif hemaglobin dalam seri eritroid di capai
dengan mengunakan metode benzidine, pewarnaan ini mereaksikan kedua
reagen benzidine dan peroksidase dan akan mengahasilkan warna hijau.
Pewarnaan lepehne mewarnai jajaran eritrosit yang ditandai dengan granula
berwarna hijau metalik dan sebgai pembandingnya adalah eritrosit tua yang
kebanyakan penderita leukemia dan thalasemia. Lephene akan memberikan
warna hijau terang pada sitoplasma seri eritrosit, reagen lephene yang terdiri
dari larutan benzidine 0,6% dalam ethanol 96% sebanyak2 ml. Kemudian 0,5
ml perhidrol 30% dalam 4,5 ml ethanol 70%, metahol , giemsa sebagai
larutan kerja()
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Pelindung Diri,
Gelas ukur, pipet tetes, bak pengecatan, stopwatch.
e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah preparat Spread
sumsum tulang
f. REAGEN
Reagen yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai beriku :
1. Reagen Lepehne
Larutan benzedine 0,6% dalam ethanol 96% sebanyak 2 ml
0,5 ml perhidrol 30% dalam 4,5 ml etanol 70%
Methanol
2. Giemza (larutan kerja)
g. CARA KERJA
1. Cara Pengecatan
a. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan methanol selama 5-10
menit
b. Rendam dengan reagen lepehne selama 10 menit
c. Cuci dan keringkan
d. Rendam dengan cat giemza (larutan kerja) 15-20 menit
e. Cuci dan keringkan.

35
2. Pembacaan Preparat Sumsum Tulang
a. Preparat yang sudah kering diletakkan diatas meja preparat
b. Dilihat lapang pandang pada perbesaran 10X lensa objektif
c. Ditetesi oil imersi kemudian diamati pada perbesaran 100X lensa
objektif
d. Diamati sel-sel yang berinterasi positif dan negatif terhadap lepehne
dengan membandikannya kontrol yaitu sel eritrosit tua.
h. HASIL
Diperoleh hasil yaitu penyimpanan besi pada sumsum tulang adalah
predominan negatif.
i. INTEPRETASI
Lepehne akan memberikan warna hijau terang pada sitoplasma seri eritrosit

j. GAMBAR

Pewarnaan Lepehne

k. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat Spread sumsum tulang pada pengecatan
Lepehne diperoleh hasil predominan negatif karena setiap Lapang Pandang
diperoleh dominan sel yang bereaksi negatif terhadap Lepehne dibandingkan
sel yang bereaksi posistif terhadap Lepehne. Kesalahan-kesalahn pada
pengamatan dapat disebabkan karena pembuatan preparat yang salah,
pembuatan larutan kerja Lepehne yang tidak tepat, tidak mampu

36
membedakan antara sel yang bereaksi positif dengan negatif terhadap
Lepehne, kesalahan zona/daerah baca.
l. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan pewarnaan
Lepehne serta mampu mengamati preparat sumsum tulang dengan hasil
pengecatan Lepehne adalah predominan negatif

LAPORAN XI

PEWARNAAN SITOKIMIA PREPARAT SUMSUM TULANG

PENGECATAN PERIODIC ACID SCHIFF (PAS)

(Sabtu, 12 Mei 2018)

a. TUJUAN
Mahasiswa mampu mengetahui cara pewarnaan PAS serta untuk
mengetahui melihat sel-sel dari seri atau jajaran limposit.
b. PRINSIP
Pengecatan PAS berguna untuk mengenali sel-sel jajaran Limposit yang
mengandung glikogen. Reaksi yang terjadi adalah oksidasi glikogen oleh
asam periodat (Periodic Acid) menjadi Aldehida dan bereaksi dengan reagen
Schiff yang menyusun warna merah.
c. DASAR TEORI

37
Pengecatan sitokimia dapat dilakukan baik terhadap eritrosit, leukosit
maupun trombosit. Pegecatan terhadap eritrosit dilakukan untukmembedakan
serta menentukan berbagai jenis anemia, sedangkan terhadap leukosit
terutama untuk kepentingan diagnosa leukemia akut dan terhadap trombosit
bila iperlukan pada kasus khusus yang mengenai megakariosit. Pulasan ini
sangat berguna untuk menegenali sel-sel dalam jajaran limfosit yang
mengandung glikogen. Reaksi yang terjadi adalah oksidasi glikogen oleh
periodat (periodic acid) menjadi aldehida kemudian aldehida bereaksi dengan
reagean schiff dengan menyusun warna merah. Singkatan PAS umum dipakai
sebagai singkatan periodic acid-shiff ().
d. ALAT
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Pelindung Diri,
Gelas ukur, pipet tetes, bak pengecatan, stopwatch.

e. BAHAN
Bahan yang dapat digunakan dalam praktikum ini adalah preparat Spread
sumsum tulang
f. REAGEN
Reagen yang digunakan pada praktikum ini adalah Kristal Formalin, Larutan
Periodic Acid, Larutan Schiff, Larutan Hematoxylin.
g. CARA KERJA
1. Cara Pengecatan
a. Preparat yang sudah kering difiksasi dengan uap formalin 10 menit
b. Rendam dengan Periodic Acid selama 30 menit
c. Buang cat, cuci dengan air mengalir selama 10 menit selama 10
menit, bilas dengan aquadest
d. Rendam dengan larutan schiff selama 30 menit
e. Buang cat, cuci dengan air mengalir sampai betul-betul bersih selama
15 menit.
f. Rendam dengan Hematoxylin selama 10 menit

38
g. Buang cat, cuci dengan air mengalir selama 10 menit
h. Preparat dikeringkan kemudian dimounting dengan EZ mounting di
tutup dengan cover glass
2. Pembacaan Preparat Sumsum Tulang
a. Preparat yang sudah kering diletakkan diatas meja preparat
b. Dilihat lapang pandang pada perbesaran 10X lensa objektif
c. Ditetesi oil imersi kemudian diamati pada perbesaran 100X lensa
objektif
d. Diamati sel-sel yang berinterasi positif dan negatif terhadap PAS
h. HASIL
Diperoleh hasil yaitu penyimpanan besi pada sumsum tulang adalah
predominan negatif.
i. INTEPRETASI
Terlihat granula merah tua kasar pada sitoplasma Limfoblast

j. GAMBAR

Pewarnaan PAS

k. PEMBAHASAN
Pada pengamatan preparat Spread sumsum tulang pada pengecatan PAS
diperoleh hasil predominan negatif karena setiap Lapang Pandang diperoleh
dominan sel yang bereaksi negatif terhadap PAS dibandingkan sel yang
bereaksi posistif terhadap SBB. Kesalahan-kesalahn pada pengamatan dapat
disebabkan karena pembuatan preparat yang salah, pembuatan larutan kerja

39
PAS yang tidak tepat, tidak mampu membedakan antara sel yang bereaksi
positif dengan negatif terhadap Lepehne, kesalahan zona/daerah baca
l. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan pewarnaan
Lepehne serta mampu mengamati preparat sumsum tulang dengan hasil
pengecatan Lepehne adalah predominan negatif

40