Anda di halaman 1dari 21

Pengertian Misiologi

Istilah misiologi berasal dari kata latin “missio” artinya pengutusan. Dalam bahasa
Inggris/Jerman/Perancis: Mission. Dalam bahasa Inggris bentuk tuggal Mission berarti
karya Allah atau tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Sedangkan bentuk
jamak Missions artinya pelaksanaan pekerjaan itu atau tindakan nyata pengutusan itu.

Dalam hubungan dengan misiologi dibicarakan berturut-turut:


Missio Ecclesiae = Pengutusan gereja (pekerjaan missoner dari jemaat Kristen
sepanjang sejarah dunia)
Missio Apostolorum = Pengutusan para rasul
Missio Christi = Pengutusan Kristus dalam arti: band. Yoh. 20:21

a. Kristus mengutus murid-muridNya.


b. Kristus diutus Allah

Missio Dei = keseluruhan pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia: Pemilihan


Israel, pengutusan para nabi kepada Israel dan kepada bangsa-bangsa sekitarnya,
pengutusan Kristus kepada dunia, pengutusan rasul-rasul dan pekabar-pekabar Injil
kepada bangsa-bangsa. Allah adalah Pengutus Agung.

Dari kata dasar missio, kita kenal juga istilah missionaris/missionary = utusan Injil
Dan kata sifat missionary = misioner artinya berwujud/bersifat/bersikap Pekabaran
Injil.

Sejarah Pemikiran tentang kegiatan misioner dari Gereja

Abad2 pertama:
Belum ada teori PI yang ilmiah dan bulat. Kita hanya menemukan beberapa
pertimbangan mengenai nisbah Gereja dan (filsafat) kekafiran dalam buku-buku
Apologet seperti Tertulianus, atau mengenai hubungan Gereja dengan agama Yahudi
seperti dituliskan Yustinus Martyr. Demikian juga bapa gereja Augustinus
membentangkan hubungan Gereja dengan Negara dan Gereja dengan kebudayaan
dalam bukunya

Abad2 pertengahan:
Thomas Aquinas, biarawan Dominikan mengarang Summa contra gentiles (ajaran
melawan orang kafir), menguraikan pendekatan kepada orang kafir dan Muslim, oleh
karena kedua golongan itu tidak mengakui Perjanjian Baru, sama seperti orang Yahudi
dan Perjanjian Lama seperti para bidat.
Raymundus Lulus juga Dominikan, sangat giat dalam PI kepada orang Yahudi dan
Muslim.
Thomas a Yesu mengarang buku dan membahas berturut-turut hubungan dengan
mazab, bidat, orang Yahudi, orang Islam dan orang kafir.

Zaman Reformasi:
Para reformator tidak atau hanya sedikit berminat kepada pekabaran Injil, apalagi
memikirkannya secara ilmiah. Bahkan ada teologiawan Lutheran (a.l Yohann Gerhard)
yang berpendapat bahwa sehabis jaman rasuli pekabaran injil bukan lagi diwajibkan
kepada Gereja. Memang ada pengecualian bagi para tokoh baik dari calvinis maupun
Lutheran.

Zaman Pietisme:
Banyak tokoh yang mengarang banyak sekali tentang pekabaran Injil, tetapi karangan-
karangan mereka lebih bersifat alkitabiah-metodis dari pada teoritis-ilmiah.

Zaman modern:
Pada tahun 1972 William Carey dijuluki “the father of the modern missions”. Pada
akhir abad ke 19 misiologi menjadi mata pelajaran tersendiri. Maha guru PI yang
pertama ialah Alexander Duff di Eidenburgh. Banyak buku-buku PI ditulis, juga laporan-
laporan dari konferensi2 besar di lapangan PI menyediakan bahan untuk misiologi.
Akhirnya juga majalah2 di bidang PI menyumbangkan banyak bahan pemikiran untuk
ilmu PI.

Dasar Alkitabiah

Perjanjian Lama
Sudah barang tentu dalam Perjanjian Lama belum terdapat penugasan yang tegas
untuk melakukan pekabaran ke luar terhadap segala bangsa. Yang diutamakan dalam
Perjanjian Lama adalah pemilihan Israel dan hubungan Israel dengan bangsa-bangsa.
Ada tiga aspek dari pemilihan Israel yakni aspek universlisme, aspek eschatologis dan
aspek mesianis.

1. Universalisme

Sejak halaman-halaman pertama Kitab Suci kita sudah diperhadapkan dengan


perbuatan-perbuatan Allah terhadap seluruh dunia. Ia bertindak universal. Kisah
penciptaan langit dan bumi dan penempatan manusia di dalamnya merupakan
prasejarah bagi Israel, dan serentak pula prasejarah bagi sejarah keselamatan untuk
seluruh dunia. Kejadian fasal 1 s/d 11 adalah pendahuluan dan latar belakang dari
sejarah Israel selanjutnya. Perhatian diarahkan kepada segenap umat manusia. Janji
yang mendahului: Firdaus, persekutuan dengan Allah, damai di bumi, berkat dan
perjanjian Allah untuk segala mahkluk yang ada di bumi (Kej.9), penyebaran bangsa-
bangsa di seluruh bumi (Kej.10). Tetapi prasejarah ini juga memperlihatkan bagaimana
kejahatan merembes masuk ke dalam dunia. Yang salah manusia maka Allah
menghukum manusia pula. Juga keseluruhan umat manusia, segala bangsa atau
oikumene yang masih satu bahasanya (11:1) memperlihatkan sikap kecongkakan
dengan merencanakan pembangunan sebuah kota dengan sebuah menara “yang
puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke
seluruh bumi” (11:4). Sikap yang demikian itu dijatuhi hukuman Tuhan yakni
penyerakan segala bangsa ke seluruh dunia. Kehidupan bangsa-bangsa diartikan oleh
nama Babel yang artinya kekacauan (11:9).

Keadaan yang demikianlah yang menjadi latar belakang pemanggilan Abraham


(Kej.12). Ia dipanggil untuk pergi dari sanak saudaranya, meninggalkan dunia orang
kafir; Tuhan yang memanggil berjanji bahwa ia akan menjadi berkat (12:2-3)
Keselamatan Israel tergantung dari ketaatan kepada pemanggilan dan pemilihan oleh
Allah. Tetapi keselamatan bangsa-bangsa juga bergantung dari sikap mereka terhadap
Israel (Abraham): “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan
mengututuk orang-orang yang mengutuk engkau. Jadi Abraham tidak menghadapi
tugas misioner, melainkan dengan dia Tuhan Allah membuka fasal baru dalam sejarah
dunia, sejarah bangsa-bangsa, sejarah keselamatan. Abraham seumpama alat
penyelamat seisi dunia. Rencana Allah semula bersifat universal, dan rencana itu di
kacaukan oleh manusia. Sekarang Tuhan akan bertindak dari satu pusat Sion menjadi
lawan kata Babel. Allah bertitik tolak dari Abram, sebab itu Allah tidak malu disebut
Allah mereka (Ibr 11:16). NamaNya diikatkanNya kepada nenek moyang Israel: Allah
Abraham, Allah Iskak dan Allah Yakub.

Israel akan menjadi kerajaan iman dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6). Bangsa yang
kudus berarti bangsa yang diistimewakan, dikhususkan, dipilih Allah sebagai harta
kesayanganNya sendiri. Dan kerajaan imam ialah lingkungan pemeritahan Tuhan,
dimana para warganegara melakukan pelayanan keimaman, yakni semua anggota
beribadah kepada Allah. Kekudusan dan keimaman menyatakan fungsi pelayanan.
Selaku pengantara, Israel melayani juga bangsa-bangsa (Yes. 61:6). ”Israel akan
memangku jabatan imam di dalam dunia”.

