Anda di halaman 1dari 20

CASE REPORT

HERNIA SCROTALIS INKASERATA

Disusun oleh:

Rini Risnawati Tardi

030.13.168

Pembimbing :

dr. . Santi Andiani, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH RSUD BUDHI ASIH


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
PERIODE 19 Desember 2016 - 24 Februari 2017

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa : Rini Risnawati Tardi


NIM : 030.13.168

Bagian : Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Bedah

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Periode Kepaniteraan : 2 Oktober 2017 - 9 Desember 2017

Judul Case : Hernia Inkaserata

Pembimbing : dr. Santi Andiani, Sp.B

Jakarta, November 2017

Pembimbing,

dr. Santi Andiani, Sp.B


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas rahmat dan izin-
Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya. Laporan kasus ini
disusun guna memenuhi tugas kepaniteraan klinik Bagian Ilmu Bedah di RSUD Budhi Asih
Jakarta.

Penyusun mengucapkan terimakasih kepada dr. Santi Andiani, Sp.B yang telah
membimbing penyusun dalam mengerjakan laporan kasus ini, serta kepada seluruh dokter yang
telah membimbing penyusun selama di kepaniteraan klinik Bagian Ilmu Bedah di RSUD Budhi
Asih Jakarta. Dan juga ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan di kepaniteraan
ini, serta kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penyusun.

Penyusun sadar laporan kasus ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak
kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penyusun
harapkan. Akhir kata, penyusun mengharapkan semoga laporan kasus ini dapat berguna dan
memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, November 2017

Rini Risnawati Tardi


BAB I

PENDAHULUAN
BAB II

LAPORAN KASUS

STATUS ILMU PENYAKIT BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
CASE

Nama Mahasiswa : Rini Risnawati Tardi

NIM : 030.13.168

Dokter Pembimbing : dr.Santi Andiani Sp.B

IDENTITAS PASIEN

Nama Lengkap : Tn. Hamdanih Jenis Kelamin : Laki-laki


Umur : 72 tahun Suku Bangsa : Betawi
Status Perkawinan : Menikah Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta Pendidikan : S1
Alamat : Jl. Swadaya raya Tanggal Masuk RS :28/10/2017
Duren sawit RT/RW 05/05

A. ANAMNESIS

Diambil dari autoanamnesis, tanggal 31 Oktober 2017 pukul 13.00 WIB

Keluhan Utama :

Nyeri dan terdapat benjolan di scrotalis kanan sejak 2 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :


Os datang ke IGD RSUD Budhi Asih pada tanggal 28 Oktober 2017 pada pukul 01.30
wib. Os mengatakan sejak 9 tahun yang lalu terdapat benjolan pada skrotum kanan, benjolan
hilang saat berbaring dan timbul saat mengejan atau mengangkat benda berat, nyeri (-), mual (-)
muntah (-), tidak pernah melakukan pengobatan sebelumnya. Os mengatakan 2 jam SMRS
mengeluhkan nyeri pada daerah skrotum kanan, benjolan tidak dapat masuk kembali, demam
(+), mual (-), muntah (-), nyeri berawal setelah BAB sampai akhirnya os masuk RS.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Os memiliki riwayat hipertensi terkontrol, Diabetes terkontrol dan riwayat Stroke2 bulan
yang lalu.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Terdapat riwayat diabetes mellitus, hipertensi pada keluarga pasien.

Riwayat Kebiasaan :

Os saat ini sudah tidak bekerja, tidak ada riwayat mengangkat benda berat dan batuk
lama.

B. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

Kesan Sakit : tampak sakit sedang

Kesadaran : compos mentis

Kesan Gizi : gizi cukup

Tanda Vital
Tekanan darah : 163 / 70 mmHg

Tekanan nadi : 76 x/menit

Suhu : 37,0˚C

Frekwensi nafas : 21 x/menit

Status Generalis

Kepala : normocephali , distribusi rambut merata

Mata : pupil bulat isokor, conjungtiva anemis (- / -) , sclera ikterik (+ /+) ,

reflex cahaya langsung (+ /+) , reflex cahaya tidak langsung (+ / +)

Hidung : simetris, deformitas (-), septum deviasi (-) , secret (-)

Telinga : normotia, liang telinga lapang, reflex cahaya membran timpani (+/+), secret (-/-)

Mulut : simetris, kering (+) , sianosis (-),

tonsil T1-T1,tenang.

