Anda di halaman 1dari 9

Ibadah dan pembinaan akhlak

Ibadah yang diwajibkan di dalam ajaran Islam bukan sekedar


praktek-praktek ritual tanpa makna yang akan menyambungkan
hubungan dengan Allah dan membangun hubungan yang baik dengan
1esame manusia dan makhluk lain, akan tetapi merupakan latihan-
latihan rutin untuk membiasakan manusia hidup dengan tatanan
akhlak yang benar dan senantiasa berpegang teguh dengan tatanan
akhlak tersebut meskipun situasi dan kondisi kehidupan mengalami
perubahan (Ibid, 117). Hal ini dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan
al-Quran dan al-Hadis yang senantiasa menghubungkan antara ibadah
dengan realisasi akhlak yang mulia.
Shalat yang merupakan ibadah harian pertama dalam kehidupan
muslim memiliki fungsi yang agung untuk membangun kepribadian
beragama (Al-Qardlawi, 1996:78). Allah berfirman:

)45 ‫ إن الصالة تنهى عن الفخشاء والمنكر (العنكبوت‬،‫وأقم الصالة‬


Artinya:”Dan tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah
dari perbuatan keji dan munkar” (Q.S. al-Ankabut []: 45)
Inilah sebenarnya hakekat shalat, yakni menjauhkan manusia
dari sifat dan sikap yang tercela dan membersihkan diri dari perbuatan
dan perkataan yang tidak terpuji.
Zakat yang diwajibkan bagi orang muslim yang mampu bukan
sekedar pungutan pajak yang diambil dari orang yang kaya lalu
diberikan kepada orang yang fakir dan miskin, akan tetapi di dalamnya
ada makna pembinaan akhlak yang tinggi yakni untuk menanamkan
perasaan kasih dan 1esame antar manusia, membangun tali
persaudaraan, dan merupakan sarana pembersihan diri dari sifat-sifat
yang tidak terpuji. Allah berfirman:

)103 ‫خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها (التوبة‬


Artinya:”Ambillah dari harta-harta mereka sedekah yang mensucikan
dan membersihkan diri mereka” (Q.S. al-Taubah []:103)
Dalam zakat ada latihan untuk rela berkorban demi kepentingan
orang lain, dan penyadaran bahwa hidup ini tidak bisa dilalui tanpa
bantuan dan pertolongan orang lain. Saat ini orang mungkin tidak
membutuhkan bantuan orang lain karena kekayaan yang dimiliki, tapi
pada saat lain mungkin ia akan membutuhkan pertolongan orang lain.
Karena itu di saat ia mampu memberikan sesuatu kepada orang lain,
Islam mewajibkan agar ia rela mengorbankan sebagian miliknya kepada
orang lain. Dari sinilah kemudian solidaritas 2esame akan tercipta dan
kesenjangan 2esame akan dapat dihindari.
Puasa yang merupakan kewajiban tahunan juga tidak alpa dari
pembinaan akhlak. Hakekat puasa bukan sekedar mencegah diri dari
makan, minum, dan berhubungan seksual dengan suami atau istri
sebagaimana difahami oleh banyak orang, akan tetapi hakekat puasa
adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan iman dan
keutamaan takwa (Saltut, 1960: ). Ayat berikut menunjukkan hal ini:

‫ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتبب علبى البذين مبن قببلكم لعلكبم تتقبون (البقبرة‬
)183
Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu
agar kamu bertakwa” (Q.S. al-baqarah [2]:183)
Ayat di atas dimulai dengan menyebut iman dan diakhiri dengan
menyebut taqwa, baru ditengah-tengahnya ada perintah berpuasa.
Susunan redaksi yang demikian menunjukkan dengan jelas bahwa
antara puasa diwajibkan tidak sekedar mencegah orang untuk tidak
melakukan hal-hal yang dilarang dalam puasa, akan tetapi ada maksud
utamanya yakni mempersiapkan diri untuk bertakwa yang merupakan
kumpulan dari akhlak yang mulia.
Oleh sebab itu ibadah-ibadah dalam Islam yang tidak memiliki
makna-makna di atas dan tidak mampu mewujudkan tujuan-tujuan
tersebut, sebenarnya telah kehilangan fungsi utamanya dan hany
menjadi badan dan jiwa (Ibid. 89). Karena itu Rasulullah menyatakan:
“Barang siapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari berbuat
mungkar, maka sama saja dengan tidak shalat”
“Banyak orang yang shalat malam, akan tetapi yang didapat hanyalah
begadang”
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan perbuatan
buruk, maka tidak ada kebutuhan Allah dalam hal ia meninggalkan
makanan dan minumannya” (H.R. al-Bukhari)
“Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum, akan tetapi
puasa adalah (menahan diri) dari perbuatan yang tidak berguna dan
keji. Apabila ada seseorang menghinamu atau berbuat jahil kepadamu,
maka 3esame33: sesungguhnya saya berpuasa” (H.R. Ibnu Huzaimah)
Dan dalam hadis lain disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata
kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang wanita
disebutkan shalatnya banyak, puasanya banyak, sedekahnya banyak,
hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lesannya”, maka Rasulullah
Saw. Bersabda: “Ia di neraka”, kemudian laki-laki tadi menanyakan:
Wahai Rasulullah seorang wanita disebutkan sedikit shalatnya, sedikit
puasanya, dan ia bersedekah hanya dengan sepotong keju tetapi ia tidak
menyakiti teangganya”, maka Rasulullah bersabda: “Ia di sorga” (H.R.
Ahmad)
Hadis yang terakhir ini memberikan petunjuk secara jelas bahwa
ibadah yang tidak melahirkan akhlak yang mulia tidak memiliki manfaat
apaun meskipun secara kuantitas banyak dilakukan. Akan tetapi sedikit
ibadah yang penuh dengan penghayatan dan melahirkan akhlak yang
mulia akan banyak memberikan manfaat bagi pelakunya. Dari sini maka
Islam tidak sekedar melihat sisi kuantitas ibadah, akan tetapi yang lebih
penting adalah sisi kualitas ibadah itu. Ibadah yang baik adalah yang
memperhatikan sisi kuantitas namun disertai dengan kualitas,
menggabungkan antara formalitas ibadah dengan esensi yang menajdi
tujuan ibadah itu.
Dengan memperhatikan urgensi akhlak dalam kehidupan
manusia, maka Islam menetapkan profil manusia yang harus diteladani
didasarkan pada keluhuran akhlak. Hal ini tampak dengan jelas ketika
Allah menyatakan Rasulullah Saw. Sebagai teladan bagi orang yang
beriman dalam satu ayat, dan di ayat yang lain menyebut Rasulullah
sebagai manusia yang berakhlak yang tinggi. Allah berfirman:

‫لقد كان لكم في رسول هللا أسوة حسنة لمن كان يرجو هللا واليوم اآلخر وذكر هللا كثيرا‬
Artinya:”Sungguh ada dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi
kamu sekalian, (yakni) bagi mereka yang mengharapkan (balasan) Allah
dan hari Kiamat dan banyak ingat keapda Allah” (Q.S. )

‫وإنك لعلى خلق عظيم‬


Artinya:”Sesungguhnya kamu benar-benar pada akhlak yang agung”
Hal serupa juga dinyatakan oleh Rasulullah Saw. Dalam hadisnya:

‫أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا‬


Artinya:”Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang
paling baik akhlaknya”.
Inilah mengapa kalau kita memperhatikan 4esam-ciri kepribadian
orang yang beriman dan utama di dalam al-Quran selalu disebutkan
akhlak-akhlak yang mulia. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’
Ulumuddin menyebutkan tanda-tanda akhlak yang mulia terangkum
dalam beberapa ayat berikut:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-
orang yang khusu’ dalam shalatnya. Dan orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang
yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang
mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat (yang dipikulnya) dan
janji-janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka
itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi
5esam Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Q.S. al-Mukminun [23]:1-10)
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yuang beribadat, yang
memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang sujud, dan menyuruh
berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar, dan yang memelihara
5esam-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu” (Q.S.
al-taubat [9]:112)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang
apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan keapda mereka ayat-ayat Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya) dan keapda Tuhan mereka bertawakkal. (Yaitu) otang-orang
yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami
berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benarnya” (Q.S. al-Anfal [8]:2-4)
“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu
(adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-
kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam
hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang
yang berkata:’Ya Tuhan kami, jauhkanlah dari kami azab jahannam,
sesungguhnya azabnya itu kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya
Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan
orang-orang yang apabiula membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-
lebihan dan tidak pula kikir akan tetapi di tengah-tengah antara yang
demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain
beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) kecuali dengan (5esame5) yang benar, dan tidak berzina.
Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat
(pembalasan) dosa (nya). (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya
pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan
terhina. Kecuali orang-orang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
shaleh, maka kejahatan diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah
Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat
dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat
kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang
yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu
dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang
yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka
tidaklah mengahadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan
orang-orang yang berkata:’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa’.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam
6esam) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan
penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya” (Q.S. al-Furqan [25]: 63-
75).
Ayat-ayat di atas secara singkat dapat disimpulkan bahwa akhlak
yang mulia itu tercermin dalam sikap-sikap baik yang dilakukan dalam
interaksi dengan Allah dan dalam interaksi dengan 6esame manusia. Ia
menyangkut persoalan individual manusia dan persoalan sosialnya.
Dari uraian-uraian di atas dapatlah kita menarik kesimpulan
bahwa akhlak memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Akhlak dalam Islam merupakan inti ajaran yang harus
diwujudkan dalam segala aktifitas kehidupan muslim baik dalam
akidah, ibadah, maupun muamalah. Pembinaan akhlak yang mulia
dapat dilakukan dengan cara melatih dan membiasakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan akhlak mulia kehidupan manusia akan
mencapai kemakmuran dan kebahagiaan, begitu pula sebaliknya tanpa
akhlak yang mulia kehidupan manusia akan mencapai kehancuran dan
malapetaka. Oleh sebab itu setiap muslim harus selalu berusaha untuk
menjadikan dirinya sebagai pribadi-pribadi yang selalu menjunjung
tinggi akhlak yang mulia dalam seluruh aktifitas kehidupannya.

Akidah dan pembinaan akhlak yang mulia

Akidah yang merupakan fondasi utama dalam berislam selalu


mengajak kepada kebaikan dan keluhuran akhlak. Apabila ia telah
meresap dan menjadi kuat dalam diri manusia akan lahirlah sifat-sifat
yang mulia. Oleh sebab itu di dalam al-Quran maupun Hadis kita selalu
menemukan hubungan yang sangat erat antara akidah dengan
pembinaan akhlak yang mulia. Hal ini dapat kita lihat misalnya dalam
ayat dan hadis-hadis berikut. Allah berfirman:

‫إنما المؤمنون الذين إذا ذكر هللا وجلت قلوبهم وإذا تليت علبيهم آياتبز داهتهبم إيمانبا وعلبى‬
‫ربهببم يتوكلببونذ الببذين يقيمببون الصببالة وممببا ردقنبباهم ينفقببونذ أولقببك هببم المؤمنببون حقببا‬
)4-2 ‫(األنفال‬
Artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang
apabila disebut (nama) Allah hatinya bergetar, dan apabila dibacakan
kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah imannya, dan mereka
bertawakkal keapda Allah. Dan mereka yang menegakkan shalat dan
mengeluarkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka
itulah orang-orang yang benar-benar beriman” (Q.S. al-Anfal []: 2-4)
Dalam ayat tersebut Allah menunjukkan bahwa di antara ciri
utama orang-orang yang beriman adalah terwujudnya sikap-sikap mulia
berikut:
1) Perasaan takut (khauf) bercampur cinta (7es) kepada Allah. Hal ini
sebagaimana digambarkan dalam ayat “apabila disebut (nama) Allah
bergetarlah hatinya”. Getaran hati yang ada dalam diri orang yang
beriman dapat berasal dari rasa cintanya kepada Allah setelah
mampu mengenali Allah dengan segala kesempurnaan Nya, atau
karena rasa takut kepada Allah karena menyadari kekurangannya
dalam mentaati Allah. Rasa cinta yang menggetarkan hati dapat
diibaratkan dengan seorang perjaka yang mencintai seorang gadis,
baru disebutkan namanya saja hatinya sudah deg-degan, sementara
rasa takut dapat diibaratkan dengan seorang murid yang tidak
mengerjakan tugas yang diberikan oleh seorang guru yang sangat
disiplin, baru dikabarkan kedatangannya saja ia sudah merasa takut
dengan hukuman yang akan diperoleh.
2) Mudah menerima kebenaran. Hal ini digambarkan dalam ayat
”apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambahlah imannya”. Ayat-
ayat Allah yang dimaksud dapat berupa ayat-ayat qauliyah (firman
Allah dalam al-Quran) atau ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda
kebesaran Allah dalam alam semesta). Orang yang beriman dengan
memperhatikan ayat-ayat Allah tersebut akan semakin yakin
terhadap Allah dan kebenaran ajarannya.
3) Bertawakkal kepada Allah. Hal ini dapat difahami dari ayat “dan
mereka bertawaakkal keapda Allah” yakni menyerahkan sepenuhnya
urusan kehidupannya keapda Allah setelah menempuh sebab-sebab
yang harus dilalui guna mencapai keberhasilan urusan tersebut.
Sikap seperti ini lahir dari rasa yakin yang mendalam terhadap
ketentuan-ketentuan dan jaminan-jaminan Allah dalam kehidupan
ini.
4) Mudah melakukan kebaikan dan ketaatan baik secara individual
maupun 8esame. Hal ini dapat difahami dari ayat “mereka yang
mendirikan shalat dan mengeluarkan sebagian rizki yang Kami
berikan kepadanya”. Orang-orang yang beriman tidak merasa berat
untuk melakukan hal-hal yang akan membawa kebaikan baik dalam
hubungan dengan Allah (8esame88) maupun dalam hubungannya
dengan 8esame makhluk (horizontal).
Dari sini tampak jelas ada hubungan antara akidah dan
pembinaan akhlak yang mulia. Akidah yang benar harus membuahkan
sikap dan perilaku atau akhlak yang mulia. Penegasan tentang hal ini
lebih lanjut dapat disimak dari beberapa hadis Rasulullah Saw.:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya menghormati
tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya
tidak menyakiti tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir hendaknya berkata yang baik atau diam”
“Tidaklah beriman salah satu dari kamu sekalian sebelum ia mencintai
saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
“Dua hal yang tidak dapat berkumpul dalam diri orang yang beriman:
kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk”
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya”
Hadis-hadis di atas memberikan penguatan lebih lanjut tentang
arti pentingnya perwujudan akhlak yang mulia sebagai implementasi
akidah (iman) yang benar. Bahkan dalam satu hadis di atas dinyatakan
bahwa tidaklah dianggap beriman kalau manusia belum mampu
melahirkan sikap-sikap yang terpuji dan menghilangkan sikap-sikap
yang tidak terpuji. Gambaran tentang iman yang paling sempurna
sebagaimana ditunjukkan dalam salah satu hadis di atas adalah
manakala pemilik iman itu mampu menjelmakan diri sebagai orang yang
paling baik akhlaknya.