Israel diantara segala bangsa merupakan gambaran pemerintahan Allah dan suatu
gambaran pelayanan selaku imam (Ul.7:6) menunjukkan bahwa pemilihan Israel atas
dasar kasih. Israel tak lain dan tak bukan adalah suatu alat dalam tangan Tuhan, suatu
tahap dalam rencana Allah. Yang dituju adalah keselamatan dunia.
Pemilihan Israel adalah jalan yang ditempuh Allah untuk mencapai tujuanNya, yaitu
pengakuan namaNya oleh sekalian bangsa. Yang menentukan dalam hidup bangsa-
bangsa ialah sikapnya terhadap Israel dan dengan demikian sikapnya terhadap Allah
Israel.

Universalisme-keselamatan dibentangkan pula dalam beberapa kitab lain seperti Rut,


Yunus, Deutero Yesaya (Yes 40-55). Kitab Rut meriwayatkan bagaimana seorang
perempuan asing (Moab) mengaku percaya kepada Allah Israel, menjadi senasib
dengan Israel dan bahkan diperkenankan menjadi nenek raja Daud (band. Mat 1:5).
Kitab Yunus dengan tegas menentang sikap partikularisme (pembatasan keselamatan
itu pada diri sendiri saja). Dalam bentuk perumpamaan, kitab Yunus mau memberi
ingat kepada orang-orang Yahudi yang berada dalam pembuangan bahwa mereka
tidak boleh menjadi suatu rintangan antara Yahwe dengan orang-orang kafir (bangsa-
bangsa lain). (Israel) dipanggil untuk menyatakan rahmat Yahwe terhadap Niniwe
(dunia kafir). Biarpun pemilihan atas Israel membawa penderitaan sampai maut
sekalipun, tetapi justru itulah yang menjadi kesaksian tentang cinta kasih Allah.

2. Eskhatologia

Para nabi biasanya juga menyampaikan berita dari Allah kepada bangsa-bangsa.
Seringkali mereka mengabarkan hukuman baik kepada Israel maupun kepada bangsa-
bangsa kafir; kadang-kadang hukuman atas Israel akan dilaksanakan oleh bangsa kafir,
adakalanya terdengar berita hukuman atas bangsa-bangsa akibat sikap mereka
terhadap Allah Israel, dan acapkali berita keselamatan untuk keduanya; melihat
keselamatan Israel maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku TUHAN
menguduskan Israel (Yeh 37:28 band 39:21-29).

Motif ini dihubungkan dengan hukuman maupun dengan janji kepada Israel, dan
keduanya bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tentang hukuman kita baca
Yeh 39:23 dan tentang janji ayat 27,28. Malah dapat dikatakan bahwa segenap usaha
Allah untuk menolong Israel adalah sekaligus bertujuan untuk memperlihatkan
keunggulanNya kepada umum.

Didalam pemberitaan para nabi selalu saja ada pengharapan bahwa bangsa-bangsa
lain akan ditarik menuju pusat kehadiran Allah Israel, lalu mereka akan mengaku
namaNya.
Dengan cara bagaimanakah keselamatan eskatologis digambarkan dalam PL?
Pokoknya ialah gambaran tentang datangnya berarak2an bangsa-bangsa, satu pawai
yang besar ke arah Sion, ke arah pesta raya oikumene, menuju ke pusat dimana
tersedia keselamatan, dimana ada Yahwe dan umatNya, pusat kehadiranNya, pusat
dunia. Bangsa-bangsa akan datang kepada Israel dan Allahnya, sambil mencari:
Gunung tempat rumah Tuhan (Yes 2:2-3, Mi 4:1-2, Yes 18:7),
Taruk dari pangkal Isai (Yes 11:10),
Perjamuan di gunung Sion (Yes 25:6-8),
Rumah TUHAN (Yes 56:7, Hag 2:8),
Terang Sion (Yes 60),
Kemuliaan TUHAN (Yes 66:18),
Yerusalem (Yes 66:20; Yer 3:17; Mi7;12),
Yahwe TUHAN (Yer 16:19; Za 2:11),
Pengadilan oleh TUHAN (Yl 3:17),
Yahwe Tsebaoth (TUHAN semesta alam) yang di Yerusalem (Za 8:22),
Hari raya pondok Daun (Za 14:16-19).

Sion (=Yerusalem) selaku pusat dunia (Maz 87). Sion disebut ibu... “Sion adalah ibu
sekalian orang yang mengaku Yahwe selaku Bapa; bukan saja orang Yahudi dari
diaspora dan para proselit, melainkan juga keseluruhan bangsa”.

Bukanlah Israel yang bertindak, bukan juga bangsa-bangsa, tetapi Allah sendirilah yang
bertindak terhadap Israel dalam pusat sejarah dan pusat dunia, dan dengan jalan
demikian segala bangsa akan datang untuk melihat dan akhirnya disangkutpautkan
dalam drama keselamatan. Bukanlah Israel yang dipanggil menjadi saksi, tetapi
bangsa-bangsa menyaksikan apa yang terjadi di Israel, sehingga mereka menjadi irihati
dan mencari Tuhan Israel.

3. Masa depan Mesianis

Didalam pengharapan masa depan Israel, pemegang kunci ialah Almasih (Mesias) yang
dijanjikan selaku pembawa keselamatan. Yang dipentingkan dalam gambaran tentang
jaman yang akan datang adalah pemerintahan TUHAN atas Israel dan atas bangsa-
bangsa lainnya, dan pemerintahan itu akan didatangkan dan dilaksanakan oleh oknum
mesianis sebagai penyelamat.

Seringkali pengharapan itu berpusat pada diri Daud dan keturunannya yang akan
memerintah dengan adil dan damai pada masa depan sebagai raja yang diberikan Allah
(2 Sam 7; 23 Yes 9:6; 11:1,10; 55:3,4; Yer. 23:5-6; 30:9 dst) yang menarik perhatian
khusus bahwa disebut raja penyelamat (raja mesias) itu disebut “lemah lembut dan
mengendarai seekor keledai...”. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa raja
damai itu berminat terhadap orang miskin dan orang yang ditindas, dan memberi
keadilan kepada mereka yang menderita (Maz 72; Yes.9 dll.) Ciri-ciri raja itu ialah
keadilan; dia akan bertindak selaku ratu adil.

Oknum mesianis itu juga pernah disebut anak manusia (Dan 7:13-14, 18, 21) Ayat 18
disebutkan bahwa oknum itu disamakan dengan ‘orang-orang kudus milik yang Maha
tinggi, dan ayat 27 dengan orang-orang kudus, umat yang Mahatinggi, yakni orang
Yahudi yang menderita sengsara dan aniaya (ay.21) Penderitaan itu berakhir dengan
datangnya seorang yang menyerupai anak manusia dan “kerajaannya ialah kerajaan
yang tidak akan musnah.”

Kadang-kadang pengharapan mesianis berpaut pada orang yang diurapi TUHAN, baik
ia memangku jabatan raja (Maz.2) maupun jabatan imam (Maz. 110) atau nabi (Yes.
61).

Perhatian khusus diberikan kepada hamba TUHAN yang menderita seperti nyanyian2
deutero Yesaya, unsur yang menentukan dalam nyanyian-nyanyian itu ialah
penderitaan sengsara.

Keselamatan yang dikaruniakan TUHAN kepada Israel mempunyai aspek universil:


Israel yang dibaharui oleh karena diberi keadilan oleh TUHAN menjadi pembawa
keselamatan sampai ke ujung bumi. Umat yang dibaharui lahir batin dan yang kembali
menjadi Israel itu sesungguhnya dibuat oleh TUHAN menjadi suatu terang bagi bangsa-
bangsa.