Leher : trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba, KGB tidak teraba pembesaran
Thorax :

Inspeksi :

– Bentuk thorax normal, simetris, potongan melintang berbentuk elips


– Warna kulit dinding dada hitam, tidak ikterik, tidak anemis, tidak sianosis, tidak
pucat, dilatasi vena (-), tidak tampak effloresensi yang bermakna
– Tulang sternum normal,mendatar, tidak cekung, tidak menonjol
– Tulang iga normal, tidak terlalu melebar, tidak terlalu menyempit
– Sela iga normal, tidak menyempit, tidak melebar, tidak ada retraksi
– tampak pulsasi iktus kordis pada ICS 5
– Gerak pernafasan dinding dada simetris, tidak ada bagian yang tertinggal, tipe
pernafasan abdomino-torakal

Palpasi :

– Pergerakan nafas kiri dan kanan simetris, tidak ada bagian yang tertinggal
– Vocal fremitus kanan = kiri
– Ictus cordis setinggi ICS 5 1cm medial linea midclavicularis kiri

Perkusi :

– Sonor pada kedua lapang paru


– Batas paru - hepar setinggi ICS 5 linea midclavicularis kanan dengan suara
redup
– Batas paru - jantung kanan setinggi ICS 3 – ICS 5 linea sternalis kanan dengan
suara redup
– Batas bawah paru – lambung setinggi ICS 8 linea axillaris anterior dengan suara
timpani
– Batas paru – jantung kiri setinggi ICS 5 3cm medial line midclavicularis kiri
dengan suara redup
– Batas atas jantung setinggi ICS 3 linea parasternalis kiri
– Margin of isthmus kronig sonor 3 jari pemeriksa simetris pada kanan dan kiri.

Auskultasi :

– Paru : Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing(-/-)


– Jantung :
o Irama teratur, frekuensi 100 x/menit
o BJ I-II regular, BJ III & IV (-), Opening snap (-), ejection sound (-),
sistolik click (-)
o Murmur (-), gallop (-)
Abdomen :

Inspeksi :

– Bentuk abdomen mendatar dan simetris, gerak dinding perut


– simetris, tidak ada yang tertinggal, dinding perut tertinggal saat inspirasi
dan ekspirasi, tidak tampak gerak peristaltik usus.

Auskultasi:

– Bising usus 1x/menit.

Perkusi :

– Perkusi orientasi pada 4 kuadran abdomen rtimpani


– Tidak terdapat nyeri ketok pada seluruh regio abdomen

Palpasi :

– dinding perut : tidak terdapat nyeri tekan seluruh regio abdomen, massa (-
), defens muskular (+)
- Hati : tidak teraba
- Limpa : tidak teraba
- Ginjal : Ballotement (-), nyeri ketok CVA (-), Shifting
dullness (+)

Daerah Inguinal
Look : Terdapat benjolan di inguinal dextra. Benjolan berwarna sama dengan kulit
sekitar yang turun sampai ke scrotum berbentuk lonjong dengan batas
tidak tegas. (Valsava maneuver)

Auskultasi : Tidak terdengar suara bising usus pada benjolan


Feel : Tidak ada nyeri tekan, permukaan perabaan lunak dan licin.
Finger Test : +

Ekstremitas
– Atas : akral hangat (+/+), oedem (-/-),
– Bawah : akral hangat (+/+), oedem (-/-)

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

– Laboratorium 19 Desember 2016

Hematologi Hasil Satuan Nilai Normal


Leukosit 11,3 Ribu/µl 3,8 – 10,6
Eritrosit 4.0 Juta/ µl 4,4 – 5,9
Hemoglobin 13.1 g/dl 13,2 – 17,3
Hematokrit 39 % 40 – 52
Trombosit 301 Ribu/µl 150 - 440
MCV 97.5 fL 80 – 100
MCH 32.6 pg 26 – 34
MCHC 33.4 g/dL 32 – 36
RDW 11.9 % < 14

– Kimia Klinik

Met. karbohidrat Hasil Satuan Nilai Normal


GDS 156 Mg/dl <110
Ginjal
Ureum 14 mg/dL 17 – 49
Kreatinin 0.61 mg/dL < 1,2

– Elektrolit

Elektrolit serum Hasil Satuan Nilai Normal


Natrium 137 mmol/L 135-155
Kalium 3.3 mmol/L 3.6-5.5
Klorida 102 mmol/L 98-109

Kesimpulan :

