Anda di halaman 1dari 12

CRITICAL APPRAISAL

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

Oleh :
dr. Pande Made Suwanpramana, S.Ked
PPDS-1 Ilmu Obsteri dan Gynekologi
1871032011

Pembimbing :
Dr. dr. Tjokorda Gde Bagus Mahadewa, M.Kes, Sp.BS(K)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1 (PPDS-1)


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYABA
DENPASAR
2019
DAFTAR ISI

Halaman depan.................................................................................................... i

Daftar isi.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

BAB II ISI ........................................................................................................... 2


2.1 Filsafat Ilmu............................................................................................... 2
A. Pengertian Filsafat Ilmu ................................................................... 2
2.2.Pengertian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi ....................................... 4
A Ontologi ............................................................................................ 5
B. Epistemologi .................................................................................... 6
C. Aksiologi .......................................................................................... 7
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 10

ii
BAB I
Pendahuluan

Sejarah filsafat tidak selalu lurus terkadang berbelok kembali kebelakang, sedangkan sejarah ilmu
selalu maju. Dalam sejarah pengetahuan manusia, filsafat dan ilmu selalu maju. Dalam sejarah
pengetahuan manusia, filsafat dan ilmu selalu berjalan beriringan dan saling berkaitan. Filsafat dan
ilmu mempunyai titik singgung dalam mencari kebenaran.1
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang sering terkait, baik secara substansial maupun
hisfories karena kelahiran ilmu tidak lepas dari pernanan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberdaan filsafat. Menurut Lewis White Beck, Filsafat ilmu bertujuan membahas
dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan
pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.2
Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia
mempunyai Bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang
melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur
kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Penalaran
merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir
itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu.
Pada hakikatnya aktifitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan yang didasarkan pada tiga
maslah pokok yakni: Apakah yang ingin diketahui, bagaiaman cara memperoleh pengetahuan dan
apakah nilai pengetahuan tersebut. Kelihatannya pertanyaan tersebut sangat sederhana, namun
mencakup permasalahan yang sangat asasi. Maka untuk menjawabnya diperlukan system berpikir
secara radikal , sitematis dan universal sebaga kebenaran ilmu yang dibahas dalam filsafat
keilmuan.1,2

1
BAB II
ISI

2.1 Filsafat Ilmu


A. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai
pandanganpandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan
akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah
dan intelektual.1
Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire
yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering
diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan.
Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan
yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan
untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji. Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu
(ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda
dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda
dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme-positiviesme
sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika.1,3
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi.
Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan
logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang
membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos =
teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah
dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti
bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang
disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah
disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara
prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran
ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan.1,2,4

2
Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim disebut tahap-mistik, tidak
terdapat perbedaan di antara pengetahuanpengetahuan yang berlaku juga untuk obyek-obyeknya.
Pada tahap mistik ini, sikap manusia seperti dikepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya,
sehingga semua obyek tampil dalam kesemestaan dalam artian satu sama lain berdifusi menjadi
tidak jelas batas-batasnya. Tahap berikutnya adalah tahap-ontologis, yang membuat manusia telah
terbebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, sehingga mampu mengambil jarak dari obyek di
sekitarnya, dan dapat menelaahnya. Itulah mengapa tahap ontologis dianggap merupakan tonggak
ciri awal pengembangan ilmu.4 Hal ini merupakan salah satu ciri pendekatan ilmiah yang
kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode ilmiah yang makin mantap berupa proses
berpikir secara analisis dan sintesis. Sesudah melalui tahap ontologis, maka dimasukan tahap akhir
yaitu tahap fungsional. Pada tahap fungsional, sikap manusia bukan saja bebas dari kepungan
kekuatan-kekuatan gaib, dan tidak semata-mata memiliki pengetahuan ilmiah secara empiris,
melainkan lebih daripada itu. Sebagaimana diketahui, ilmu tersebut secara fungsional dikaitkan
dengan kegunaan langsung bagi kebutuhan manusia dalam kehidupannya. Tahap fungsional
pengetahuan sesungguhnya memasuki proses aspel aksiologi filsafat ilmu, yaitu yang membahas
amal ilmiah serta profesionalisme terkait dengan kaidah moral.3

Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi


Tahapan Uraian
Ontologi (Hakikat Ilmu) - Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?
- Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek
tersebut?
- Bagaimana hubungan antara obyek tadi
dengan daya tangkap manusia (seperti
berpikir, merasa, dan mengindera) yang
membuahkan pengetahuan?
- Bagaimana proses yang memungkinkan
ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
- Bagaimana prosedurnya?