Kesimpulan:

Pada akhir pembahasan PL ini dapat dikatakan bahwa Israel mempunyai fungsi
perantara di dalam rencana Allah. Ia harus menerima dengan taat keselamatan dari
Allah, janjiNya dan hukumNya, supaya dapat memperlihatkan kepada bangsa-bangsa
lain siapakah Allah Israel. Fungsi perantara itu mempunyai aspek kerajaan, keimaman
dan kenabian (Yes 2:2-5)

a. Yerusalem/Israel menunjuk kepada pemerintahan Yahwe sebagai raja dunia. Dia


menghendaki teokrasi yang universal, sehingga perang akan terhenti dan keadilan
antar bangsa terjamin.
b. Dari sion akan keluar undang-undang (Torah, pengajaran, petunjuk dari Tuhan). Di
sini Israel akan mengajar bangsa-bangsa tentang kehendak ALLAH, setelah ia
sendiri belajar melalui banyak penderitaan menempuh jalan Yahwe.
c. Firman TUHAN adalah dari Yerusalem. Para nabi Israel dipanggil untuk
menyampaikan firman Tuhan baik ke dalam maupun keluar. Sejarah Israel
seluruhnya nerupakan nubuat universal, artinya bahwa segenap eksistensi israel
berfungsi sebagai kesaksian tentang tindakan Allah dan reaksi manusia
terhadapnya, tentang campur tangan Allah dalam hidup manusia, sehinga menjadi
sejarah keselamatan.

Zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Usaha-usaha proselitisme adalah upaya mencari anggota baru untuk masuk dalam agama
Yahudi. Usaha2 proselitisme Yahudi kelihatan berkembang di abad-abad terakhir sebelum
zaman Kristen dan di abad-abad pertama tarikh masehi (k.l 200 SM – 150 M)

Umat Israel pada zaman PL mengenal dua macam orang asing:


a. Orang asing yang berasal dari luar negeri, dan yang hanya untuk sementara waktu
berada di tanah Palestina sebagai tamu.
b. Orang asing yang menetap ditengah-tengah Israel, yang tinggal tetap bersama
mereka.

Usaha proselitisme banyak dilakukan oleh penduduk diaspora (orang yahudi yang diluar
palestina yang tersebar ke suluruh dunia), mereka telah mengalami asimilasi dalam dunia
hellenis. Pada umumnya masyarakat hellenis memperlihatkan sinkritisme (percampuran
agama). Agama yahudi memiliki daya tarik yang kuat, karena persekutuan dan kerukunan
orang-orang percaya, karena monoteisme mereka; karena Allah yang mereka sembah tidak
kelihatan dan rohani; karena kesusilaan orang yahudi yang cukup tinggi di tengah-tengah
etika yang merosot. Para cendekiawan amat tertarik kepada agama yahudi yang
dianggapnya sebagai filsafat agamani (ilmu).

Terjemahan Septuaginta (terjemahan PL dalm bahasa Yunani) adalah senjata yang ampuh
dalam usaha proselitisme yahudi. Penyalinan dilakukan sedemikian rupa sehingga para
pembaca dari bangsa-bangsa lain dapat mengerti Firman Allah. Ada penyesuaian dengan
cara berpikir dengan pemakaian pada jaman itu, misalnya Torah disalin dengan nomos
(hukum), Yahwe dengan Kurios (Tuhan), dsb. Para penterjemah sendiri menghayati
semangat jamannya. Oleh sebab itu Septuaginta dapat dipandang sebagai terjemahan
“missioner”

Orang-orang yahudi dalam diaspora berusaha sekuat tenaga untuk mengajak orang-orang
lain menjadi proselit. Mereka tidak dituntut suatu perpindahan nasional atau sosiologis,
melainkan perpindahan agama saja. Bahkan banyak dikalangan yahudi yang merasa bahwa
halangan terbesar mereka adalah penyunatan, boleh dilampaui saja. Jalan yang berat yakni
penerimaan kuk hukum Torat, diringankan bagi orang kafir, sehingga mereka yang berminat
boleh masuk golongan sebomenoi ton theon (orang-orang yang takut akan Allah,
terjemahan baru LAI: orang yang menyembah; terjemahan baru KR: orang yang menyegani
Allah band. Kis 10;2,22; 13:43,50) Jumah mereka jauh melebihi orang-orang proselit
sungguh-sungguh. Mereka tidak dianggap sama dengan orang yahudi. Yang terutama bagi
mereka adalah pengakuan akan Allah yang benar-benar esa, dan ikut sertanya mereka dalam
ibadah di rumah sembahyang (synagoge). Malahan mereka dianggap sebagai makna yang
tersembunyi dari perserakan kemana-mana (diaspora)

Kesimpulan:

Keaktifan orang Yahudi terhadap orang kafir (orang yang bukan yahudi) tidak merupakan
penyebaran agama (missi), melainkan memperlihatkan ciri-ciri khas proselitisme
(memancing jiwa) atau propaganda keagamaan. Inilah yang ditentang Yesus Kristus.

Tidak dapat disangkal bahwa hasil proselitisme Yahudi sangat mengesankan dan merupakan
persiapan bagi pekabaran Injil. Dimana-mana para rasul Yesus Kristus menemukan proselit
dan orang-orang yang takut kepada Allah. Mereka sudah mengenal Allah Israel, sudah
mempunyai dan menyelidiki PL, sudah mengharapkan kedatangan Almasih. Dengan
demikian jalan Injil Kristus diratakan.

Perjanjian Baru
Didalam PB muncul sesuatu yang sama sekali baru, baik terhadap PL maupun terhadap
proselitisme yahudi. Mengenai hubungannya dengan PL, harus ditegaskan bahwa Yesus
Kristus tidak lain adalah Israel yang sesungguhnya, Israel Baru. “Yesus Kristus dalam diriNya
mewakili, merangkumi, dan menggenapi segenap sejarah umat Allah” Di dalam kehidupan,
kematian dan kebangkitan AnakNya, Tuhan menyamakan Diri dengan kehidupan,
kebinasaan dan pembangunan kembali umat pilihanNya dan tanahnya.... Tuhan yang bangkit
itu adalah Israel yang baru.

a. Yesus

Pemberitaan dan tindakan Yesus terhadap orang-orang kafir merupakan kebalikan mutlak
dari proselitisme yahudi. Telah kita ketahui bahwa usaha proselitisme itu kurang
berdasarkan eskatologia, tetapi merupakan antisipasi dari janji-janji Allah di dalam
ketidaksabarannya. Dalam PB titik tolak adalah pengharapan eskatologis mengenai
pertobatan bangsa-bangsa dan penyembahan bangsa-bangsa dan penyembahan mereka
kepada Allah yang benar dan tunggal.

Inti pusat pemberitaan Injil adalah maklumat Yesus tentang Kerajaan Sorga yang telah
mendekat (Mat 4:17) melalui para rasul Ia menyampaikan berita ini “kepada segala domba
kaum Israel yang sesat” (Mat.10:5-7). Jadi keduabelas murid itu disuruh menyampaikan
kepada Israel lebih dulu, tetapi serentak mereka juga merupakan Israel yang dinanti-
nantikan, Israel eskatologis, Israel yang genap. Lengkap, baru, Israel masa depan yang
dijanjikan oleh Allah. Yesus bertindak selaku hamba Tuhan yang menderita, supaya hamba
Allah (Israel) kembali menunaikan fungsinya menjadi alat penarik. Mereka tidak mau
mendengarkan Yesus dan mengakibatkan kesengsaraan dan kematianNya. Dalam pada itu Ia
berdiri seratus persen, dimana seharusnya mereka berdiri; dan sebagai ganti mereka Ia
melakukan panggilan Israel. Band mat 15:24 “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang
hilang dari umat Israel” Yesus diutus kepada umat Yahudi, ke Yerusalem, ke Bait Allah!