1. Trauma tumpul abdomen suspek perdarahan intraabdomen


2. Vulnus laresatum digiti I manus dextra

D. RESUME

Laki- laki, 72 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan yang hilang timbul yang
progresif dan sedikit nyeri (skala 2) pada daerah inguinal kanan sejak 9 tahun SMRS.
Sekarang turun ke scrotum dextra. Tanda- tanda obstruksi usus (-). Pasien sadar dan
tanda-tanda vital stabil. Pemeriksaan fisik generalis dalam batas normal. Status lokalis
pada inguinal dextra, pada inspeksi dengan valsava maneuver tampak benjolan yang
turun sampai ke scrotum berwarna sama dengan kulit berbentuk lonjong dengan batas
tidak tegas, pada auskultasi tidak terdengar suara bising usus pada benjolan, pada palpasi
didapatkan perabaan lunak dan licin, nyeri tekan positif, finger test (+). Pemeriksaan
penunjang dilakukan untuk persiapan operasi, laboratorium dan foto toraks dalam batas
normal.

E. DIAGNOSA KERJA

Hernia Hernia scrotalis dextra reponibel


F. DIAGNOSIS BANDING

– Peritonitis ec ependisitis perforasi


– Perforasi gaster ec trauma

G. PENATALAKSANAAN
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi

Region inguinal harus dipahami, pengetahuan tentanag region ini penting untuk terapi
operatif ari hernia. Sebagai tambahan, pengetahuan tentang posisi relative dari saraf,
pembuluh darah dan struktur vas deferen, aponeurosis dan fascia.
a. Kanalis inguinalis
Kanalis inguinalis pada orang dewasa panjangnya kira-kira 4 cm dan terletak 2-4
cm kearah caudal lagamentum inguinal. Kanal melebar diantara cincin internaldan
eksternal. Kanalis inguinalis mengandung salah satu vas deferens atau
ligamentum uterus. Funikulus spermatikus terdiri dari serat-serat otot
cremaster,pleksus pampiniformis, arteri testicularis n ramus genital nervus
genitofemoralis,ductus deferens, arteri cremaster, limfatik, dan prosesus vaginalis
.
Kanalis inginalis berjalan dari lateral ke medial, dalam ke luar dan cepal ke
caudal.Kanalis inguinalis dibangun oleh aponeurosis obliquus ekternus
dibagiansuperficial, dinding inferior dibangun oleh ligamentum inguinal dan
ligamentumlacunar. Dinding posterior (dasar) kanalis inguinalis dibentuk oleh
fasciatransfersalis dan aponeurosis transverses abdominis. Dasar kanalis
inguinalilsadalah bagian paling penting dari sudut pandang anatomi maupun
bedah.
Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral daritrigonum
Hesselbach. Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane rectus,dan
ligamentum inguinal menjadi batas inferior. Hernia yang melewati
trigonumHesselbach disebut sebagai direct hernia, sedangkan hernia yang muncul
lateraldari trigonum adalah hernia indirect.

b. Aponeurosis Obliqus External


Aponeurosis otot obliquus eksternus dibentuk oleh dua lapisan: superficialdan
profunda. Bersama dengan aponeorosis otot obliqus internus dan
transversusabdominis, mereka membentuk sarung rectus dan akhirnya
linea alba. externaloblique aponeurosis menjadi batas superficial dari kanalis
inguinalis. Ligamentuminguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke
tuberculum pubicum

c.
3.2 Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan pada hernia abdomen, isiperut menonjol melalui
defek atau bagian lemah dari bagian muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas
cincin, kantong dan isi hernia. Semua hernia terjadi melalui celah lemah atau kelemahan
yang potensial pada dinding abdomen yang dicetuskan oleh peningkatan tekanan
intraabdomen yang berulang atau berkelanjutan
3.3 Epidemologi
Hampir 75% dari hernia abdomen merupakan hernia ingunalis. Hernia inguinalis dibagi
menjadi hernia ingunalis lateralis (indirek) dan hernia ingunalis medialis (direk) dimana
hernia ingunalis lateralis ditemukan lebih banyak dua pertiga dari hernia ingunalis.
Sepertiga sisanya adalah hernia inguinalis medialis.
Hernia sisi kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri. Perbandingan pria:wanita pada
hernia indirect adalah 7:1. Ada kira-kira 750000 herniorrhaphy dilakukan tiap tahunnya di
amerika serikat, dibandingkan dengan 25000 untuk hernia femoralis, 166000 hernia
umbilicalis, 97000 hernia post insisi dan 76000 untuk hernia abdomen lainya.
Hernia femoralis kejadiannya kurang dari 10 % dari semua hernia tetapi 40% dari itu
muncul sebagai kasus emergensi dengan inkarserasi atau strangulasi. Hernia femoralis lebih
sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang pernah menjalani operasi hernia inguinal.
Meskipun kasus hernia femoralis pada pira dan wanita adalah sama, insiden hernia
femoralis dikalangan wanita 4 kali lebih sering dibandingkan dikalagan pria, karena secara
keseluruhan sedikit insiden hernia inguinalis pada wanita