3
Epistimologi (Cara - Bagaimana proses yang memungkinkan
Mendapatkan Pengetahuan) ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
- Bagaimana prosedurnya? - Hal-hal apa
yang harus diperhatikan agar kita
mendapatkan pengetahuan dengan benar?
- Apa yang disebut dengan kebenaran itu
sendiri?
- Apa kriterianya?
- Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita
dalam mendapatkan pengetahuan yang
berupa ilmu?
Aksiologi (Guna Pengetahuan) - Untuk apa pengetahuan tersebut
digunakan?
- Bagaiman kaitan antara cara penggunaan
tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
- Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah
berdasarkan pilihan-pilihan moral?
- Bagaimana kaitan antara teknik prosedural
yang merupakan operasionalisasi metode
ilmiah dengan norma-norma
moral/profesional?
Sumber: Jujun S.Suriasumantri, 1993.2

2.2 Pengertian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi


Kata Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi menurut Bahasa berasal dari Bahasa Yunani. Kata
Ontologi berasal dari kata Öntos”yang berarti “berada (yang ada)”. Kata Epistemologi berasal dari
Bahasa Yunani artinya knowledge yaitu pengetahuan. Kata tersebut terdiri dari dua suku kata yaitu
logia artinya pengetahuan dan episteme artinya tentang pengetahuan. Jadi pengertian etimologi
tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa epistemology merupakan pengetahuan tentnag
pengetahuan. Dan kata Aksiologi berasal dari kata Äxios”yang berarti “bermanfaat”. Ketiga kata
tersebut diatambah dengan kata “logos”berarti ilmu pengetahuan, ajaran dan teori”.2,5

4
Menurut istilah, Ontologi adalah ilmu hakekat yang menyelidiki alam nyata ini dan
bagaimana keadaan yang sebenarnya. Epistemologi adalah ilmu yang membahas secara
mendalam segenap proses penyusunan pengetahuan yang benar. Sedangkan Aksiologi adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan.1,3
Dengan demikian Ontologi adalah ilmu pengetahuan yang meniliti segala sesuatu yang
ada. Epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang teori, sedangkan Aksiologi adalah kajian
tentang nilai ilmu pengetahuan.

A. Ontologi
Ontologi adalah bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari metafisika,
dan metafisika merupakan salah satu bab dari filsafat
Ditinjau dari segi ontologi, ilmu membatasi diri pada kajian yang bersifat empiris. Objek
penelaah ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapt diuji oleh panca indera manusia.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hal-hal yang sudah berada diluar jangkauan manusia
tidak dibahas oleh ilmu karena tidak dapat dibuktikan secara metodologis dan empiris, sedangkan
ilmu itu mempunyai ciri tersendiri yakni berorientasi pada dunia empiris.4,6
Berdasarkan objek yang ditelaah dalam ilmu pengetahuan dua macam:
1. Obyek material ialah seluruh lapangan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan
suatu ilmu.
2. Obyek Formal ialah penentuan titik pandang terhadap obyek material.
Ada beberapa asumsi mengenai objek empiris yang dibuat oleh ilmu, yaitu: Pertama,
Menganggap objek-objek tertentu mempunyai kesamaan Antara yang satu dengan yang lainnya,
misalnya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Kedua, menganggap bahwa suatu benda
tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, determinisme yakni
menganggap segala gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Asumsi yang
dibuat oleh ilmu bertujuan agar mendapatkan pengetahuan yang bersifat analitis dan mampu
menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang tertangguk dalam pengalaman manusia.1,4
Asumsi itupun dapat dikembangkan jika pengalaman manusia dianalisis dengan berbagai
disiplin keilmuan dengan memperhatikan berapa hal; Pertama, asumsi harus relevan dengan
bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan

5
dasar pengkajian teoritis. Kedua, asumsi harus disimpulkan dari “keadaan sebagaiman
adanya”bukan “bagaiman keadaan yang seharusnya”.
Pertanyaan mendasar yang muncul dalam tataran ontology adalah untuk apa penggunaan
pengetahuan itu? Artinya untuk apa orang mempunyai ilmu apabila kecerdasannya digunakan
untuk mengahncurkan orang lain, misalnya seorarang ahlsi ekonomi yang memakmurkan
saudaranya tetapi menyengsarakan orang lain, seorang ilmuan politik yang memiliki strategi
perebutan kekuasaan secara licik.

B. Epistemologi
Pengetahuan yang telah didapatkan dari aspek ontology selanjutnya digiring ke aspek
epistemologi untuk diuji kebenarannya dalam kegiatan ilmiah. Menurut Ritchie Calder proses
kegiatan ilmiah dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa adanya kontak manusia dengan dunia empiris menjadikannya ia berpikir tentang kenyataan-
kenyataan alam.1,6
Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana dan
untuk apa, yang tersusun secara rapi dalam ontology, epistemology, dan aksiologi. Epistemologi
itu sendiri selalu dikaitkan dengan ontology dan aksiologi ilmu. Persoalan utama yang dihadapi
oleh setiap epistemology pengetahuan pada dasarnya adalah bagaiaman cara mendapatkan
pengetahuan yang benar dengan mempertimbangkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing
ilmu.
Kajian epistemology membahas tentang bagaiman proses mendapatkan ilmu pengetahuan,
hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang
disebut kebenaran dan apa kriterianya.2,3,4
Objek telaah epistemology adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu dating,
bagaiaman kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan
dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu hal.
Jadi yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang
memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur
memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan
kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral.