Namun setiap kali ternyata bahwa Yesus tidak terikat pada batas-batas kebangsaan,
kebiasaan, keagamaan. Ia datang menyelamatkan pemungut cukai dan Orang-orang berdosa
(Mat 9:9-13), lain sekali dengan partikularisme yahudi. Yesus juga tidak menjauhkan diri dari
orang sakit yang dianggap haram oleh agama yahudi. Bahkan perempuan pelacur dan orang-
orang berdosa dianggap rendah oleh yahudi namun oleh Yesus mereka ditolong. Samaria
tidak lepas dari perhatianNya (Luk. 10; 17:11-19; Yoh. 4). Bahkan Yesus tidak segan
menjelajah keluar negeri, artinya ke wilayah orang-orang kafir (bangsa-bangsa bukan
Yahudi), yaitu ke Tirus (Mark 7;24) dan ke Kaisarea, Filipi (8:27), dan sering Ia melintasi
daerah seberang Yordan. Bahkan pada permulaan pelayananNya ia pindah dari Nazaret ke
Kapernaum, karena kota itu terletak di jalan ke laut.. Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain
(Mat 4:13-15 band. Yes. 8:23). Ya namaNya menjadi termasyur sampai ke seluruh benua
syam (syiria), dan dari mana-mana orang mengikuti Dia (Mat. 4:24-25).

Di dalam injil-injil sinoptis (Mat, Mark, Luk), kita membaca ada dua cerita tentang pertemuan
dengan orang kafir (orang dari bangsa-bangsa lain), yakni penghulu laskar di kapernaum
(Mat 8:5-10, Luk. 7:1-10, yoh 4:46-53) dan perempuan Siro Fenesia (Mark. 7:24-30, Mat.
15:21-28). Dalam cerita pertama Yesus heran akan iman sebesar itu (sesungguhnya iman
sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun diantara orang Israel!, ay 10). Juga
kepercayaan orang perempuan Siria-Fenesia yang sangat kuat. Dalam hubungan ini Yesus
menyebut orang-orang Yahudi sebagai anak-anak sementara bangsa-bangsa lain
dipanggilnya anjing-anjing, namun demikian Yesus mengabulkan permintaan mereka.
Dengan menyembuhkan orang-orang sakit, maka Yesus mendekatkan Kerajaan Sorga, yaitu
kerajaan yang merangkumi segala bangsa. Penyembuhan-penyembuhan barulah bersifat
tanda, tetapi tanda itu menunjuk kepada masa depan yang penuh janji Allah juga bagi orang-
orang kafir (bangsa-bangsa lain)

Mat 8:11-12 band. Luk 13:28-29: “Aku berkata kepadamu: Banyak oang akan datang dari
Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama Abraham, Iskak dan Yakub di dalam
Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan
yang paling gelap, disanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”

Yang luar biasa dalam perkataan ini ialah bahwa di sini motif kuno tentang kedatangan
bangsa berarak-arak di hubungkan dengan pemberitaan kerajaan sorga. Di sini janji PL untuk
bangsa-bangsa lain diulangi, sedangkan bukanlah Yerusalem atau Bait Allah yang memegang
peranan utama sebagai tujuan, melainkan konsep kedatangan bangsa-bangsa secara
konsekwen diterapkan kepada basileia (kerajaan), seperti yang dimaklumkan Yesus.

Disini dapat kita beda-bedakan tiga unsur mesianis:

a. Bangsa-bangsa lain diinkorporasikan (dimasukkan) ke dalam janji Allah kepada para


nenek moyang Israel.
b. Perjamuan mesianis akan bersama-sama dirayakan oleh Israel dan bangsa-bangsa
(band. Yes 25:6)
c. Bait Suci masa baru yang akan didirikan tiga hari setelah kebinasaan bait yang lama
(Mar. 14:58; Yoh. 2:19; Kis 6:14). Juga penyucian bait Allah di yerusalem menandakan
penyediaan tempat bagi bngsa-bangsa yang akan datang pada akhir jaman. Juga
mereka akan menyembah Allah yang tunggal (Mark. 11:17, band yes. 56:7)

Yesus tidak melakukan pekabaran Injil dalam arti yang sebenarnya. Dia hanya melakukan
tanda-tanda kasih sewaktu-waktu. Pemberitaan dan tindakan Yesus terhadap Israel menjadi
kesaksian bagi orang-orang kafir (bangsa-bangsa lain), ya bahkan oleh karena kejadian-
kejadian eskatologis sudah mulai terwujud, maka keselamatan bagi orang-orang kafir telah
hampir. Dia berdiri di tempat Israel yang berdosa selaku hamba Tuhan yang menderita,
selaku kerajaan sorga yang mendekat, agar supaya orang-orang berdosa dari antara segala
bangsa bersama-sama domba-domba yang sesat dari kaum israel datang untuk
diketemukan, diselamatkan dan diampuni dosanya. Untuk kedua belah pihak hanya ada satu
syarat saja: pertobatan.

Yesus menantikan dua tahap dalam eskatologia: seruan kepada israel dan masuknya bangsa-
bangsa ke dalam Kerajaan sorga. Maka dari itu biasanya Ia membatasi diriNya kepada
Israel:”Biarlah anak-anak kenyang dulu”(Mark. 7:27). Sebabnya Yesus datang kepada Israel
ialah bahwa panggilanNya justru ditujukan kepada seluruh dunia.

Perintah untuk keluar dan membawa berita Injil kepada orang-orang kafir belum diberikan
oleh Yesus. Korban belum dipersembahkan sepenuhnya. Yesus mengorbankan diriNya di
kayu salib bagi banyak orang (Mar. 10:45). Barulah didalam kebangkitanNya tampak
kedatangan kerajaan sorga, barulah setelah kebangkitan itu Yesus memberi perintah tegas
untuk keluar dan membawa kabar baik itu kepada semua bangsa (Mat 28:18-20).

b. Jemaat Pertama

Di dalam kisah para rasul dapat kita bedakan beberapa golongan. Yang pertama adalah
jemaat mula-mula di yerusalem yang dipimpin oleh Petrus, ialah saksi pertama kebangkitan
Yesus (I Kor 15:5, band Luk 24:34 dan Yoh 20 dan 21). Untuk jemaat pertama, kebangkitan
merupakan tanda pemulihan kembali persekutuan antara Tuhan dengan murid-muridNya,
juga antara murid yang satu dengan yang lain. Kebangkitan adalah bukti bahwa kerajaan
sorga telah datang dan fakta menggembirakan ini harus diberitakan kemana-mana dan Yesus
sebagai isi pusat pekabaran injil. Dialah autobasileia (kerajaan Allah dalam diriNya) menurut
ungkapan Origenes.

Petrus selaku pimpinan jemaat pertama berkhotbah, pemberitaan Petrus ditujukan kepada
orang-orang Yahudi (dan proselit), di dalam isinya yang berkisar pada Yesus, dapat
dibedakan beberapa pokok yang setiap kali berulang kembali:

1. Penggenapan PL (Kis.2:16; 3:18-24). Masa persiapan yang berlangsung sampai


dengan Yohanes Pembabtis telah lewat.
2. Zaman keselamatan itu telah didatangkan oleh pelayanan, kematian dan kebangkitan
Yesus. Segala sesuatu itu terjadi sesuai dengan janji. Dialah Anak Daud (Kis.2:30-31
band. Maz 132:11). Ia telah melakukan mujizat dan tanda-tanda (2:22) dan
perbuatan baik (10:38). Dialah hamba Allah, namun demikian Dia kamu bunuh
(Kamu=orang yahudi). Tetapi sesuai dengan janjiNya, Allah membangkitkan Yesus.
3. Peninggian dan pembangkitan. Yesus ditinggikan oleh tangan Allah (2:33; 5:31 band.
Maz. 110:1). Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah
membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus (2:36 band. 5;31).
4. Kepada para saksi kebangkitan Yesus Kristus dikaruniakan Roh Kudus selaku tanda
kekuasaan dan kehadiranNya yang mulia (2:33; 5:32).
5. Yesus akan datang kembali sebagai hakim (3:21; 10:42)
6. Pada akhir pemberitaan selalu ada seruan untuk bertobat, ada penawaran
keampunan dan karunia Roh Kudus, ada penawaran hidup bahagia; jalan untuk
memperoleh semuanya itu ialah melalui baptisan (2:38-39; 3:19,25-26; 4:12; 5:31;
10:43).
7. Para rasul memperkenalkan diri sebagai saksi kebangkitan Yesus (2:32; 3:15; 5:32;
10:41-42.