3.4 Etiologi dan faktor resiko


Hernia inguinal dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu acquired dan kongenital. Umumnya,
hernia inguinal disebabkan oleh berbagai faktor dan yang paling utama adalah kelemahan
otot abdomen, karena itu biasanya penyebabnya acquired. Sementara pada hernia
kongenital, pada saat fetus terjadilah penurunan testis dari dalam abdomen (intraabdominal)
ke skrotum pada trimester ketiga. Penurunan testis ini melalui gubernaculum dan
diverticulum peritoneum yang menembus melalui inguinal canal dan terjadilah prosesus
vaginalis. Pada antara minggu ke-36 sampai ke-40, prosesus vaginalis menutup dan
menghilangkan bukan peritoneal pada internal inguinal ring. Jika tidak menutup dengan
sempurna maka akan menimbulkan hernia.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menimbulkan hernia:
1. Batuk
2. Obese
3. Mengejan
4. Merokok
5. Mengangkat barang berat
6. Ascites
7. Pregnancy

3.5 Bagian dan klasifikasi hernia


Bagian - bagian hernia :
1. Kantong hernia ada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia
memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis.
2. Isi hernia berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya
usus,ovarium, danjaringan penyangga usus (omentum).
3. Pintu hernia merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
4. Leher hernia bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.
5. Locus minoris resistence (LMR)

Menurut sifat atau keadaannya, hernia dibedakan menjadi:


1. Hernia Reponibel
Disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat kembali ke dalam rongga perut dengan
sendirinya. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau
didorong masuk ke perut, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus.
2. Hernia Ireponibel
Disebut hernia ireponibel bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga
perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong
hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus.
3. Hernia Inkarserata
Disebut hernia inkarserata bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong
terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi gangguan
pasase seperti muntah, tidak bisa flatus maupun buang air besar. Secara klinis, hernia
inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase.
4. Hernia Strangulata
Disebut hernia strangulata bila telah terjadi gangguan vaskularisasi. Pada keadaan
sebenarnya, gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan
berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.
3.6 Patofisiologi
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari
kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu
akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang
disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah
mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi
dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari
yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan
normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus,
karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.
Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi keran ausia lanjut, karena pada umur tua otot
dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan
tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun
karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang
menyebabkantekanan intraabdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin yang
kuat dan mengangkat barang-barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup
dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu
jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang
telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan,obesitas, dan kelainan
kongenital dan dapat terjadi pada semua.
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat
reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi
hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.
Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk,
cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya
edema bila terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian
terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung,
muntah,konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema
sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.

3.7 Diagnosis
A. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan
tojolan lanjutan dari hernia inguinalis lateralis.
b. Palpasi
Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di dalam
skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada kulit
skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus
diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal jari ke dalam. Tangan kiri
pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan pasien untuk sokongan yang
lebih baik.
Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral
masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan ligamentum inguinalis dan
digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan
lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki
oleh jari tangan.
Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam
kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan
batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang
menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh pasien
berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat direduksi dengan
tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika pemeriksaan hernia
dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan nyeri.
c. Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan
hernia strangulata. Hipertimpani, terdengar pekak.
d. Auskultasi
Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang
mengalamiobstruksi usus (hernia inkarserata)
3.8 Diagnosis banding
Adapun diagnosis banding dari hernia scrotalis seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

3.9 Penatalaksanaan
Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karena potensinya menimbulkan
komplikasi inkarserasi atau strangulasi lebih berat dibandingkanr esiko yang minimal dari
operasi hernia (khususnya bila menggunakan anastesilocal). Khusus pada hernia femoralis,
tepi kanalis femoralis yang kakumeningkatkan resiko terjadinya inkarserasi
Teknik Operasi
Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy dapat dikelompokkan dalam
4 kategori utama :
 Kelompok 1 : Open Anterior Repair
 Kelompok 2 : Open Posterior Repair
 Kelompok 3 : Tension-free Repair with Mesh
 Kelompok 4 : Laparascopic

3.10 Komplikasi
3.11 Prognosis