6
Dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan tidak cukup dengan berpikir
secara rasional ataupun sebaliknya berpikir secara empiric saja karena keduanya mempunyai
keterbatasan dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. Jadi pencapaian kebenaran menurut
ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah yang merupakan gabungan atau kombinasi
antara rasionalisme dengan empirisme sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Metode ilmiah adalah suatu rangkaian prosedur tertentu yang diikuti untuk mendapatkan
jawaban tertentu dari pernyataan yang tertentu pula. Epistemologi dari metode keilmuan akan lebih
mudah dibahas apabila mengarahkan perhatian kita kepada sebuah rumus yang mengatur langkah-
langkah proses berfikir yang diatur dalam suatu urutan tertentu.
Kerangka dasar prosedur ilmu pengetahuan dapat diuraikan dalam enam langkah berikut:5,6
a. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah
b. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan
c. Penyusunan atau klarifikasi data
d. Perumusan hipotesis
e. Deduksi dari hipotesis
f. Tes pengujian kebenaran (verifikasi)
Keenam langkah yang terdapat dalam metode keilmuan tersebut masing-masing terdapat
unsur-unsur dan rasional.
Proses metode keilmuan pada akhirnya berhenti sejenak ketika sampai pada titik”pengujian
kebenaran”untuk mendiskusikan benar atau tidaknya suatu ilmu. Ada tiga ukuran kebenaran yang
tampil dalam gelanggang diskusi mengenai teori kebenaran, yaitu teori korespodensi, koherensi
dan pragmatis. Penilaian ini sangat menentukan untuk menerima, menolak, menambah atau
merubah hipotesa, selanjutnya diadakan teori ilmu pengetahuan.

C. Aksiologi
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya. Bidang aksiologi membahas tentang nilai suatu pengetahuan. Nilai
dari sesuatu tergantung pada tujuannya. Maka pembahasan tentang nilai pengetahuan tidak
dapat dipisahkan dari tujuannya. Masing-masing manusia memang mempunyai tujuan sendiri.
Namun pasti ada kesamaan tujuan secara obyektif bagi semua manusia. Begitu juga dengan
pengetahuan. Semua pengetahuan memiliki tujuan obyektif. Tujuan dari pengetahuan adalah

7
untuk mendapatkan kebenaran. Maka nilai dari pengetahuan atau ilmu adalah untuk
mendapatkan kebenaran. Hal ini terlepas dari kebenaran yang didapatkan untuk tujuan apa.
Apakah untuk memperbaiki atau untuk merusak diri.3,6
Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi
kehidupan manusia tentang nila-nilai khusunya etika.
Menurut Bramel Aksiologi terbagi tiga bagian:
1. Moral Conduct yaitu tindakan moral, Bidang ini melahirkan disiplin khusus etika.
2. Estetic expression yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melhirkan keindahan
3. Socio-political life yaitu kehidupan social politik, yang akan melahirkan filsafat social
politik
Aspek aksiologi ini amatlah penting untuk dicermati karena dewasa ini kita sebagai orang
tua cenderung mengabaikan nilai moral dalam mendidik anak-anak. Fokus pendidikan anak tidak
boleh hanya diarahkan untuk mendidik seorang anak agar menjadi cerdas, akan tetapi juga harus
menekankan nilai moral yang luhur dalam setiap sendi aktivitas mereka. Disamping itu, para orang
tua ataupun pendidik juga tidak terlepas dari tanggung jawab untuk secara langsung menjad suri
tauladan dalam proses pendidikan ataupun proses belajar mengajar.

8
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan bahasan diatas, filsafat ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi tiga kajian besar
yakni: 1) Menyingkap ilmu pengetahuan landasan yang digunakan adalah ontologi, epistemologi
dan aksiologi, atau dengan kata lain apa, bagaimana dan kemana ilmu itu. 2) Hakekat obyek ilmu
(ontologi) terdiri dari objek materi yang terdiri dari jenis-jenis dan sifat-sifat ilmu pengetahuan
dan objek forma yang terdiri dari sudut pandang dari objek itu. 3) Epistemologi diawali dengan
langkah-langkah : perumusan masalah, penyusunan kerangka pikiran, perumusan hipotesis, dan
penarikan kesimpulan. 4) Nilai kegunaan ilmu tergantung dari manusia yang memanfaatkannya.
Dalam realitas manusia terdiri dari dua golongan ;pertama golongan yang mengatakan bahwa ilmu
itu bebas mutlak berdiri sendiri. Golongan kedua berpendapat bahwa ilmu itu tidak bebas nilai.
Adapun dalam Islam ilmu itu tidak bebas nilai ia dilandasi oleh hokum normatif transendental.
Nilai yang menjadi dasar dalam penilaian baik buruknya segala sesuatu dapat dilihat dari nilai
etika (agama) dan estetika.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Syafii, Inu Kencana. Pengantar Filsafat, Cet. I; Bandung: Refika Aditama, 2004.
2. Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. X; Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1990), h. 33.
3. Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat, Cet. V; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
4. Bakker, Anton. Ontologi dan Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-Dasar
Kenyataan,Cet. VII: Yogyakarta: kanisius, 1997.
5. Iswara S, Sriwiyana H. Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Tinggi. Jakarta : Cintya Press;2010
6. Tafsir A. Filsafat Ilmu. Bandung : PT Remaja Bosda Karya;2004

10