Demikianlah kerygma (pemberitaan) jemaat Yerusalem yang ditujukan kepada orang-orang


yahudi. Tetapi disamping berPI kepada orang-orang yahudi, Petruspun menerima orang-
orang bukan Yahudi, Kornelius (Kis 10-11) dan ia bersedia makan bersama dengan orang-
orang kristen asal bukan yahudi yang tidak bersunat (Gal. 2:12). Baptisan dalam jemaat
pertama sebagai tanda pengampunan dosa dan penerimaan Roh Kudus (Kis 2:38, band.
10:47-48).

Golongan kedua yang terdapat pada jemaat pertama ialah umat Kristen-Yahudi yang
partikularis. Golongan ini disebut “beberapa orang dari golongan Farisi yang telah menjadi
percaya (Kis 15:5). Mereka ingin membebankan taurat Musa kepada orang kristen baru asal
bangsa-bangsa lain; kalau tidak mengadakan deskriminasi (perbedaan). Mereka itu oleh
paulus disebut “saudara-saudara palsu... yang menyusup masuk, yaitu mereka yang
menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita mau diganti dengan perhambaan
lagi! Sangat boleh jadi mereka sama dengan “beberapa orang dari kalangan Yakobus” (Gal
2:12). Yang ditekankan dalam pemberitaan mereka adalah ‘melakukan hukum Taurat’
(Gal.3:2).

Dikemudian hari setelah keruntuhan kota Yerusalem, jemaat ini mengungsi, semakin hari
makin terpencil dan bersifat sektaris. Namanya menjadi para Ebyonit (orang-orang miskin,
(band Mat 5:3; Rom 15:26). Akhirnya mereka boleh dikata hilang dari halaman-halaman
sejarah, andaikata mereka tidak turut mempengaruhi nabi Muhammad.

Golongan ketiga adalah umat Kristen-yahudi peranakan Gerika; jadi orang-orang yahudi dari
diaspora yang sudah masuk kristen. Mereka masih disebut orang hellenis dalam Kis 6:1. Juga
golongan ini berpusat di Yerusalem, namun akibat penganiayaan mereka berserak-serak ke
daerah Yudea dan Samaria (Kis. 8:1) dimana mereka mulai mengabarkan Injil (8:4), misalnya
Filipus kepada orang-orang Samaria (8:5,26), bahkan seorang sida-sida yang berasal dari
Etiopia, rupanya seorang proselit ditobatkannya sampai dibaptis (8:26-40). Kemudian yang
menjadi pusat PI adalah Kaisarea (8:40; 21:8). Kegiatan misioner golongan ini tak terbatas:
Fenesia, Siprus, Antiokhia (11:19) dimana Injil Tuhan Yesus dibawa sampai kepada orang-
orang kafir (orang-orang Yunani, 11:20). Berkat pekerjaan itu sejumlah orang dibawa kepada
Tuhan (11:24,26). Disitupun untuk pertama kali para murid disebut Kristen (11:26).
Antiokhia menjadi pusat bagi usaha misioner yang berencana. Barnabas yang berasal dari
Siprus, dialah yang berhasil menemukan Paulus dan membawanya ke Antiokhia (11:25).
Pada saat itupun jemaat di Iskandaria dan Roma didirikan.

Golongan ke tiga ini menjauhkan diri dari Bait Allah (6:13-14). Isi pemberitaan mereka ialah
tentang Kerajaan Allah dan tentang Yesus Kristus (8:12) atau Injil Yesus (8:35) kalau
terhadap orang-orang yahudi atau proselit; sedangkan terhadap orang-orang kafir (bangsa-
bangsa lain) yang diutamakan adalah bahwa Yesus itu Kurios (Tuhan). Pemberitaan ini
berimplikasi meninggalkan berhala-berhala yang sia-sia dan bertobat kepada Allah yang
hidup (14:15). Umat kristen Yahudi hellenis ini tidak meragu-ragukan lagi bahwa Injil Yesus
Kristus dialamatkan kepada orang-orang Yahudi maupun kepada orang-orang kafir (orang-
orang bukan Yahudi).

Golongan ke empat adalah umat Kristen dari orang-orang kafir (bangsa-bangsa lain). Mereka
adalah hasil dari perjalanan PI pertama Paulus dan kawan-kawannya (Kis 13 dan 14).
Sesampainya di Antiokhia mereka melaporkan bahwa “Ia (Allah) telah membuka pintu bagi
bangsa-bangsa lain kepada iman.” (14:27). Hal itu menjadi perselisihan antara Antiokhia
(golongan ketiga) dan Yerusalem (terutama golongan kedua), dimana Petrus menengahi
perselisihan tesebut. Paulus dan Antiokhia menekankan persatuan gereja dan kesatuan aksi
misionernya (Gal. 2:1-10). Keduabelah pihak mufakat bahwa Israel mempunyai prioritas,
yaitu prioritas dalam urutan sejarah keselamatan. Tetapi itu tidak berarti bahwa bangsa-
bangsa lain tidak mempunyai hak untuk diselamatkan namun harus menjadi orang Yahudi
dahulu. Dalam konven (sidang) sinode itu tercapai kata mufakat bahwa orang-orang yang
bertobat dari bangsa-bangsa lain tidak harus dibebani dengan larangan-larangan makan
daging yang dipersembahkan kepada berhala, darah, daging binatang yang mati lemas dsb.
ataupun bersunat. Jadi kepada orang kristen asal kafir tidak dituntut bersunat.

Untuk menyatakan prioritas Israel maupun kesatuan gereja dan pekabaran injil, maka
orang-orang Kristen yang tidak bersunat berjanji menyerahkan pemberian-pemberian uang
kepada orang-orang miskin yang di yerusalem (Gal. 2:10, band. Kis 11:29-30; 12:25). Dan
sebaliknya Yerusalem menyetujui pekabaran Injil diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi.

c. Paulus

Rasul Paulus mengembangkan kegiatan misioner yang sangat besar di Asia Kecil, di
Yunani dan ahirnya di Roma (melalui Yerusalem). Ia digelari seorang pemikir PI yang
ulung, seorang teologiawan atas karunia Roh Kudus. Beberapa pokok pemikirannya
tentang PI dapat dilihat berikut:
1. Tugas untuk memberitakan Injil Yesus Kristus universal (tidak ada batasnya).
Namun Paulus terpanggil secara khusus untuk bekerja diantara orang-orang
kafir, orang-orang yang tak bersunat. Karena Kristus ia telah menerima kasih
karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka
percaya dan taat kepada namaNya (Rom 1:5). Kepadanyalah dipercayakan
“pemberitaan Injil untuk orang-orang yang tak bersunat (Gal. 2:7, band Kis
9;15).
2. Jabatannya sebagai rasul adalah jabatan istimewa. Terlebih dulu ia bertindak
selaku penganiaya jemaat pertama. Ia seakana-akan seorang anak yang lahir
sebelum waktunya (1 Kor. 15:8). “Karena aku aalah yang paling hina dari
semua rasul (15:9). Tetapi karena karunia Allah dia telah bekerja lebih keras
dari mereka sekalian (15:10). Semua apostolatnya ditujukan kepada orang-
orang kafir (yang bukan yahudi)
3. Injil harus diberitakan kepada segala kuasa yang ada di langit dan di bumi;
pemerintah dan penguasa, singgahsana dan kerajaan (Ef. 3:10, band Kol. 1:16).
Bukankah Allah mempunyai klaim atas seluruh dunia yang diciptakanNya baru
di dalam Kristus (2 Kor. 5:17 dab). Kepada rasul dipercayakan pelayanan
pendamaian, yaitu berita pendamaian kepada dunia (ay 18-19). Yesus kristus
adalah Tuhan atas segla yang ada di dunia ini (Flp. 2:10-11), berdasarkan
korbanNya diatas kayu salib (ay.8).
4. Pergumulan tentang hukum Torat. Kita mempunyai kebebasan di dalam Yesus
(Gal. 2:4). Ia telh memerdekakan kita supaya kita sungguh-sungguh merdeka
(5:1). Dimana Kristus diberitakan disanalah Ia Tuhan, dan Dialah kegenapan
hukum Torat (Rom 10:4). Roh Kristus bukanlah roh perbudakan atau roh
ketakutan (Rom 8:15), melainkan Roh kemerdekaan (2 Kor 3:17). Kemerdekaan
itu bukan atas jasa manusia (karena semua manusia telah berbuat dosa),
malainkan atas anugerah Allah belaka.
5. Orang percaya dibenarkan karena Kristus. Kebenaran Allahlah yang dinyatakan
di dalam Inji (Rom. 1:17). Siapa yang menerima Injil itu, ia dibenarkan, artinya
ia ditempatkan didalam hubungan yang semestinya dengan Allah.
6. Dengan demikian maka segala orang percaya menjadi “anak-anak Abraham”
(Gal. 3:7) dan diberkati bersama-sama Abraham (ay.9), “bapa kita semua”
(Roma 4;16). “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah
keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Gal. 3:29).
7. Menurut pandangan Pauluspun, Israel mempunyai prioritas, baik dalam
hukuman (Rom 2:9), maupun dalam keselamatan menurut rencana Allah (Rom
1:16; 2:10). Tetapi sebagiana dari Israel telah menjadi tegar dan tidak mau
menerima Almasihnya (Rom.11:25). Dan sebagian yang lain, yakni orang-orang
Kristen asal Yahudi , merupakan sisa Israel yang setia (11:5). “orang-orang yang
terpilih itu dipertentangkan dengan orang-orang lain yang telah tegar hatinya.”
Tetapi bagi Pulus “seluruh Israel” masih menantikan keselamatan (Rom.11:26);
meskipun bangsa-bngsa lain akan mendahuluinya (11:25). Dan justru paulus
menganggap tujuan apostolatnya diantara bagsa-bangsa adalah untuk
membangkitkan cemburu di dalam hati orang-orang yahudi (11:11,14).
didalam apostolatnya rasul Paulus mempersembahkan korban kepada Allah,
yaitu bangsa-bangsa yang disucikan oleh Roh Kudus (15:16). Di dalam
pertobatan orang-orang kafir mulailah datang, berarak-arak bangsa-bangsa,
sungguhpun israel sebagian besar belum menunaikan tugas – panggilannya.
Tetapi sebaliknya paulus mengadakan suatu persembahan dari jemaat-jemaat
kristen asal kafir di makedonia dan Akhaya bagi “orang-orang miskin diantara
orang-orang kudus di Yerusalem (15:25-26). Hal itu sepantasnya sebab jika
bangsa-bangsa lain telah beroleh bagiab dalam harta rohani orang-orang
yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang yahudi
dengan harta dunawi mereka (15:27). Oleh sebab itu Paulus harus pergi ke
Yeruslem, sebelum dapat berkunjung ke Roma (15:23-25), untuk membawa
persembahan itu kepada “sisa Israel”. Perjalanan ke Yerusalem ini tidak kurang
dari tanda persembahan syukur eskatologis dari pihak bangsa-bangsa dan
tanda kedatangan mereka menuju ke Sion.

d. Penginjil-penginjil Sinoptis
1. Markus

Injil markus merupakan Injil tertua berasal dari kalangan Kristen asal kafir. Adalah
Yohanes markus penulisnya, ia menyertai Paulus pada perjalanan misinya yang
pertama (Kis. 12:12,25 band. 15:37). Isi Injil Markua ad banyak persamaannya dengan
kerygma rasuli, seperti yang terdengar dari khotbah-khotbah Petrus.

Injil Markus dapat dibagi menjadi tiga bagian

a. Pekerjaan Yesus masih terbatas kepada Israel (1:14-8:26), namun disan sini
sudah terbuka kemungkinan bagi bangsa-bangsa kafir.
b. Terutama terbatas pada para murid (8:27-10:45), memperhatikan menolak
Yesus, universlisme.
c. Karena orang-orang Yahudi maka orang-orang kafir memperoleh bagian
keselamatan pemberian Yesus (10:46-16:8). Kematian Yesus sebenarnya
merupakan hukuman definitif atas agama yahudi dan atas umat yahudi. Dan
hukuman itu berarti penerimaan orang-orang kafir. Tirai bait Allah terbelah
menjadi dua (15:38). Dan penghuu laskar yang mengaku “Sungguh Ia ini adalah
Anak Allah” (15:39) adalah yang pertama yang menerima tebusan bagi banyak
orang, dan akan disusul oleh banyak lagi orang. Yang terutama jelas sekali ialah
13:10 “tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa”. Bagi
markus, masa israel sudah lewat, dan sudah terbuka lebar jalan untuk bangsa-
bangsa. Di sini PI kepada umat Yahudi tidak menjadi soal lagi.

2. Matius

Latar belakang Injil Matius adalah jemaat Kristen asal Yahudi, bahkan Injil ini
merupakan pergumulan dengan umat Yahudi sendiri. Di satu pihak ada
kecenderungan untuk melepaskan diri dari keyahudian, Torat, Bait Allah, sunat,
kewibawaan para ahli Torat dsb; tetapi di pihak lain terasa panggilan justru untuk
memberitakan Injil kepada umat Yahudi. Di satu pihak dikecamnya secara tegas oleh
Yesus para farisi (ps. 23), dipihak lain ditekankannya kontinuitas Torah itu (5:17;
24:12,dll). Di sini tercermin adanya pergumulan jemaat, suatu jemaat yang
ditempatkan di dalam suasana Yahudi, padahal tidak diterima di sana. Jemaat itupun
mempunyai pejabat-pejabat istimewa: nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli
Torat (23:34, band. 13:52).

Di sini nampak bahwa gereja sedang berpisah degan sinagoge, namun gereja lagi
mencari jalan untuk menyalurkan Injil. Namun sementara itu pandangan para murid
sedang diarahkan serentak kepada seluruh dunia (Mat. 24:14)

Berita tentang Kerajaan Sorga senantiasa merupakan pusat dalam khotbah-khotbah


Yohanes Pembaptis dan Yesus. Demikian juga dalam perumpamaan-perumpamaan,
firman tentang Kerajaanlah yang ditaburkan (13:19). Fungsi perumpamaan itu adalah
hendak menyembunyikan rahasia kerajaan itu kepada banyak orang (13:11). Dan
pemberitaan tentang kerajaan itu adalah melalui penaburan “anak-anak kerajaan” di
ladang, yakni dunia (13:38). Proses penaburan itu berjalan terus sampai akhir jaman,
malah menentukan akhir jaman itu. “anak-anak Kerajaan” adalah orang-orang Kristen
dalam konfrontasi yang tajam degan orang-oranga Yahudi.

Mengenai panggilan misioner, jemaat ini masih merasa dirinya sangat terkat kepada
Israel (10:5-6; 10:23), tetapi serentak pula jemaat sadar akan panggilannya selaku sisa
Israel, selaku domba-domba Israel yang tersesat dan yng ditemukan kembali untuk
mengabarkan keselamatan itu di sekuruh dunia. Berita yang berisi hukuman dan
damai untuk yang bertobat dialamatkan kepada sekalian bangsa. Bila berita itu telah
dikabarkan, akan tiba kesudahannya, yakni pemisahan kafir (pemisahan orang yang
bertobat dengan yang tidak bertobat) (fas. 25). Dan umat yang baru itu disebut laos
91:21), ethnos (21:43), atau ekklesia (16:18), dan terutama para murid Tuhan Yesus
(28:19).

3. Lukas
Dalam Injil Lukas tidak terdapat perkataan Yesus yag menyuruh murid-muridNya
untuk memberitakan datangnya Kerajaan sorga, selagi Dia masih hidup. PI adalah
fungsi gereja, jadi merupakan usaha dalam masa setelah kebangkitan atau masa yang
diriwayatkan dalam Kisah para Rasul. Yang terpenting disini adalah amanat perpisahan
dari Tuhan yang telah bangkit itu dalam Luk. 24:46-49 (baca!)

Disini kita mendengar beberapa unsur baru:

a. PI adalah penggenapan janji-janji Perjanjian Lama (ay.47)


b. Isi PI adlah seruan untuk bertobat dan penawaran pengampunan dosa (ay.47)
c. Para murid itu dipanggil untuk menjadi saksi (ay.48)
d. Yerusalem adalah titik pangkal jalan pekabaran Injil di seluruh dunia.
e. PI tidak dapat dilakukan tanpa penyertaan Roh Kudus (ay. 49

Selanjutnya tulisan Lukas termuat dalam Kisah Para Rasul yang menceritakan PI ke
seluruh dunia dengan penyertaan Roh Kudus.

e. Sisa Perjanjian Baru

Sejak Petrus dan Paulus mati syahid, berakhirlah masa PI yang pertama. Mulailah
masa konsolidasi dan pembangunan Gereja. Terutama disebabkan oleh penganiayaan-
penganiayaan dalam kekaisaran Romawi, maka jemaat lebih menekankan sifat
defensifnya dari pada sifat ofensifnya. Bukanlah aksi misioner yang diutamakan
namun eksistensi missioner dari jemaat, yakni keadaanya di tengah-tengah dunia yang
bermusuhan. Itulah kesaksian utama, kesaksian tentang Raja dunia yang diwakili
jemaatNya yang lemah dan yang menderita.

Di sini kita mengkhususkan Injil Yohanes. Di dalam Injil ke empat ini kehidupan jemaat
lebih ditekankan daripada kegiatan missioner. Yang menjadi soal pokok ialah
hubungan terhadap umat yahudi dan masyarakat hellenis. Jelaslah bahwa
keselamatan yang dari Kristus itu bersifat universil. Dialah juru selamat dunia (Yoh
4:42). Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (1:29), malah Allah
mengasihi dunia ini (3:16). Dan sungguhpun dunia membenci Yesus (7:7) tetapi Dialah
terang dunia (8:12). Penolakan umat Yahudi sudah tampak jelas tatkala Injil Yohanes
ditulis. Barangsiapa yang percaya (lepas dari latar belakang atau asalnya), beroleh
keselamatan di dalam Yesus Kristus (3:14). Pokoknya ialah kepercayaan kepada Anak
Manusia: itulah jalan ke hidupan (14:6). Sangat ditekankan bahwa jemaat Kristen
berada dalam keadaan missioner di tengah-tengah dunia, malah dibenci oleh dunia itu
(15:19). Dan mereka ditempatkan di situ diutus oleh Kristus, sama seperti Kristus
diutus ke dunia oleh Allah (17:18, band. 20:21). Dan Roh Kudus “Penghibur yang akan
diutus oleh Bapa atas nama Yesus (14:26, band. 16:7) akan menyertai dan
menguatkan orang-orang percaya untuk selamanya (14:16, band. Mat 28:20).
Paradigma Misi Modern
Era modern atau pencerahan dimulai pada abad ke 17, meskipun petunjuk-petunjuk
bahwa dunia dan pandangan pertengahan sudah mulai berantakan dapat diamati
sejak abad ke 14. Kosmologi Abad Pertengahan telah dibangun lebih kurang mengikuti
garis-garis berikut:

Allah

Gereja

Raja dan para Bangsawan

Rakyat

Binatang, Tumbuh-tumbuhan, Benda-benda

Orang tak boleh mengganggu gugat struktur ini. Di dalam tatanan benda-benda yang
telah ditetapkan oleh yang ilahi ini, masing-masing manusia serta serta paguyuban-
paguyuban harus mempertahankan tempat mereka masing-masing dalam hubungan
denga Allah, gereja dan raja. Menurut era ini, Allah menghendaki bahwa rakyat jelata
menjadi rakyat jelata dan bangsawan menjadi bangsawan. Namun melalui serangkaian
peristiwa - Renaisans, Reformasi Protestan (yang menghancurkan kesatuan yang telah
berabad-abad dan demikian juga dengan kekuatan Gereja Barat), dan hal-hal yang
serupa – gereja perlahan-lahan dihapuskan sebagai faktor untuk megesahkan struktur
masyarakat. Pengesahan kini langsung dari Allah kepada raja, dan dari raja kepada
masyarakat. Pada abad Revolusi (khususnya abad ke 18) kekuasaan yang
sesungguhnya dari raja dan para bangsawan juga dihancurkan. Rakyat jelata kini
sampai tingkat tertentu memandang diri mereka berhubungan langsung dengan Allah,
tidak lagi melalui raja atau para bangsawan dan gereja. Kembali dalam abad Ilmu
Pengetahuan (Modern), Allah pada umumnya dihapuskan dari stuktur pengesahan
masyarakat. Masyarakat, mula-mula dengan rasa terkejut, menemukan bahwa mereka
dapat mengabaikan Allah dan gereja, namun keadaan mereka tidak menjadi lebih
buruk. Kini manusia melepaskan semua yang adikodrati (Allah, gereja dan raja) dan
mulai memandang pada tingkat keberadaan yang sub-manusia, kepada binatang,
tumbuhan dan benda-benda. Manusia mendapatkan keberadaan dan keabsahannya
dari “bawah” dan bukan lagi dri “atas”.

Dua pendekatan ilmiah menjadi ciri Pencerahan : Empirisme dari Bacon (yang
diuraikan, antara lain dalam Novum Organon) dan Rasionalisme dari Descrates (yang
menerbitkan bukunya Discourse sur la methode tahun 1637 dengan ucapan yang
terkenal “Cogito, ergo sum” [“saya berpikir oleh karena itu saya ada”]. Kedua
pendekatan ini bekerja berdasarkan premis bahwa nalar manusia mempunyai suatu
tingkat otonomi tertentu. Namun, baik Bacon maupun Descrates tidak menganggap
teori-teori mereka tentang kemajuan ilmiah dalam pengertia apapun mengancam
iman Kristen. Akan tetapi, pada masa sesudahnya karya rintisan mereka ilmu
pengetahuan semakin dianggap berlawanan dengan iman Kristen.

Ciri-ciri Paradigma Abad Pencerahan:

1. Pencerahan adalah Zaman Penalaran.

Dikemudian hari ucapan Descrates, Cogito, ergo sum, akhirnya berarti bahwa pikiran
manusia dianggap sebagai titik tolak yang pasti untuk segala pengetahuan. Penalaran
manusia itu “alamiah” artinya diperoleh dari tatanan alam dan oleh karenanya bebas
dari segala norma tradisi ataupun praduga. Penalaran mewakili suatu warisan yang
dimiliki tidak hanya oleh “orang-orang percaya” melainkan juga semua orang secara
merata.

2. Pencerahan bekerja dengan skema subyek-obyek

Hal ini berarti bahwa ia memisahkan manusia dengan lingkungannya dan


memampukannya untuk meneliti dunia binatang dan mineral dari sudut pandangan
obyektivitas ilmiah. Alam bukan lagi “ciptaan” dan tidak lagi menjadi guru bagi
manusia, melainkan obyek analisis mereka. Res cogitans (umat manusia dan pikiran
manusia) dpat meneliti res extensa (keseluruhan dunia yang non manusia). Bahkan
manusia tidak lagi dianggap sebagai suatu keberadaan yang menyeluruh malainkan
dapat dilihat dan dipelajari dari berbagai perspektif: sebagai mahkluk yang berpikir
(filsafat), sebagai mahkluk sosial (sosiologi), sebagai mahkluk religius (studi-studi
agama), sebagai mahkluk fisik (biologi, fisiologi, anatomi dan ilmu-ilmu yang terkait),
sebagai mahkluk budaya (antropologi budaya) dst.

Jadi umat manusia dan pikirannya tidak mempunyai batas. Seluruh bumi dapat
didiami dan ditaklukkan dengan keberanian. Samudera dan benua ditemuka, sistem
koloni diperkenalan. Seolah-olah ada kekuasaan yang tidak dikenal sebelumnya, kini
dibebaskan. Suatu keyakinan yang luar biasa menguasai manusia; mereka merasa
bahwa sesuatu yang “riil” itu baru mulai menampakkan dirinya. Dunia fisik dapat
dimanipulasi dan diekploitir

3. Pencerahan: penghapusan maksud

Refleksi Yunani kuno dan Abad Pertengahan percaya akan kausalitas (sebab akibat)
kejiwaan dan menganggap maksud sebagai sebuah kategori penjelasan di dalam fisika.
Dimensi-dimensi teleologi ini adalah penting bagi orang-orang kuno. Namun sejak
abad 17 dan selanjutnya, ilmu pengetahuan telah tegas-tegas menjadi non-teleologis.
Ia tidak dapat menjawab pertanyaan oleh siapa dan untuk maksud apakah alam ini
terjadi; bahkan ia tidak tertarik terhadap pertanyaan tersebut. Ilmu pengetahuan
modern cenderung menjadi sepenuhnya deterministik (sebab menentukan akibat),
karena hukum-hukum yang tidak berubah dan secara matematis stabil menjamin hasil
yang diharapkan. Pikiran manusia manjadi tuan dan pendorong (inisiator) yang dengan
cermat merencanakan ke depan untuk segala kemungkinan dan semua proses dapat
sepenuhnya dipahami dan dikendalikan. Kehamilan, kelahiran, penyakit dan kematian
kehilangan sifat misterinya; mereka berubah menjadi proses-proses biologis-sosiologis
semata-mata.

4. Pencerahan: keyakinan akan kemajuan

Gagasan untuk berlayar menembus benua-benua bagi generasi Pencerahan cukup


memikat dan merangsang. Orang kini mengungkapkan sukacita dan kegairahan karena
adanya kemungkinan untuk melintasi bumi dan ‘menemukan’ wilayah-wilayah baru
untuk melihat fajar baru di dalam dunia yang kelam. Bangsa-bangsa Barat merebut
bumi dan memperkenalkan sistem koloni. Suatu keyakinan yang sulit dikendalikan
memenuhi mereka ketika mereka mempersiapkan hari esok mereka. Mereka yakin
bahwa mereka mempunyai kemampuan dan kehendak untuk menciptakan ulang
dunia sesuai gambar mereka.

Gagasan tentang kemajuaan tampak dalam program-program pembangunan yang


dilakukan oleh bangsa Barat terhadap apa yang disebut dunia ke tiga. Akibat dari
pekerjaan tersebut terungkap dalam model kehidupan yang konsumerisme,
kepemilikan materi dan kemajuan ekonomi. Mereka ingin membangun dunia ke tiga
dengan gagasan modernisasi. Dalam paradigma ini lawan modernisme adalah
keterbelakangan, suatu kondisi yang harus diatasi dan ditinggalkan oleh bangsa-
bangsa yang “tidak maju”.

Yang baru dalam model in8 adalah keinginan untuk meyebarkan kekayaan juga
diantara mereka yang kurang beruntung, namun dalam analisis terakhir (setelah
duapuluh lima tahun dianalisis), masalahnya bukanlah keuntungan atau kekayaan bagi
semua, melainkan kekuasaan, karena egoismelah yang menentukan segala-galanya.

5. Pencerahan: pengetahuan ilmiah itu bersifat faktual, bebas nilai dan netral

Yang membuat suatu keyakinan itu benar, ialah fakta dan fakta ini tidak sedikitpun
juga melibatkan pikiran orang yang mempunyai keyakinan tersebut. Suatu keyakinan
itu benar bila ada suatu fakta yang sesuai dan salah bila tidak ada fakta yang sesuai
dengannya. Fakta mempunyai nyawanya sendiri, bebas dari pengamat. Fakta secara
obyektif adalah benar. Karl Popper, mendefinisikan “pengetahuan atau pikiran dalam
suatu pengertian obyektif” sbb: (Ia)...sama sekali bebas dari klaim pengetahuan
siapapun; niapun bebas dari keyakinan siapapun.... Pengetahuan dalam pengertian
yang obyektif adalah pengetahuan tanpa si pengetahunya (the knower); pengetahuan
adalah pengetahuan tanpa subyek yang mengetahuinya.”

Berbeda dengan fakta, Nilai didasarkan bukan atas pegetahuan, melainkan pada opini,
pada keyakinan. Fakta tidak dapat diperdebatkan; nilai, pada pihak lain adalah
masalah preferensi dan pilihan. Agama ditempatkan pada ranah nilai-nilai ini karena ia
didasarkan pada pemahaman-pemahaman subyektif dan tidak dapat dibuktikan
benar. Ia dipindahkan ke dunia opini yang pribadi dan dipisahkan dari dunia fakta
publik.

6. Pencerahan: semua masalah pada prinsipnya dapat dipecahkan

Semua masalah pada dasarnya dapat dipecahkan. Sudah tentu masih banyak yang
beum terpecahkan, namun ini semata-mata karena kita belum menguasai faktanya
yang relevan. Segala sesuatu dapat dijelaskan atau setidak-tidaknya dapat dibuat jelas.
Tidak ada celah atau misteri yang selama-lamanya akan menentang pikiran manusia
yang sudah dibebaskan dan yang terus menerus menyelidik. Cakrawalanya tidak
terbatas. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang kumulatif dan yang
mencakup segala-galanya. Terus bertumbuh, selalu maju ke depan dan meningkat
bersamaan dengan meningkatnya himpunan data pengamatan. Kuasa alam yang jahat
dan eksternal akhirnya menyerah pada perencanaan manusia dn penalarannya, hingga
memampukan manusia untuk menciptakan kembali dunia dengan gambarnya dan
menurut rancagan mereka sendiri.

7. Pencerahan menganngap manusia sebagai individu yang dibebaskan dan


otonom

Pada Abad Pertengahan paguyuban diutamakan lebih dari pada individu, meskipun
tekanan individu dapat ditemukan dalam teologi Barat oleh Agustinus dan Luther,
namun tekanan individu di sini tidak pernah bebas dan otonom melainkan berdiri
dalam hubungan dengan Allah dan gereja. Kini individu menjadi penting dan tertarik di
dalam dan kepada diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, kredo utama Pencerahan adalah iman kepada manusia. kemajuannya
dijamin oleh persaingan bebas antar manusia yang mengejar kebahagiannya.
Keswasembadaan individu sebagai sebuah kredo yang suci diagungkan mengatasi
tanggung jawab sosial. “Tidak ada yang mutlak; kebebasan itulah yang mutlak”

Pada prinsipnya tidak perlu lagi ada orang-orang dan kelas-kelas istimewa. Semua
oranga dilahirkan sama dan memiliki hak-hak yang sama pula. Namun semua ini tidak
diperoleh dari agama, melainkan dari “alam”. Jadi pada satu pihak, manusia lebih
penting dari pada Allah; namun pad pihak lain pada dasarnya ia tidak berbeda dengan
binatang dan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu individupun dapat diturunkan
derajatnya ke tingkat mesin, dimanipulasi dan dieksploitasi oleh mereka yang ingin
menggunakannya untuk maksud-maksud mereka.